Cabe : Ini Masalah Kebiasaan, Bukan Populer

GOODWILL !!! Apa itu ? Niat baik yang sungguh-sungguh. Itulah yang dibutuhkan oleh dunia pertanian kalau bangsa Indonesia yang katanya negara agraris ingin menjadi negara pertanian nomor satu di dunia. Goodwill harus dilakukan oleh pihak-pihak yang berkompeten di dunia pertanian pada umumnya dan lebih khusus lagi kepada pemerintah baik pusat maupun daerah yang menyadari betapa besar potensi pertanian di Indonesia. Jadi samakan terlebih dahulu persepsi berpikir kita kalau memang ingin melihat para petani bangsa ini maju dan kembali lagi dengan tidak bosan-bosan kata kuncinya adalah GOODWILL dan bukan berwacana tanpa aksi.

Dalam tulisan ini saya tidak akan mengulas secara menyeluruh tentang komoditi pertanian di Indonesia. Tetapi saya akan menceritakan sedikit pengalaman tentang komoditi yang beberapa saat yang lalu sempat membuat geger nasional yaitu membumbung tingginya harga jual. Cabe !!! Ya cabe. Pedas, merah, dan memusingkan nasional. Selain itu tulisan ini hanya ingin melengkapi tulisan Mas Bimo Tejo yang sempat Headline di Kompasiana kemariin dengan judul ” Cabe Kering Populer di Malaysia, Kenapa Indonesia Diam Saja? “

Dalam tulisan tersebut ada beberapa kata kunci yang menarik minat saya untuk memberikan komentar yaitu Sarjana Pertanian, Pemerintah, Cabe Kering, Mesin Pengering dan Malaysia. Panjangnya komentar saya terhadap tulisan tersebut membuat beberapa teman yang sakit mata karena rapatnya tulisan saya dan meminta saya untuk menuliskan lagi dalam bentuk postingan. Ada beberapa yang meminta saya untuk menulis tentang cabe. Sebetulnya saya sudah pernah menulis tentang cabe dalam ruang lingkup kebutuhan cabe terhadap industri makanan. Hanya saja saya telah unpublish semuanya karena keinginan saya untuk mengaktifkan blog pribadi.

Kalau kita bicara pertanian terutama cabe maka tidak perlu diragukan lagi kemampuan para petani dan sarjana-sarjana pertanian yang dimiliki oleh bangsa ini. Para petani kita sesungguhnya sudah pada pintar-pintar dan tidak perlu diajarkan bagaimana cara menanam cabe. Mereka lebih mengerti dibandingkan orang-orang yang tidak intens terjun di lahan pertanian sehari-hari. Pertanyaannya adalah mengapa tidak sejahtera ? Kemana para sarjana pertanian kita ? Kalau bicara sejahtera kembali lagi saya tekankan masalah goodwil di awal tulisan ini. Untuk para sarjana pertanian, saya melihatnya ada efek psikologis yang merasuki pikiran mereka atau otak mereka dicekoki oleh penggambaran dunia pertanian yang tidak mebawa kesejahteraan, sulit, resikonya besar, force majeurnya tinggi sekali dan lain-lain. Tetapi saya memaklumi hal tersebut karena memang selama ini pemerintah pusat dan daerah tidak bekerja optimal dalam menggali lebih dalam dan fokus terhadap potensi-potensi pertanian yang dimiliki daerahnya.

Jaman Belanda dulu pada Culture stelsel diperkenalkan sebuah konsep ” Peta Tanaman di Indonesia “. Memang tujuannya adalah untuk kepentingan kolonial belanda dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan dan perdagangan. Tetapi apa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda sudah benar. Setiap daerah mempunyai kekhasan dalam potensi komoditi pertaniannya. Contohnya di pulau Jawa dilakukan penanaman monokultur yaitu padi karena tanahnya cocok untuk ditanam padi. Cengkeh difokuskan di Sulawesi, kakao di Sulawesi Selatan dan Lampung, Lada putih di Bangka, Lada hitam di Bengkulu dan masih banyak lagi. Jadi tiap daerah mempunyai keunggulan-keunggulannya sendiri sehingga secara tidak langsung terjadi saling membutuhkan antar daerah dan tidak perlu lagi ekspor ke luar karena cukup tiap daerah melakukan perdagangan antar daerah.

