Kita Tidak Pernah Tahu Apa Yang Tuhan Rencanakan

Aku boleh dibilang pria yang bahagia dan sungguh beruntung. Walaupun tidak besar tetapi aku masih memiliki usaha dan pabrik. Istriku seorang konsultan pajak yang sukses. Ketiga anak-anakku termasuk anak-anak yang pintar. Ketiganya adalah lulusan Sekolah Kedokteran. Dan aku dipercaya oleh gereja untuk menjadi Ketua Panitia Pendirian Rumah Kepasturan.

Kebahagiaan itu seakan lenyap hanya karena satu peristiwa. Tepatnya hari minggu  tanggal 11 Desember 2016. Pada saat itu kami sekeluarga sedang berada  di sebuah gereja Katolik wilayah Bandung. Tiba-tiba kami diberitahu oleh tetangga rumah bahwa rumah kami  kebakaran. Berita yang sungguh mengejutkan. Segeralah kami bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, kami hanya dapat melihat mobil pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api besar yang melumat rumah kami. Kami tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya shock serta bertanya-tanya mengapa musibah ini bisa terjadi. Karena susahnya air maka para petugas kebakaran tidak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan rumah kami. Singkat kata rumah kami ludes terbakar. Istri dan anak-anakku hanya bisa menangis dan tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Setelah beberapa saat, api dapat dipadamkan dan situasi dinyatakan aman maka kami diijinkan masuk ke dalam rumah. Tahukah apa yang terjadi? Seluruh harta benda kami terbakar tanpa sisa. Seluruh pakaian kami musnah. Surat-surat berharga seperti  surat-surat kendaraan, ijasah anak-anak, paspor jadi abu. Koper berisi uang  dengan berbagai mata uang asing yang baru kami ambil dari Safety Deposit Box di bank dua hari yang lalu juga ikut terbakar. Padahal  uang uang tersebut kami persiapkan untuk berlibur pada Tahun Baru nanti dan keberangkatan anak kami untuk mengikuti Seminar Kedokteran di Jerman. Selain itu motor Harley Davidson yang kami miliki ikut terbakar tanpa bekas sama sekali.

Yang kami miliki hanya pakaian dan sepatu serta sandal yang dipakai pada saat ke gereja. Kami sudah tidak memiliki apa-apa. Apakah ini cobaa Tuhan ? Mengapa Tuhan melakukan hal ini terhadap keluarga kami ? Perlu diketahui aku adalah ketua Panitia Pendirian Rumah Kepasturan. Aku dan teman-teman gereja bekerja ikhlas sehingga dapat menggalang dana hingga 2,1 Milyar dari dana 3 Milyar yang dibutuhkan untuk pendirian Rumah Kepasturan. Menariknya sebagai ketua, teman-teman gereja sangat berharap kepada saya untuk mewujudkan Rumah Kepasturan tersebut pada akhir tahun, Sementara dana masih kurang 900 juta. Dari mana lagi dana dapat diperoleh sementara saya sedang mengalami musibah besar. Ada apa ini ? Saya berjuang mewujudkan Rumah Kepasturan tetapi rumah kami yang dibangun nol musnah terbakar. Jadi Tuhan maunya apa ? Terbesit pertanyaan marah kepada Tuhan akibat dari peristiwa kebakaran tersebut.

20170919_123803
Motor Harley yang ikut terbakar dan saat ini seperti rongsokan besi tua (Dok. Cech)

 

Tetapi dari musibah tersebut banyak peristiwa-peristiwa yang mungkin kami anggap sebagai mukjizat. Pada saat kami memeriksa kembali rumah, ada satu ruangan yang ternyata utuh dan selamat dari kebakaran. Ruangan tersebut adalah ruang tempat kami berdoa setiap hari, Kemudian kami menemukan 2 buah barang yang juga selamat dari kebakaran yaitu Alkitab dan satu buku berbahasa Inggris dengan judul Indonesianya  “Kita Tidak Pernah Tahu Apa Yang Tuhan Rencanakan”

