Kemampuan Adaptasi Tanaman Jahe

giant ginger (www.peoplespharmacy.com/2008)

Saya akan menceritakan sebuah  pengalaman menarik yang berhubungan dengan pertanian. Kejadiannya sekitar 9 tahun yang lalu. Saat itu saya masih aktif menjalankan bisnis rempah-rempah terutama tanaman jahe. Walaupun berbeda kebutuhan, saya ikut membantu teman yang mempunyai bisnis pengolahan jahe gajah yang akan diekspor ke Inggris. Terus terang saya lebih menguasai jahe emprit yang dipakai untuk bahan baku jamu dibandingkan jahe gajah ekspor. Tetapi saya berminat membantu karena didasari oleh  rasa keingin tahuan saya terhadap bisnis teman tersebut.

Suatu hari saya ditelpon teman dan meminta saya untuk menjemput wakil buyer dari Inggris di Bandara Soekarno Hatta.

” Cech, bisa bantu saya ? Tolong Cech jemput wakil buyer dari Inggris besok pagi jam 10. Namanya Paul Buttler. Dia naik pesawat Singapore Airlines dari Singapore.  Besok, saya sibuk sekali. Bisa khan Cech ? “

” Hmmm besok ya ? Okelah. Terus dibawa kemana nih bule ? “

” Katanya dia minta diantar langsung ke lokasi kebun jahe milik petani di Bojong Lopang Jampang Kulon Sukabumi.  Mobil sudah saya siapkan. Sekaligus ada 2 ahli pertanian  dari perusahaan saya yang ikut. Nanti Cech akan kami jemput. “

” Baiklah, Dwi. “

” Oh ya tolong kabari perkembangannya, Terima kasih. “

” Siipppp “

Keesokkan paginya kami menjemput Paul Buttler di Bandara Soekarno-Hatta. Tepat jam 10 pagi pesawat Singapore Airlines mendarat. Setelah menunggu sekitar 30 menit akhirnya Paul keluar dan menemui kami. Ternyata yang namanya Paul ini adalah seorang pria muda berumur sekitar 26 tahun asal London Inggris. Paul juga seorang ahli jahe alias lulusan Master Pertanian yang banyak meneliti tentang tanaman jahe. Wow pikir saya saat itu.  Akhirnya kami langsung berangkat ke lokasi tapi sempat saya mengatakan kepad Paul, apakah tidak sebaiknya ke hotel dulu dan ganti baju. Paul mengatakan tidak perlu karena waktunya di Indonesia hanya sebentar. Padahal saat itu Paul memakai jas lengkap dengan kemeja dan dasi resmi hehehe. Satu hal lagi saat itu Jakarta dan Sukabumi sudah memasukki musim hujan Jadi bisa dibayangkan bagaimana beceknya lokasi penanaman.

Perjalanan ke lokasi di Bojong Lopang membutuhkan waktu 5 jam. Sesampainya di lokasi, Paul langsung meminta kami bertemu dengan petani dan diajak ke lokasi penanaman jahe. Benar saja dengan tanah becek karena turunnya hujan, Paul berjalan dengan santainya mengikuti petani menuju ke lokasi. Kebetulan sekali saya hanya memakai sandal sehingga dengan kaki telanjang saya berjalan kaki.  Saya memperhatikan tingkah Paul yang biasa-biasa saja walaupun sepatu pentopelnya penul dengan tanah becek sehingga celana hitamnya menjadi kotor.  Satu waktu saya bertanya kepada Paul apakah Paul tidak merasa risih dan kotor dengan kondisi tanah yang becek tersebut. Paul menjawab tidak dan kalaupun kotor karena itu menjadi bagian tanggung jawab profesionalnya. Lagipula kalau celana kotor masih bisa dicuci bersih dengan mudah tapi kalau nama baik kotor bagaimana mencuci dan membersihkan.  Wao luar biasa sekali.

Bagaimana dengan 2 orang ahli yang berasal dari perusahaan teman saya ? Mereka ketinggalan jauh dari kami. Mereka tertatih-tatih saat berjalan karena takut terpleset. Lucunya mereka takut kalau celana mereka  kotor. Padahal mereka telah menggulung celana panjang yang dikenakan. Hehehehee saya hanya bisa tertawa dalam hati.

Sesampainya di kebon. Kami melihat hamparan lahan jahe sekitar 2 ha. Sebagian besar tanaman jahe telah menguning bahkan tinggal batangnya saja. Ini menandakan tanaman jahe gajah sudah siap panen.  Kemudian Paul mengambil ranting di pohon dan meminta petani untuk mempraktekkan bagaimana mereka menangani panen jahe. Dengan menggunakan garu dan cangkul, beberapa petani mengambil umbi jahe. Ada beberapa ruas jahe yang terpotong dan berserakkan kemana-mana karena penanganan panennya yang asal-asalan. Paul langsung memerintahkan agar pemanenan oleh para petani dihentikan. Kemudian Paul memberikan perintah kepada kami untuk memperhatikan cara panen yang benar.

