Jadi Kyai Itu Harus “Kaya”

Kiai semar (wayangprabu.com)

Sekitar 8 tahun yang lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Tengah. Kebetulan orang tuanya Pak Kyai yang memimpin pesantren tersebut adalah teman kakek buyut saya yang juga Kyai. Selain silaturahim, saya dan kakak mempunyai kebiasaan berkunjung ke pesantren tersebut setiap tahunnya terutama menjelang puasa bulan Ramadhan.

Kebetulan saat itu saya sedang menjalani puasa 100 hari. Puasa ini dilakukan karena saran dari Uyut di Sumedang untuk membersihkan diri dari segala penyakit baik fisik maupun non fisik dan juga untuk melatih kepekaan diri terhadap lingkungan.  Kedatangan saya dan kakak sebetulnya terlalu cepat yaitu 1 bulan sebelum puasa bulan Ramadhan. Tetapi hanya saat itu saja saya mempunyai waktu luang untuk bepergian kemana saja.

Tepat pukul 10.32 WIB, saya tiba di pesantren tersebut. Dalam kondisi puasa dan perjalanan menggunakan kendaraan umum serta menempuh waktu 3 jam maka cukup membuat kondisi tubuh ini lemah atau keletihan. Setibanya di pesantren, saya melihat di ruang tamu banyak sekali tamu yang datang. Hal ini membuat saya dan kakak harus menunggu di luar. Tepatnya di tangga mesjid. Beberapa orang santri Pak Kyai sempat saya tanyakan tentang keberadaan Pak Kyai. Karena bagi saya suasana saat itu di luar kebiasaan. Biasanya Pak Kyai sudah berada di ruangannya dan menerima tamu. Tetapi saat itu belum ada satupun tamu yang diterima.

Selidik punya selidik ternyata sejak subuh Pak Kyai melakukan tirakat di dalam kamarnya dan belum selesai sampai waktu menjelang siang. Saya langsung berpikir mungkin akan menunggu lama agar bisa ketemu Pak Kyai. Lagipula tidak mungkin juga, kami berdua diterima duluan oleh Pak Kyai karena yang pertama datang itulah yang diprioritaskan.

Sambil menahan lapar, haus dan godaan nafsu seperti melihat orang makan dan minum di depan saya termasuk apa yang dilakukan oleh kakak dan ditambah dengan wajah-wajah bening santriwatinya Pak Kyai membuat saya harus menjaga sikap dan mengendalikan nafsu yang bergejolak di dalam diri.  SEbetulnya kedatangan kami hanyalah untuk meminta doa restu dan permohonan maaf kepada Pak Kyai agar ibadah puasa kami di bulan Ramadhan diterima oleh Allah. Sekaligus mengantarkan kami berziarah ke makam orang tua Pak Kyai yang terkenal sebagai Kyai Sepuh di daerah tersebut.

Saat saya sedang menunggu, tiba-tiba perhatian saya tertuju ke dalam ruangan tamu. Terdengar suara orang yang sedang berdiskusi dan bisik-bisik. Ada apa gerangan yang terjadi di dalam ? Disamping itu ada juga beberapa orang yang bolak-balik membawa kertas seperti amplop. Buat apakah amplop tersebut ?

Karena tertarik dengan apa yang saya lihat itu maka sayapun bergegas ke dalam ruangan tamu. Setelah duduk dan mendengarkan pembicara para tamu di dalam, akhirnya saya baru mengerti apa saja yang dibicarakan di dalam ruangan tersebut. Sekali saya melihat beberapa orang dengan tingkah lucu karena seperti menyembunyikan sesuatu dengan membalikkan badan. Rupanya mereka sedang memasukkan benda ke dalam amplop. Tiba-tiba ada seorang bapak yang menurut perkiraan saya berusia 60 tahun.

” Maaf, mas sudah lama menunggu Pak Kyai ? “

”  Oh tidak Pak. Saya baru menunggu sekitar 20 menit kok “

” Omong-omong Mas dari mana ? “

” Saya dari Jakarta Pak. Kalau Bapak ? “

” Saya dari Pekalongan Mas. Sudah sering kemari Mas “

” Sering sih nggak. Kebetulan saja saya diajak olh kakak saya. Tuh orangnya lagi ngobrol dengan anaknya Pak Kyai dekat tangga mesjid “

” Iya ya… Mas boleh saya tanya ? “

” Tapi tunggu dulu Bapak sudah sering kemari juga ? “

” Saya baru kali ini mas. Kami rombongan dari Pekalongan. Yang di ruangan ini sebagian dari rombongan kami. Hanya beberapa orang saja yang berasal dari daerah sekitar pesantren. “

” Oh gitu, terus bapak mau menanyakan apa ? “

” Begini Mas, kalau datang ke sini dan konsultasi dengan Pak Kyai biasanya pakai itu nggak Mas ? “

” Itu apa, Pak ? “

” Ah jadi malu hehehe ” Tampak beberapa orang menyimak apa yang akan saya ucapkan.

