” Resep Dokter Tidak Berlaku Di Rumah Sakit Ini “

Satu minggu ini, bangsa Indonesia diramaikan berita tentang masalah pasien,  dokter, rumah sakit dan Mahkamah Agung. Banyak polemik yang terjadi dalam menanggapi masalah tersebut baik yang pro maupun kontra. Terus terang saya tidak begitu mengikuti perkembangan berita tentang hal tersebut. Yang saya ketahui di Indonesia ada demo para dokter di seluruh Indonesia.

Dalam tulisan ini, saya tidak ingin mengomentari tentang polemik tersebut. Saya hanya ingin menceritakan tentang pengalaman pribadi yang dialami selama berhubungan dengan dokter dan rumah sakit. Kisah nyata dalam tulisan ini adalah salah satu pengalaman menarik yang dialami selama berhubungan dengan dokter dan rumah sakit. Silakan para pembaca untuk menilainya sendiri dan berharap bersikap bijak dalam memandang sebuah kejadian.

Kalau bicara tentang dokter dan rumah sakit maka saya boleh dibilang cukup pengalaman. Ada kisah sedih, gembira, sebel, kecewa dan lain-lain bercampur aduk jadi satu. Mengapa saya mengatakan berpengalaman ? Sejak tahun 1996 sampai tahun 2010, interaksi saya dengan dokter dan rumah sakit boleh dibilang intens bahkan bosan juga dibuatnya tetapi ini menjadi pengalaman menarik dalam hidup saya.

Sample Resep Dokter (pharmacy.about.com)

Hampir 14 tahun saya selalu berhubungan dengan dokter dan rumah sakit karena selama itulah saya mengurus penyakit yang diderita almarhumah ibu. Pada awalnya almarhumah teridentifikasi mengidap penyakit diabetes. Nah dari diabetes itulah penyakit almarhumah merambah kemana-mana. Mulai dari jantung, stroke sampai lumpuh kaki beliau. Hampir tiap tahun almarhumah dirawat di rumah sakit dan dalam setahun rata-rata  masuk rumah sakit sampai 3 kali. Bayangkan 3 kali setiap tahunnya dan selama 14 tahun almarhumah mengalami koma sampai 8 kali. Selain itu beberapa rumah sakit di Jakarta sudah pernah didiami almarhumah. Sampai-sampai dokter yang merawat beliau terkaget-kaget melihat track record kesehatan beliau, kok kuat sekali ya ibu anda. Begitulah ucapan beberapa dokter yang merawatnya, Memang almarhumah ibu luar biasa daya tahan tubuh dan semangatnya untuk tetap hidup dan sembuh.

Ada satu waktu almarhumah koma di rumah dan dibawa ke rumah sakit. Sepanjang jalan keponakan dan almarhum bapak menangis dan memperkirakan almarhumah tidak dapat bertahan hidup karena memang sudah tidak sadarkan diri. Tetapi saya tetap tenang dan yakin kalau almarhumah dapat sadar kembali dan hidup lebih lama. Semua orang termasuk dokter yang merawat almarhumah sampai heran dengan keyakinan saya. Mungkin karena saya yang selalu mengurus dan menjaga beliau setiap koma maka saya tahu secara feeling kalau beliau dapat bertahan hidup.

Ok ! saya akan menceritakan kejadian unik pada saat dirawat di sebuah rumah sakit swasta di daerah Kedoya, Jakarta Barat. Kejadiannya sekitar tahun 2002, saya ingat sekali tahunnya karena Jakarta saat itu dilanda banjir hebat dan menggenangi rumah saya juga. Pada saat itu kehidupan keluarga kami morat-marik. Krismon tahun 1998 meluluh lantahkan perekonomian keluarga terutama usaha almarhum Bapak. Usaha Bapak mengalami kebangkrutan sampai tidak mampu membayar kredit bank yang bunganya luar biasa sekali. Rumah yang kami tinggali saat itu masih dalam jaminan bank dan sedang menuju proses pelelangan. Bayangkan sudah bangkrut, rumah mau dilelang, almarhumah masuk rumah sakit. Rumah kami memang besar dan dalam lingkungan perumahan elit tapi kami tidak mempunyai uang sama sekali. Yang tersisa adalah mobil mitsubishi tahun 1972 milik saya dan kondisinya pun tidak layak jalan.

