Mengetahui Kadar Emosional Seseorang Dari Tulisannya

Bagi saya, Kompasiana adalah tempat yang tepat untuk mengembangkan kemampuan menulis. Saya merasakannya sendiri. Seiring perjalanan waktu tanpa disadari, tulisan yang dibuat telah mencapai ratusan judul. Selain itu ada perkembangan yang menarik dari Kompasiana setelah makin bertambahnya penulis yang menuangkan pemikiran dan idenya dalam 2 tahun ini.

Dalam perkembangannya tersebut, ada satu yang menarik perhatian saya yaitu masalah emosional. Emosional ? Dari beberapa tulisan yang telah dipublikasikan, saya banyak mendapatkan pengetahuan tentang kadar emosional seseorang dari tulisannya. Ada yang kadar emosional tinggi dan cenderung meledak-ledak ataupun sebaliknya.

Hal ini mengingatkan saya pada saat saya mulai memberanikan diri membuat sebuah tulisan. Tulisan pertama yang membutuhkan energi diri agar dapat menjadi sebuah karya yang membanggakan karena ini dapat menjadi bukti bahwa saya bisa menulis.

Tulisan saya pertama tersebut didasari oleh fakta yang ada di negeri tercinta Indonesia yaitu masalah pemilu, ulama, umarah dan agama. Tulisan tersebut sempat diapresiasi oleh seorang teman yang bekerja di sebuah media cetak. Teman mengatakan kalau saya sebetulnya mempunyai kemampuan menulis dan sempat meminta saya untuk mengirimnya ke beberapa media cetak nasional karena dianggap sesuai dengan kondisi yang terjadi pada saat itu.

Dengan inisiatif teman maka tulisan pertama tersebut dikirim ke beberapa media cetak/eletronik. Hasilnya adalah penolakan. Tetapi saya tidak merasa kecewa karena dari awal saya telah menduga akan ditolak. Siapa sih saya?  Hanya orang biasa yang masih bau kencur dalam hal tulis menulis. Semua itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk menulis bahkan dari tulisan pertama tersebut, saya mendapatkan banyak masukan. Salah satu adalah masalah emosional.

Ada beberapa kalimat dalam tulisan tersebut dianggap kasar dan cenderung menunjukkan keegoan penulisnya. Kasar dan ego inilah yang dikatakan oleh beberapa pengkritik tulisan tersebut sebagai penggambaran tentang tingkat emosional saya. Mereka menyarankan untuk mulai belajar sedikit demi sedikit tentang mengontrol emosi saya pada saat menulis. Berikanlah kenyamanan bagi pembaca sehingga pembaca bisa mengikuti alur tulisan dengan mudah dan paham dengan apa yang penulis inginkan. Hal ini berlaku juga dalam memberikan dan menjawab komentar tulisan.

Nah, untuk mengenang kembali bagaimana saya membuat tulisan pertama kali maka saya akan menunjukkannya dan silahkan untuk memberikan opini atau pendapatnya. Lebih baik dipublikasikan untuk umum daripada hanya menjadi tulisan bisu tanpa makna pada sebuah file pribadi di hard disk komputer saya.

HUBUNGAN TIMBAL BALIK ULAMA DAN UMARA : HAK ATAU KEWAJIBAN ?

Sering kita menyaksikan bagaimana para calon pemimpin seperti calon presiden, gubernur, bupati, anggota MPR/DPR/DPD maupun pejabat di pemerintahan terutama yang nyata sekali adalah calon presiden dan wakil presiden. Setiap pemilihan umum selalu mendatangi madrasah/pesantren bertemu ulama/kyai untuk meminta doa restu agar dapat memenangkan pemilihan. Pada kenyataannya mereka melakukan itu untuk meminta dukungan dari para ulama/kyai yang jelas mempunyai basis massa yang cukup besar. Tetapi hal ini hanya dilakukan setiap 5 tahun sekali, setelah terpilih jarang para pemimpin kita meminta doa restu, saran dan kritik tentang segala kebijakan, prilaku mereka yang berimplikasi kepada rakyat secara nyata.

