Mengenal Tanaman Langka Dari Nama Jalan

Pernah kita dikejutkan oleh peristiwa dimana seorang pengacara melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan yaitu mencium bibir kliennya  seorang wanita lajang di depan umum menjelang persidangan. Padahal saat itu sang pengacara telah berkeluarga. Pada bagian ini mungkin orang masih mempunyai toleransi tetapi ketika disebutkan nama pengacara tersebut barulah publik terbelalak karena nama sang pengacara mirip dengan nama seorang wali songo yaitu Sunan Kalijaga.

Publik mulai membanding-bandingkan dan mencercanya dengan alasan tidak pantas menyandang nama tersebut karena tidak sesuai dengan kelakuannya. Itulah salah satu contoh betapa tidak mudahnya orang tua atau kita memberikan nama terhadap sesuatu baik nama anak, benda, jalan dan lain-lain. Bahkan orang tua  memberikan nama kepada anaknya sebagai ungkapan doa kepada Tuhan agar kelak tingkah laku anaknya seiring dan sejalan dengan doanya.

Dalam tulisan ini saya ingin sedikit mengupas tentang nama jalan di Jakarta yang berkaitan dengan lingkungan Jakarta dengan segala permasalahannya seperti kemacetan, banjir, polusi dan sebagainya. Selain itu saya juga tidak akan menjelaskan sejarah pemberian nama jalan tersebut tetapi ingin mengajak pembaca untuk merenungkan kembali mengapa nama tersebut diberikan.

Siapa sih yang tidak kenal dengan Menteng ? Sebuah  daerah elit di Jakarta yang banyak dihuni oleh pejabat. Kalau kita mau sedikit jeli dan memperhatikan nama-nama jalan disekitarannya maka akan mendapatkan nama yang unik dan penuh makna. Begitu juga dengan nama jalan daerah lain di kota Jakarta. Apakah kita tahu apa itu menteng, tanjung, gondangdia, cendana, dan lain-lain. Saya pikir banyak diantara kita yang tidak tahu.

Sebuah daerah penting di negara ini yang sebetulnya mengingatkan kita untuk selalu melestarikan lingkungan dan melindungi tanaman-tanaman yang sudah jarang ditemukan. Benar sekali !!! Nama-nama jalan tersebut adalah nama tanaman. Pertanyaannya adalah apakah masih ada tanaman tersebut tumbuh di daerah tersebut. Jawabannya adalah TIDAK bahkan banyak orang yang belum tahu bagaimana rupa tanaman-tanaman tersebut.

Berikut adalah tanaman-tanaman yang dipakai untuk nama jalan  yang sudah jarang ada dan tumbuh di Jakarta :

1. Menteng

Buah menteng (kepundung) (wikipedia.org)

Menteng, kepundung, atau (ke)mundung (terutama Baccaurea racemosa (Reinw.) Muell. Arg.; juga B. javanica dan B. dulcis) adalah pohon penghasil buah dengan nama sama yang dapat dimakan. Sekilas buah menteng mirip dengan buah duku namun tajuk pohonnya berbeda. Rasa buahnya biasanya masam (kecut) meskipun ada pula yang manis.

Menteng dulu biasa ditanam di pekarangan namun sekarang sudah sulit ditemui akibat desakan penduduk dan penanaman tanaman buah lain yang lebih disukai. Tumbuhan ini asli dari Pulau Jawa. Di sekitar Jakarta dan Bogor kadang-kadang masih ditemukan penjual buah menteng. (sumber: wikipedia)

Tak mudah menemukan buah dari tanaman langka yang satu ini sekarang. Dulu memang banyak ditemukan di daerah Menteng. Tak heran jika kawasan ini dinamai dengan nama tanaman tersebut. Pohon menteng-mentengan umumnya berbentuk pohon atau perdu dengan tinggi sekitar 15-25 m dengan diameter 25-70 cm. Buahnya berdiameter 2-2,4 cm, berwarna hijau kekuningan atau kemerahan. Tanaman ini memiliki dua forma; yang satu berdaging buah putih [menteng], dan yang lain berdaging buah warna merah [bencoy]. Kedua forma ini memiliki buah yang asam dan yang manis rasanya. Buah-buah ini biasanya dikonsumsi begitu saja atau dibuat jadi setup, asinan, atau difermentasi menjadi minuman. (sumber: disini)

2. Gondangdia

gondang (indopedia.gunadarma.ac.id)

Konon nama Gondangdia berasal dari nama pohon Gondang (sejenis pohon beringin Ficus variegata Bl ) yang tumbuh pada tanah basah atau berair. Kemungkinan pada masa lalu ada pohon Gondang yang tumbuh di daerah ini. Pohon Gondang (Ficus variegata BL), adalah jenis pohon dengan ciri akar nafas. Buahnya yang menempel di batang pohon, bisa dirujak atau dijadikan bumbu masak. Akar tanaman ini, konon bisa untuk obat anti racun.

