Pahawang, Secuil Penerawangan Tentang Lampung Akhir Tahun 2016

Tanggal 23 Desember 2016 pukul 11.00 dengan diiringi lagu  Coldplay ” A Sky Full of Stars “, saya, istri, teman istri dan anaknya mulai bergerak meninggalkan kota Bandung menuju Rest Area KM 42 Tol Tangerang – Merak sebagai titik kumpul rombongan Mini Touring Pahawang Forescom 23-26 Desember 2016.

Pembicaraan tentang Mini Touring ini sudah berlangsung sebulan, berbagai rencana telah dibicarakan dengan detil. Dikatakan Mini Touring karena peserta yang turut serta berjumlah 8 mobil yang terdiri dari 6 mobil Ford Ecosport, 1 mobil Ford Everest anyar dan 1 mobil Mitsubishi Pajero.Sport dengan total jumlah 28 orang. Delapan mobil akan berkumpul di Rest Area KM 42 dan bergerak menuju pelabuhan Merak pada pukul 21.00. Selain itu ada 1 mobil Ford Ecosport menunggu di Bandar Lampung.

Rencana awal kami meninggalkan Bandung pada pukul 17.00 tetapi kami mendapatkan kabar bahwa ada satu jembatan di Tol Cipularang yaitu Jembatan Cisomang KM 100 dengan panjang 250 meter mengalami pergeseran jembatan dan ada beberapa tiang yang retak. Oleh karena itu pertimbangan waktu dan keselamatan, kami memutuskan berangkat jam 11.00. Karena pada siang hari kami dapat mendapatkan informasi dan melihat dengan jelas apa yang terjadi dengan jembatan tersebut. Selain itu saya memperkirakan akan terjadi kemacetan parah apabila berangkat diatas jam 14.00 karena waktu keberangkatan bersamaan dengan liburan panjang Hari Natal 2016 yaitu 24-26 Desember 2016 libur nasional.

Setelah mampir beberapa tempat di Jakarta, pukul 16.25 kami tiba di Rest Area KM 42. Kemudian saya mulai memantau pergerakan beberapa teman yang akan menuju ke Rest Area KM 42 melalui WA Group Mini Touring. Apa yang saya perkirakan ternyata terjadi yaitu kemacetan di beberapa lokasi. Yang berangkat dari Cikarang mulai mengalami kemacetan walaupun masih berjalan lambat. Yang dari Kelapa Gading, berangkat sebelum Maghrib mengalami kemacetan di daerah Pasar Senen. Secara keseluruhan lokasi Karang Tengah merupakan lokasi dimana kendaraan yang menuju ke Merak bergerak lambat.

Menjelang pukul 21.00 beberapa peserta Mini Touring mulai berdatangan dan mulai lengkap kehadirannya 21.30. Segera saya memberitahu mereka bahwa pembelian tiket kapal dapat dilakukan di Rest Area KM 42. Ternyata di Rest Area KM 42 terdapat loket resmi ASDP yang menjual tiket kapal dengan harga Rp. 320.000. Setelah seluruh peserta memperoleh tiket maka kami segera berangkat menuju pelabuhan Merak. Pukul 23.35 kami tiba di pelabuhan Merak dengan antrian panjang kendaraan baik motor, mobil pribadi, angkutan barang dan bus. Tetapi tidak seramai pada saat liburan Lebaran/Idul Fitri. Setelah menunggu antrian selama 40 menit akhirnya seluruh kendaraan Touring sudah menaiki kapal. Jumlah penumpang yang membludak sehingga ruang ekonomi dan bisnis sudah penuh dengan penumpang sehingga kami memutuskan untuk istirahat di dalam mobil walaupun resikonya terkena kencangnya angin laut di malam hari.

Setelah 3 jam lebih perjalanan via laut, pukul 03.50 kami sudah mendarat di pelabuhan Bakauheni Lampung. Selanjutnya kami bergerak menuju kota Bandar Lampung tetapi memasuki waktu subuh kami istirahat sejenak di sebuah mesjid di daerah Kalianda. Ada beberapa peserta yang melakukan sholat Subuh. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan kembali.

dscn3608
Sarapan pagi di Nasi Uduk Aris (dok. Cech)

Sesuai rencana semula, rombongan bertemu dengan peserta dari Lampung yaitu Om Denny di Teluk Betung.  Kemudian Om Denny membawa kami ke sebuah warung makan dengan menu Nasi Uduk Aris khas Lampung untuk sarapan dulu sebelum menuju Dermaga 4 Ketapang (dermaga dimana berlabuhnya beberapa kapal yang mengangkut penumpang ke Pulau Pahawang).

