Kenangan Untuk Sang Panutan (I)

 

Tulisan ini saya awali dengan ungkapan berikut :

” Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berhasil menciptakan banyak pemimpin yang lebih berkualitas dari dirinya… “

Banyak pelajaran yang saya peroleh dari Dia, Sang Panutan. Dia bukanlah seorang Nabi atau Rasul tetapi pria biasa, seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya, dan seorang pemimpin yang berwibawa. Bukan hanya itu Dia sangat mempengaruhi perjalanan hidup saya dan banyak orang walaupun tidak setenar tokoh-tokoh besar.

Perihnya kehidupan tidak membuatnya surut semangat untuk menggapai cita-citanya. Biarkan kepedihan itu menjadi bagian kelam perjalanan hidupnya dan disimpan rapat untuk dirinya saja walaupun banyak orang yang salut dengan kerja keras dan tekadnya menjadi orang sukses.

” Tahukah Cech? Waktu mahasiswa, beliau berjualan telur di kereta api dari Purwokerto ke Jakarta setiap habis pulang menemui kedua orang tuanya yang sangat dicintai. Uang hasil telur itulah digunakan untuk membiayai kuliahnya ” cerita sahabat beliau.

” Masa sih ? Kok beliau tidak pernah cerita tentang hal ini ” tanya saya terheran-heran.

Ketika saya tanya langsung tentang cerita tersebut, Dia hanya tersenyum dan menjawab,

” Jangan percaya dengan cerita tersebut. Saya tidak ingin kamu seperti itu “

Selain itu sahabat beliau bercerita tentang hal lain, ” Memang jualan telur hanya sambilan saja. Kalau laku ya syukur, kalau tidak laku ya dimakan beramai-ramai dengan teman asrama di Rawamangun. Tetapi beliau banyak akal dan kreatif. Apa yang dilakukan pasti menghasilkan uang walaupun pekerjaan tetapnya mengajar di sebuah SMAN di bilangan kota. “

” Wao, kok saya baru dengar ?! ” Itulah keterkejutan saya berikutnya selain masih banyak keterkejutan yang dilakukan oleh Dia.

Dalam umur masih muda sekitar 30 tahun Dia telah menjabat Kepala Humas PT Pertani, anak perusahaan Departemen Pertanian yang dulu ditugaskan untuk menyalurkan pupuk ke petani-petani di seluruh Indonesia.

” Ingat Cech, umur segitu saya sudah memperolehnya yang pada waktu itu tidaklah mudah untuk mencapainya. Hal ini bisa terjadi karena saya selalu membuat perencanaan tentang hidup  dan dicatat dalam sebuah note. Hari ini jadi apa, besok jadi apa, bulan depan jadi apa, tahun depan jadi apa dan seterusnya. Selalu saya tulis agar ada target yang ingin kita capai. “

Dia mundur dari Kepala Humas setelah memperkirakan kalau institusinya tersebut akan digunakan sebagai kendaraan politik sebuah SEKBER Orde Baru dimana tidak ada lagi Punishment and Reward, yang ada hanyalah Like and Dislike. Sebuah pilihan yang sulit karena pada saat itu, istri beliau sedang mengandung anak kedua tetapi idealisme harus dijunjung demi sebuah kebenaran walaupun menyakitkan dan menegangkan.

” Dengan kemauan untuk maju dan bekerja keras serta berdoa kepada Yang Maha Kuasa, apa yang kita cita-citakan akan menjadi kenyataan. Saya ikuti kursus-kursus singkat tentang manajemen yang diselenggarakan oleh UI dan LPM. Selain itu saya tingkatkan kemampuan bahasa Inggris dengan mengikuti kursus walaupun uang pesangon dari PT Pertani terbatas. Tetapi Tuhan tidak tidur, dari kursus manajemen itulah, saya berkenalan dengan seorang pria asal Norwegia yang ternyata expert di bidang Corrugated and Carton Box. Pria bule tersebut bekerja dan tangan kanan pemilik perusahaan multinasional Corrugated and Carton Box bernama PT GURU INDONESIA (sekarang masih berdiri di wilayah Kelapa Dua Cibubur). Dan saya pun diajak bekerja di perusahaan tersebut “

