Ketika Ecosport Bersua Dengan Everest Di Pangandaran

Pertemuan ini bermula pada saat seminggu Mini Touring Giri Tirta, Purwakarta. Om Budi, suami Sis Fitri (Member DForescom dari Purwakarta) menawarkan undangan kepada DForescom untuk mengikuti acara Touring Kemerdekaan dan Pengukuhan Kepengurusan Ford Everest Club Indonesia (FEvCI) Chapter Bandung  Raya di Pangandaran tanggal 18-20 Agustus 2017.

20729244_10211563804149391_9031954388099617747_n
Dok. FEvCI

Setelah melalui pembicaraan dengan seluruh anggota pengurus DForescom, kami memutuskan untuk mengirimkan 6 orang pengurus untuk menghadiri acara tersebut. Menurut kami, ini adalah kesempatan untuk melakukan silaturahim dan kerjasama dengan komunitas di luar Forescom. Kerjasama yang dapat dilakukan antara lain kerjasama info tentang teknisi kendaraan, suku cadang, perbengkelan dan lain-lain. Tetapi yang lebih jauh lagi adalah Turing Bersama dalam satu kesempatan.

Perlu diketahui Ford Everest Club Indonesia (FEvCI) Terbentuk pada 30 April 2015 oleh sekumpulan pengguna dan pencinta Ford Everest di JABOTABEK. FEvCI adalah club otomotif bersifat KOMUNITAS dan berazaskan KEKELUARGAAN. Sedangkan FEvCI chapter Bandung baru terbentuk pada tanggal 23 Juli 2017.

DSC_0054
Dok, Cech
IMG-20170820-WA0030
Dok. Cech
WhatsApp Image 2017-08-19 at 10.52.13
Maksi sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Pangandaran (Dok. Cech)

Beberapa hari menjelang hari H, DForescom memberitahukan kepada om Budi (Sekretaris FEvCI chapter Bandung Raya) secara final keikutsertaan kami tetapi hanya pada acara Gala Diner dengan alasan tertentu. Jadi kami tidak dapat ikut dalam turing bersama pada tanggal 18 Agustus 2017 sehingga kami akan berangkat dari Bandung pada tanggal 19 Agustus 2017 jam 05.30 ke Pangandaran. Selain itu jumlah DForescom yang hadir berjumlah 4 orang dengan menggunakan 2 buah mobil Ecosport.

Tanggal 19 Agustus 2017 pukul 06.00 dengan titik kumpul di Hotel Shakti Bandung, rombongan Dforescom bergerak menuju Pangandaran. Karena hanya 2 mobil saja maka kami mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Dengan melakukan pemberhentian 4 kali, tanpa terasa kami tiba di Hotel Horison pada pukul 14.30. Setelah check in, kami bersantai ria sejenak di Roof Top Hotel Horison. Di Roof Top ini kami mendapati satu Cafe cozy Mady’s Gelato lengkap dengan Sky Walk sehingga kita dapat melihat suasana pantai barat dan timur Pangandaran.

jxnd-xwqz480501
Dok. Cech
IMG-20170819-WA0042
Santai di Roof Top Hotel Horison (Dok. Cech)
DSC_0072
Pemandangan Pantai Pangandaran (dok. Cech)

Malam harinya, tepat pukul 19.00 kami berempat sudah sampai di Hotel Surya Pesona, lokasi acara Gala Diner FEvCI. Baru memasuki lobi hotel, kami sudah disambut oleh beberapa anggota FEvCI yang ternyata salah satunya adalah Ketua FEvCI chapter Bandung Raya yang baru, Om Sakti Nikitta Vionda.  Sebuah penyambutan yang ramah dan kehormatan bagi kami.

Kami dipersilakan untuk langsung menikmati makan malam yang telah disediakan oleh panitia. Setelah makan malam, dilakukanlah acara pengenalan dari FEvCI Pusat dan diceritakanlah sejarah berdirinya FEvCI dan beberapa nama pengurus FEvCI Pusat oleh Ketua Umum FEvCI, om Rully. Selanjutnya pengukuhan Kepengurusan FEvCI Chapter Bandung dengan Ketua Chapter Om Sakti dan Sekretarisnya om Budi dilengkapi dengan pemberian nasi kuning dari tumpeng kepada ketua umum om Rully. Selain dari Pusat dan Bandung Raya, acara FEvCI dihadiri oleh beberapa anggota chapter Bekasi, Banten, Jakarta, Cirebon Indramayu Kuningan Majalengka, Bogor, Kalimantan. Acara yang cukup meriah dengan diselingi dengan hiburan lagu dan pembagian door prize.

IMG-20170819-WA0060
Panggung Acara (Dok. Feby)
IMG-20170819-WA0058
Dok. Rangga
IMG-20170819-WA0064
Pengukuhan FEvCI Bandung Raya dari Ketum FEvCI, om Rully (dok. Feby)
IMG-20170819-WA0066
Pengenalan Pengurus FEvCI Bandung Raya dengan Ketua Om Sakti dan Sekretaris Om Budi (Dok. Feby)
IMG-20170819-WA0067
Lumayanlah DForescom diberikan bingkisan oleh Ketua FEvCI Chapter Bandung Raya Om Sakti (Dok. Feby)

Selain itu DForescom mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan diri bersama dengan Ford Club Bandung (FCB)  di panggung acara  sebagai pihak yang diundang dan mendapatkan sebuah bingkisan menarik dari FEvCI chapter Bandung Raya. Sekitar pukul 21.30 kami pamit diri dan kembali ke hotel.

