Islamku

Aku terlahir sebagai muslim atau beragama Islam. Aku Islam karena ibu bapakku Islam. Bukan hanya itu saja kakek nenek sampai kakek nenek buyutku (3 generasi di atas kedua orang tua ku beragama Islam). Sedangkan kakeknya kakek buyutku beragama Hindu. Mungkin kalau ditelusuri berdasarkan silsilah keluarga baik dari ibu dan bapak ada yang animisme dan dinamisme.

Sebagaimana layaknya anak-anak Indonesia, sewaktu kecil orang tuaku mengharuskan aku dan kakak adikku untuk mengaji. Dipanggillah seorang ustad untuk datang ke rumah mengajari kami tentang Islam. Mulai belajar Juz Amma, menulis huruf Arab, Rukun Islam, Rukun Iman, sampai membaca Qur’an 3 kali seminggu. Terus terang aku lebih banyak “bolos” pada ustad datang ke rumah dengan berbagai alasan sehingga aku sadar pada saat itu aku kurang suka dengan pelajaran yang diberikan ustad. Walaupun demikian bapakku menerapkan disiplin yang tinggi, tiap hari pukul 4.30 pagi selalu membangunkan kami anak-anaknya untuk sholat subuh. Tidak mau bangun pasti dimarahi beliau. Kembali lagi emang dasarnya nakal maka aku punya banyak cara agar tidak dimarahi oleh bapakku. Bangun pagi aku langsung masuk kamar mandi pura-pura wudhu dengan cara membuang-buang air biar terdengar seperti orang sedang berwudhu. Kulakukan dalam waktu cukup lama di kamar mandi sampai bapakku pergi.

Perlu diketahui lingkungan di kompleks rumah kami, mayoritas Muslim dan kebetulan tetangga depan rumah kami adalah keluarga Katolik yang taat. Tetapi kami hidup rukun dan toleransi selalu terjaga. Pada saat hari Raya Idul Fitri, mereka mengirimkan makanan ke rumah dan mengucapkan selamat. Begitupun sebaliknya saat mereka merayakan natal, kedua orang tua kami datang berkunjung dan pada saat itu damai sekali karena tidak ada perdebatan yang memusingkan kepala antara boleh atau tidak. Intinya adalah kami saling menghormati dan menghargai agama dan keyakinan yang kita anut.

Mulai usia remaja sampai masa kuliah, kemalasanku belajar tentang Islam berubah menjadi keingin tahuan tentang Islam. Ajakan teman-teman tentang beberapa pengajian aku ikuti sampai pernah bersentuhan dengan ajaran NII. Karena aku mempunyai prinsip tak kenal maka tak sayang. Tidak mau berkomentar tentang ajaran tertentu sebelum aku masuk, melihat, mendengar, mengamati dan mempelajari sehingga aku tahu apakah ajaran ini benar atau tidak tetapi semua itu kuanggap sebagai pengalaman hidup dan kusimpan dalam hati tanpa perlu obral cerita bahkan menfitnah macam-macam tentang suatu ajaran walaupun ajaran tersebut sesat.

Terus terang pada saat itu keingintahuanku tentang Islam agamaku sedang tinggi-tingginya. Semua ibadah yang dilakukan bukan hanya Rasulullah SAW tapi nabi-nabi yang lain aku kerjakan. Selain Sholat Wajib 5 waktu maka sholat sunnah aku jalani. Bukan hanya puasa bulan Ramadhan saja tetapi puasa senin kamis, puasa Nabi Daud AS dan puasa-puasa yang lain. Kemudian apa yang kudapatkan dari apa yang sudah dijalankan ? Aku tidak mendapatkan apa-apa dan  merasa makin tidak tahu apa-apa. Ketenangan iya tetapi aku tidak mendapatkan ruh Islam yang hakiki. Kok hanya segitu saja Islamku ini.