Cabe kering !!! Nah ini menariknya. Masyarakat Indonesia kurang begitu familier dengan by produk cabe ini karena kebiasaan masyarakat Indonesia yang selalu memanfaatkan cabe basah untuk keperluan memasaknya baik cabe rawit, cabe keriting maupun cabe merah besar. Cabe kering lebih dikenal di industri makanan atan beberapa makanan di beberapa daerah seperti empal gentong yang menggunakan cabe kering untuk menambah pedas. Itu baru kebiasaan, belum lagi masalah harga jual cabe kering mahal kalau menggunakan cabe kering lokal yang memang harga cabe basahnya saja sudah mahal bahkan menembus angka di atas 10 ribu kecuali cabe rawit ya. Maka itu kita harus mengerti berapa kebutuhan nasional untuk rumah tangga dan industri makanan ? Berapa produksi nasional secara keseluruhan ? Belum lagi dikategorikan berdasarkan jenis cabenya yaitu cabe keriting, cabe merah besar dan cabe rawit. Sampai saat ini kita tidak mempunyai database yang ajeg, valid dan terpercaya. Dimana-mana saja sentra cabe di Indonesia ? Masih banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab karena kebiasaan bangsa ini yang selalu mengabaikan masalah data.

Untuk menjadi cabe kering atau saya menyebutnya cabe keriting kering (ini berkaitan bersinggungan langsung saya dengan industri makanan) maka dibutuhkan banyak cabe keriting basah. Perbandingannya adalah 5-6 : 1 artinya dibutuhkan 5-6 kg cabe keriting basah untuk menjadi 1 kg cabe keriting kering. Untuk menjadi bubuk cabe maka perbandingannya adalah 1,5:1 (1,5 kg cabe keriting kering menjadi 1 kg bubuk cabe). Seperti diketahui kalau kita rata-ratakan harga cabe keriting basahnya Rp 10 ribu/kg maka harga jualnya harus Rp 50-60 ribu. Mahal sekali khan dan industri makananpun tidak akan mau membelinya karena mereka akan kesulitan menjual produk makanannya.

12962003841084604559

1296200824491325322

1296200497273496916

1296200533624917623

129620096335031633

Jadi selama ini industri makanan mengambil darimana ? Jawabannya adalah impor dari India dan Cina. Perlu diketahui harga cabe keriting kering (Di India disebut cabe caplak) sampai gudang di Indonesia dimanapun berada harganya berkisar Rp 7500-9000 /kg (dalam kondisi normal). Hebatnya harganya stabil sepanjang tahun dan jarang terjadi fluktuasi harga. Dengan melihat harga tersebut maka mana mungkin bisa bersaing. Sudah kalah harga, kalah kualitas dan kalah kontinuitas yang memang menjadi patokan industri makan untuk memakainya. Maka itu tidaklah heran kalau salah satu indutri mi nasional yang sangat terkenal di Indonesia memanfaatkan cabe keriting dari India dan Cina mencapai 80 % dari total kebutuhan perbulannya yang bisa mencapai 600 ton. Sedangkan cabe keriting lokal hanya 20 % saja dan inipun masih terkendala masalah kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Herannya ini sudah berlangsung lama dan tidak ada perubahan yang signifikan. Mengapa bisa terjadi seperti itu ? Goodwill yang sungguh-sungguh terhadap dunia percabean.

Terus bagaimana dengan cabe rawit ? Untuk cabe jenis ini, Indonesia tidak terlalu pusing karena produksinya terjamin sepanjang tahun. Tetapai permasalahannya adalah jenis cabe ini untuk industri makanan dipakai sebagai substitusi untuk mengejar kepedasannya saja. Salah satu sentra cabe rawit nasional adalah Ampenan Lombok dan ada beberapa di daerah Jawa Timur. Kalaupun cabe rawit dikeringkan masih saja harganyan kurang bersaing dengan harga cabe kering impor. Pada tingkat pengepul cabe rawit basah berkisar 1800-2300/kg, kalau dikeringkan harganya menjadi 10800-13800/kg. Kelihatan sekali masih tingginya tingkat ketergantungan bangsa ini terhadap produk impor. Jadi apa gunanya kampanye yang selalu didengung-dengungkan oleh pemerintah tentang Cintailah Produksi Nasional. Apanya yang produksi nasional. Yang mana itu produksi nasional kalau sebagian besar komponennya berasal dari impor. Ironis.