Keesokan harinya, kami meninggalkan hotel pukul 09.45 dan kembali ke Bandung melalui jalur selatan untuk mengetahui kondisi jalan dan lebih mengenal daerah-daerah sepanjang pantai selatan. Kami berempat sepakat bahwa turing kali ini benar-benar mini turing sambil menikmati pemandangan alam sepanjang pantai selatan.

Iklan

Mancing Bersama Itu Menyatukan Emosi

” Suka mancing, Pak ? ” tanya salah seorang security di tempat istri saya bekerja.

” Saya tidak suka mancing ikan. Kalau mancing emosi, saya suka hahahaha ” canda saya kepadanya.

Sudah lama sekali saya ingin mengadakan pancing bersama dengan seluruh security, office boy (OB) dan juru parkir yang bekerja di kantor istri. Saya sering mendengar mereka mengadakan mancing bersama tetapi dengan teman-teman seprofesi di kantor wilayah. Itupun tidak semuanya ikut serta.

Sesekali saya yang menjadi sponsor acara mancing bersama mereka. Oh ya di tempat kerja istri, mereka termasuk dalam Service Reception Team. Tujuan saya hanya ingin mereka makin kompak, semangat bekerja dan diperhatikan oleh pimpinan mereka. Walaupun mereka adalah pekerja outsourching tapi mereka mempunyai peran tidak kecil dalam memberikan kesan dan pelayanan yang baik terhadap nasabah yang datang dan melakukan transaksi di BCA KCP Setiabudi Bandung.

DSC_0004
Aba-aba dimulainya acara memancing oleh Pak Wawan (dok. Cech)
IMG-20170722-WA0062
Peserta sudah menduduki tempatnya masing-masing di sisi barat (dok. Cech)
IMG-20170722-WA0063
Peserta sudah menduduki tempatnya masing-masing di sisi timur (dok. Cech)

Setelah berulangkali gagal dilaksanakan karena susahnya mencari tempat memancing, akhirnya tanggal 22 Juli 2017 acara Mancing Bersama Service Reception Team terlaksana juga di kolam milik Family Villa Balebat Taman Bunga Dr Setiabudi. Disepakati saya menyediakan dana pembelian  ikan yang akan  dipancing (seharga Rp 27.500 per kg atau 1 kg sama dengan 3-4 ekor ikan). Selain itu saya memberikan Piala bagi peserta yang mendapatkan ikan terbanyak dan sejumlah uang bagi yang berhasil mendapatkan 1 ekor ikan mas berwarna merah. Sementara mereka berjumlah 22 orang patungan Rp 20.000/orang untuk keperluan konsumsi dan lain-lain.

Acara dimulai pada pukul 09.00 dengan dilakukan pengundian nomor tempat duduk kepada 22 peserta. Kemudian masing-masing peserta yang mendapatkan nomor tempat duduk bersiap diri di tempatnya masing-masing. Memancing dimulai setelah mendapatkan aba-aba dari Pak Wawan sebagai sesepuh acara tersebut. Acara pun dimulai. Tepat pukul 12.00 acara memancing dihentikan untuk makan siang dan dilanjutkan dengan bertukar tempat ke seberangnya. Setelah 1 jam istirahat makan siang, acara memancingpun dimulai lagi sampai pukul 16.00.

DSC_0017
Racikan umpan (dok. Cech)
DSC_0012
Om John serius dengan racikan umpannya (dok. Cech)
DSC_0045
Pemancing di sarang penyamun (dok. Cech)
20170722_123259
Ikan hasil pancingan (dok. Cech)

Ternyata faktor tempat, racikan umpan dan keberuntungan berpengaruh terhadap perolehan ikan yang berhasil ditangkap. Pada acara mancing bersama ini, peserta yang mendapatkan ikan terbanyak (21 ekor) adalah Pak Dudi (Security). Sedangkan peserta yang beruntung mendapatkan ikan berwarna merah adalah Pak Eko (Back Office). Walaupun demikian, mereka yang belum berhasil mendapatkan piala dan 1 ekor ikan berwarna merah tetap menunjukkan semangat, keceriaan, kebersamaan, kebahagiaan dan terlihat lepas menunjukkan emosinya. Mereka yang tidak mendapatkan satu ekor ikan pun tetap tertawa dan teman-teman yang lain tetap membagi ikan yang diperoleh kepada mereka. Acara mancing masih berlanjut walaupun sudah melewati pukul 16.00. Sebagian dari mereka mengatakan masih banyak ikan yang dibeli saya di kolam. Jadi sayang sekali kalau tidak tertangkap karena aturan yang berlaku adalah ikan-ikan yang dimasukkan ke dalam kolam dan tidak berhasil ditangkap menjadi milik yang punya kolam.

IMG-20170722-WA0095
Saya diapit oleh Pak Dudi dengan Piala Pemancing Tangguhnya dan Pak Eko sebagai pemancing beruntung dengan satu ekor ikan emas berwarna merah (dok. Cech)
DSC_0050
Foto bersama seluruh peserta mancing bersama (dok. Cech)

Hujan rintik-rintik turun di sekitaran kolam dan saatnya saya pulang dengan satu hal yang menjadi pengingat diri bahwa ternyata mancing bersama itu menyatukan emosi dan berharap dapat diadakan rutin setiap 3 bulan.

