Brunei Darussalam : Negeri Mungil Dengan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien Yang Mengagumkan

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin adalah masjid kerajaan Kesultanan Brunei yang terletak di Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam. Masjid ini adalah salah satu masjid paling mengagumkan di Asia Pasifik, serta menjadi markah tanah dan daya tarik wisata utama di Brunei.

Masjid ini dinamai berdasarkan Omar Ali Saifuddien III, Sultan Brunei ke-28. Masjid yang mendominasi pemandangan kota Bandar Seri Begawan ini melambangkan kemegahan dan kejayaan Islam yang menjadi agama mayoritas dan agama resmi Brunei Darussalam. Bangunan ini rampung pada tahun 1958 dan merupakan contoh Arsitektur Islam modern.

Arsitektur masjid ini memadukan Arsitektur Mughal dengan gaya Italia. Bangunan ini dirancang oleh biro arsitekur Booty and Edwards Chartered berdasarkan rancangan karya arsitek berkebangsaan Italia Cavaliere Rudolfo Nolli, yang telah lama bekerja di teluk Siam.

Masjid ini dibangun diatas laguna atau kolam buatan di tepi sungai Brunei di Kampong Ayer, “kampung yang terletak di atas air”. Masjid ini memiliki menara marmer dengan kubah emas, dilengkapi taman yang permai dan air mancur. Taman indah yang mengelilingi masjid melambangkan taman surgawi dalam kepercayaan Islam. Sebuah jembatan membentang di tengah laguna menuju Kampong Ayer di tengah sungai. Sebuah jembatan marmer lainnya menuju ke bangunan yang merupakan replika Perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan Bolkiah yang memerintah pada abad ke-16. Bangunan ini dibangun untuk memperingati 1.400 tahun Nuzul Al-Quran, dan dimeriahkan diselesaikan pada tahun 1967 dan digunakan sebagai panggung Musabaqah Tilawatil Quran (lomba pembacaan Al-Quran) di Brunei.

Ciri khas yang paling mengagumkan dari Masjid ini adalah kubahnya yang dilapisi emas murni. Masjid ini menjulang setinggi 52 meter (171 kaki) dan dapat dipandang dari setiap sudut kota Bandar Seri Begawan. Menara masjid merupakan bagian tertinggi dari masjid ini. Masjid ini memadukan secara unik unsur Renaissans arsitektur Italia dengan nuansa yang bernilai Islami. Di dalam menara masjid terdapat lift di mana pengunjung dapat naik ke puncak menara dan menikmati pemandangan panorama kota dari ketinggian.

Bagian dalam ruangan masjid khusus untuk ibadah salat bagi umat muslim. Terdapat jendela kaca patri beraneka warna yang mengagumkan, pelengkung, separuh kubah, dan pilar-pilar marmer. Hampir seluruh bahan bangunan masjid ini diimpor dari luar negeri yaitu: Marmer dari Italia, batu granit dari Shanghai China, lampu kristal dari Inggris, serta karpet dari Arab Saudi.

(WIKIPEDIA)

Setelah membaca uraian di atas maka jangan mengatakan pernah pergi ke Brunei Darussalam kalau belum pernah menginjakan kaki ke Mesjid Sultan Omar Ali Safuddien. Maka itu hari kedua di Brunei, kami usahakan untuk mengunjunginya walaupun harus melawan panasnya kota Bandar Seri Begawan pada sore hari.

2014-05-14 16.00.40

2014-05-14 16.02.23

2014-05-14 16.04.55

2014-05-14 16.07.55

2014-05-14 16.07.01

Setelah menyusuri Jalan Elizabeth 2, akhirnya kami dapat melihat langsung Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien nan megah dan mengagumkan yang terletak di jalan Masjid Omar Ali Saifuddien. Baru saja masuk pintu gerbang mesjid, kami disambut seorang pengurus mesjid dan mengatakan kalau kami hanya boleh mengambil foto luar mesjid saja. Dipersilakan kami masuk tapi kamera dan telepon genggam harus dimatikan. Sedangkan bagi kaum hawa dipersilakan untuk mengenakan pakaian jilbab tertutup warna hitam yang berada di sebelah kanan pintu masuk ke dalam mesjid. Bagi turis bercelana pendek maka diberikan selembar kain hitam yang digunakan seperti sarung.

