“Fun & Smart” Alfamart Bagian dari Sosiokultur Indonesia

” Darimana Cech ? “

” Alfamart “

” Belanja apa ? “

” Biasalah kebutuhan sehari-hari “

” Lah khan di belakang rumahmu ada toko kelontong. Mengapa tidak beli dekat rumahmu ? Lagipula pemiliknya tetanggamu juga ? Daripada ke alfamart yang pemiliknya konglomerat, kaya dan bukan tetanggamu, mendingan beli ke warung tetangga. Hitung-hitung bantu perekonomian tetangga sebelah hehehehe “

Saya hanya diam sejenak mendengar omongan teman yang kebetulan bertemu di jalan. Kalau dipikir omongan teman tersebut ada benarnya juga. Ngapain belanja di Alfamart yang jelas-jelas sudah kaya dan punya banyak outlet di seluruh Indonesia. Sudah kaya makin tambah kaya aja tuh walaupun tahu di Alfamart berlaku sistem kepemilikan bersama antara pemilik tempat dan pihak Alfamart sendiri (pemasok barang).

Tetapi bukan itu saja permasalahannya. Alfamart sudah seperti gurita dalam bisnis ritel dan banyak yang menyatakan secara tidak langsung  keberadaan  Alfamart dituding telah mematikan banyak toko-toko kelontong dimana Alfamart  berdiri. Mengapa pernyataan tersebut bisa terlontar ?

Harga di Alfamart  kompetitif atau harganya lebih murah dibandingkan dengan harga toko kelontong? Tidak 100% benar. Apakah orang yang datang ke Alfamart hanya karena harga ? Apakah mereka yang datang benar-benar telah mengecek harga di pasaran sebelum membeli di Alfamart ? Perlu ada survei tentang hal ini.

Alfamart memberikan kenyamanan dalam berbelanja ? Tempat yang bersih dan ber-AC, barang-barang dagangan yang tersusun rapi, pembeli dapat memilih barang yang dibutuhkan,  dan lengkap barang dagangannya. Apakah itu yang menjadi keunggulan Alfamart dibandingkan dengan toko kelontong? Bisa juga demikian tetapi ada toko kelontong yang tetap ramai dikunjungi pembeli walaupun kenyamanan seperti Alfamart tidak didapatkan.

Terus apa dong ? Pelayanan ? Maksudnya  pegawai di Alfamart ramah-ramah ?  Tidak juga. Ada juga saya menemukan pegawai Alfamart yang cuek bebek dan  muka masam dalam melayani pelanggannya. Belum lagi cerita mengenai pengembalian uang receh ditukar dengan sebungkus permen.

Jadi bagaimana agar toko kelontong yang berada di dekat Alfamart tidak mati atau kembang kempis? Jawabannya adalah “Fun and Smart “. Berlakunya pasar bebas dimana adanya kebebasan setiap orang/kelompok/korporasi untuk berinvestasi maka dibutuhkan kepintaran dan kejelian dalam memanfaatkan peluang bisnis terutama pangsa pasar yang dituju.

Kalau kita bicara “Fun and Smart” maka ada kaitannya dengan sosiokultur. Dan seharusnya para pemilik toko kelontong harus mengerti tentang hal tersebut. Dari dulu bangsa Indonesia terkenal dengan keramahannya, toleransinya, gotong royongnya dan sopan santunnya. Mengapa hal tersebut tidak dijadikan senjata untuk menarik pembeli. Jangan reaktif dalam menyikapi keberadaan Alfamart dan cenderung menyalahkan. Kembali lihat keunggulan yang dimiliki dari setiap individu bangsa Indonesia.

Saya akan memberikan contoh sebuah toko kelontong yang kebetulan dekat dengan Alfamart tetapi tetap bertahan dan tidak terpengaruh oleh keberadaan Alfamart. Ketika saya tanyakan pemiliknya mengapa bisa demikian. Jawaban yang diberikan sederhana sekali. Kenali sosiokultur lingkungan sekitar. Secara umum orang Indonesia mudah dipengaruhi. Kalau orang lain berbuat baik terhadap diri kita maka kita akan berbuat baik terhadap orang tersebut. Nah ini yang dilakukan oleh pemilik toko kelontong tersebut.

Setiap pagi pemilik toko kelontong tersebut selalu menyapa orang-orang yang lewat tokonya. Dengan sapaan ” selamat pagi/siang/malam atau assalamualaikum”, ” Pergi keja Pak/Bu/Mas/Mbak ? “, ” Baru darimana ? ” dan sebagainya dengan senyum yang ramah dan tidak pernah menyinggung atau mengajak orang sama sekali untuk belanja di tokonya. Yang menariknya adalah setiap pagi dan sore apabila ada tetangganya yang lewat depan tokonya selalu diajak singgah atau mampir ke toko sekaligus rumahnya walaupun sekedar minum kopi/teh dan pisang goreng. Selain itu pemilik toko aktif dalam kegiatan lingkungan sekitar.

Apa yang terjadi kemudian ? Lama kelamaan orang-orang yang lewat tokonya terutama para tetangganya akan membeli barang-barang dagangannya khususnya kebutuhan sehari-hari. Jadi pemilik toko kelontong tersebut mempelajari benar sosio kultur lingkungannya dimana belum tentu pemilik atau pegawai Alfamart mau melakukan apa yang dilakukan pemilik toko tersebut. Ini bukan sekedar bisnis dengan hitung-hitungan ekonomi saja tetapi ada hitung-hitungan sosial budaya. Dan konsep “Fun and Smart” benar-benar dijalankan oleh pemilik toko kelontong tersebut dimana Alfamart melakukan hal serupa dalam perlakuan yang berbeda.

Jangan mudah menyalahkan sesuatu dan kita selalu terkejut-kejut apabila melihat sesuatu yang baru. Tetapi berpikirlah “Smart” alias pintar dan jeli dan lebih utama lagi adalah senyum ramah kepada setiap orang yang ditemui karena sudah menjadi bagian sosiokultur bangsa Indonesia.

2 thoughts on ““Fun & Smart” Alfamart Bagian dari Sosiokultur Indonesia

  1. Hi sahabat alfamart.. terima kasih untuk sharing cerita ““Fun & Smart” Alfamart Bagian dari Sosiokultur Indonesia”

    untk info tntng Alfamart Follow Twitter @alfamartku.. Ikuti Kuisnya menangkan hadiahnya thx

    berikut link nya ya :

    Website :

    http://www.alfamartku.com

    FB :

    http://www.facebook.com/alfamartku

    Twitter :

    http://twitter.com/alfamartku

    Flickr :

    http://www.flickr.com/photos/alfamartku

    Youtube :

    http://www.youtube.com/user/thealfamart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s