Buku tersebut sudah lama saya beli dan belum pernah dibaca karena kesibukan. Setelah saya baca buku tersebut, isinya sungguh mengejutkan yaitu cerita tentang Nabi Ayub. Seorang Nabi Penyabar. Kekuranagan harta benda, menderita sakit yang berkepanjangan, dan bahkan kehilangan nyawa anak-anak beliau, semua itu tidak dapat meruntuhkan benteng keimanan Nabi Ayub. Justru sebaliknya, semua itu semakin menambahkan cinta dan ketaatannya kepada Allah. Beliau senantiasa beribadah kepada Allah, dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan kaya maupun miskin.

Kok nasib keluarga  kami mirip sekali dengan yang dialami oleh Nabi Ayub. Seorang Pastur sempat mengingatkan bahwa peristiwa kebakaran tersebut bukanlah cobaan dari Tuhan tetapi bagian dari Peristiwa Sedih keluarga kami yang harus dilewati dengan tabah dan sabar. Kisah Nabi Ayub tersebut mengubah penilaian Kami terhadap Tuhan dan makin mengekalkan keimanan kami kepada Nya.

Dari kekal iman kami tersebut, beberapa masalah yang timbul dari akibat kebakaran satu per satu dapat diselesaikan. Sepertinya petunjuk Tuhan terasa mudah diberikan kepada kami sekeluarga. Dana Rumah Kepasturan yang kurang, sebelum akhir tahun 2016 dapat terpenuhi dan segera diwujudkan pembangunannya. Keinginan istri saya untuk menyediakan konsumsi bagi jemaat gereja  pada saat natal nanti dapat direalisasikan. Pada awalnya istri saya bingung bagaimana memenuhi janjinya tersebut, ternyata pada saat kebingungan tersebut tanpa sengaja istri menemukan satu angpao berisi uang dari klien pajaknya sebagai tanda terima kasih karena dibantu pengurusan Tax Amnesty. Percaya tidak percaya, jumlah uang untuk konsumsi Natal persis sama dengan jumalh uang dalam Angpao.

Untuk tempat tinggal, saya tidak percaya karena banyak sekali teman yang memberikan rumahnya sebagai tempat tinggal kami sementara secara gratis sampai rumah kami yang terbakar dibangun kembali. Selain itu anak kami yang berencana mengikuti Seminar Kedokteran di Jerman dimudahkan pengurusan paspor baru sebagai pengganti paspor yang musnah terbakar oleh pihak Imigrasi. Dan peristiwa lainnya adalah anak kami yang lain mendapatkan beasiswa Spesialis Mata di salah satu Universitas Negeri di Bandung tanpa dipungut bayaran sama sekali. Masih banyak mukjizat kehidupan yang kami peroleh setelah peristiwa kebakaran tersebut.

Dan terakhir hasil pengekalan iman kami sekeluarga  kepada Tuhan, saat ini rumah kami yang terbakar,   dibangun kembali dan 90 % sudah berwujud Rumah Impian kami. Satu hal Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan kita tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan.

 

NB: tulisan ini berdasarkan kisah nyata yang dialami dan diceritakan oleh seorang teman penulis

 

Ketika Ecosport Bersua Dengan Everest Di Pangandaran

Pertemuan ini bermula pada saat seminggu Mini Touring Giri Tirta, Purwakarta. Om Budi, suami Sis Fitri (Member DForescom dari Purwakarta) menawarkan undangan kepada DForescom untuk mengikuti acara Touring Kemerdekaan dan Pengukuhan Kepengurusan Ford Everest Club Indonesia (FEvCI) Chapter Bandung  Raya di Pangandaran tanggal 18-20 Agustus 2017.

20729244_10211563804149391_9031954388099617747_n
Dok. FEvCI

Setelah melalui pembicaraan dengan seluruh anggota pengurus DForescom, kami memutuskan untuk mengirimkan 6 orang pengurus untuk menghadiri acara tersebut. Menurut kami, ini adalah kesempatan untuk melakukan silaturahim dan kerjasama dengan komunitas di luar Forescom. Kerjasama yang dapat dilakukan antara lain kerjasama info tentang teknisi kendaraan, suku cadang, perbengkelan dan lain-lain. Tetapi yang lebih jauh lagi adalah Turing Bersama dalam satu kesempatan.