Siang hari itu, almarhum bapak memangil-manggil saya untuk memeriksa kondisi almarhumah ibu yang sudah tidak sadarkan diri alias koma. Saya menduga gula darah almarhumah naik karena beliau memang terkenal tidak disiplin dalam menjaga dietnya. Almarhum Bapak bingung dan tahu harus berbuat apa. Membawa ke rumah sakit sekelas Harapan Kita atau Islam Jakarta atau Pelni kuatir ditolak karena kami memang tidak punya uang sama sekali untuk jaminannya. Untuk makan saja sudah empot-empotan apalagi buat jaminan rumah sakit, darimana dapat uangnya. Akhirnya saya memutuskan untuk membawa almarhumah ke rumah sakit kecil dekat rumah di daerah Kedoya. Saya punya keyakinan bahwa rumah sakit tersebut dapat menerima almarhumah tanpa jaminan uang sama sekali karena saya mengenal beberapa petugas administrasi di rumah sakit tersebut dan yakin almarhumah menjadi pengecualian dalam syarat membayar jaminan.

Benar saja, sesampainya di rumah sakit tersebut almarhumah dapat segera dirawat karena ada petugas administrasi yang saya kenal bertemu saat almarhumah diturunkan dari ambulance yang menjemput almarhumah dan kami di rumah. Hari pertama dan kedua almarhumah belum sadarkan diri dan kami masih dibebaskan untuk membayar tebusan obat alias diambil dulu obatnya dan masalah bayar dapat dilakukan belakangan. Hari ketiga almarhumah sadarkan diri tetapi masih dalam kondisi lemah. Pada saat itu saya masih di rumah karena malam hari saya dapat giliran jaga.

Menjelang sore, almarhum bapak pulang ke rumah dengan wajah lesu dan bingung. Akhirnya saya menanyakan ada apakah gerangan yang membuat almarhum bapak seperti itu. Sebelum cerita almarhum bapak menyerahkan selembar kertas kepada saya. Ooo rupanya resep dokter. Beliau menceritakan bahwa resep dokter tersebut harus dibayar berikut total biaya selama 2 hari perawatan. Dapat uang darimana pikir beliau. Saking sudah tidak bisa berpikir lagi, beliau menyuruh saya untuk mencari cara dan menyelesaikan pembayarannya karena kalau tidak almarhumah ibu tidak dapat lagi dirawat atau diberikan obat. Padahal obat tersebut sangat penting bagi pemulihan kesehatan almarhumah ibu.

Setelah berpikir sejenak dan berdoa dalam hati, saya ambil resep dokter dan bpkb mobil saya. Selanjutnya saya memutuskan berangkat ke rumah sakit segera. Sesampainya di rumah sakit saya ke apotik dan benar saja resep dokter tidak dapat ditebus alias obat tidak dapat diberikan seperti biasanya sampai kami harus bayar administrasi perawatan 2 hari sebelumnya. Petugas apotik menyarankan saya untuk bertemu bagian administrasi. Bergegaslah saya ke bagian administrasi rumah sakit dan berusaha bertemu dengan teman saya di bagian tersebut. Alhamdulillah saya dapat bertemu dengannya dan berharap dapat kompensasi beberapa hari sampai kami mendapatkan uang untuk membayar semua biaya perawatan.

Ternyata o ternyata, petugas administrasi teman saya tidak dapat membantu karena terbentur masalah peraturan manajemen rumah sakit. Saya berusaha negosiasi dengan rumah sakit. Caranya dengan menjamin bpkb mobil mitsubishi tahun 1972, khan lumayanlah nilai buat bayar 2 hari perawatan almarhumah ibu. Tetapi ditolak oleh manajemen rumah sakit karena rumah sakit bukanlah tempat pegadaian. Penolakan rumah sakit tersebut membuat saya bingung dan patah semangat. Dari mana saya mendapatkan uang ? Buntu pikiran saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menengok almarhumah. Pikiran masih saja tidak tenang dan kuatir dengan kondisi almarhumah ke depannya.

Pukul menunjukkan jam 9 malam, tiba-tiba saya mendengar suara dokter yang merawat almarhumah sedang marah-marah kepada perawat. Rupanya dokter tersebut marah kepada perawat karena perawat tidak segera memberikan obat atau injeksi ke almarhumah ibu. Setelah mendapatkan penjelasan perawat, beberapa menit kemudian dokter datang menemui saya.

” Bagaimana sih Mas. kok obatnya tidak segera ditebus ? ” tanya dokter.

” Begini dok… ” saya berusaha menjelaskan.

” Begini apanya, Mas khan tahu bagaimana kondisi ibu mas. Seharusnya jangan ditunda-tunda pengambilan obatnya ” sela dokter.

