Ramaditya Adikara, Ada Apa Denganmu ?

Tadi siang saya sempat terkejut ketika melihat sebuah tulisan di headline Kompasiana yang ditulis oleh Mas Syaifuddin Sayuti dan diteruskan dengan tulisan Kang Pepih Nugraha yang menceritakan tentang sebuah sknadal yang dilakukan oleh seorang blogger tuna netra bernama Ramaditya Adikara. Berita tersebut langsung saja saya share kepada teman-teman blogger khususnya komunitas Multiply dimana Ramaditya Adikara turut aktif di dalamnya.

Ramaditya dengan pedang Star Warsnya di Foodism akhir tahun 2008 (dok.cech)

Berbagai komentar diutarakan mengenai berita ini. Ada yang mencaci maki, prihatin, menyayangkan, berpikiran postif dan lain-lain. Semuanya menyatu dalam satu bentuk ketidakpercayaan atas apa yang telah dilakukan oleh Ramaditya Adikara.

Terus terang beberapa kali saya pernah bertemu dengan Ramaditya dalam berbagai kesempatan. Diantaranya adalah pada saat peluncuran bukunya berjudul “Blind Power” dan kopdar dengan komunitas Multiply di Foodism, FX Senayan. Pertama kali saya bertemu dengan Ramaditya, ada rasa kekaguman yang mendalam terhadap apa yang telah dihasilkan olehnya walaupun mempunyai keterbatasan fisik. Kemampuan yang dimilikinya menjadi semacam motivasi bagi kami para blogger untuk menghasilkan karya yang baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

Selain menulis, Ramaditya mempunyai beberapa kelebihan diantaranya menciptakan lagu dan mampu mengobati atau membersihkan energi negatif yang ada dalam tubuh lewat transfer energi (saya kurang mengerti istilahnya). Dalam hal membuat lagu, Ramaditya membuktikannya dengan membuat satu lagu untuk seorang teman wanita dalam waktu kurang dari 45 menit. Dan lagu tersebut sempat diperdengarkan lewat postingan di multiply. Sedangkan kemampuan transfer energi, seringkali diperagakan oleh Ramaditya pada setiap kami mengadakan kopdar. Hampir semua teman blogger pernah merasakan dan menjadi semacam pasien dari Ramaditya.

Ramaditya melakukan transfer energi kepada seorang rekan blogger di Foodism akhir tahun 2008 (dok.cech)

Uniknya setiap giliran saya yang meminta untuk dilakukan pembersihan lewat transfer energi tersebut, Ramaditya kelihatan keletihan dan kebingungan karena tidak bisa konsentrasi. Tetapi saya pikir kemungkinan Ramaditya mulai kehabisan energi setelah melakukan transfer energi kepada banyak teman blogger atau ada kemungkinan terlalu luas areal tubuh saya yang harus ditransfer energi hehehe.

Memang saya kurang begitu akrab dengannya tapi sejak melihatnya memang Ramaditya sering dinilai bertingkah berlebihan atau dianggap lebay tapi bagi saya itu adalah bagian dari eksistensi di hadapan banyak orang. Dan itu saya bisa maklumi.

Setelah kejadian hari ini yang memberitakan tentang kebohongan publik maka bermunculanlah ketidak percayaan dengan kemampuan Ramaditya. Saya sempat ditanya oleh beberapa teman tentang bagaimana pendapat saya dengan kejadian ini. Saya menjawab apa yang dilakukan oleh Ramaditya sangatlah fatal apalagi dibuktikan adanya Surat Pernyataan yang menguatkan kalau Ramaditya telah melakukan plagiat atas karya orang. Waduh sangat disayangkan dan saya tidak tahu apa motivasi Ramaditya melakukan ini semua.

Sebagai orang yang pernah bersinggungan dengan Ramaditya, saya merasa kasihan dan berharap kejadian ini makin menyadarkan Ramaditya khususnya dan teman-teman blogger pada umumnya untuk kembali merenungkan kembali tentang apa misi, visi dan tujuan kita melakukan blogging. Saya tidak membenci Ramaditya sebagai manusia ciptaan Tuhan tetapi yang saya tidak sukai adalah perbuatannya yang telah mencoreng dunia blogger. Ada ungkapan yang menurut saya sangatlah menarik yaitu ” Dunia Itu Tak Selebar Daun Kelor “. Ternyata ungkapan ini bisa berlaku di dunia maya. Bisa saja orang melakukan perbuatan tercela di tempat lain dan ditutup rapat-rapat tetapi yang namanya informasi selalu bertebaran dimana-mana tetapi sebetulnya tidak kemana-mana. Pasti semua orang akan mengetahui juga.

Foto bersama dengan Geng of Borju Komunitas Multiply di Foodism akhir tahun 2008 (dok.cech)

Sebagai penutup, saya meminta kepada para blogger untuk memaafkan perbuatan Ramaditya karena bagaimanapun juga Ramaditya adalah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan. Disamping itu dengan beraninya Ramaditya membuat Surat Pernyataan tersebut menandakan kalau Ramaditya cukuplah gentle untuk mengakui kesalahannya. Mumpung kita masih puasa di bulan Ramadhan maka tidaklah salah kalau mau memaafkannya dan mulai mau berpikir kalau perbuatan menjiplak (plagiat) karya orang lain sama saja dengan merendahkan cipta, rasa dan karsanya sendiri dan Tuhan yang akan menghukumnya.

3 thoughts on “Ramaditya Adikara, Ada Apa Denganmu ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s