Sampai suatu masa, aku bertemu dengan Kakek Buyutku (aku memanggilnya Uyut). Melalui Uyutlah, aku mendapatkan pencerahan tentang apa itu Islam yang dasar sekali. Dan Uyutlah, aku sadar bahwa Islamku selama ini adalah Islam karena orang tuaku Islam bukan Islam karena aku mencari dan meyakini sendiri. Itulah awalnya aku mendekontruksi Islam yang kupeluk. Gila ! Itulah perkataan yang ke luar dari mulut teman-teman dekatku. Ya memang aku sedang gila, gila mencari Islamnya Allah SWT. Kuncinya adalah Keimanan. Belajar tentang keimanan dulu baru belajar Islam sehingga menjadi Ihsan.

Ajaran pertama yang diberikan oleh Uyut adalah Iqra (Membaca). Bukan hanya membaca kitab/buku tetapi membaca alam semesta. Setelah mengerti apa yang dibaca maka istiqomahlah sehingga aku mengerti Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Ajaran tentang keIslaman yang mendasar  pertama kali dan selalu kuingat adalah tentang sajadah.

” Sudahkah kamu sholat “

” Sudah, Yut ? “

” Apa yang kau dapatkan dari sholatmu ? “

” Susah untuk diungkapkan tapi saya merasakan ketenangan batin “

” Hanya itu saja “

” Banyak tapi … “

” Stop stop stopppp saya sudah tahu “

Begitulah pertanyaan pertama kali ketika saya bercerita tentang sholat. Hanya itu saja. Eits !!! Nanti dulu, bagaimana dengan sajadahnya. Sajadah ? Iya sajadah, sudahkah kau genggam sajadah dimana kau berdiri, sujud dan duduk di atasnya. Apa maksudnya ? Carilah jawabannya. Tetapi bagaimana ? Yang penting khan kita telah menjalankannya sesuai dengan rukun dan sunnahnya. Sholat merupakan tiang agama dan sudah menjadi kewajiban bahkan kebutuhan hidup. Tapi yakinkah Sholatnya diterima oleh Allah SWT ? Apa hubungannya dengan sajadah ? Bagaimana dengan amar ma’ruf nahi munkar ?

” Mari kita memulainya dengan sajadah ” ujar uyut

” Oke Yut, saya mendengarkan “

” Jangan hanya mendengar tapi direnungkan. Kalau sudah ketemu harus dilakukan “

” Baik Yut “

” Baik apanya ?! Kau harus menjawab dulu pertanyaan mendasar tentang sebuah sajadah “

” Pertanyaan ? Apa lagi yang ingin Uyut tanyakan “

” Sepele dan mudah. Saya yakin kamu bisa menjawabnya “

” Apa itu Yut ? “

” Pertama, berapa kali dalam seminggu, sebulan atau setahun kamu mencuci sajadahmu ? “

” Ehhh berapa ya. Jarang sekali saya mencucinya bahkan bisa tahunan tidak mencucinya “

” Jadi sampai bulukan sajadahnya sampai-sampai kamu lupa mencucinya “

” Hehehehe iya Yut “

” Okelah, pertanyaan kedua adalah pernahkah kau mengukur panjang dan lebar sajadahmu “

” Iseng amat Yut sampai-sampai saya harus mengukur sajadah. Khan hanya sebuah sajadah. Setelah selesai Sholat dilipat dan diletakkan di tempat yang bersih . Kemudian dipakai lagi kalau ingin sholat “

” hahahaha kasihan sekali kamu “

” Maksudnya ? “

” Bagaimana kau mengerti tentang Tuhanmu. Sementara kau sendiri tidak pernah mau tahu terhadap apa yang kau miliki. Ingat Allah SWT Maha Mengetahui segalanya. “

” Jadi… “

” Ya ukurlah. “

Kemudian saya mengambil meteran dan mengukurnya.