12962010181186577956

1296200686840442790

12962010711319461438

12962010981434958038

Sama dengan Indonesia, cabe keriting kering di Malaysiapun sebagian besar berasal dari India dan Cina. Malaysia memeliki keterbatasan dalam memproduksi cabe basah, lagipulan harga jualnya sudah terlalu tinggi. Mengapa cabe kering sangat familier dengan masyarakat Malaysia ? Ini dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan kuliner yang dibawa oleh bangsa India yang jumlahnya cukup signifikan di Malaysia. Jadi cabe kering menjadi produk simpel yang sering dipakai di rumah tangga -rumah tangga di sana. Satu hal lagi, cabe kering yang ada di Malaysia kebanyakan berasal dari gudang yang ada di Singapura dan dikuasai oleh kartel internasional. Nah kartel internasional inilah yang mendominasi dan sering mempermainkan harga untuk negara-negara asia tenggara. Istilah kerennya adalah monopoli banget dan Indonesia juga menjadi cengkeramannya juga. Hanya perusahaan-perusahaan makanan tertentu saja yang langsung membeli ke India tanpa mau didikte oleh kartel nasional tersebut.

Seorang teman dari India pernah mengatakan kepada saya, mengapa Indonesia harus impor cabe dari India. Dia bertanya ehh dia juga yang menjawab. Sebenarnya Indonesia diuntungkan oleh alam yaitu Indonesia hanya memiliki 2 musim yaitu kemarau dan hujan sehingga dapat mudah diprediksi kapan mulai tanam dan panen. Selain itu tanah di Indonesia subur dan masih luas untuk ditanami cabe. Berbeda dengan India dan Cina yang memiliki iklim 3-4 musim yang cukup sukar untuk diprediksi. Maka itu teman ini merasa yakin suatu saat akan menjadi negara pertanian nomor satu di dunia terutama cabe dengan syarat adanya koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah. Pejabat-pejabat pertaniannya harus mengerti apa itu arti pembangunan.

Sekedar informasi, di India yang terkenal sebagai pemasok cabe terbesar di dunia (hampir 25 % kebutuhan dunia) melakukan program pembanguan pertanian yang komprehensif dan tidak setengah-setengah. Pemerintah pusat dan daerah (negara-negara bagian) terus melakukan koordinasi. Selain itu tiap negara bagian mengetahui dengan jelas potensi komoditi pertanian yang dimilikinya. Contohnya adalah masalah cabe caplak. Pemerintah pusat memerintahkan beberapa negara bagian selatan India untuk melakukan penanaman cabe secara serentak. Petani-petani yang hanya memiliki lahan kurang dari 2 hektar maka pemerintah negara bagian menyewa tanahnya dan uniknya yang menggarap lahan tersebut adalah pemilik tanahnya sendiri. Para pemilik tanah tersebut digaji tiap bulan. Jadi sudah dapat uang kontrak, mereka mendapatkan penghasilan bulan. Tetapi semua itu tidak percuma karena tiap pemilik tanah dikenakan target produksi tertentu. Apabila memenuhi target atau melebihi target maka para pemilik tanah mendapatkan bonus. Jadi tidaklah mengherankan kalau kebutuhan cabe nasional selalu terpenuhi bahkan melimpah kelebihannya. Nah kelebihan produksi inilah yang dijual murah ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Maka itu harga dan kualitas cabe caplak India sukar untuk ditandingi dan hebatnya selalu ada sepanjang tahun.

