Bertumbuh Dalam Lantunan Ilahi

DSCN2345

Saat kau dibenamkan ke dalam tanah, suara azan dilatunkan.

Seiring lantunan kalam ilahi terbaca dalam hati doa-doa agar kau dapat tumbuh besar dan bermanfaat bagi alam semesta.

Saat ini kau telah tumbuh besar dan berbuah lebat. terdengarlah rasa syukur.

Ternyata keistiqomahan dalam merawat, membesarkan, memanjakan, dan mendoakanmu terbukti dan menjadi kenyataan.

Buahmu mulai banyak tumbuh dan sedang menuju kematangan.

Namun demikian kau terus dilatunkan kalam-kalam KemenanganNya.

Bejo

Orang tua Jawa dulu mengatakan lebih baik jadi orang bejo (beruntung) daripada orang pintar.

Pria Jawa berumur 40-an tahun ini bertemu dengan saya karena berprofesi sebagai sopir yang mengantar sofa saya dari Jakarta ke Bandung. Saya memakai jasanya melalui informasi internet.

Penampilannya sederhana dan ramah. Saya berpikir dia hanyalah sopir perusahaan jasa pengangkutan/pengiriman barang. Ternyata selain sopir, dia juga pemilik kendaraan angkutan tersebut (mobil boks).

Sepanjang perjalanan dia banyak bercerita tentang kisah hidupnya. Sudah hampir 14 tahun berprofesi sebagai sopir angkutan barang. Dan baru 2 tahun ini, dia bukan hanya sebagai sopir tapi juga pemilik perusahaan angkutan dengan jumlah armada 10 unit kendaraan yaitu 4 mobil boks, 4 mobil bak terbuka dan 2 truk fuso. Katanya ini semua karena Gusti Allah, kerja keras, dan keberuntungan.

Keberuntungan? 3 tahun lalu teman sekolahnya datang ke kontrakannya. Pada saat itu pria jawa ini masih sebagai sopir freelance. Sudah 2 tahun temannya menjalankan bisnis angkutan dengan modal 2 unit mobil boks tapi tidak ada kemajuan karena sering ditipu oleh sopir-sopirnya.

Temannya meminta dia untuk menjalankan dan melanjutkan bisnisnya karena sudah putus asa dengan bisnisnya tersebut. Kedua mobil boks temannya dipercayakan kepada dia untuk menghasilkan uang. Temannya tidak minta apa-apa dan menyerahkan kepada dia tentang berapa yang harus diberikan tiap bulannya tapi dia selalu memberikan 50 % pendapatannya kepada temannya.

Tanpa dinyana setelah 1 tahun, dia berhasil membeli 2 mobil boks milik temannya tersebut. Dengan kerja kerasnya sampai sekarang jumlah armada angkutannya bertambah menjadi total 10 unit.

“Luar biasa” saya terkagum-kagum.

“Saya suka di jalan, Pak. Kalau tidak membawa kendaraan satu hari saja, badan saya sakit-sakit. Itulah mengapa sampai saat ini saya masih membawa mobil walaupun saya punya anak buah.” cerita pria jawa tersebut.

” Omong-omong nama bapak siapa? ” tanya saya.

” Bejo, Pak ” tegasnya.

” Lengkapnya? “

” Satu kata, Pak. BEJO ” sambil menyerahkan kartu namanya.

Wow, perjalanan Jakarta – Bandung semakin menarik karena banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari Bejo. Saya semakin kagum setelah mendengar rencana  Pak Bejo untuk membeli truk Fuso terbaru pada awal tahun 2016 ini.

Di Fiji, Menteri Susi Pudjiastuti Mengatakan ” Serakah ki marake bodoh “

Sosok menteri wanita satu ini selalu menjadi perhatian publik. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri termasuk Fiji. Siapa lagi kalau bukan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti. Begitu mendengar kabar bahwa Menteri Susi akan menghadiri KTT Pacific Islands Development Forum ke-3 di Suva, Fiji.  Masyarakat Indonesia di Fiji terutama para anak buah kapal Indonesia (ABK) sangat antusias menanti kedatangan beliau.

Pada hari Rabu, 2 September 2015, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti menjadi pembicara di KTT PIDF ke-3 (3rdPacific Islands Development Forum Leaders Summit). Dalam pidatonya, Menteri Susi mengajak negara-negara Pasifik untuk ikut bertanggung jawab dalam memelihara sumber daya laut di wilayahnya masing-masing. “Satu dunia, satu laut, satu planet. Apa yang terjadi di Asia akan mempengaruhi iklim di Eropa dan apa yang dilakukan di Pasifik pasti akan memberikan dampak di belahan dunia lainnya”, ucapnya.

