Japan Trip : 3 Jam di Kinkakuji Temple, Kyoto

Hari Sabtu, 4 Maret 2017 adalah hari pertama kami di Kyoto. Pukul 09.00 pagi kami sudah siap sedia untuk melakukan perjalanan wisata. Sesuai rencana, ada beberapa tempat wisata di Kyoto. Yang utama adalah Kinkakuji Temple dan Kyoto Imperial Palace.

Kebetulan hotel kami terletak diseberang pool bus kota Kyoto sehingga memudahkan untuk mendapatkan informasi tentang bus umum yang dapat mengantar kami ke Kinkakuji. Perlu diketahui halte bus persis berada di depan dan di seberang hotel. Nama halte bus tersebut adalah Kujoshakomae Bus Stop.

Berdasarkan petugas informasi dari pool bus, kami disarankan membeli tiket bus terusan (one day pass) seharga Yen 500. Nomor bus jurusan ke Kinkakuji adalah 205. Untuk menuju Kinkakuji, kami melewati 25 halte (bus stop) dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.  Kalau tanpa tiket terusan, dikenakan ongkos bus Yen 230 per penumpang. Setibanya di halte Kinkakujimichi, kami segera turun dari bus. Pada saat itu bus penuh dengan penumpang dan sebagian besar adalah turis asing terutama turis dari Peru.

Sebelum memasuki komplek Kinkakuji Temple, kami sarapan terlebih dahulu di sebuah kafe yang letaknya persis di depan halte bus. Kafe yang dimiliki oleh pasangan suami istri lanjut usia tersebut menyediakan banyak menu makanan. Kami langsung memesan minuman kopi dan coklat. Sedangkan untuk makanan kami memesan roti bakar.

Ada beberapa hal yang menarik dari kafe tersebut, selain dikelola oleh pasangan lanjut usia, pasangan tersebut memiliki koleksi mata uang asing yang diberikan oleh turis asing yang mampir ke kafe mereka. Uniknya sudah ada uang rupiah emisi  tahun 2016 yang dimiliki mereka yaitu 2000 dan 5000. Mereka juga mengkoleksi origami buatan sendiri. Walaupun terbata-bata dalam berbahasa Inggris tetapi pasangan tersebut mengerti maksud ucapan kami dalam berbahasa Inggris.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah sarapan pagi, kami berjalan kaki sekitar 100 meter menuju Komplek Kinkakuji Temple. Sebelum memasuki komplek, tertulis larangan menggunakan drone, merokok dan buang sampah sembarangan. Komplek Kinkakuji Temple dibuka untuk umum pada jam 09.00-17.00 setiap hari dengan biaya masuk Yen 400 per orang.

Beberapa ratus meter dari pintu masuk sudah terlihat bangunan unik khas Jepang berwarna emas. Banyak pengunjung mulai mengabadikan bangunan tersebut dan berselfia ria termasuk kami. Bangunan tersebut adalah Kinkakuji atau Kuil Paviliun Emas ( Temple of Golden Pavillion).  Kinkakuji adalah nama umum untuk Rokuonji (鹿苑寺 Kuil Taman Rusa) merupakan sebuah kuil di Kyoto, Jepang.

DSC_0081
Pintu masuk ke Komplek Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0083
Prasasti Kinkakuji Temple
DSC_0085
Sejarah Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0090
Kinkakuji Temple (Temple of Golden Pavillion) (Dok. Cech)
DSC_0095
Hojo, tempat tinggal Kepala Bikhsu (Dok. Cech)

Menurut sejarah, Komplek Kinkakuji adalah sebuah vila dengan nama  Kitayama-dai yang dimiliki oleh seorang tuan tanah  Saionji Kintsune.  Pada tahun 1397, Shogun Ashikaga Yoshimitsu membeli komplek vila tersebut dan memberi nama Komplek Kinkakuji. Ketika Yoshimitsu wafat, oleh anaknya komplek vila tersebut diubah peruntukkannya menjadi bangunan kuil Zen Budha sesuai keinginan ayahnya.

Selama perang Onin (1467-1477, seluruh bangunan dalam komplek tersebut terbakar. Pada tanggal 2 Juli 1950, kuil Paviliun Emas dibakar oleh seorang bikhsu berusia 22 tahun, Hayashi Yoken yang saat itu melakukan percobaan bunuh diri di belakang bangunan tetapi berhasil diselamatkan. Bikhsu tersebut dihukum 7 tahun penjara dan dibebaskan karena menderita gangguan mental (persecution complex dan schizophrenia) pada tanggal 29 September 1955. Pada tahun 1992, Kinkakuji Temple dinyatakan sebagai World Heritage Site oleh Unesco.

Kuil Kinkakuji (Paviliun Emas) terdiri dari 3 lantai. Keseluruhan paviliun kecuali bagian lantai dasar ditutupi dengan lembaran tipis emas murni, menjadikan kuil itu sangat berharga. Pada atap kuil terdapat fenghuang emas atau “burung phoenix”. Di hari yang cerah lembaran emas tersebut akan  memantulkan sinar matahari secara sempurna dan bayangan Kinkakuji terpantul di permukaan air. Kinkakuji Temple hanya dapat dilihat dari pinggir danau dan tidak dapat mendekati area dan ke dalam paviliun tersebut.

Kemudian di samping Kinkakuji Temple, terlihat satu bangunan besar yang dinamakan Hojo. Hojo adalah bangunan tempat tinggal mantan Kepala Bikhsu dimana seluruh pintu gesernya dicat. Sayangnya Hojo tertutup untuk umum.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selanjutnya kami berjalan sedikit menanjak dan terlihat taman nan indah. Di tengah taman terdapat sebuah kios yang menjual pernak-pernik tradisional khas Jepang (Kinkakuji Gift Shop) seperti gantungan kunci, patung kecil dari kayu, jimat keberuntungan dan lain-lain. Tidak jauh dari kios terdapat sebuah lokasi yang dinamakan Anmintaku Pond dimana ada beberapa patung tak berbentuk dari batu yang penuh dengan koin uang. Jadi siapapun yang berhasil melempar dan masuk ke dalam mangkok yang berada di beberapa patung tersebut maka akan mendapatkan keberuntungan.

Setelah melewati Anmintaku Pond dan taman, kami melihat sebuah tempat yang menyajikan minuman teh hijau yang disebut dengan Sekkatei Teahouse. Dengan membayar Yen 500, pengunjung dapat menikmati matcha tea dan manisan.

Beberapa puluh meter kemudian, kami melihat satu kuil kecil yang dinamakan Fudo Hall. Fudo Hall adalah sebuah kuil untuk menghormati salah satu 5 Raja Kebajikan yang melindungi umat Budha. Banyak pengunjung terutama warga Jepang melakukan ritual dan berharap mendapatkan keberuntungan di kuil tersebut.