Jambore Nasional 2 Forescom Antara Menyenangkan dan Mengenyangkan

17103571_1305806976232612_4726129486223901027_n
Dok. Forescom Indonesia

” Jambore Itu Menyenangkan, Berkumpul Itu Mengenyangkan “

Kalimat tersebut yang langsung terngiang di telinga saat mengetahui ada Jambore Nasional 2 Forescom di Yogyakarta-Magelang tanggal 21-24 April 2017.  Memang saya belum genap satu tahun bergabung dengan Forescom. Tetapi setelah mengikuti langsung kegiatan turing, kopdar acara HUT Forescom dan membaca  aktifitas Forescom di Facebook maka menambah ketertarikan saya terhadap komunitas ini.

Silaturahim dan berbagi adalah 2 kata kunci yang menjadi kekuatan komunitas ini. Jadi dengan adanya Jambore Nasional maka silaturahim dan berbagi makin jelas terwujud nyata. Selama ini silaturahim dan berbagi hanya sebatas pada kegiatan turing mini atau turing tiap chapter ke beberapa tempat wisata. Dengan berkumpulnya  beberapa chapter lengkap dengan anggota Forescom beserta keluarga maka terlihat bagaimana besarnya kekuatan silaturahim dan berbagi dalam komunitas ini.

Beberapa bulan ini, saya mengikuti sekilas bagaimana om-tante  panitia Jambore Nasional mempersiapkan kegiatan ini. Tidak hanya membuat rencana beberapa acara selama Jambore tetapi berjuang mencari beberapa perusahaan yang mau menjadi sponsor dalam Jambore tahun ini. Suasana batin dalam kepanitiaan dapat saya rasakan. Di tengah kesibukan dengan aktifitas kerja sehari-hari tetapi masih mauj  meluangkan waktu untuk turut aktif berpartisipasi  dalam kepanitiaan dengan harapan agar Jambore ini berlangsung lancar dan sukses.

Jambore Nasional tinggal menghitung hari. Jambore Nasional dengan tema “Amazing Discovery of Indonesia” pada tanggal 21-24 April 2017 di Yogyakarta dan Magelang ini akan diikuti oleh  8 Chapter  yaitu Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Jawa Timur, Yogyakarta  dan Papua dengan total kendaraan Ford Ecosport berjumlah  120 buah. Sponsor utama yang berpartisipasi dalam  acara Jambore ini  adalah RMA Indonesia dengan didukung oleh Castrol Magnatec, AKARI, Otomotif, AutoBild  Indonesia , AKA Group, Nusantara Group.

Selain itu Jambore Nasional ini diisi dengan berbagai macam kegiatan sebagai berikut :

  1. Amazing Race, sebuah perlombaan menarik antar Chapter. Tiap chapter dibebaskan untuk memilih minimal 3 lokasi wisata di Yogyakarta. Selama di beberapa lokasi wisata, tiap chapter membuat video yang unik dan menarik dengan durasi 3 menit. Pemenang lomba ditentukan oleh kebersamaan, keseruan dan kekompakan para anggota chapter selama Amazing Race.
  1. Lomba Foto perorangan. Lomba ini diikiuti oleh anggota atau non anggota Forescom. Foto terunik menurut panitia dinyatakan sebagai pemenang.
  1. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forescom untuk memilih Ketua Umum Forescom sebagai acara utama dan membuat rencana kegiatan selama satun ke depan.
  1. Foto bersama di Lanud Adi Sucipto.
  1. Kegiatan Bakti Sosial (Baksos) di Kulon Progo. Sebuah kegiatan rutin setiap Jambore diadakan dan bekerja sama dengan SOS Children’s.
  1. Gala Dinner yang diikuti oleh seluruh peserta dan keluarga serta para sponsor Jambore. Selain itu diumumkan pemenang beberapa lomba.

Kalau melihat pencapaian kerja panitia Jambore Nasional selama ini maka keyakinan saya bahwa Jambore itu menyenangkan dan berkumpul itu mengenyangkan benar adanya.Jambore Yukkkk !!! Sampai berjumpa di Yogyakarta-Magelang.

Japan Trip : Ke Kyoto Dengan N700 Series

Setelah makan siang, kami segera menuju ke Asakusa Station yang letaknya tidak jauh dari tempat kami makan. Kami langsung membeli tiket via mesin penjualan tiket untuk jurusan Tokyo Station. Harga tiket yang harus dibayar sebesar Yen 200 per orang (Ginza Line). Dengan Ginza Line (G) membutuhkan waktu 15 menit dengan 9 stasiun perhentian ke Kyobashi Station. Setibanya di Kyobashi Station, kami berjalan kaki selama 6 menit ke Tokyo Station.

IMG-20170303-WA0012
Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0010
Suasana Peron 19 di Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0017
Tiket Kereta Super Cepat Shinkansen Tokyo-Shin Osaka (Dok.Cech)

Di Tokyo Station, kami membeli tiket kereta Super Cepat Shinkansen N700 series jenis Nozomi (seatable atau dapat nomor tempat duduk) dengan harga sebesar Yen 13.910. Kereta Super Cepat Shinkansen nomor 285 adalah kereta jurusan Tokyo-Shin Osaka yang hanya berhenti di Nagoya dan Kyoto Station.

Ada 2-3 jenis keberangkatan Shinkansen sesuai dengan waktu tempuh dan banyaknya perhentian. Namanya berbeda-beda tergantung operator dan kecepatannya ada yang dinamakan  Super Express, Express, dan All-Stop (setiap statiun berhenti). Di Jepang, Shinkansen dioperasikan oleh beberapa perusahaan yang berbeda tergantung jalurnya, lima yang paling utama.