Satu jam kemudian rombongan berangkat menuju Dermaga 4 Ketapang dengan perut yang sudah kenyang. Butuh waktu kurang lebih 1 jam perjalanan menuju Dermaga 4 Ketapang. Ternyata Dermaga telah dipenuhi oleh mobil pribadi, bus wisata dan para wisatawan baik domestik maupun asing. Segera kami mengganti pakaian dan mempersiapkan apa saja yang dibawa selama Tour Pulau Pahawang. Kemudian satu per satu kami diberikan pelampung keselamatan sebelum menaiki kapal. Kami membutuhkan 2 kapal untuk Tour Pulau Pahawang ini.

dscn3566
Dermaga 4 Ketapang (dok. Cech)
dscn3563
Dok. Cech
dscn3565
Kapal sewa menuju Pulau Pahawang (dok. Cech)

Tidak sampai satu jam, rombongan tiba di Pulau Pahawang Kecil. Segeralah beberapa peserta menceburkan diri ke laut. Ada yang berenang, snorkeling atau menyelam sambil menikmati indahnya pemandangan bawah laut. Suasana pulau Pahawang Kecil ramai sekali. Tiap 30 menit silih berganti kapal datang dan pergi. Dengan air laut yang jernih dan transparan maka terlihat kasat mata dasar laut sehingga menarik untuk menyelam.

Setelah berpuas diri menikmati alam bawah laut pulau Pahawang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pulau Pahawang Besar. Di Pulau Pahawang Besar ini kami makan siang bersama. Oh ya biaya per orang untuk sewa kapal mengelilingi pulau Pahawang Kecil, Pahawang Besar, Taman Nemo dan makan siang adalah Rp. 175.000.

15672757_1478080932220287_641018424522469071_n
Pulau Pahawang Besar (dok. Yulia Setiati)

Menu makan siang berupa sayur asem, gulai ikan, kerupuk, nasi dan buah-buahan menimbulkan selera makan setiap anggota rombongan.Mungkin mereka merasa lelah dan lapar setelah menempuh perjalanan jauh dan menikmati alam bawah laut Pahawang Kecil tadi. Selain itu kami disuguhi air kelapa yang langsung diambil dari pohon.

Hampir dua jam rombongan berada di Pulau Pahawang Besar. Udara panas sekali dan repotnya hanya ada satu warung kopi tetapi tidak menyediakan es batu. Hal ini sangat wajar karena di pulau tersebut belum ada aliran listrik. Listrik diperoleh dari generator yang menyala hanya pada malam hari dan itupun hanya 2 jam lamanya. Kecuali liburan panjang dimana banyak wisatawan yang menginap di vila sekitaran pulau maka generator dinyalakan 24 jam penuh.

Taman Nemo (dok. Forescom)

Pasir Putih (dok. Forescom)

Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Taman Nemo dan Pasir Putih. Di Taman Nemo kita dapat melihat pergerakan ikan Nemo dan sekumpulan ikan lainnya dengan cara menyelam atau snorkeling. Karena ramainya  wisatawan maka memberikan kesan riuh dan ramai sehingga mengurangi kenikmatan indahnya Taman Nemo. Setelah itu rombongan ke Pasir Putih. Pasir Putih adalah sebuah daratan yang timbul di tengah laut dimana daratan tersebut mempunyai pasir putih dan dikelilingi oleh tanaman bakau. Ada beberapa wahana bermain yang menarik seperti boat menarik perahu karet dengan kecepatan tinggi sehingga membuat penumpang di perahu karet terpelanting ke sana kemari.

Tanpa terasa hari mendekati senja sehingga rombongan memutuskan untuk mengakhiri wisata pulau Pahawang dan kembali menuju Dermaga 4 Ketapang. Sesampainya di Dermaga setiap anggota rombongan membersihkan diri dan mencari makanan kecil untuk mengisi perut yang sudah terasa kosong.  Tepat pukul 16.45, rombongan meninggalkan dermaga menuju tempat penginapan di Bandar Lampung yaitu Hotel Grand Anugrah. Ada 2 mobil yang memisahkan diri sesampainya di hotel yaitu mobil Om Denny karena ada urusan keluarga dan Om Yulianto karena menuju Bandar Jaya menjenguk orang tuanya.

