Mulai Dari Fiji Hingga Siti Juleha (II)

Sekali lagi sang supir mengangkat tangannya sebagai tanda penolakan terhadap penumpang yang berusaha untuk menghentikan taksinya. Dalam kondisi tersebut sang supir meneruskan percakapan denganku dan terlihat dari kaca spion depan wajah sang supir menunjukkan mimik serius.

” Saya hanya lulusan SMA pada saat saya memberanikan diri untuk merantau ke Jakarta. Dengan mohon restu ibu, saya mendaftarkan diri sebagai PNS di Departemen Keuangan setelah mendapatkan infomasi dari temannya bahwa ada lowongan kerja. ” terang sang supir.

” Kalau boleh tahu, berapa umur bapak pada saat itu ? ” tanyaku ingin tahu.

” Mungkin sekitar umur 20-21 tahun. ” jawab sang supir.

” OK… ” singkatku.

” Setelah mengikuti pendaftar dan tes penerimaan PNS, akhirnya saya diterima. Senang sekali saya pada saat itu karena menjadi PNS bagi orang-orang kampung saya sebagai sebuah prestasi yang luar biasa walaupun gaji yang kami terima minim dibandingkan dengan pegawai swasta. Kalau tidak salah saya digaji Rp. 35.000 per bulan. Saya memulainya dari bawah ya pegawai rendahanlah Pak hehehehe “

” Terus cerita istri keduannya bagaimana ? “

” Saya mau ceritanya dari awal dulu Pak hehehehe. Setelah 2 tahun kerja, saya bertemu dengan seorang wanita yang berasal dari Garut. Karena saling tertarik tanpa pikir panjang, saya melamar dia dan menikah. Dari pernikahan tersebut, kami dikarunia 6 orang anak. “

” 6 Orang anak ? Banyak sekali Pak hahahaha “

” Ya 6 orang walalupun demikian kehidupan pernikahan kami sangatlah bahagia. Dengan keterbatasan yang ada, kami tetap sabar, bersyukur dan ikhlas untuk berjuang bersama-sama agar kehidupan keluarga kami bahagia dan anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak. Sedikit demi sedikit kami mengumpulkan uang sampai pada akhirnya kami dapat memiliki rumah di daerah Cileduk. “

” Sungguh bahagia kehidupan Bapak sekeluarga ” pujiku.

” Ya memang kehidupan kami sangatlah bahagia apalagi satu per satu anak kami menikah dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Semuanya terlihat indah sampai menjelang saya pensiun. “

” Lantas apa yang terjadi selanjutnya ? “

” Nah petaka datang pada saat saya pensiun. Karena kehidupan kami hanya bergantung kepada uang pensiun rupanya istri saya mulai berubah. Hampir setiap hari kami ribut cuma gara-gara uang. “

” Uang Pak? Padahal anak-anak bapak sudah ada yang kerja. Apakah mereka tidak pernah memberikan uang kepada ibunya “

” Ya uang, Mereka seringkali memberikan uang kepada ibunya tetapi entah kenapa selalu saja merasa kekurangan. Yang membuat saya mengelus dada adalah selain berubah menjadi temperamen wataknya, istri mulai jarang sholat. “

” Kok bisa begitu ? “

” Selidik punya selidik, ternyata ada pihak ketiga yang selalu mempengaruhi dia yaitu keluarganya. Dulu sewaktu kerja, istri saya sering membantu keluarganya dengan uang apabila ada yang membutuhkan tanpa sepengetahuan saya. Karena sekarang pensiun maka saya mulai berhemat dan mengurangi pengeluaran yang tidak penting. Itulah penyebabnya. “

” Heran saya. Apakah selama ini istri bapak tidak pernah bersyukur atas apa yang bapak berikan terutama anak-anak yang baik dan soleh. “

” Saya saja sampai heran mengapa bisa begini ? Saya sudah melihatnya bukan sebagai istri saya. Berubah sekali. Hampir setiap hari kami ribut dan menyakitkan istri menghasut anak-anak bahwa bapaknya bukanlah bapak yang baik dan penyebab penderitaan ibunya. “