Pertama,  Tokaido Shinkansen (Tokyo-Shin Osaka) yang dioperasikan oleh JR Central, untuk jenis Super Express dinamakan Nozomi (seatable) Di bawahnya adalah jenis Hikari (unseatable) dan yang terakhir berhenti di semua stasiun adalah jenis Kodama (unseatable). Ketiga jenis tersebut menggunakan seri kereta 700 series. Untuk jenis Nozomi, kita  mendapatkan tipe Shinkansen yang paling baru, yaitu N700 series.Shinkansen ini dapat mencapai top speed 270-300km/jam, sedangkan Kodama  hanya sekitar 200km/jam karena  berhenti di setiap stasiun.

Kedua, Hokuriku Shinkansen  (Tokyo-Nagano-Kanazawa) dibedakan Kagayaki (paling cepat) dan Hakutaka. Keduanya menggunakan seri kereta  E7 series. Jalur ini sejak 2015 baru menyambung ke Kanazawa dan sangat populer untuk turis yang ingin menjelajah Murodo Dam, Alpine Route, dan Shirakawa-Go village.

Ketiga, Sanyo Shinkansen, sambungan dari Osaka ke Fukuoka (meliputi Kobe dan Hiroshima), dioperasikan oleh JR West.

Keempat, Tohoku Shinkansen, jalur Tokyo ke Utara hingga paling ujung pulau, dioperasikan JR East.

Kelima, Hokkaido Shinkansen, ini sambungan dari Tohoku Shinkansen, dibuka Maret 2016 yang menghubungkan Shin-Aomori dan Hakodate Hokuto melewati Seikan Tunnel bawah laut dengan kereta Shinkansen Hayabusa yang membuat jalur kereta ke Pulau Hokkaido semakin ringkas. Rencananya jalur shinkansen ini akan disambung hingga kota Sapporo.

IMG-20170303-WA0011
Shinkansen N700 series (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0036
Shinkansen sedang dibersihkan (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0020
Sinkansen jurusan Shin Osaka sedang dibersihkan oleh petugas (Dok. Cech)
DSC_0050
Keterangan di meja lipat tentang beberapa gerbang misalnya gerbong untuk perokok (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0024
Gerbong Shinkansen Nozomi dengan tempat dudul 2-3 (Dok. Cech)
DSC_0077
Pemandangan di luar Shinkansen (Dok. Cech)

10 menit sebelum Shinkansen berangkat (13.23 waktu Tokyo), kami diperbolehkan masuk  ke dalam gerbong 11 dengan nomor tempat duduk 11D dan 11E. Tipe tempat duduknya adalah 2-3. Kondisi gerbong bersih sekali dan sebagian penumpang adalah profesional yang bekerja atau bertempat tinggal di Nagoya, Kyoto dan Osaka.

Selama perjalanan, kami menikmati pemandangan di luar kereta walaupun agak sulit untuk mengabadikannya dengan kamera karena cepatnya kereta bergerak.  Terasa seperti berada di dalam pesawat terbang. Gelas atau botol minuman yang kami letakkan di atas meja tidak tergoncang sama sekali. Dibutuhkan waktu perjalanan ke Kyoto selama 2 jam 15 menit dan tepat waktu sesuai tertera di tiket.

Selanjutnya dari Kyoto Station ke Green Rich Hotel , kami berjalan kaki selama 20 menit (jaraknya sekitar 750 meter). Sepanjang jalan kami mengamati suasana perumahan dan daerah Minami-ku. Sore itu jalanan sepi, bersih, tenang dan aman. Sesampainya di hotel, kami disambut dengan ramah oleh resepsionis hotel. Kami diberitahu bahwa kedua koper yang dikirim dari Tokyo via Ta-Q-Bin telah berada di kamar.

Setelah rehat sejenak, malam hari dengan suhu 5 derajat Celcius kami memaksakan diri keluar untuk mencari restoran dekat hotel. Ternyata restoran Yoshinoya dekat dengan hotel dan malam itu kami makan menu khas Jepang dengan nikmatnya.

IMG-20170303-WA0031
Kyoto Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0013
Jalan menuju hotel nan sepi, bersih tapi aman (Dok. Cech)
Y346842131
Depan Green Rich Hotel
IMG-20170303-WA0039
Menu makan malam pertama di Kyoto (Dok. Cech)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Japan Trip : Tokyo 24 Jam

Setelah tulisan Ta-Q-Bin tentang perjalanan di Jepang maka saya akan lanjutkan dengan perjalanan menarik di Tokyo. Perlu diketahui, sebenarnya perjalanan ke Jepang ini adalah suatu ketidaksengajaan. Bulan April 2016, kami menghadiri acara Garuda Travel Fair. Niat awal kami dari Bandung ke JHCC Jakarta, lokasi acara travel fair tersebut adalah hanya sekadar mencari informasi saja tentang travel fair tersebut.

