Nasionalisme Itu Dengan Laku Lampah Bukan Dengan Omongan

” Dengar kata Uyut, Cech. Jangan pernah berpikir ingin jadi orang Sakti. Karena apa? SAKTI itu sama dengan meruSAK haTI. Contohnya mudah. Lihat Superman. Saking SAKTInya pakai celana dalam di luar bukan di dalam. “

” Manusia itu yang dinilai bukan dari kaya dan kepintarannya. Tetapi yang dinilai adalah apa yang telah dilakukan dengan kekayaan dan ilmunya bagi banyak orang. “

Begitulah 2 nasehat yang diberikan oleh almarhum Kakek Buyut (Uyut) dan almarhum bapak saya.

Seiring waktu, saat ini saya tinggal dan bekerja di Fiji. Banyak orang yang mengenal saya terkejut dan kaget.

” Ngapain kamu di Fiji “

” Fiji itu dimana ? “

” Kalau hanya untuk cari uang sih oke oke saja ! “

” Negeri antah berantah, ndak jelas “

” Fiji, negara kecil dan apa yang bisa  kamu perbuat dari negara yang jumlah penduduknya hanya 800 ribuan. “

Tak disangka sudah hampir satu tahun saya di Fiji. Banyak peristiwa dengan segala duka dan citanya. Saya menikmati keberadaan di Fiji. Walaupun jauh dari tanah air tetapi tidak melunturkan semangat untuk berbuat sesuatu untuk diri, keluarga, bangsa dan negara. Wuidihhh hebat banget… bangsa dan negara coy (ikutan kang Mukti ah heheheh)

Ya benar 2 kata yang melekat yaitu bangsa dan negara menjadi penyemangat dan menambah keyakinan diri kalau saya bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat dan memberikan energi positif bagi tanah air walaupun masih terbilang redup-redup energi positifnya.

Terlepas dari hiruk pikuknya pemberitaan mengenai tanah air terutama masalah korupsi, kekuasaan dan sebagainya tetap tidak melunturkan semangat untuk memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk anak cucu saya nanti. Bagaimana ? Bagaimana ya !!! Hmm banyak yang bisa dilakukan.

Indonesia belum habis, Indonesia belum tamat, Indonesia tak akan bubar. Lihat saja boleh saja Indonesia berganti pemimpin mulai dari tingkat RT sampai Presiden tetapi tetap saja Indonesia kokoh berdiri. Tetapi Mas, korupsi yang merajalela dan lemahnya hukum di negeri ini bisa membuat kita putus asa lho. Begitulah kata seorang teman.

” Mas… mas … mas pernahkah mendengar orang kecil bicara seperti ini berkali-kali kita pemilu dan ganti pejabat tetap saja hidup saya masih seperti ini. Jaman pak Harto  tukang burjo ehhh reformasi tetap tukang burjo. Tidak ada perubahan “

Ya jelas tidak berubah karena emang belum mau berubah.Ingat Allah tidak akan mengubah suatu kaum apabila kaum itu tidak mau mengubahnya. Jadi kita harus berubah. Berubah menjadi lebih baik dan itu dimulai dari diri sendiri. Klise ya hehehehe

Apa hubunganya dengan Fiji ? Saya akan menceritakan pengalaman  saya selama di Fiji. Awal kedatangan, saya membayangkan Fiji sebagai negara yang maju karena Fiji terkenal dengan resort, pantai dan tujuan wisata yang eksotik bagi turis-turis seluruh dunia. Sesampainya di Fiji, lho kok seperti ini. Pernah ke Kupang ? Ya seperti itulah Suva, ibukota Fiji. Penduduknya hampir sama dengan saudara-saudara kita di Papua karena mereka memang satu ras yaitu ras Melanesia. Walaupun di Fiji hampir 36% penduduknya keturunan India yang dibawa oleh kolonial Inggris untuk menggarap tebu sekitar 100 tahun yang lalu. Seth.

