Japan Trip : 2 Jam Terakhir di Tokyo

IMG-20170326-WA0082
Pemandangan Tokyo Tower dari lantai 4 Richmond Hotel Asakusa Premier International (Dok. Cech)

Pagi-pagi sekali, kami sudah bangun. Tanggal 3 Maret 2017 pukul 09.00 kami meninggalkan hotel. Tetapi sebelum keluar hotel, dari lantai 4 hotel kami sempat mengabadikan pemandangan Tokyo Tower. Rencana awal hari itu adalah berkunjung ke Senso-ji Temple dan Tokyo Imperial Palace. Karena hari Jumat, Tokyo Imperial Palace tutup untuk umum sehingga dari Senso-ji Temple kami menggunakan kereta bawah tanah dari Asakusa Station ke Tokyo Station.

Keluar dari hotel, kami berjalan kaki menuju Senso-ji Temple via 2 Chome 7 Asakusa. Dalam 10 menit kami sudah berada di komplek Senso-ji Temple. Suasana ramai orang terasa sekali di Komplek Senso-ji Temple terutama Main Hall yang sering disebut Hondo. Pengunjung yang berdatangan adalah wisatawan asing dan wisatawan lokal yang melakukan ibadah ritual di Senso-ji Temple.

DSCN3660
2 Chome 7 menuju Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3661
WC Umum nan bersih di 2 Chome 7 (Dok. Cech)

Kuil Senso-ji adalah  kuil Budha tertua di  Tokyo yang dibangun  pada tahun 645. Berdasarkan keterangan yang tertulis di salah satu tiang kuil diceritakan pada tahun 628  saat sedang memancing di sungai Sumida, dua orang kakak beradik yang bernama Hinokuma Hanamari dan Hinokuma Takenari menemukan sebuah patung Dewi Kannon (Bodhisattva Kanon) atau yang lebih di kenal sebagai Dewi Welas Asih. Ketika mereka mengembalikannya ke dalam sungai, patung tersebut kembali lagi kepada mereka. Mendengar cerita Hinokuma bersaudara tersebut,  sebagai bentuk penghormatan maka kepala desa Haji Nakatomo memutuskan untuk membangun sebuah kuil yang awal nya bernama Asakusa Kannon Temple yang sekarang kita kenal dengan Kuil Sensoji ini.

Pada tahun 645, seorang pendeta Budha terkenal Shokai mengunjungi Asakusa dan melihat kuil tersebut. Kemudian oleh Pendeta Shokai, kuil tersebut diperluas bangunannya dengan menambah tempat untuk sembahyang sehingga bangunan kuil terlihat seperti saat ini yang sering disebut Main Hall atau Hondo. Senso-ji dan Asakusa mempunyai kaitan yang kuat. Apabila ditulis dalam aksara Cina maka pengucapannya akan berbeda. Pengucapannya menjadi “Senso” bagi orang Cina. Sedangkan bagi orang Jepang, pengucapannya “Asakusa”.

DSCN3679
Patung Budha (Dok. Cech)
DSCN3662
Bronze Statue of Uryu Iwako (Dok. Cech)
DSCN3668
Salah satu Kuil Budha di Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3670
Kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine (Dok. Cech)
DSCN3675
Kolam Ikan Koi (Dok. Cech)

Sebelah barat  terdapat beberapa bangunan kuil, patung dan kolam ikan koi. Diantaranya ada kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine yang berdiri berdampingan dengan beberapa  kuil budha dalam komplek Senso-ji. Selain patung Budha, ada satu patung sosok perempuan yaitu Patung Perunggu Uryu Iwako.

Uryu Iwako lahir pada 15 Februari 1829 di Kitakata, Perfektur Fukushima. Nama sebenarnya adalah Iwa, sedangkan Iwako adalah nama populernya. Setelah Restorasi Meiji, Iwako mendorong anak-anak perempuan klan Aizu untuk sekolah. Selain itu Iwako mendirikan Fukushima Relief  Facility yang membantu kaum miskin dan anak yatim piatu. Iwako juga mendirikan Institut Riset Kebidanan (Midwifery Research Institute) dan Rumah Sakit Saisei di Kitakata. Iwako meninggal dunia pada 19 April 1897. Atas jasa dan pengabdiannya maka dibangunlah Patung Perunggu Uryu Iwako (Bronze Statue of Uryu Iwako) pada April 1901

Gerbang utama dari kompleks Kuil Sensoji ini disebut Kaminarimon Gate yang artinya Gerbang Halilintar. Gerbang ini pada awalnya terdiri atas dua panji raksasa dengan simbol trisula. Setelah melewati Kaminarimon Gate, pengunjung disuguhi dengan deretan toko   yang menjual bermacam-macam suvenir khas Asakusa.