Pengaruh semangat pengunjung yang mencari tiket pesawat murah ke berbagai destinasi membuat kami terbawa juga untuk membeli tiket pesawat tersebut. Dalam satu hari, kami membeli 2 tiket pesawat yang dirasa murah dengan destinasi Lombok untuk bulan Mei 2016 dan Jepang untuk bulan Maret 2017. Untuk mendapatkan tiket pesawat dengan kedua tujuan tersebut membutuhkan perjuangan yang besar karena harus sabar menunggu saatnya Happy Hour yang biasanya berlangsung pada jam 09.00-12.00 dan jam 15.00-18.00. Selain itu sabar mengantri di Anjungan Tunai Mandiri BNI yang mengular panjang untuk mengambil uang tunai. Khusus tiket ke Jepang, kami hanya dikenakan biaya tiket pesawat Garuda Indonesia pergi pulang sebesar IDR 8 juta untuk 2 orang.

Tanpa terasa perjalanan kami ke Jepang tinggal 1 bulan lagi. Segeralah kami mengurus Visa Kunjungan ke Kedubes Jepang di Jakarta. Kami menggunakan pihak ketiga dalam hal ini biro perjalanan untuk pengurusan visa tersebut. Dalam seminggu, pengurusan visa kunjungan ke Jepang diperoleh. Memang biaya pengurusan visa tersebut lebih mahal dibandingkan dengan mengurus langsung ke Kedubes. Hal ini dikarenakan kesibukan kami yang tidak memungkinkan kami ke Jakarta. Biaya yang dikeluarkan IDR 515 ribu per orang.

Dari awal, kami merencanakan untuk lebih lama tinggal di Kyoto yaitu 4 hari 4 malam. Kami menganggap Kyoto tempat yang menarik untuk dikunjungi lebih lama karena Kyoto adalah ibukota lama Jepang, tempat wisatanya menarik untuk dikunjungi terlebih dahulu, dan lokasinya strategis (berada ditengah-tengah antara Tokyo dengan Osaka sebagai destinasi terakhir).

Tanggal 1 Maret 2017 pukul 15.00, kami menggunakan bus Prima Jasa berangkat ke Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Pukul 18.30 kami tiba di bandara. Selanjutnya kami makan malam dulu di bandara. Sebelum Check In, kami cek ulang barang-barang yang dibawa dan diperlukan selama perjalanan ke Jepang. Khusus koneksi internet selama di Jepang, kami menyewa Wifi Pocket dari biro perjalanan (biayanya IDR 630 ribu plus deposit IDR 1 juta sebagai jaminan device) dengan kuota unlimited sehingga kami tidak perlu lagi membeli Sim Card operator yang ada di Jepang.

Pukul 23.30 pesawat Garuda Indonesia membawa kami ke Jepang. Tepat pukul 08.50 waktu Tokyo, pesawat mendarat di Bandara Internasional Haneda, Tokyo. Sejak keluar dari pesawat, imigrasi Jepang dan pengambilan berlangsung lancar dan aman. Setelah urusan dengan Ta-Q-Bin   selesai, segera kami menuju konter pembelian tiket bus ke Gotemba. Ternyata bus tujuan Gotemba baru ada pada pukul 12.05  di shelter 7. Ongkos bus dikenakan sebesar Yen 2060 dan perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih  2 jam lebih.

DSCN3642
Suasana di Haneda International Airport Tokyo (Dok. Cech)
DSCN3638
Telepon Umum di Haneda International Airport (Dok. Cech)
Tiket bus menuju Gotemba (Dok. Cech)
Bus Jurusan Gotemba/Hakone (Dok. Cech)

Suhu di Bandara Haneda saat itu 6 derajat Celcius, 5 menit sebelum berangkat kami sudah diperkenankan masuk ke dalam bus. Ternyata hanya kami saja yang menjadi penumpang. Tetapi memasuki kota Yokohama, banyak penumpang yang menaiki bus walaupun bus tidak terisi penuh.

Selama perjalanan, kami sudah memperkirakan bahwa momen untuk mengambil foto Gunung Fuji di Gotemba Premium Outlet kecil sekali peluangnya karena cuaca makin mendung dan hujan. Apalagi untuk melanjutkan perjalanan ke Hakone tidak mungkin dapat dilakukan dan kami memutuskan untuk lain waktu saja ke Hakone pada saat ke Jepang lagi.

IMG-20170326-WA0099
Gotemba Station (Dok. Cech)
IMG-20170326-WA0179
Tempat bus menaikkan penumpang (Dok.Cech)
DSCN3648
2 Vending Machine tersedia di setiap pojok Gotemba Premium Outlets (Dok. Cech)
DSCN3646
Waktu Kunjung di Gotemba Premium Outlets

Benar saja, setibanya di Gotemba Station hujan masih mengiringi kedatangan kami. Setelah bertanya kepada bagian informasi di loket bus, kami menggunakan Shuttle Bus yang memang disediakan gratis oleh Gotemba Premium Outlet menuju lokasi.

Dari Gotemba Station ke Gotemba Premium Outlets membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Setibanya di lokasi, waktu menunjukkan jam 15.35. Segeralah kami berjalan menuju West Zone terlebih dahulu karena letaknya dekat dengan parkiran bus.

DSCN3645
West Zone (Dok. Cech)
DSCN3649
Peta lokasi West Zone (Dok. Cech)
DSCN3650
Jalan menuju East Zone yang dibatasi oleh jembatan (Dok. Cech)

Setelah memutari West Zone sejenak, kami memutuskan untuk mencari Food Court karena perut mulai terasa lapar. Ternyata Food Court berada di East Zone. Segeralah kami menuju lokasi dan letaknya dekat dengan jembatan yang memisahkan West Zone dan East Zone. Food Court nya luas sekali dan pengunjung tidak perlu kuatir untuk tidak mendapatkan tempat. Karena hujan, lokasi tempat makan di luar Food Court ditutup. Segeralah kami memesan makanan dan banyak sekali pilihan untuk mencari menu makanan yang disukai. Karena sudah disepakati bahwa kami hanya 2 jam saja berada di Gotemba Premium Outlets maka kami segera menyelesaikan santapan makan  dan melanjutkan keliling East Zone.

