Kembali Ke Fitrah Manusia : Dosa Dan Keinginan

” Sebagai umat Islam, kita mengenal dua syahadat yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul tetapi sebagai manusia, kita harus mengerti dua syahadat manusia atau dua adat syah yang dimiliki manusia yaitu DOSA dan KEINGINAN. Bukan manusia kalau tidak mempunyai DOSA dan KEINGINAN “

Kalimat-kalimat di atas selalu terngiang di ingatan saya ketika Uyut memberikan nasehatnya. Apakah ada kaitannya dengan fitrah manusia dalam menyikapi Idul Fitri 1434 H ? Saya menjawabnya ada dan ini menjadi perenungan dalam menyikapi Idul Fitri tahun ini.

Image
Lokasi sembahyang di stasiun kereta api di Bangkok, Thailand (dok.cech)

Euforia kegembiraan jelas terlihat ketika datang hari yang dianggap nan suci tersebut.

” Kita kembali fitrah… “

” Kita kembali suci setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh “

” Kita maaf-maaf-an … “

Itulah beberapa ungkapan yang sering saya dengar pada saat menjelang atau hari-H, semua berlomba-lomba mohon maaf dan lahir batin pula. Apakah mereka meresapi makna lahir batih atau tidak ? Hanya diri dan Allah SWT yang mengetahui.

Kembali ke masalah syahadat manusia. Lihat apa yang terjadi ? Ya benar manusia kembali ke fitrahnya yaitu Dosa dan Keinginan. Umat Islam tanpa sadar sedang melakukan pemborosan dan lupa tentang 2 syahadat manusia walaupun dengan dalih yang masuk akal pula, khan ini terjadi setahun sekali dan saatnya kita menyambut datangnya Idul Fitri dengan berlebihan.

Hampir setiap rumah bertebaran berbagai jenis makanan baik kue maupun makanan utama pengisi perut sampai-sampai perut over kekenyangan dan sakitlah efeknya. Ya itulah khan tidak setiap hari lagi pula setahun sekali. Jadi apa yang didapat dari puasa kemarin ? Seharusnya bagi manusia yang mengerti apa itu fitrahnya maka akan menggali, memperlajari, dan mengamalkan apa itu Dosa dan Keinginan.

Manusia yang selalu Iqra akan paham kalau dirinya dilahirkan sudah berdosa dan tidak ada itu yang namanya pengurangan dosa tetapi bagaimana kita mengendalikan dan menghindari terjadinya dosa sebagai hasil puasa Ramadhan. Untuk dikatakan suci sungguh hal yang tidak mungkin meskipun seorang rasul/nabi. Begitu pula dengan Keinginan. Setiap manusia mempunyai keinginan tetapi yang terpenting adalah bagaimana mengendalikan keinginan dan mengetahu seberapa besar porsi keinginan yang memang haq pribadi sesuai dengan qudrat dan iradat Allah SWT.

Ada cerita menarik yang secara tidak langsung berkaitan dengan dosa dan keinginan. Sebelum puasa, seorang teman bercerita bagaimana sakitnya dia diputuskan oleh kekasihnya yang sudah digadang-gadang sebagai calon istrinya. Sang mantan ternyata “selingkuh” dengan pria lain. Bukan masalah putus atau perselingkuhan yang menjadi masalah berat tetapi ungkapan dari sang mantan dengan pria selingkuhannya kepada dia.

Sang mantan mengatakan dengan tegas kepada teman saya sebagai berikut:

” Selama ini kita telah melakukan dosa besar yaitu berhubungan seksual layaknya pasangan suami istri alias tanpa ikatan resmi dan ini zina. Zina itu dosa besar maka saya akan bertobat, menjaga ucapan dan hanya akan melakukan hubungan seksual dengan suami saya yang sah secara agama dan negara “

 Wow pertobatan luar biasa yang saya dengar dari  seorang perempuan muslim berdasarkan cerita teman saya tersebut.

Selanjutnya ungkapan pria selingkuhan mantannya yang tak kalah menariknya kepada teman saya/

” Sebagai orang yang berumur lebih tua dan dewasa seharusnya mas dapat menghindari terjadinya hubungan seksual dengan dia (mantan) selama ini, Karena itu adalah dosa besar (zina). “

Betapa terkejut dan malunya teman setelah mendengar ucapan pria tersebut yang usianya lebih muda. Bijaksana dan sabar sekali pria tersebut dalam pikiran teman saya. Jadi pantaslah mantannya memilih dia.

Tetapi apa yang terjadi kemudian ? Kembali lagi itulah manusia yang selalu tidak sadar dengan fitrah atau syahadatnya yaitu dosa dan keinginan. Beberapa hari yang lalu sang teman bercerita kembali tentang mantan dan kekasih/calon suaminya.  Dari raut wajahnya terlihat perubahan yaitu dari wajah respek sebelum menjadi wajah kecewa.

” Munafik semuanya, Cech. Apakah ini yang disebut umat Islam? Umatnya Nabi Muhammad SAW? Mereka berdua bicara moral dan menasehati saya tentang apa itu zina ? Apa itu dosa besar ? Apa itu tobatan nasuha ? Tetapi mereka melakukan perbuatan zina tersebut ? Terlepas mereka akan menikah atau baru calon suami/istri tetap saja mereka melakukan hubungan seksual tanpa ikatan resmi secara agama dan negara. Zinalah namanya dan saya hanya bisa beristighfar memohon ampun atas segala perbuatan dosa besar yang dilakukan selama ini. Sepertinya mereka sudah tidak dapat menahan hawa nafsu mereka karena dilakukan menjelang puasa. Saya punya buktinya… Jadi puasa Ramadhan kemarin itu hanya sekedar ritual tahunan tanpa makna “

Kembali lagi itulah manusia dengan fitrahnya yaitu dosa dan keinginan. Pertanyaannya adalah apakah kita mau memahami dan menjalankan fitrah itu dengan baik dan benar ? Idul Fitri itu bukan berarti kita kembali suci tetapi kita tahu bahwa kita mempunyai dosa dan keinginan yang banyak kecuali orang-orang yang beriman dan mau berpikir dengan Iqranya apa itu DOSA DAN KEINGINAN.

Dalam menyambut Idul Fitri 1434 H , saya hanya dapat mengucapkan MOHON MAAF LAHIR SAJA karena BATIN ini belum benar adanya alias dalam status DECONSTRUCTION

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s