Japan Trip : 3 Jam di Kinkakuji Temple, Kyoto

Hari Sabtu, 4 Maret 2017 adalah hari pertama kami di Kyoto. Pukul 09.00 pagi kami sudah siap sedia untuk melakukan perjalanan wisata. Sesuai rencana, ada beberapa tempat wisata di Kyoto. Yang utama adalah Kinkakuji Temple dan Kyoto Imperial Palace.

Kebetulan hotel kami terletak diseberang pool bus kota Kyoto sehingga memudahkan untuk mendapatkan informasi tentang bus umum yang dapat mengantar kami ke Kinkakuji. Perlu diketahui halte bus persis berada di depan dan di seberang hotel. Nama halte bus tersebut adalah Kujoshakomae Bus Stop.

Berdasarkan petugas informasi dari pool bus, kami disarankan membeli tiket bus terusan (one day pass) seharga Yen 500. Nomor bus jurusan ke Kinkakuji adalah 205. Untuk menuju Kinkakuji, kami melewati 25 halte (bus stop) dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.  Kalau tanpa tiket terusan, dikenakan ongkos bus Yen 230 per penumpang. Setibanya di halte Kinkakujimichi, kami segera turun dari bus. Pada saat itu bus penuh dengan penumpang dan sebagian besar adalah turis asing terutama turis dari Peru.

Sebelum memasuki komplek Kinkakuji Temple, kami sarapan terlebih dahulu di sebuah kafe yang letaknya persis di depan halte bus. Kafe yang dimiliki oleh pasangan suami istri lanjut usia tersebut menyediakan banyak menu makanan. Kami langsung memesan minuman kopi dan coklat. Sedangkan untuk makanan kami memesan roti bakar.

Ada beberapa hal yang menarik dari kafe tersebut, selain dikelola oleh pasangan lanjut usia, pasangan tersebut memiliki koleksi mata uang asing yang diberikan oleh turis asing yang mampir ke kafe mereka. Uniknya sudah ada uang rupiah emisi  tahun 2016 yang dimiliki mereka yaitu 2000 dan 5000. Mereka juga mengkoleksi origami buatan sendiri. Walaupun terbata-bata dalam berbahasa Inggris tetapi pasangan tersebut mengerti maksud ucapan kami dalam berbahasa Inggris.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah sarapan pagi, kami berjalan kaki sekitar 100 meter menuju Komplek Kinkakuji Temple. Sebelum memasuki komplek, tertulis larangan menggunakan drone, merokok dan buang sampah sembarangan. Komplek Kinkakuji Temple dibuka untuk umum pada jam 09.00-17.00 setiap hari dengan biaya masuk Yen 400 per orang.

Beberapa ratus meter dari pintu masuk sudah terlihat bangunan unik khas Jepang berwarna emas. Banyak pengunjung mulai mengabadikan bangunan tersebut dan berselfia ria termasuk kami. Bangunan tersebut adalah Kinkakuji atau Kuil Paviliun Emas ( Temple of Golden Pavillion).  Kinkakuji adalah nama umum untuk Rokuonji (鹿苑寺 Kuil Taman Rusa) merupakan sebuah kuil di Kyoto, Jepang.

DSC_0081
Pintu masuk ke Komplek Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0083
Prasasti Kinkakuji Temple
DSC_0085
Sejarah Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0090
Kinkakuji Temple (Temple of Golden Pavillion) (Dok. Cech)
DSC_0095
Hojo, tempat tinggal Kepala Bikhsu (Dok. Cech)

Menurut sejarah, Komplek Kinkakuji adalah sebuah vila dengan nama  Kitayama-dai yang dimiliki oleh seorang tuan tanah  Saionji Kintsune.  Pada tahun 1397, Shogun Ashikaga Yoshimitsu membeli komplek vila tersebut dan memberi nama Komplek Kinkakuji. Ketika Yoshimitsu wafat, oleh anaknya komplek vila tersebut diubah peruntukkannya menjadi bangunan kuil Zen Budha sesuai keinginan ayahnya.

Selama perang Onin (1467-1477, seluruh bangunan dalam komplek tersebut terbakar. Pada tanggal 2 Juli 1950, kuil Paviliun Emas dibakar oleh seorang bikhsu berusia 22 tahun, Hayashi Yoken yang saat itu melakukan percobaan bunuh diri di belakang bangunan tetapi berhasil diselamatkan. Bikhsu tersebut dihukum 7 tahun penjara dan dibebaskan karena menderita gangguan mental (persecution complex dan schizophrenia) pada tanggal 29 September 1955. Pada tahun 1992, Kinkakuji Temple dinyatakan sebagai World Heritage Site oleh Unesco.

Kuil Kinkakuji (Paviliun Emas) terdiri dari 3 lantai. Keseluruhan paviliun kecuali bagian lantai dasar ditutupi dengan lembaran tipis emas murni, menjadikan kuil itu sangat berharga. Pada atap kuil terdapat fenghuang emas atau “burung phoenix”. Di hari yang cerah lembaran emas tersebut akan  memantulkan sinar matahari secara sempurna dan bayangan Kinkakuji terpantul di permukaan air. Kinkakuji Temple hanya dapat dilihat dari pinggir danau dan tidak dapat mendekati area dan ke dalam paviliun tersebut.

Kemudian di samping Kinkakuji Temple, terlihat satu bangunan besar yang dinamakan Hojo. Hojo adalah bangunan tempat tinggal mantan Kepala Bikhsu dimana seluruh pintu gesernya dicat. Sayangnya Hojo tertutup untuk umum.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selanjutnya kami berjalan sedikit menanjak dan terlihat taman nan indah. Di tengah taman terdapat sebuah kios yang menjual pernak-pernik tradisional khas Jepang (Kinkakuji Gift Shop) seperti gantungan kunci, patung kecil dari kayu, jimat keberuntungan dan lain-lain. Tidak jauh dari kios terdapat sebuah lokasi yang dinamakan Anmintaku Pond dimana ada beberapa patung tak berbentuk dari batu yang penuh dengan koin uang. Jadi siapapun yang berhasil melempar dan masuk ke dalam mangkok yang berada di beberapa patung tersebut maka akan mendapatkan keberuntungan.

Setelah melewati Anmintaku Pond dan taman, kami melihat sebuah tempat yang menyajikan minuman teh hijau yang disebut dengan Sekkatei Teahouse. Dengan membayar Yen 500, pengunjung dapat menikmati matcha tea dan manisan.