Menteri Susi memenuhi undangan dari Menteri Perikanan dan Kehutanan Fiji, Mr. Osea Naiqamu untuk berbicara dalam sesi “Partnerships for Climate Resilient Green Blue Pacific Economies”. Pada sesi ini, Ia di daulat untuk berbagi pengalaman di Indonesia dalam memberantas Illegal, Unregulated, Unreported (IUU) Fishing. Menteri Susi menekankan pentingnya keberlanjutan dalam mengelola sumber daya kelautan dan perikanan guna mencapai visi Indonesia ‘laut adalah masa depan bangsa’. Hal ini juga dirasakan oleh peserta dari negara-negara Pasifik yang juga memiliki wilayah laut yang lebih luas daripada daratannya. (Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan)

Santai sejenak dengan staf KBRI Suva setelah blusukan di kota Suva (dok. Fajar)

Santai sejenak dengan staf KBRI Suva setelah blusukan di kota Suva (dok. Fajar)

Selain ide-ide besarnya di dunia kelautan dan perikanan, sosok Menteri Susi ini memang sosok yang eksentrik. Di sela kegiatan KTT PIDF, tiba-tiba beliau meminta protokol pemerintah Fiji dan KBRI Suva untuk mengantarkannya jalan-jalan di kota Suva. Menteri Susi menolak dengan tegas ketika akan diantar ke salah satu mall di kota Suva. “There’s not my place” tegas beliau. Tiba-tiba beliau meminta mobil berhenti dan melihat suasana pinggir pantai kota Suva, Selanjutnya beliau jalan sendiri (tidak mau dikawal) blusukan ke pasar ikan dan Suva Traditional Market. Setelah blusukan, beliau istirahat sejenak di sebuah tempat duduk dekat Taman Victoria Parade dan mengobrol dengan salah satu staf KBRI sambil menghisap rokok Sampoerna Mild-nya.
” She’s different ” demikian ujar salah satu petugas protokoler Fiji yang selalu mengawal   beliau dengan kagumnya.

Yang membuat sosok Menteri Susi berbeda adalah pada saat pertemuan dengan 40 orang ABK Indonesia yang bekerja di atas kapal-kapal asing yang sedang berlabuh di Fiji.  Tanpa perlu acara protokoler yang berbelit-belit setibanya di Wisma Duta Menteri Susi langsung bergabung dan menyapa para ABK di ruang tamu, Dengan berbahasa Jawa, Menteri Susi menceritakan kondisi terakhir di Indonesia setelah upaya pemberantasan IUU Fishing. “Kalian nanti kembali ke Indonesia dan bentuk koperasi nelayan eks-Fiji. Nanti kalian ajukan bantuan kapal dengan alat tangkap yang ramah lingkungan kepada KKP. Sekarang di Indonesia ikan sudah kembali lagi tidak usah pergi jauh-jauh lagi”, ujarnya kepada para ABK sambil memberitahu nomor HP nya yang dapat dihubungi apabila diperlukan. Selain itu para ABK menceritakan pengalaman mereka bekerja di atas kapal-kapal ikan tersebut dan meminta foto dengan Menteri Susi di akhir acara.

Suasana dialog dengan para ABK Indonesia di Wisma Duta (dok. Cech)

Suasana dialog dengan para ABK Indonesia di Wisma Duta (dok. Cech)

Menteri Susi foto bersama dengan Penguasa Pergentongan (dok. Cech)

Menteri Susi foto bersama dengan Penguasa Pergentongan (dok. Cech)

Ada satu hal menarik ungkapan Menteri Susi dalam bahasa Jawa kepada para ABK yaitu Iwak ki yo pinter (ikan itu juga pintar), Luweh pinter seko manungso (Lebih pintar dari manusia), Manungso kui ono serakahe (Manusia itu ada serakahnya), Serakah ki marake bodo (Serakah itu bikin bodoh)

Catatan 3 Hari Bersama Komjen Anang Iskandar Di Fiji

Seminggu sebelumnya, “Cech, saya tugaskan kamu untuk “in charge” bersama delegasi Badan Narkotika Nasional (BNN) selama mereka di Fiji dalam rangka Pacific Islands Development Forum (PIDF)” demikian perintah big bos di kantor. ” Siap” jawab saya dengan mantapnya.

Segeralah saya mencari tahu tentang siapa saja yang ada dalam rombongan BNN. Ternyata ada 7 orang delegasi BNN yang datang dan hanya satu nama yang saya kenal yaitu Aidil Chandra Salim, beliau adalah Dubes RI untuk Fiji periode 2010-2013 yang sekarang menjabat Deputi Hukum dan Kerja Sama. Selain itu saya mendapatkan informasi bahwa Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia akan  melakukan penandatangan Nota Kesepahaman dengan Kepolisian Republik Fiji dalam penanggulangan permasalahan narkoba. Tetapi yang menarik perhatian adalah kunjungan delegasi BNN ke Sigatoka Research Station untuk melihat tanaman sukun (breadfruit atau uto).

Hari Selasa, 1 September 2015 pukul 06.30 pagi saya sudah berada di bandara Nadi, Fiji. Sesuai dengan jadwal ketibaaan pesawat dari Hongkong maka pesawat akan mendarat pada pukul 07.05. Ternyata pesawat mengalami penundaaan dan baru mendarat pada pukul 07.50.  Tidak apa-apalah pesawat terlambat sehingga saya masih ada waktu untuk mengecek 2  kendaraan (jenis SUV dan Mini Van) dan makanan untuk Kepala BNN dan rombongan selama perjalanan dari Nadi ke Suva.

Setelah sejam lebih menunggu, tiba-tiba saya mendapat telepon dari protokol bandara Nadi bahwa rombongan BNN sudah keluar dari ruang pengambilan barang. Benar saja, terlihat keluar 4 orang pria dan 1 wanita berjilbab ditemani oleh 1 petugas kepolisian Fiji serta 2 orang protokol Nadi, Saya segera menyambut mereka dan sangat antusias karena bisa bertemu kembali dengan Dubes Aidil Chandra Salim. Dubes Salim lah yang mengenalkan 4 orang dalam rombongan BNN tersebut yaitu Kepala BNN Komjen Anang Iskandar dan Istri, Irjen Deddy Fauzi Elhakim Deputi Pemberantasan) dan Agung Saptono Suwarto (staf), Semua terkesan santai dan tidak suka hal-hal yang berbau protokoler.