Makanan pokok penduduk asli Fiji adalah singkong, talas, ubi, dan sukun. Sedangkan beras banyak dikonsumsi penduduk Fiji keturunan India. sebagian besar beras diimpor dari Vietnam, Thailand danIndia. Nah inilah menariknya dan ada kaitannya dengan demi bangsa dadn negara.

Sebuah pertemuan yang tidak disengaja pada saat KBRI mengadakan kegiatan Bula Indonesia. Pada saat itu saya memperkenalkan produk bumbu untuk makanan ringan. Saya pikir bumbu tersebut sudah sangat familier bagi masyarakat Fiji. Ternyata salah dugaan saya. Mereka terbengong-bengong ingin mengetahui dan mencicipi bumbu tersebut. Gara-gara bumbu itulah saya diperkenalkan oleh seorang Suster asal Indonesia kepada Kepala Agriculture Research Center Koronivia dan salah seorang staf peneliti yang biasa menangani masalah kimia pangan.

Perkenalan tersebut berlanjut hingga sekarang ini. Kita saling berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang produk-produk olahan pertanian. Ketika saya bercerita tentang teknologi pengolahan hasil pertanian di Indonesia, mereka semakin merasa heran dan terkagum-kagum. How come ? kata mereka. Padahal apa yang saya ceritakan baru teknologi sederhana yang sudah banyak dikerjakan oleh industri kecil dan menengah di Indonesia.

Contohnya adalah singkong. Singkong bisa diolah menjadi gaplek, tepung gaplek, tapioka, tepung Mocal, keripik singkong berbagai rasa, tape sampai bio fuel. Makin terbengong-bengong saja mereka. lah kok pada bengong pikir saya pada saat itu. Artinya…. Ya mereka jauh tertinggal dari Indonesia dalam teknologi pertanian.

Sebagai orang yang mempunyai basic ilmu teknologi pertanian bolehlah berbangga sedikit walaupun ilmu yang saya miliki masih belum apa-apanya dibandingkan dengan ahli-ahli teknologi pertanian di Indonesia.

” Cech, memang di Fiji sudah ada fakultas teknologi pertanian terutama teknologi hasil pertanian. Tetapi lulusannya hanya diajarkan teori saja karena keterbatasan tenaga pengajar yang mampu mempraktekkan ilmunya untuk mengolah dan mengembangkan potensi pertanian dan perikanan yang ada di Fiji. Cech tahu sendiri khan bagaimana saya sempat kagum ketika Cech cerita tentang singkong, talas, ubi dan sukun bisa diolah menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomis. Serius Cech saya kagum dan bersyukur bertemu dengan Cech ” Itulah yang dikatakan oleh  salah satu staf peneliti Agriculture Research Center.

Wao kata saya dalam hati. Dan benar saja sewaktu saya diajak oleh seorang pengusaha Fiji bertemu dengan seorang kepala suku dan tuan tanah (Magali) dimana saya disuruh untuk mempresentasikan teknologi pengolahan hasil pertanian yang ada di Indonesia. langsung beliau memeluk saya dan mengatakan bahwa saya lah orang yang dicari-cari selama ini. Waduh makin besar saja hidung saya ini hehehehe.  Beliau mengatakan banyak lahan di Fiji yang belum dimanfaatkan. Penduduk hanya mengandalkan tanaman singkong dan talas sebagai sumber pendapatan. Itupun dijual dalam bentuk mentahnya saja dan belum diolah menjadi berbagai macam produk olahan.

Ini baru singkong dan talas bagaimana dengan sukun, pisang, pepaya, nangka, ubi, coklat, kelapa dan lain-lain. Sari buah mengkudu saja  baru sekarang diperkenalkan dan itupun yang mengerjakan orang asing. Terus jahe yang diolah menjadi dried ginger, slice ginger dan asinan jahe tetapi yang mengerjakannya justru pengusaha dari Cina. Jadi bagaimana dong Cech ? Bisa bantu kami ?