” Wao !!! “

” Iya pak bahkan pernah salah satu anak saya memaki-maki saya dengan perkataan kotor seperti anjing dan lain-lain. Tetapi saya tetap sabar dan tidak marah. Saya tahu anak-anak tidak tahu apa yang terjadi. Saya hanya menjalankan pesan ibu saya bahwa janganlah kamu marah kepada orang-orang yang menghina kamu karena ketidaktahuan mereka. “

” Nasehat yang luar biasa Pak. “

” Almarhum ibu memang luar biasa. Beliaulah tempat saya mencurahkan kegalauan hati selama ini. Karena sejak umur 5 tahun saya sudah tidak punya bapak. Bapak meninggal dunia karena sakit “

” Ohhh gitu Pak “

” Saya teruskan ceritanya Pak. Dalam kondisi rumah yang tidak sehat dan kondusif, ditambah saya pengangguran, saya tetap bersabar untuk mempertahankan rumah tangga kami. Semua ini saya lakukan karena anak-anak. Bayangkan saya yang sudah memasuki umur senja, masa saya harus berpisah dengan istri yang telah bersama-sama selama 31 tahun. “

” Beban bapak berat sekali dan mungkin tidak mampu berbuat seperti apa yang bapak lakukan “

” Sabar, syukur dan ikhlas. 3 hal itu yang saya pegang Pak. Tetapi takdir berkata lain, tiba-tiba saya mendapatkan surat dari Pengadilan Agama yang memberitahukan bahwa istri mengajukan gugatan cerai. Seperti terkena petir di siang bolong Pak hehehehe “

” Tetapi bapak tetap bertahan khan ? “

” Ya awalnya tetap keukeuh untuk mempertahankan perkawinan kami. Sampai suatu hari anak ketiga saya mengatakan bahwa dia menginginkan kedua orang tuanya bahagia namun apabila tidak dapat dipertahankan lagi sebaiknya berpisah saja. Apalagi ibunya sudah pindah ke rumah orang tuanya dan berpisah dengan dengan kami Setelah anak ketiga ternyata satu per satu anak saya yang sudah dewasa menyarankan saya untuk menerima keputusan cerai dari ibunya demi kebahagiaan saya dan mengakhiri kehidupan neraka di keluarga kami. “

” Terus bapak memutuskan apa ? “

” Dengan mengucapkan Bismillah, saya memutuskan bercerai dengan istri. Memang berat, mungkin ini takdir kami berdua dan remilah kami bercerai. Karena yang memutuskan bercerai adalah istri maka pengadilan memberikan putusan bahwa 2 orang anak yang masih kecil ikut saya dan rumah yang kami tempati tetap menjadi hak saya. Alhamdulillah, sebuah keputusan yang bijak walaupun perceraian itu tidaklah menyenangkan. Berat Pak berat, lebih baik pisah pada saat pacaran yang tidak ada ikatan daripada berpisah dalam ikatan perkawinan karena dalam perkawinan itu ada anak yang seharusnya menjadi tanggungan bapak-ibunya bukan bapak atau ibunya saja “

” Senang saya mendengarnya “

” Nanti dulu Pak ” tegas sang supir.

” ? “

” Kesenangan saya tidak sampai disitu. Allah memang Maha Adil dan Maha Mendengar. Inilah hasil ikhtiar saya mendekatkan diri kepadaNya lewat sholat tahajud, hajat dan istikharah “

” wah wah makin senang saya mendengarnya hahahaha “

” Suatu hari datanglah ketua RT ke rumah saya. Awalnya Pak RT ingin mengantarkan KTP anak saya. Kemudian kami mengobrol. Dari obrolan itu dengan nada bercanda Pak RT bertanya apakah saya masih ingin mempunyaui istri lagi. Saya katakan kalau takdir Allah saya harus menikah lagi maka saya menerimanya dengan keikhlasan. “