Beberapa puluh meter kemudian, kami melihat satu kuil kecil yang dinamakan Fudo Hall. Fudo Hall adalah sebuah kuil untuk menghormati salah satu 5 Raja Kebajikan yang melindungi umat Budha. Banyak pengunjung terutama warga Jepang melakukan ritual dan berharap mendapatkan keberuntungan di kuil tersebut.

Di dekat pintu keluar, ada beberapa kios yang menjual beberapa produk tradisional Jepang. Salah satunya adalah makanan tradisional khas Kinkakuji yaitu Meika Kinkaku (Classic Gold Leaf Cake). Harganya Yen 900 per kotak berisi 6 buah kue. Meika Kinkaku adalah kue khas Kinkaku yang dibuat oleh para pembuat kue di Senbon Tamajuken, distrik Nishijin, Kyoto.

Setelah keluar dari komplek Kinkakuji, awalnya kami akan mengunjungi Ryonji Temple dan Ninnaji Temple yang letaknya masih berdekatan dengan Komplek Kinkakuji. Karena hari sudah siang  maka kami memutuskan untuk melahjutkan perjalanan ke Kyoto Imperial Palace dengan menggunakan bus umum. 3 jam di Komplek Kinkakuji yang sungguh melelahkan.

 

 

Japan Trip : 2 Jam Terakhir di Tokyo

IMG-20170326-WA0082
Pemandangan Tokyo Tower dari lantai 4 Richmond Hotel Asakusa Premier International (Dok. Cech)

Pagi-pagi sekali, kami sudah bangun. Tanggal 3 Maret 2017 pukul 09.00 kami meninggalkan hotel. Tetapi sebelum keluar hotel, dari lantai 4 hotel kami sempat mengabadikan pemandangan Tokyo Tower. Rencana awal hari itu adalah berkunjung ke Senso-ji Temple dan Tokyo Imperial Palace. Karena hari Jumat, Tokyo Imperial Palace tutup untuk umum sehingga dari Senso-ji Temple kami menggunakan kereta bawah tanah dari Asakusa Station ke Tokyo Station.

Keluar dari hotel, kami berjalan kaki menuju Senso-ji Temple via 2 Chome 7 Asakusa. Dalam 10 menit kami sudah berada di komplek Senso-ji Temple. Suasana ramai orang terasa sekali di Komplek Senso-ji Temple terutama Main Hall yang sering disebut Hondo. Pengunjung yang berdatangan adalah wisatawan asing dan wisatawan lokal yang melakukan ibadah ritual di Senso-ji Temple.

DSCN3660
2 Chome 7 menuju Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3661
WC Umum nan bersih di 2 Chome 7 (Dok. Cech)

Kuil Senso-ji adalah  kuil Budha tertua di  Tokyo yang dibangun  pada tahun 645. Berdasarkan keterangan yang tertulis di salah satu tiang kuil diceritakan pada tahun 628  saat sedang memancing di sungai Sumida, dua orang kakak beradik yang bernama Hinokuma Hanamari dan Hinokuma Takenari menemukan sebuah patung Dewi Kannon (Bodhisattva Kanon) atau yang lebih di kenal sebagai Dewi Welas Asih. Ketika mereka mengembalikannya ke dalam sungai, patung tersebut kembali lagi kepada mereka. Mendengar cerita Hinokuma bersaudara tersebut,  sebagai bentuk penghormatan maka kepala desa Haji Nakatomo memutuskan untuk membangun sebuah kuil yang awal nya bernama Asakusa Kannon Temple yang sekarang kita kenal dengan Kuil Sensoji ini.

Pada tahun 645, seorang pendeta Budha terkenal Shokai mengunjungi Asakusa dan melihat kuil tersebut. Kemudian oleh Pendeta Shokai, kuil tersebut diperluas bangunannya dengan menambah tempat untuk sembahyang sehingga bangunan kuil terlihat seperti saat ini yang sering disebut Main Hall atau Hondo. Senso-ji dan Asakusa mempunyai kaitan yang kuat. Apabila ditulis dalam aksara Cina maka pengucapannya akan berbeda. Pengucapannya menjadi “Senso” bagi orang Cina. Sedangkan bagi orang Jepang, pengucapannya “Asakusa”.

DSCN3679
Patung Budha (Dok. Cech)
DSCN3662
Bronze Statue of Uryu Iwako (Dok. Cech)
DSCN3668
Salah satu Kuil Budha di Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3670
Kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine (Dok. Cech)
DSCN3675
Kolam Ikan Koi (Dok. Cech)

Sebelah barat  terdapat beberapa bangunan kuil, patung dan kolam ikan koi. Diantaranya ada kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine yang berdiri berdampingan dengan beberapa  kuil budha dalam komplek Senso-ji. Selain patung Budha, ada satu patung sosok perempuan yaitu Patung Perunggu Uryu Iwako.

Uryu Iwako lahir pada 15 Februari 1829 di Kitakata, Perfektur Fukushima. Nama sebenarnya adalah Iwa, sedangkan Iwako adalah nama populernya. Setelah Restorasi Meiji, Iwako mendorong anak-anak perempuan klan Aizu untuk sekolah. Selain itu Iwako mendirikan Fukushima Relief  Facility yang membantu kaum miskin dan anak yatim piatu. Iwako juga mendirikan Institut Riset Kebidanan (Midwifery Research Institute) dan Rumah Sakit Saisei di Kitakata. Iwako meninggal dunia pada 19 April 1897. Atas jasa dan pengabdiannya maka dibangunlah Patung Perunggu Uryu Iwako (Bronze Statue of Uryu Iwako) pada April 1901

Gerbang utama dari kompleks Kuil Sensoji ini disebut Kaminarimon Gate yang artinya Gerbang Halilintar. Gerbang ini pada awalnya terdiri atas dua panji raksasa dengan simbol trisula. Setelah melewati Kaminarimon Gate, pengunjung disuguhi dengan deretan toko   yang menjual bermacam-macam suvenir khas Asakusa.

Mereka menjual barang tradisional Jepang seperti yukata, gantungan kunci, kipas lipat, jimat keberuntungan, kaos, dan camilan lokal seperti  “Kibidango” yaitu snack yang dibuat berdasarkan cerita anak-anak terkenal di Jepang (Momotaro si Buah Persik) Kibidango sangat spesial karena hanya dijual di tempat ini, tidak dijual di toko kelontong atau supermarket.