Sama dengan West Zone, East Zone terdiri dari outlet yang menjual produk-produk bermerek Internasional dan terkenal dengan harganya yang miring. Tetapi tetap saja kami belum menemukan beberapa barang yang dicari. Berikut adalah beberapa contoh merek internasional yang ada di Gotemba Premium Outlets (GPO) :
West Zone: Alexander Mc Queen, Yves Saint Laurent, Sergio Rossi, Petit Bateau, Wedgwood, Bottega Veneta, Diesel, Godiva, Triumph, Haagen-Dasz, Body Shop, Ray-Ban, Folii Follie, dll
East Zone: Replay, Burton, Lego, OshKosh B’Gosh, Callaway, Samsonite, Ralph Lauren, McDonald’s, Coleman, Bose, Armani, Dunhill, Dolce&Gabbana, Banana Republic, Swarovski, Vivienne Westwood, Kate Spade New York, The North Face, dll.

Sedangkan merek lokal asli Jepang:
West Zone: Issey Miyake, Nextdoor, Nikon, Cabane de Zucca, Tomorrowland, Melrose, Kanematsu
East Zone: Olive des Olive, Sanrio, Beams, Lowrys Farm, Francfranc, Ciaopanic, Tsumori Chisato, Adam et Rope, Cecil McBee, Pearly Gates, dll.

DSCN3652
Suasana Food Court (Dok. Cech)
DSCN3656
Bagian luar Food Court (Dok.Cech)
IMG-20170326-WA0104
Menu makan siang kami (Dok. Cech)

Setelah 2 jam berada di Gotemba Premium Outlets, kami memutuskan untuk kembali ke Gotemba Station. Kami mendapatkan informasi bus jurusan Tokyo terakhir pada pukul 17.30. Sesampainya di Gotemba Station, kami langsung menuju loket tiket bus. Ternyata jurusan bus ke Tokyo tepatnya daerah Shinjuku tiba dalam hitungan menit. Biaya tiket bus per orang sebesar Yen 1680 dan lama perjalanan kurang lebih 2 jam. Mendekati Shinjuku, lalu lintas bergerak merayap karena waktunya bersamaan dengan jam pulang kerja.

Selanjutnya kami menuju ke Shinjuku Station untuk membeli tiket kereta bawah tanah. Setelah bertanya ke bagian informasi, kami disarankan membeli tiket kereta terusan langsung ke Asakusa Station. Kami langsung membeli tiket via Mesin Penjualan Tiket. Harga tiket kereta per orang sebesar Yen 520. Ada 2 line kereta yang kami gunakan untuk jurusan Higashi Shinjuku Station ke Asakusa Station yaitu Oedo Line (E) dan Ginza Line (G). Oeda Line (E) meliputi Higashi Shinjuku Station ke Ueno Okachimachi Station dengan 7 station pemberhentian. Sedangkan Ginza (G) meliputi Ueno Station ke Asakusa Station dengan 4 station pemberhentian. Total waktu perjalanan sekitar 40 menit.

IMG-20170326-WA0101
Ubi Jepang diantara panganan modern di Jepang (Dok. Cech)
DSC_0042
Asakusa Don Quijote (Dok. Cech)
DSC_0044
Pintu Gerbang Sensoji Temple (Dok. Cech)
DSC_0036
Restoran Jepang yang masih buka di tengah malam (Dok. Cech)
DSC_0038
Toko yang menjual barang-barang tradisional Jepang di Asakusa (Do. Cech)

Ternyata Asakusa Station letaknya dekat sekali dengan Richmond International Premier Hotel (sekitar 20 meter), hotel tempat kami menginap. Sebelum ke hotel kami membeli ubi bakar yang dijual dipinggir jalan. Uniknya rasa ubinya mirip dengan ubi Cilembu dengan lelehan madu yang keluar saat dimakan. Lumayanlah untuk mengisi perut yang sudah terasa lapar sekali.

Selanjutnya kami menuju ke hotel. Setelah meletakkan kedua ransel dan rehat sejenak sekitar 1 jam, kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran hotel karena sepertinya banyak pemandangan yang layak untuk dilihat. Walaupun sudah pukul 22.30 suasana Asakusa masih ramai orang bahkan banyak sekali wisatawan asing yang sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan suasana unik Asakusa. Ada satu toko besar yang terkenal dengan harga miringnya masih buka dan ramai dikunjungi orang. Ternyata toko tersebut buka 24 jam. Nama toko tersebut adalah Don Quijote. Saya tidak terlalu tertarik untuk masuk ke dalam toko dan memutuskan untuk menunggu di Pos Polisi yang letaknya di depan toko. Sementara istri sibuk belanja di dalam toko.

Suhu di luar sekitar  5-6 derajat Celcius tetapi tidak menyurutkan pengunjung baik lokal maupun asing untuk jalan-jalan mengitari wilayah Asakusa yang lumayan luas. Sayapun tertarik untuk mengikuti aktifitas mereka terutama mengambil beberapa foto di lingkungan Asakusa yang menarik tersebut.