Itulah kenapa tulisan ini menggarisbawahi tentang hubungan antara pemerintah dan ulama/kyai. Bagaimana dengan fatwa ulama dan apa hubungannya dengan pemerintah? Apakah fatwa itu menjadi hak atau kewajiban ulama? Setahu penulis fatwa selalu berkaitan kemaslahatan umat beragama terutama umat Islam (tinjauannya adalah penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam).

Ulama/kyai kita sering berdakwah tentang kebaikan, surga-neraka, pahala-dosa, beribadah yang baik. Bahkan setiap hari terutama hari Jumat, mereka berdakwah di media cetak, elektronik dan sebagainya. Tetapi jarang mereka mengajarkan kepada umatnya tentang membaca (Iqra) seperti malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW pada peristiwa Isra Mi’raj. Membaca disini bukan hanya sekedar membaca teks di buku tetapi membaca dalam arti yang luas terutama membaca rasa kita sebagai manusia supaya mempunya empati terhadap lingkungan sekitar sehingga kita dapat bersimpati.

Selama kurun waktu empat tahun ini, bangsa Indonesia mengalami banyak bencana, musibah, dan sulitnya ekonomi masyarakat terutama kaum papa. Kita selalu menganggap bencana, musibah, dan susahnya kehidupan ekonomi datangnya dari ALLAH SWT. Padahal ALLAH sudah Kun Faya Kun seperti yang tercantum dalam Al Quran Surat Yaasin. Kalau manusia bisa menciptakan komputer super canggih dengan segala kelebihannya sehingga kalau salah memasukkan data, komputer bisa tidak jalan (hang). Apalagi ALLAH SWT menciptakan komputer Maha Canggih dengan segala kebesaranNya. Arahnya (Flow Chart) sudah jelas kalau kita ingin masuk surga atau neraka jalannya sudah sangat jelas tanpa perlu bertanya-tanya lagi. Kesimpulannya musibah, bencana, susah, senang, dan sebagainya datang dari diri manusia. Membaca (Iqra) kita sudah dilakukan atau belum? Dalam hal ini tafakur (perenungan) selalu dilakukan setiap saat atau belum?

Bencana gempa bumi dengan gelombang tsunami, gunung meletus, banjir, longsor, pesawat terbang jatuh, kapal laut tenggelam, tabrakan kereta api dan kecelekaan lalu lintas selalu akan menghantui kita apabila kita tidak beriman kepada Yang Maha Kuasa. Tanpa disadari ini disebabkan oleh ulah manusia yang kurang beriman.

Selain itu ada kesulitan yang dialami oleh bangsa Indonesia dan selalu dikeluhkan oleh masyarakat pada saat ini seperti banyaknya pengangguran, kemiskinan, sulitnya ekonomi. Awalnya dimulai dari kebijakan pemerintah berupa kenaikan BBM tanpa mengukur kemampuan masyarakat sehingga biaya-biaya produksi, distribusi, dan harga jual naik secara dratis. Sementara pendapatan masyarakat tidak menjangkau kenaikan tersebut akibatnya daya beli masyarakat berkurang. Masyarakat sudah tidak mampu untuk menabung bahkan tabungan yang ada habis dipakai untuk mencukupi kebutuhan saat ini. Kita melihat masyarakat kesulitan mendapatkan minyak tanah, kalaupun ada juga menunggu dan mengantri berhari-hari. Harga-harga bahan pokok meningkat tajam seperti beras, minyak goreng, tepung terigu, telur, gula pasir, kedelai untuk bahan baku tempe (makanan trdisional masyarakat Indonesia) dan terakhir adalah daging sapi. Lucunya bukan pembeli yang melakukan demonstrasi kepada pemerintah tetapi pedagang daging yang protes. Belum lagi mengenai pembatasan BBM kendaraan bermotor dan masalah program insentif listrik disertai dengan pemadaman listrik secara bergilir. Sepertinya pemerintah tutup mata dan tidak jelasnya program pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah diatas.

