Haru Biru Suva-Seoul-Jakarta-Bangkok (II)

Perjalanan 3 hariku ke Purwokerto sangatlah berkesan. Inilah pertama kalinya aku dapat mengunjungi makam ibuku yang meninggal dunia 2 tahun yang lalu. Pada saat beliau meninggal, aku tidak dapat menghadiri pemakamannya karena ketidak tersediaannya tiket pulang dari Suva ke Jakarta. Suatu hal yang sangat aku sesali tetapi takdir berkata demikian dan aku menerimanya dengan ikhlas kepergiannya. Bukan hanya ibuku saja yang kukunjungi makamnya, ada makam kakek, nenek dan bapakku. Menangis terseduk dan terus mengucapkan doa mohon ampun kepada almarhum-almarhumah atas kesalahanku selama mereka masih hidup. Selain itu aku ucapkan doa kepada Allah agar segala amal ibadah mereka di dunia mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.

Kunjunganku ke kota kelahiran Bapakku, aku manfaatkan juga untuk merencanakan pembuatan 2 unit rumah di atas tanah warisan bapakku. Setelah melakukan perhitungan yang mendetil bersama kakakku maka lebih menguntungkan membuat 2 unit rumah kontrakkan daripada membuat kamar kos. Kuputuskan bulan depan harus dimulai dengan kakakku sebagai pengawasnya. Tidak terasa perjalanan ke kota tersebut cepat berlalu dan segera aku memutuskan kembali ke Jakarta.

IMG_20130509_095322
dok.cech

Setibanya di Jakarta, aku memutuskan untuk memeriksa telepon selularku agar dapat digunakan di tanah air. Oh ya, telepon selularku dibeli di Suva dan hanya dapat dipakai di wilayah Fiji saja sehingga harus dilakukan unlock. Sebelum pergi ke Roxy, aku periksa semua data penting yang ada di telepon selularku karena kuatir semua data penting hilang dalam proses unlock. Tanpa sengaja aku menemukan email seseorang dalam kondisi terbuka alias belum sign out. Betapa terkejutnya aku setelah membaca sebuah folder pribadi email tersebut. Tersentak, terkejut, marah dan keluarlah seluruh emosiku. Ternyata email tersebut adalah milik orang yang sangat aku cintai. Di dalam email tersebut jelas nyata bahwa sejak enam bulan yang lalu, dia secara intensif berhubungan mesra dengan seorang lelaki. Dia telah berselingkuh, dalam pikiranku. Mesra sekali ditambah dengan kiriman foto-foto dari pria tersebut kepada dia. Langsung saja aku kirimkan pesan lewat sms dan fb betapa khianatnya dia terhadap diriku. Tidak ada artinya kata cinta yang terucap dari mulutnya kepadaku selama ini.

Masih dengan amarah yang tinggi dan kurang tidur, keesokan paginya aku telpon dia di Solo. Dalam kondisi baru bangun tidur, dia mohon kepadaku untuk menjelaskan semuanya. Aku mengabaikannya. Kenapa dia dapat berbuat seperti itu. Kenapa? Dalam beberapa penjelasannya, dia mengakui kalau lelaki yang ada di emailnya tersebut adalah lelaki pilihan orang tuanya karena dari awal hubungan kami tidak disetujui oleh orang tua. Aku menyadari itu tetapi aku butuh kejujuran. Mengapa hal ini tidak dikatakannya pada saat di Fiji? Mengapa baru sekarang ? Langsung saja terbayang rencana cutiku ke tanah air untuk bersenang-senang. Buyar dan terasa hampa semuanya. Kalau tahu begini lebih baik aku tidak pulang ke tanah air. Bahakan kalau dia dari awal cerita tentang lelaki tersebut maka aku akan menyuruhnya pulang ke tanah air terlebih dahulu dan aku pulang di lain waktu,

Aku marah, marah dan marah. Emosionalku memuncak dan tanpa pikir terucap bahwa aku meminta semua uang yang telah kukeluarkan kepada dirinya selama ini dan meminta semua barang-barang yang pernah kuberikan kepadanya. Rupanya pada saat aku marah-marah via telepon terdengar oleh adikku. Langsung saja aku diajak masuk ke dalam untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dengan lembutnya adikku berkata aku tahu mas. Mas selalu membantu orang lain tanpa pamrih dan lahir batin dengan tidak berharap balasan, Ikhlaskan semua yang telah mas berikan. Tuhan akan menggantinya kelak dengan jumlah yang lebih besar dari uang yang dikeluarkan selama ini. Akupun tersadar dan memang benar aku mengeluarkan segalanya termasuk uang karena ketulusan cintaku kepadanya. Memang berat tetapi aku harus bisa mengikhlaskannya.