” Kok malu !!! Itu apa pak ? Terus terang saja. Tidak apa-apa kok “

” Biasanya kalau konsultasi tamu memberikan sejumlah uang ala kadarnya buat posantren melalui Pak Kyai “

” Oh yang dimaksud bapak itu…. uang toh ” suara saya terdengar lantang dan membuat orang kaget terkesima.

” Benar Mas… Enaknya dikasih berapa ya ? Biasanya Mas kasih berapa ? “

” hahahahahaha bapak bikin saya tertawa ngakak hahahaaha “

” Memangnya ada kata saya yang salah ?! “

” Nggak Pak. Baoak nggak salah kok. hahahaha cuma membuat saya geli saja hahahaaha “

” Mas kok malah tambah tertawanya “

‘ Begini Pak hehehe Tahu nggak Bapak-bapak…ibu-ibu ” saya mulai berceramah di hadapan para tamu Pak Kyai.

” Ya Massssss ” suara para tamu bersamaan.

” Tahu nggak Bapak-ibu sekalian. Yang namanya Kyai itu adalah pemimpin umat. Karena pemimpin umat maka bisa dianggap sebagai orang tuanya para umat. Disamping itu, yang namanya pemimpin khan harus mengerti dengan kondisi umat….  ” penjelasan saya dengan lantangnya.

” Nggih Mas… “

” Maka itu untuk menjadi Kyai tidak mudah apalagi dianggap sebagai pemimpin atau orang tuanya umat. Jadi untuk menjadi Kyai haruslah kaya. Bukan hanya kaya harta, kaya ilmu, kaya amal, kaya iman, kaya kesabaran dan lain-lain Pokoknya harus kaya. Kenapa harus kaya ??? Hayo jawab bapak-ibu sekalian “

” Nggak ngerti Mas… kenapa Mas ? “

” Karena selain harus mengerti tentang kondisi umat, dia juga harus menyantuni umat yang sedang kesusahan. Misalnya bapak kurang mengerti tentang ilmu agama maka bapak bisa minta kepada Pak Kyai untuk mengajarkannya. Ada umat yang sedang kelaparan maka Kyai harus mencari cara atau membantu untuk menyediakan makanan baginya. Terus ada umat yang kesulitan mencari kerja maka Pak Kyai harus membantu dan mencarikan pekerjaan kepada umatnya yang sedang menganggur. Apa lagi yaaaa…. “

” Kalau ada umat yang nggak punya uang bagaimana Mas ? “

” Nah itu yang penting, betul Pak. Saya baru ingat. Kalau ada umat yang tidak punya uang maka Pak Kyai harus berusaha mencari jalan atau memberikan uang yang dipunyainya kepada umatnya yang tidak punya uang. Saya jadi teringat dengan seorang Habib di daerah Bogor dimana hampir tiap hatri Juma’at selalu membagi-bagikan uang yang ada di kantongnya. Tetapi anehnya uangnya tidak pernah habis dan setiap orang mendapatkan sejumlah uang yang berbeda. Habib tersebut tidak akan berhenti mengambil uang yang ada di kantong bajunya sampai umatnya yang terakhir meminta. Pertanyaannya darimana ya datangnya uang tersebut ? “

” Waduh nggak tahu Mas “

” Itu datangnya dari Allah. Itu bisa terjadi karena kedekatan seorang ulama dengan Allah SWT sehingga Allah tahu apa yang diminta oleh seorang ulama yang sangat mumpuni ilmu agamanya.  Jadi bapak-ibu yang dari tadi menyelipkan uangnya ke dalam amplop secara sembunyi-sembunyi lebih baik disimpan kembali ke dalam tas. “

” Kenapa bisa begitu ? “

” Lha khan sudah seharusnya Kyai yang memberikan uang kepada umatnya bukan umatnya yang memberikan uang kepada Pak Kyai. “

” Tetapi Pak … “

” Udah jangan tapi-tapi. Ikuti saja apa kata saya. Bagaimana ??? “

Semua tamu terdiam dan tertunduk.

” Bapak-ibu mengerti khan maksud saya… Lho kok pada diam semua “

Tiba-tiba terdengar suara mendehem  seorang pria tua dengan  kerasnya di belakang saya.