Di dekat pintu keluar, ada beberapa kios yang menjual beberapa produk tradisional Jepang. Salah satunya adalah makanan tradisional khas Kinkakuji yaitu Meika Kinkaku (Classic Gold Leaf Cake). Harganya Yen 900 per kotak berisi 6 buah kue. Meika Kinkaku adalah kue khas Kinkaku yang dibuat oleh para pembuat kue di Senbon Tamajuken, distrik Nishijin, Kyoto.

Setelah keluar dari komplek Kinkakuji, awalnya kami akan mengunjungi Ryonji Temple dan Ninnaji Temple yang letaknya masih berdekatan dengan Komplek Kinkakuji. Karena hari sudah siang  maka kami memutuskan untuk melahjutkan perjalanan ke Kyoto Imperial Palace dengan menggunakan bus umum. 3 jam di Komplek Kinkakuji yang sungguh melelahkan.

 

 

Iklan

Japan Trip : 2 Jam Terakhir di Tokyo

IMG-20170326-WA0082
Pemandangan Tokyo Tower dari lantai 4 Richmond Hotel Asakusa Premier International (Dok. Cech)

Pagi-pagi sekali, kami sudah bangun. Tanggal 3 Maret 2017 pukul 09.00 kami meninggalkan hotel. Tetapi sebelum keluar hotel, dari lantai 4 hotel kami sempat mengabadikan pemandangan Tokyo Tower. Rencana awal hari itu adalah berkunjung ke Senso-ji Temple dan Tokyo Imperial Palace. Karena hari Jumat, Tokyo Imperial Palace tutup untuk umum sehingga dari Senso-ji Temple kami menggunakan kereta bawah tanah dari Asakusa Station ke Tokyo Station.

Keluar dari hotel, kami berjalan kaki menuju Senso-ji Temple via 2 Chome 7 Asakusa. Dalam 10 menit kami sudah berada di komplek Senso-ji Temple. Suasana ramai orang terasa sekali di Komplek Senso-ji Temple terutama Main Hall yang sering disebut Hondo. Pengunjung yang berdatangan adalah wisatawan asing dan wisatawan lokal yang melakukan ibadah ritual di Senso-ji Temple.

DSCN3660
2 Chome 7 menuju Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3661
WC Umum nan bersih di 2 Chome 7 (Dok. Cech)

Kuil Senso-ji adalah  kuil Budha tertua di  Tokyo yang dibangun  pada tahun 645. Berdasarkan keterangan yang tertulis di salah satu tiang kuil diceritakan pada tahun 628  saat sedang memancing di sungai Sumida, dua orang kakak beradik yang bernama Hinokuma Hanamari dan Hinokuma Takenari menemukan sebuah patung Dewi Kannon (Bodhisattva Kanon) atau yang lebih di kenal sebagai Dewi Welas Asih. Ketika mereka mengembalikannya ke dalam sungai, patung tersebut kembali lagi kepada mereka. Mendengar cerita Hinokuma bersaudara tersebut,  sebagai bentuk penghormatan maka kepala desa Haji Nakatomo memutuskan untuk membangun sebuah kuil yang awal nya bernama Asakusa Kannon Temple yang sekarang kita kenal dengan Kuil Sensoji ini.

Pada tahun 645, seorang pendeta Budha terkenal Shokai mengunjungi Asakusa dan melihat kuil tersebut. Kemudian oleh Pendeta Shokai, kuil tersebut diperluas bangunannya dengan menambah tempat untuk sembahyang sehingga bangunan kuil terlihat seperti saat ini yang sering disebut Main Hall atau Hondo. Senso-ji dan Asakusa mempunyai kaitan yang kuat. Apabila ditulis dalam aksara Cina maka pengucapannya akan berbeda. Pengucapannya menjadi “Senso” bagi orang Cina. Sedangkan bagi orang Jepang, pengucapannya “Asakusa”.

DSCN3679
Patung Budha (Dok. Cech)
DSCN3662
Bronze Statue of Uryu Iwako (Dok. Cech)
DSCN3668
Salah satu Kuil Budha di Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3670
Kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine (Dok. Cech)
DSCN3675
Kolam Ikan Koi (Dok. Cech)

Sebelah barat  terdapat beberapa bangunan kuil, patung dan kolam ikan koi. Diantaranya ada kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine yang berdiri berdampingan dengan beberapa  kuil budha dalam komplek Senso-ji. Selain patung Budha, ada satu patung sosok perempuan yaitu Patung Perunggu Uryu Iwako.

Uryu Iwako lahir pada 15 Februari 1829 di Kitakata, Perfektur Fukushima. Nama sebenarnya adalah Iwa, sedangkan Iwako adalah nama populernya. Setelah Restorasi Meiji, Iwako mendorong anak-anak perempuan klan Aizu untuk sekolah. Selain itu Iwako mendirikan Fukushima Relief  Facility yang membantu kaum miskin dan anak yatim piatu. Iwako juga mendirikan Institut Riset Kebidanan (Midwifery Research Institute) dan Rumah Sakit Saisei di Kitakata. Iwako meninggal dunia pada 19 April 1897. Atas jasa dan pengabdiannya maka dibangunlah Patung Perunggu Uryu Iwako (Bronze Statue of Uryu Iwako) pada April 1901

Gerbang utama dari kompleks Kuil Sensoji ini disebut Kaminarimon Gate yang artinya Gerbang Halilintar. Gerbang ini pada awalnya terdiri atas dua panji raksasa dengan simbol trisula. Setelah melewati Kaminarimon Gate, pengunjung disuguhi dengan deretan toko   yang menjual bermacam-macam suvenir khas Asakusa.

Mereka menjual barang tradisional Jepang seperti yukata, gantungan kunci, kipas lipat, jimat keberuntungan, kaos, dan camilan lokal seperti  “Kibidango” yaitu snack yang dibuat berdasarkan cerita anak-anak terkenal di Jepang (Momotaro si Buah Persik) Kibidango sangat spesial karena hanya dijual di tempat ini, tidak dijual di toko kelontong atau supermarket.

