Marsha : “Aku berada di tengah “

Sebetulnya malam itu aku malas sekali untuk pulang. Tapi aku merasa kasihan dengan orang tuaku yang selalu tidak bisa tidur bila aku belum pulang. Kecuali aku sudah menelpon mereka kalau aku tidak pulang alias menginap di rumah teman. Waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB, aku berpikir belum terlalu malam. Saat itu aku sedang menunggu di sebuah halte  di Jalan Thamrin. Aku hanya melihat seorang wanita yang sedang duduk menunggu.

Awalnya aku tidak terlalu memperdulikan keberadaan wanita tersebut. Beberapa menit kemudian barulah aku menyadari kalau wanita tersebut mempunya paras yang cantik. Tinggi, langsing, kulit putih, bersih, dan rambut panjang. Sepertinya  seorang eksekutif wanita di perusahaan yang ada di bilangan Thamrin. Saat itu dia mendekatiku dan bertanya.

” Maaf, mas. Kalau ke Bekasi naik bis nomor berapa ya ? “

Aku langsung blingsatan untuk menjawab pertanyaan wanita tersebut. Terus terang aku kurang hapal dengan rute-rute bis di Jakarta.

” Aduh, gimana ya Bu ? Saya kurang hapal. Perasaan saya kalau jam segini masih ada kok rute ke Bekasi ” jawabku ragu-ragu tapi sok meyakinkan.

” Hmmm mudah-mudahan masih ada yang ke arah Bekasi ” harap wanita tersebut.

Wanita itu kembali duduk di bangku halte sambil memainkan telepon selulernya. Sementara itu akupun juga menunggu kedatangan bis yang  menuju Kali Deres. Aku mulai gelisah karena sama seperti wanita tersebut, bus yang aku tunggu tidak kunjung tiba.Aku sudah berpikir untuk menggunakan taksi tapi ragu karena yakin masih ada bus jurusan Kali Deres. Hampir 30 menit kami berdua menunggu bis-bis tujuan kami. Untuk mengusir kebosanan menunggu, aku memberanikan diri menegur wanita tersebut.

” Bu, kenapa tidak naik taksi saja ? Ini sudah malam lho. Kayaknya bis jurusan Bekasi sudah tidak ada ” tanyaku.

” Ahhh tidak apa-apa Mas ! Naik taksi bayarnya mahal. Saya kuatir kalau menggunakan taksi karena pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan Mas. “

” Oh gitu… “

” Iya saya pernah dibawa mutar-mutar tidak karuan sama supir taksi “

” Kurang ajar sekali “

” Tenang aja, Mas. Nanti busnya juga datang. Oh ya Mas mau naik bus jurusan mana ? “

” Saya mau ke Kali Deres. Rumah saya di daerah Cengkareng, Bu. Kalau Ibu tinggal di Bekasi ? “

” Iya, saya tinggal di Bekasi. Tapi omong-omong jangan panggil saya ibu. Saya masih muda hehehe Mungkin lebih muda dari Mas “

” Tapi ibu kelihatan seperti profesional. Jadi wajar khan kalau saya memanggil ibu “

” Hehehe saya bukan profesional. Saya hanya seorang sekretaris di perusahaan asing. Itu gedungnya dimana saya bekerja ” tunjuk wanita tersebut.

” Oh sekretaris toh. Tapi sekretaris itu profesional juga loh hehehe “

” Iya tapi ini di luar jam kerja. Panggil saya mbak saja. Boleh saya tahu Mas ? “

” Nama saya Cipta.  Kalau mbak ? “

” Saya Marsha, Mas “

” Seperti nama bintang film Indonesia bu eehhh mbak hehehe “

” Hehehe mas Cipta kerja dimana “

” Saya pengangguran mbak Marsha “

” Masak sih. Saya nggak percaya “

” Benar, saya pengangguran “

” Tetap saya tidak percaya. Dari penampilan saja Mas Cipta seperti seorang wiraswasta “

” Alhamdulillah kalau dikatakan wiraswastawan. “

” Eh mas kok lama sekali ya busnya belum datang juga “

” Aneh. Bus saya juga belum datang juga “

” Memang sudah nasib Mas supaya kita bisa berkenalan “

Aku merasa kaget dengan perkataan Marsha tersebut. Sepintas aku pandangi wajahnya tapi buru-buru aku palingkan wajahku ke tempat yang lain.