” Ehemmmmm Assalamualaikum Cech “

Saya langsung berbalik badan, tertanya yang memberikan salam tersebut adalah Pak Kyai, pimpinan pesantren.

” Wa aaaaalaikum salam Pak Kyai. Aaaapa kaaabar Pak Kyai ? hehehe ” nada suara saya berubah.

” Bagus juga kamu ceramah ya Cech “

” Hehehehe khan Pak Kyai yang mngajarkan hehehehe “

Mata pak Kyai melototi saya. Kemudian Pak Kyai langsung menyuruh santrinya mengatur tamu yang datang untuk konsultasi secara bergiliran. Sialnya saya dan kakak dipanggil paling terakhir. Setelah menunggu selama 2 jam lebih, akhirnya kami dipanggil ke dalam ruangan khusus Pak Kyai. Kami berdua langsung mencium tangan Pak Kyai.

” Bagaimana kabarnya kalian ? “

” Baik Pak Kyai “

” Kamu masih puasa khan Cech. Sudah berapa hari ? “

” Kalau dihitung-hitung tinggal 27 hari lagi. “

” Bagus…bagus…kuat juga kamu ya hehehe. Oh ya kebetulan pas makan siang,  jadi maaf ya Cech kami mau makan dulu. Silahkan kamu mau duduk disini atau di luar “

” Ya disini ajalah Pak Kyai. Saya nikmati kok puasa saya. “

Ternyata Pak Kyai benar-benar ngerjai saya. Hidangan makan siang hari itu sungguh lezat dan nikmat. Sate kambing, sate ayam, sop kambing, ikan asin, es jeruk dan masih banyak lagi. Uedan dalam hati saya tetapi saya harus berusaha menahan diri walaupun sempat menelan air liur saat melihat kakak dan Pak Kyai sungguh menikmati makan siang hari itu.

Setelah makan siang selesai, kamipun melanjutkan obrolan dan melakukan ziarah ke makam Kyai Sepuh. Menjelang sore kami pun meminta pamit kepada Pak Kyai. Tetapi sebelum pamit, Pak Kyai sempat berbicara dengan saya.

” Cech, punya uang nggak untuk pulang. Oh ya kapan kamu pulang ke Jakarta ? “

” He he he he saya tidak punya uang Pak Kyai. Ini aja setelah dari sini mau minjam ke saudara biar bisa pulang ke Jakarta “

” Aduh kasihan benar cucunya kyai sepuh. Kamu sich tadi komporin para tamu agar tidak memberikan uang kepada Kyai. Jadinya hari ini tidak ada tamu yang memberikan uang kepada saya. “

” Ahh nggak apa-apa Pak Kyai… “

” Saya nggak bisa kasih uang tapi saya hanya bisa memberikan 2 batang rokok kretek ini. “

” Terima kasih Pak Kyai lumayanlah buat rokok nanti pas buka “

” Apa ??? 2 batang rokok kretek ini ingin kamu pakai buat ngerokok ??? “

” Emangnya kenapa ??? “

” Coba kamu perhatikan baik-baik apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek tersebut. “

” Ihhh apa nich. Kelihatannya… hehehe bagaimana bisa … Pak Kyai. Aduh terima kasih ya Pak Kyai “

” Sudahlah   kamu pulang ya. Cukuplah buat pulang ke Jakarta. Salam ya buat Bapak dan Ibu di Jakarta “

” Iya Pak Kyai. Nanti salam Pak Kyai akan disampaikan ke bapak dan ibu. Assalamualaikum “

” Wa alaikumussalam… hati-hati di jalan “

” Terima kasih “

Tahukah benda apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek 234 tersebut. Ternyata tiap lintingan rokok tersebut setelah dibuka atau dibuang tembakaunya terdapat uang senilai 100 ribu rupiah. Karena dua linting rokok maka hari itu saya mendapatkan uang dari Pak kyai sebesar 200 ribu rupiah. Lumayanlah buat ongkos kendaraan dan jajan  di jalan besok. Ini baru Kyai dalam hati saya. Iya kalau ngasih uang, kalau nggak ngasih sih bukan Kyai hahahaha

2 thoughts on “Jadi Kyai Itu Harus “Kaya”

  1. iklan “DICARI KYAI ‘KAYA’ PEMBERI UMAT PANUTAN BUKAN PENCARI :- ANGPAU
    -MASSA ANARKIS
    -POPULARITAS dll Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami memang kami mencari sosok panutan umat saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s