Kekuatan Pikiranlah Yang Membuat Kita Merdeka

Sudah banyak tulisan yang memepertanyakan apakah kita sudah merdeka ? Argumen-argumen yang disampaikan sangat berkaitan erat dengan kondisi negara Indonesia saat ini. Dikatakan kondisi negara yang belum ada perubahan dari dulu sampai sekarang terutama sejak reformasi digulirkan tahun 1998. Kondisi masyarakat kecil yang makin terpuruk dan tertutup oleh perbuatan atau tingkah laku para elit politik di pucuk kekuasaan. Yang kaya makin tambah kaya, sedangkan yang miskin makin bertambah miskin.

Ekses kemiskinan itulah yang mulai terungkap oleh pemberitaan-pemberitaan media nasional seperti kasus bunuh diri, perampokan, pencurian dan sebagaianya. Tampak sekali keputusasaan dari sebagian anggota masyarakat. Tapi apakah kita hanya berpangku tangan dan menyalahkan semuanya kepada pemerintah atau negara ?

Ada satu ungkapan terkenal yang disampaikan oleh Presiden Amerika John F. Kennedy yaitu Jangan Tanyakan Apa Yang Negara Berikan Kepadamu Tetapi Tanyakan Apa Yang Dapat Kamu Berikan Kepada Negara. Naifkah ? Atau sudah tidak relevankah ungkapan tersebut bagi kita sebagai warga negara ?

Jawabannya adalah sederhana tergantung apakah kita mau menggunakan akal pikiran yang dimiliki. Pikiran ? Ya pikiran itulah yang harus diberdaya gunakan sebagai suatu kekuatan penggerak. Saya jadi teringat dengan pesan orang tua yaitu kekuatan pikiran itulah yang mengerakkan semua gerakan tubuh untuk melakukan segala aktivitas. Misalnya adalah makan, pikiran itulah yang memerintahkan kerja otak untuk menggerakkan semua anggota tubuh untuk makan. Selain itu ada pengalaman yang menarik yaitu saat saya tidak punya uang tapi pikiran mengatakan makan maka tanpa diduga saya bisa makan. Jadi kekuatan pikiran itulah yang mendasari pakah kita bisa merdeka atau tidak ?

Semua orang di dunia tidak akan pernah menduga kalau Nelson Mandela bisa berhasil menjadi Pemimpin Afrika Selatan dan mengakhiri politik rasial (Apartheid) di Afrika Selatan. Padahal kekuatan penguasa kulit putijh sangat dominan dan menguasai semua sendi kehidupan di Afrika Selatan. Tetapi dengan keyakinan dan kekuatan pikiran Nelson Mandela  walaupun dianggap tidak mungkin karena lebih dari setengah usia hidupnya mendekam di penjara. Toh pada kenyataannya perjuangan Nelson Mandela berhasil dengan sukses dan menjadi model perdamaian di seluruh dunia. Intinya adalah kekuatan pikiran dan bersikap positif itulah yang memberikan aura bagi seluruh rakyat Afrika Selatan untuk optimis berjuang melawan politik Apartheid.

Kemudian Muhammad Yunus dengan sistem pemberian kredit kepada usaha kecil yang didominasi oleh kaum perempuan telah berhasil membuka mata dunia kalau dengan kekuatan pikiran positif, memberikan kepercayaan penuh dan optimis itulah yang membuat program M Yunus diakui dunia. Selanjutnya adalah Tristan Lecomte yang melawan arus dengan konsep perdagangan yang adil (Fair Trade) telah berhasil membuat jaringan yang kuat di 30 negara dunia dengan 60 buah jaringan koperasi perdagangan yang adil. Konsep Tristan yang mengedepankan konsep saling ketergantungan antar manusia sebagai makluk sosial berhasil mementahkan konsep perdagangan bebas yang hanya menguntungkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan lain-lain.

dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech

Saya mempunyai pengalaman pribadi pada saat mulai membina industri makanan skala kecil. Pada awalnya banyak kendala yang menghadang dan merasakan sekali jeratan ketidak mampuan untuk bergerak, bebas mendapatkan informasi dan lain-lain. Tetapi saya terus berusaha dan yakin dengan kekuatan berpikir positif yang dimiliki kalau usaha industri makanan skala kecil ini lama kelamaan akan besar. Walaupun masih banyak kegagalan dan rontoknya beberapa binaan yang tidak kuat melawan kekuatan pemasaran dan modal industri besar. Namun semuanya menjadikan saya menjadi tegar dan optimis dengan apa yang saya pikirkan. Saya selalu tekankan kepada para binaan kalau sebaiknya kita sendiri yang memulai untuk membebaskan diri dari kemiskinan dan pengangguran. Jangan berharap campur tangan dari pemerintah karena pemerintah sedang sibuk mengurus yang lain. Pemerintah diibaratkan orang tua yang sedang sibuk dengan urusan yang lebih penting jadi sebaiknya jangan diganggu dan selama kita masih mampu bergerak sendiri maka jalankan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tapi dalam koridor pikiran optimis.

dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech

dok.cech
dok.cech
dok.cech
dok.cech

Dari tiga contoh kehidupan di atas maka saya mengambil kesimpulan bahwa merdeka atau tidaknya kita tergantung kepada kekuatan pikiran yang positif dengan balutan Rahman Rahimnya Allah SWT. Terus terang bangsa ini terutama kaum menengahnya sudah terlalu banyak dicekoki oleh pemberitaan media yang seolah-olah negara sudah tidak mampu mengurusi warga negaranya. Nah ini yang berbahaya padahal masih banyak rakyat di bawah yang berpikiran sederhana yaitu terus berusaha dan melakukan sehingga pada akhirnya mereka masih tetap bisa hidup. Pikiran sederhana mereka itulah yang harusnya dibantu dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh kaum menengah untuk memecahkan masalah mereka tanpa harus banyak berwacana dimana-mana. Cukup melakukan… melakukan… dan melakukan. Merdekakanlah pikiran yang dimiliki untuk kemaslahatan banyak orang dan bukannya mengeluh kalau kita belum merdeka. Sekali kita berpikiran negatif maka negatiflah orang-orang di sekeliling kita tanpa ada aksi tapi hanya reaksi.

Saatnya kita berpikiran kalau kita merupakan bagian dari warga dunia yang berbuat demi kebaikan dunia walaupun dalam ruang lingkup yang kecil. Jadi tidak ada yang tidak mungkin di dunia selama kita mau terus melakukan istiqomah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s