” Mbak Marsha, apa tidak ada yang menjemput ? Khan sudah malam ? Telepon kakak atau adik supaya menjemput mbak Marsha ? “

” Lha kamu sendiri nggak naik taksi aja. Khan lebih cepat sampai pulang ke rumah “

” Kok balik bertanya hehehe “

”  Aku tinggal sendiri di Bekasi. Orang tuaku sudah meninggal. Kakak tinggal di Surabaya, sementara adik di Kalimantan. Kalau Mas Cipta “

” Aku tinggal bareng orang tua. Saudara-saudaraku sudah berkeluarga semua. Tinggal aku saja yang lajang hehehe “

” Masak sih Mas Cipta masih bujangan “

” Ya saya masih bujangan “

Selanjutnya terjadilah pembicaraan diantara aku dan Marsha. Tanpa terasa jam menunjukkan pukul 22.40 WIB. Akhirnya Marsha memutuskan untuk menggunakan taksi. Tetapi sebelum naik taksi Marsha memberikan nomor telepon kepadaku. Akupun memberikan nomor telepon kepada Marsha. Mungkin aku dan Marsha berpikir suatu saat nanti kami bisa bertemu kembali.

Satu bulan berlalu, aku sudah tidak memikirkan kejadi malam itu. Tiba-tiba teleponku berbunyi. Betapa kagetnya diriku setelah melihat nomor di telepon seluler. Ternyata nomornya Marsha.

” Halo, apa kabar mas Cipta “

” Baik…baik mbak Marsha. bagaimana kabarnya ? “

” Aku baik juga. Mas Cipta malam sabtu ada acara ? “

” Malam sabtu ? Hmm kelihatannya aku tidak ada acara. Memangnya kenapa ? “

” Aku ingin mengundang makan-makan di rumah “

” Makan-makan ? Mbak Marsha ulang tahun ? Selamat ya “

” Pokoknya Mas Cipta harus datang. Alamatnya ini Mas. Ingat jam 8 malam “

” Oke, saya usahakan datang “

” Harus datang!!! Jangan usahakan hehehe “

” Iya ya “

Pembicaraanpun terhenti. Tidak kusangka kalau Marsha masih mengingatku.

Hari Jumat aku pergi belanja ke mall untuk membeli hadiah buat ulang tahun Marsha. Setelah maghrib aku berangkat ke rumah Marsha di Bekasi. Jam 8 lewat 10 menit aku sampai di rumah. Aku melihat sebuah rumah sederhana di sebuah kampung tapi aku merasa heran karena rumah Marsha sepi-sepi saja. Kalau ada acara ulang tahunpasti di sekitar rumahnya sudah banyak orang dan ramai sekali. Tapi ini lain sekali.

Aku segera memencet bel rumah. Beberapa saat kemudian Marsha keluar.

” Ayo Mas Cipta masuk. “

” Ya terima kasih. Tapi Marsha, rumah sepi-sepi saja. Khan hari ini kamu ulang tahun “

” Hehehehe ya sudah mas Cipta masuk saja dulu. Nanti aku ceritakan “

Aku masih merasa heran dengan keadaan demikian tapi aku tetap saja mengikuti Marsha ke dalam rumahnya. Aku melihat suasana rumah yang adem baik di luar maupun di dalam rumah. Aku dipersilahkan duduk oleh Marsha. Marsha langsung masuk kedalam. Dua menit kemudian Marsha balik ke ruang tamu sambil membawa minuman es sirup.

” Tidak bingung khan mencari rumahku “

” Iya mbak Marsha.  Aku  tidak perlu tanya-tanya orang langsung tahu alamat rumah ini “

” Mas, panggil saya Marsha aja biar lebih akrab “

” Baiklah, Marsha. Omong-omong kok nggak mengundang teman-teman kantor atau teman dekat kamu “

” Nggak, aku hanya ingin mengundang Mas Cipta saja. Terus terang aku kurang bergaul sehingga tidak punya banyak teman. Aku merasa cocok berteman dengan Mas Cipta “

” Hihihihi kok aku sih Marsha “

” Iya, aku serius. Mas Cipta ngemong sekali orangnya. Mau mendengar dan bisa mengimbangi percakapan orang. “

” Ah nggak juga. “

” Jangan merendah gitu dong. Kenyataannya Mas memang pandai bergaul dan bersahaja. Itu yang saya suka. Tidak sombong tapi berisi heheehe “

” Jadi ge er nih hahaha Tetapi apakah keberadaan aku tidak mengganggu orang kampung di sini. Apalagi saya laki-laki sendiri dan berduaan dengan kamu di dalam rumah “

” Tidak apa-apa Mas. Mereka tidak usil kok “

” Sebetulnya mengundang saya dalam rangka makan-makan saja atau Marsha memang ulang tahun “

” Hihihi masih ditanya juga. Pokoknya aku mengundang makan-makan. Titik. Oh ya tunggusebentar “

Marsha masuk ke dalam dan balik kembali sambil membawa beberapa jenis makanan yang diletakkan di atas meja tamu. Malam itu kamipun berduaan. Setelah bicara ngalor ngidul, aku merasa Marsha adalah wanita yang sempurna dan cocok denganku. Sepertinya aku jatuh hati kepadanya. Sebaliknya Marshapun demikian. Dari tatapan matanya, aku merasakan aura cinta.

” Marsha, boleh aku bicara ? “

” Silahkan Mas “

” Apakah kamu punya pacar ? “

” Kok tanya begituan Mas ?! ” jawab Marsha kaget.

