Sekelompok Anak Usia 8 Tahun Publikasikan Studi Ilmiah Tentang Lebah

A buff-tailed bumblebee (Bombus terrestris). Wikimedia Commons/Alvesgaspar

 

Apabila anda saat ini seorang mahasiswa pascasarjana sudah saatnya merasa malu dan jangan marah apabila dikatakan pemalas karena tidak produktif mengeluarkan berbagai tulisan ilmiah. Baru-baru ini sebuah kelompok anak sekolah di Inggris  berusia 8-10 tahun telah mempublikasikan paper ilmiah dalam jurnal ilmiah Biology Letters edisi 22 Desember 2010.

Paper ilmiah yang seluruhnya ditulis berdasarkan suara  anak sekolah tersebut telah menemukan bahwa lebah dapat belajar untuk  menggunakan hubungan spasial antara warna  bunga yang mengandung nektar dengan bunga yang tidak mengandung nektar. Demikianlah Wired Science melaporkannya. Neuroscientist Beau Lotto dari University College London , yang membantu proyek anak-anak  ini mengatakan bahwa ini bukanlah  sebuah  permainan umpet-umpetan, tetapi peninjau mengatakan metode suara yang digunakan oleh  anak-anak tersebut sungguhlah unik dan menarik.

 

bee-figure (P.S. Blackawton et al/Current Biology)

Kertas dan video tambahan tersedia secara online. Kertas itu sendiri menggambarkan seorang tokoh yang sedang mengerjakan sesuatu dengan  pensil berwarna. Disamping itu bantuan pub lokal yang  menawarkan Coke gratis kepada anak-anak sementara mereka menulis  naskah sampai selesai.

 

bee-chart (P.S. Blackawton et al/Current Biology)

Studi ini mungkin hanyalah kertas ilmiah biasa yang  mengandung  unsur emoticon. “Kami kemudian menempatkan lebah ke dalam tabung dan menyimpannya ke dalam kulkas sekolah (dan membuat pie lebah:)),” tulis anak-anak untuk menjelaskan bagaimana anak-anak  menenangkan lebah sehingga mereka bisa mengoleskan lebah-lebah  dengan cat untuk membedakannya.

Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk mendapatkan anak-anak  yang tertarik dalam bidang sains. Dan hasil yang diperoleh adalah  penelitian ini berlangsung sukses dan  meriah.

 

coloring-figures (Courtesy of Beau Lotto.)

” Sains itu sangatlah menyejukkan  dan menyenangkan karena Anda bisa melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya ” tulis anak-anak tersebut.

Iklan

Peran Orang Tua Mempengaruhi Anak Menjadi Seorang Pengusaha

Coba pikirkan kembali apakah  keputusan kita untuk memiliki bisnis  sendiri adalah benar-benar memang keputusan sendiri ? Mungkin tidak. Penelitian baru menemukan bahwa orangtua  memiliki lebih banyak kaitannya dengan pilihan karir kita  daripada yang kita pikirkan. Penelitian   yang  dipublikasikan oleh  Child Development Perspectives edisi Desember 2010 ini    menunjukkan bahwa keputusan  seorang anak ternyata ditentukan  oleh sebagian besar keputusan sehari-hari  yang dibuat oleh orang tua yang telah membimbing pertumbuhannya.

 

Success as an entrepreneur (kingdomstrategist.com)

Sementara itu  peneliti sebelumnya telah menentukan bahwa kecenderungan karir kita  merupakan  warisan genetik dan  yang lainnya mengatakan bahwa kekuatan pendorong adalah pendidikan  dan ajaran  yang  didapatkan dari orang tua. Atau berdasarkan sebuah teori baru perkembangan anak yang merupakan penggabungan kedua model di atas dalam model lintasan  (Trajectory) perjalanan hidup atau karir. Psikolog George Holden dari Southern Methodist University di Dallas yang melakukan penelitian mengatakan model ini  membantu untuk menyelesaikan perdebatan pengasuhan anak.