Camilan lain yang dijual adalah penganan berbahan dasar kacang merah yang disebut Agemanju (kue bertabur roti yang digoreng) dan Ningyoyaki (camilan berbahan dasar kue). area deretan toko sepanjang 20 meter tersebut dikenal dengan nama  Nakamise DoriDari Nakamise Dori pengunjung dapat melihat  Hozomon Gate. Disebelah timur terdapat Bentendo Hall dan di sebelah barat terdapat  sebuah pagoda 5 tingkat yang di namakan Five Storied Pagoda

DSCN3716
Hozomon Gate (Dok. Cech)
DSCN3718
Foto sejenak di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3720
Seorang pedagang es krim di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3721
Suasana ramai di Nakamise Dori (Dok. Cech)

Setelah melewati Hozomon Gate pengunjung  akan melihat bangunan utama dari kuil ini yaitu Main Hall (Hondo). Di tempat utama ini, warga Jepang beragama Budha  melakukan ritual dan berdoa meminta segala sesuatu yang diinginkanya. Pengunjung non agama Budha  diperbolehkan untuk masuk ke dalam area Hondo.

Sebelum masuk, biasanya pengunjung melakukan ritual mengusapkan asap dari hio yang menyala ke wajah. Selanjutnya membersihkan tangan atau meminum air suci yang letaknya dekat dengan pintu masuk Hondo.

DSCN3683
Ritual mengusapkan asap hio ke wajah (Dok. Cech)
DSCN3685
Air Suci (Dok. Cech)

Di dalam Hondo pengunjung dapat melihat betapa megahnya bangunan tersebut dan indahnya mural (lukisan) di atap Hondo. Selain itu pengunjung dapat pula melakukan doa permohonan ala agama Budha atau disebut Omikuji. Omikuji dilakukan untuk mengetahui keberuntungan hidup kita.

Jadi pengunjung melakukan doa diikuti dengan menggoyang-goyangkan boks besi yang di dalamnya terdapat banyak batang kayu/bambu yang bertuliskan keberuntungan atau kesialan kita. Di boks besi tersebut terdapat lubang kecil yang cukup untuk mengeluarkan sebatang kayu/bambu. Pada batang kayu/bambu tersebut ada nomor bertuliskan kanji. Setelah sebatang kayu/bambu keluar dari boks, maka kita dapat melihat nomor berapa yang keluar.

Selanjutnya kita membuka salah satu loker kayu yang telah dinomori sesuai dengan nomor di batang kayu/bambu. Pengunjung tinggal mengambil selembar kertas yang menuliskan tentang keberuntungan atau kesialan. Selanjutnya kertas tersebut dilipat dan diikat ke sebuah kawat besi bersusun yang terletak dekat dengan pintu keluar.

DSCN3712
Kuil Senso-ji (Dok. Cech)
DSCN3700
Indahnya lukisan (mural) di atap Hondo (Dok. Cech)
DSCN3699
Tentang Senso-ji Temple (Dok. Cech)

Tak terasa selama  2 jam, kami mengelilingi komplek Senso-ji Temple. Selanjutnya kami makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Tokyo Station untuk membeli tiket Kereta Cepat Shinkansen ke Kyoto. 2 jam terakhir di Tokyo yang  berkesan dan mungkin kelak kami dapat kembali ke Tokyo untuk mengunjungi beberapa tempat wisata menarik lainnya di Tokyo.

“Ayahmu Lebih Penting Daripada Tim”

Cristiano-Ronaldo-embraces-his-former-manager-Sir-Alex-Ferguson

mirror.co.uk

Kami baru saja mengalami kekalahan dalam satu pertandingan di kompetisi domestik. Setelah pertandingan, bos marah besar. Semua benda yang ada di dekatnya ditendang ke segala arah dengan emosionalnya.

Sementara itu saya baru saja mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami koma di rumsh sakit dan keluarga meminta saya untuk pulang menjenguk. Dalam situasi saat itu sepertinya saya kuatir permintaan pulang (cuti pulang) tidak akan diberikan oleh bos karena 2 hari lagi ada satu pertandingan yang sangat menentukan untuk keberlanjutan tim kami di liga regional yaitu Liga Champions.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menghadap bos.

” Bos, saya ingin mengajukan cuti pulang ke negara saya selama 2 hari “

” Memangnya ada apa sehingga kamu mau cuti pulang?” tanya bos

“Saya baru dapat kabar ayah saya sakit dan mengalami koma di rumah sakit. “

” Pergilah ” tegas Bos.

” Terima kasih dan lagi pula saya hanya cuti 2 hari sebelum pertandingan liga champions saya sudah bersama tim”

” Tidak… tidak… Pergilah kau menemani ayahmu yang koma. Mau 2 hari … Seminggu … bahkan lebih dari itu sampai ayahmu sadar dan sehat kembali”

” Lalu bagaimana dengan pertandingan Liga Champions yang tinggal 2 hari lagi. Itu pertandingan penting bagi kita”

” Tidak, Ronaldo. Pulanglah. Kamu lebih penting dan lebih dibutuhkan oleh ayahmu dari pada tim” jelas Bos Sir Alex Ferguson.

Di tahun kompetisi tersebut MU menjuarai Liga Champions. Dari kejadian tersebut itulah CR7 sangat respek dan menganggap SAF bukan hanya sebagai bos tapi sebagai Bapak baik di luar maupun dalam lapangan.

Mesjid Bayan Beleq Yang Membuat Mata Melek

Suhu Lombok yang mendekati 33 derajat Celcius berimbas kepada kepala saya sakit. Selesai makan pagi di hotel, saya segera konsumsi obat sakit kepala. Akibatnya selama perjalanan menuju Pusuk Sembalun saya lebih banyak tertidur sehingga kurang dapat menikmati indahnya alam yang menuju ke sana.

Tanpa terasa kurang lebih 2 jam perjalanan terlewati dan saya terbangun karena mobil berhenti di satu tempat. Terpampang tulisan ” Taman Nasional Pusuk Sembalun “, segera saya keluar dari mobil dan mengikuti istri ke satu tempat yang kelihatannya bagus untuk foto-foto. Untungnya cuaca di Sembalun cerah tapi tidak panas menyengat bahkan boleh dikatakan sejuk.

DSCN2879
Dok. Cech 2016
DSCN2880
Dok. Cech 2016

Setelah 2 jam kami menikmati udara sejuk di Sembalun, perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan dan penjualan mutiara khas Lombok. Kembali saya tertidur rupanya pengaruh obat belum hilang juga.

