Hari Orang Tua (Parent’s Day)

Mungkin bagi rakyat Amerika hari Sabtu adalah hari buruh (Labour’s Day) tetapi bagi saya hari Sabtu dan minggu adalah ” Hari Orang Tua “. Mengapa dikatakan demikian ?

Tidak tahu mengapa 2 hari tersebut tiba-tiba saya ingin jalan-jalan berkunjung ke tempat tinggal teman-teman orang tua saya. Memang ada beberapa anak mereka adalah teman-teman saya juga tetapi saya merasa lebih akrab dengan orang tuanya hehehe…

Ada satu kerinduan yang mendalam terhadap almarhum Bapak dan hasrat berkunjung tersebut timbul dengan sendirinya. Beberapa hari sebelumnya saya merasa ada yang kosong bahkan hampa di hati ini. Dulu kalau saya punya masalah maka almarhum yang selalu menjadi tempat saya berdiskusi tentang apapun walau keputusan akhir ada di diri sendiri.

Hari Sabtu, saya berkeliling kampung. Sesekali saya perhatikan rumah-rumah teman orang tua. Kalau pas ada di rumah maka saya mampir dan bersilaturahim. Perlu diketahui, mereka rata-rata telah berumur di atas 65 tahun. Tahu sendiri khan bagaimana kondisi fisik mereka. Ada yang masih segar tetapi sudah tidak bisa duduk lama, ada yang mulai sakit-sakitan bahkan ada yang sudah stroke atau terkena penyakit pikun.

Kunjungan saya pertama di sebuah rumah persis di belakang rumah. Kebetulan pada saat saya datang langsung bisa bertemu dengan seorang wanita tua bernama Emak Ningsih. Kondisinya sudah tua dan memprihatinkan. Beliau sudah tidak bisa melihat karena matanya rabun, kurang pendengaran (bisa mendengar kalau saya mendekat atau berteriak dengan keras) dan kakinya terkena pengapuran. Ya sudah saya datang menghampiri dan menyalaminya.

Awalnya beliau sempat kanget dan bingung siapa gerangan yang datang. Berulang kali saya menyebut nama dengan lantang tapi beliau tetap saya lupa dan berusaha mengingat-ingat. Setelah saya memberitahukan nama saya barulah beliau mengenali dan merangkul saya. Aduh sudah lama sekali saya tidak bertemu Emak Ningsih. Dulu sewaktu muda wanita tua ini sangatlah gesit bekerja dan sauaranya lantang sehingga anak-anak yang merasa preman atau jagoan akan dilawannya. Biasalah khan almarhum  suaminya orang bugis dan tidak kenal rasa takut hehehe.

Selama 30 menit saya bicara ngalor ngidul ke sana kemari sampai menyinggung mengapa saya belum menikah. Beliau sampai tidak percaya dengan alasan saya belum bahkan mau membantu mencarikan calon istri buat saya hehehe… Saya hanya bisa tersenyum mendengar semangatnya mencari jodoh. Tapi itulah orang tua yang selalu ingin memperhatikan anak-anaknya walaupun saya bukan anak kandungnya. Dari Emak Ningsihlah saya mendapatkan spirit hidup yang luar biasa yaitu pantang menyerah dan selalu berusaha untuk sehat kembali serta tidak mau merepotkan orang lain.

Kunjungan berikutnya saya pergi agak jauh dari rumah. Saya bertemu dengan Pak Sutowo, teman kantor almarhum bapak waktu bekerja di PT Pertani. Saya perkirakan umurnya tidak beda jauh dengan umur almarhum. Tubuhnya masih sehat dan gagah walaupun mulai telat mikir hehehe. Beliau masih rajin datang ke mesjid untuk Sholat 5 waktu. Dengan kondisi anak-anaknya yang sudah bekerja semua maka di rumah tinggal beliau dan istrinya yang tinggal setiap hari. Dari obrolan dengan beliau selama 45 menit, banyak hal yang saya peroleh. Salah satunya tentang perjuangan hidup untuk mandiri. Menurut cerita beliau, waktu awal datang ke Jakarta almarhum bapak saya suka bawa telur dari kampungnya di Purwokerto dan berjualan di atas kereta api. Nah uang hasil jualan inilah yang dipakai untuk membayar kuliah almarhum. Saya sendiri sebagai anaknya baru mendengar cerita seperti ini. Beliau sangat mengagumi sosok almarhum bapak, yang dikatakannya sebagai orang yang tidak banyak bicara, workaholic, tidak suka bergunjing dan semangat kerjanya luar biasa. Bahkan pada umur 30 tahun sudah menjadi Kepala Humas di PT Pertani. Sebuah prestasi yang jarang terjadi pada jamannya. Itu kata beliau.