Camilan lain yang dijual adalah penganan berbahan dasar kacang merah yang disebut Agemanju (kue bertabur roti yang digoreng) dan Ningyoyaki (camilan berbahan dasar kue). area deretan toko sepanjang 20 meter tersebut dikenal dengan nama  Nakamise DoriDari Nakamise Dori pengunjung dapat melihat  Hozomon Gate. Disebelah timur terdapat Bentendo Hall dan di sebelah barat terdapat  sebuah pagoda 5 tingkat yang di namakan Five Storied Pagoda

DSCN3716
Hozomon Gate (Dok. Cech)
DSCN3718
Foto sejenak di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3720
Seorang pedagang es krim di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3721
Suasana ramai di Nakamise Dori (Dok. Cech)

Setelah melewati Hozomon Gate pengunjung  akan melihat bangunan utama dari kuil ini yaitu Main Hall (Hondo). Di tempat utama ini, warga Jepang beragama Budha  melakukan ritual dan berdoa meminta segala sesuatu yang diinginkanya. Pengunjung non agama Budha  diperbolehkan untuk masuk ke dalam area Hondo.

Sebelum masuk, biasanya pengunjung melakukan ritual mengusapkan asap dari hio yang menyala ke wajah. Selanjutnya membersihkan tangan atau meminum air suci yang letaknya dekat dengan pintu masuk Hondo.

DSCN3683
Ritual mengusapkan asap hio ke wajah (Dok. Cech)
DSCN3685
Air Suci (Dok. Cech)

Di dalam Hondo pengunjung dapat melihat betapa megahnya bangunan tersebut dan indahnya mural (lukisan) di atap Hondo. Selain itu pengunjung dapat pula melakukan doa permohonan ala agama Budha atau disebut Omikuji. Omikuji dilakukan untuk mengetahui keberuntungan hidup kita.

Jadi pengunjung melakukan doa diikuti dengan menggoyang-goyangkan boks besi yang di dalamnya terdapat banyak batang kayu/bambu yang bertuliskan keberuntungan atau kesialan kita. Di boks besi tersebut terdapat lubang kecil yang cukup untuk mengeluarkan sebatang kayu/bambu. Pada batang kayu/bambu tersebut ada nomor bertuliskan kanji. Setelah sebatang kayu/bambu keluar dari boks, maka kita dapat melihat nomor berapa yang keluar.

Selanjutnya kita membuka salah satu loker kayu yang telah dinomori sesuai dengan nomor di batang kayu/bambu. Pengunjung tinggal mengambil selembar kertas yang menuliskan tentang keberuntungan atau kesialan. Selanjutnya kertas tersebut dilipat dan diikat ke sebuah kawat besi bersusun yang terletak dekat dengan pintu keluar.

DSCN3712
Kuil Senso-ji (Dok. Cech)
DSCN3700
Indahnya lukisan (mural) di atap Hondo (Dok. Cech)
DSCN3699
Tentang Senso-ji Temple (Dok. Cech)

Tak terasa selama  2 jam, kami mengelilingi komplek Senso-ji Temple. Selanjutnya kami makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Tokyo Station untuk membeli tiket Kereta Cepat Shinkansen ke Kyoto. 2 jam terakhir di Tokyo yang  berkesan dan mungkin kelak kami dapat kembali ke Tokyo untuk mengunjungi beberapa tempat wisata menarik lainnya di Tokyo.

Japan Trip : Tokyo 24 Jam

Setelah tulisan Ta-Q-Bin tentang perjalanan di Jepang maka saya akan lanjutkan dengan perjalanan menarik di Tokyo. Perlu diketahui, sebenarnya perjalanan ke Jepang ini adalah suatu ketidaksengajaan. Bulan April 2016, kami menghadiri acara Garuda Travel Fair. Niat awal kami dari Bandung ke JHCC Jakarta, lokasi acara travel fair tersebut adalah hanya sekadar mencari informasi saja tentang travel fair tersebut.

Pengaruh semangat pengunjung yang mencari tiket pesawat murah ke berbagai destinasi membuat kami terbawa juga untuk membeli tiket pesawat tersebut. Dalam satu hari, kami membeli 2 tiket pesawat yang dirasa murah dengan destinasi Lombok untuk bulan Mei 2016 dan Jepang untuk bulan Maret 2017. Untuk mendapatkan tiket pesawat dengan kedua tujuan tersebut membutuhkan perjuangan yang besar karena harus sabar menunggu saatnya Happy Hour yang biasanya berlangsung pada jam 09.00-12.00 dan jam 15.00-18.00. Selain itu sabar mengantri di Anjungan Tunai Mandiri BNI yang mengular panjang untuk mengambil uang tunai. Khusus tiket ke Jepang, kami hanya dikenakan biaya tiket pesawat Garuda Indonesia pergi pulang sebesar IDR 8 juta untuk 2 orang.

Tanpa terasa perjalanan kami ke Jepang tinggal 1 bulan lagi. Segeralah kami mengurus Visa Kunjungan ke Kedubes Jepang di Jakarta. Kami menggunakan pihak ketiga dalam hal ini biro perjalanan untuk pengurusan visa tersebut. Dalam seminggu, pengurusan visa kunjungan ke Jepang diperoleh. Memang biaya pengurusan visa tersebut lebih mahal dibandingkan dengan mengurus langsung ke Kedubes. Hal ini dikarenakan kesibukan kami yang tidak memungkinkan kami ke Jakarta. Biaya yang dikeluarkan IDR 515 ribu per orang.

Dari awal, kami merencanakan untuk lebih lama tinggal di Kyoto yaitu 4 hari 4 malam. Kami menganggap Kyoto tempat yang menarik untuk dikunjungi lebih lama karena Kyoto adalah ibukota lama Jepang, tempat wisatanya menarik untuk dikunjungi terlebih dahulu, dan lokasinya strategis (berada ditengah-tengah antara Tokyo dengan Osaka sebagai destinasi terakhir).

Tanggal 1 Maret 2017 pukul 15.00, kami menggunakan bus Prima Jasa berangkat ke Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Pukul 18.30 kami tiba di bandara. Selanjutnya kami makan malam dulu di bandara. Sebelum Check In, kami cek ulang barang-barang yang dibawa dan diperlukan selama perjalanan ke Jepang. Khusus koneksi internet selama di Jepang, kami menyewa Wifi Pocket dari biro perjalanan (biayanya IDR 630 ribu plus deposit IDR 1 juta sebagai jaminan device) dengan kuota unlimited sehingga kami tidak perlu lagi membeli Sim Card operator yang ada di Jepang.

Pukul 23.30 pesawat Garuda Indonesia membawa kami ke Jepang. Tepat pukul 08.50 waktu Tokyo, pesawat mendarat di Bandara Internasional Haneda, Tokyo. Sejak keluar dari pesawat, imigrasi Jepang dan pengambilan berlangsung lancar dan aman. Setelah urusan dengan Ta-Q-Bin   selesai, segera kami menuju konter pembelian tiket bus ke Gotemba. Ternyata bus tujuan Gotemba baru ada pada pukul 12.05  di shelter 7. Ongkos bus dikenakan sebesar Yen 2060 dan perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih  2 jam lebih.

