Kotak-Kotak Di Negeri Yang Terkotak

Baju Kotak-kotak (Tribun News)

Kotak-kotak tengah menjadi tren di kalangan masyarakat Indonesia terutama Jakarta. Hal ini menjadi menarik ketika salah satu pasangan cagub pada Pilkada DKI memperkenalkan baju kotak-kotak sebagai ikonnya. Menariknya adalah simbol baju kotak-kotak ditemukan secara tidak sengaja karena cagub tersebut sudah kehabisan baju yang akan dikenakan pada saat pendaftaran sehingga dipilihlah baju kotak-kotak tersebut di pasar Tanah Abang karena dianggap pas, murah dan memang disukai motifnya. Sebuah kebetulan yang membawa berkah tetapi semuanya tidak terjadi ujug-ujug.

“Ceritanya begini, dua hari sebelum pendaftaran berakhir saya di suruh datang ke Jakarta. Saya berangkat tidak bawa baju, karena saya anggap pulangnya sore. Tapi, ternyata tidak pulang lagi ke Solo. Pas mau daftar, tidak punya baju, lalu saya beli baju kotak-kotak di Pasar Tanah Abang. Kenapa sekarang jadi tren, saya juga heran,” (rcmol.co)

Agama saya mengajarkan apa yang dinamakan dengan Iqro (Membaca) ? Ajaran Iqro terus menerus diajarkan dan diasah oleh kakek buyut dalam mempelajari kehidupandi dunia. Jadi sebetulnya di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan maka itu IQRO-lah atau bacalah setiap kejadian yang ada di dunia karena disitulah Kuasa Allah dipertunjukkan dan hanya manusia beriman yang mau berpikir.

Nah kembali ke kotak-kotak, saya teringat dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Bhinneka Tunggal Ika itulah yang menjadi perekat bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, etnis dan lain-lain. Jangankan negara, dalam satu agama saja terjadi pengkotak-kotakan atau dikenal dengan banyaknya aliran atau sekte keagamaan.

Rasulullah pernah mengatakan suatu saat nanti Islam akan terbagi menjadi 73 aliran. Kalau kita merenungkan sejenak maka umat Islam diibaratkan “Sebuah Gelas yang tadinya utuh tetapi pecah berkeping-keping”. Tinggal kita memaknai bahwa kita merupakan bagian keping yang mana dan tidak menganggap diri yang paling benar. Seharusnya kita yang sudah tahu bagian dari keping-keping gelas maka saatnya kita juga berpikir bagaimana menyatukan kembali keping-keping gelas tersebut menjadi gelas yang utuh sehingga kalau gelasnya sudah utuh maka akan mudah Sang Pemilik menuangkan air jernih ke dalam gelas tersebut.

Dalam hubungannya dengan Pilkada, jelas dan banyak dinyatakan kalau Jakarta adalah Indonesia mini dimana Jakarta menjadi tempat tinggal orang-orang yang berasal dari berbagai macam suku dan bangsa. Ada Jawa, Sunda, Batak, Makasar, Bugis, Palembang, Dayak, Papua, Ambon dan lain-lain. Banyak sekali “kotak-kotak” yang berserakan di Ibukota Negara Indonesia tersebut. Sebenarnya Allah telah mengingatkan dan memberikan petunjuk kepada kita bahwa “kotak-kotak” akan menjadi “pakaian” yang enak dilihat dan pas dipakai apabila bersatu utuh membalut atau menutupi tubuh bangsa dan negara Indonesia agar tidak terkena penyakit.

1344330102158334168
Nisan Galeuh Pakuan Pajajaran (dok.cech)

4 thoughts on “Kotak-Kotak Di Negeri Yang Terkotak

  1. kalau orang yang cermat , mungkin itu adalah pralambang/ simbol, memang sudah saatnya yang terkotak-kotak akan segera bersatu, insya Alloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s