Setelah mendapatkan kepastian kamar hotel saya dan istri langsung istirahat karena keletihan sangat. Ada beberapa panggilan telpon yang diabaikan karena kami ketiduran. Saya menduga anggota rombongan lain pasti langsung tertidur setibanya tubuh menyentuh kasur kamar hotel.

Esok hari adalah hari Natal sehingga ada beberapa anggota rombongan merayakan natal di gereja. Tetapi pukul 10.00 kumpul kembali karena rombongan berencana wisata ke Muncak Teropong Laut dan makan Pempek serta mencari durian karena Lampung sudah diserbu oleh para pedagang durian alias sudah masuk musim durian.

img-20161225-wa0008
Foto bersama di Muncak (dok. Forescom)

Pukul 10.00 rombongan berangkat ke Muncak. Muncak adalah lokasi wisata di atas bukit dimana kita dapat melihat pemandangan laut dan sekeliling kota Bandar Lampung. Pemandangannya indah sekali dan layak untuk diabadikan dalam bentuk foto.Setelah ambil beberapa foto dan menikmati gorengan di sebuah warung, rombongan memutuskan untuk makan Pempek di Pempek 123 yang konon terkenal enaknya. Di Pempek 123 beberapa anggota rombongan membeli oleh-oleh untuk dibawa ke tempat asalnya.

Setelah itu rombongan bergerak menuju daerah Way Halim. Sepanjang jalan Way Halim, pedagang menjajakan buah durian sehingga pengunjung mempunyai banyak pilihan durian yang disukai. Harga durian ada disekitaran Rp 100.000 untuk 4 buah durian berukuran normal. Sedangkan yang besar dihargai di atas Rp. 40.000 per buah. Beberapa biji saya mencoba enaknya durian yang infonya berasal dari daerah Bengkulu.

Tak salahlah ikut Mini Touring ini karena banyak kenikmatan yang kami peroleh terutama pempek dan duriannya. Di Way Halim, om Chandra memisahkan diri karena ingin merayakan natal dengan keluarga besar di Bandar Jaya. Tanpa terasa jumlah mobil berkurang menjadi 5 mobil saja. Segeralah rombongan yang tersisa kembali ke hotel dan acaranya bebas.

Saatnya tiba, hari terakhir rombongan berada di Bandar Lampung dan mempersiapkan diri untuk pulang ke pulau Jawa. Di hari terakhir, Om Ketum dan keluarga memisahkan diri karena ada urusan keluarga di Bandar Lampung. Tersisa 4 mobil, rombongan berangkat pukul 11.00 menuju pelabuhan Bakauheni. Butuh waktu 3 jam untuk sampai di Bakauheni. Tetapi sebelum masuk ke pelabuhan, kami singgah sejenak di Menara Siger yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan. Di Menara Siger, kita dapat menikmati keindahan pemandangan laut dan aktifitas kapal di pelabuhan Bakauheni.

Satu jam berada di Menara Siger, rombongan segera menuju pelabuhan Bakauheni untuk menuju pelabuhan Merak. Tepat pukul 18.20 rombongan meninggalkan pelabuhan Merak dan bergerak menuju Rest Area KM 68 tol Merak – Jakarta.Selain istirahat dan makan malam, kesempatan tersebut juga dipakai untuk membubarkan rombongan Mini Touring Pahawang dan kembali ke daerah asalnya masing-masing.

Begitu menyenangkan dan penuh suasana kekeluargaan dalam Mini Touring Pahawang ini. Walaupun hanya secuil penerawangan tentang Lampung tetapi cukup bagi kami, Komunitas Forescom untuk menerawang lebih luas lagi yaitu pulau Sumatera. Mungkin saja dari penerawangan tersebut Komunitas Forescom dapat melakukan Touring ke Bukittinggi atau Danau Toba di kemudian hari. Insya Allah.