Langsung saja otak saya bekerja. Bagaimana caranya agar bisa membantu mereka tetapi konsep demi bangsa dan negara dijalankan ? Ahah akhirnya saya mendapatkan caranya. Indonesia adalah negara pertanian tetapi pada saat ini belum memungkinkan Indonesia melakukan investasi besar-besaran di Fiji seperti yang dilakukan Cina. Sebagai negara bekas jajahan Inggris (Commowealth), Fiji banyak mendapatkan bantuan ekonomi dari Australia, Selandia Baru, Inggris dan Uni Eropa walaupun pada saat ini keanggotaan Fiji dibekukan karena aksi kudeta tahun 2006 dan pemerintah sekarang menolak permintaan negara-negara Barat untuk segera melaksanakan pemilu.

Banyak alat pertanian seperti traktor didatangkan dari Australia dan Selandia Baru tetapi banyak pula yang jadi besi tua karena keterbatasan pengetahuan dan suku cadang. Ini semua berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan di Fiji. Ini menjadi peluang yang baik untuk Indonesia. Mengapa tidak menerapkan teknologi tepat guna ala pertanian Indonesia yang mudah, praktis dan relatif terjangkau bagi masyarakat Fiji seperti teknologi pengolahan singkong, talas, ubi dan sebagainya. Mulai dari alat dan mesin pencuci singkong, pengupas kulit singkong, pengiris singkong, pengering singkong, penggilingan chip singkong, sampai pengemasan tepung dan keripik singkong. Itu baru singkong dan belum yang lainnya.

Selain itu Fiji membutuhkan tenaga ahli pertanian mulai dari ahli tanaman sampai ahli pengolahan pertanian. Indonesia boleh berbangga karena bisa mengirimkan TKI yang mempunyai kemampuan dan berkualitas.

Langsung pikiran saya tertuju kepada sosok Bung Karno. Apa maksud beliau mempelopori Gerakan Non Blok dan Konferensi Asia Afrika. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan konstelasi polkam pada saat itu dimana terjadi perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Ada tujuan dibalik itu yaitu dengan kekuatan 2/3 penduduk dunia (penduduk Asia Afrika) merupakan potensi pasar bagi produk-produk Indonesia. Sayangnya semua itu hanya cerita sejarah. Ibarat orang yang selalu melihat ke atas tetapi tidak memperhatikan apa yang ada di depan, di belakang bahkan di bawah. Ingin seperti lompatan katak dan serba instan yang mengabaikan proses.

Di tulisan ini saya mengajak seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada  untuk menjadi agen pemasaran produk-produk Indonesia. Sekecil apapun nilainya, setidaknya kita telah melakukan karena nasionalisme bukan dengan omongan tetapi dengan laku lampah dalam konsep “demi bangsa dan negara”.

13222163621276022056
Bus buatan Indonesia di Fiji (flickr.com)

NB: sekedar info beberapa pengusaha bus di Fiji sampai tahun 2012 telah memesan 40 bus buatan Indonesia dan baru terpenuhi 14 bus pada tahun 2011. Ini sebuah kebanggaan bagi Indonesia walaupun banyak yang mengatakan Indonesia hanya merakit saja tetapi jangan salah kalau bus yang dikirim tersebut 80% komponennya asli buatan Indonesia.

2 thoughts on “Nasionalisme Itu Dengan Laku Lampah Bukan Dengan Omongan

  1. wahhh… trnyta pasar ekspor d luar sngat mnjanjikn sX y mas. cm mslah’a skrng, informasi untuk para pengusaha d Indonesia itu msh sangat minim soal ekspor. dn minat bangsa kita jd sdkit banget soal wirausaha ini. mngkn klo pemerintah bisa mmfasilitasi sma’a, tau da dukungn. indonesia bisa jd negera ekspor trbsar dlm bidang prtanian x y? hehe,😀
    mantab pas,salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s