Perlu diketahui Ford Everest Club Indonesia (FEvCI) Terbentuk pada 30 April 2015 oleh sekumpulan pengguna dan pencinta Ford Everest di JABOTABEK. FEvCI adalah club otomotif bersifat KOMUNITAS dan berazaskan KEKELUARGAAN. Sedangkan FEvCI chapter Bandung baru terbentuk pada tanggal 23 Juli 2017.

DSC_0054
Dok, Cech
IMG-20170820-WA0030
Dok. Cech
WhatsApp Image 2017-08-19 at 10.52.13
Maksi sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Pangandaran (Dok. Cech)

Beberapa hari menjelang hari H, DForescom memberitahukan kepada om Budi (Sekretaris FEvCI chapter Bandung Raya) secara final keikutsertaan kami tetapi hanya pada acara Gala Diner dengan alasan tertentu. Jadi kami tidak dapat ikut dalam turing bersama pada tanggal 18 Agustus 2017 sehingga kami akan berangkat dari Bandung pada tanggal 19 Agustus 2017 jam 05.30 ke Pangandaran. Selain itu jumlah DForescom yang hadir berjumlah 4 orang dengan menggunakan 2 buah mobil Ecosport.

Tanggal 19 Agustus 2017 pukul 06.00 dengan titik kumpul di Hotel Shakti Bandung, rombongan Dforescom bergerak menuju Pangandaran. Karena hanya 2 mobil saja maka kami mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Dengan melakukan pemberhentian 4 kali, tanpa terasa kami tiba di Hotel Horison pada pukul 14.30. Setelah check in, kami bersantai ria sejenak di Roof Top Hotel Horison. Di Roof Top ini kami mendapati satu Cafe cozy Mady’s Gelato lengkap dengan Sky Walk sehingga kita dapat melihat suasana pantai barat dan timur Pangandaran.

jxnd-xwqz480501
Dok. Cech
IMG-20170819-WA0042
Santai di Roof Top Hotel Horison (Dok. Cech)
DSC_0072
Pemandangan Pantai Pangandaran (dok. Cech)

Malam harinya, tepat pukul 19.00 kami berempat sudah sampai di Hotel Surya Pesona, lokasi acara Gala Diner FEvCI. Baru memasuki lobi hotel, kami sudah disambut oleh beberapa anggota FEvCI yang ternyata salah satunya adalah Ketua FEvCI chapter Bandung Raya yang baru, Om Sakti Nikitta Vionda.  Sebuah penyambutan yang ramah dan kehormatan bagi kami.

Kami dipersilakan untuk langsung menikmati makan malam yang telah disediakan oleh panitia. Setelah makan malam, dilakukanlah acara pengenalan dari FEvCI Pusat dan diceritakanlah sejarah berdirinya FEvCI dan beberapa nama pengurus FEvCI Pusat oleh Ketua Umum FEvCI, om Rully. Selanjutnya pengukuhan Kepengurusan FEvCI Chapter Bandung dengan Ketua Chapter Om Sakti dan Sekretarisnya om Budi dilengkapi dengan pemberian nasi kuning dari tumpeng kepada ketua umum om Rully. Selain dari Pusat dan Bandung Raya, acara FEvCI dihadiri oleh beberapa anggota chapter Bekasi, Banten, Jakarta, Cirebon Indramayu Kuningan Majalengka, Bogor, Kalimantan. Acara yang cukup meriah dengan diselingi dengan hiburan lagu dan pembagian door prize.