Keesokan padi harinya aku bertemu dia di Blok M. Tetapi suasananya sudah tidak menyenangkan. Sepanjang perjalanan menuju Kuningan, kami berdua hanya dia dan berkata seadanya,  Aku datang menemuinya karena aku ingin menepati janjiku untuk menuntaskan semua masalah beasiswanya termasuk pengurusan visa studi ke Thailand. Ternyata pengurusan visa berjalan cepat dan visa diambil 2 hari kemudian. Dia memutuskan untuk menginap semalam di Jakarta. Aku menemaninya sampai di tempat penginapan sekaligus meminta penjelasan dia tentang hubungan kami berdua, Dia tak kuasa menahan tangisnya. Diceritakan semua mengapa dia mengambil keputusan untuk berpisah denganku. Semuanya atas nama “restu”. Restu ? Ya restu orang tua. Berulangkali dia telah menjelaskan kepada orang tuanya bagaimana sosok diriku yang dianggap sebagai pria yang layak menjadi pasangan hidupnya tetapi orang tuanya terutama bapaknya  tak bergeming dan tetap pada keputusannya untuk melarang hubungan kami. Seharian kami saling mencurahkan perasaan masing-masing.  Sebenarnya kami saling mencintai dan menyayangi tetapi apa daya keputusannya telah ditetapkan olehnya walaupun aku masih tidak dapat menerimanya dan menganggap semuanya omong kosong dan tak berdasar alasannya.

Keesokan paginya aku antar dia kembali ke Blok M sesuai permintaannya. Terasa berat hati ini melepas kepergiannya saat Bus Damri yang membawanya ke Bandara Soetta pergi meninggalkanku dengan hati hancur berkeping-keping. Cuti yang harusnya menghibur malah menjadi cuti dengan hati hancur lebur. Walaupun demikian, aku masih merasa yakin akan kesempatan sebelum dia berangkat ke Bangkok minggu depannya.

Satu minggu kumanfaatkan untuk tetap berkomunikasi dengannya. Kadang menyenangkan kadang menyedihkan karena kami tak kuasa menahan emosi sehingga seringkali terjadi pertengkaran yang seharusnya tidak perlu terjadi, Aku yang ditinggalkan merasa ada suatu yang dihitung-hitung kembali sesuai dengan apa yang sudah aku keluarkan. Tetapi aku tersadar bahwa apa yang kulakukan untuknya adalah bukti keikhlasan cintaku kepadanya. Perang batin terjadi, apa yang aku dapat sementara dia seperti sosok tak bersalah dengan keputusannya. Dia mendapatkan apa yang diinginkan sementara aku yang turut berjuang demi cita-citanya ibarat habis manis sepah dibuang. Tragis… tragis sekali nasibku. Begitulah perang batin dan pikiran yang berkecamuk di dalam diriku. Woiii apakah yang sudah kulakukan kepada dirinya selama ini tidak pantas diperjuangkannya di hadapan orang tuanya cuma gara-gara restu. Hidupnya yang menentukan adalah dirinya bukan orang tuanya dan ini bukan jamannya Siti Nurbaya dengan perjodohan yang dicari orang tua untuk anaknya sebagai model. Tetapi …

Tibalah pada hari H dimana dia akan berangkat ke Bangkok. Karena ada titipan barang untuk  beberapa orang teman Fiji yang diamanahkan kepadanya untuk dibeli dan dititipkan kepadaku  maka dia memintaku untuk bertemu di Bandara Soetta jam 12 siang. Jam 11 pagi telpon berbunyi ternya dia menanyakan posisiku. Dan aku katakan sedang dalam perjalanan menuju bandara. Ternyata aku tiba terlebih dahulu dan belum terlihat wajah manisnya di sekeliling terminal 3. Setekah kutunggu sekian menit, kembali terdengar suara dering telponku. Pasti dia pikirku dan baru saja aku angkat ternyata dia sudah ada di balik bus yang baru tiba dengan membawa satu koper, satu tas kecil dan ransel birunya.

Tanpa banyak buang waktu, dia menyerahkan titipannya dan ketika aku mengatakan untuk segera pergi. Tersirat wajah kecewanya, akhirnya aku putuskan untuk menemaninya sampai dia masuk ke pintu keberangkatan. Selama 2 jam kami masih bisa bersama dengan suasana yang berbeda tetapi aku tahu kalau diapun berat meninggalkan dan berpisah denganku. Setengah jam sebelum keberangkatan, dia menyuruhku untuk segera pulang dan dengan canda penuh kesedihan dia berkata ” Mas sekarang pergi dulu karena aku ingin melihat mas berjalan menjauh dariku sehingga aku dapat menangis “. Terhenyak aku mendengarnya dan aku ambil keputusan untuk menunggunya hingga masuk ke dalam loket imigrasi. Diapun berjalan meninggalkan dan aku hanya terdiam sedih. Dan pada saat aku memanggil namanya ” Yang… Sayang !!!! “. Tiba-tiba aku tersadar karena ada setuhan tangan nan lembut yang berusaha membangunkan aku dari mimpiku. Ternyata dia yang membangunkanku dan memberitahu kalau pesawat kami akan segera  mendarat di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand dan mengantar kami untuk berlibur sekaligus berbulan madu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s