DSCN3642
Suasana di Haneda International Airport Tokyo (Dok. Cech)
DSCN3638
Telepon Umum di Haneda International Airport (Dok. Cech)
Tiket bus menuju Gotemba (Dok. Cech)
Bus Jurusan Gotemba/Hakone (Dok. Cech)

Suhu di Bandara Haneda saat itu 6 derajat Celcius, 5 menit sebelum berangkat kami sudah diperkenankan masuk ke dalam bus. Ternyata hanya kami saja yang menjadi penumpang. Tetapi memasuki kota Yokohama, banyak penumpang yang menaiki bus walaupun bus tidak terisi penuh.

Selama perjalanan, kami sudah memperkirakan bahwa momen untuk mengambil foto Gunung Fuji di Gotemba Premium Outlet kecil sekali peluangnya karena cuaca makin mendung dan hujan. Apalagi untuk melanjutkan perjalanan ke Hakone tidak mungkin dapat dilakukan dan kami memutuskan untuk lain waktu saja ke Hakone pada saat ke Jepang lagi.

IMG-20170326-WA0099
Gotemba Station (Dok. Cech)
IMG-20170326-WA0179
Tempat bus menaikkan penumpang (Dok.Cech)
DSCN3648
2 Vending Machine tersedia di setiap pojok Gotemba Premium Outlets (Dok. Cech)
DSCN3646
Waktu Kunjung di Gotemba Premium Outlets

Benar saja, setibanya di Gotemba Station hujan masih mengiringi kedatangan kami. Setelah bertanya kepada bagian informasi di loket bus, kami menggunakan Shuttle Bus yang memang disediakan gratis oleh Gotemba Premium Outlet menuju lokasi.

Dari Gotemba Station ke Gotemba Premium Outlets membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Setibanya di lokasi, waktu menunjukkan jam 15.35. Segeralah kami berjalan menuju West Zone terlebih dahulu karena letaknya dekat dengan parkiran bus.

DSCN3645
West Zone (Dok. Cech)
DSCN3649
Peta lokasi West Zone (Dok. Cech)
DSCN3650
Jalan menuju East Zone yang dibatasi oleh jembatan (Dok. Cech)

Setelah memutari West Zone sejenak, kami memutuskan untuk mencari Food Court karena perut mulai terasa lapar. Ternyata Food Court berada di East Zone. Segeralah kami menuju lokasi dan letaknya dekat dengan jembatan yang memisahkan West Zone dan East Zone. Food Court nya luas sekali dan pengunjung tidak perlu kuatir untuk tidak mendapatkan tempat. Karena hujan, lokasi tempat makan di luar Food Court ditutup. Segeralah kami memesan makanan dan banyak sekali pilihan untuk mencari menu makanan yang disukai. Karena sudah disepakati bahwa kami hanya 2 jam saja berada di Gotemba Premium Outlets maka kami segera menyelesaikan santapan makan  dan melanjutkan keliling East Zone.

Sama dengan West Zone, East Zone terdiri dari outlet yang menjual produk-produk bermerek Internasional dan terkenal dengan harganya yang miring. Tetapi tetap saja kami belum menemukan beberapa barang yang dicari. Berikut adalah beberapa contoh merek internasional yang ada di Gotemba Premium Outlets (GPO) :
West Zone: Alexander Mc Queen, Yves Saint Laurent, Sergio Rossi, Petit Bateau, Wedgwood, Bottega Veneta, Diesel, Godiva, Triumph, Haagen-Dasz, Body Shop, Ray-Ban, Folii Follie, dll
East Zone: Replay, Burton, Lego, OshKosh B’Gosh, Callaway, Samsonite, Ralph Lauren, McDonald’s, Coleman, Bose, Armani, Dunhill, Dolce&Gabbana, Banana Republic, Swarovski, Vivienne Westwood, Kate Spade New York, The North Face, dll.

Sedangkan merek lokal asli Jepang:
West Zone: Issey Miyake, Nextdoor, Nikon, Cabane de Zucca, Tomorrowland, Melrose, Kanematsu
East Zone: Olive des Olive, Sanrio, Beams, Lowrys Farm, Francfranc, Ciaopanic, Tsumori Chisato, Adam et Rope, Cecil McBee, Pearly Gates, dll.

DSCN3652
Suasana Food Court (Dok. Cech)
DSCN3656
Bagian luar Food Court (Dok.Cech)
IMG-20170326-WA0104
Menu makan siang kami (Dok. Cech)

Setelah 2 jam berada di Gotemba Premium Outlets, kami memutuskan untuk kembali ke Gotemba Station. Kami mendapatkan informasi bus jurusan Tokyo terakhir pada pukul 17.30. Sesampainya di Gotemba Station, kami langsung menuju loket tiket bus. Ternyata jurusan bus ke Tokyo tepatnya daerah Shinjuku tiba dalam hitungan menit. Biaya tiket bus per orang sebesar Yen 1680 dan lama perjalanan kurang lebih 2 jam. Mendekati Shinjuku, lalu lintas bergerak merayap karena waktunya bersamaan dengan jam pulang kerja.

Selanjutnya kami menuju ke Shinjuku Station untuk membeli tiket kereta bawah tanah. Setelah bertanya ke bagian informasi, kami disarankan membeli tiket kereta terusan langsung ke Asakusa Station. Kami langsung membeli tiket via Mesin Penjualan Tiket. Harga tiket kereta per orang sebesar Yen 520. Ada 2 line kereta yang kami gunakan untuk jurusan Higashi Shinjuku Station ke Asakusa Station yaitu Oedo Line (E) dan Ginza Line (G). Oeda Line (E) meliputi Higashi Shinjuku Station ke Ueno Okachimachi Station dengan 7 station pemberhentian. Sedangkan Ginza (G) meliputi Ueno Station ke Asakusa Station dengan 4 station pemberhentian. Total waktu perjalanan sekitar 40 menit.

IMG-20170326-WA0101
Ubi Jepang diantara panganan modern di Jepang (Dok. Cech)
DSC_0042
Asakusa Don Quijote (Dok. Cech)
DSC_0044
Pintu Gerbang Sensoji Temple (Dok. Cech)
DSC_0036
Restoran Jepang yang masih buka di tengah malam (Dok. Cech)
DSC_0038
Toko yang menjual barang-barang tradisional Jepang di Asakusa (Do. Cech)

Ternyata Asakusa Station letaknya dekat sekali dengan Richmond International Premier Hotel (sekitar 20 meter), hotel tempat kami menginap. Sebelum ke hotel kami membeli ubi bakar yang dijual dipinggir jalan. Uniknya rasa ubinya mirip dengan ubi Cilembu dengan lelehan madu yang keluar saat dimakan. Lumayanlah untuk mengisi perut yang sudah terasa lapar sekali.