DSC_0028
Suasana lingkungan di Asakusa pada tengah malam (Dok. Cech)
DSC_0030
Foto sejenak di tengah malam di Asakusa (Dok. Cech)
DSC_0043
Asakusa Station tidak jauh dari jalanan ini (Dok. Cech)

Setelah puas menikmati lingkungan Asakusa, saya menghampiri istri di Don Quijote dan kembali ke hotel. Kami harus segera istirahat karena besok pagi jam 09.00 pagi harus meninggalkan hotel dan perjalanan kami akan berlanjut ke Kyoto. 24 jam di Tokyo yang melelahkan dan butuh waktu yang lebih lama untuk mengunjungi beberapa objek wisata di sekitaran Tokyo. Mungkin di perjalanan ke Jepang berikutnya.

Air Sebagai Sumber Biaya Pernikahan

Seorang office boy mempunyai rencana untuk menikahi perempuan pujaan hatinya. Sebulan menjelang hari H, uang yang terkumpul baru Rp. 1 juta. Dia sudah kuatir apakah pernikahannya akan terwujud.

Suatu hari pada saat pulang kerja, dia mendapati ayahnya sakit. Batuk-batuk diikuti dengan keluar darah kental. Dalam keadaan bingung, dia putuskan membawa ayahnya ke rumah sakit dan dengan terpaksa uang pernikahannya 1 juta dipakai untuk pengobatan ayahnya. Dia sudah pasrah dengan rencana pernikahannya. Yang penting ayahnya sembuh dan sehat kembali.

3 minggu menjelang hari H, kampung tempat dia tinggal mengalami kesulitan air. Rumah-rumah besar yang mengeliling rumahnya juga mengalami kesulitan air padahal mereka menggunakan jet pump. Anehnya hanya rumah dia saja, air tetap mengalir walaupun dia hanya menggunakan pompa biasa.

Masyarakat sekitar merasa heran kenapa air tetap mengalir di rumah office boy. Karena sangat dibutuhkan, akhirnya masyarakat sekitar membeli air ke dia walaupun awalnya dia ikhlas memberikan air secara gratis tetapi masyarakat sekitar tetap membelinys.

Hampir 3 minggu, masyarakat mengambil dan membeli air dari rumahnya. Dalam satu hari diperoleh uang pembelian air sebesar 500 ribu sampai 800 ribu. Tanpa terasa uang dari penjualan air terkumpul hampir 15 juta. Dengan uang tersebut maka jadilah office boy menikah dengan perempuan pilihannya.

Yang menarik 2 hari setelah acara pernikahan, air kembali keluar dari pompa-pompa air di lingkungannya. Masyarakatpun dapat menikmati dan memanfaatkan air kembali untuk kebutuhan sehari-hari. Subhanallah.

22 Maret adalah HARI AIR SEDUNIA. Gunakan dan manfaatkan air sebijaksana mungkin. #worldwaterday

World-Water-Day

Japan Trip : Terima Kasih Ta-Q-Bin

Sengaja saya memulai tulisan tentang perjalanan ke Jepang pada awal Maret 2017 lalu tentang Ta-Q-Bin. Nama Ta-Q-Bin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah nama yang terdengar asing. Apakah Ta-Q-Bin ?

Ta-Q-Bin adalah merek dagang sebuah perusahaan Jepang, Yamato Transport C0., Ltd. Dari nama perusahaannya sangat jelas perusahaan tersebut bergerak di bidang jasa pengiriman barang. Bagi traveller atau turis asing yang datang ke Jepang terutama dari Eropa dan Amerika sudah mengenal Ta-Q-Bin  dan sering menggunakan jasa pengiriman barang mereka selama di Jepang.

Saya mengetahui Ta-Q-Bin dari seorang teman yang baru saja jalan-jalan ke Jepang pada bulan Desember 2016. Menurut Teman, Ta-Q-Bin sangat membantu mereka terutama koper-koper besar dan kardus-kardus yang berisi barang oleh-oleh dari Jepang sehingga selama menikmati perjalanan di Jepang mereka hanya membawa ransel saja. Mendengar cerita teman tersebut maka kami pikir bagus untuk memakai jasa Ta-Q-Bin.

Dari awal, kami sudah merencanakan membawa 2 koper besar dan kecil untuk oleh-oleh dan pakaian. Kemudian selama perjalanan di Jepang dimana kami akan berpindah-pindah dari Tokyo ke Kyoto, Kyoto ke Kansai International Airport, Osaka cukup membawa dua buah ransel layaknya backpacker.

black-cat-kuroneko-yamato

index_img_01
Dok. Ta-Q-Bin

Tanggal 1 Maret 2017 pukul 23.30 WIB kami berangkat dari Soekarno-Hatta International Airport, Tangerang dan tiba di Haneda International Airport Tokyo, Jepang pada pukul 08.50 waktu Jepang tanggal 2 Maret 2017. Setelah melewati pemeriksaan Imigrasi Jepang, kami segera mencari lokasi Ta-Q-Bin di Bandara Haneda. Dengan lambang Kucing Hitam membawa Anak Kucing Hitam khas Ta-Q-Bin, kami pikir akan mudah menemukan lokasinya. Setelah bertanya ke bagian informasi ternyata Ta-Q-Bin berada dalam satu tempat dengan bagian barang maskapai penerbangan Jepang ANA.

