Seandainya Aku Menjadi Bhisma…

” …ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung... “

Itulah kalimat yang diucapkan oleh  Bhisma dihadapan Pandawa menjelang ajalnya.

———————————————————————————————–

” Mengapa Kakek Bhisma diam saja pada saat aku melepaskan panah milih Srikandi ini ? ” tanya Arjuna dengan disaksikan Kresna dan keluarga Pandawa lainnya.

” Cucuku Arjuna, Aku rela mati di tangan senjata kekasihku ” ujar Bhisma dalam kondisi sekarat.

” Senjata kekasih Kakek ? ” tanya Arjuna kembali.

” Iya, Sanghyang Wenang telah memberitahuku kalau Srikandi adalah reinkarnasi Dewi Amba wanita yang sangat kucintai. Tetapi aku telah menyia-nyiakannya. Bahkan aku telah membunuhnya dengan panah ini pada waktu aku muda dulu “

” Tetapi Kakek Bhisama … “

” Sudahlah cucuku Arjuna, ini sudah menjadi kehendak Sanghyang Wenang. Setidaknya aku telah melaksanakan sumpahku. Maafkan aku, Arjuna dan para keluarga Pandawa karena telah menjadi musuh kalian dalam peperangan ini. Itu semua kulakukan sebagai balas budi kepada Kurawa “

” Bolehkah aku membawa kakek ke istana kami ? ” mohon Arjuna.

” Jangan cucuku. Biarkan anak-anak panah ini menjadi tempat tidurku yang terakhir sampai aku melihat kekalahan Kurawa. Sudahlah tinggalkan aku sendirian. “

” Baiklah kalau memang ini keinginan Kakek. Kami pamit dulu dan melanjutkan peperangan dengan Kurawa “

10 hari kemudian Bhisma meninggal dunia setelah menyaksikan sendiri kekalahan Kurawa dan Sanghyang Weang telah memenuhi keinginan Bhisma.

Bisma dalam versi pewayangan Jawa (http://id.wikipedia.org/wiki/Bisma)

NB: Bhisma adalah tokoh pewayangan  kesukaan saya setelah Antasena. Bhisma dalam bahasa Sanksekerta berarti ” Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat) ” Bhisma mau berkorban demi kebahagiaan orang lain walaupun  rela  memendam perasaan  cintanya kepada Dewi Amba (kekasih sejatinya) dan orang tua kandungnya sendiri demi menjalankan sumpah kepada Sanghyang Wenang.

One thought on “Seandainya Aku Menjadi Bhisma…

  1. Saya baru mulai baca tentang Mahabharata, dan memang yang menarik adalah Bhisma. Saya baca buku Mahabharata karangan C.Rajagopalachari, dan ceritanya bukan seperti ini. Walopun saya sendiri diceritakannya adalah seperti apa yang telah dituliskan. Nah, saya mau nanya, kalau tulisan dari wayang Indonesia, nyari nya di mana ya? Terima kasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s