Selanjutnya kami menuju ke hotel. Setelah meletakkan kedua ransel dan rehat sejenak sekitar 1 jam, kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran hotel karena sepertinya banyak pemandangan yang layak untuk dilihat. Walaupun sudah pukul 22.30 suasana Asakusa masih ramai orang bahkan banyak sekali wisatawan asing yang sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan suasana unik Asakusa. Ada satu toko besar yang terkenal dengan harga miringnya masih buka dan ramai dikunjungi orang. Ternyata toko tersebut buka 24 jam. Nama toko tersebut adalah Don Quijote. Saya tidak terlalu tertarik untuk masuk ke dalam toko dan memutuskan untuk menunggu di Pos Polisi yang letaknya di depan toko. Sementara istri sibuk belanja di dalam toko.

Suhu di luar sekitar  5-6 derajat Celcius tetapi tidak menyurutkan pengunjung baik lokal maupun asing untuk jalan-jalan mengitari wilayah Asakusa yang lumayan luas. Sayapun tertarik untuk mengikuti aktifitas mereka terutama mengambil beberapa foto di lingkungan Asakusa yang menarik tersebut.

DSC_0028
Suasana lingkungan di Asakusa pada tengah malam (Dok. Cech)
DSC_0030
Foto sejenak di tengah malam di Asakusa (Dok. Cech)
DSC_0043
Asakusa Station tidak jauh dari jalanan ini (Dok. Cech)

Setelah puas menikmati lingkungan Asakusa, saya menghampiri istri di Don Quijote dan kembali ke hotel. Kami harus segera istirahat karena besok pagi jam 09.00 pagi harus meninggalkan hotel dan perjalanan kami akan berlanjut ke Kyoto. 24 jam di Tokyo yang melelahkan dan butuh waktu yang lebih lama untuk mengunjungi beberapa objek wisata di sekitaran Tokyo. Mungkin di perjalanan ke Jepang berikutnya.

Air Sebagai Sumber Biaya Pernikahan

Seorang office boy mempunyai rencana untuk menikahi perempuan pujaan hatinya. Sebulan menjelang hari H, uang yang terkumpul baru Rp. 1 juta. Dia sudah kuatir apakah pernikahannya akan terwujud.

Suatu hari pada saat pulang kerja, dia mendapati ayahnya sakit. Batuk-batuk diikuti dengan keluar darah kental. Dalam keadaan bingung, dia putuskan membawa ayahnya ke rumah sakit dan dengan terpaksa uang pernikahannya 1 juta dipakai untuk pengobatan ayahnya. Dia sudah pasrah dengan rencana pernikahannya. Yang penting ayahnya sembuh dan sehat kembali.

3 minggu menjelang hari H, kampung tempat dia tinggal mengalami kesulitan air. Rumah-rumah besar yang mengeliling rumahnya juga mengalami kesulitan air padahal mereka menggunakan jet pump. Anehnya hanya rumah dia saja, air tetap mengalir walaupun dia hanya menggunakan pompa biasa.

Masyarakat sekitar merasa heran kenapa air tetap mengalir di rumah office boy. Karena sangat dibutuhkan, akhirnya masyarakat sekitar membeli air ke dia walaupun awalnya dia ikhlas memberikan air secara gratis tetapi masyarakat sekitar tetap membelinys.

Hampir 3 minggu, masyarakat mengambil dan membeli air dari rumahnya. Dalam satu hari diperoleh uang pembelian air sebesar 500 ribu sampai 800 ribu. Tanpa terasa uang dari penjualan air terkumpul hampir 15 juta. Dengan uang tersebut maka jadilah office boy menikah dengan perempuan pilihannya.

Yang menarik 2 hari setelah acara pernikahan, air kembali keluar dari pompa-pompa air di lingkungannya. Masyarakatpun dapat menikmati dan memanfaatkan air kembali untuk kebutuhan sehari-hari. Subhanallah.

22 Maret adalah HARI AIR SEDUNIA. Gunakan dan manfaatkan air sebijaksana mungkin. #worldwaterday

World-Water-Day

Japan Trip : Terima Kasih Ta-Q-Bin

Sengaja saya memulai tulisan tentang perjalanan ke Jepang pada awal Maret 2017 lalu tentang Ta-Q-Bin. Nama Ta-Q-Bin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah nama yang terdengar asing. Apakah Ta-Q-Bin ?

Ta-Q-Bin adalah merek dagang sebuah perusahaan Jepang, Yamato Transport C0., Ltd. Dari nama perusahaannya sangat jelas perusahaan tersebut bergerak di bidang jasa pengiriman barang. Bagi traveller atau turis asing yang datang ke Jepang terutama dari Eropa dan Amerika sudah mengenal Ta-Q-Bin  dan sering menggunakan jasa pengiriman barang mereka selama di Jepang.

Saya mengetahui Ta-Q-Bin dari seorang teman yang baru saja jalan-jalan ke Jepang pada bulan Desember 2016. Menurut Teman, Ta-Q-Bin sangat membantu mereka terutama koper-koper besar dan kardus-kardus yang berisi barang oleh-oleh dari Jepang sehingga selama menikmati perjalanan di Jepang mereka hanya membawa ransel saja. Mendengar cerita teman tersebut maka kami pikir bagus untuk memakai jasa Ta-Q-Bin.

Dari awal, kami sudah merencanakan membawa 2 koper besar dan kecil untuk oleh-oleh dan pakaian. Kemudian selama perjalanan di Jepang dimana kami akan berpindah-pindah dari Tokyo ke Kyoto, Kyoto ke Kansai International Airport, Osaka cukup membawa dua buah ransel layaknya backpacker.

black-cat-kuroneko-yamato

index_img_01
Dok. Ta-Q-Bin

Tanggal 1 Maret 2017 pukul 23.30 WIB kami berangkat dari Soekarno-Hatta International Airport, Tangerang dan tiba di Haneda International Airport Tokyo, Jepang pada pukul 08.50 waktu Jepang tanggal 2 Maret 2017. Setelah melewati pemeriksaan Imigrasi Jepang, kami segera mencari lokasi Ta-Q-Bin di Bandara Haneda. Dengan lambang Kucing Hitam membawa Anak Kucing Hitam khas Ta-Q-Bin, kami pikir akan mudah menemukan lokasinya. Setelah bertanya ke bagian informasi ternyata Ta-Q-Bin berada dalam satu tempat dengan bagian barang maskapai penerbangan Jepang ANA.