2014-05-14 16.15.01

2014-05-14 16.13.08

2014-05-14 16.13.49

2014-05-14 16.15.37

Sore hari turis yang datang tidak begitu ramai, akhirnya kami memutuskan untuk mengelilingi masjid terlebih dahulu. Sudah terbayang akan menemukan sudut-sudut masjid yang layak untuk diabadikan kamera kami. Segera kami menuju samping kiri masjid, wow terlihat sebuah kolam besar dengan bangunan perahu berarsitektur melayu.

2014-05-14 16.20.28

2014-05-14 16.20.11

2014-05-14 16.18.09

2014-05-14 16.18.18

Disamping itu kami melihat tempat wudhu bermaterial keramik dan bak penampung air untuk wudhu dikelilingi oleh pilar-pilar berjejer tegak sehingga terkesan indah dan artistik. Saya pun sempat masuk ke dalam toilet mesjid, terlihat bersih sekali  dan terawat dengan baik. Selanjutnya kami bergerak ke bagian samping masjid terlihat jendela dan pintu masjid yang terbuat dari kayu  dengan ukiran apik bergaya Timur Tengah dan diperindah juga oleh ornamen kaca warna warni.

2014-05-14 16.10.44

2014-05-14 16.12.32

Sejam berada di Masjid membuat kami berpikir dan merenung betapa Allah Maha Besar karena telah memberikan akal budi kepada umatNya sehingga mampu menciptakan dan membangun sebuah masjid nan indah dan mengagumkan. Walaupun kami tidak masuk ke dalam masjid tetapi penampakan luar masjid sungguh luar biasa untuk dapat dinikmati dan menentramkan hati.

(bersambung)

Bencana Itu Datang Untuk Sebuah Keselarasan

Hampir seminggu yang lalu saya bertemu dengan seorang Pengusaha Fiji di Lautoka namanya Haji N. Beliau cerita tentang jatuh bangun usahanya. Dari raut wajah beliau dan istrinya tergambarkan muslim yang sabar dan pekerja keras serta tidak pernah mengeluh. Beliau pernah mengalami kemalangan dalam hidupnya yaitu usahanya bangkrut ditipu orang.

Sedihkah beliau ? Marahkah ? Putus asakah ? Dari tutur kata pada saat bercerita, beliau adalah muslim yang tabah dan mengerti Allah akan memberikan terbaik dari suatu kemalangan.

Sama halnya dengan bencana alam, musibah atau kemalangan. Hal tersebut mempunyai makna keselarasan hidup yaitu sadar dan mengerti tentang sebenarnya posisi manusia itu dimana dan porsinya seberapa.

Alam marah baik banjir. gempa dan gunung meletus karena pada dasarnya alam semesta butuh keselarasan. Ketika keselarasan tersebut terganggu maka secara otomatis bergerak untuk kembali selaras. Itulah Maha Dahsyatnya Allah yang menciptakan alam semesta dan isinya. Jadi jangan salahkan Allah tapi salahkan manusia yang secara kolektif baik sengaja maupun tidak sengaja melakukan kerusakan-kerusakan dan pembiaran sistematis sehingga alam merasakan ketidak selarasan berkeadilan dalam menjaga ciptaan Allah ini.

Maka itu jangan terlalu lama bersedih tapi tegar dan yakin bahwa dibalik kemalangan akan datang kebaikan layaknya ada siang maka ada malam, ada pria maka ada wanita, ada bulan maka ada bintang dan sebagainya. Banyaklah mengucapkan ALHAMDULILLAH ketika bencana itu datang karena dari bencana itu akan datang kebaikan ilahi yang membawa hidup manusia bahagia dan sejahtera. Sebaliknya banyaklah mengucapkan ASTAGHFIRULLAH AL AZHIM atau mohon ampun kepada Allah ketika hidup kita bahagia baik bahagia karena hartanya, bahagia karena ilmu yang dimiliki maupun bahagia karena punya kekuasaan. Karena kebahagiaan tersebut akan menjadi bencana yang membuat air mata ini tiada berhenti akibat kita lupa bersyukur dan mengingat Allah. Mohon ampunlah kepada Allah bahwa keselarasan antara yang dimiliki dengan lingkungan sekitar terutama yang tidak memiliki tetap terjaga.

