Haruskah Mengundang Irshad Manji ? Mengapa Bukan Morsinah Katimin ?

Morsinah Katimin (simplyjamu.health.officelive.com)
Morsinah Katimin (simplyjamu.health.officelive.com)

Sudah 14 tahun reformasi berjalan, bukannya ada perubahan signifikan ke arah yang lebih baik malah jalan di tempat atau mundur ke belakang. Selama 12 tahun bangsa ini sibuk dengan wacana, polemik dan kontroversi, disamping masalah korupsi yang akut.

Sejak reformasi, bangsa ini suka sekali ber-kontroversi ria terutama media massa dan justru kontroversi disulut oleh kaum intelektualitas terutama kaum menengah-atas. Sementara kaum papa berjuang sendiri untuk dapat memenuhi kehidupannya sehari-hari. Capek memang mendengarnya tetapi itulah konsekuensi dari sebuah kebebasan yang kebablasan.

Belum selesai satu kontroversi yang tidak produktif dan sangat menguras energi bangsa ini, eh timbul kontroversi lain dengan mengatasnamakan demokrasi berpikir. Salah satunya adalah kedatangan Irshad Manji yang mengusung Feminisme Muslim dengan buku-bukunya yang lagi-lagi menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat terutama umat muslim di Indonesia. Ada yang pro dan kontra dengan dalih bermacam-macam. Membosankan !!! Itulah perkataan saya setelah mengamati apa yang terjadi.

Mengapa harus mengundang Irshad Manji ? Apa untungnya bagi bangsa Indonesia terutama kaum Muslim ? Membuka wawasan berpikir tentang Kebebasan atau Demokrasi ? Saya hanya bisa tersenyum kecut ketika mendengar alasan-alasan yang dikeluarkan oleh banyak tokoh baik yang pro dan kontra. Pertanyaannya adalah apakah ada pengaruhnya pemikiran Irshad Manji bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat kelas bawah (kaum papa) ? Ahhh kontroversi lagi. Lagi-lagi kaum menengah-atas yang sepertinya belum mau berpikir tentang substansi masalah utama yang ada di negeri ini.

Saya sangat berharap sekali kaum menengah-atas (kaum intelektual) menjadi motor penggerak perubahan mengatasi masalah bangsa ini yaitu KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN. Semuanya akan menjawab penyebabnya adalah KORUPSI. Benar tetapi setidaknya ada gerakan arus bawah yang dimotori oleh mereka untuk mencari solusi dalam mengurangi masalah KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN. Jangan biarkan energi positif kita dihabiskan untuk berwacana, berpolemik dan berkontroversi. Ingat KEMISKINAN, awal dari kekufuran.

Kembali ke Irshad Manji, apa yang terjadi ? Kita ribut sesama bangsa sendiri, dia yang dapat untung karena mendapatkan promosi gratis buku-bukunya. Mengapa sih kita tidak mengundang tokoh-tokoh dunia yang perannya mampu mengubah nasib komunitas, masyarakat, bangsa dan negaranya dimana kita bisa banyak belajar dari para tokoh tersebut ? Contohnya Bapak Muhammad Yunus (pemenang Nobel) dengan Garmeen Banknya dimana nasabahnya kebanyakan kaum perempuan atau Tristan Lecomte yang terkenal dengan FAIR TRADE nya atau yang lainnya.

Lha khan Irshad Manji dalam buku-bukunya membuka wawasan berpikir tentang Feminisme atau kesetaraan jender bagi perempuan muslim. Kembali lagi saya hanya bisa tersenyum dan bertanya apakah pemikiran Irshad Manji menyentuh kaum perempuan di kalangan bawah dimana mengubah cara berpikir dan memberi pengetahuan perempuan kalangan bawah untuk memberdayakan potensi dirinya untuk pengembangan dan memajukan ekonomi keluarganya dimana dengan potensi yang dimiliki dapat menciptakan usaha keluarga bagi pemenuhan ekonomi keluarga sehari-hari. Kaum perempuan kalangan bawah tidak butuh pemikiran Irshad Manji tapi yang dibutuhkan adalah berikan mereka kail agar dapat mendapatkan ikan yang banyak dan bernilai ekonomis sehingga dapat mengentaskan kemiskinan mereka selama ini.

Dr Nahed Taher (forbes.com)
Dr Nahed Taher (forbes.com)
Raja Easa Saleh Al Gurg (arabianbusiness.com
Raja Easa Saleh Al Gurg (arabianbusiness.com
Zohra Sarwari (fridaygirltv.com)
Zohra Sarwari (fridaygirltv.com)

Bicara Feminis yang berkaitan dengan perempuan, mengapa tidak mengundang pengusaha wanita atau penggerak komunitas perempuan baik muslim maupun non muslim yang banyak bertebaran di muka bumi ini. Banyak perempuan hebat di dunia ini yang pengaruh aktifitas lebih luar biasa dibanding Irshad Manji. Silahkan saja cari di Google, pasti kita menemukannya. Kita bisa mengundang Ibu Nahed Taher (pendiri dan CEO wanita pertama Saudi Arabia’s Gulf One Investment Bank), Raja Al-Gurg (Managing Director of Easa Saleh Al Gurg Group Uni Emirat Arab), Zohra Sarwari (seorang istri, ibu, motivator, pengusaha dan penulis 7 buku dimana satu bukunya yang terkenal “How to Raise A Successful Kidpreneuer”) dan masih banyak lagi.