3. Tanjung

buah tanjung (wikipedia.org

Tanjung (Mimusops elengi) adalah sejenis pohon yang berasal dari India, Sri Lanka dan Burma. Telah masuk ke Nusantara semenjak berabad-abad yang silam, pohon ini juga dikenal dengan nama-nama seperti tanjong (Bug., Mak.), tanju (Bim.), angkatan, wilaja (Bal.), keupula cangè (Aceh), dan kahekis, karikis, kariskis, rekes (aneka bahasa di Sulut). Pohon tanjung berbunga harum semerbak dan bertajuk rindang, biasa ditanam di taman-taman dan sisi jalan.

Pohon berukuran sedang, tumbuh hingga ketinggian 15 m. Daun-daun tunggal, tersebar, bertangkai panjang; daun yang termuda berambut coklat, yang segera gugur. Helaian daun bundar telur hingga melonjong, panjang 9–16 cm, seperti jangat, bertepi rata namun menggelombang.

4. Cendana

bunga cendana (bisnisukm.com)

Cendana, cendana India Timur (bahasa Inggris); Chandan, chandal, sandal (Hindi);  Chandana, ananditam, taliaparnam (Sansekerta); Chandan, peetchandan (Bengal); Sandanam, ulocidam, kulavuri (Tamil)

Cendana, setiap tanaman semiparasitic dari genus Santalum (keluarga Santalaceae), terutama kayu harum, atau putih, cendana benar, Santalum album . Santalum album . ini sekitar 10 spesies Santalum didistribusikan di seluruh Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik Selatan.

Banyak kayu digunakan sebagai pengganti untuk cendana yang benar.  Cendana merah diperoleh dari kayu berwarna kemerahan. Pterocarpus santalinus, pohon Asia Tenggara dari keluarga kacang (Fabaceae).  Spesies ini mungkin telah menjadi sumber kayu cendana yang digunakan dalam kuil Raja  Sebuah pohon cendana benar tumbuh dengan ketinggian sekitar 10 meter (33 kaki); memiliki daun kasar berpasangan, masing-masing berlawanan yang lain di cabang, dan sebagian parasit pada akar dari jenis pohon lainnya. Kedua pohon dan akar mengandung minyak aromatik kuning, yang disebut minyak cendana , bau dari yang berlangsung selama bertahun-tahun dalam artikel-artikel seperti kotak hias, mebel, dan penggemar terbuat dari gubal putih. Minyak tersebut diperoleh dengan destilasi uap dari kayu dan digunakan dalam parfum, sabun, lilin, dupa, dan obat-obatan rakyat.  Bubuk cendana digunakan dalam pasta digunakan untuk membuat tanda kasta Brahman dan dalam sachet untuk scenting pakaian.

Pohon cendana sudah dibudidayakan sejak jaman dahulu untuk heartwood kekuningan mereka, yang memainkan peran utama dalam banyak upacara pemakaman Oriental dan ritual keagamaan. Pohon-pohon yang lambat tumbuh, biasanya mengambil sekitar 30 tahun untuk kayu batang untuk mencapai ketebalan bermanfaat secara ekonomis.

5. Gambir

tanaman gambir (gambircentre.wordpress.com)

Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama sama (Uncaria gambir Roxb.). Di Indonesia gambir pada umumnya digunakan pada menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat antioksidan. India mengimpor 68% gambir dari Indonesia, dan menggunakannya sebagai bahan campuran menyirih.

6. Kenari

kenari (tanamanobat.org)

Kenari (Canarium indicum) merupakan keluarga dari Burseraceae. Pohonnya dikenal sebagai tanaman peneduh ditepi jalan. Umumnya terdapat di Indonesia, tetapi tumbuhan ini juga berada di beberapa negara lain seperti Afrika, Nigeria Selatan, Madagaskar, Cina Selatan, India, Filipina, dan Bagian Selatan Asia.

Tempat tumbuhnya di hutan primer,pada tanah berkapur,tanah berpasir maupun tanah liat, dari ketinggian rendah sampai 1500 meter diatas permukaan laut .