” Kok bisa-bisanya Pak RT omong begitu hehehehe “

” Rupanya Pak RT kasihan melihat saya yang sendirian mengasuh kedua anak yang masih kecil dan selalu ditinggal setiap hari karena saya mulai bekerja menjadi supir taksi. Selain itu Pak RT merasa kagum dengan kesabaran saya. Memang hampir tetangga-tetangga rumah tahu kelakuan istri saya sebelumnya dan mendukung saya. “

” Terus Pak RT mengenalkan siapa Pak hehehehe “

” Hahaha bapak bisa aja. Setelah saya mengiyakan maka Pak RT dan ketua mesjid mengajak saya ke sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari rumah. Di situ saya diperkenalkan dengan seorang wanita dan keluarganya. Waduh malu sekali, sudah berumur gini masih saja dijodoh-jodhohin hahahaha.  Rupanya orang tua wanita tersebut sudah lama mengharapkan anaknya menikah. Sudah berumur 38 tahun masih saja belum menikah alias perwan tua hahahahaha “

” Hahahahaha beruntungnya bapak “

” Gimana tidak beruntung Pak. Dengan umur yang tua, duda dan wajah tidak ganteng masih laku juga hahahahaha “

” Terus pertemuannya bagaimana ? “

” Saat itu kami hanya berkenalan saja. Namanya Siti Juleha, bekerja di klinik kesehatan dan kecantikan. Yang membuat saya makin kesemsem, cantiknya puol apalagi dia berjilbab juga.Tanpa menunggu waktu lama mungkin hanya 3 bulan, kami menikah di mesjid sekitar rumah dengan cara sederhana.”

” Wahhh bikin penasaran saja “

Tiba-tiba sang supir mengeluarkan sebuah KTP dan diberikan kepada saya. Terpampang foto wanita cantik berjilbab merah, dengan tanggal lahir 17 Mei 1970 dengan nama lengkap SITI JULEHA.

” Bagaimana Pak ” ujar sang supir dengan bangganya.

” Ini sih cantik banget Pak. Bapak beruntung sekali. Bagi-bagi ilmunya dong Pak hahahaha “

” Tidak ada  ilmunya Pak. Yang penting dekat dengan Allah lewat sholat tahajud, hajat, istikharah agar kita bisa selalu sabar, syukur dan ikhlas. Selain itu menghindari kemarahan karena kemarahan akan mendatangkan penyesalan. “

Akupun terdiam dan merenung sejenak.

” Kok diam Pak… “

” Dalam sekali omongan bapak. Terus bagaimana dengan anak-anak ? “

” Pada dasarnya anak-anak setuju saja walaupun tetap saja ada masalah antara anak saya dengan ibu tirinya. Tetapi semuanya berjalan seperti air mengalir. “

” Bahagianya bapak ” pujiku.

” Alhamdulillah Pak, dari pernikahan kedua ini saya mendapatkan banyak keberuntungan. Usaha taksi saya lancar, sekarang istri berjualan beras di pasar dan kami dapat membeli rumah lagi. Itulah kebesaran Allah, saya yang duda 6 anak diberikan istri yang masih perawan dan cantik. “

Tanpa terasa mobil mulai mendekati rumah teman.

” Tahu nggak Pak. Keberkahan yang saya dapatkan dari Allah dengan memperistri wanita perawan ? “

” Apa itu Pak ?

” 30 persen adalah kebahagiaan…. “

” Terus yang 70 persennya ??? “

” GURIH wakakakakakkakaka “

” Wakakakakakakakakakkakka “

Suara tertawa kami membahana di dalam mobil dan mengakhiri percakapan penuh makna mulai Fiji hingga Siti Juleha karena telah sampai di depan rumah teman. Terima kasih Ya Allah Engkau telah turunkan Malaikan berwujud Supir Taksi demi menjawab kegalauan dan kebimbanganku selama ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s