” Mas, kami ingin istirahat sebentar salah satu hotel di Denarau. Kami mau istirahat dan mandi dulu sebelum lanjut ke Suva ” ujar Dubes Salim.

” Berapa lama, Pak ? Karena kita sudah ada janji bertemu dengan Sigatoka Research Station jam 10 pagi. Sementara sekarang jam 08.30  ” tanya saya.

” 5 jam, Mas. Tolong telepon mereka untuk undur jadwal pertemuannya  setelah jam makan siang. Ya jam 2 siang. Bisa khan ?

” Saya tanyakan mereka apakah bisa atau tidak “

Alhamdulillah Sigatoka Research Station mau menerima permintaan kami .

Tepat jam 12.30, 5 orang BNN telah berkumpul di lobi hotel dan koper bawaan mereka telah masuk ke dalam mobil mini Van.

” Mas Cech, gabung dengan saya ya ” pinta Pak Anang Iskandar. Saya pun segera duduk di bangku depan mobil SUV bersama Kepala BNN dan istri. Sedangkan yang lain duduk di mobil mini van.

” Berapa lama Mas dari hotel ke Sigatoka ? ” tanya Kepala BNN

” 1 jam Pak. “

” Saya dan istri suka suasana di Fiji, Tadi saya sempat ambil foto di pantai. Bagus banget pemandangannya. “

Selama satu jam perjalanan ke Sigatoka, tanpa terasa banyak hal yang saya dapat dari perbincangan dengan Pak Anang Iskandar. Terlihat sekali kalau Pak Anang Iskandar menyukai dunia pertanian terutama sukun dan peternakan.  Selain itu beliau sangat bersahaja atau low profile dan santai dengan kaos putih kasual, celana panjang biru dan mengenakan sepatu olah raga NIKE.  Begitu pula dengan sang istri, pasangan yang saling mencintai dan kekeluargaan sekali walau baru pertama kali bertemu dengan saya. Saya sempat bertanya mengapa BNN mencari sukun ke Fiji padahal Hawaii lebih maju dalam ilmu dan teknologi Sukun di dunia. Jawaban beliau singkat, ” kita lihat saja nanti, mas Cech “

Tibalah kami di Sigatoka Research Station. Kedatangan kami langsung disambut oleh Mr. Manoa Iranacola, Senior Research Officer (Fruits). Selanjutnya kami masuk ke dalam ruangan rapat nan sederhana. Beberapa menit kemudian datanglah seorang pria khas India yaitu Mr. Shalendra Prasad, Principal Research Officer (Horticulture) Ministry of Agriculture sekaligus pimpinan di Sigatoka Reasearch Station.

Kepala BNN dan rombongan berdialog dengan Mr Shalendra Prasad dan Staf dari Sigatoka Research Station (dok. Cech)

Kepala BNN dan rombongan berdialog dengan Mr Shalendra Prasad dan Staf dari Sigatoka Research Station (dok. Cech)

Dari satu jam pembicaraan baru saya dapat mengambil kesimpulan mengapa BNN datang ke Sigatoka Research Station yaitu bertukar pengalaman tentang pengembangan tanaman sukun, pemanfaatan  sukun untuk produk makanan manusia dan ternak, tukar informasi tentang “Integrated Farming” berbasis sukun dimana dapat diterapkan untuk para korban pemakai narkoba dan tanaman sukun dapat dipakai untuk anti drug atau menyembuhkan para korban pemakai narkoba. Dari pembicaraan itu pula Pak Deddy mengungkapkan pengalamannya memanfaatkan daun sukun untuk menyembuhkan penyakit istrinya dimana dokter yang merawat istrinya sudah menvonis bahwa umur sang istri tinggi menghitung hari. Dengan keyakinannya Pak Deddy meminta istrinya mengkonsumsi daun sukun yang direbus setiap hari dan hasilnya sang istri dinyatakan sehat seperti semula.

Selanjutnya kami diajak oleh Mr Mano dan Mr. Shalendra ke kebun dan persemaian tanaman sukun yang ada  di tempat tersebut. Nah di kebun sukun inilah Pak Anang Iskandar terlihat senang dan antusias sekali.

” Mas Cech, ini yang saya cari.  Luar biasa baru 11 bulan sudah berbuah dan pohonnya pendek pula. Punya saya sudah 2 tahun belum berbuah. Rupanya saya salah cara tanamnya. Terima kasih Cech. “

Ya memang benar terhampar deretan tanaman sukun dengan hanya ketinggian 2 meter sudah berbuah lebat. Kenapa demikian ? Jawabannya adalah “Markoning ” Pantesan saja Pak Anang senang sekali karena sudah mendapatkan jawabannya.