Holden melakukan hipotesa bahwa  orang tua yang membimbing perkembangan anak mereka dibagi dalam  empat cara yang kompleks dan dinamis :

1. Orang tua mulai   mengarahkan anak  dalam jalur perkembangan pilihan berdasarkan    preferensi orang tua atau observasi karakteristik  dan kemampuan anak, seperti mendaftarkan anak  di kelas khusus,  mengekspos anak  kepada orang lain  dan lingkungannya, atau membawa  anak untuk praktek atau belajar.

2. Orang tua  mendukung kemajuan anak  dengan dorongan dan pujian, dengan memberikan bantuan materi seperti buku, peralatan atau les, dan dengan mengalokasikan waktu untuk berlatih atau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan tertentu.

3. Orangtua menjadi penengah dimana  mempengaruhi  anak  untuk  melihat dan mengerti perjalanan hidupnya, membantu anak untuk  menghindari lintasan negatif dalam perjalanan hidupnya dengan mempersiapkan anak untuk   menangani masalah-masalah potensial.

4. Sejak awal  orang tua selalu  bereaksi terhadap lintasan perjalanan hidup anak.

Lintasan (Trajectory) perjalanan hidup  adalah sebuah penggambaran yang berguna untuk memikirkan perkembangan karir sehingga  kita dengan mudah dapat memvisualisasikan konsep-konsep seperti “jalan memutar (detour)” “hambatan (roadblock)” dan “jalan menurun (off-ramp)”.

Holden menjelaskan bahwa jalan memutar adalah peristiwa transisi yang dapat mengarahkan jalur seperti perceraian. Hambatan adalah  kejadian atau perilaku yang menutup lintasan potensial seperti kehamilan remaja, yang dapat memblokir jalur pendidikan. Jalan menurun adalah lintasan yang keluar dari lintasan  positif seperti penyalahgunaan obat, kekerasan terhadap anak atau bergabung dengan  geng.

Holden juga mengatakan ada cara lain bagi orang tua  mempengaruhi perkembangan anak di lintasan seperti melalui pemodelan perilaku yang diinginkan, atau memodifikasi kecepatan perkembangan dengan mengontrol jenis dan jumlah pengalaman.

 

aifs.gov.au

Beberapa faktor yang juga dapat mempengaruhi lintasan  diantaranya  budaya keluarga, pendapatan dan sumber daya keluarga, dan kualitas hubungan orangtua-anak. Model lintasan pengasuhan ini membantu untuk menunjukkan bahwa  efektifnya peran orangtua  dalam membimbing anak sedemikian rupa sehingga dapat  memastikan anak mereka  berkembang dalam lintasan yang positif.

Cara Terbaik Untuk Berbohong Kepada Anak Berusia 3 Tahun

mychildsready.blogspot.com

Menurut sebuah studi baru, tidaklah sulit bagi orang dewasa untuk berbohong kepada anak balita berusia 3 tahun sehingga tidak diperlukan trik khusus. Anak balita berusia 3 tahun yang mendengar informasi  tidak benar berupa kebohongan-kebohongan dari orang dewasa lebih cenderung percaya daripada mendapatkan isyarat visual palsu. Temuan ini menunjukkan bahwa walaupun anak-anak dapat mengetahui adanya kepalsuan tetapi mereka percaya kepada hal-hal yang diperintahkan oleh orang dewasa.

Sebelum berusia 4 tahun, anak-anak sangat mudah percaya. Mereka menerima perkataan orang dewasa seperti keberadaan Santa Claus di  bumi. Untuk mengetahui apakah anak-anak percaya kepada hal-hal  umum atau apakah ada sesuatu yang khusus tentang informasi verbal maka Psikolog  Perkembangan dari Universitas Virginia,  Vikram Jaswal menyiapkan dua percobaan.