Tinggi pohon kenari sampai 45 meter, sedangkan tinggi banir sampai 3 meter dan lebarnya 1,5 meter. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu konstruksi yang ringan-ringan. Pohon ini akan mengeluarkan resin apabila pepagannya dipotong atau diiris. Minyak Resin ini memiliki bau yang harum, shingga sering digunakan untuk membuat minyak wangi atau parfum. Selain untuk parfum, ada juga yang menggunakannya untuk obat gosok terhadap gatal-gatal atau obat luka. Minyak Resin ini dapat juga digunakan sebagai pembersih rambut dan pembuatan dupa.

7. Gandaria

gandaria (ayobertani.wordpress.com)

Gandaria (Bouea macrophylla Griffith)atau nama lokal lainnya jatake adalah tanaman yang berasal dari kepulauan Indonesia dan Malaysia. Tanaman ini tumbuh di daerah tropis, dan banyak dibudidayakan di Sumatera dan Thailand.

Gandaria dimanfaatkan buah, daun, dan batangnya. Buah gandaria berwarna hijau saat masih muda, dan sering dikonsumsi sebagai rujak atau campuran sambal gandaria. Buah gandaria yang matang berwarna kuning, memiliki rasa kecut-manis dan dapat dimakan langsung. Daunnya digunakan sebagai lalap. Batang gandaria dapat digunakan sebagai papan.

Pohon Gandaria sangat cocok tumbuh di daerah tropika basah dengan tanah yang subur. Secara alami Gandaria tumbuh di hutan-hutan dataran rendah sampai pada ketinggian 300 m dpl., tetapi pada tanaman yang telah dibudidayakan dapat tumbuh sampai pada ketinggian 850 m dpl.

8. Kedaung atau Kedawung

kedawung (picasaweb.google.com)

Kedawung (Parkia timoriana) termasuk satu diantara 30 spesies tumbuhan obat langka Indonesia dengan status kelangkaan dan ancaman “jarang”. Pohon kedawung merupakan pohon raksasa hutan, batangnya besar, lurus dan tinggi di hutan, pohon ini merupakan salah satu jenis pohon yang tertinggi dibanding dengan jenis-jenis pohon-pohon yang lain di hutan. Umumnya pohon kedawung hidup di hutan pada lereng-lereng yang terjal, dan pohon kedawung raksasa ini memberi sinyal kepada kita bahwa dia diciptakan Tuhan tumbuh di lereng-lereng bukit yang terjal untuk melaksanakan tugas mulia melindungi tanah dari erosi dan longsor.  Pohon kedawung mempunyai akar papan yang tingginya bisa mencapai 5 m, sehingga kalau ada erosi tanah dan longsor pohon kedawung langsung menangkap tanah, menahan dan menghentikan erosi dan longsor.

Pohon kedawung merupakan tumbuhan polong-polongan yang akar dan guguran daunnya menyuburkan tanah di sekitar tempat tumbuhnya.  Kita melihat beranekaragam jenis-jenis tumbuhan obat lainnya  yang hidup dan tumbuh di sekitar pohon kedawung di hutan. Pohon kedawung menunjukkan sikapnya yang sangat bersahabat dengan pohon dan tumbuhan lainnya. Dia dengan gagah menjadi pohon pengayom dan pelindung terhadap beranekaragam jenis pohon dan tumbuhan lainnya.

Masih banyak lagi nama-nama jalan yang menggunakan nama tanaman. Salah satunya adalah daerah kosambi yang mengambil dari nama tumbuhan kesambi. Dari semua itu sebetulnya yang memberikan nama jalan menginginkan generasi penerusnya atau anak cucunya selalu mengingat nama tanaman tersebut dan menyadari kalau tanaman tersebut pernah ada di daerah itu. Kembali lagi ajaran tentang pelestarian lingkungan disampaikan oleh orang tua kita yang telah memberikan nama dengan pikiran yang jauh ke depan.

Apa yang terjadi sekarang dengan lingkungan di Jakarta, sebetulnya menandakan kalu kita sebagai generasi yang hidup saat ini telah lalai dan kurang perhatian dengan pelestarian lingkungan terutama tanaman-tanaman yang sudah langka untuk dilihat atau ditanam. Maka itu mari kita kembalikan lingkungan yang asri dan bersih serta menanam kembali tanaman-tanaman yang dulu menjadi trendsetter sebuah daerah. Mariiii !!!

 


 


 

10 thoughts on “Mengenal Tanaman Langka Dari Nama Jalan

  1. I don’t even know how I ended up here, but I thought this post was great. I don’t know who you are but
    definitely you’re going to a famous blogger if you aren’t already😉 Cheers!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s