IMG-20170819-WA0060
Panggung Acara (Dok. Feby)
IMG-20170819-WA0058
Dok. Rangga
IMG-20170819-WA0064
Pengukuhan FEvCI Bandung Raya dari Ketum FEvCI, om Rully (dok. Feby)
IMG-20170819-WA0066
Pengenalan Pengurus FEvCI Bandung Raya dengan Ketua Om Sakti dan Sekretaris Om Budi (Dok. Feby)
IMG-20170819-WA0067
Lumayanlah DForescom diberikan bingkisan oleh Ketua FEvCI Chapter Bandung Raya Om Sakti (Dok. Feby)

Selain itu DForescom mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan diri bersama dengan Ford Club Bandung (FCB)  di panggung acara  sebagai pihak yang diundang dan mendapatkan sebuah bingkisan menarik dari FEvCI chapter Bandung Raya. Sekitar pukul 21.30 kami pamit diri dan kembali ke hotel.

Keesokan harinya, kami meninggalkan hotel pukul 09.45 dan kembali ke Bandung melalui jalur selatan untuk mengetahui kondisi jalan dan lebih mengenal daerah-daerah sepanjang pantai selatan. Kami berempat sepakat bahwa turing kali ini benar-benar mini turing sambil menikmati pemandangan alam sepanjang pantai selatan.

Mancing Bersama Itu Menyatukan Emosi

” Suka mancing, Pak ? ” tanya salah seorang security di tempat istri saya bekerja.

” Saya tidak suka mancing ikan. Kalau mancing emosi, saya suka hahahaha ” canda saya kepadanya.

Sudah lama sekali saya ingin mengadakan pancing bersama dengan seluruh security, office boy (OB) dan juru parkir yang bekerja di kantor istri. Saya sering mendengar mereka mengadakan mancing bersama tetapi dengan teman-teman seprofesi di kantor wilayah. Itupun tidak semuanya ikut serta.

Sesekali saya yang menjadi sponsor acara mancing bersama mereka. Oh ya di tempat kerja istri, mereka termasuk dalam Service Reception Team. Tujuan saya hanya ingin mereka makin kompak, semangat bekerja dan diperhatikan oleh pimpinan mereka. Walaupun mereka adalah pekerja outsourching tapi mereka mempunyai peran tidak kecil dalam memberikan kesan dan pelayanan yang baik terhadap nasabah yang datang dan melakukan transaksi di BCA KCP Setiabudi Bandung.

DSC_0004
Aba-aba dimulainya acara memancing oleh Pak Wawan (dok. Cech)
IMG-20170722-WA0062
Peserta sudah menduduki tempatnya masing-masing di sisi barat (dok. Cech)
IMG-20170722-WA0063
Peserta sudah menduduki tempatnya masing-masing di sisi timur (dok. Cech)

Setelah berulangkali gagal dilaksanakan karena susahnya mencari tempat memancing, akhirnya tanggal 22 Juli 2017 acara Mancing Bersama Service Reception Team terlaksana juga di kolam milik Family Villa Balebat Taman Bunga Dr Setiabudi. Disepakati saya menyediakan dana pembelian  ikan yang akan  dipancing (seharga Rp 27.500 per kg atau 1 kg sama dengan 3-4 ekor ikan). Selain itu saya memberikan Piala bagi peserta yang mendapatkan ikan terbanyak dan sejumlah uang bagi yang berhasil mendapatkan 1 ekor ikan mas berwarna merah. Sementara mereka berjumlah 22 orang patungan Rp 20.000/orang untuk keperluan konsumsi dan lain-lain.

Acara dimulai pada pukul 09.00 dengan dilakukan pengundian nomor tempat duduk kepada 22 peserta. Kemudian masing-masing peserta yang mendapatkan nomor tempat duduk bersiap diri di tempatnya masing-masing. Memancing dimulai setelah mendapatkan aba-aba dari Pak Wawan sebagai sesepuh acara tersebut. Acara pun dimulai. Tepat pukul 12.00 acara memancing dihentikan untuk makan siang dan dilanjutkan dengan bertukar tempat ke seberangnya. Setelah 1 jam istirahat makan siang, acara memancingpun dimulai lagi sampai pukul 16.00.