Kebun percontohan Sukun di Sigatoka Rearch Station (dok. Cech)

Kebun percontohan Sukun di Sigatoka Rearch Station (dok. Cech)

Meninjau dan diskusi langsung di kebun sukun (dok. Cech)

Meninjau dan diskusi langsung di kebun sukun (dok. Cech)

Kebun Sukun yang berbuah lebat (dok. Cech)

Kebun Sukun yang berbuah lebat (dok. Cech)

Meninjau tempat persemaian Sukun (dok. Cech)

Meninjau tempat persemaian Sukun (dok. Cech)

Hampir 2 jam berada di Sigatoka Research Station, kami pun undur diri dan melanjutkan perjalanan ke Suva yang membutuhkan waktu 2 jam.

” Mas Cech, jalan ke Suva nya santai aja ya. Saya ingin menikmati perjalanan. Kalau bisa kita ngopi-ngopi dulu di pinggir jalan. Saya lagi bahagia nih karena dah dapat apa yang saya cari. ” ujar Pak Anang Iskandar.

” Oke Pak. Tapi di Fiji tidak ada warung kopi pinggir jalan. Yang ada kita ngopi di hotel atau resort sambil menikmati keindahan pantai. ” jelas saya.

” Atur aja yang baik Mas “

Setelah satu jam perjalanan, kami berhenti di Warwick Hotel & Resort. Segelah kami duduk di pinggir pantai dan memesan beberapa minuman terutama kopi untuk menikmati keindahan pemandangan di pinggir pantai menjelang sore hari.

20150901_170043

Setelah beberapa puluh menit ngopi di Warwick Hotel & Resort, perjalanan menuju Suva dilanjutkan. Tepat pukul 18.30 kami tiba di Tanoa Plaza Hotel, tempat penginapan rombongan BNN selama di Fiji.

” Oh ya Mas Cech, jam 8 malam  kamu antar kami ke restoran khas Fiji yang paling enak ya ” pinta Pak Anang Iskandar

” Tapi pak saya harus ke GPH ” jawab saya

” Siapa yang suruh? Pokoknya kamu harus in charge dengan saya. Kalau perlu saya telpon big bos kamu ” tegas Pak Anang Iskandar.

Tepat jam 8 malam saya, staf KBRI Suva dan rombongan BNN makan malam di Royal Yacht Club di Lami. Pak Anang dan istri memesan Blackened Tuna Steak. Beliau sangat menikmati makanan tersebut terutama singkong goreng sebagai makanan penyerta.

Hari kedua, 2 September 2015

Agenda hari kedua adalah BNN melakukan penandatangan Nota Kesepahaman dengan Kepolisian Republik Fiji. Tepat pukul 06.30 saya sudah berada di Tanoa Plaza Hotel. Pada pukul 07.30 delegasi BNN bergerak menuju Grand Pacific Hotel (GPH) bergabung dengan delegasi Menteri Luar Negeri RI yang turut menyaksikan penandatanganan tersebut. Pukul 07.50 delegasi Kemlu RI dan BNN menuju Nasova Police Academy yang hanya membutuhkan waktu 10 menit dari GPH.

Kedatangan delegasi Kemlu RI dan BNN di Nasova Police Academy disambut oleh Menteri Pertahanan Fiji Timoci Natuva dan Komisioner Kepolisian Fiji, Mayor Jenderal Bernadus Groenawald.. Nota kesepahaman antara BNN dan Kepolisian Fiji tersebut ditandatangani oleh Kepala BNN, Komjen Anang Iskandar dan Komisioner Kepolisian Fiji, Mayor Jenderal Bernadus Groenawald. Hadir pula dalam acara penandatanganan, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Fiji serta Duta Besar Kedua Negara dan pejabat senior kedua pihak.Kedua institusi dari dua negara tersebut menyepakati kerjasama terkait dengan penanggulangan permasalah Narkoba.

Penandatanganan Nota Kesepahaman Penanggulangan Masalah Narkoba antara Kepala BNN Komjen Anang Iskandar dan Komisioner Polisi Fiji Mayjen Ben Groenwald disaksikan oleh Menteri Pertahanan Fiji Timoci Natuva dan Menlu RI Retno LP Marsudi (dok. Cech)

Penandatanganan Nota Kesepahaman Penanggulangan Masalah Narkoba antara Kepala BNN Komjen Anang Iskandar dan Komisioner Polisi Fiji Mayjen Ben Groenwald disaksikan oleh Menteri Pertahanan Fiji Timoci Natuva dan Menlu RI Retno LP Marsudi (dok. Cech)

Dua poin penting dalam kerjasama yang tertuang pada nota kesepahaman yakni pertukaran informasi di kedua negara terkait dengan pemberantasan peredaran gelap Narkotika dan kesepakatan kerjasama dalam peningkatan kapasitas, pelatihan serta kunjungan ahli dari kedua belah pihak. Mengenai pertukaran informasi BNN dan Kepolisian Republik Fiji beberapa poin yang disepakati diantaranya pertukaran informasi jaringan, rute dan modus operandi, metode pencarian dan penyitaan Narkotika, metode pencucian uang serta bentuk-bentuk baru dari Narkotika dan prekursornya. (sumber BNN)

Selanjutnya delegasi Kemlu RI dan BNN kembali ke GPH bergabung dengan rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI  untuk menghadiri pembukaan secara resmi KTT PIDF oleh Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama.

