Peningkatan Kebutuhan Lahan Pertanian Secara Global, Siapa Yang Diuntungkan ?

Krisis harga pangan baru-baru ini memungkinkan  suatu kepentingan untuk memperoleh tanah pertanian di luar negeri untuk mengamankan pasokan pangan. Bersama dengan boomingnya  biofuel dan krisis keuangan, hal itu mengarah pada suatu penemuan kembali sektor pertanian sebagai sektor yang menggiurkan  dengan berbagai jenis investor. Namun, ada kekhawatiran bahwa gelombang investasiini  bisa menghilangkan hak-hak masyarakat lokal dan mata pencaharian mereka. Data yang terpercaya  pada akuisisi tanah sangatlah langka sehingga  menyebabkan spekulasi dan membuat sulit bagi para stakeholder untuk membuat keputusan berdasarkan  informasi yang baik.

Clear cutting for agriculture in Brazilian Pantanal (physorg.com)

Untuk mengisi gap ini, Bank Dunia melakukan kajian komprehensif, melakukan dokmentasi  pengalihan tanah secara aktual  di 14 negara, memeriksa  19 proyek, me-review kembali laporan media  dan mengeksplorasi potensi yang ada  untuk meningkatkan hasil pertanian.

Permintaan akan lahan sangat  besar. Dilaporkan bahwa jumlah transaksi tanah pertanian skala besar pada tahun 2009 saja sebesar 45 juta hektar. Itu sebanding  dengan tingkat ekspansi rata-rata 4 juta hektar per tahun dalam satu dekade menjelang tahun 2008. Ada indikasi yang kuat, para investor mengarahkan fokusnya  pada negara-negara Afrika dengan alasan lemahnya aturan pemerintah dalam mengolah lahan. Selain itu tanah sering ditransfer dengan cara  mengabaikan hak atas tanah yang ada dan tidak berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Berikut ini adalah rekomendasi dari laporan Bank Dunia yang  meliputi :

1.  Melindungi dan mengakui hak atas tanah yang ada, termasuk  hak sekunder seperti penggembalaan.

2.  Buatlah upaya yang lebih besar untuk mengintegrasikan strategi investasi ke dalam strategi nasional pembangunan pertanian dan pedesaan, memastikan bahwa standar sosial dan lingkungan telah  diikuti.

3. Meningkatkan kerangka hukum dan kelembagaan untuk menangani meningkatnya sengketa lahan.

4. Meningkatkan penilaian atas kelayakan ekonomi dan teknis proyek-proyek investasi.

5. Terlibat dalam proses yang lebih konsultatif dan partisipatif untuk membangun inisiatif sektor swasta yang ada dan standar hibah seperti Equator Principles and the Forest Stewardship Council (penerapan standard lingkungan oleh bank dan lembaga keuangan internasional)

6. Meningkatkan transparansi akuisisi tanah, termasuk mekanisme keterbukaan sektor swasta secara efektif.

Pada tanggal  13 September – 8 Oktober 2010 secara bersama-sama  akan diadakan diskusi secara online (eDiscussion) untuk membahas laporan BankDunia tersebut. eDiscussion yang terbuka untuk umum  ini diselenggarakan oleh Global Donor Platform untuk Pembangunan Pedesaan  (Global Donor Platform for Rural Development) dan Institut Internasional untuk Pembangunan Berkelanjutan (International Institute for Sustainable Development)

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan masukan dan rekomendasi untuk langkah selanjutnya dari perspektif tiga kelompok kunci stakeholder  yaitu masyarakat madani, sektor publik dan sektor swasta. Hasil eDiscussion akan dibahas pada Pertemuan Tahunan Bank Dunia pada bulan Oktober 2010 dan sejumlah acara berikutnya.

Laporan Bank Dunia tersebut secara lengkap dapat dibaca di Rising Global Interest in Farmland bulan September 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s