Antara Pak Jalal Dan Saya

Tadi pagi saat sahur saya menonton sinetron ” Para Pencari Tuhan (PPT 4) “. Dalam satu adegan dikisahkan sosok Ahmad Jalaludin atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Jalal sedang mengalami kesulitan keuangan. Bahkan bisa dikatakan mendekati kebangkrutan. Dengan nilai utangnya yang mencapai Rp 40 milyar sepertinya tidak mungkin bisa dibayar kecuali menjual aset-aset yang dimiliki. Ternyata keputusan Pak Jalal adalah menjual seluruh asetnya sehingga sejak saat itu Pak Jalal mulai hidup dari nol kembali. Pengertian nol disini bisa dianggap mulai dari awal atau hidup miskin.

Seperti biasa yang kita lihat dari awal sinetron PPT musim pertama sampai keempat ini, Pak Jalal tetap menunjukkan sosok yang kadang-kadang menyebalkan terutama sikapnya kepada orang-orang yang tingkat kehidupannya jauh dibawahnya. Di akhir episeode Pak Jalal mengumumkan kepada jamaah mushola yang dipimpin Bang Jack kalau dirinya sudah tidak punya apa-apa lagi. Sebagian besar jamah merasa kaget dan bercampur rasa dalam menyikapi pengumuman tersebut. Selain itu ada adegan dimana sang isteri akan meninggalkan Pak Jalal dengan membawa anak-anaknya keluar rumah. Apakah itu benar adanya ? Sebagai penonton, saya hanya mengikuti saja alur cerita berikutnya.

Tokoh Pak Jalal ini mengingatkan saya kepada almarhum Bapak dan beberapa orang teman yang pernah mengalami kebangkrutan usaha dan semua aset yang dimiliki ludes. Semua aset dijual untuk membayar hutang kepada pihak ketiga. Ini dilakukan sebagai bentuk pertanggung jawaban. Memang tidaklah mudah untuk dibicarakan karena membutuhkan kekuatan mental yang luar biasa. Bayangkan saja aset-aset yang diperoleh dari hasil kerja keras selama bertahun-tahun tapi dalam sekejap hilang tanpa bekas.

Iya, itu bagi yang mempunyai aset. Bagaimana yang tidak mempunyai aset atau asetnya tidak mencukupi untuk membayar hutangnya yang biasanya 3 kali lipat nilainya dari aset yang dimiliki.  Pasti pusing memikirkannya bahkan sampai sakit. Saya melihat, mengalami, merasakan dan menikmati semua hal tersebut. Ada beberapa pengusaha dulu pada tahun 2003  terutama pengusaha IKM sering minta bantuan kepada Kementerian Koperasi dan UKM dan mereka sempat tinggal beberapa hari di tempat tersebut karena mereka sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Mereka berharap Kementerian Koperasai dan UKM bisa mencarikan solusi atau mediator dengan pihak ketiga agar mau meringankan beban hutang mereka. Bisa dibayangkan suasana kebatinannya ?

Banyak orang yang dekat  atau baru kenal dengan saya meracau dengan ungkapan-ungkapan fantastis, bombatis dan fenomenal (maaf ikutin Marcelanya Tukul hehehe) seperti pengusaha hebat adalah pengusaha yang bukan hanya  melihat berapa kali usahanya jatuh tetapi mampu atau tidak dia bangkit dari keterpurukkan. Memang benar ungkapan tersebut, cuma pertanyaannya adalah pernahkan orang-orang yang mengatakan tersebut mengalaminya padahal orang-orang terbut belum pernah jadi pengusaha. Selanjutnya adalah apa solusinya agar cepat lepas mengakhiri keterpurukan tersebut ?

Saya sempat mendengar ucapan Aya kepada Azzam mengenai solusi untuk mengatasi masalah Pak Jalal adalah pendekatan agama. Setuju tapi kembali lagi menjadi pertanyaan. Apakah semudah itu ??? Saya membayangkan kalau kondisi dibalik yaitu Aya yang mengalaminya. Wong Azzam saja bingung untuk memberikan saran, padahal Azzam sendiri seorang pengusaha. Terus bagaimana dong ?

Saya teringat dengan perkataan almarhum Bapak saat menghadapi masalah tersebut dan saat itu bertepatan dengan puasa di bulan Ramadhan.  ” Rud, kita asalnya dari tidak punya apa-apa menjadi punya apa-apa tapi bila harus berubah kembali menjadi tidak punya apa-apa maka kita harus menerimanya dengan ikhlas sebagai kenikmatan tersendiri yang diberikan oleh Allah SWT ” Wao saya sempat terkesima mendengarnya tapi masih menjadi pertanyaan dibenak saya. Apakah saat itu Almarhum Bapak sedang benar pikirannya atau hanya sekedar justifikasi atas ketidakmampuannya menyelesaikan masalah tersebut. Benar, Almarhum kuat dan ikhlas menerima tapi bagaimana dengan keluarga ???

