“Monyet Ngagugulung Kalapa”

ambrosiusbata.blogspot.com

Apa itu Monyet Ngagugulung Kalapa ? Saya rasa orang Sunda akan mengerti tentang ungkapan tersebut. Sebetulnya saya sudah lama ingin menulis tentang ungkapan ini. Kebetulan sekali dengan banyaknya peristiwa yang terjadi di negeri Indonesia dan Kompasiana mengingatkan saya kembali tentang hal tersebut.

Dalam banyak kesempatan banyak orang asing yang saya kenal mengatakan kalau orang Indonesia itu jago sekali dalam membuat konsep bahkan dinilai brilian. Sebuah kebanggaan yang saya terima dari mereka. Namun mereka mengatakan konsep bagus tapi lemah dalam implementasi. Langsung luntur kebanggaan yang ada di dalam diri ini hehehe…

Contoh yang nyata adalah Konsep ideologi yang dibuat oleh Para Pendiri Bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945. Kalau diperhatikan kata per kata atau kalimat per kalimat, saya pikir generasi sekarangpun akan sulit untuk membuat atau meniru penggunaan kata atau kalimat yang dirumuskan oleh Para Pendirii Bangsa. Tetapi kok negara Indonesia tetap saja seperti kendaraan yang jalan di tempat atau kalau mau dikatakan mundur dengan cepat dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Ada apakah gerangan yang terjadi ?

Kalau dibilang sudah terlalu lamanya di jajah oleh Belanda tetapi pada kenyataannya Belanda banyak meninggalkan banyak hal yang baik dan bermanfaat. Misalnya Peta Pola Tanam Komoditi Pertanian yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi tanah di setiap daerah di Indonesia, Ilmu Pembukuan dimana Belanda sampai sekarang terkenal dengan manajemen administrasi terbaik di seluruh dunia, aturan hukum dimana Den Hag menjadi pusat Mahkamah Internasional dan masih banyak lagi.

Lho kok Indonesia masih bertahan dengan modelnya sendiri apalagi setelah reformasi maka makin amburadul saja tatanan yang ada di bumi Indonesia ini. Awut-awutan, seenak udelnya, pokoknya gue paling…, dan lain-lain. Jadi tidaklah heran kalau reformasi yang dijalankan selama ini gagal total karena dikerjakan dan dijalankan berdasarkan emosional belaka dan bukan berdasarkan akal pikir dan hati nurani.

Apalagi kalau kita melihat sekarang ini seperti banyak kasus yang timbul tenggelam tetapi tanpa ada penyelesaian. Sepertinya masing-masing pihak yang bertarung saling memegang kartu truf tiap lawan-lawannya dan akan dikeluarkan kalau posisinya dipojokkan. Jadi bukan lagi berpikir demi bangsa dan negara tetapi berdasarkan uang dan kekuasaan. Isu A timbul tetapi bisa saja lenyap dengan menongolkan isu B, kemudian C, D E dan seterusnya. Setelah itu kembali ke A tanpa ada solusi yang tepat dan cepat. Semuanya dibiarkan dan herannya banyak rakyat hanya bisa geram tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Isu yang terakhir dan cukup menyedot perhatian publik adalah masalah hubungan Indonesia dengan Malaysia. Dulu pernah konflik terutama kasus perebutan hak atas Pulau Sipadan dan Ligitan, Ambalat dan sekarang masalah penangkapan petugas Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang sampai sekarang masih ramai dibicarakan. Lagi-lagi penyelesaian yang dilakukan selalu saja lambat dan tidak tegas. Padahal sudah jelas-jelas dan nyata kalau ada unsur arogansi sebuah negara yang m,erasa sudah kaya terhadap negara yang dianggap tertinggal.

Saya ingin bercerita sedikit tentang hubungan RRC dengan Uni Soviet dulu. Mao Zedong sempat tersinggung dengan perkataan Khruschev yang mengatakan bagaimana RRC bisa membayar hutangnya kepada Uni Soviet kalau masyarakatnya saja sudah tidak mampu membeli beras. Apa yang dilakukan oleh Mao Zedong ? Mao langsung memerintahkan dan memobilisasi rakyat Cina di seluruh RRC untuk bekerja keras dan tidak bergantung lagi kepada pinjaman Uni Soviet. Mao mengumumkannya lewat corong radio milik pemerintah PKC. Mao berhasil merubah Cina dan membayar semua hutang-hutang Cina kepada Soviet. Sekarang lihat bagaimana Cina berhasil menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia bahkan banyak pengusaha Cina yang melakukan investasi ke negara-negara bekas pecahan Uni Soviet bahkan seluruh dunia. Kata kuncinya adalah kemandirian atau kata Bung Karno “Berdikari”( Berdiri Di Atas Kaki Sendiri).