Karena di Tokyo, kami hanya satu malam maka kami mempersiapkan beberapa pakaian yang akan dibawa ransel  dan beberapa barang yang diperkirakan memberatkan selama jalan-jalan kami simpan di koper besar. Setelah itu kami membawa 2 koper besar kami  ke Ta-Q-Bin. Dengan pelayanan petugas yang ramah dan membantu pengisian form pengiriman barang yang berbahasa Jepang sehingga kami merasa nyaman dan yakin 2 buah koper kami akan aman dan sampai ke tujuan.

20170322_133339
Dok. Cech

Kedua koper  kami ditimbang dan dihitung volumenya. Ta-Q-Bin hanya menerima koper dengan berat maksimal 25 kg. Selain itu volume koper dan tempat tujuan menentukan besaran biaya pengirimannya.Kedua koper tersebut, kami meminta untuk dikirim ke Hotel Green Rich Hotel di Kyoto dan tiba pada pukul 14.00 keesokkan harinya. Perhitungan biaya pengiriman sangat jelas. Kami dikenakan biaya pengiriman untuk 2 koper sebesar 3.700 Yen (sekitar IDR 436.600). Kami pikir biaya tersebut wajar sehingga kami tidak harus membawa-bawa kedua koper tersebut selama jalan-jalan di Tokyo atau melakukan perjalanan dari Tokyo ke Kyoto keesokan harinya.

Setelah urusan pengiriman kedua koper, kami dengan 2 buah ransel langsung melanjutkan perjalanan ke Gotemba dan Hakone. Pergerakan kami leluasa selama di sana dan dapat menikmati suasana perjalanannya terutama saat berada Gotemba Premium Outlet dan di dalam bus.

Keesokan harinya menjelang siang, kami menggunakan Shinkansen N 700 ke Kyoto. Sesampainya di Kyoto Station dengan berjalan kaki. kami dapat melenggang santai tanpa harus membawa-bawa koper besar menuju Green Rich Hotel yang letaknya tidak jauh dari Kyoto Station. Di Green Rich Hotel, resepsionis memberitahu kami bahwa kedua koper sudah berada di dalam kamar. Benar saja, kedua koper sudah berada di kamar dan setelah diperiksa kedua koper dalam kondisi baik dan tidak rusak sama sekali.

IMG-20170303-WA0028
Dok. Cech

Karena kami tinggal di Kyoto selama 4 malam maka kami memutuskan untuk mengirimkan beberapa koper yang berisi pakaian dan oleh-oleh pada tanggal 6 Maret 2017. Setelah melakukan wisata ke beberapa lokasi di Kyoto dan membeli barang keperluan barang pribadi dan oleh-oleh maka pada tanggal 6 Maret 2017, kami meminta hotel untuk menghubungi Ta-Q-Bin untuk mengirimkan dua koper besar dan satu koper kecil berisi oleh-oleh ke Kansai International Airport, Osaka, Jepang. Memang kami akan pulang ke Indonesia via Osaka.

Perlu diketahui, Ta-Q-Bin telah melakukan kerjasama dengan hotel, mini market, stasiun kereta api, terminal bus, bandar udara, mal besar dan lain-lain sehingga kami tidak perlu datang ke kantor Ta-Q-Bin. Di beberapa lokasi tersebut tersedia form pengiriman barang dengan mudah dan perhitungan biaya yang sudah standar dan mudah menghitungnya. Pengiriman dua koper besar dan satu koper dikenakan biaya 7.000 Yen (sekitar IDR 826.000)

ClXBX0iVAAEy3PQ
Beberapa sign Ta-Q-Bin yang mudah dilihat di beberapa lokasi di Jepang
200806261357001
Contoh sign Ta-Q-Bin yang sering terlihat di depan mini market

Sama dengan saat di Tokyo,  Kami hanya membawa dua ransel dalam perjalanan dengan kereta api dari Kyoto ke Osaka. Sesampainya di Osaka Station, kami jalan-jalan dahulu ke beberapa tempat wisata di Osaka sebelum ke Daiwa Roynet Hotel, Osaka tempat kami menginap selama 1 malam. Kami tiba di Osaka pada tanggal 7 Maret 2017.

Pada tanggal 8 Maret 2017 pukul 07.00 kami sudah meninggalkan hotel dan menuju Kansai International Airport Osaka dengan menggunakan kereta api. Sesampainya di Kansai International Airport, kami tidak mengalami kesulitan untuk mencari lokasi Ta-Q-Bin karena berada satu lokasi dengan bagian pengiriman barang maskapai JAL dan dekat dengan booth check in Garuda Indonesia.Dengan menunjukkan copy form pengiriman, tanpa membutuhkan waktu lama 2 koper besar dan satu koper kecil milik kami diserahkan dalam kondisi baik. Setelah itu kami langsung menuju boot check in Garuda Indonesia. Begitulah cerita tentang Ta-Q-Bin, merek dagang jasa pengiriman barang yang sangat membantu kami dan para turis asing terutama yang membawa keluarga sehingga tidak perlu direpotkan oleh bawaan koper-koper yang  berat bebannya. Sekadar informasi Ta-Q-Bin juga terdapat di Malaysia dan Hongkong. Terima kasih Ta-Q-Bin sehingga perjalanan kami di Jepang menjadi sangat menyenangkan. ありがとうございます Arigatou gozaimasu

IMG-20170308-WA0034
Booth Ta-Q-Bin di Kansai Internasional Airport, Osaka (Dok. Cech)
index_img_02
Dok. Ta-Q-Bin