DSC_0017
Racikan umpan (dok. Cech)
DSC_0012
Om John serius dengan racikan umpannya (dok. Cech)
DSC_0045
Pemancing di sarang penyamun (dok. Cech)
20170722_123259
Ikan hasil pancingan (dok. Cech)

Ternyata faktor tempat, racikan umpan dan keberuntungan berpengaruh terhadap perolehan ikan yang berhasil ditangkap. Pada acara mancing bersama ini, peserta yang mendapatkan ikan terbanyak (21 ekor) adalah Pak Dudi (Security). Sedangkan peserta yang beruntung mendapatkan ikan berwarna merah adalah Pak Eko (Back Office). Walaupun demikian, mereka yang belum berhasil mendapatkan piala dan 1 ekor ikan berwarna merah tetap menunjukkan semangat, keceriaan, kebersamaan, kebahagiaan dan terlihat lepas menunjukkan emosinya. Mereka yang tidak mendapatkan satu ekor ikan pun tetap tertawa dan teman-teman yang lain tetap membagi ikan yang diperoleh kepada mereka. Acara mancing masih berlanjut walaupun sudah melewati pukul 16.00. Sebagian dari mereka mengatakan masih banyak ikan yang dibeli saya di kolam. Jadi sayang sekali kalau tidak tertangkap karena aturan yang berlaku adalah ikan-ikan yang dimasukkan ke dalam kolam dan tidak berhasil ditangkap menjadi milik yang punya kolam.

IMG-20170722-WA0095
Saya diapit oleh Pak Dudi dengan Piala Pemancing Tangguhnya dan Pak Eko sebagai pemancing beruntung dengan satu ekor ikan emas berwarna merah (dok. Cech)
DSC_0050
Foto bersama seluruh peserta mancing bersama (dok. Cech)

Hujan rintik-rintik turun di sekitaran kolam dan saatnya saya pulang dengan satu hal yang menjadi pengingat diri bahwa ternyata mancing bersama itu menyatukan emosi dan berharap dapat diadakan rutin setiap 3 bulan.

Jambore Nasional 2 Forescom Antara Menyenangkan dan Mengenyangkan

17103571_1305806976232612_4726129486223901027_n
Dok. Forescom Indonesia

” Jambore Itu Menyenangkan, Berkumpul Itu Mengenyangkan “

Kalimat tersebut yang langsung terngiang di telinga saat mengetahui ada Jambore Nasional 2 Forescom di Yogyakarta-Magelang tanggal 21-24 April 2017.  Memang saya belum genap satu tahun bergabung dengan Forescom. Tetapi setelah mengikuti langsung kegiatan turing, kopdar acara HUT Forescom dan membaca  aktifitas Forescom di Facebook maka menambah ketertarikan saya terhadap komunitas ini.

Silaturahim dan berbagi adalah 2 kata kunci yang menjadi kekuatan komunitas ini. Jadi dengan adanya Jambore Nasional maka silaturahim dan berbagi makin jelas terwujud nyata. Selama ini silaturahim dan berbagi hanya sebatas pada kegiatan turing mini atau turing tiap chapter ke beberapa tempat wisata. Dengan berkumpulnya  beberapa chapter lengkap dengan anggota Forescom beserta keluarga maka terlihat bagaimana besarnya kekuatan silaturahim dan berbagi dalam komunitas ini.

Beberapa bulan ini, saya mengikuti sekilas bagaimana om-tante  panitia Jambore Nasional mempersiapkan kegiatan ini. Tidak hanya membuat rencana beberapa acara selama Jambore tetapi berjuang mencari beberapa perusahaan yang mau menjadi sponsor dalam Jambore tahun ini. Suasana batin dalam kepanitiaan dapat saya rasakan. Di tengah kesibukan dengan aktifitas kerja sehari-hari tetapi masih mauj  meluangkan waktu untuk turut aktif berpartisipasi  dalam kepanitiaan dengan harapan agar Jambore ini berlangsung lancar dan sukses.