Apa yang terjadi sekarang ? Belum apa-apa sudah terlihat ketakutan yang dipertunjukkan oleh Pemimpin kita dalam hal ini presiden dan lebih unik lagi banyak sebagian rakyat yang juga berteriak sama yaitu kalau kita memberi pelajaran kepada Malaysia bagaimana dengan nasib TKI. Kadang kala saya tertawa saat membaca alasan tersebut. Apakah kita takut kelaparan ? Miskin ? Menganggur ? Ingat jumlah penduduk Indonesia besar, negara kita kaya sumber daya alam dan masih banyak lagi keunggulan yang dimiliki oleh bangsa ini. Asal pikiran yang ada di otak pemimpin nasional hanya demi bangsa dan negara. Harga diri itu lebih bernilai daripada kita selalu dihina dan diperbudak oleh bangsa lain. Masih tidak cukupkan bangsa ini dijajah oleh Belanda ? Jepang ?

Saya teringat dengan pembicaraan antara Bung Karno dan Menteri Keuangan Yusuf Muda Dalam yang melaporkan kalau ada investor dari Amerika Serikat dan Barat ada yang berminat untuk mengolah tambang di Indonesia pada tahun 1959. Apa yang dikatakan oleh Bung Karno ? Bung Karno mengatakan silahkan saja mereka berinvestasi di negeri ini tetapi beri konsesi yang kecil saja. yang besar-besarnya nanti diberikan kepada anak-anak negeri bila mereka telah menguasai ilmu dan teknologinya. Itulah mengapa Bung Karno banyak mengirimkan pemuda-pemudi pada sat itu belajar ke luar negeri. Disamping itu pembagian keuntungan yang ditawarkan oleh Bung Karno cukup adil yaitu pembagian keuntungan dilaksanakan setelah kebutuhan dalam negeri tercukupi. Nah yang dibagi adalah kelebihan produksi yang dijual ke luar negeri.

Jelas sekali adanya sikap tegas, elegan, prinsipil, harga diri dan tidak mau didikte oleh pihak asing. Jadi jangan takut dengan hal-hal seperti kemiskinan, kelaparan dan lain-lain kalau sudah bicara bangsa dan negara. Semua itu sudah ditunjukkan oleh orang tua-orang tua kita dulu. Kok kita sebagai generasi penerus masih takut dengan hal-hal tersebut dan mau menggadaikan harga diri. Tetapi pemimpinnya seperti itu sich yaitu korup, kolusi dan nepotisme khan kami tidak berdaya. Hahahaha Kitalah yang memiliki negara ini bukan mereka. Jadi kalau pemimpin negeri ini masih KKN maka kita sebagai pemilik harus mengambil haknya kembali. Dengan cara apa ? REVOLUSI RAKYAT kalau perlu.

Sudah… sudah cukup kita berbicara, berwacana, berpolemik dan meributkan pepesan kosong tetapi tidak berbuat sama sekali. Inilah saya samakan dengan ungkapan Sunda yaitu “Monyet Ngagugulung Kalapa”. Menggulir-gulirkan buah kelapa tetapi tidak pernah bisa membuka dan menikmati nikmatnya air dan buah kelapa. Itulah yang terjadi saat ini.

Terus apa hubungannya dengan kompasiana ? Ya sama. Dibahaslah hal-hal yang sebetulnya berkaitan dengan urusan pribadi yang hakiki terutama berhubungan dengan Sang Pencipta. Terjadilah diskusi yang tidak produktif. Masing-masing mempertahan argumennya dan merasa paling hebat. Kalau sudah begitu apa yang bisa dilakukan bagi kemaslahatan umat ??? Bermanfaat langsung atau tidak dengan banyak orang ??? Implementasinya mana ??? Isu selalu digulirkan dan terjadilah ghibah alias gosip sana gosip sini. Masing-masing pihak saling menyindir, menyinyir, memprotes dan sebagainya. Yang parahnya semua itu dilakukan pada saat puasa di bulan Ramadhan. Bukannya diam dan khusu menjalankan puasa malah asyik bergosip ria bahkan memanas-manasi. Herman ehhh heran…

Sekarang saatnya kita mengurangi bicara dan bergosip ria. Ingat Sinetron PPT ketika Bang Jack mengatakan kepada Azzam untuk diam bila ragu dan tidak mengerti walaupun hal itu berkaitan dengan Sunnah Rasulullah SAW. Permasalahannya adalah keterbatasan yang dimiliki oleh seorang manusia dimana berbeda tingkat keimanannya dengan Rasulullah SAW. Lebih baik diam karena diam adalah selemah-lemahnya Iman.

Lakukan sesuatu dan banyaklah aksi bukan reaksi demi kemaslahatan umat manusia terutama bangsa dan negara Indonesia. Kalau tidak maka jangan salahkah orang asing mengatakan kalau bangsa Indonesia senang sekali memainkan “topeng monyet” dimana disuruh A mengikuti A demi menyenangkan dan menjadi bahan tertawaan pihak luar. Mari kita mulai menyadari kalau orang di sebelah kita adalah saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air walaupun berbeda suku, agama, ras, bangsa dan lain-lain.

2 thoughts on ““Monyet Ngagugulung Kalapa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s