Apabila manusia pernah mengalami kemalangan yang seperti tiada henti sehingga membuat kita putus asa maka yakinlah Allah Maha Penolong dengan cara yang kadangkala di luar dugaan  manusia. Terus terang saya pernah bersikap atheis alias tidak percaya Allah alias pernah mempertanyakan Rahman Rahim nya Allah pada saat kami jatuh bangkrut dan dalam waktu bersamaan banyak kemalangan datang seperti air mengalir. Tetapi saya tersadarkan bahwa selama ini hidup keluarga kami tidak selaras. Contohnya ketidak selarasan itu dilihat dari cara hidup  kita. Lihat lemari pendingin atau kulkas kita berapa banyak makanan yang tidak termakan alias terbuang percuma karena kadaluarsa. Cukup belanja untuk satu keluarga tapi belanjanya berlebih tanpa mau melihat di sekitar kita ada yang kekurangan. Terjadi pemborosan luar biasa baik yang berakibat kepada diri dan orang lain.

Ada satu doa saya kepada Allah dan sempat membuat kedua orang tua menangis terharu pada saat kami mengalami kesusahan.

” Ya Allah, ambillah seluruh harta kami dan kami siap hidup miskin apabila memang benar harta yang kami miliki bukanlah hak kami. Kami ikhlas Ya Allah agar kami dapat bangkit dan mulai hidup baru dengan harta yang sebenar-benarnya halal dan haq. Engkaulah Maha Meliuhat dan Maha Mendengar “

Jadi Siap Kaya maka Siap Miskin. Siap Senang maka Siap Susah etc. Semua itu karena kami yang khilaf dan bukan karena Allah SWT.

Amithaba…. Sancai

(Syech Gentong)

Islamku

Aku terlahir sebagai muslim atau beragama Islam. Aku Islam karena ibu bapakku Islam. Bukan hanya itu saja kakek nenek sampai kakek nenek buyutku (3 generasi di atas kedua orang tua ku beragama Islam). Sedangkan kakeknya kakek buyutku beragama Hindu. Mungkin kalau ditelusuri berdasarkan silsilah keluarga baik dari ibu dan bapak ada yang animisme dan dinamisme.

Sebagaimana layaknya anak-anak Indonesia, sewaktu kecil orang tuaku mengharuskan aku dan kakak adikku untuk mengaji. Dipanggillah seorang ustad untuk datang ke rumah mengajari kami tentang Islam. Mulai belajar Juz Amma, menulis huruf Arab, Rukun Islam, Rukun Iman, sampai membaca Qur’an 3 kali seminggu. Terus terang aku lebih banyak “bolos” pada ustad datang ke rumah dengan berbagai alasan sehingga aku sadar pada saat itu aku kurang suka dengan pelajaran yang diberikan ustad. Walaupun demikian bapakku menerapkan disiplin yang tinggi, tiap hari pukul 4.30 pagi selalu membangunkan kami anak-anaknya untuk sholat subuh. Tidak mau bangun pasti dimarahi beliau. Kembali lagi emang dasarnya nakal maka aku punya banyak cara agar tidak dimarahi oleh bapakku. Bangun pagi aku langsung masuk kamar mandi pura-pura wudhu dengan cara membuang-buang air biar terdengar seperti orang sedang berwudhu. Kulakukan dalam waktu cukup lama di kamar mandi sampai bapakku pergi.

Perlu diketahui lingkungan di kompleks rumah kami, mayoritas Muslim dan kebetulan tetangga depan rumah kami adalah keluarga Katolik yang taat. Tetapi kami hidup rukun dan toleransi selalu terjaga. Pada saat hari Raya Idul Fitri, mereka mengirimkan makanan ke rumah dan mengucapkan selamat. Begitupun sebaliknya saat mereka merayakan natal, kedua orang tua kami datang berkunjung dan pada saat itu damai sekali karena tidak ada perdebatan yang memusingkan kepala antara boleh atau tidak. Intinya adalah kami saling menghormati dan menghargai agama dan keyakinan yang kita anut.