Tiba-tiba mobil berhenti di satu tempat dan tanpa terasa kurang dari satu jam saya tertidur.

“Ini tempatnya Mas Cech yang kemarin saya ceritakan”  ujar Pak Nasib, sang supir.

” Tempat apa ya Pak? ” tanya saya.

” Mesjid tertua di Lombok, Mesjid Bayan Beleq ” jelasnya.

Segera saya keluar dari mobil, panas mulai terasa di badan. Letak mesjid tersebut berada di pinggir jalan utama Lombok Utara. Sebelum masuk terpampang tulisan Mesjid Kuno Bayan Beleq Yang termasuk National Heritage atau dilindungi negara. Tepatnya mesjid ini ada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan Lombok Utara.

DSCN2904
Dok. Cech 2016

Di pintu masuk kami langsung dipandu oleh seorang anak muda yang sepertinya pemandu wisata mesjid tersebut. Kami diharuskan mengisi buku tamu dan dipersilakan untuk memberikan sumbangan sukarela karena tidak ada ketentuan membayar tiket masuk ke area mesjid tersebut.

Dari tempat pengisian buku tamu, bangunan tua seperti bangunan mesjid pada umumnya jelas terlihat. Posisinya berada di dataran tinggi, bentuk bangunan mesjid tersebut serupa dengan bentuk bangunan rumah-rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Bangunan mesjid berbentuk bujursangkar berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah-bilah bambu. Pondasi mesjid menggunakan batu kali tanpa semen.

DSCN2895
Tampak depan mesjid (Dok. Cech)
DSCN2891
Tampak belakang (Dok. Cech)
DSCN2893
Gentong penampung air wudhu (Dok. Cechgentong)

Di depan pintu mesjid terdapat gentong yang diikatkan pada sebuah pohon. Mungkin fungsinya untuk penyimpanan air wudhu. Seperti diketahui Lombok merupakan wilayah kering dan tadah hujan. Selanjutnya ketika saya ingin berjejak ke dalam mesjid. pintu mesjid tertutup dan istri ingin kembali ke mobil karena suhu udara saat itu panas sekali.

Menurut pemandu, Mesjid tidak lagi dipakai untuk umum dan hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti acara Maulid Nabi SAW Itupun dengan peraturan yang sangat ketat karena daya tampungnya hanya untuk 40 orang saja dan sebagian besar adalah kyai. Itulah mengapa pintu mesjid terkunci rapat. Tetapi wisatawan masih diperkenankan mengambil foto dari celah dinding bambu yang seperti sengaja diberi celah yang cukup untuk kamera.

Selain itu pemandu juga menjelaskan tentang adanya makam besar (Beleq) yang terdapat di dalam tersebut yaitu makam Syekh Gaus Abdul Rozak, salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan Bayan. Ada 4 tiang soko guru dari pohon nangka yang menyangga bangunan mesjid. Beduk kayu terlihat juga didalam mesjid dan tergantung di tiang atap mesjid. Di belakang kanan dan depan kiri mesjid terdapat 2 gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk tersebut terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus mesjid ini sedari awal. 

DSCN2897
Beduk kayu (Dok. Cech)
DSCN2899
Atap mesjid (Dok. Cech)
DSCN2902
Bangunan belakang kanan (Dok. Cech
DSCN2896
Bangunan depan kiri (Dok. Cech)

Berdasarkan informasi dari pemandu, Mesjid Bayan Beleq didirikan pada abad ke-17 oleh Sunan Ampel. Dalam penyebaran agama Islam di Lombok Sunan Ampel dibantu oleh salah satu muridnya Syekh Gaus Abdul Rozak yang berasal dari Irak. Tetapi berdasarkan beberapa literatur belum jelas diketahui siapa yang pertama kali membangun Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Tidak terasa 1 jam saya berada di lingkungan mesjid tersebut. Setelah itu saya memberikan salam perpisahan kepada pemandu dan segera menuju ke mobil. Baru saja saya membuka pintu,  tiba-tiba istri mengatakan, “Serem Mas tempatnya maka itu tadi saya kabur duluan ke mobil. Kalau menurut mas bagaimana?” Saya pun menjawab ” Hmmm, justru Mesjid Kuno Bayan Beleq ini membuat mata saya melek. Melek adanya bukti penyebaran Islam di Lombok dan melek terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kasat mata seperti…. Iiiihhh serem!!!  “

Mobil langsung digas oleh Pak Nasib menjauhi lokasi mesjid kuno tersebut menuju Pantai Nipah untuk kembali melek menikmati Sunset.

DSC_0057
Sunset di Pantai Nipah (Dok. Cech)

Brunei Darussalam : Langka Ukuran Besar Di Negeri Mungil

Tadi malam saya tidur dengan pakaian yang melekat di badan. Acem !!! Itu kata istriku mengomentari baju yang kupakai. Sayapun hanya bisa tersenyum, wong istri dalam hatiku hehehe. Hari Rabu tanggal 14 Mei 2014, hari kedua kami di Brunei Darussalam. Pagi-pagi sekali kami sudah mendengar suara orang banyak di seberang jalan. Rupanya pasar tradisional Tamu Kianggeh sudah menggeliat dengan aktifitas jualannya. Beberapa mobil parkir di pinggir jalan. Ada yang berjualan makanan dengan mobil terbuka dan ada pula yang sekedar memarkirkan mobilnya untuk pergi belanja ke pasar yang berada persis di seberang sungai. Taksi-taksi air atau perahu taksi mondar-mandir menepi dan menurunkan penumpangnya yang kebanyakan adalah kaum wanita.  Menarik untuk diamati dari jendela kamar hotel kami.

2014-05-14 15.19.15

Rencana kami pada hari kedua adalah pergi kembali kembali ke Brunei International Airport (BIA) untuk menanyakan keberadaan koper saya yang lenyap kemarin. Dengan menelpon Pak Azman sang supir taksi, kami minta dijemput di hotel pada pukul 10 pagi. Rupanya Pak Azman datang tepat waktu ke hotel kami dan kebetulan kami sudah siap menunggu di lobi setelah makan pagi.

” Kita ke BIA lagi kah ? Belum ada kabar koper bapak ? ” tanya Pak Azman dengan seriusnya.

” Belum Pak Ci. Dari kemarin sore hingga malam hari kami menunggu berita dari Air Asia tentang kepastian koper kami ” jawab istri saya.