” Sejak pertama kita bertemu sampai saat ini, aku merasa jatuh… “

” Aku merasakan hal yang sama, Mas Cipta “

Aku dan Marsha saling berpandangan dan tangan kami saling berpegangan. Wow malam yang indah sekali. Cinta pada pandangan pertama dan prosesnya cepat sekali.

Aku pulang dengan perasaan berbunga-bunga. Benar-benar malam yang takkan kulupakan. Malam itu aku tidak bisa tidur dan baru mengantuk setelah subuh. Sekitar jam 10 pagi aku baru terbangun. Setelah mandi dan makan aku menelpon marsha untuk mengajaknya jalan-jalan dan menonton film tapi apa yang terjadi. Berkali-kali aku menelponnya, selalu terdengar ” telepon yang anda tuju berada di luar service area “. Seharian aku menelponnya tapi jawaban tersebut yang terdengar. Ada apa dengan Marsha ? Apakah Marsha pergi ke Surabaya menemui kakaknya ? Atau ada tugas ke luarkota bersama bosnya ? Akhirnya kuputuskan untuk menemuinya pada hari minggu.

Minggu pagi aku sudah berangkat ke Bekasi. Beberapa kali aku tersesat dan lupa jalan. Setelah hampir sejam aku mencari alamatnya Marsha, akhirnya aku bertemu dengan seorang bapak tua di daerah yang kuanggap masih dekat dengan rumah Marsha.

” Pak, saya mau tanya. Alamat ini letaknya dimana ? “

Bapak tua itu diam sebentar.

” Mas, apakah Mas tidak salah alamat ? “

” Perasaan saya tidak Pak. Karena malam sabtu kemarin saya berkunjung ke alamat ini “

” Hehehe baiklah saya akan antar Mas ke alamat ini ” ujar bapak tua sambil tersenyum.

” Jadi bapak tahu alamat ini ?! Terima kasih Pak “

” Ya sudah, kamu ikut dengan saya “

Akupun mengikuti bapak tua tersebut. Setelah berjalan selama 15 menit, akhirnya kami sampai di alamat rumah Marsha.

” Ini rumahnya Mas. Tetapi Mas benar pernah ke rumah ini “

” Benar, malam sabtu kemarin saya datang ke sini. Tapi rumahnya bukan seperti ini Pak “

” Ya ini rumahnya. Kamu datang karena diundang oleh gadis cantik bernama Marsha khan ?! “

” Ya benar Pak. Namanya Marsha. Bapak tahu dengan Marsha ? “

” Tahu sekali, karena saya pernah bekerja dengan orang tuanya sekitar 2 tahun yang lalu sebelum rumah ini mengalami kebakaran “

” Kebakaran ? “

” 2 tahun yang lalu terjadi kebakaran di rumah ini. Kejadiannya malam hari dimana 3 orang penghuninya sedang tertidur pulas. Kebakaran itu terjadi karena konsleting kabel listrik sehingga menimbulkan percikan api. “

” Tapi Pak, malam sabtu itu rumahnya masih abgus dan tidak ada bekas terbakarnya “

” Anak muda… anak muda. Kamu tidak menyadarinya siapa yang mengundang kamu “

” Marsha namanya Pak “

” Iya saya tahu. Marsha termasuk salah satu penghuni yang meninggal dunia pada kebakaran itu.  Dia meninggal bersama dengan orang tuanya “

” Hah Marsha sudah meninggal ???  Jadi orang yang saya temui malam itu … ” aku tidak bisa berkata apa-apa.

” Istighfar Mas Istighfar. Terus terang saya sangat menyukai Marsha karena orangnya baik, perhatian, dan cantik. Dia juga punya hobi masak-masak. Makanan yang dimasaknya nikmat sekali. Memang Marsha pandai memasak.  Banyak orang yang ingin berteman dekat dengannya tapi tidak mudah karena Marsha termasuk wanita yang sopan dan menyukai pria yang bersahaja. Dia anak kedua dari 3 bersaudara. Saat ini kakak perempuannya tinggal di Surabaya. Sedangkan adik laki-lakinya tinggal dan bekerja di Kalimantan Mas “

Aku sudah tidak bisa mengatakan apa-apa. Pikiranku teringat akan perjumpaan pertama dan acara makan-makan dengan Marsha malam sabtu itu. Ternyata aku mencintai seorang gadis malang yang telah meninggal dunia dua tahun yang lalu.

Kemudian bapak tua mengajak aku mendatangi kuburan Marsha dan kedua orang tuanya yang letaknya sekitar 1 km dari rumah Marsha. Aku pun langsung melakukan doa di perisitirahatan terakhirnya. Walaupun Marsha bukanlah seorang manusia tapi Marsha telah membangkitkan hasrat cintaku yang telah lama hilang. Terima kasih Marsha

Protected by Copyscape Duplicate Content Check

One thought on “Marsha : “Aku berada di tengah “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s