Wanita Lebih Mampu Bertahan Terhadap Cedera Traumatis

thepoetryworld.com

 

Menurut sebuah studi baru, 14 persen wanita  lebih mampu bertahan terhadap  cedera traumatis dibandingkan dengan pria. Peneliti Dr Adil H. Haider, Asisten Profesor Bedah di Johns Hopkins University School of Medicine mengatakan wanita mempunyai kemampuan dan keuletan untuk bertahan hidup lebih baik daripada pria.

Wanita harus merawat anak-anak, melahirkan, melakukan hal-hal  yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh pria. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh hormon seks yang dimiliki oleh wanita. Dalam beberapa kejadian, jenis hormon seks wanita meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Mungkin karena  inilah maka  wanita  lebih rentan terhadap penyakit lupus yang diakibatkan oleh  hasil dari sistem kekebalan terlalu aktif.

Haider juga mengatakan bahwa belum ada kejelasan yang menerangkan apakah hormon seks perempuan seperti estrogen dapat meningkatkan kemungkinan hidup dari cedera serius, atau apakah karena  rendahnya hormon testosteron pada wanita yang  berfungsi sebagai pelindung.

Hasil penelitian secara  rinci dapat dilihat dalam Journal of Trauma edisi September 2010 tetapi belum banyak informasi yang didapat dari penelitian ini. Para peneliti baru-baru ini mengeluarkan rilis berita pada pekerjaan mereka.

Haider dan rekan-rekannya mengumpulkan data tentang tingkat kelangsungan hidup 48.394 orang yang telah menderita cedera traumatik yang parah dan menempatkan mereka dalam tiga kelompok berdasarkan usia mereka yaitu  di bawah 12 tahun atau di atas 65 tahun yang secara umum  memiliki tingkat hormon yang lebih rendah diabandingkan dengan yang  berusia 13- 64 tahun.

Hanya mereka yang mempunyai tekanan darah sangat rendah sebagai akibat dari cedera serius yang dipertimbangkan oleh  dokter untuk  dilibatkan dalam penelitian.

Di antara orang usia  <12 tahun diperoleh hasil  29 persen pria  meninggal dan 24 persen wanita meninggal. Untuk orang usia 13-64 tahun , 34 persen pria  meninggal dan 30 persen wanita meninggal, dan bagi yang usia >65 tahun , 36 persen pria  meninggal dan 31 persen wanita  meninggal.

Setelah mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, tingkat keparahan cedera, jenis cedera dan cara cedera, tingkat kelangsungan hidup perempuan adalah 14 persen lebih tinggi dari laki-laki. Ada faktor lain yang mungkin saja dapat mempengaruhi tetapi hormon seks adalah faktor yang paling besar menentukan tingkat kelangsungan hidup.

Hasil temuan lainnya  telah menunjukkan bahwa  tidak hanya seks yang  dapat mempengaruhi tingkat ketahanan hidup  tetapi pada kenyataannya tampaknya wanita lebih menderita daripada pria ketika rasa sakit datang.

Sebuah studi  tahun 2005 dalam  jurnal Plastic and Reconstructive Surgery menemukan bahwa wanita merasa sakit lebih daripada pria karena mereka memiliki lebih banyak saraf penerima (serat saraf 34 per sentimeter persegi kulit di wajah mereka) dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 17 per sentimeter.

Lima belas persen wanita  mengalami rasa sakit pada  saat berhubungan seks,  karena para wanita selalu diasosiasikan dengan  sakit dan seks  (dispareunia) berdasarkan penelitian pada tahun 2009 di Journal of Sexual Medicine.

Selanjutnya, Haider mengatakan ingin mengukur kadar hormon seks pada orang yang memiliki cedera serius dengan tujuan  untuk melihat apakah variasi tingkat individu mempengaruhi kelangsungan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s