” Kasian kalian. Kalau begitu kalian harus tanya dengan jelas nanti sewaktu di kantor Air Asia ya “

” Ya. Pak Ci. “

Pak Azman melajukan mobilnya ke BIA dengan penuh semangat. Tampak wajah simpati dari Pak Azman yang membuat kami yakin untuk menggunakan taksinya. Sesampainya di BIA, kami langsung menuju ke Kantor Air Asia yang berada di dalam BIA yang sedang direnovasi. Suasana sepi terlihat di dalam BIA pada pagi itu. Akhirnya kami menemukan Kantor Asia. Kami tidak boleh masuk ke dalam kantor. Kami hanya dilayani oleh seorang di luar dan bicara seperti di loket pembelian karcis bioskop. Tak ada jawaban memuaskan yang kami dapat dari Customer Service Air Asia Brunei. Malah ketika kami tanyakan tentang klaim koper yang hilang, wanita tersebut mengatakan bahwa klaim tidak dapat dilakukan karena koper kami tidak diasuransikan. Ya memang tidak diasuransikan tetapi hilangnya koper bukanlah kesalah kami. Tetapi wanita tersebut tetap tidak bergeming dengan pendapatnya. Yang lucunya ketika kami meminta wanita tersebut untuk menelpon Air Asia Kuala Lumpur, dijawabnya kalau Air Asia tidak dapat menelpon langsung dan hanya bisa menanyakan via email.  Waduh, beginikah pelayanan Air Asia. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu kabar koper kami dan meminta Air Asia agar segera menelpon kami ke hotel apabila sudah mendapatkan informasi dari Air Asia Kuala Lumpur.

Semangat !!! Istri menghibur saya. Segeralah kami keluar BIA dan bertemu Pak Azman untuk mengantarkan kami ke Pusat Perbelanjaan atau Mall yang ada di Bandar Seri Begawan. Pak Azman menyarankan kami untuk pergi ke Grand Mall (Shopping Complex), salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Brunei. Jarak antara BIA ke Grand Mall ternyata hanya membutuhkan waktu 15 menit. Pak Azman menyarankan kami sebaiknya menggunakan bus atau taksi air  sewaktu ingin kembali ke hotel dari Mall karena kalau naik taksi terlalu mahal ongkosnya. Lagi pula susah mencari taksi di Brunei Darussalam. Dari Grand Mall ke Hotel disarankan menggunakan bus 23 atau 57 sambil menunjukkan halte bus berada. Tarifnya hanya 1 Brunei Dollar per orang saja. Atau menggunakan taksi air dengan tarif 5 Brunei Dollar per orang tetapi tergantung kondisi sungainya. Kalau sungai surut maka taksi air tidak beroperasi.

Selama 1 jam kami mengelilingi Grand Mall, ternyata baju atau kaos atau celana pendek untuk ukuran saya tidak didapatkan. Mulai dari lantai dasar sampai lantai 6, toko-toko pakaian yang kami datangi tetap saja tidak ditemukan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di Food Court Grand Mall tersebut.

Setelah makan siang, kami memutuskan untuk mengelilingi pertokoan yang berada di sekitar Grand Mall. Akhirnya kami menemukan juga kaos dan celana pendek ukuran besar atau ukuran US (kata penjual Suvernir khas Brunei Darussalam). Tanpa pikir lagi, kami membeli 2 buah kaos dan 3 celana pendek. Lumayanlah untuk pakaian pengganti selama perjalanan nanti.

Jam menunjukkan pukul 2 siang, segeralah kami menuju halte bus yang ditunjukan oleh Pak Azman. Tak beberapa lama bus  nomor 23 tiba. Bus ukuran sedang dengan AC yang sejuk membuat nyaman penumpang sepanjang perjalanan. Apalagi saat itu cuaca sangat terik dan panas sekali. Sesekali saya mengamati kondisi bus, sopir dan kernetnya. Ada yang membedakan dengan bus di Indonesia, sebagian besar kernet bus adalah wanita dan cukup ramah menyapa para penumpang. Kernet wanita ini selalu memberikan informasi yang jelas apabila ada pertanyaan dari penumpang seperti kami. Sekitar 15 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di depan hotel kami. Sesampainya di hotel, kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan sore harinya kami berencana untuk jalan-jalan ke tempat-tempat wisata yang ada di sekitar hotel.

2014-05-14 15.27.48

2014-05-14 15.28.15

Sore haripun menjelang, kami telah bersiap dengan jalan kaki mengelilingi tempat tempat wisata yang sudah direncanakan. Bergeraklah  kami ke utara. Sekitar 100 meter dari hotel, kami tiba di sebuah kuil Cina yang tampak lain dari bangunan-bangunan yang berada di sekelilingnya. Kuil Cina dengan nama Teng Yun Temple (腾云殿 atau baca Teng Yun Dian) atau Temple of Flying Clouds menjadi tempat wisata pertama yang wajib dikunjungi. Kuil ini dibangun oleh masyarakat Cina Hokkien pada tahun 1918 dan terletak di Jalan Sungai Kianggeh (Kianggeh River Road).

Selanjutnya tidak jauh dari Teng Yun Temple dan masih terletak di Jalan Sungai Kianggeh, kami melihat sebuah gedung bernama Pusat Belia (semacam Gedung Pemuda dan Olahraga). Setelah itu kami berbelok menuju Jalan Bendahara dan ada satu gedung utama pemerintah kerajaan yaitu Gedung Jabatan Adat Istiadat Negara.

2014-05-14 15.35.14

2014-05-14 15.39.40

Keringat mulai mengucur di sekujur tubuh kami dan sesekali beberapa pengendara mobil memperhatikan kami karena sore hari itu tidak ada orang yang berjalan kaki kecuali kami dan sepasang turis bule. Di penghujung Jalan Bendahara barulah kami menemukan Jalan Sultan Omar ‘Ali Saifuddien. Jalan Sultan Omar ‘Ali Saifuddien adalah jalan utama di Bandar Seri Begawan dan banyak terdapat bangunan bersejarah, gedung-gedung pemerintahan dan taman utama Kerajaan Brunei Darussalam. Beberapa bangunan dan taman yang kami kunjungi antara lain Bangunan Alat-alat Kerajaan (Royal Regalia), Pusat Sejarah Brunei (Brunei History Center), Royal Ceremonial Hall dan Dewan Majelis.