” 66 cm x 109 cm  Yut “

” Bagus… tapi mengertikah kamu dengan angka-angka dalam ukuran sajadahmu “

” Aduh,  Uyut makin membuat saya pusing saja “

” Itu simbol anakku. Angka-angka tersebut memberikan makna bahwa itulah porsi dan posisimu di dunia. Biar kamu mengerti seberapa besar dirimu yang sebenarnya. Dan segi empat dari sajadahmu adalah format atau matra atau norma atau aturan main yang harus kamu jalani di dunia agar kau tidak menyeleweng dan berbuat semaunya. Ada aturan Allah yang berlaku di dunia maka kamu harus mentaatinya. Itulah arti sebuah ketakwaan diri. Satu hal sajadah itu pula sebagai simbol bagi luasnya tubuh kamu bila kamu mati dan dikubur nantinya.  Ingat kamu harus tahu berapa porsimu dan dimana posisimu “

” Wao, saya selalu ingat. Ini luar biasa sekali “

” Nah kembali lagi ke sajadah. Kalau kamu sudah tahu luasnya sajadah yang kamu miliki maka kamu sudah sewajarnya menjaga dan memeliharanya dengan baik terutama dalam hal kebersihan. “

” Ohh gitu Yut “

” Ya, masa kamu bisa bersih bila pergi ke undangan perkawinan, bertemu pacar, kolega bisnis dan lain-lain tetapi kamu tidak berusaha bersih untuk tempat kamu berdiri, duduk dan sujud  pada saat bertemu dengan PemilikMU “

” Ya ya ya saya mengerti “

” Mengerti apa ??? Masih ada pertanyaan ketiga “

” Aduh apalagi sich Yut “

” Jangan aduh-aduh, jawab saja. Pertanyaannya adalah berapa banyak sajadah yang kamu miliki ? “

” Satu dong Yut hehehe Ini buat pribadi. Punya satu karena hanya sanggup beli satu hehehe “

” Pribdi ? Benar pribadi ? Jujur ya apakah ada orang lain yang memakainya “

” Ada juga Yut. Itu kalau ada tamu atau teman yang datang dan meminjam sajadah buat sholat. “

” Bagus hehehe kamu jujur tapi kurang pas “

” Kurang pasnya ? “

” Tahu khan kamu, kalau kamu ingin bertemu dengan Allah maka kamu harus bersih dari najis baik besar maupun kecil. Intinya harus bersih  “

” Betul Yut. Terus … “

” Yakinkah kamu kalau orang lain yang memakai sajadahmu bersih dari najis “

” Yakinlah Yut khan mereka wudhu dulu “

” Betul tapi yakinkah setelah wudhu mereka tidak menginjak najis misalnya mengerikan kaki di keset kamar mandi. “

” Hahhhh benar juga ya “

” Nah maka itu kamu harus perhatikan dan jaga sajadahmu. Ibarat rumah sendiri yang tidak boleh sembarangan orang masuk dan mengotori  isi rumah “

” Benar Yut. Terus apa yang harus saya lakukan ? “

” Mudah kamu harus mempunyai sajadah lebih dari satu. Satu untuk pribadi, satu untuk tamu atau kalau perlu satu sajadah dipakai dalam perjalanan alias bisa dibawa-bawa kemanapun kamu pergi. “

” Ribet sekali Yut “

” Ya tidaklah. Katanya kamu ingin sholat kamu diterima secara haqqul yaqin  oleh Allah SWT. Bagaimana haqqul yaqin diterima oleh Allah SWT kalau kamu sendiri tidak yakin atas diri dan segala yang kamu miliki “

” Luar biasa. Apalagi Yut “

” Tidak ada, hanya itu saja. Ingat ! GENGGAM ERAT-ERAT SAJADAHMU

” Ini saja Yut “

” Iyaaaaa. Yang lainnya nanti kalau Uyut lagi happy dan berbunga-bunga hatinya hehehehe “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s