Touring Ranca Upas Yang Layak Dikupas

13932914_10209839314323256_3668599575397666325_n
Dok. Forescom 2016

” Cech, tanggal 20-21 Agustus 2016 Forescom akan mengadakan Touring ke Ranca Upas, Bandung. Ikut Cech ? ” Begitulah ajakan kawan Edi Sembiring, salah satu pengurus Forescom sehari setelah saya melakukan registrasi keanggotaan Forescom. Saat itu saya belum memberikan jawaban karena pada tanggal tersebut saya dan istri ada acara ke Kamojang, Garut.

Ada sih keinginan untuk ikut serta dalam acara touring tersebut karena acara tersebut saya dapat jadikan silaturahim awal sebagai anggota baru untuk berkenalan dengan kawan-kawan Forescom. Dua hari setelah pembicaraan dengan Kawan Edi Sembiring, saya mendapatkan info bahwa touring diundur minggu depannya yaitu tanggal 27-28 Agustus 2016. Dengan mundurnya acara tersebut memberikan kemungkinan besar bagi saya untuk ikut serta. Melalui WA Group Chapter Bandung, saya mendapatkan informasi bahwa saya dapat menghubungi Om Chandra untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap dan bagaimana cara melakukan pendaftaran. Tanpa pikir panjang segera saya menghubungi Om Chandra dan mentransfer uang pendaftaran.

Awalnya saya pikir dari chapter Bandung bukan hanya saja yang turut serta karena beberapa hari menjelang hari H, beberapa teman chapter Bandung terlihat antusias. Saya senang sekali dapat bertemu teman-teman dari chapter Bandung. Tetapi pas hari H, hanya saya saja dari chapter Bandung. Walaupun demikian saya tetap semangat untuk ikut karena tujuan utama saya adalah silaturahim awal dengan komunitas Forescom.

Sesuai pembicaraan saya dengan Om Chandra via WA, titik kumpul saya dengan rombongan touring adalah exit toll Moh. Toha Bandung. Sebelum jam 8 pagi, saya sudah tiba di lokasi tersebut. Menunggu kurang lebih 20 menit, beberapa mobil rombongan Forescom keluar tol Moh. Toha. Salah satu mobil mendekati saya, rupanya mobil Om Chandra dan meminta saya untuk bersiap diri.

Sebagai Newbie, saya tidak terlalu banyak bertanya, hanya mengamati dan mengikuti jalannya mobil rombongan di depan saya. Sesekali saya berbicara dengan beberapa anggota Forescom pada saat rombongan berhenti sejenak. Penilaian awal saya terhadap teman-teman Forescom adalah baik dan interaktif.

Setelah berjalan lebih dari satu jam, rombongan tiba di Situ Cileunca. Satu per satu mobil parkir teratur di lokasi parkir yang besar Situ Cileunca. Terus terang saya baru pertama kali ke tempat ini. Sebelum kami mulai mencari lokasi untuk pemotretan, Panitia meminta kami berkumpul dan melakukan foto bersama baik dengan kamera biasa maupun drone.

DSCN3199
Dok. Cech
DSCN3204
Suasana Situ Cileunca nan terik (dok. Cech)
DSCN3202
Salah satu aktifitas di Situ Cileunca (dok. Cech)
DSCN3206
Aktifitas pemotretan di Situ Cileunca (dok. Cech)

Selanjutnya kami bergerak mendekati situ Cileunca. Hari itu terik sekali matahari, tapi tidak menyurutkan kami untuk melakukan pemotretan. Ada yang memotret pemandangan sekitar situ, ada yang Wefie/Selfie, ngobrol dengan sesama anggota termasuk saya dan lain-lain. Terlihat raut wajah kegembiraan dan lepas dari suasana kepenatan saat aktifitas kerja sehari-hari. Tanpa terasa satu jam terlewati di lokasi tersebut. Kemudian panitia memanggil kami untuk berkumpul dan segera bersiap diri untuk meneruskan perjalanan ke Rumah Bosscha (Malabar Tea House).

Perjalanan menuju Rumah Bosscha terbilang lancar walaupun jalanan hanya cukup untuk dua mobil, berliku, melewati pedesaan dengan kebun teh khasnya dan beberapa area jalan yang tampak rusak tapi tidak menghalangi rombongan Forescom. Kurang lebih satu jam perjalanan menuju Rumah Bosscha. Awalnya saya pikir rumah Bosscha terletak di Lembang (Utara Bandung, teringat teropong Bosscha) ternyata rumah Bosscha adalah tempat tinggal Bosscha dikelilingi oleh perkebunan teh yang sejuk dan indah serta termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung (selatan Bandung) dekat sekali dengan daerah Pengalengan.

