Mencermati Peran Antagonis Ruhut Sitompul

Suatu hari seorang Kyai sepuh yang saya hormati pernah mengatakan. “Tahukah siapa makhluk ciptaan Allah yang paling setia? Jawabannya adalah setan. Setan siap dengan konsekuensinya dari sikap setianya kepada Allah yaitu neraka. Setan menolak untuk tunduk kepada manusia yang dikatakan makhluk paling sempurna dan mulia tersebut. Setan  hanya mau tunduk dan menyembah Allah. Neraka menjadi pilihannya dan itu dipegang teguh sampai sekarang walaupun dengan syarat diperbolehkan untuk menggoda manusia sampai akhir jaman. “

Apa hubungannya dengan Ruhut Sitompul ? Cara hidup adalah pilihan. Apakah berperan protagonis atau antagonis atau kedua-duanya? Ini menariknya dan perlu diancungi jempol. Ruhut Sitompul mengambil sikap yang jelas dalam jalan hidupnya yaitu peran antagonis. Ruhut sepertinya paham neraka yang akan dialaminya dengan sikap antagonis. Dicaci, dimaki, diumpat, dimarahi, dianggap penjilat, manusia rendahan dan lain-lain. Tetapi tidak ada Ruhut Sitompul maka tidak akan ramai seperti yang dikatakan oleh calon presiden konvensi partai Demokrat Pramono Edhie Wibowo. Ruhut selalu meramaikan suasana blusukan Pramono Edhie Wibowo karena banyak orang yang memintanya untuk berfoto bersama. Tidak ada Ruhut maka tidak ramai, Mungkin itu ungkapan yang pas untuk seorang Ruhut. Buktinya komentar Ruhut selalu ditunggu oleh para jurnalis media cetak, elektronik dan social media untuk dijadikan berita. Menyebalkan, mungkin itu kata yang terucap pertama kali setiap membaca komentarnya termasuk saya saat membacanya.

Tetapi Ruhut konsisten dan konsekuen. Hal ini jarang dilakukan oleh manusia Indonesia. Sebagian besar ingin mencari selamat dan berada di area abu-abu (gray area). Tampak baik ucapan dan penampilannya tetapi kelakuannya buruk alias tidak sesuai dengan ucapannya. Contohnya sudah banyak sekali dan saya alami sendiri.

Suatu hari saya dinasehati oleh seorang teman dengan gayanya yang tampak alim untuk rajin sholat 5 waktu. Nasehat itu dikatakannya di depan mesjid. Ajakan yang baik dan saya apresiasi, tetapi apa yang terjadi beberapa menit kemudian. Sungguh membuat saya tersenyum dalam hati. Sang teman dengan santai dan enteng membawa motor melawan arah bersama-sama rombongan motor yang lain dengan alasan putarannya jauh. Lah terus efek dari sholat di mesjid itu apa dong. Saya hanya geleng-geleng kepala. Allah berfirman Sholat itu untukmu dan tiang agama sehingga benar atau tidaknya sholat kita dilihat dari perbuatan sehari-hari.

Contoh yang lain adalah saat saya membaca sebuah berita tentang ditahannya seorang tokoh muda yang dulu mantan ketua partai oleh KPK karena kasus korupsi. Ada beberapa teman muslim dengan penampilan alim dan tampak rajin ibadahnya tetapi sibuk berghibah dalam tulisan dan komentarnya. Dibuatlah tulisan dan komentar  yang seolah-olah mereka mengetahui dengan jelas tentang tokoh muda tersebut bagaikan teman dekat yang selalu mengiringi kemanapun tokoh muda itu beraktifitas 24 jam/7 hari sehingga seperti tahu tentang istri, anak, orang tua, mertua, mobil, rumah bahkan pakaian dalamya kalau perlu. Padahal itu semua didapat dari pihak ketiga yang tidak jelas juga sumbernya. Ini yang disebut dengan berbicara atas dasar katanya katanya dan katanya tetapi dibuat seperti sebuah kebenaran. Hmmm ironis. Ghibah, gosip, umpat, fitnah tanpa disadari menyelimuti orang-orang yang membacanya. Apakah ini yang dikatakan Munafik ? Silahkan menilai sendiri.

Terus terang saya lebih menghormati orang-orang yang konsisten dan konsekuen dengan pilihan cara hidupnya. Contohnya adalah Ruhut Sitompul. Menyebalkan tapi mengandung hikmah. Dibandingkan dengan orang-orang yang ingin dianggap baik tetapi ucapan dan perbuatannya berbanding terbalik.

Saya menyadari kalau diri ini bukanlah orang baik tetapi saya memegang nasehat Eyang Sukma Nur Rasa bahwa lebih baik diam kalau tidak mengetahui 100 % atau A-Z sebuah masalah. Tetapi bukan diam di tempat tetapi Melihat, Mengetahui dan Melakukan sehingga jelas progresnya untuk menjadi lebih baik.

Memang tidak ada manusia yang sempurna. Sempurna dalam berbuat baik dan sempurna dalam berbuat buruk tetapi tegas dalam mengambil sikap untuk memilih cara hidup.

Aku bukan orang baik,
banyak kesalahan yang diperbuat
banyak janji yang diingkari
banyak omongan yang tidak dijaga
banyak amanah yang belum dipenuhi

Aku bukan orang baik,
banyak dosa yang dilakukan
banyak kebenaran yang dihilangkan
banyak kebohongan yang dikatakan
banyak kesombongan yang dipertunjukkan

Aku bukan orang baik,
banyak keserakahan yang diperjuangkan
banyak nafsu yang diumbarkan
banyak pembenaran yang dipertahankan
banyak kesucian yang dikotori

Aku bukan orang baik,
jangan percaya apa yang dikatakan
jangan meyakini apa yang diajarkan
jangan mengagungkan apa yang ditampilkan
jangan memuji apa yang dihasilkan

Aku hanya manusia biasa yang tak pantas dikatakan baik
Aku hanya makhluk hidup yang tak mengerti arti kehidupan
Aku hanya bangkai hidup yang tak layak didekati
Aku hanya ciptaan yang tak menyadari untuk apa diciptakan

Aku bukan orang baik…aku bukan orang baik… dan aku bukan orang baik

Kekuatanku adalah kelemahan
Keyakinanku adalah kebimbangan
Keilmuanku adalah kebodohan
Keimananku adalah kesirikan

Sahabat, Aku bukan teman yang baik
Guru, Aku bukan murid yang baik
Ibu-bapak, Aku bukan anak yang baik
Allah, Aku bukan manusia yang baik

Sahabat, guru, ibu-bapak maafkan diriku
Aku bahagia, kalianlah menjadikan diriku baik
Bila saat itu tiba, janganlah tangisi diriku
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku kepadaMu

“Tahukah mengapa pisau harus bersarung? Kekuatannya bukan berada pada ketajamannya tapi pada sarungnya. Standar tinggi dalam bela diri adalah sifat diri.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s