Kepala BNN dan Deputi BNN berbincang-bincang dengan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti setelah pembukaan KTT PIDF di GPH (dok. Cech)

Kepala BNN dan Deputi BNN berbincang-bincang dengan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti setelah pembukaan KTT PIDF di GPH (dok. Cech)

Foto Bersama Kepala BNN dan Delegasi BNN, staf KBRI Suva dengan Perdana Menteri Fiji Voreqe Bainimarama (dok Cech)

Foto Bersama Kepala BNN dan Delegasi BNN, staf KBRI Suva dengan Perdana Menteri Fiji Voreqe Bainimarama (dok Cech)

” Mas Cech, tahu daerah pertanian di sekitar Suva ? Saya ingin ke sana ? ” tanya Pak Anang Iskandar sesampainya di Tanoa Plaza Hotel setelah menghadiri pembukaan KTT PIDF.

” Setahu saya adanya di luar Suva dan jalannya juga jelek pak. Bagaimana kalau ke Pure Fiji ? ” terang saya.

” Apa itu Pure Fiji ? “

” Itu pak tempat diproduksinya produk kecantikan dan kesehatan khas Fiji berbasis sebagian besar dari kelapa ” jelas saya.

” Wah menarik juga. Okelah kalo begitu “

Setelah beberapa menit  Pak Anang dan istri telah memakai pakaian santai dan beberapa orang delegasi BNN turut serta ke Pure Fiji. Di Pure Fiji, delegasi BNN disambut oleh manajer Pure Fiji dan disambut nyanyian selamat datang khas Fiji dari para karyawan Pure Fiji.  Selanjutnya delegasi BNN diajak keliling pabrik Pure Fiji dan melihat proses pembuatan produk kesehatan dan kecantikan. Selain itu diajak melihat galeri koleksi kerajinan tangan khas Fiji yang dimiliki oleh Pure Fiji.

Para karyawan Pure Fiji menyanyikan lagu selamat datang khas Fiji (dok Cech)

Para karyawan Pure Fiji menyanyikan lagu selamat datang khas Fiji (dok Cech)

Kepala BNN dan istri menyambut antusias nyanyian selamat datang (dok. Cech)

Kepala BNN dan istri menyambut antusias nyanyian selamat datang (dok. Cech)

Foto bersama sebelum meninggalkan Pure Fiji (dok. Cech)

Foto bersama sebelum meninggalkan Pure Fiji (dok. Cech)

Setelah berbelanja beberapa produk Pure Fiji untuk oleh-oleh di tanah air, delegasi pamit diri dan menyempatkan pula foto bersama dengan karyawan Pure Fiji.

Selanjutnya kami pergi menuju Food Court MHCC untuk makan siang. Satu hal yang menari dari Pak Anang Iskandar ketika saya menawarkan makan siang di Cafe  yang ada di hotel, beliau menolaknya dengan alasan kalau yang seperti itu banyak di Jakarta. Maka itu saya ajak makan di Natural Blend, outlet khusus makanan Fiji dengan suasana Food Court yang ramai dan hilir mudik pengunjung di depan meja makan kita. Tetapi beliau sangat menikmati suasana tersebut.

Setelah makan siang, saya berpisah dengan rombongan karena saya harus mempersiapkan pertemuan antara Menteri KP Susi Pudjiastuti dengan 40 orang ABK di Wisma Duta. Lagipula Pak Anang dan delegasi BNN mendapatkan undangan makan malam dari Fiji Police di Tyco’s Restaurant malam itu juga.

Hari ketiga, 3 September 2015

Pukul 04,00 pagi, saya sudah berada di Tanoa Plaza Hotel. Sesuai jadwal hari ketiga ini adalah hari terakhir Pak Anang Iskandar dan delegasi BNN berada di Fiji. Saya turut mengantar delegasi BNN menuju bandara Nausori untuk kembali ke Indonesia.

Selama perjalanan tidak ada informasi penting yang saya peroleh, Hanya saja saya menyatakan kalau Kabareskrim Komjen Budi Waseso diganti dengan pejabat baru.  Semua delegasi terdiam dan hanya mengomentari sedikit saja tentang penggantian Kabareskrim.

Setelah pesawat Kepala BNN dan rombongan take off pada pukul 06,30 dan saya segera kembali ke kantor tiba-tiba pesan via WA masuk dan tertulis Komjen Anang Iskandar diangkat menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) menggantikan Komjen Budi Waseso  ( tukar jabatan menjadi Kepala BNN). Betapa terkejutnya saya tetapi saya hanya bisa berdoa semoga Pak Anang Iskandar dapat amanah menjalankan tugas baru nya dan tetap menjaga kesederhanaan beliau seperti yang beliau tunjukkan di Fiji. Good Luck General !!!

Life is… Driving Safely

YYvLyJ3nSv7rFUwWHsIuLnPOWscaEz3QIwaaMt2fPktl=w1061-h705-no

Dok. Cech

Terlihat seorang pria tua sedang duduk dan menikmati roti coklat di dekat ruangan penitipan barang sebuah mal besar. Sambil memegang troley berisi barang-barang belanjaan, pria tua tersebut kadangkala tersenyum sendiri. Sepertinya ada yang lucu dalam pikirannya.

Aktifitas pria tua tersebut menarik perhatian seorang wanita 20 tahunan. Segeralah wanita tersebut menghampiri pria tua tersebut.

” Sore, Pak ” sapa wanita muda.

” Sore … ” jawab pria tua.

” Boleh saya bertanya ama bapak ? ” tanya wanita muda.

” Oh silakan. Ada apa ya ? Apa yang dapat saya bantu ? ” ujar pria tua.

