Studi Global : Uang Dapat Membeli Kebahagiaan ?

Apakah sebuah negara yang telah berhasil merubah dirinya  dari negara miskin menjadi  negara makmur dapat membuat penduduknya bahagia ? Jawabannya adalah salah,  menurut sebuah studi baru dari 54 negara di seluruh dunia yang dipublikasikan di Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 13 Desember 2010.

 

Money Doesn't Buy Happiness (thoughtitthrough.com)

Uang tidak dapat  membeli kebahagiaan dalam jangka waktu yang lama. Peneliti Richard Easterlin, seorang profesor ekonomi di University of Southern California mengatakan hasil studi tersebut berlaku untuk  negara-negara maju dan berkembang di seluruh dunia.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang atau transisi  tidak secara signifikan memberikan peningkatan kebahagiaan penduduknya. Kita sudah tahu bahwa benar adanya bagi negara-negara maju tetapi sekarang studi  sudah diperluas terhadap   negara-negara dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah.

Hampir 40 tahun yang lalu, Easterlin telah menemukan pola ekonomi aneh di Amerika Serikat.  Jika kita melihat data yang ada maka  orang kaya lebih bahagia daripada orang miskin dan negara-negara kaya memiliki tingkat kepuasaan populasi lebih tinggi  dibandingkan dengan negara-negara miskin. Tetapi bila kita melihat data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu maka lebih banyak pendapatan tidak menjadi jaminan kebahagiaan. Hal ini menhadi sebuah paradoks kebahagiaan atau dikenal dengan “ Easterlin Paradox “.

Easterlin paradox menjadi subyek perdebatan banyak akademisi.  Studi baru yang dilakukan oleh Easterlin  menguatkan temuan yang lebih luas tentang paradoks  ini. Para peneliti mengumpulkan data kebahagiaan  selama  10-34 tahun dari 17 negara Amerika Latin, 17 negara maju, 11 negara Eropa Timur (transisi dari sosialisme ke kapitalisme) dan 9 negara kurang berkembang. Mereka tidak menemukan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kebahagiaan dalam hal apapun.

Bahkan di negara seperti Cina, para peneliti menemukan bahwa peningkatan  pendapatan per kapita  dua kali lipat dalam 10 tahun ternyata tidak ada peningkatan kebahagiaan secara signifikan. Korea Selatan dan Chile telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang sama tanpa  ada peningkatan kepuasan.

Menurut Easterlin, paradoksnya tidak akan  tampak di permukaan dengan alasan  baik kebahagiaan  dan pendapatan hanya dapat dikaitkan dalam jangka pendek tetapi  tidak selama bertahun-tahun. Ketika pendapatan masyarakat naik, maka naik pula  aspirasi masyarakatnya.  Ketika pendapatan turun maka  aspirasi masyarakatnya  tidak turun. Tidak ada yang ingin menyerah terhadap  standar hidupnya karena mereka telah terbiasa. Jadi dalam jangka pendek, sebuah keruntuhan ekonomi memang menyakitkan. Sementara itu  pertumbuhan ekonomi dirasakan membaik.

Pendapatan penduduk yang makin meningkat   berakibat semakin meningkatnya aspirasi mereka. Seiring waktu, perubahan aspirasi meniadakan pengaruh perubahan pendapatannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dan pembuat kebijakan harus berfokus pada faktor-faktor non-moneter, seperti masalah kesehatan dan keluarga dimana sangat  mempengaruhi tingkat kebahagiaan. Pertumbuhan ekonomi mungkin bukan cara untuk  mendapatkan kebahagiaan. Ada jalan lain yang dapat menghasilkan lebih banyak kebahagiaan.

Easterlin mengatakan dia mengharapkan kontroversi lebih lanjut mengenai paradoks nya. Pembuat kebijakan umumnya sangat enggan untuk menerima kesimpulan tentang pertumbuhan ekonomi. Tetapi beberapa waktu lalu ekonom Justin Wolfers dari  University of Pennsylvania menuliskan  argumentasi tandingan di blog Freakonomics,  New York Times dan  berpendapat bahwa studi baru tidak membuktikan adanya paradoks Easterlin.

Wolfers mengatakan bahwa dalam menyusun dataset, Easterlin mengambil satu jenis data  dan memilih apa yang diinginkannya. Survey  Easterlin dan rekan-rekannya menganalisa beberapa kuosioner yang  diajukan tentang kepuasan hidup dengan cara yang berbeda dan tidak dapat disatukan.  Apa yang dipunyai oleh Easterlin  adalah data yang tidak akurat (noisy data) dan  akan sulit untuk menemukan hubungan yang signifikan, tetapi itu tidak berarti hasilnya adalah nol.

5 thoughts on “Studi Global : Uang Dapat Membeli Kebahagiaan ?

  1. Hey! This is the fourth time visiting now and I really just wanted
    to say I truley relish reading your blogging site.

    I have decided to bookmark it at stumbleupon.com with your title: Studi Global :
    Uang Dapat Membeli Kebahagiaan ? | R u d d a b b y and
    your Website address: https://ruddabby.wordpress.com/2010/12/22/studi-global-uang-dapat-membeli-kebahagiaan/.

    I hope this is alright with you, I’m trying to give your good blog a bit more visibility. Be back shortly.

  2. Pretty nice post. I just stumbled upon your blog and wanted to say that I’ve truly enjoyed surfing around your blog posts. In any case I’ll be subscribing to your rss feed and I hope you write again soon!

  3. We are a group of volunteers and opening a new scheme in our community.

    Your website offered us with valuable information to work on.
    You have done an impressive job and our entire community will be grateful
    to you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s