2014-05-14 15.46.23
Suasana Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien
Bangunan Alat-alat Kebesaran Kerajaan Diraja
Bangunan Alat-alat Kebesaran Kerajaan Diraja
Royal Ceremonial Hall dan Dewan Majelis
Royal Ceremonial Hall dan Dewan Majelis
Brunei History Center
Brunei History Center
Jam Unik di perempatan Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien dengan Jalan Elizabeth 2
Jam Unik di perempatan Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien dengan Jalan Elizabeth 2
Bangku di sepanjang Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien
Bangku di sepanjang Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien
Makam Raja Ayang
Makam Raja Ayang

Tepat di perempatan antara Jalan Sultan Omar ‘Ali Saifuddien dan Jalan Elizabet terdapat Makam Raja Ayang yaitu makam seorang wanita yang masih mempunyai hubungan keluarga Kesultanan Brunei Darussalam dan pernah hidup pada jaman Sultan Sulaiman (tahun 1452). Makam Raja Ayang ini menjadi simbol betapa taatnya Sultan Brunei kepada ajaran Islam walaupun masih berkaitan saudara apabila melanggar aturan agama tetap harus dihukum tanpa pandang bulu.

Di seberang makam Raja Ayang terdapat taman atau lebih tepat disebut lapangan upacara yaitu Taman Haji Sir Muda Omar ‘Ali Saefuddien. Taman ini seringkali digunakan untuk upacara penting dan besar Kesultanan Brunei Darussalam. Taman ini berdekatan juga dengan Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien dan Gedung Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei (Perpustakaan).

Salah satu sisi Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien
Salah satu sisi Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien
Pandangan sebelah barat Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien yaitu Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien
Pandangan sebelah barat Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien yaitu Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien
Pandangan sebelah timur Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien
Pandangan sebelah timur Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien

2014-05-14 15.58.23

Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Complex sebelah selatan
Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Complex sebelah selatan
Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Complex sebelah utara
Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Complex sebelah utara

Tak jauh dari Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien terdapat pusat perbelanjaan terbesar di Brunei yaitu Yayasan Sultan Hassanal Bolkiah Complex. Nah disinilah kami baru mendapatkan pakaian berukuran besar dengan mudah walaupun tidak banyak jumlahnya.

The Sultan Haji Hassanal Bolkiah’s 60th Birthday Monument
The Sultan Haji Hassanal Bolkiah’s 60th Birthday Monument

2014-05-14 17.21.06

2014-05-14 17.21.43

2014-05-14 18.12.30

2014-05-14 18.13.47

Puas rasanya kami mengelilingi tempat-tempat penting dan bersejarah hari itu. Menjelang senja, kami memutuskan untuk menikmati suasana kehidupan sepanjang Sungai Brunei dengan minum kopi di Kopi Bandar Kawasan Dermaga (Waterfront). Memang koper belum jelas keberadaannya tetapi pakaian pengganti cukup tersedia dan saatnya menikmati indahnya Negeri Mungil di Borneo, Brunei Darussalam.

(bersambung)

” Resep Dokter Tidak Berlaku Di Rumah Sakit Ini “

Satu minggu ini, bangsa Indonesia diramaikan berita tentang masalah pasien,  dokter, rumah sakit dan Mahkamah Agung. Banyak polemik yang terjadi dalam menanggapi masalah tersebut baik yang pro maupun kontra. Terus terang saya tidak begitu mengikuti perkembangan berita tentang hal tersebut. Yang saya ketahui di Indonesia ada demo para dokter di seluruh Indonesia.

Dalam tulisan ini, saya tidak ingin mengomentari tentang polemik tersebut. Saya hanya ingin menceritakan tentang pengalaman pribadi yang dialami selama berhubungan dengan dokter dan rumah sakit. Kisah nyata dalam tulisan ini adalah salah satu pengalaman menarik yang dialami selama berhubungan dengan dokter dan rumah sakit. Silakan para pembaca untuk menilainya sendiri dan berharap bersikap bijak dalam memandang sebuah kejadian.

Kalau bicara tentang dokter dan rumah sakit maka saya boleh dibilang cukup pengalaman. Ada kisah sedih, gembira, sebel, kecewa dan lain-lain bercampur aduk jadi satu. Mengapa saya mengatakan berpengalaman ? Sejak tahun 1996 sampai tahun 2010, interaksi saya dengan dokter dan rumah sakit boleh dibilang intens bahkan bosan juga dibuatnya tetapi ini menjadi pengalaman menarik dalam hidup saya.

Sample Resep Dokter (pharmacy.about.com)

Hampir 14 tahun saya selalu berhubungan dengan dokter dan rumah sakit karena selama itulah saya mengurus penyakit yang diderita almarhumah ibu. Pada awalnya almarhumah teridentifikasi mengidap penyakit diabetes. Nah dari diabetes itulah penyakit almarhumah merambah kemana-mana. Mulai dari jantung, stroke sampai lumpuh kaki beliau. Hampir tiap tahun almarhumah dirawat di rumah sakit dan dalam setahun rata-rata  masuk rumah sakit sampai 3 kali. Bayangkan 3 kali setiap tahunnya dan selama 14 tahun almarhumah mengalami koma sampai 8 kali. Selain itu beberapa rumah sakit di Jakarta sudah pernah didiami almarhumah. Sampai-sampai dokter yang merawat beliau terkaget-kaget melihat track record kesehatan beliau, kok kuat sekali ya ibu anda. Begitulah ucapan beberapa dokter yang merawatnya, Memang almarhumah ibu luar biasa daya tahan tubuh dan semangatnya untuk tetap hidup dan sembuh.

Ada satu waktu almarhumah koma di rumah dan dibawa ke rumah sakit. Sepanjang jalan keponakan dan almarhum bapak menangis dan memperkirakan almarhumah tidak dapat bertahan hidup karena memang sudah tidak sadarkan diri. Tetapi saya tetap tenang dan yakin kalau almarhumah dapat sadar kembali dan hidup lebih lama. Semua orang termasuk dokter yang merawat almarhumah sampai heran dengan keyakinan saya. Mungkin karena saya yang selalu mengurus dan menjaga beliau setiap koma maka saya tahu secara feeling kalau beliau dapat bertahan hidup.