Di perusahaan baru tersebut, karirnya meroket. Hal ini disebabkan oleh banyaknya ide yang dikeluarkan untuk meningkatkan produksi dan mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu. Sebelum ada pemulung seperti saat ini, Dialah yang memperkenalkan pengolahan limbah kertas karton (hasil produksi Corrugated Box) yang diubah menjadi kertas Medium (kertas gelombang yang ada di tengah karton boks). Sebelumnya limbah dibuang dan dibakar tidak terpakai. Karena idenya tersebut, perusahaan diuntungkan dan ada yang menarik dari pengolahan limbah tersebut yaitu beliau telah melahirkan seorang pemulung hebat yang sampai saat ini menguasai dunia pemulungan kertas dan karton di Indonesia. Dari situlah Dia dipercaya oleh perusahaan untuk belajar dan magang tentang Corrugated and carton Box di luar negeri mulai dari Finlandia, Norwegia, Jerman, Italia dan Jepang.

” Ini bukan masalah uang tetapi tantangan ” Itulah perkataannya ketika saya menanyakan kepindahannya dari PT GURU INDONESIA ke perusahaan lain yang ingin membuka usaha Corrugated and Carton Box dari nol. Dari nol? Ya dari nol karena dimulai dari tanah kosong di Tangerang yang ditumbuhi alang-alang penuh ular berbisa. Siang malam dia bekerja sampai berdirinya sebuah pabrik Corrugated and Carton Box milik orang Indonesia asli.

Suatu saat datanglah sebuah mobil BMW ke rumahnya. Rupanya mobil tersebut adalah hadiah dari perusahaan kepadanya atas keberhasilannya mewujudkan keinginan sang pemilik. Sungguh senang istri dan anak-anaknya melihat mobil sedan mewah buatan Jerman tersebut. Tetapi apa yang terjadi. Dia mengembalikan sedan BMW tersebut ke perusahaan. Istrinya pun marah-marah, “wong dikasih kok ditolak “. Dia hanya menjawab, ” Saya belum memberikan apa-apa bagi perusahaan. Pabrik baru berdiri dan belum menghasilkan apa-apa. Saya sudah cukup senang perusahaan telah memberikan rumah dinas yang ditempati sekarang. Okelah kalau perusahaan memaksa tetapi berikan mobil yang cocok untuk memenuhi aktivitas saya tetapi bukan mobil mewah dimana mau masuk wilayah pabrik saja susah (jalan menuju pabrik masih penuh dengan kubangan air apabila banjr datang) ” Dan perusahaanpu memenuhi keinginannya dan hadirlah Opel Putih masih buatan Jerman yang tangguh di lapangan.

” Cech, kalau saya mau, bisa saja saya membuat rumah tingkat 16. Bagaimana tidak bisa ? Semua yang berkaitan pembelian barang-barang perusahaan hrus tanda tangan saya. Seringkali pemasok memberikan uang dalam amplop ke saya apalagi saya dipercaya oleh BIG BOS (sampai-sampai BIG BOS menjuluki saya BLACK CHINESE karena saya satu-satunya non keturunan Tiongkok yang dipercaya). Lantas apa yang saya lakukan dengan uang tersebut? Saya dirikan koperasi. Uang pemberian pemasok, saya masukkan kas koperasi agar karyawan yang membutuhkan bisa meminjam melalui koperasi bukan meminjam ke perusahaan.  Semua dijalankan secara terbuka dan transparan. Dan terbukti, perusahaan tidak terbebani dan koperasi berkembang pesat.

(bersambung)

3 thoughts on “Kenangan Untuk Sang Panutan (I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s