” Dari tadi saya mengamati bapak duduk tersenyum sambil menikmati roti coklat “

” Hehehehehe perhatian sekali “

” Kalau boleh tahu, apakah bapak menunggu istri atau anak bapak ? “

” Ahhh saya tidak menunggu istri atau anak saya, Tapi saya sedang menunggu kekasih saya “

” Wao, kekasih ? “

” Iya, memang kenapa ? “

Sesekali pria tua tersebut melihat ke kanan dan ke kiri seperti sedang memperhatikan apakah orang yang ditunggunya datang.

” Nah itu kekasih saya datang. “

Tampak seorang wanita tua datang menghampiri kami.

” Apakah ibu ingin menemui bapak ini ? ” tanya wanita muda.

” Hmmmm …. ” guman wanita tua yang terlihat bingung.

” Ya benar dia kekasih saya hehehehe ” ujar pria tua.

” Saya tidak kenal dengan dia ” jawab wanita tua

Makin bingung saja wanita muda dengan situasi yang terjadi.

” Dia memang bukan kekasih saya. Saya hanya bercanda untuk membuat kamu bingung hahahaha “

” Ohhhh bapak, membuat saya bingung dan serba salah hahahaha “

” Wanita tua ini emang sering datang ke mal ini 2 kali dalam seminggu seperti saya. Sama seperti saya duduk di sini untuk istirahat. Tahulah kami ini sudah berumur. baru jalan seputaran saja sudah lelah. ” jelas pria tua sambil menunjuk telinga wanita tua yang ternyata sudah kurang pendengaran (terlihat alat pendengarannya).

” Hanya itu saja pak?! Tapi bapak tadi terlihat tersenyum sendirian. Pasti ada yang lucu. “

” Mau tahu saja kamu anak muda hehehehe “

” Maafkan saya atas pertanyaan konyol tadi “

” Ah tidak apa-apa. (diam sejenak dan mulai terlihat wajah serius). Saya ini tidak mempunyai anak dan istri. Saya belum pernah menikah maka itu kadangkala saya tersenyum sendiri membayangkan perjalanan hidup saya. Dari dulu saya selalu sendiri. Jalan sendiri, masak sendiri, belanja sendiri, sampai sakit sendiri. “

” Apakah bapak tidak pernah berencana untuk menikah sejak muda ? Apakah bapak pernah mengalami patah hati ? ” tanya wanita muda dengan mimik serius.

” Keinginan menikah itu ada tapi mungkin sudah menjadi jalan hidup saya untuk tidak pernah menikah. Dari muda sampai umur 60 tahun hidup saya selalu di jalanan. “

” Maksud bapak ? “

” Profesi saya selama 40 tahun adalah supir truk/trailer. Setiap hari hidup saya di truk selama kurang lebih 400 km mengantar barang dari pabrik ke mal ini atau mal di kota lain. “

” Jadi bapak supir truk barang mal ini ? “

” Oh bukan. Saya punya bisnis antar barang. Setiap saya antar barang ke mal, selalu istirahat  makan di tempat yang saya duduki ini. “

” Ohh gitu, tetapi selama duduk istirahat di tempat ini apakah tidak pernah bertemu seorang wanita yang mungkin membuat bapak suka dan dijadikan istri ? “

” Hahahaha tidak pernah ada wanita yang saya temui di tempat ini sejak sekian lama. Dan baru hari ini saya bertemu wanita yang datang menemui saya dan tidak tanggung-tanggung 2 wanita sekaligus. Kamu dan wanita tua itu hahahaha “

Terlihat rona wajah wanita muda memerah malu.

” Tetapi tenang saja saya yakin kamu tidak mau jadi istri saya hahahaha… “

” Hahahaha… maaf pak, apakah bapak bahagia dengan hidup bapak ? “

” Bahagia sekali karena bagi saya hidup itu sama dengan mengemudi kendaraan. “

” Maksud bapak ? “

” Life is…. driving safely. Selama driving safely, tidak hanya saya yang selamat tetapi orang lain juga ikut selamat. Selamat sampai tujuan dan tidak ada yang merasa kehilangan hehehe ” terang pria tua sambil membawa troleynya dan meninggalkan wanita muda duduk berdua dengan wanita tua,

Perkenalkan Nama Saya Wakhidin

Wakhidin No Fully Name (dok.cech)

Wakhidin No Fully Name (dok.cech)

Hari ini tanggal 28 Maret 2015, saya kembali melaut bersama kapal tercinta kami Lu Shung 282 berbendera Tiongkok. Baru kemarin hari saya merasakan hidup bergairah kembali setelah sebulan lebih saya merasakan hidup ini tidak adil untuk saya dan keluarga. Sepertinya Tuhan sedang memberikan ujian hidup yang sangat berat kepada saya dan keluarga. Mengapa hal ini dapat terjadi ? Sebelum saya cerita lebih jauh maka saya akan memperkenalkan diri saya.

Perkenalkan nama saya Wakhidin. Ya hanya Wakhidin, singkat, padat dan berisi seperti tubuh saya. Walaupun saya kadang bingung mengapa di form pengiriman dari Western Union, nama saya tertulis Wakhidin No Full Name. Tidak tahu mengapa tertulis demikian. Rupanya hanya menjelaskan kalau saya hanya punya nama Wakhidin dan tidak ada nama kedua di belakang Wakhidin. Itulah pemberian orang tua saya, seorang petani yang tangguh di sebuah kampung di Indramayu. Maklumi ya saya tidak bersekolah terlalu tinggi seperti orang-orang di kota besar. Jadi saya kurang mengerti bahasa Inggris.

