Bagaimana Menangani Anak Yang Suka Pilih-pilih Makanan ?

Once your little one reaches toddlerhood, he or she will often become a picky eater, a food-snob stint that should fade by age 5. Credit: Dreamstime.

 

Baru saja, anak-anak meletakkan makanan yang ada di mulutnya ke meja, tiba-tiba mata mereka tertuju kepada makanan jajanan yang lewat di depannya. Langsung saja mereka merengek kepada orang tuanya untuk minta dibelikan. Padahal makanan di meja belum habis dimakan. Mengapa anak-anak suka memilih-milih makanan ?

Lucy Cooke dari University College London, yang mengkhususkan diri dalam pengembangan kebiasaan makan anak mengatakan bahwa dimulai pada umur  sekitar 4 sampai 6 bulan, anak-anak menjadi sangat terbuka untuk pengalaman baru dan akan berusaha mencoba berbagai jenis makanan.

Peneliti Evolusioner Inggris mengatakan bahwa hal itu adalah wajar karena secara teori, segala sesuatu yang ditawarkan kepada bayi tergantung kepada apa yang ditawarkan oleh ibu atau pengasuh lainnya dan harus aman.

Sebuah perkembangan yang  normal, anak-anak memiliki kebiasaan memilih-milih makanan  jika ditangani dengan baik dan  secara bertahap mulai menghilang setelah umur 5 tahun . Dan diharapkan peran orang tua dalam memperhatikan perkembangan tersebut.

Studi di laboratorium dan lingkungan nyata yang telah dipublikasikan  oleh   American Journal of Clinical Nutrition telah menunjukkan bahwa lebih banyak anak yang  ditunjukkan satu jenis  makanan maka semakin besar kemungkinan mereka untuk menyukainya. Bagi anak-anak dalam  mengkritisi sebuah makanan sangatlah sederhana yaitu  familiar sama dengan  lezat.

Cooke merekomendasikan bahwa  rentang umur anak-anak  antara 4 bulan sampai  2 tahun adalah waktu yang tepat untuk memperkenal sebanyak mungkin jenis makanan kepada anak-anak. Dengan cara itu, anak-anak di masa balita sudah mempunyai pilihan makanan tertentu dan mulai mengenyampingkan jenis-jenis makanan lainnya.

Trik lainnya,  Cooke menyebutnya sebagai “magic 10”. Banyak orangtua menyerah keinginan  anak mereka terhadap sebuah makanan. Misalnya anak mereka tetap  tidak menyukai  kacang polong padahal telah ditawarkan  dua atau tiga kali. Hal itu bisa mengalami perubahan penerimaan anak terhadap kacap polong apabila  ditawarkan  setidaknya 10 kali.

Ellyn Satter, seorang ahli gizi resmi, terapis keluarga dan penulis buku “Secrets of Feeding a Healthy Family” (Kelcy Press, 2008) mengatakan bahwa anak-anak akan menaruh minat  terhadap makanan tertentu  ketika orangtua mereka juga menaruh minat yang sama. Membuat kegiatan yang berkaitan dengan makanan dalam  keluarga seperti  memasak, berbelanja, atau mengunjungi sebuah pertanian atau kebun bersama-sama  sehingga  dapat membantu anak-anak belajar untuk menghargai dan mungkin  mencoba makanan baru.

Menurut Satter, jangan sekali-kali memaksa anak untuk makan. Jika seorang anak memalingkan mukanya terhadap makanan  yang baru, jangan memaksa itu. Jangan mengomentarinya.  Coba lagi lain hari. Jika orang tua membuat keributan maka anak  akan menjadi lebih rewel.

Dalam menawarkan makanan maka diharapkan orang tua tidak  menawarkan makanan lain seperti brokoli setelah menghabiskan beberapa es krim. Orang tua harus memperhatikan kemampuan menelan seorang anak

Menipu seorang anak dengan menyembunyikan makanan yang tidak disukainya ke dalam makanan lain bukanlah cara yang baik. Misalnya anak tidak menyukai sayuran maka jangan sekali-kali menutupi pandangannya dengan saos, nasi atau roti. Meskipun sayuran dapat masuk ke dalam kerongkongannya tetapi tetap bukanlah hal yang ideal dalam mengajarkan anak untuk menikmati makanan.  Cooke menjelaskan bahwa anak-anak memerlukan bimbingan tentang cara makan.

Sebaliknya, Satter mengatakan bahwa sebaiknya anak diundang untuk bergabung dalam  makanan orang tua dimana akan ada interaksi sesama anggota keluarga untuk  memeriksa, membantu dan melakukan makan secara bersama-sama.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa banyak anak mengalami pola makan yang tidak menentu seperti hari ini serba karbohidrat, besoknya serba  protein  dan besoknya lagi serba buah-buahan.  Ketika ditinggalkan sendirian, semuanya  cenderung bekerja alami dalam mencapai  diet seimbang secara keseluruhan.

Anak-anak juga memiliki kemampuan bawaan untuk menilai tingkat kekenyangan mereka sendiri. Secara konsisten meminta anak untuk menghabiskan makanan di piringnya dapat melatih  kemampuan kekenyangannya dan bukan mengajarinya untuk selalu makan apa saja yang ada  di depannya. Sesuatu hal yang  berbahaya di kemudian hari  dimana  ukuran porsinya  telah menjadi raksasa.

Satter mengatakan bahwa ada pembagian tanggung jawab dalam memberi makan anak. Orang tua harus tahu melakukan apa, kapan dan di mana. Sedangkan  anak bertanggung jawab atas apakah dan berapa banyak makanan yang akan dikonsumsinya.

Kata kuncinya adalah Pola Makan. Orang tua harus mampu membuat pola makan (diet) yang baik dan sehat selama 7 hari 24 jam. Dan semuanya harus dilakukan variasi jenis makanan agar tidak terjadi kejenuhan dalam menikmati makan bersama keluarga.

2 thoughts on “Bagaimana Menangani Anak Yang Suka Pilih-pilih Makanan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s