Jambore Nasional tinggal menghitung hari. Jambore Nasional dengan tema “Amazing Discovery of Indonesia” pada tanggal 21-24 April 2017 di Yogyakarta dan Magelang ini akan diikuti oleh  8 Chapter  yaitu Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Jawa Timur, Yogyakarta  dan Papua dengan total kendaraan Ford Ecosport berjumlah  120 buah. Sponsor utama yang berpartisipasi dalam  acara Jambore ini  adalah RMA Indonesia dengan didukung oleh Castrol Magnatec, AKARI, Otomotif, AutoBild  Indonesia , AKA Group, Nusantara Group.

Selain itu Jambore Nasional ini diisi dengan berbagai macam kegiatan sebagai berikut :

  1. Amazing Race, sebuah perlombaan menarik antar Chapter. Tiap chapter dibebaskan untuk memilih minimal 3 lokasi wisata di Yogyakarta. Selama di beberapa lokasi wisata, tiap chapter membuat video yang unik dan menarik dengan durasi 3 menit. Pemenang lomba ditentukan oleh kebersamaan, keseruan dan kekompakan para anggota chapter selama Amazing Race.
  1. Lomba Foto perorangan. Lomba ini diikiuti oleh anggota atau non anggota Forescom. Foto terunik menurut panitia dinyatakan sebagai pemenang.
  1. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forescom untuk memilih Ketua Umum Forescom sebagai acara utama dan membuat rencana kegiatan selama satun ke depan.
  1. Foto bersama di Lanud Adi Sucipto.
  1. Kegiatan Bakti Sosial (Baksos) di Kulon Progo. Sebuah kegiatan rutin setiap Jambore diadakan dan bekerja sama dengan SOS Children’s.
  1. Gala Dinner yang diikuti oleh seluruh peserta dan keluarga serta para sponsor Jambore. Selain itu diumumkan pemenang beberapa lomba.

Kalau melihat pencapaian kerja panitia Jambore Nasional selama ini maka keyakinan saya bahwa Jambore itu menyenangkan dan berkumpul itu mengenyangkan benar adanya.Jambore Yukkkk !!! Sampai berjumpa di Yogyakarta-Magelang.

Japan Trip : Ke Kyoto Dengan N700 Series

Setelah makan siang, kami segera menuju ke Asakusa Station yang letaknya tidak jauh dari tempat kami makan. Kami langsung membeli tiket via mesin penjualan tiket untuk jurusan Tokyo Station. Harga tiket yang harus dibayar sebesar Yen 200 per orang (Ginza Line). Dengan Ginza Line (G) membutuhkan waktu 15 menit dengan 9 stasiun perhentian ke Kyobashi Station. Setibanya di Kyobashi Station, kami berjalan kaki selama 6 menit ke Tokyo Station.

IMG-20170303-WA0012
Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0010
Suasana Peron 19 di Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0017
Tiket Kereta Super Cepat Shinkansen Tokyo-Shin Osaka (Dok.Cech)

Di Tokyo Station, kami membeli tiket kereta Super Cepat Shinkansen N700 series jenis Nozomi (seatable atau dapat nomor tempat duduk) dengan harga sebesar Yen 13.910. Kereta Super Cepat Shinkansen nomor 285 adalah kereta jurusan Tokyo-Shin Osaka yang hanya berhenti di Nagoya dan Kyoto Station.

Ada 2-3 jenis keberangkatan Shinkansen sesuai dengan waktu tempuh dan banyaknya perhentian. Namanya berbeda-beda tergantung operator dan kecepatannya ada yang dinamakan  Super Express, Express, dan All-Stop (setiap statiun berhenti). Di Jepang, Shinkansen dioperasikan oleh beberapa perusahaan yang berbeda tergantung jalurnya, lima yang paling utama.