Oh ya, saya memiliki satu istri, namanya Casiroh Binti Kalis dan satu anak perempuan. Untuk menghidupi keluarga maka saya memberanikan diri untuk pergi berlayar menjadi seorang anak buah kapal (ABK). 2 tahun saya jalani sebagai ABK di Taiwan. Dengan pengalaman 2 tahun tersebut maka saya mengerti sedikit bahasa Taiwan. Kemudian saya mendapat tawaran untuk melaut ke Fiji. Pengalaman melaut ke Fiji inilah yang membuat hidup saya berubah dari harapan menjadi bencana. Kok bisa ? Begini ceritanya.

Sekitar 20 bulan yang lalu, saya berangkat melaut ke Fiji dari pelabuhan Hongkong. Ternyata kapal kami tidak langsung menuju ke Fiji tapi keliling dunia bahkan sampai ke Perancis. Di perairan Perancis inilah, kapal kami dicegat oleh Polisi Laut Perancis yang dipimpin oleh seorang Kapten Wanita yang cantik. Kami sempat merasa kuatir kalau kapal dan kami ditahan di Perancis. Ternyata polisi Perancis hanya mencari satu jenis ikan langka yang dilindungi oleh pemerintah Perancis apakah kami telah menangkapnya. Ternyata yang dicari adalah ikan Hiu Manta (orang Indonesia menyebutnya). Setelah tidak ditemukan jenis ikan tersebut, kamipun dibebaskan berlayar kembali. 2 jam yang mencekam bagi kami.

19 bulan berlalu cepat dan sampailah kami di pelabuhan King Wharf, Suva Harbour, Fiji. Selama itulah saya tidak pernah kontak dengan istri dan keluarga saya. Inilah saat yang tepat untuk menelpon istri karena kapal akan ngedock selama sebulan di Fiji. Saya pikir akan sangat menyenangkan dapat memberi kabar tentang saya kepada istri dan keluarga. Tetapi yang saya dapatkan bukanlah hal yang menyenangkan. Setelah istri saya mengatakan belum menerima gaji selama 19 bulan. Sudah lebih setahun perusahaan yang mengirim saya melaut di Pemalang dinyatakan bangkrut dan kantornya sudah tutup serta pemilik menghilang entah kemana.

Bagai tersambar geledek di siang hari, badan saya langsung lemas dan hidup ini terasa hampa. Untuk apa saya bekerja selama itu kalau tidak menghasilkan sama sekali. Apalagi tahu, istri saya sampai pinjam uang rente untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Laki-laki macam apa saya ini sampai membiarkan istri dan keluarga hidup terlunta-lunta.

Setelah 2 hari tidak ada lagi semangat hidup, tiba-tiba seorang teman menyarankan untuk menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Fiji untuk konsultasi dan meminta bantuan serta menanyakan kepada agen pemilik kapal yang berkedudukan di Suva, Fiji. Akhirnya saya mengikuti saran tersebut walaupun saya tidak berharap sekali.

Keesokan harinya saya mendatangi kantor KBRI. Saya bertemu dengan seorang pejabat konsuler. Kemudian saya, pejabat konsuler dan satu bapak gendut mendatangi kantor agen pemilik kapal di King Wharf, Suva. Kedatangan pertama kami tersebut tidak ada hasil sama sekali karena agen pemilik kapal harus menghubungi agen di Taiwan yang merupakan mitra perusahaan yang mengirimkan saya untuk mengetahui tentang nasib gaji saya selama 19 bulan ini.

Hari demi hari saya lalui tanpa harapan karena tidak ada kabar sama sekali dari Taiwan  tentang nasib gaji saya. Berulang kali saya menelpon KBRI dan bapak gendut untuk menanyakan perkembangan gaji saya. Terasa sekali saya sudah tidak bersemangat lagi untuk berlayar dan sempat meminta pulang kepada KBRI dan bapak gendut tersebut. Tapi kalau saya pulang tanpa bawa uang, bagaimana saya harus menghadapi istri dan keluarga. Pada pertemuan dua sempat saya ungkapkan untuk minta pulang tapi bapak gendut menyarankan untuk bersabar sambil menunggu berita dari Taiwan.

Pada pertemuan ketiga barulah terungkap bahwa pemilik kapal telah mengirimkan gaji saya kepada agen Taiwan dan agen Taiwan juga telah mengirimkan uang kepada perusahaan saya di Pemalang. Dari situlah terungkap pula mengapa gaji saya tidak sampai ke istri. Rupanya istri saya telah salah memberikan nomor rekening bank. Bukan nomor rekening yang diberikan tetapi nomor seri buku tabungannya. Kok bisa ? Banyak orang bertanya seperti itu. Istri saya memang wanita lugu dan tidak sekolah sehingga tidak mengerti mana yang nomor rekening dan nomor seri buku. Ya sudah, lengkaplah penderitaan dan beratnya perjuangan saya untuk mendapatkan kembali gaji saya.