Mulai usia remaja sampai masa kuliah, kemalasanku belajar tentang Islam berubah menjadi keingin tahuan tentang Islam. Ajakan teman-teman tentang beberapa pengajian aku ikuti sampai pernah bersentuhan dengan ajaran NII. Karena aku mempunyai prinsip tak kenal maka tak sayang. Tidak mau berkomentar tentang ajaran tertentu sebelum aku masuk, melihat, mendengar, mengamati dan mempelajari sehingga aku tahu apakah ajaran ini benar atau tidak tetapi semua itu kuanggap sebagai pengalaman hidup dan kusimpan dalam hati tanpa perlu obral cerita bahkan menfitnah macam-macam tentang suatu ajaran walaupun ajaran tersebut sesat.

Terus terang pada saat itu keingintahuanku tentang Islam agamaku sedang tinggi-tingginya. Semua ibadah yang dilakukan bukan hanya Rasulullah SAW tapi nabi-nabi yang lain aku kerjakan. Selain Sholat Wajib 5 waktu maka sholat sunnah aku jalani. Bukan hanya puasa bulan Ramadhan saja tetapi puasa senin kamis, puasa Nabi Daud AS dan puasa-puasa yang lain. Kemudian apa yang kudapatkan dari apa yang sudah dijalankan ? Aku tidak mendapatkan apa-apa dan  merasa makin tidak tahu apa-apa. Ketenangan iya tetapi aku tidak mendapatkan ruh Islam yang hakiki. Kok hanya segitu saja Islamku ini.

Sampai suatu masa, aku bertemu dengan Kakek Buyutku (aku memanggilnya Uyut). Melalui Uyutlah, aku mendapatkan pencerahan tentang apa itu Islam yang dasar sekali. Dan Uyutlah, aku sadar bahwa Islamku selama ini adalah Islam karena orang tuaku Islam bukan Islam karena aku mencari dan meyakini sendiri. Itulah awalnya aku mendekontruksi Islam yang kupeluk. Gila ! Itulah perkataan yang ke luar dari mulut teman-teman dekatku. Ya memang aku sedang gila, gila mencari Islamnya Allah SWT. Kuncinya adalah Keimanan. Belajar tentang keimanan dulu baru belajar Islam sehingga menjadi Ihsan.

Ajaran pertama yang diberikan oleh Uyut adalah Iqra (Membaca). Bukan hanya membaca kitab/buku tetapi membaca alam semesta. Setelah mengerti apa yang dibaca maka istiqomahlah sehingga aku mengerti Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Ajaran tentang keIslaman yang mendasar  pertama kali dan selalu kuingat adalah tentang sajadah.

” Sudahkah kamu sholat “

” Sudah, Yut ? “

” Apa yang kau dapatkan dari sholatmu ? “

” Susah untuk diungkapkan tapi saya merasakan ketenangan batin “

” Hanya itu saja “

” Banyak tapi … “

” Stop stop stopppp saya sudah tahu “

Begitulah pertanyaan pertama kali ketika saya bercerita tentang sholat. Hanya itu saja. Eits !!! Nanti dulu, bagaimana dengan sajadahnya. Sajadah ? Iya sajadah, sudahkah kau genggam sajadah dimana kau berdiri, sujud dan duduk di atasnya. Apa maksudnya ? Carilah jawabannya. Tetapi bagaimana ? Yang penting khan kita telah menjalankannya sesuai dengan rukun dan sunnahnya. Sholat merupakan tiang agama dan sudah menjadi kewajiban bahkan kebutuhan hidup. Tapi yakinkah Sholatnya diterima oleh Allah SWT ? Apa hubungannya dengan sajadah ? Bagaimana dengan amar ma’ruf nahi munkar ?