Karena perjalanan yang tidak direncanakan sehingga berbenturan dengan waktu berbuka puasa. Akhirnya perjalanan saya lanjutkan hari minggu ini. Pagi-pagi sekali saya berangkat tetapi jaraknya lebih jauh lagi yaitu di Rawamangun. Di sana saya berhasil bertemu dengan Pak Sudiono, teman sekolah almarhum. Kebetulan pas saya datang, anak-anak beliau sedang berkumpul. Betapa kagetnya saya setelah melihat kondisi Pak Sudiono. Ternyata beliau sedang sakit dan terbaring di tempat tidur. Beliau sudah hampir 3 tahun ini terkena stroke sehingga saya hanya bisa melihatnya dari jauh dan tidak mungkin bicara banyak hal. Setelah melihat beliau maka saya pamit diri.

Selanjutnya saya pergi ke daerah Menteng, saya mengunjungi teman almarhum Bapak yang dulunya pernah menjadi pengusaha sukses. Namanya Pak Muchtar. Pak Muchtar selain pengusaha, beliau juga purnawirawan TNI dengan pangkat Mayjen. Untuk bertemu beliau memang lain dari yang lain. Perlu protokoler ala pejabat. Lapor dulu dengan keamanan dan menyebutkan alasan kedatangan hehehe. Tetapi saya nikmati saja. Ketika saya masuk ke dalam rumahnya. Pak Muchtar sempat diam sejenak dan memperhatikan saya mulai dari kepala sampai kaki. Setelah itu barulah beliau tersenyum sambil mengingat-ingat siapa diri saya sebenarnya. Tetapi beliau dengan cepat mengenal nama saya.

Sebagai seorang mantan purnawirawan dan pengusaha (perusahaannya dilanjutkan oleh anaknya) intonasi bicara beliau membuat saya menjadi pendengar yang baik. Banyak bahan cerita yang diperdengarkan kepada saya hahaha… Mulai dari politik, ekonomi sampai hal-hal remeh temeh. Sebagai pendengar yang baik maka saya hanya bisa bilang ya dan setuju saja walaupun ada beberapa pernyataannya tidak menyambung satu sama lain. Tetapi itulah orang tua yang harus kita hormati. Hal ini dikarenakan beliau menghargai saya sebagai yang muda. Buktinya ada beberapa tamu yang ditolaknya padahal umurnya lebih tua dari saya alias bapak-bapak. Ini artinya beliau memang senang saya menjadi tamunya.

Hampir 2 jam bicara dengan Pak Muctar, akhirnya saya pamit diri walaupun beberapa kali beliau meminta saya tinggal dulu. Dari situ saya mengerti kalau beliau ternyata merasa kesepian dan sudah jarang anak-anaknya mau berdialog dengan beliau dalam kondisi santai. Dari raut mukanya jelas terlihat wajah kesepian apalagi di rumah tinggal beliau sendiri setelah istrinya meninggal sekitar 8 tahun yang lalu.

Ada satu nasehat menarik yang beliau berikan kepada saya yaitu tetaplah berjuang dalam kondisi apapun, yakinlah akan kemampuan sendiri, teruslah istiqomah dan jangan suka mengeluh. Wao nasehat orang tua yang membangkitkan kembali semangat saya yang sempat anjlok sebulan ini.

Selanjutnya saya meneruskan perjalanan ke Depok. Di sana saya ingin bertemu dengan teman almarhum bapak yang dulu sering jalan-jalan bersama almarhum Bapak kemanapun perginya. Beliau bernama Pak Sugeng. Waktu menunjukkan jam 3 sore.  Sesampainya di rumah Pak Sugeng, saya disambut oleh istri beliau. Betapa kagetnya saya saat mendengar kalau Pak Sugeng sudah meninggal dunia sekitar 6 bulan yang lalu. Saya sempat bertanya mengapa saya dan keluarga tidak diberitahu. Rupanya keluarga Pak Sugeng lupa dengan nomor telepon rumah. Beliau meninggal karena serangan jantung di kamar mandi. Setelah hampir 35 menit, saya mengajukan pamit pulang karena hari sudah sore dan saya harus segera sampai di rumah sebelum berbuka puasa.

Sungguh dua hari yang mengesankan bagi diri saya. Begitulah nantinya saya kalau sudah tua nanti. Tidak ada lagi teman sepermainan yang satu per satu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, tidak ada lagi anak yang mulai sibuk dengan urusan masing-masing, tidak ada lagi yang ditakuti karena banyak orang menganggap saya orang tua yang lemah, tidak ada lagi berbagi cerita alais curhat karena sudah tidak mampu lagi bicara lama dan masih banyak lagi. Dari semua itu saya mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu yakin kepada diri sendiri, yakin kepada Allah SWT dan selalu ingat pesan/nasehat orang tua.

Benar-benar Hari Orang Tua yang mengesankan (The Real Parent’s Day)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s