Ada 2 opsi yang ditawarkan oleh agen pemilik kapal yaitu membelikan tiket pulang ke Indonesia plus uang bonus 200 FJD dengan harapan saya sendiri yang mengejar keberadaan pemilik perusahaan di Pemalang atau meneruskan sisa waktu kontrak kerja saya selama 4 bulan dengan gaji diberikan langsung di atas kapal sambil menunggu kabar keberadaan pemilik perusahaan di Pemalang. Saya bingung sekali sampai mengeluarkan air mata, awalnya saya menerima untuk meneruskan berlayar tapi saya takut karena beratnya cobaan ini membuat saya tidak konsentrasi bekerja dan dapat membahayakan hidup saya di laut. Kemudian saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dengan membawa uang sedikit sekali. Terus buat apa saya bekerja selama 19 bulan ini. Benar-benar kalut pikiran saya. Akhirnya bapak gendut menyarankan saya menunda keputusan dan kembali bekerja di kapal yang sedang ngedok atau perbaikan mesin sampai kapal akan berlayar kembali.

Seminggu kemudian saya mendapat telepon dari pejabat KBRI untuk datang ke kantor agen pemilik kapal. Sesampainya di sana, sudah menunggu pejabat KBRI dan bapak gendut di dalam kantor. Setelah menunggu hampir 30 menit, datanglah seorang pria berwajah sipit dengan logat khas Taiwan. Rupanya pemilik kapal yang datang bersama seorang temannya. Pemilik kapal menjelaskan bahwa gaji saya selama 19 bulan dinyatakan raib dibawa kabur oleh pemilik perusahaan di Pemalang. Hal ini tidak seratus persen ulah mereka tetapi ada andil saya dalam memberikan informasi rekening bank yang salah sehingga ketika uang dikirimkan tidak sampai ke istri dan kembali ke rekening perusahaan. Prosedurnya adalah pemilik kapal di Tiongkok mengirimkan uang ke Taiwan. Taiwan mengirimkan ke Pemalang dan Pemalang mengirimkan ke Indramayu. Karena rekening saya salah maka uang kembali ke Pemalang dan sampai sekarang dinyatakan raib.

Duarrrr !!! Hancur sudah hidup saya. Bagaimana saya harus menjelaskan kepada istri. Lemas sekali badan ini. Sempat menangis saya dihadapan bapak-bapak di dalam ruangan tersebut. Saya sudah sempat meninggalkan ruangan tersebut, tapi tangan saya dipegang oleh bapak gendut.

Kemudian pemilik kapal meminta saya untuk meneruskan kerja dan menyelesaikan kontrak dengan syarat gaji saya selama 19 bulan akan ditanggung dan dibayarkan oleh pemilik kapal dan gaji saya selama sisa waktu kontrak akan dibayarkan di atas kapal.

Hah !!! Betapa kagetnya saya mendengar penjelasan dari pemilik kapal. Jadi gaji saya selama 19 bulan akan dibayar ?! Berulang kali saya bertanya kepadanya, apakah benar itu ? Ternyata benar adanya. Rupanya pemilik kapal sangat mulia hatinya. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh pemilik kapal bahwa hal ini sering terjadi. Tega benar ada orang membawa kabur hasil keringat orang lain yang berjuang mati-matian di tengah ganasnya laut. Ini semata-mata dilakukan karena kemanusiaan. Terima kasih Tuhan telah mengirimkan pemilik kapal yang baik hati. Walaupun demikian pemilik kapal sempat protes kepada saya karena 2 minggu ini saya tidak mau kerja dan hanya bermalas-malasan saja. Bagaimana mau semangat kerja kalau belum ada kejelasan nasib gaji saya.

2 hari sebelum kapal berlayar kembali, disaksikan oleh bapak gendut gaji saya selama 19 bulan diberikan oleh pemilik kapal. Langsung saya menghubungi istri tentang kabar gembira ini. Hari itu juga saya meminta bapak gendut untuk menemani ke Western Union agar uang tersebut segera dikirim ke istri di Indramayu. Alhamdulillah uang telah diterima dengan aman dan meminta ke istri agar segera melunasi hutang rente sebelum menjerat leher kami. Sungguh sabar bapak gendut menemani saya sampai waktu menjelang maghrib. Ucapan terima kasih berulang kali saya sampaikan kepada bapak gendut dan pejabat KBRI. Sebagai bentuk terima kasih, saya mengajak bapak gendut untuk makan-makan di restoran Malaysia. Baru kali saya merasa lapar sekali setelah sebulan lebih saya sudah tidak merasakan yang namanya lapar dan kenyang. Lahap sekali saya menyantap makanan sampai bapak gendut tertawa melihat mulut saya belepotan hehehehe…

Akhirnya seusai makan, bapak gendut mengantar saya kembali ke King Wharf. Sambil menunggu boat yang sering mengantar saya ke kapal, kami berdua menikmati indahnya pemandangan laut dengan awan gelap yang menunjukkan sebentar lagi malam akan tiba. Saya peluk erat bapak gendut sambil mengucap terima kasih sekali lagi dan berharap di lain waktu dapat bertemu kembali. Air mata kami berdua terurai, satu lagi saya mendapatkan saudara di negeri orang lain. Terus saja saya melambaikan tangan perpisahan kepada bapak gendut sampai tidak terlihat lagi oleh gelapnya malam.

Indahnya pemandangan laut menjelang senja di King Wharf, Suva, 27 Maret 2015 (dok.cech)

Indahnya pemandangan laut menjelang senja di King Wharf, Suva, 27 Maret 2015 (dok.cech)