” Mari kita memulainya dengan sajadah ” ujar uyut

” Oke Yut, saya mendengarkan “

” Jangan hanya mendengar tapi direnungkan. Kalau sudah ketemu harus dilakukan “

” Baik Yut “

” Baik apanya ?! Kau harus menjawab dulu pertanyaan mendasar tentang sebuah sajadah “

” Pertanyaan ? Apa lagi yang ingin Uyut tanyakan “

” Sepele dan mudah. Saya yakin kamu bisa menjawabnya “

” Apa itu Yut ? “

” Pertama, berapa kali dalam seminggu, sebulan atau setahun kamu mencuci sajadahmu ? “

” Ehhh berapa ya. Jarang sekali saya mencucinya bahkan bisa tahunan tidak mencucinya “

” Jadi sampai bulukan sajadahnya sampai-sampai kamu lupa mencucinya “

” Hehehehe iya Yut “

” Okelah, pertanyaan kedua adalah pernahkah kau mengukur panjang dan lebar sajadahmu “

” Iseng amat Yut sampai-sampai saya harus mengukur sajadah. Khan hanya sebuah sajadah. Setelah selesai Sholat dilipat dan diletakkan di tempat yang bersih . Kemudian dipakai lagi kalau ingin sholat “

” hahahaha kasihan sekali kamu “

” Maksudnya ? “

” Bagaimana kau mengerti tentang Tuhanmu. Sementara kau sendiri tidak pernah mau tahu terhadap apa yang kau miliki. Ingat Allah SWT Maha Mengetahui segalanya. “

” Jadi… “

” Ya ukurlah. “

Kemudian saya mengambil meteran dan mengukurnya.

” 66 cm x 109 cm  Yut “

” Bagus… tapi mengertikah kamu dengan angka-angka dalam ukuran sajadahmu “

” Aduh,  Uyut makin membuat saya pusing saja “

” Itu simbol anakku. Angka-angka tersebut memberikan makna bahwa itulah porsi dan posisimu di dunia. Biar kamu mengerti seberapa besar dirimu yang sebenarnya. Dan segi empat dari sajadahmu adalah format atau matra atau norma atau aturan main yang harus kamu jalani di dunia agar kau tidak menyeleweng dan berbuat semaunya. Ada aturan Allah yang berlaku di dunia maka kamu harus mentaatinya. Itulah arti sebuah ketakwaan diri. Satu hal sajadah itu pula sebagai simbol bagi luasnya tubuh kamu bila kamu mati dan dikubur nantinya.  Ingat kamu harus tahu berapa porsimu dan dimana posisimu “

” Wao, saya selalu ingat. Ini luar biasa sekali “

” Nah kembali lagi ke sajadah. Kalau kamu sudah tahu luasnya sajadah yang kamu miliki maka kamu sudah sewajarnya menjaga dan memeliharanya dengan baik terutama dalam hal kebersihan. “

” Ohh gitu Yut “

” Ya, masa kamu bisa bersih bila pergi ke undangan perkawinan, bertemu pacar, kolega bisnis dan lain-lain tetapi kamu tidak berusaha bersih untuk tempat kamu berdiri, duduk dan sujud  pada saat bertemu dengan PemilikMU “

” Ya ya ya saya mengerti “

” Mengerti apa ??? Masih ada pertanyaan ketiga “

” Aduh apalagi sich Yut “

” Jangan aduh-aduh, jawab saja. Pertanyaannya adalah berapa banyak sajadah yang kamu miliki ? “

” Satu dong Yut hehehe Ini buat pribadi. Punya satu karena hanya sanggup beli satu hehehe “

” Pribdi ? Benar pribadi ? Jujur ya apakah ada orang lain yang memakainya “

” Ada juga Yut. Itu kalau ada tamu atau teman yang datang dan meminjam sajadah buat sholat. “

” Bagus hehehe kamu jujur tapi kurang pas “

” Kurang pasnya ? “

” Tahu khan kamu, kalau kamu ingin bertemu dengan Allah maka kamu harus bersih dari najis baik besar maupun kecil. Intinya harus bersih  “

” Betul Yut. Terus … “

” Yakinkah kamu kalau orang lain yang memakai sajadahmu bersih dari najis “

” Yakinlah Yut khan mereka wudhu dulu “

” Betul tapi yakinkah setelah wudhu mereka tidak menginjak najis misalnya mengerikan kaki di keset kamar mandi. “

” Hahhhh benar juga ya “

” Nah maka itu kamu harus perhatikan dan jaga sajadahmu. Ibarat rumah sendiri yang tidak boleh sembarangan orang masuk dan mengotori  isi rumah “