Dengan menggunakan ranting. Paul mengorek tanah pada satu kamar tanaman jahe. Paul memperkirakan besaran luas satu  kamar sekitar 10-20 cm. Dalam waktu 10 menit Paul berhasil memanen jahe gajah utuh tanpa ada ruas jahe yang putus. Setelah ditimbang ternyata beratnya hanya 5-6 kg. Kemudian Paul bertanya kepada para petani tentang bagaimana mereka memperlakukan bibit jahe pada saat dimasukkan ke dalam lubang tanah. Dijelaskan oleh salah seorang petani, cara menanamnya dengan menaruh mata tunas jahe beibit ke atas. Paul memperhatikan dengan sekasama penjelasan petani tersebut.

Paul mengatakan apa cara penanaman bibit jahe gajah yang dilakukan oleh petani di daerah tersebut  kurang benar. Seharusnya arah mata tunas  jahe diletakkan ke bawah. Hasilnya akan berbeda dengan arah  mata tunas jahe yang diletakkan ke atas. Perbedaannya bisa mencapai 2-3 kali lipat. Bahkan Paul berani taruhan dengan kami kalau cara yang disarankannya tidak berhasil. Menurut Paul, setiap tanaman atau makhluk hidup mempunyai kemampuan beradaptasi. Walaupun mata tunas jahe diletakkan ke bawah tetapi jahe mampu melakukan adaptasi terhadap alam dan mencari kehidupannya sendiri sehingga hasil panenannya akan melebar ke samping dan bukan ke atas seperti jahe yang  mata tunasnya diletakkan ke atas.

Setelah itu Paul mengunyah satu ruas jahe hasil panen dan mengatakan kalau jahe tersebut memang sudah waktunya panen dan berumur 9 bulan. Selain itu Paul mengajarkan kami tentang cara mengetahui jahe telah berumur 9 bulan dengan melihat secara fisik. Ternyata umur jahe bisa dilihat dari ruas jahe. Bila ruas jahenya 4 buah maka tanaman jahe tersebut telah berumur 4 bulan dan ini tidak bisa dibohongi karena jahe yang siap panen mempunyai ruas 9 buah. Cara fisik ini tidak hanya berlaku pada jahe saja tetapi bisa dilakukan pada tanaman kunyit, temu lawak, temu ireng, lengkuas dan tanaman empon-empon yang berumbi.

Selanjutnya Paul menanyakan dan meminta kami menunjukkan areal penanaman jahe lainnya sejauh 1 km dari lokasi tersebut. Seorang petani mengajak kami menuju lokasi kebun jahenya sekitar 1 km. Sesampainya di kebun petani tersebut, Paul melakukan hal yang sama seperti di lokasi pertama. Betapa kagetnya Paul ketika mengetahui hasil panenan di kebun tersebut. Ternyata hasil panennya  lebih rendah padahal cara penanaman dan perlakuan tanaman jahe gajahnya sama. Seorang ahli pertanian dari perusahaan teman mengatakan mungkin saja terjadi karena perbedaan jenis tanah dan perbedaan perlakuan. Langsung saja Paul menjelaskan kalau perbedaan jenis tanah kurang tepat karena tidak signifikan perbedaannya yaitu hanya 1 km dari lahan pertama. Paul menekankan kalau cara perlakuan dan penanaman jahe gajah mengikuti caranya walaupun berbeda lahan sejauh 1-2 km pun  akan menghasil panenan jahe gajah yang mendekati sama. 2 orang ahli pertanian tersebut menyangkal pendapat Paul dan terjadilah perdebatan seru. Saya dan beberapa petani hanya mendengarkan saja. Tetapi saya setuju dengan pendapat Paul karena logis dan bisa diterima dengan akal.

Apakah pendapat Paul benar ? Ternyata setahun kemudian, hasil panen jahe gajah di lokasi-lokasi yang ditunjuk mengalami peningkatan 2-3 kali lipat setelah mengikuti cara dan metode yang disarankan Paul. Dalam satu kamar bisa menghasilkan 15 kg jahe gajah dan rata-rata sekitar 14 kg. Begitulah pengalaman saya dengan seorang Paul yang memang ahli dalam perjahean (Post Graduate Paul mengambil studi tentang jahe (ginger) ). Satu pelajaran yang saya peroleh dari Paul yaitu setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan beradaptasi dan mencari kehidupannya sendiri. Semuanya karena Tuhan telah memberikan kemampuan tersebut. Selain itu senangilah pekerjaan kita walaupun harus berkotor-kotor ria. Lebih baik berkotor-kotor ria dalam pekerjaan daripada nama baik yang kotor.

Protected by Copyscape Duplicate Content Check

2 thoughts on “Kemampuan Adaptasi Tanaman Jahe

  1. begini pak, saya ingin mencoba menanam jahe dan cara penanaman jahe yang sampean tulis sangat unik. apa cara diatas benar2 berhasil.? ditunggu balasannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s