Mereka menjual barang tradisional Jepang seperti yukata, gantungan kunci, kipas lipat, jimat keberuntungan, kaos, dan camilan lokal seperti  “Kibidango” yaitu snack yang dibuat berdasarkan cerita anak-anak terkenal di Jepang (Momotaro si Buah Persik) Kibidango sangat spesial karena hanya dijual di tempat ini, tidak dijual di toko kelontong atau supermarket.

Camilan lain yang dijual adalah penganan berbahan dasar kacang merah yang disebut Agemanju (kue bertabur roti yang digoreng) dan Ningyoyaki (camilan berbahan dasar kue). area deretan toko sepanjang 20 meter tersebut dikenal dengan nama  Nakamise DoriDari Nakamise Dori pengunjung dapat melihat  Hozomon Gate. Disebelah timur terdapat Bentendo Hall dan di sebelah barat terdapat  sebuah pagoda 5 tingkat yang di namakan Five Storied Pagoda

DSCN3716
Hozomon Gate (Dok. Cech)
DSCN3718
Foto sejenak di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3720
Seorang pedagang es krim di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3721
Suasana ramai di Nakamise Dori (Dok. Cech)

Setelah melewati Hozomon Gate pengunjung  akan melihat bangunan utama dari kuil ini yaitu Main Hall (Hondo). Di tempat utama ini, warga Jepang beragama Budha  melakukan ritual dan berdoa meminta segala sesuatu yang diinginkanya. Pengunjung non agama Budha  diperbolehkan untuk masuk ke dalam area Hondo.

Sebelum masuk, biasanya pengunjung melakukan ritual mengusapkan asap dari hio yang menyala ke wajah. Selanjutnya membersihkan tangan atau meminum air suci yang letaknya dekat dengan pintu masuk Hondo.

DSCN3683
Ritual mengusapkan asap hio ke wajah (Dok. Cech)
DSCN3685
Air Suci (Dok. Cech)

Di dalam Hondo pengunjung dapat melihat betapa megahnya bangunan tersebut dan indahnya mural (lukisan) di atap Hondo. Selain itu pengunjung dapat pula melakukan doa permohonan ala agama Budha atau disebut Omikuji. Omikuji dilakukan untuk mengetahui keberuntungan hidup kita.

Jadi pengunjung melakukan doa diikuti dengan menggoyang-goyangkan boks besi yang di dalamnya terdapat banyak batang kayu/bambu yang bertuliskan keberuntungan atau kesialan kita. Di boks besi tersebut terdapat lubang kecil yang cukup untuk mengeluarkan sebatang kayu/bambu. Pada batang kayu/bambu tersebut ada nomor bertuliskan kanji. Setelah sebatang kayu/bambu keluar dari boks, maka kita dapat melihat nomor berapa yang keluar.

Selanjutnya kita membuka salah satu loker kayu yang telah dinomori sesuai dengan nomor di batang kayu/bambu. Pengunjung tinggal mengambil selembar kertas yang menuliskan tentang keberuntungan atau kesialan. Selanjutnya kertas tersebut dilipat dan diikat ke sebuah kawat besi bersusun yang terletak dekat dengan pintu keluar.

DSCN3712
Kuil Senso-ji (Dok. Cech)
DSCN3700
Indahnya lukisan (mural) di atap Hondo (Dok. Cech)
DSCN3699
Tentang Senso-ji Temple (Dok. Cech)

Tak terasa selama  2 jam, kami mengelilingi komplek Senso-ji Temple. Selanjutnya kami makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Tokyo Station untuk membeli tiket Kereta Cepat Shinkansen ke Kyoto. 2 jam terakhir di Tokyo yang  berkesan dan mungkin kelak kami dapat kembali ke Tokyo untuk mengunjungi beberapa tempat wisata menarik lainnya di Tokyo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s