Kemudian masalah mesin pengering. Sebagai negara tropis maka tidak selamanya petani Indonesia mengandalkan panas matahari maka itu dibutuhkan mesin pengering yang tepat guna dan terjangkau harganya. Perlu diketahui sudah banyak orang atau perusahaan yang mampu membuat mesin pengering yang berkualitas dan tidak kalah dengan buatan luar negeri bahkan sudah ada yang diekspor dan dijamin suku cadangnya. Hal seperti ini jarang sekali diekspos oleh media nasional. Kalaupun ada itu hanya selewatan saja. Untuk itu sudah saatnya bangsa Indonesia memiliki Stasiun TV khusus Pertanian sebagai pusat informasi yang bermanfaat bagi dunia pertanian nasional.

Jadi sebenarnya lengkap sudah kemampuan yang dimiliki bangsa ini. Hanya saja kita kurang menyadari atau menafikan kalau negara ini adalah negara agraris. Jadi pembangunan pertanianlah yang menjadi fokus pembangunan secara nasional. Hal ini harus menjadi kebiasaan dan bukan sekedar populer.

All images by here and private collections

4 thoughts on “Cabe : Ini Masalah Kebiasaan, Bukan Populer

  1. Wah,infonya bermanfaat banget Pak,kebetulan saya lgi mau mencoba jualan cabai,he2,domisili dimana Pak?,salam kenal,saya tinggal di semarang

  2. salam kenal pak, saya Raharjo, petani dari Jawa Tengah.
    Menarik sekali apa yang bapak sampaikan di atas. Saya juga sangat mengharapkan peran serta semua pihak dari atas sampai bawah agar dunia pertanian kita semakin membaik.
    Ada beberapa hal yang saya sampaikan juga mengenai usaha cabai secara real.
    1. Harga
    Harga buah cabai segar di Ind. sangat fluktuatif dan menurut saya itu bukan semata mata karena hukum ekonomi dimana jika stok melimpah dan permintaan sedikit maka harga akan murah dan sebaliknya. Namun saya berpendapat ini ada sangkut pautnya dengan ‘permainan’ oknum tertentu (makelar cabai).
    Pada saat ini, 15 Agustus 2011, panen cabai merah keriting sangat sedikit karena daerah sentra penanaman seperti Magelang, DIY, Majalengka dan Tuban sedang kering. Namun, harga masih juga rendah (Rp. 3.250/kg).
    Padahal biaya perawatan cabai keriting saja per tanaman mencapai Rp. 3.000. Harga tersebut jelas tidak menguntungkan bagi kami. Harga yang standar agar kami bisa berzakat adalah Rp. 7.500/kg buah cabai.
    Jadi, tolong jangan dulu bandingkan harga cabai kita dengan India.
    2. Cabe kering
    Seperti yang bapak sampaikan di atas, kami sangat tertarik untuk memproduksi cabai kering. Itu bisa menjadi solusi bagi buah cabai kami yang terserang antraknose, tinggal kami jemur dan dijual cabai kering. Oleh karena itu, apakah bapak punya link untuk kami hubungi sehingga kami bisa berekanan dengan perusahaan penghasil bubuk cabai? Pastinya dengan harga yang pantas (bukan Rp. 750/buah segar seperti yang disampaikan bapak di atas).

    Kami petani cabai sangat berterimakasih atas perhatian dari bapak. Kami juga mengharapkan bantuan bapak utnuk menghubungkan kami dengan perusahaan penghasil cabai kering. Trims

    NB. no hp saya 085 62 645 645

  3. trimakasih sudah menginspirasikan saya.
    tentang cabai kering bubuk saya tingal di malaysia saya bekerja di pembuatan cabai powder memang sangat mnjanjikan. jika di kembangkan di iindonesia saya ragu dngan pemasaranya dan bahan yang biasanya harga cabai tak pernah stabil. disini semua cabai kering di impor dari india dan cina.
    harga cabai kering kriting dari india 6 ringit per kg
    jikalau rupiah dngan nilai tukar saat ini mungkin (-+) Rp 18000 per kg.
    nah ini yang jadi pertimbangan saya harga cabai mentah/ basah sudah mahal thn ini.
    apakah bisa berkembang indonesia jikalau apa apa mahal. susah
    smoga pemerintah dan khususnya saya dan anda anda sekalian bisa menciptakan lapangan kerja sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s