Mulai Dari Fiji Hingga Siti Juleha (I)

Terik matahari sangat menyengat. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.33 WIB. Padahal aku sudah janji dengan seorang teman untuk bertemu di rumah pada pukul 13.00 WIB.

Lalu lintas di jalan Panjang ramai dan padat. Sudah 4 mobil taksi aku hentikan tetapi tidak ada yang merapat. Rupanya hari itu taksi laris manis. Alhamdulillah dengan kesabaran yang tinggi diiringi oleh peluh keringat, mobil taksi kelima berhenti juga di hadapanku. Langsung saja kukatakan dengan tegas ” Jembatan Merah, Menteng Pulo “

Aku sadar bahwa tidaklah mudah perjalanan menuju rumah sang teman. Apalagi waktu itu mulai mendekati waktu istirahat. Rupanya sang supir paham dengan kondisi di jalanan pada saat itu dan dengan ramahnya sang supir memulai pembicaraan denganku.

” Kelihatannya bapak buru-buru ” tanya sang supir.

” Bisa iya bisa juga sih Pak ” jawabku.

” Ya beginilah jalan-jalan di Jakarta. Sudah banyak kendaraan jadi tambah macet. “

” Iya, Pak. Oh ya ini poolnya dimana Pak? “

” Ciputat Pak ” tegas sang supir.

” Sungguh kaget saya melihat kondisi Jakarta pada saat ini. Baru 2 tahun saya tinggalkan, kondisinya makin parah, makin panas, dan makin polusi ” uraiku.

” Lah bapak emangnya tinggal dimana? ” tanya sang supir.

” Saat ini numpang di tempat adik. Saya sedang cuti. “

” Ohh gitu. Trus sebenarnya Bapak tinggal dimana? ” tanya sang supir.

Lantas aku jelaskan seutuh-utuhnya, kalau saya tinggal dan bekerja di Fiji. Fiji? Mungkin itu pikiran sang supir.

” Fiji itu jepang ya Pak “

” Ohh beda Pak, Fiji ya Fiji daerah Pasifik Selatan, Kalau Jepang itu Fuji. “

” Wao, jauh sekali Pak. Kalau saya sudah pasti dilarang oleh ibu saya pergi jauh-jauh apalagi sampai ke luar negeri. “

” Memangnya kenapa Pak kok sampai ibunya melarang bekerja jauh. “

” Ibu saya pernah bilang kalau kerja jangan jauh-jauh. Kalau ada apa-apa kasihan keluarga di kampung. Iya kalau sakit, kalau meninggal bagaimana? Khan kasihan pada saat sakratul maut tidak ada menemaninya. Belum lagi mengurus jenasah pemulangannya. Ini masih di Indonesia kalau di luar negeri ? Memang benar mati itu sudah takdir Allah tapi apa tidak sebaiknya meninggal di kampung halaman sendiri ” terang sang supir.

Percakapan yang makin seru di sela-sela kemacetan dan beberapa kali sang supir mengangkat tangannya untuk memberitahu orang di jalan yang ingin memberhentikan  kalau mobilnya sudah ada penumpangnya. Rupanya hari itu banyak orang membutuhkan taksi.

” Saya ini anak tunggal, Pak. Asalnya Cirebon. Maka itu ibu saya wanti-wanti agar saya jangan merantau ke luar negeri. Tetapi dasar dablek dan keinginan saya yang kuat maju maka saya nekat pergi ke Jakarta dengan bekal hanya lulusan SMA. Alhamdulillah saya diterima kerja di Departemen Keuangan.”

” Jadi, Bapak ini PNS ? ” tanyaku.

” Pensiun Pak. Saya sudah pensium selama 2 tahun setelah bertugas di Depkeu selama 34 tahun. “

” Kok bisa jadi supir taksi ? “

” Jadi supir taksi itu mengisi waktu kosong saja setelah pensiun. Awalnya iseng-iseng eh malah keterusan. Tetapi sebenarnya bukan itu saja. Saya bekerja menjadi supir taksi karena masih ada 2 anak saya yang masih sekolah SD dan SMP. Anak saya semuanya 6  Pak  “

” Sudah berapa lama Bapak menjadi supir taksi ? “

” 2 tahun, Pak. Setelah pensiun umur 55 tahun, saya langsung narik taksi. Saya takut di hari tua menjadi manusia yang tidak berguna. Pokoknya harus produktif dalam hidup ini. “

” Luar biasa semangat Bapak ” sanjung saya.

” Harus dong Pak. Kalau tidak semangat siapa yang akan memberi makan keluarga saya hehehe “

” Tapi setoran lancar khan Pak ?! “

” Namanya rejeki ada masa naik ada masa turun tapi saya syukuri. “

” Kalau boleh tahu berapa setorannya sehari ? “

” 425 ribu. 300 ribu untuk setoran, 125 untuk bensin. Kalau dapat di atas itu  ya jadi rejeki saya Pak. Alhamdulillah pokoknya hehehe ” jelas sang supir.

Memang kalau aku perhatikan sang supir sangat menikmati pekerjaannya. Tampak wajah ceria dan keramahan seperti tidak ada beban dalam hidupnya.

” Begini ya Pak, yang namanya narik taksi khan sama aja dengan pelayanan dan ibadah juga ” oceh sang supir.

” Maksud bapak ? ” tanyaku

” Seringkali supir taksi mengeluh dan menolak penumpang apabila jarak antarnya dekat walaupun dapat pembayaran minimal Rp 15.000 ” ungkap sang supir .

” Benar Pak, saya pernah mengalaminya tuh supir menunjukkan wajah merengut. Menyebalkan ” timpalku.

” Kalau saya, jauh dekat selalu saya terima dan antar karena pamali menolak rejeki. Bahkan ada yang jaraknya dekat sekali dan argo menunjukkan Rp. 11.500. Saat penumpang seharusnya membayar tarif minimum (Rp. 15.000) tetap saja saya akan terima ketika penumpang membayar sesuai argo. ” jelas sang supir tua asal Cirebon ini.

” Baik sekali ” ucapku.

” Nah terbuktikan !!! Bapak telah mendoakan dan puas dengan pelayanan saya khan. Saya yakin penumpangpun akan mendoakan yang sama seperti bapak, karena saya ikhlas maka saya mendapatkan doa dari penumpang. Coba kalau saya ngedumel maka saya akan mendapatkan sumpah serapah ”

” Benar juga sih. Oh ya saya perhatikan memang bapak sangat menikmati pekerjaan taksi ini. “

” Namanya juga cari rejeki ya harus menikmati walaupun  di rumah banyak masalah. Saya selalu berusaha untuk dekat dengan Allah. Kalau bicara Allah, saya jadi teringat dengan istri kedua saya di rumah. Sejarah saya bertemu dengan dia. Pokoknya seru dech Pak. Sampai merinding kalau mengingatnya. “

Istri kedua ? Seru ? Merinding ? Hebat juga nih supir punya 2 istri. Bagaimana ceritanya ya ? Tanyaku dalam hati.

(bersambung)

One thought on “Mulai Dari Fiji Hingga Siti Juleha (I)

  1. I needed to thank you for this wonderful read!! I definitely enjoyed every little bit of it.
    I have got you book marked to look at new stuff you post…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s