Pertama,  Tokaido Shinkansen (Tokyo-Shin Osaka) yang dioperasikan oleh JR Central, untuk jenis Super Express dinamakan Nozomi (seatable) Di bawahnya adalah jenis Hikari (unseatable) dan yang terakhir berhenti di semua stasiun adalah jenis Kodama (unseatable). Ketiga jenis tersebut menggunakan seri kereta 700 series. Untuk jenis Nozomi, kita  mendapatkan tipe Shinkansen yang paling baru, yaitu N700 series.Shinkansen ini dapat mencapai top speed 270-300km/jam, sedangkan Kodama  hanya sekitar 200km/jam karena  berhenti di setiap stasiun.

Kedua, Hokuriku Shinkansen  (Tokyo-Nagano-Kanazawa) dibedakan Kagayaki (paling cepat) dan Hakutaka. Keduanya menggunakan seri kereta  E7 series. Jalur ini sejak 2015 baru menyambung ke Kanazawa dan sangat populer untuk turis yang ingin menjelajah Murodo Dam, Alpine Route, dan Shirakawa-Go village.

Ketiga, Sanyo Shinkansen, sambungan dari Osaka ke Fukuoka (meliputi Kobe dan Hiroshima), dioperasikan oleh JR West.

Keempat, Tohoku Shinkansen, jalur Tokyo ke Utara hingga paling ujung pulau, dioperasikan JR East.

Kelima, Hokkaido Shinkansen, ini sambungan dari Tohoku Shinkansen, dibuka Maret 2016 yang menghubungkan Shin-Aomori dan Hakodate Hokuto melewati Seikan Tunnel bawah laut dengan kereta Shinkansen Hayabusa yang membuat jalur kereta ke Pulau Hokkaido semakin ringkas. Rencananya jalur shinkansen ini akan disambung hingga kota Sapporo.

IMG-20170303-WA0011
Shinkansen N700 series (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0036
Shinkansen sedang dibersihkan (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0020
Sinkansen jurusan Shin Osaka sedang dibersihkan oleh petugas (Dok. Cech)
DSC_0050
Keterangan di meja lipat tentang beberapa gerbang misalnya gerbong untuk perokok (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0024
Gerbong Shinkansen Nozomi dengan tempat dudul 2-3 (Dok. Cech)
DSC_0077
Pemandangan di luar Shinkansen (Dok. Cech)

10 menit sebelum Shinkansen berangkat (13.23 waktu Tokyo), kami diperbolehkan masuk  ke dalam gerbong 11 dengan nomor tempat duduk 11D dan 11E. Tipe tempat duduknya adalah 2-3. Kondisi gerbong bersih sekali dan sebagian penumpang adalah profesional yang bekerja atau bertempat tinggal di Nagoya, Kyoto dan Osaka.

Selama perjalanan, kami menikmati pemandangan di luar kereta walaupun agak sulit untuk mengabadikannya dengan kamera karena cepatnya kereta bergerak.  Terasa seperti berada di dalam pesawat terbang. Gelas atau botol minuman yang kami letakkan di atas meja tidak tergoncang sama sekali. Dibutuhkan waktu perjalanan ke Kyoto selama 2 jam 15 menit dan tepat waktu sesuai tertera di tiket.

Selanjutnya dari Kyoto Station ke Green Rich Hotel , kami berjalan kaki selama 20 menit (jaraknya sekitar 750 meter). Sepanjang jalan kami mengamati suasana perumahan dan daerah Minami-ku. Sore itu jalanan sepi, bersih, tenang dan aman. Sesampainya di hotel, kami disambut dengan ramah oleh resepsionis hotel. Kami diberitahu bahwa kedua koper yang dikirim dari Tokyo via Ta-Q-Bin telah berada di kamar.

Setelah rehat sejenak, malam hari dengan suhu 5 derajat Celcius kami memaksakan diri keluar untuk mencari restoran dekat hotel. Ternyata restoran Yoshinoya dekat dengan hotel dan malam itu kami makan menu khas Jepang dengan nikmatnya.

IMG-20170303-WA0031
Kyoto Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0013
Jalan menuju hotel nan sepi, bersih tapi aman (Dok. Cech)
Y346842131
Depan Green Rich Hotel
IMG-20170303-WA0039
Menu makan malam pertama di Kyoto (Dok. Cech)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.