” Benar Yut. Terus apa yang harus saya lakukan ? “

” Mudah kamu harus mempunyai sajadah lebih dari satu. Satu untuk pribadi, satu untuk tamu atau kalau perlu satu sajadah dipakai dalam perjalanan alias bisa dibawa-bawa kemanapun kamu pergi. “

” Ribet sekali Yut “

” Ya tidaklah. Katanya kamu ingin sholat kamu diterima secara haqqul yaqin  oleh Allah SWT. Bagaimana haqqul yaqin diterima oleh Allah SWT kalau kamu sendiri tidak yakin atas diri dan segala yang kamu miliki “

” Luar biasa. Apalagi Yut “

” Tidak ada, hanya itu saja. Ingat ! GENGGAM ERAT-ERAT SAJADAHMU

” Ini saja Yut “

” Iyaaaaa. Yang lainnya nanti kalau Uyut lagi happy dan berbunga-bunga hatinya hehehehe “

Sampaikan Walau Hanya 30 Juz

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Nuzulul Qur’an dan menyambut 10 hari terakhir umat Islam berpuasa. Banyak peristiwa atau kejadian yang menyertai kita dalam beberapa hari puasa Ramadhan ini. Ada yang menyejukkan tapi banyak pula yang membuat kita mengurut dada (miris) melihat dan mendengar. Lihat saja banyaknya alim ulama “dadakan” sejajar dengan para selebritas, “pelacur alim ulama” (membelokkan ayat karena uang), alim ulama yang tidak ngalemi (bukan menyejukkan umat malah manas-manasi) dan sebagainya.

Sudah terlalu sering kita mendengar kalimat “Sampaikan walau hanya 1 ayat”. Kalimat tersebut mengandung kebersahajaan Islam karena dengan satu ayat saja maka mempunyai makna/nilai hakiki yang luar biasa. Sayangnya kalimat tersebut diucapkan hanya sebagai “bumbu penyedap” agar dianggap keislaman kita tanpa dikaji dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi tidak salah kalau mulai saat ini jangan tanggung-tanggung untuk mulai mengkampanyekan “Sampaikan walau hanya 30 Juz”. 30 Juz? Artinya satu Qur’an yang utuh? Ya, benar sekali karena tiap-tiap ayat dalam Qur’an bersinerji, berkesinambungan dan komprehensif (utuh yang mutlak) sehingga tidak sepotong-potong memahami dan melaksanakannya.

Dahulu waktu masih kecil, mbah saya pernah mengatakan ” Qur’an mengandung 3 hal yaitu Rubudiyah, Mulkiyah dan Uluhiyah ” Pada saat itu saya belum mengerti maksud si mbah. Lama-kelamaan barulah saya paham bahwa dalam Qur’an bercerita tentang Sang Pencipta, Tempat PenciptaanNya dan Yang DiciptakanNya.  3 hal tersebut terkmaktub jelas dalam surat Al Fatihah sebagai surat pembuka dimana banyak yang mengatakan Al Fatihah adalah Induknya Qur’an.

Dan menariknya Qur’an diakhiri oleh Surat An Nas (Manusia) yang bercerita tentang Manusia Rasa Manusia bukan rasa setan atau jin atau makhluk lain ciptaan Allah.  Jelas sekali kalau kita ingin dianggap Manusia Seutuhnya maka pahami Qur’an secara utuh pula dan tidak sepotong-potong sehingga laku lampah kita seiring sejalan dengan 6666 ayat atau 30 Juz dalam Qur’an. Benar-benar Rahmatan Lil Alamin dan Lillahi Ta’ala.

30 Juz belumlah cukup karena masih banyak sekali ayat-ayat Allah yang terhampar di alam semesta ini. Itulah mengapa manusia diberi akal oleh Allah agar kita berpikir karena disitulah ditunjukkan sejauh mana tingkat keimanan manusia  kepada Allah SWT.  Ingin mendapatkan tingkat keimanan yang tinggi ? ” Sampaikan walau hanya 30 Juz ” 🙂

Muhammad SAW : ” Saya Suka Berdagang “

Pasar Besar Siti Khadijah (warna-warni-malaysia.blogspot.com)
Pasar Besar Siti Khadijah (warna-warni-malaysia.blogspot.com)

” Saya suka berdagang “ Mungkin itulah yang dikatakan oleh Rasulullah Muhammad SAW sewaktu pertama kali bertemu dengan Saudagar wanita Siti Khadijah yang kemudian menjadi isteri beliau. Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dengan berdagang oleh Rasulullah tersebut? Berdagang apa ya ?

