Antara Sugi Dan Susi

Matahari mulai menunjukkan sinarnya. Seperti biasa Tjiploek duduk santai di depan teras kamarnya ditemani kopi tubruk dan rokok Djie Sam Soe. Dengan telanjang dada sambil memegang perutnya, Tjiploek tampak menikmati hari menjelang siang tersebut. Tiba-tiba terdengar suara salam dari seorang yang sangat dikenalnya.

” Assalamualaikum, Ploek “

” Wa alaikumussalam… ehh elu gi ” jawab Tjiploek.

Ternyata yang datang adalah Sugi. Sugi adalah nama panggilannya. Nama sebenarnya adalah Sugiarto. Sudah lama sekali Tjiploek mengenal Sugi. Setiap ada masalah pasti Sugi akan datang ke rumah Tjiploek untuk meminta solusi atau pendapat. Biasanya Tjiploek selalu menemukan cara penyelesaian setiap masalah Sugi.

Tetapi hari itu tidak seperti biasanya Sugi datang dengan wajah ceria dan sepertinya baru saja dapat rejeki, Benar saja, sebagai sales motor hari itu Sugi baru saja berhasil menjual 2 unit motor. Lumayanlah hari itu Sugi bisa tenang selama seminggu karena dari hasil penjualan tersebut, kebutuhan keluarga tertutupi.

” Gila lu Ploek, udah jam 10.37 masih belum mandi. “

” Emang kenapa, gi ? ” tanya Tjiploek dengan santainya.

” Orang-orang seperti gue dari pagi sudah keluar rumah, Nah lu masih di rumah. Kayaknya lu baru bangun ya “

” Hehehehe tau juga lu, gi “

” Gimana mo dapat rejeki kalau bangun sesiang ini. Kata orang tua dulu, kalo nggak bangun pagi maka rejekinya dah dipatok ayam “

” hahahaha “

” Lah malah tertawa “

” Ya iyalah gue tertawa. Gue sih santai aja masalah rejeki karena nggak bakalan dipatok ayam. “

” Kok bisa “

” Bisalah. Khan ayamnya udah gue potong duluan pagi-pagi jadi aman deh rejeki gue hahahaha “

” Bisa aja lu Ploek “

Kemudian Tjiploek pergi ke dapur membuatkan kopi untuk Sugi. Beberepa menit kemudian merek berdua sudah duduk di teras kamar sambil bersenda gurau. Tetapi hari itu memang Sugi sedikit berbeda dan terkesan menggurui Tjiploek.

” Ploek, gue mo omong serius ma lu “

” Boleh, emang ada apa ? “

” Gue tahu lu orang baik. Lu banyak bantu gw kalau ada masalah. Tetapi sebagai teman, gue agak prihatin melihat lu “

” Prihatin bagaimana ? “

” Ya, prihatinlah. Lu khan sarjana. S-2 pula. Tapi gue melihat lu luntang lantung pengangguran yang nggak jelas kerjaannya. “

” Hahahahaha gue emang pengangguran dan gue nikmatin hidup seperti ini. Tapi gue ga pernah ngerepoti atau meminta pertolongan orang lain. “

” Iya tapi lu khan lulusan Master. Sayang khan. Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau hanya seperti ini, SMA aja cukup kayak gue. Lihat tuh tukang sate dekat alfa mart hanyan lulusan SD tapi punya warung sate sampai 4 tempat. “

Tjiploek pun terdiam seraya menghisap dalam rokoknya.

” Gue pikir benar juga omongan lu, Gi, Kenapa juga gue sekolah tinggi-tinggi. Tapi ada yang lebih mengganjal pikiran gue tentang hal ini. “

” Apa Ploek ? “

” Ngapain juga gue yang keliatan pengangguran ini bantu biaya kuliah anak lu tiap semesternya ya Gi.hehehe ” seloroh Tjiploek meninggalkan Sugi yang tampak terkesima mendengarnya dan pergi mandi.

===CG==

” karena sistem pendidikan kita memang seperti mencetak produk dalam pabrik. semua orang dibikin sama. distandarkan ” ujar Pak Rhenald Kasali.

” ahh saya tidak ingin menyalahkan sistem pendidikan. saya pikir orang berhasil dari pendidikan juga banyak. cuma untuk saya saat itu bukan suatu yang pas (tidak tepat). bukan ini yang saya cari. bukan ini yang saya inginkan… tetapi saya ingin anak saya dapat sekolah tinggi melebihi ibunya asal mereka mendapatkan kemerdekaan dalam hidupnya dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka ” pendapat Susi Pudjiastuti (sekarang Menteri Kelautan dan Perikanan) saat diwawancarai dalam acara Kewirausahaan beberapa waktu yang lalu.

2 thoughts on “Antara Sugi Dan Susi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s