” Begini dok, terus terang saya sudah datang ke apotik dan berusaha menebus resep dokter. Tetapi ditolak ” jelas saya.

” Ditolak bagaimana ? ” ujar dokter dengan nada meninggi.

” Ya ditolak dok, karena resep dokter tidak berlaku di rumah sakit ini ” terang saya dengan kalem.

” Hah !!! tidak berlaku di rumah sakit ini. Mana resepnya ? ” tanya dokter sedikit teriak.

Segeralah saya menyerahkan resepnya ke dokter. Dokterpun bergegas meninggalkan saya dan langsung menuju apotik di lantai dasar.

Saya pun mulai ketar ketir dengan apa yang terjadi kemudian. Wah bakal diusir saya dan almarhumah ibu dari rumah sakit pikir saya pada saat itu karena saya telah berbohong mengenai resep tersebut.

Apa yang terjadi kemudian saudara-saudara ? Sejam berlalu dan saya pun mendengar langkah kaki menghampiri saya.

” Mas, bisa datang ke ruangan saya ” pinta dokter dengan wajah sedikit dingin.

Segeralah saya mengikuti dokter ke ruangannya.

” Silakan duduk, Mas ” dokter mempersilakan.

” Terima kasih “

” Begini Mas, saya sudah cek ke apotik dan administrasi. Ternyata… “

” Ya dok, saya tahu saya salah dan telah berbohong tentang resep. ” sela saya.

” Tetapi mengapa mas harus melakukan hal tersebut. Khan bisa bicara terus terang dengan saya “

” Maaf dok sekali lagi saya minta maaf. Saat itu saya bingung apalagi saya mendengar dokter habis marahi perawat. Spontanitas aja saya bicara tentang resep tersebut. “

” Terus bagaimana penyelesaiannya Mas. Ibu mas harus dilakukan perawatan intensif dan membutuhkan waktu yang lama “

” Terus terang kami tidak punya uang saat ini. Yang ada hanya bpkp mobil tua saya dan saya sempat menjaminkannya ke rumah sakit tapi ditolak. Kami tahu kalau kami punya kewajiban tetapi tolong kami diberikan waktu karena kami yakin dapat menyelesaikannya. Lagipula yang dirawat itu ibu saya, masak saya akan membiarkan begitu saja. Percaya dok, dalam 2 hari ini saya akan mendapatkan uang untuk menyelesaikan semuanya. “

” Benar ya Mas ? “

” Ya dok, Bismillah dok saya akan menyelesaikan semuanya “

” Ok, begini saja saya akan menjamin seluruh biaya perawatan ibu mas selama dirawat di rumah sakit ini. Jaminannya adalah saya sendiri. Tetapi saya mohon mas dan keluarga tetap berusaha untuk mencari dana agar dapat meringankan saya juga. Bagaimana ? “

” Alhamdulillah, terima kasih. Insya Allah saya dan keluarga tidak akan mengecewakan dokter yang telah berbuat baik kepada kami. “

Setelah itu dokter mengajak saya ke bagian administrasi. Di ruangan administrasi itulah dokter baik hati tersebut menjamin perawatan ibu selama berada di rumah sakit dan menandatangani surat jaminan rumah sakit. Terharu saya melihat kebaikan dokter. Saya pun memeluk beliau sebagai ungkapan rasa sangat berterima kasih.

Kejadian malam itu saya ceritakan kepada almarhum bapak. Beliaupun menangis terharu bahwa  ada orang lain yang dapat membantu masalah kami. Tetapi ada satu pertanyaan beliau kepada saya. ” Kok bisa-bisanya kamu mengatakan kalau resep dokter tidak berlaku di rumah sakit sih ” Saya menjawab dengan tertawa, ” itulah spontanitas dan kreatifitas ” Dalam kondisi kepepet kadangkala keluarlah kreatifitas seorang manusia yang tidak pernah diduga sebelumnya hehehe.

4 hari kemudian saya mendapatkan bantuan uang dari beberapa teman sehingga saya dapat membayar seluruh biaya perawatan rumah sakit almarhumah ibu.  Yang terpenting adalah saya dapat memenuhi janji kepada dokter sehingga tidak membenani dokter yang telah banyak membantu kami sekeluarga. Terima kasih Dokter U di RSUP F (tempat beliau sebenarnya praktek). Biarlah hanya Allah SWT yang tahu kebaikan Pak Dokter karena beliau tidak ingin ada unsur Riya di hadapan Nya.

2 thoughts on “” Resep Dokter Tidak Berlaku Di Rumah Sakit Ini “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s