Ternyata Parasit Malaria Pada Manusia Berasal Dari Gorila

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),  setiap tahun 250 juta orang terinfeksi malaria  dan hampir satu juta meninggal akibat malaria. Pada saat ini sebuah studi baru menemukan bahwa sebagian besar infeksi pada manusia kemungkinan berasal dari gorila yang terinfeksi.

P.falciparium pada gorila identik dengan yang ada pada manusia Credit: Ian Nichols and the National Geographic Society.

Penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Nature edisi  23 September 2010, menggunakan analisis genetik dari parasit penyebab malaria  yang ditemukan pada tinja primata untuk membuat “pohon keluarga” (family tree) evolusioner  penyakit ini. Para peneliti menemukan bahwa parasit yang paling erat hubungannya dengan malaria manusia berasal dari gorila dan ada kemungkinan  terjadi  lompatan dari hewan ke tubuh  manusia dalam satu gigitan nyamuk.

Lima jenis parasit malaria yang menyebabkan infeksi pada  manusia (paling umum dan mematikan di seluruh dunia) adalah Plasmodium falciparum. Seperti semua parasit Plasmodium, P. falciparum  menyebar  dari  tubuh yang satu  ke tubuh yang lain oleh nyamuk. Ketika nyamuk menggigit seseorang, parasit menginfeksi sel darah merah orang itu  dan  menyebabkan kelelahan, demam dan muntah. Apabila tidak diobati maka  infeksi tersebut  akan berakibat   fatal.

Selama bertahun-tahun, peneliti berpikir  P. falciparum yang relatif terdekat    adalah infeksi Plasmodium serupa yang ditemukan pada simpanse. Hal ini memperkuat  teori bahwa parasit malaria berasal dari leluhur umum dari simpanse dan manusia  sekitar 5.000.000-7.000.000 tahun lalu. Tapi teori ini menjadi kontroversial setelah lebih dari strain Plasmodium ditemukan di gorila, simpanse, dan bonobo (bagian dari genus yang sama dengan simpanse) sehingga  menimbulkan  kebingungan sejarah evolusi parasit itu.

Beatrice Hahn dari Universitas Alabama, Birmingham dan rekan meneliti hubungan antara spesies parasit dengan mengisolasi parasit malaria dari tinja primata (spesimen). Kemudian  para peneliti mengumpulkan  spesimen tersebut  untuk diteliti lebih lanjut  tentang asal usul HIV. Lebih dari 1.000 sampel simpanse, 805 sampel gorila dan 107 sampel Bonobo diuji sehingga menjadikan  sebuah sampel penelitian terbesar dari satu jenis primata yang pernah dilakukan.

Berdasarkan pengujian, para peneliti memperkirakan bahwa antara 32 persen simpanse liar dan 48 persen gorila barat (western gorilla) terinfeksi parasit malaria. Sampel dari gorila timur (eastern gorilla) dan bonobo tidak menunjukkan infeksi. Analisis genetik menunjukkan bahwa tidak satupun dari parasit malaria simpanse terkait erat dengan P. falciparum pada manusia. Namun, salah satu subtipe parasit gorila hampir identik dengan strain manusia. Garis keturunan genetik dari parasit menunjukkan bahwa hal itu berkembang setelah melakukan lompatan tunggal dari gorila ke manusia.

Hahn mengatakan bahwa para peneliti tidak bisa mengatakan kapan tepatnya manusia terinfeksi parasit yang pertama, karena sedikit yang diketahui tentang tingkat evolusi P. falciparum. Namun lompatan itu mungkin terjadi antara 5000 dan 300.000 tahun yang lalu. Ada kemungkinan  terjadinya  lompatan  lintas spesies ,  tetapi kemungkinan itu kecil terjadi. Analisis genetik menunjukkan tidak ada bukti sering terjadinya   infeksi lintas-spesies

Edward Holmes, ahli biologi evolusi dari Pennsylvania State University dalam artikelnya di Jurnal Nature menyatakan hasil penemuan tersebut  “mengejutkan”. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami keragaman genetik dari parasit malaria.

Menurut Hahn, tujuan penelitian ini  adalah memahami apa yang membuat   parasitini sangat mematikan. Misalnya HIV, memang dapat berakibat fatal pada manusia tetapi beberapa spesies primata membawa infeksi tanpa gejala. sehingga para peneliti diberikan   kesempatan untuk memahami bagaimana penyakit dan yang terinfeksi berinteraksi. Keuntungan serupa bisa dibuat dengan malaria. Pada dasarnya dengan cara  membandingkan parasit yang sama dalam dua spesies akan memberikan informasi yang  sangat berharga dalam memahami patogenesis penyakit manusia dan akhirnya dapat  mengobati dan mencegah penyakit malaria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s