Karena di Tokyo, kami hanya satu malam maka kami mempersiapkan beberapa pakaian yang akan dibawa ransel  dan beberapa barang yang diperkirakan memberatkan selama jalan-jalan kami simpan di koper besar. Setelah itu kami membawa 2 koper besar kami  ke Ta-Q-Bin. Dengan pelayanan petugas yang ramah dan membantu pengisian form pengiriman barang yang berbahasa Jepang sehingga kami merasa nyaman dan yakin 2 buah koper kami akan aman dan sampai ke tujuan.

20170322_133339
Dok. Cech

Kedua koper  kami ditimbang dan dihitung volumenya. Ta-Q-Bin hanya menerima koper dengan berat maksimal 25 kg. Selain itu volume koper dan tempat tujuan menentukan besaran biaya pengirimannya.Kedua koper tersebut, kami meminta untuk dikirim ke Hotel Green Rich Hotel di Kyoto dan tiba pada pukul 14.00 keesokkan harinya. Perhitungan biaya pengiriman sangat jelas. Kami dikenakan biaya pengiriman untuk 2 koper sebesar 3.700 Yen (sekitar IDR 436.600). Kami pikir biaya tersebut wajar sehingga kami tidak harus membawa-bawa kedua koper tersebut selama jalan-jalan di Tokyo atau melakukan perjalanan dari Tokyo ke Kyoto keesokan harinya.

Setelah urusan pengiriman kedua koper, kami dengan 2 buah ransel langsung melanjutkan perjalanan ke Gotemba dan Hakone. Pergerakan kami leluasa selama di sana dan dapat menikmati suasana perjalanannya terutama saat berada Gotemba Premium Outlet dan di dalam bus.

Keesokan harinya menjelang siang, kami menggunakan Shinkansen N 700 ke Kyoto. Sesampainya di Kyoto Station dengan berjalan kaki. kami dapat melenggang santai tanpa harus membawa-bawa koper besar menuju Green Rich Hotel yang letaknya tidak jauh dari Kyoto Station. Di Green Rich Hotel, resepsionis memberitahu kami bahwa kedua koper sudah berada di dalam kamar. Benar saja, kedua koper sudah berada di kamar dan setelah diperiksa kedua koper dalam kondisi baik dan tidak rusak sama sekali.

IMG-20170303-WA0028
Dok. Cech

Karena kami tinggal di Kyoto selama 4 malam maka kami memutuskan untuk mengirimkan beberapa koper yang berisi pakaian dan oleh-oleh pada tanggal 6 Maret 2017. Setelah melakukan wisata ke beberapa lokasi di Kyoto dan membeli barang keperluan barang pribadi dan oleh-oleh maka pada tanggal 6 Maret 2017, kami meminta hotel untuk menghubungi Ta-Q-Bin untuk mengirimkan dua koper besar dan satu koper kecil berisi oleh-oleh ke Kansai International Airport, Osaka, Jepang. Memang kami akan pulang ke Indonesia via Osaka.

Perlu diketahui, Ta-Q-Bin telah melakukan kerjasama dengan hotel, mini market, stasiun kereta api, terminal bus, bandar udara, mal besar dan lain-lain sehingga kami tidak perlu datang ke kantor Ta-Q-Bin. Di beberapa lokasi tersebut tersedia form pengiriman barang dengan mudah dan perhitungan biaya yang sudah standar dan mudah menghitungnya. Pengiriman dua koper besar dan satu koper dikenakan biaya 7.000 Yen (sekitar IDR 826.000)

ClXBX0iVAAEy3PQ
Beberapa sign Ta-Q-Bin yang mudah dilihat di beberapa lokasi di Jepang
200806261357001
Contoh sign Ta-Q-Bin yang sering terlihat di depan mini market

Sama dengan saat di Tokyo,  Kami hanya membawa dua ransel dalam perjalanan dengan kereta api dari Kyoto ke Osaka. Sesampainya di Osaka Station, kami jalan-jalan dahulu ke beberapa tempat wisata di Osaka sebelum ke Daiwa Roynet Hotel, Osaka tempat kami menginap selama 1 malam. Kami tiba di Osaka pada tanggal 7 Maret 2017.

Pada tanggal 8 Maret 2017 pukul 07.00 kami sudah meninggalkan hotel dan menuju Kansai International Airport Osaka dengan menggunakan kereta api. Sesampainya di Kansai International Airport, kami tidak mengalami kesulitan untuk mencari lokasi Ta-Q-Bin karena berada satu lokasi dengan bagian pengiriman barang maskapai JAL dan dekat dengan booth check in Garuda Indonesia.Dengan menunjukkan copy form pengiriman, tanpa membutuhkan waktu lama 2 koper besar dan satu koper kecil milik kami diserahkan dalam kondisi baik. Setelah itu kami langsung menuju boot check in Garuda Indonesia. Begitulah cerita tentang Ta-Q-Bin, merek dagang jasa pengiriman barang yang sangat membantu kami dan para turis asing terutama yang membawa keluarga sehingga tidak perlu direpotkan oleh bawaan koper-koper yang  berat bebannya. Sekadar informasi Ta-Q-Bin juga terdapat di Malaysia dan Hongkong. Terima kasih Ta-Q-Bin sehingga perjalanan kami di Jepang menjadi sangat menyenangkan. ありがとうございます Arigatou gozaimasu

IMG-20170308-WA0034
Booth Ta-Q-Bin di Kansai Internasional Airport, Osaka (Dok. Cech)
index_img_02
Dok. Ta-Q-Bin

Pahawang, Secuil Penerawangan Tentang Lampung Akhir Tahun 2016

Tanggal 23 Desember 2016 pukul 11.00 dengan diiringi lagu  Coldplay ” A Sky Full of Stars “, saya, istri, teman istri dan anaknya mulai bergerak meninggalkan kota Bandung menuju Rest Area KM 42 Tol Tangerang – Merak sebagai titik kumpul rombongan Mini Touring Pahawang Forescom 23-26 Desember 2016.

Pembicaraan tentang Mini Touring ini sudah berlangsung sebulan, berbagai rencana telah dibicarakan dengan detil. Dikatakan Mini Touring karena peserta yang turut serta berjumlah 8 mobil yang terdiri dari 6 mobil Ford Ecosport, 1 mobil Ford Everest anyar dan 1 mobil Mitsubishi Pajero.Sport dengan total jumlah 28 orang. Delapan mobil akan berkumpul di Rest Area KM 42 dan bergerak menuju pelabuhan Merak pada pukul 21.00. Selain itu ada 1 mobil Ford Ecosport menunggu di Bandar Lampung.