Yang pertama,  orang dewasa menunjukkan dua cangkir berwarna kepada seorang anak kecil dan  orang dewasa tersebut menyembunyikan  stiker di bawah salah satu cangkir. Kemudian orang dewasa  tersebut  mengatakan kepada anak kecil  bahwa jika anak kecil tersebut bisa menemukan stiker pada percobaan pertama maka ia akan bisa menyimpan dan memilikinya. Selanjutnya orang dewasa tersebut berbohong kepada anak kecil  dengan mengatakan bahwa stiker berada  di bawah cangkir kosong.

Percobaan yang lain adalah sama, hanya saja tidak mengatakan  letak  stiker yang salah  kepada anak kecil tersebut tetapi orang  dewasa menempatkan panah hitam di cangkir kosong. Tetapi sebelumnya anak-anak  memainkan sebuah permainan di mana mereka mengetahui bahwa panah  hitam  di  cangkir menandakan adanya  mainan di dalamnya.

Semua anak-anak percaya kepada apa yang diperintahkan  oleh orang  dewasa pada kedua percobaan. Anak-anak  yang melihat panah  di bawah sebuah cangkir  dengan cepat menangkap akan keberadaan stiker.  Tetapi bila tidak ditemukan stiker maka dengan segera mereka melihat cangkir yang lain. Rata-rata, anak-anak menemukan stiker sekitar 5 dari 8 kali. Sebaliknya, rata-rata anak-anak yang mendengar informasi verbal  tidak benar menemukan  stiker sekitar 1,4 kali. Setengah dari anak-anak tidak pernah  menangkap adanya kebohongan yang dilakukan oleh orang dewasa  kepada mereka walaupun  orang  dewasa telah mengingatkan kalau  anak-anak telah dibohongi sebelumnya.

Setelah percobaan, semua anak  baik yang tidak atau menemukan stiker  diberikan stiker untuk menghindari rasa frustasi dari anak-anak yang gagal menemukan stiker. Seolah-olah semua anak diperlakukan sama.

Sebuah studi putaran kedua  menemukan bahwa anak-anak berusia  3 tahun  yang bisa melihat dan mendengar orang dewasa memberikan informasi palsu lebih sering tertipu daripada anak-anak yang hanya mendengar suara orang dewasa.

Temuan yang dipublikasikan oleh jurnal Psychological Science edisi Oktober 2010  menunjukkan bahwa anak-anak tidak memiliki kepercayaan generik kepada orang lain.  Sebaliknya,  secara  khusus  anak-anak mempercayai kesaksian orang lain, yang mungkin berasal dari ketergantungan mereka terhadap orang dewasa.

Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu dalam Jurnal Moral Education ditemukan bahwa  secara mengejutkan  orang tua sering  kali berbohong kepada anak-anak mereka.  Hal ini mengakibatkan  anak-anak menjadi skeptis terhadap apa yang dikatakan oleh orang tuanya di masa depan.

SUSAH DINAIKIN, NAIK DISUSAHIN

Ini bukan tebak-tebakan tetapi omongan seorang anak berumur 10 tahun putera dari kawan lama yang sudah lama tidak dikunjungi.

Tidak tahu kenapa tiba-tiba tadi siang saya ingin bertemu teman-teman lama saya yang sudah lama tidak bertemu. Walaupun malamnya begadang alias melototin tv saya usahakan untuk pergi juga dengan menggunakan kendaraan umum, mobil saya tinggal di rumah.

Perjalanan pertama saya menuju daerah jembatan merah menteng dalam dekat manggarai dimana teman saya tinggal. Ternyata kondisi lingkungannya tidak berubah sama seperti 4 tahun yang lalu yaitu rumah kecil ukuran 4 x 6 meter persegi yang ditempati lima orang. Dengan mengucapkan salam khas saya, mereka terkejut dan tidak menduga saya dating. Mereka pikir saya tidak akan pernah lagi datang berkunjung.