Ok ! saya akan menceritakan kejadian unik pada saat dirawat di sebuah rumah sakit swasta di daerah Kedoya, Jakarta Barat. Kejadiannya sekitar tahun 2002, saya ingat sekali tahunnya karena Jakarta saat itu dilanda banjir hebat dan menggenangi rumah saya juga. Pada saat itu kehidupan keluarga kami morat-marik. Krismon tahun 1998 meluluh lantahkan perekonomian keluarga terutama usaha almarhum Bapak. Usaha Bapak mengalami kebangkrutan sampai tidak mampu membayar kredit bank yang bunganya luar biasa sekali. Rumah yang kami tinggali saat itu masih dalam jaminan bank dan sedang menuju proses pelelangan. Bayangkan sudah bangkrut, rumah mau dilelang, almarhumah masuk rumah sakit. Rumah kami memang besar dan dalam lingkungan perumahan elit tapi kami tidak mempunyai uang sama sekali. Yang tersisa adalah mobil mitsubishi tahun 1972 milik saya dan kondisinya pun tidak layak jalan.

Siang hari itu, almarhum bapak memangil-manggil saya untuk memeriksa kondisi almarhumah ibu yang sudah tidak sadarkan diri alias koma. Saya menduga gula darah almarhumah naik karena beliau memang terkenal tidak disiplin dalam menjaga dietnya. Almarhum Bapak bingung dan tahu harus berbuat apa. Membawa ke rumah sakit sekelas Harapan Kita atau Islam Jakarta atau Pelni kuatir ditolak karena kami memang tidak punya uang sama sekali untuk jaminannya. Untuk makan saja sudah empot-empotan apalagi buat jaminan rumah sakit, darimana dapat uangnya. Akhirnya saya memutuskan untuk membawa almarhumah ke rumah sakit kecil dekat rumah di daerah Kedoya. Saya punya keyakinan bahwa rumah sakit tersebut dapat menerima almarhumah tanpa jaminan uang sama sekali karena saya mengenal beberapa petugas administrasi di rumah sakit tersebut dan yakin almarhumah menjadi pengecualian dalam syarat membayar jaminan.

Benar saja, sesampainya di rumah sakit tersebut almarhumah dapat segera dirawat karena ada petugas administrasi yang saya kenal bertemu saat almarhumah diturunkan dari ambulance yang menjemput almarhumah dan kami di rumah. Hari pertama dan kedua almarhumah belum sadarkan diri dan kami masih dibebaskan untuk membayar tebusan obat alias diambil dulu obatnya dan masalah bayar dapat dilakukan belakangan. Hari ketiga almarhumah sadarkan diri tetapi masih dalam kondisi lemah. Pada saat itu saya masih di rumah karena malam hari saya dapat giliran jaga.

Menjelang sore, almarhum bapak pulang ke rumah dengan wajah lesu dan bingung. Akhirnya saya menanyakan ada apakah gerangan yang membuat almarhum bapak seperti itu. Sebelum cerita almarhum bapak menyerahkan selembar kertas kepada saya. Ooo rupanya resep dokter. Beliau menceritakan bahwa resep dokter tersebut harus dibayar berikut total biaya selama 2 hari perawatan. Dapat uang darimana pikir beliau. Saking sudah tidak bisa berpikir lagi, beliau menyuruh saya untuk mencari cara dan menyelesaikan pembayarannya karena kalau tidak almarhumah ibu tidak dapat lagi dirawat atau diberikan obat. Padahal obat tersebut sangat penting bagi pemulihan kesehatan almarhumah ibu.

Setelah berpikir sejenak dan berdoa dalam hati, saya ambil resep dokter dan bpkb mobil saya. Selanjutnya saya memutuskan berangkat ke rumah sakit segera. Sesampainya di rumah sakit saya ke apotik dan benar saja resep dokter tidak dapat ditebus alias obat tidak dapat diberikan seperti biasanya sampai kami harus bayar administrasi perawatan 2 hari sebelumnya. Petugas apotik menyarankan saya untuk bertemu bagian administrasi. Bergegaslah saya ke bagian administrasi rumah sakit dan berusaha bertemu dengan teman saya di bagian tersebut. Alhamdulillah saya dapat bertemu dengannya dan berharap dapat kompensasi beberapa hari sampai kami mendapatkan uang untuk membayar semua biaya perawatan.

Ternyata o ternyata, petugas administrasi teman saya tidak dapat membantu karena terbentur masalah peraturan manajemen rumah sakit. Saya berusaha negosiasi dengan rumah sakit. Caranya dengan menjamin bpkb mobil mitsubishi tahun 1972, khan lumayanlah nilai buat bayar 2 hari perawatan almarhumah ibu. Tetapi ditolak oleh manajemen rumah sakit karena rumah sakit bukanlah tempat pegadaian. Penolakan rumah sakit tersebut membuat saya bingung dan patah semangat. Dari mana saya mendapatkan uang ? Buntu pikiran saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menengok almarhumah. Pikiran masih saja tidak tenang dan kuatir dengan kondisi almarhumah ke depannya.

Pukul menunjukkan jam 9 malam, tiba-tiba saya mendengar suara dokter yang merawat almarhumah sedang marah-marah kepada perawat. Rupanya dokter tersebut marah kepada perawat karena perawat tidak segera memberikan obat atau injeksi ke almarhumah ibu. Setelah mendapatkan penjelasan perawat, beberapa menit kemudian dokter datang menemui saya.

” Bagaimana sih Mas. kok obatnya tidak segera ditebus ? ” tanya dokter.

” Begini dok… ” saya berusaha menjelaskan.

” Begini apanya, Mas khan tahu bagaimana kondisi ibu mas. Seharusnya jangan ditunda-tunda pengambilan obatnya ” sela dokter.

” Begini dok, terus terang saya sudah datang ke apotik dan berusaha menebus resep dokter. Tetapi ditolak ” jelas saya.

” Ditolak bagaimana ? ” ujar dokter dengan nada meninggi.

” Ya ditolak dok, karena resep dokter tidak berlaku di rumah sakit ini ” terang saya dengan kalem.

” Hah !!! tidak berlaku di rumah sakit ini. Mana resepnya ? ” tanya dokter sedikit teriak.

Segeralah saya menyerahkan resepnya ke dokter. Dokterpun bergegas meninggalkan saya dan langsung menuju apotik di lantai dasar.

Saya pun mulai ketar ketir dengan apa yang terjadi kemudian. Wah bakal diusir saya dan almarhumah ibu dari rumah sakit pikir saya pada saat itu karena saya telah berbohong mengenai resep tersebut.

Apa yang terjadi kemudian saudara-saudara ? Sejam berlalu dan saya pun mendengar langkah kaki menghampiri saya.