Rencana awal kami meninggalkan Bandung pada pukul 17.00 tetapi kami mendapatkan kabar bahwa ada satu jembatan di Tol Cipularang yaitu Jembatan Cisomang KM 100 dengan panjang 250 meter mengalami pergeseran jembatan dan ada beberapa tiang yang retak. Oleh karena itu pertimbangan waktu dan keselamatan, kami memutuskan berangkat jam 11.00. Karena pada siang hari kami dapat mendapatkan informasi dan melihat dengan jelas apa yang terjadi dengan jembatan tersebut. Selain itu saya memperkirakan akan terjadi kemacetan parah apabila berangkat diatas jam 14.00 karena waktu keberangkatan bersamaan dengan liburan panjang Hari Natal 2016 yaitu 24-26 Desember 2016 libur nasional.

Setelah mampir beberapa tempat di Jakarta, pukul 16.25 kami tiba di Rest Area KM 42. Kemudian saya mulai memantau pergerakan beberapa teman yang akan menuju ke Rest Area KM 42 melalui WA Group Mini Touring. Apa yang saya perkirakan ternyata terjadi yaitu kemacetan di beberapa lokasi. Yang berangkat dari Cikarang mulai mengalami kemacetan walaupun masih berjalan lambat. Yang dari Kelapa Gading, berangkat sebelum Maghrib mengalami kemacetan di daerah Pasar Senen. Secara keseluruhan lokasi Karang Tengah merupakan lokasi dimana kendaraan yang menuju ke Merak bergerak lambat.

Menjelang pukul 21.00 beberapa peserta Mini Touring mulai berdatangan dan mulai lengkap kehadirannya 21.30. Segera saya memberitahu mereka bahwa pembelian tiket kapal dapat dilakukan di Rest Area KM 42. Ternyata di Rest Area KM 42 terdapat loket resmi ASDP yang menjual tiket kapal dengan harga Rp. 320.000. Setelah seluruh peserta memperoleh tiket maka kami segera berangkat menuju pelabuhan Merak. Pukul 23.35 kami tiba di pelabuhan Merak dengan antrian panjang kendaraan baik motor, mobil pribadi, angkutan barang dan bus. Tetapi tidak seramai pada saat liburan Lebaran/Idul Fitri. Setelah menunggu antrian selama 40 menit akhirnya seluruh kendaraan Touring sudah menaiki kapal. Jumlah penumpang yang membludak sehingga ruang ekonomi dan bisnis sudah penuh dengan penumpang sehingga kami memutuskan untuk istirahat di dalam mobil walaupun resikonya terkena kencangnya angin laut di malam hari.

Setelah 3 jam lebih perjalanan via laut, pukul 03.50 kami sudah mendarat di pelabuhan Bakauheni Lampung. Selanjutnya kami bergerak menuju kota Bandar Lampung tetapi memasuki waktu subuh kami istirahat sejenak di sebuah mesjid di daerah Kalianda. Ada beberapa peserta yang melakukan sholat Subuh. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan kembali.

dscn3608
Sarapan pagi di Nasi Uduk Aris (dok. Cech)

Sesuai rencana semula, rombongan bertemu dengan peserta dari Lampung yaitu Om Denny di Teluk Betung.  Kemudian Om Denny membawa kami ke sebuah warung makan dengan menu Nasi Uduk Aris khas Lampung untuk sarapan dulu sebelum menuju Dermaga 4 Ketapang (dermaga dimana berlabuhnya beberapa kapal yang mengangkut penumpang ke Pulau Pahawang).

Satu jam kemudian rombongan berangkat menuju Dermaga 4 Ketapang dengan perut yang sudah kenyang. Butuh waktu kurang lebih 1 jam perjalanan menuju Dermaga 4 Ketapang. Ternyata Dermaga telah dipenuhi oleh mobil pribadi, bus wisata dan para wisatawan baik domestik maupun asing. Segera kami mengganti pakaian dan mempersiapkan apa saja yang dibawa selama Tour Pulau Pahawang. Kemudian satu per satu kami diberikan pelampung keselamatan sebelum menaiki kapal. Kami membutuhkan 2 kapal untuk Tour Pulau Pahawang ini.

dscn3566
Dermaga 4 Ketapang (dok. Cech)
dscn3563
Dok. Cech
dscn3565
Kapal sewa menuju Pulau Pahawang (dok. Cech)

Tidak sampai satu jam, rombongan tiba di Pulau Pahawang Kecil. Segeralah beberapa peserta menceburkan diri ke laut. Ada yang berenang, snorkeling atau menyelam sambil menikmati indahnya pemandangan bawah laut. Suasana pulau Pahawang Kecil ramai sekali. Tiap 30 menit silih berganti kapal datang dan pergi. Dengan air laut yang jernih dan transparan maka terlihat kasat mata dasar laut sehingga menarik untuk menyelam.

Setelah berpuas diri menikmati alam bawah laut pulau Pahawang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pulau Pahawang Besar. Di Pulau Pahawang Besar ini kami makan siang bersama. Oh ya biaya per orang untuk sewa kapal mengelilingi pulau Pahawang Kecil, Pahawang Besar, Taman Nemo dan makan siang adalah Rp. 175.000.

15672757_1478080932220287_641018424522469071_n
Pulau Pahawang Besar (dok. Yulia Setiati)

Menu makan siang berupa sayur asem, gulai ikan, kerupuk, nasi dan buah-buahan menimbulkan selera makan setiap anggota rombongan.Mungkin mereka merasa lelah dan lapar setelah menempuh perjalanan jauh dan menikmati alam bawah laut Pahawang Kecil tadi. Selain itu kami disuguhi air kelapa yang langsung diambil dari pohon.

Hampir dua jam rombongan berada di Pulau Pahawang Besar. Udara panas sekali dan repotnya hanya ada satu warung kopi tetapi tidak menyediakan es batu. Hal ini sangat wajar karena di pulau tersebut belum ada aliran listrik. Listrik diperoleh dari generator yang menyala hanya pada malam hari dan itupun hanya 2 jam lamanya. Kecuali liburan panjang dimana banyak wisatawan yang menginap di vila sekitaran pulau maka generator dinyalakan 24 jam penuh.

Taman Nemo (dok. Forescom)

Pasir Putih (dok. Forescom)

Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Taman Nemo dan Pasir Putih. Di Taman Nemo kita dapat melihat pergerakan ikan Nemo dan sekumpulan ikan lainnya dengan cara menyelam atau snorkeling. Karena ramainya  wisatawan maka memberikan kesan riuh dan ramai sehingga mengurangi kenikmatan indahnya Taman Nemo. Setelah itu rombongan ke Pasir Putih. Pasir Putih adalah sebuah daratan yang timbul di tengah laut dimana daratan tersebut mempunyai pasir putih dan dikelilingi oleh tanaman bakau. Ada beberapa wahana bermain yang menarik seperti boat menarik perahu karet dengan kecepatan tinggi sehingga membuat penumpang di perahu karet terpelanting ke sana kemari.