Apa hubungannya dengan fatwa ulama/kyai? Setahu penulis fatwa adalah perintah ulama/kyai mumpuni ilmu agamanya mengenai suatu hal yang berhubungan erat dengan kehidupan umat sehari-hari berdasarkan manfaat/mudharat, halal/haram dengan patokan Al Quran dan Hadits. Fatwa merupakan hak dan kewajiban ulama dan umat untuk menjalankannya. Hak ulama/kyai untuk mengingatkan umat tentang suatu hal yang dapat menyesatkan, menyengsarakan umat dan lain-lain tanpa ada sponsor dibelakangnya karena adanya tanggung jawab dihadapan ALLAH SWT. Kewajiban bagi umat untuk mematuhi dan menjalankan fatwa ulama/kyai yang mumpuni dan terpercaya.

Bagaimana dengan kebijakan para pemimpin di pemerintahan, apakah perlu ada fatwa ulama/kyai? Penulis belum pernah mendengar, melihat para ulama/kyai mengeluarkan fatwa tehadap kebijakan pemerintah. Sepertinya ulama/kyai menganggap kebijakan pemerintah bukan wilayah ulama untuk mengingatkan, menegur bahkan melarang pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dapat membuat sengsara dan memiskinkan umat. Banyak kebijakan pemerintah yang menyengsarakan dan memiskinkan umat seperti kenaikan BBM dengan segala implikasinya dan ulama/kyai seperti masa bodo tentang kesulitan hidup umat sehari-hari akibat kebijakan pemimpin di pemerintahan. Ulama/kyai sibuk dengan dunianya sendiri berekstasi ria dengan surga-neraka, pahala-dosa dan lain-lain. Sementara pemimpin legislatif, yudikatif maupun eksekutif asyik memperkaya diri dan tutup mata dengan kesulitan masyarakat mencari nafkah. Apakah ulama/kyai hanya bisa mengeluarkan fatwa tentang haram merayakan hari valentin (merupakan budaya barat) yang kurang berpengaruh buruk kepada umat tetapi tidak pernah mengharamkan merayakan Tahun Baru Masehi secara berlebihan karena lebih banyak mudharatnya, dan fatwa tentang wajib merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram (sepertinya hari raya ini sebagai hari libur biasa).

Sepertinya ulama/kyai sebagai alat memperoleh suara tiap 5 tahunan bagi calon pemimpin tanpa pernah menanyakan imbal baliknya apabila terpilih ,tiap pemimpin harus menanyakan terlebih dahulu kepada ulama/kyai untuk menghindari implikasi buruk dari kebijakan yang akan dikeluarkan. Kesimpulannya adalah ulama/kyai harus kaya artinya harus kaya harta, kaya ilmu, kaya segala-galanya agar dapat membaca (Iqra) kehidupan dan selalu tafakur karena ciri orang yang beriman adalah orang yang selalu berpikir dan berpegang pada prinsip kemiskinan awal dari kekufuran sehingga umat selalu melihat ulama/kyai bukan hanya sebagai pemimpin umat tetapi sebagai orang tua yang dapat dipercaya (ulama/kyai mempunyai tanggung jawab besar kepada ALLAH SWT) sehingga umat tidak kehilangan pegangan apabila pemimpin membuat kebijakan berdampak buruk kepada umat.

Raja Galeuh Pakuan Pajajaran, Prabu Tajimalela bersemboyan : TIDAK BUTUH MUSUH, TIDAK BUTUH TEMAN, HANYA BUTUH KEBENARAN.Penulis bersemboyan :TIDAK BUTUH ULAMA/KYAI, TIDAK BUTUH PEMIMPIN, HANYA BUTUH KEBENARAN DAN KEBERANIAN HATI NURANI. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s