Tiba-tiba datiang anak berusia 10 tahun menghampiri saya dan dengan malu-malu itu siapa. Dijelaskan oleh bapaknya tentang siapa diri saya. Kemudian anak itu mengerluarkan pernyataan yang sangat aneh yaitu “Om susah dinaikin, naik disusahin, apaan itu?” Saya bilang adik mau main tebak-tabakan dan dijawabnya bukan tebak-tebakan. Tiba-tiba ibunya datiang dengan mimik kecewa, marah bercampur aduk perasaannya. “Syech itu maksudnya sekarang sudah hidup susah barang-barang dinaikkin harganya, setelah dinaikkin harganya eh..barangnya yang susah” jawabnya Rupanya istri teman sudah seharian mencari gas tabung ukuran 3 kg tapi tidak ada barangnya dan sudah begitu rencananya mau dinaikkan lagi harga gasnya.

Kemudian teman bercerita kehidupan mereka selama ini yang serba minim tetapi tidak putus asa dan selalu optimis. Sebagai informasi, teman saya ini adalah mantan napi yang telah masuk penjara 3 kali dengan kasus ke-1 membunuh marinir di Surabaya gara-gara memperebutkan lahan parkir, kasus ke-2 membunuh pamannya sendiri tapi tidak samapi mati karena pamannya menghabiskan uang warisan ibunya yang merupakan warisan keluarga mereka, kasus ke-3 adalah kasus 27 Juli 1996 (Kasus PDI Pro Mega) dengan hukuman 3 tahun tetapi dijalaninya hanya 1,5 tahun dengan kondisi siksaan seperti tangan dan kaki diinjak meja sewaktu interogasi sehingga sampai sekarang jari tangannya tidak bias digerakkan dengan normal.

Empat tahun lalu saya bertemu di padepokan Uyut saya setelah itu kami dekat tetapi kami berbeda tujuan yaitu dia pro Ibu Mega (PDIP) dan saya tetap netral sampai sekarang walaupun saya mengagumi Bung Karno. Saya selalu mengingatkan kehidupun berpartai penuh dengan intrik kekuasaan dan kita harus tahu tempat bergantung kita memperhatikan kehidupan kita atau tidak dan bukan hanya membutuhkan pada saat punya kepentingan. Ternyata dia mendengarkan omongan saya dan sejak pembicaraan itu dia tidak terlalu intens lagi terhadap partai. Kemudian saya belikan alat untuk menggergaji kayu yang digunakan untuk membuat bingkai foto serta mnjual foto-foto Bung Karno dan Alhamdulillah jalan sampai sekarang selain ada bisnis kecil-kecilan seperti jadi calo karcis kereta api, tanah, dan instalatir listrik.

Dia bilang’ Syech, ketika kami sekeluarga untuk mulai hidup lagi dan bangkit dari kemiskinan tanpa bantuan pemerintah, kok biasa-bisanya pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membuat rakyat makin susah sehingga timbul keinginan saya untuk kembali lagi ke partai, bagaimana ini syech”, Saya jawab,”Apakah selama ini partai membantu kehidupan kalian sekeluarga? Khan tidak, sama dengan pemerintah itu khan hanya elit-elitnya saja yang ribut akan kekuasaan dan membutuhkan orang-orang dibawah pada saat ada kepentingan pribadi/golongan, Kita harus optimis selama kita bisa memperbaiki diri sendiri tanpa mencampuri orang lain, hidup kita akan bahagia lahir batin kok. Kalau hidup kita bahagia setidaknya memberi kebahagiaan kepada lingkungan disekitar kita berupa energi kebahagian yang tidak bisa dinilai dengan uang atau materi.”. Omongannya kayak motivator aja walaupun saya sendiri mengalami beban/masalah juga dalam hidup saya. Maka itu hidup itu adalah kelakuan bukan perbuataan.

Setelah 2 jam penuh berkunjung , saya pamit untuk mengunjungi teman lama yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Kata-kata. ‘ Susah dinaikkin, naik disusahin selalu terngiang di telinga saya dalam perjalanan.