Dalam teori berdagang versi saya, berdagang itu adalah memberi dan menerima (take and give). Dari teori tersebut saya membayangkan dagangan apa yang ditawarkan oleh Rasulullah SAW. Yang ditawarkan oleh Rasulullah ada 4 yaitu sifat beliau, Shidiq  (bicara jujur), Fathonah (cerdas dalam berpikir dan bertindak), Tabligh (menyampaikan kebenaran yang datangnya dari Allah SWT), Amanah (memegang teguh kepercayaan yang diberikan oleh orang lain kepada Beliau). Itulah dagangan beliau pertama kali sehingga selanjutnya beliau terkenal sebagai pedagang yang hebat dan terpercaya.

Hanya itu sajakah? Tidak. Ada 2 jenis barang yang dijual yaitu barang fisik seperti makanan, minuman, alat rumah tangga, elektronik dan sebagainya. Selanjutnya barang non fisik, orang biasa menyebutnya jasa. Nah pengertian jasa sering disalah artikan dengan istilah calo. Jasa mengandung arti yang luas. Saya akan menjelaskannya berikut.

Ada seorang teman yang datang kepada saya mengatakan,

” Cech, sepertinya saya cocoknya jadi pegawai. Saya tidak bisa berdagang “

Mendengar perkataan teman tersebut, saya hanya tersenyum dan menjawabnya.

” Saya ingin bertanya. Sekarang kamu sudah bekerja di sebuah perusahaan multinasional. “

” Alhamdulillah, ya “

” Apa jabatanmu sekarang “

” Kepala Divisi “

” Wao, hebat. Itu artinya kamu bisa berdagang.”

” Maksudnya, Cech ? “

” Kalau kamu tidak bisa berdagang, mana mungkin kamu sekarang bisa menjadi Kepala Divisi. “

” Saya makin tidak paham, “

” Untuk menjadi kepala Divisi itu tidaklah mudah. Butuh proses yang panjang dan dinilai dari berbagai aspek. Yang utama adalah attitude (sikap) dan skill (ketrampilan) yang kamu miliki. Nah itulah daganganmu sehingga kamu bisa jadi Kepala Divisi. “

” Tapi saya tetap saja kuli alias kerja ama orang lain. “

” Hahahahaha jangan berkata seperti itu. Artinya kamu tidak mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah SWT sehingga kamu bisa mendagangkan dirimu kepada orang lain dan orang lain mengapresiasi daganganmu. Buktinya dengan daganganmu, sekarang kamu punya rumah, motor, mobil dan lebih utama memenuhi kebutuhan keluarga seperti sekolah dan kesehatan. Jadi  berdagang itu mengandung arti yang luas. Dagang itu bukan hanya berupa barang fisik dan nyata, tapi ada barang dagangan yang non fisik seperti yang saya katakan tadi, attitude dan skill”

” Oh begitu ya Cech “

” Setiap manusia mempunyai posisi dan porsinya masing-masing. Tergantung bagaimana kita memahami tentang dimana posisi saya dan berapa besar porsi saya. Untuk menjadi Saudagar itu lain persoalan dan tinggal menunggu waktu dalam melihat kesempatan dan kemauan diri. Itu saja. Berdaganglah diri sendiri dulu. Kalau orang sudah tertarik dengan diri kita maka barang apapun yang kita jual akan laku dibeli orang. “

Rasulullah SAW mengajarkan banyak hal kepada umat Islam sehingga umat Islam paham akan keIslaman yang melekat di dalam dirinya. Dikatakan Islam sebagai agama yang sempurna maka itu tunjukkanlah kesempurnaan itu dalam kehidupan sehari. Mulailah berdagang kesempurnaan diri yang dimiliki sehingga kita bisa menjadi pedagang yang hebat dan terpercaya. Mari kita kampanyekan ” Saya Suka Berdagang “

Muttakalimun Wahid

Hikmatullah

Mislikisyaiun

Dzatullah