Apakah Hukuman Yang Berhubungan Dengan Kematian Cocok Untuk Koruptor ?

Corruption:Its In There (ronaldcarey.blogspot.com)
Corruption:Its In There (ronaldcarey.blogspot.com)

Tampak dua orang pria berpakaian jingga sedang menggali liang lahat. Segala aktifitas mereka selalu diperhatikan dengan seksama oleh seorang pria tinggi besar, rambut cepak ala militer  dengan berpakaian warna hijau. Pemandangan inilah yang menarik perhatian saya pada saat menghadiri acara penguburan seorang Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang meninggal dunia karena penyakit pneumonia akut di salah satu pemakaman umum yang ada di Fiji.

Siapakah mereka ? Selidik punya selidik ternyata mereka bertiga berasal dari Sebuah Penjara yang dekat dengan pemakaman umun tersebut. Dua orang yang berpakaian jingga adalah narapidana yang mendapatkan tugas untuk menggali liang lahat setiap ada peristiwa kematian. Sedangkan yang satunya adalah petugas sipir yang ditugaskan untuk mengawasi kedua narapidana tersebut.

Rupanya di Fiji berlaku hukuman wajib bagi narapidana yaitu kerja sosial seperti yang dilakukan oleh kedua narapidana tersebut di atas. Peristiwa di pemakaman tersebut menimbulkan pemikiran saya apakah sebaiknya para koruptor yang telah dijatuhi hukuman penjara dikenai hukuman sosial yang berhubungan dengan kematian ?

Terus terang saya kurang setuju dengan hukuman mati. Menurut saya, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang mempunyai hak atas hidup mati seorang manusia. Bukan kita sebagai manusia. Yang penting adalah bagaimana hukuman kepada para koruptor bisa memberikan efek jera. Efektifkah ? Perlu pembuktian.

Dalam pikiran saya, ada pengaruh yang luar biasa hukuman sosial yang berhubungan dengan kematian bagi para koruptor. Hal ini perlu dilakukan agar terpidana korupsi sadar sesadar-sadarnya akibat perbuatannya. Karena perbuatannya tidak hanya merugikan negara tetapi juga secara tidak langsung mengakibatkan banyak orang yang menderita atau sengsara seperti kemiskinan, pengangguran dan kelaparan.

Contoh hukuman sosial yang bisa dilaksanakan adalah memerintahkan terpidana korupsi yang beragama Islam untuk membantu pengurus pemakaman umum khusus Islam dengan menggali liang lahat (terutama yang masih muda dan mempunyai perawakan yang sehat), memandikan mayat di mesjid, rumah sakit atau di rumah duka. Pelaksanaanya bisa diatur oleh Kemenhukan  bekerja sama dengan pengurus mesjid, rumah sakit atau pengurus pemakaman umum dengan jadwal sedemikan rupa. Begitu pula bagi yang beragama lain dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti membuat dan mengangkat peti mati, merias mayat, atau membatu pembakaran mayat dan lain-lain. Kalau perlu digunakan pakaian khusus bagi terpidana korupsi pada saat menjalankan hukuman sosial tersebut.

Saya berharap dengan hukuman sosial yang berhubungan dengan kematian dapat menyadarkan terpidana korupsi tentang arti sebuah kehidupan. Hidup itu hanya sekali setelah itu mati, jadi berbuatlah kebaikan selama masih hidup di dunia sebelum dijemput oleh Malaikat Pencabut Nyawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s