Tanpa terasa hari mendekati senja sehingga rombongan memutuskan untuk mengakhiri wisata pulau Pahawang dan kembali menuju Dermaga 4 Ketapang. Sesampainya di Dermaga setiap anggota rombongan membersihkan diri dan mencari makanan kecil untuk mengisi perut yang sudah terasa kosong.  Tepat pukul 16.45, rombongan meninggalkan dermaga menuju tempat penginapan di Bandar Lampung yaitu Hotel Grand Anugrah. Ada 2 mobil yang memisahkan diri sesampainya di hotel yaitu mobil Om Denny karena ada urusan keluarga dan Om Yulianto karena menuju Bandar Jaya menjenguk orang tuanya.

Setelah mendapatkan kepastian kamar hotel saya dan istri langsung istirahat karena keletihan sangat. Ada beberapa panggilan telpon yang diabaikan karena kami ketiduran. Saya menduga anggota rombongan lain pasti langsung tertidur setibanya tubuh menyentuh kasur kamar hotel.

Esok hari adalah hari Natal sehingga ada beberapa anggota rombongan merayakan natal di gereja. Tetapi pukul 10.00 kumpul kembali karena rombongan berencana wisata ke Muncak Teropong Laut dan makan Pempek serta mencari durian karena Lampung sudah diserbu oleh para pedagang durian alias sudah masuk musim durian.

img-20161225-wa0008
Foto bersama di Muncak (dok. Forescom)

Pukul 10.00 rombongan berangkat ke Muncak. Muncak adalah lokasi wisata di atas bukit dimana kita dapat melihat pemandangan laut dan sekeliling kota Bandar Lampung. Pemandangannya indah sekali dan layak untuk diabadikan dalam bentuk foto.Setelah ambil beberapa foto dan menikmati gorengan di sebuah warung, rombongan memutuskan untuk makan Pempek di Pempek 123 yang konon terkenal enaknya. Di Pempek 123 beberapa anggota rombongan membeli oleh-oleh untuk dibawa ke tempat asalnya.

Setelah itu rombongan bergerak menuju daerah Way Halim. Sepanjang jalan Way Halim, pedagang menjajakan buah durian sehingga pengunjung mempunyai banyak pilihan durian yang disukai. Harga durian ada disekitaran Rp 100.000 untuk 4 buah durian berukuran normal. Sedangkan yang besar dihargai di atas Rp. 40.000 per buah. Beberapa biji saya mencoba enaknya durian yang infonya berasal dari daerah Bengkulu.

Tak salahlah ikut Mini Touring ini karena banyak kenikmatan yang kami peroleh terutama pempek dan duriannya. Di Way Halim, om Chandra memisahkan diri karena ingin merayakan natal dengan keluarga besar di Bandar Jaya. Tanpa terasa jumlah mobil berkurang menjadi 5 mobil saja. Segeralah rombongan yang tersisa kembali ke hotel dan acaranya bebas.

Saatnya tiba, hari terakhir rombongan berada di Bandar Lampung dan mempersiapkan diri untuk pulang ke pulau Jawa. Di hari terakhir, Om Ketum dan keluarga memisahkan diri karena ada urusan keluarga di Bandar Lampung. Tersisa 4 mobil, rombongan berangkat pukul 11.00 menuju pelabuhan Bakauheni. Butuh waktu 3 jam untuk sampai di Bakauheni. Tetapi sebelum masuk ke pelabuhan, kami singgah sejenak di Menara Siger yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan. Di Menara Siger, kita dapat menikmati keindahan pemandangan laut dan aktifitas kapal di pelabuhan Bakauheni.

Satu jam berada di Menara Siger, rombongan segera menuju pelabuhan Bakauheni untuk menuju pelabuhan Merak. Tepat pukul 18.20 rombongan meninggalkan pelabuhan Merak dan bergerak menuju Rest Area KM 68 tol Merak – Jakarta.Selain istirahat dan makan malam, kesempatan tersebut juga dipakai untuk membubarkan rombongan Mini Touring Pahawang dan kembali ke daerah asalnya masing-masing.

Begitu menyenangkan dan penuh suasana kekeluargaan dalam Mini Touring Pahawang ini. Walaupun hanya secuil penerawangan tentang Lampung tetapi cukup bagi kami, Komunitas Forescom untuk menerawang lebih luas lagi yaitu pulau Sumatera. Mungkin saja dari penerawangan tersebut Komunitas Forescom dapat melakukan Touring ke Bukittinggi atau Danau Toba di kemudian hari. Insya Allah.

“Ayahmu Lebih Penting Daripada Tim”

Cristiano-Ronaldo-embraces-his-former-manager-Sir-Alex-Ferguson

mirror.co.uk

Kami baru saja mengalami kekalahan dalam satu pertandingan di kompetisi domestik. Setelah pertandingan, bos marah besar. Semua benda yang ada di dekatnya ditendang ke segala arah dengan emosionalnya.

Sementara itu saya baru saja mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami koma di rumsh sakit dan keluarga meminta saya untuk pulang menjenguk. Dalam situasi saat itu sepertinya saya kuatir permintaan pulang (cuti pulang) tidak akan diberikan oleh bos karena 2 hari lagi ada satu pertandingan yang sangat menentukan untuk keberlanjutan tim kami di liga regional yaitu Liga Champions.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menghadap bos.

” Bos, saya ingin mengajukan cuti pulang ke negara saya selama 2 hari “

” Memangnya ada apa sehingga kamu mau cuti pulang?” tanya bos

“Saya baru dapat kabar ayah saya sakit dan mengalami koma di rumah sakit. “

” Pergilah ” tegas Bos.

” Terima kasih dan lagi pula saya hanya cuti 2 hari sebelum pertandingan liga champions saya sudah bersama tim”

” Tidak… tidak… Pergilah kau menemani ayahmu yang koma. Mau 2 hari … Seminggu … bahkan lebih dari itu sampai ayahmu sadar dan sehat kembali”

” Lalu bagaimana dengan pertandingan Liga Champions yang tinggal 2 hari lagi. Itu pertandingan penting bagi kita”

” Tidak, Ronaldo. Pulanglah. Kamu lebih penting dan lebih dibutuhkan oleh ayahmu dari pada tim” jelas Bos Sir Alex Ferguson.

Di tahun kompetisi tersebut MU menjuarai Liga Champions. Dari kejadian tersebut itulah CR7 sangat respek dan menganggap SAF bukan hanya sebagai bos tapi sebagai Bapak baik di luar maupun dalam lapangan.