” Mas, bisa datang ke ruangan saya ” pinta dokter dengan wajah sedikit dingin.

Segeralah saya mengikuti dokter ke ruangannya.

” Silakan duduk, Mas ” dokter mempersilakan.

” Terima kasih “

” Begini Mas, saya sudah cek ke apotik dan administrasi. Ternyata… “

” Ya dok, saya tahu saya salah dan telah berbohong tentang resep. ” sela saya.

” Tetapi mengapa mas harus melakukan hal tersebut. Khan bisa bicara terus terang dengan saya “

” Maaf dok sekali lagi saya minta maaf. Saat itu saya bingung apalagi saya mendengar dokter habis marahi perawat. Spontanitas aja saya bicara tentang resep tersebut. “

” Terus bagaimana penyelesaiannya Mas. Ibu mas harus dilakukan perawatan intensif dan membutuhkan waktu yang lama “

” Terus terang kami tidak punya uang saat ini. Yang ada hanya bpkp mobil tua saya dan saya sempat menjaminkannya ke rumah sakit tapi ditolak. Kami tahu kalau kami punya kewajiban tetapi tolong kami diberikan waktu karena kami yakin dapat menyelesaikannya. Lagipula yang dirawat itu ibu saya, masak saya akan membiarkan begitu saja. Percaya dok, dalam 2 hari ini saya akan mendapatkan uang untuk menyelesaikan semuanya. “

” Benar ya Mas ? “

” Ya dok, Bismillah dok saya akan menyelesaikan semuanya “

” Ok, begini saja saya akan menjamin seluruh biaya perawatan ibu mas selama dirawat di rumah sakit ini. Jaminannya adalah saya sendiri. Tetapi saya mohon mas dan keluarga tetap berusaha untuk mencari dana agar dapat meringankan saya juga. Bagaimana ? “

” Alhamdulillah, terima kasih. Insya Allah saya dan keluarga tidak akan mengecewakan dokter yang telah berbuat baik kepada kami. “

Setelah itu dokter mengajak saya ke bagian administrasi. Di ruangan administrasi itulah dokter baik hati tersebut menjamin perawatan ibu selama berada di rumah sakit dan menandatangani surat jaminan rumah sakit. Terharu saya melihat kebaikan dokter. Saya pun memeluk beliau sebagai ungkapan rasa sangat berterima kasih.

Kejadian malam itu saya ceritakan kepada almarhum bapak. Beliaupun menangis terharu bahwa  ada orang lain yang dapat membantu masalah kami. Tetapi ada satu pertanyaan beliau kepada saya. ” Kok bisa-bisanya kamu mengatakan kalau resep dokter tidak berlaku di rumah sakit sih ” Saya menjawab dengan tertawa, ” itulah spontanitas dan kreatifitas ” Dalam kondisi kepepet kadangkala keluarlah kreatifitas seorang manusia yang tidak pernah diduga sebelumnya hehehe.

4 hari kemudian saya mendapatkan bantuan uang dari beberapa teman sehingga saya dapat membayar seluruh biaya perawatan rumah sakit almarhumah ibu.  Yang terpenting adalah saya dapat memenuhi janji kepada dokter sehingga tidak membenani dokter yang telah banyak membantu kami sekeluarga. Terima kasih Dokter U di RSUP F (tempat beliau sebenarnya praktek). Biarlah hanya Allah SWT yang tahu kebaikan Pak Dokter karena beliau tidak ingin ada unsur Riya di hadapan Nya.

Tatkala Permintaan Presiden Bush Ditolak Oleh Mick Jagger

13839087041226271038
Vienna

Ya, ini adalah sebuah hotel terkenal di Wina, Austria. Nama lengkapnya Vienna’s Imperial Hotel. Hotel bergaya gothik, berada di pusat kota Wina telah menjadi tempat menginap favorit para selebritis dan kepala negara dunia.

Apa yang menarik dari hotel ini ? Satu yang menarik dan ini menjadi buah bibir para diplomat dunia bagaimana seorang Presiden Adi Daya bisa dibuat tidak berdaya.

Vienna’s Imperial Hotel adalah salah satu hotel favorit vokalis The Rolling Stones, Mick Jagger. Hampir setiap tahun Mick Jagger menginap di hotel tersebut. Pada konser musiknya di Wina tahun 2006, Mick Jagger telah melakukan pemesanan sebuah kamar Royal Suite bertarif USD 8600 per malam ditambah dengan semua kamar yang ada di lantai yang sama.

Beberapa hari setelah pemesanan, Mick Jagger didatangi oleh seseorang yang ternyata adalah utusan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush (George Bush Jr). Utusan Presiden AS tersebut meminta Mick Jagger untuk membatalkan reservasi semua kamar di hotel tersebut dengan alasan Presiden Bush dan rombongan akan menginap di hotel tersebut.

Sebagai prosedur keamanan Presiden AS yang sangat ketat maka hotel tersebut harus steril dan seluruh kamar hotel akan dibooking oleh pemerintah Amerika Serikat. Karena dalam waktu bersamaan dengan konser musik Mick Jagger, Presiden Bush akan melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan kepala-kepala negara Uni Eropa.

Lalu apa jawaban Mick Jagger terhadap permintaan utusan presiden Amerika Serikat tersebut ? Awalnya pemerintah Amerika Serikat meminta Manager Hotel bicara sekaligus membujuk Mick Jagger untuk membatalkan reservasinya tetapi ditolak oleh Manager Hotel karena Mick Jagger adalah langganan tetap mereka. Akhirnya Utusan Presiden Bush sendiri yang datang ke Mick Jagger.

” Mr Jagger, Presiden Bush meminta dengan sangat agar Mr Jagger membatalkan reservasi kamar di Vienna’s Imperial Hotel ” pinta utusan tersebut.

Dengan santainya Mick Jagger menjawab,

” Siapa itu Presiden Bush ? Saya tidak mengenalnya. Silahkan anda keluar dan cari hotel yang lain “

Dan lebih uniknya lagi, Presiden Bush tidak marah dan dendam atas perlakuan Mick Jagger tersebut. Mick Jagger pun dapat bebas berkunjung ke Amerika Serikat dan tidak ada pencekalan sama sekali terhadap dirinya selama Presiden Bush berkuasa. Inikah yang dinamakan kedewasaan berpikir atau berdemokrasi ? Bagaimana kalau Presiden Indonesia diperlakukan seperti yang dialami Presiden Bush ?