Yang disebutkan di atas adalah dari luar Indonesia tetapi ada satu asli Indonesia (bukan asli Sumedang ya hehehe) dimana aktifitasnya sungguh membanggakan dan membuka mata kita bahwa produk Indonesia dapat dijual dan diterima oleh masyarakat internasional. Namanya MORSINAH KATIMIN, penjual jamu tetapi bukan jamu sembarang jamu. Produk jamunya berkelas internasional dan dikemas secara modern dan menarik dengan merek SAJEN. Walaupun Morsinah Katimin lahir di Singapura tetapi produk jamu sudah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil di Parakan, Magelang karena neneknya selalu membuat jamu jenis apapun untuk kesehatan keluarganya.

Sajen, merek Jamu buatan Morsinah Katimin (simplyjamu.health.officelive.com)
Sajen, merek Jamu buatan Morsinah Katimin (simplyjamu.health.officelive.com)

Sebelum memulai bisnis jamunya, Morsinah bekerja di WHO (Organisasi Kesehatan Dunia PBB) di Genewa, Swiss dan banyak mengerjakan proyek pemberdayaan masyarakat di Nepal, Filipina, Papua Nugini dan Thailand. Dari perjalanannya di beberapa negara, Morsinah Katimin menemukan betapa besarnya potensi produk tradisional masyarakat lokal. Maka itu Morsinah Katimin berpikir apakah tidak sebaiknya mengembangkan produk tradisional bangsa Indonesia warisan leluhur yaitu Jamu. Dari bahan dasar jahe dan asam, Morsinah Katimin mengembangkan beberapa jenis produk jamu. Selain jamu, Morsinah Katimin mengembangkan produk sambal khas Indonesia dan Malaysia.

Kakek Buyut pernah berkata, ” Nanti akan banyak orang merasa pintar dan sakti, padahal isinya hanya akan merusak hati dan pikiran banyak orang. Lebih baik punya ilmu sedikit tetapi bermanfaat bagi diri dan banyak orang “ Maka itu sudahi segala kontroversi tidak bermanfaat dan saatnya bekerja untuk membangun bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.

4 thoughts on “Haruskah Mengundang Irshad Manji ? Mengapa Bukan Morsinah Katimin ?

  1. Dalam Qur’an ditekankan bahwa tiada agama kecuali untuk yang berakal.

    Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akal, oleh karena itu argumen berdasarkan Islam tidak akan kalah diadu dengan argumen abal-abal manapun.

    Jika argumen Irshad Mandji (IM) adalah abal-abal, pastilah ia akan keok dibantai oleh argumen yang berdasarkan Islam.

    Apakah argumen IM abal-abal? sayangnya itu tidak bisa dibuktikan, FPI membubarkan forum diskusi, yang bisa kita gunakan untuk membantai argumen IM.

    Jangan-jangan FPI bukan termasuk golongan berakal yg ditunjukkan Qur’an.
    FPI tidak menunjukkan keunggulan argumen Islam melawan argumen abal-abal.
    Bila ini adalah pertandingan bola, FPI mencegah kesebelasan lawan bertanding karena takut kalah dalam pertandingan yang adil.

    Jangan-jangan beginilah sikap kita terhadap kelompok lain, kita tidak yakin dengan argumen kita sendiri hingga takut berhadapan langsung dengan pihak pertama dan memilih mendengarkannya dari pihak ketiga.

    Saya salut dengan IM, walaupun tidak saya setujui semua pendapatnya. Saya berani menilai karena saya telah membaca bukunya dan bukan hanya mendengar dari komentar pihak ketiga. Yakinlah anda, bila Islam anda adalah untuk orang berakal, argumen apapun tidak akan mampu mengalahkannya.

    Jadilah anda pembela Islam yang berani menghadapi yang berbeda dalam pertarungan argumen, bukan mencegah lawan anda berargumen. Yakinlah berlari dari pertarungan hanya membuktikan bahwa anda bukanlah yang terbaik.

    Anda pemberani? buktikan dengan membaca bukunya, menemukan sendiri kesalahannya. Bukan benci hanya karena kata ustad ini atau ustad itu.

    Buku IM: Beriman Tanpa Rasa Takut dapat anda unduh di http://nontondunia.com/e-book/

    1. saya apresiasi dan hormati pendapat Pak Judhiarto. Sebagai orang yang biasa kerja di lapangan dan bersinggungan langsung dengan masyarakat bawah terutama bidang pertanian maka saya melihatnya dari sisi yang lain. Apa tidak sebaiknya kita melakukan langkah nyata atau lebih banyak mengundang orang/kelompok yang mempunyai ilmu pengetahuan dan pengalaman yang imbasnya luar biasa bagi kehidupan masyarakat Indonesia terutama kaum papa. Itu yang menjadi perhatian saya dan jangan habiskan energi kita untuk berwacana, berpolemik, atau berkontroversi ria. Masih banyak saudara kita yang hidup dengan kemiskinan dan pengangguran.

      satu hal saya bukan orang fpi. silahkan fpi bertindak dengan cara mereka biar masyarakat yang menilai. Sebagai sesama muslim, saya hanya mengingatkan bahwa KEMISKINAN AWAL DARI KEKUFURAN…. Jadi kurangi kemiskinan agar berkurang kekufuran. Terima kasih. VINAKA VAKALEVU

  2. acara tv seperti kick andi layak ditiru dimana banyak tokoh2 yang menbangun tetapi tidak kontroversi, sepanjang pengetahuan saya hanya ada sedikt tv yang mempunyai konsep membangun bangsa ini, mungkin hanya ada beberapa(metro, trans). selebihnya hanya tv hiburan, kadang saya berpikir apakah ada rahasia dibalik mengapa mereka begitu(dalam pikiran saya tv tv itu malah merusak mental bangsa kita) contoh ketika dibenturkan si baik dan si jahat, si baik hany pasrah dan berdoa tanpa usaha( ini berbeda dengan tv di luar dimana si baik juga akan bertindak lebih pintar). hal ini secara tidak sadar akan tertanam di alam bawah sadar kita. thx kawand

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s