Mempertanyakan Kinerja Intelejen Negara Terhadap Kekayaan Alam Indonesia

Suatu hari saya pernah bertanya kepada Almarhum Bapak. Bagaimana beliau dengan mudahnya mendapatkan informasi tentang kinerja, kapasitas, kuantitas dan kualitas produksi sebuah perusahaan yang merupakan kompetitor perusahaan yang beliau pimpin ? Jawaban beliau adalah mudah dan sederhana caranya asal mau melakukan.

Sebagai Direktur Utama, Almarhum  mempunyai tanggung jawab kepada pemilik modal agar perusahan yang dipimpinnya memberikan profit yang tinggi, mempunyai kinerja yang baik dan langgeng usahanya. Tahukah apa yang dilakukan beliau ? Cukup menyewa 2 orang sebagai intel bekerja secara bergantian (shift siang dan malam) untuk mengamati pabrik perusahaan kompetitor. Setiap hari selama 1 bulan, 2 orang sewaan tersebut nongkrong di warung kopi depan perusahaan kompetitor. Selama sebulan, mereka mencatat aktifitas truk barang yang keluar dan masuk ke pabrik tersebut. Dari total jumlah truk barang yang keluar dan masuk maka Almarhum sudah dapat menghitung dan memperkirakan kapasitas produksi dan kinerja pabrik milik kompetitor tersebut. Mudah khan, begitu kata beliau. Selain mudah, murah pula karena cukup menyewa 2 orang pengangguran dengan bayaran yang tidak besar tetapi mendapatkan informasi yang terpercaya. Sayapun merasa kagum dengan taktik beliau untuk menghadapi dan mengalahkan kompetitornya sehingga tidak mengherankan perusahaan yang almarhum pimpin sempat menjadi perusahaan corrugated dan carton box terbesar di Indonesia.

Selanjutnya apa hubungannya dengan intelejen negara dan kekayaan alam Indonesia ? Sebelum saya menguraikan, sebaiknya kita melihat peta berikut :

13766323641892089383

Kalau kita melihat peta tersebut maka akan banyak komentar miring dengan berbagai macam perasaan dan yang jelas kita tidak terima dengan penguasaan asing terhadap kekayaan alam negara Indonesia. Jadi selama ini kita hanya sebagai bangsa penonton saja dan bisanya hanya terkejut-kejut.  Pertanyaannya adalah apakah negara dalam hal ini pemerintah Indonesia tahu, tidak tahu atau pura-pura tidak tahu ? Menurut saya, negara pasti tahu buktinya peta tersebut dikeluarkan oleh BP Migas yang sekarang menjadi SK Migas.

Beberapa alasan akan dikatakan diantaranya belum mampunya negara Indonesia secara finansial menggarap kekayaan alam tersebut, adanya pembagian (sharing) yang dianggap menguntungkan Indonesia, atau hanya itu yang bisa dilakukan bangsa Indonesia saat ini. Oke, saya terima itu dengan lapang dada walaupun tidak ikhlas dan pikiran ini penuh dengan tanda tanya. Mengapa ini bisa terjadi ?

Kalau alasannya finansial kita belum mampu dan ada pembagian keuntungan yang dianggap menguntungkan. Apakah ini benar-benar menguntungkan? Apakah eksploitasi yang dilakukan sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pihak asing tersebut? Apakah benar kapasitas produksi dan ekspor yang dilakukan benar adanya ? Apakah ada kontrol yang berlapis-lapis baik pemerintah Indonesia, KPK, DPR RI  dan Intelejen Negara ?  Mengapa harus intelejen negara ? Karena menyangkut aset-aset negara yang harus dijaga dan dipertahankan serta memberikan keuntungan yang sebenar-benarnya bagi rakyat Indonesia sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945 yang telah diamandemen.

Kasus korupsi SK Migas sebenarnya membuka tabir bahwa lemahnya kontrol negara terhadap aset-aset negara. SK Migas baru pada tataran keterlibatan oknum-oknum pejabat Indonesia yang melakukan korupsi alias kongkalingkong dengan parlemen. Bagi saya, kerugian yang diderita negara terlalu kecil dibandingkan dengan apa yang diperoleh oleh perusahaan-perusahaan asing yang menguasai kekayaan alam Indonesia  yang juga merupakan aset negara. Apa kerjanya Intelejen Negara selama ini ? Apakah ini dianggap bukan job desk mereka ?

Pernahkah menonton film James Bond 007 ? Bond bukan lagi ditugaskan untuk memata-matai suatu negara tetapi korporasi yang dianggap bertindak ingin menguasai dunia dengan sewenang-wenang. Apakah Intelejen Negara baik BIN, BAIS atau apalah namanya melakukan aksi intelejen terhadap korporasi asing yang beroperasi dan menguasai kekayaan alam Indonesia baik migas maupun non migas ? Seharusnya intelejen negara harus melakukan aksi intelejen baik dengan penyusupan orang intel ke dalam perusahaan sampai menempatkan orang-orangnya di setiap pelabuhan ekspor impor yang ada di Indonesia. Selanjutnya mereka memberikan informasi yang valid, ajeg dan terpercaya kepada Presiden dan parlemen  sehingga terjadi pegawasan yang berlapis-lapis dan tidak hanya percaya begitu saja laporan perusahaan di atas kertas saja. Lah perusahaan tersebut khan perusahaan Go Public yang harus terbuka dan transparan dalam laporan keuangannya. Benar tapi ingat mereka adalah perusahaan asing dan jangan percaya begitu saja. Perlu cek dan ricek sehingga kalau tidak sama dengan informasi di lapangan maka pemerintah dan parlemen dapat memanggil perusahaan tersebut untuk menjelaskannya secara terbuka di hadapan bangsa Indonesia. Hal ini dilakukan oleh Amerika Serikat, intelejennya seperti CIA aktif melakukan pengawasan terhadap aset-aset negara yang digarap oleh korporasi dan melaporkannya kepada Presiden dan Senat. Apabila terjadi penyelewangan dan penyimpangan informasi antara fakta di lapangan dan laporan di atas kertas maka korporasi tersebut diberikan hukum seberat-beratnya karena merugikan negara dan rakyat Amerika Serikat.

Saya hanya bisa berharap intelejen negara aktif melakukan pengawasan terhadap aset-aset negara. Jadi bukan hanya aktifitas intelejen asing dan teroris saja yang diawasi gerak-geriknya tetapi korporasi asing yang mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia juga harus diawasi. Kembali lagi sejarah bangsa Indonesia membuktikan bahwa selama ini yang menjajah bangsa Indonesia adalah para pedagang mulai dari VOC maupun korporasi raksasa dunia saat ini. Jangan sampai kita kecolongan kesekian kalinya dan kita hanya bisa terkejut-kejut karena ketidakmampuan intelejen negara yang kurang mampu menggali informasi dan fakta di lapangan tentang aset-aset negara terutama kekayaan alam Indonesia. Saya punya keyakinan intelejen negara Indonesia punya kemampuan dan dapat lebih hebat dari intelejen negara lain dengan syarat mau melakukan atau punya GOOD WILL dan bukan bekerja berdasarkan proyek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s