Di hadapan beliau, saya sampaikan begini, ” Kalau Allah menghendaki keluarga ini miskin maka kita harus siap menerimanya. Kalau perlu habiskan semua harta yang dimiliki sampai ke titik nol sehingga selanjutnya kita bisa mencari harta kembali dalam kondisi keimanan yang baik sehingga kita mendapatkan harta yang benar-benar bersih. Siapa yang tahu kalau harta yang dimiliki selama ini berasal dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. ” Mendengar perkataan saya tersebut, Almarhum Bapak dan Ibu menangis tersedu-sedu sambil memeluk saya. Sementara saya ikut menangis tapi bingung karena heran saja mengapa saya bisa mengatakan demikian. Apakah malam itu merupakan malam Lailatul Qadar (Malam Ketetapan). Wallahu’alam Bishawab.

Sejak malam itu  walaupun dalam kondisi terpuruk dimana untuk makan sahur dan berbuka saja kami kesulitan alias setiap hari berusaha hanya sekedar untuk memenuhinya. Banyak orang yang mengenal keluarga kami tidak akan percaya bila kami menceritakannya karena tidaklah mungkin orang yang tinggal di rumah mewah lantai dua dengan luas tanah 484 meter persegi tidak punya uang untuk membeli makanan. Tetapi itulah kenyataannya dan mereka juga tidak tahu kalau rumah tersebut sudah menjadi jaminan atau agunan kepada pihak ketiga yang memberikan pinjaman modal kerja dan investasi.

Bagaimana kami menjalaninya ? Saya dan Almarhum Bapak hampir setiap malam melakukan diskusi untuk mencari solusi penyelesaian masalah tersebut. Ternyata dengan adanya masalah tersebut membuat saya dan Almarhum Bapak  menjadi semakin dekat dan akrab malah seperti dua orang teman yang saling berbagi. Maka itu saya sangat mengerti sekali apa yang diinginkan oleh beliau. Saya pikir dengan usia beliau yang sudah berumur maka saya yang muda harus menjadi penggeraknya alias orang yang rajin wara wiri kesana kemari sementara beliau bekerja dengan otaknya yang mengarahkan kemana saya harus pergi. Apakah ini sebagai bentuk kasih sayang Bapak dengan Anak ? Saya katakan iya tetapi dikuatkan oleh rasa saling menghargai dan saling menghormati.  Atau istilahnya harus senasib dan sepenanggungan.

Nah, di titik nol itulah maka dituntut kebersamaan berpikir, bergerak dan bersikap. Seiring dengan perjalanan waktu, masalah hutang dengan pihak ketiga dapat diselesaikan dengan baik walaupun ada aset-aset yang kita sayangi selama ini harus terjual. Bukan berarti sayang terhadap harta tetapi sayang karena ada nilai historisnya. Tetapi Almarhum Bapak dan saya mengikhlaskannya dengan selalu menganggap selama ini tidak pernah  terjadi apa-apa. Kata kuncinya adalah Istiqomah dengan balutan Rahman Rahimnya Allah SWT.

Sampai meninggalnya, Bapak tidak punya lagi tanggungan berupa hutang atau apapun kepada pihak lain. Inilah yang membuat saya merasa bahagia dan yakin kalau di alam lain entah dimana Beliau akan menempati tempat yang paling nyaman dalam pandangan Allah SWT. Bagaimana dengan saya ? Teruskan perjalanan Istiqomah  di dunia baik sendiri maupun bersama dengan orang lain.


Ayo Pak Jalal !!! Kamu pasti bisa…..

7 thoughts on “Antara Pak Jalal Dan Saya

  1. sebenarnya sederhana.. ” Dunia itu satu, dan tidak tambah luas daratanya, tambah sempit iya..terus manusia saling berebut dgn satu dunia, kalo ada yang untung pasti ada yang di rugikan..silih berganti..” Bill gate : mau bagi2 USD 250 miyar utk rakyat, karena tahu kalo ga dibagiken, ekonomi ga gerak.. hidup ga nyaman lagi karena kesenjangan…maka bagi dong.. he2

  2. Waow…pasti tidak mudah menjalani masa-masa itu (lg membayangkan diri sdr brada pd posisi tsb).bukankah byk juga yg ga kuat dan khilaf memilih bunuh diri,atau kalo tdk,jd stres atau bhkan gila. saya sangat salut pada orang2 yg mampu melewati smua itu dg hepi ending spt diatas.salut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s