Ketagihan Rokok Dan Terapi Kognitif

http://www.cartoonstock.com/directory/

Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi bulan Juli 2010 merilis sebuah studi baru yang menyatakan ketagihan merokok  dapat diatasi dengan menggunakan otak bagian kanan. Studi ini diharapkan dapat membantu perokok untuk berhenti merokok. Dengan menggunakan teknik  functional magnetic resonance imaging (fMRI), para peneliti mengamati otak dari perokok pada saat  ditunjukkan gambar rokok dan makanan. Ketika perokok mencoba untuk melawan hasrat mereka terhadap  benda yang diinginkan, bagian otak perokok yang  terkait dengan kontrol emosi menunjukkan aktivitas menyala-nyala. Sementara itu  daerah yang terkait dengan keinginan menunjukkan aktivitas tenang. Pemimpin peneliti Hedy Kober, asisten Profesor Psikiatri di Yale School of Medicine, mengatakan bahwa perokok memang dapat mengontrol ketagihan rokoknya bila perokok diberitahu bagaimana cara melakukannya.

Kober dan kawan-kawan menangani studi ketagihan rokok  karena penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa  salah satu prediktor terbaik untuk kambuh pada pelaku substansi adalah adanya  keinginan yang kuat. Akibatnya, banyak program pemulihan menggunakan metode terapi perilaku kognitif untuk melatih otak dalam menghadapi godaan. Metode  ini  dapat menekan emosi dan berpikir logis tentang konsekuensi jangka panjang dari ketagihan rokok.

Sering kali terapi perilaku kognitif berhasil membantu orang berhenti merokok, tak ada yang tahu persis daerah otak yang terlibat dalam proses reduksi ketagihan. Korteks Prefrontal (daerah otak di belakang dahi)  inilah memegang peranan penting  dalam pengendalian kognitif. Sebaliknya  Ventral Striatum (daerah terdalam otak bagian depan)  mengaktifkan ketagihan obat bagi manusia. Untuk menguji teori para peneliti  tentang  pentingnya peranan kedua daerah otak   dalam melawan ketagihan maka para peneliti melakukan uji coba kepada 21 perokok untuk mengetahui berapa besar ketagihan yang dipicu  oleh gambar rokok dan makanan. Para perokok diminta untuk memikirkan konsekuensi negatif jangka panjang.

Ternyata para perokok memiliki hasrat kuat terhadap rokok daripada makanan, tapi mereka mampu mengelola kedua ketagihan tersebut.  Ada penurunan keinginan sekitar sepertiga aktivitas wilayah otak keinginan. Ketika mereka berhasil menahan keinginan,  korteks prefrontal (wilayah regulasi emosional) para perokok menunjukkan peningkatan aliran darah dan aktivitas yang lebih besar. Sementara itu, ventral striatum dan daerah emosional lainnya terkait dengan keinginan  seperti amigdala (struktur berbentuk almond jauh di dalam otak) menunjukkan pengurangan aktivitas .

Kevin Ochsner
, seorang psikolog di Universitas Columbia dan penulis senior studi ini mengatakan banyak orang menganggap ada sesuatu yang salah dengan otak pecandu yang membuat mereka tidak mampu menahan ketagihan.  Tetapi  fakta menunjukkan bahwa perokok bisa mengendalikan nafsu mereka terhadap kecanduan tembakau dan non makanan adiktif.  Ternyata perokok  tidak memiliki motivasi yang cukup kuat atau strategi yang efektif untuk berhenti merokok. Langkah selanjutnya adalah para peneliti menguji otak perokok dengan menggunakan strategi perilaku kognitif dan melihat apakah sesuatu dalam aktivitas otak  dapat memprediksi keberhasilan menghentikan kebiasaan merokok mereka.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s