DSC_0001
Kebun Teh dekat Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0002
Berhenti sejenak sebelum masuk ke Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSCN3207
Lokasi parkir Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0005
Kumpul lagi setelah makan siang untuk sesi pemotretan (dok. Cech)

Sekarang Rumah Bosscha merupakan bagian dari  Wisma Malabar, lokasinya di atas bukit dan dikeliling oleh perkebunan teh Malabar milik PT. Perkebunan Nusantara VIII – Malabar. Wisma Malabar menjadi sebuah penginapan nan asri dan sejuk. Dengan harga yang cukup di atas rata-rata dibanding penginapan lain di Pangalengan, Wisma Malabar ini memang menawarkan lokasi dan pemandangan yang indah. Harga per kamar untuk tipe twin bed room : 450 ribu IDR / malam, termasuk sarapan nasi goreng untuk 2 orang. tidak ada fasilitas berlebihan di dalam kamarnya, ada tv kecil, bathtub/shower dengan air panas, handuk, toiletries. Rumah Boscha merupakan rumah tua peninggalan K.A.R. Bosscha, seorang Belanda yang mendirikan pertama kali kebun teh di wilayah Malabar.

Dua jam kami berada di Wisma Malabar. Aktifitas yang dilakukan adalah makan siang, shalat dhuhur dan menunggu satu mobil dari Bekasi yang datang terlambat sehingga jumlah mobil yang ikut serta lengkap 25 mobil dengan total peserta 45 orang. Selain itu ada pemotretan bersama untuk dokumentasi.

Dari Rumah Bosscha, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi utama touring camp yaitu Ranca Upas. Rombongan membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Setibanya di Ranca Upas hari sudah mendekati senja. Segeralah kami parkir mobil mendekati tenda tempat kami menginap. Ada 2 tenda yang sudah berdiri  yaitu tenda untuk pria dan wanita. Pada saat itu lokasi camp dikelilingi oleh beberapa tenda kecil yang sudah berdiri sebelum kedatangan kami. Suasana lokasi sangat ramai.Tapi yang terpenting bagi saya adalah kamar mandi. Ternyata kamar mandi banyak sekali didirikan sehingga tidak menyusahkan pengunjung saat ingin buang hajat atau mandi.

Baru saja memasuki tenda, cuaca mulai mendung dan hujan rintik-rintik. Karena perut terasa lapar, saya pergi ke warung depan. Sesampainya di warung saya memesan Indo Mie Telur dan memakan beberapa gorengan sambil menikmati kopi susu. Beberapa menit kemudian, satu anggota Forescom yaitu Om Ikhtiar tiba di warung dan memesan menu yang sama dengan saya. Rupanya Om Ikhtiar kelaparan juga. Setelah itu hujan turun dengan lebatnya. Wahh… langsung kami berpikir rencana latihan pemotretan malam hari bakal dibatalkan karena hujan.

2 jam kami di warung dan hujan mulai berhenti, tiba-tiba panitia Forescom termasuk Ketum Om Dudi datang ke warung. Rupanya mereka kelaparan juga. Sambil menikmati wedang jahe dan gorengan, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan diselingi tawa dan canda. Setelah itu kami memutuskan untuk menyalakan api unggun dan melakukan sesi pelatihan memotret malam hari (yang utama adalah pelatihan foto Steel Wool)

FB_IMG_1472442447697
Suasana pelatihan pemotretan di malam hari (dok. Forescom)
FB_IMG_1472442458889
Teknik pemotretan dengan kombinasi tulisan dan gambar (dok. Forescom)
14080028_10209976509873059_5333958485918599863_n
Steel Wool (dok. Forescom)

Malam makin larut dan penat tak tertahankan sehingga tubuh ini butuh istirahat. Saya segera menuju tenda penginapan dan tertidurlah. Tepat jam 4 pagi saya terbangun. Setelah beberes kasur, selimut dan tas bawaan, segera saya bawa ke mobil. Kemudian saya pergi ke warung semalam untuk menikmati kopi di pagi hari. Jam 7 pagi semua peserta sudah terbangun. Ada yang langsung makan pagi, mandi dan hunting foto di sekitaran Ranca Upas. Rupanya semangat melakukan pemotretan masih tinggi. Walaupun tanah becek tetap tidak menghalangi aktifitas pemotretan.

DSCN3214
Suasana parkiran mobil di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3221
Tenda-tenda yang berdiri dekat tenda Forescom di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3217
Candid Camera pasangan yang sedang melakukan foto Pre-wedding (dok. Cech)
DSCN3218
Om Chandra tampak serius dengan hapenya (dok. Cech)
DSCN3220
Om Ikhtiar asyik dengan kameranya (dok. Cech)
FB_IMG_1472442428415
Foto bersama sebelum meninggalkan Ranca Upas (dok. Forescom)

Setelah perut kenyang, pemotretan, pemberian hadiah kepada pemenang foto  sepanjang perjalanan dan mobil satu per satu dapat melewati jalan yang becek maka selanjutnya perjalanan menuju Situ Patenggang sebagai destinasi terakhir.

Kembali rombongan bergerak teratur menuju Situ Patenggang yang melewati jalan berkelok dengan sisi kebun teh yang asri. Kurang lebih satu jam kami tiba di Situ Patenggang. Terlihat dengan jelas hamparan situ nan indah dari atas bukit, tempat parkir berada. Segeralah kami menyebar dan melakukan aksi pemotretan di areal Situ Patenggang.

DSCN3222
Rumah makan berbentuk kapal tradisional di atas bukit (dok. Cech)
DSCN3229
Pemandangan Situ Patenggang dari atas rumah makan (dok. Cech)
DSCN3228
Model kamar penginapan dekat Situ Patenggang (dok. Cech)
DSCN3223
Toilet nan bersih di Situ Patenggang (dok. Cech)

Hari mulai siang, perjalanan dilanjutkan menuju rumah makan Sindang Barang sebelum pembubaran acara touring camp dan kembali ke rumah masing-masing. Setelah makan siang dan rehat yang cukup maka Om Ketum membubarkan acara touring camp yang dianggap sukses sekaligus memberi informasi kegiatan selanjutnya di Jawa Timur. Bagi saya, touring camp merupakan wahana yang baik untuk menambah persaudaraan dan meningkat silaturahim bagi para pemilik mobiil Ford Ecosport. Walaupun awalnya saya agak heran mengapa panggilan kepada anggota pria adalah om dan wanita adalah tante. Tetapi bagi saya tidak masalah karena mungkin panggilan tersebut untuk mempererat persaudaran komunitas. Berharap agar kegiatan Forescom berikutnya dapat diikuti oleh seluruh anggota komunitas ini.

Ranca Upas layak dikupas
Bagai kipas
Angin terhempas
Letih lelah menjadi impas
Tawa bahagia tampak puspas
Tak ada ampas
Semuanya terasa pas

“Ayahmu Lebih Penting Daripada Tim”

Cristiano-Ronaldo-embraces-his-former-manager-Sir-Alex-Ferguson

mirror.co.uk

Kami baru saja mengalami kekalahan dalam satu pertandingan di kompetisi domestik. Setelah pertandingan, bos marah besar. Semua benda yang ada di dekatnya ditendang ke segala arah dengan emosionalnya.

Sementara itu saya baru saja mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami koma di rumsh sakit dan keluarga meminta saya untuk pulang menjenguk. Dalam situasi saat itu sepertinya saya kuatir permintaan pulang (cuti pulang) tidak akan diberikan oleh bos karena 2 hari lagi ada satu pertandingan yang sangat menentukan untuk keberlanjutan tim kami di liga regional yaitu Liga Champions.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menghadap bos.

” Bos, saya ingin mengajukan cuti pulang ke negara saya selama 2 hari “

” Memangnya ada apa sehingga kamu mau cuti pulang?” tanya bos

“Saya baru dapat kabar ayah saya sakit dan mengalami koma di rumah sakit. “

” Pergilah ” tegas Bos.

” Terima kasih dan lagi pula saya hanya cuti 2 hari sebelum pertandingan liga champions saya sudah bersama tim”

” Tidak… tidak… Pergilah kau menemani ayahmu yang koma. Mau 2 hari … Seminggu … bahkan lebih dari itu sampai ayahmu sadar dan sehat kembali”

” Lalu bagaimana dengan pertandingan Liga Champions yang tinggal 2 hari lagi. Itu pertandingan penting bagi kita”

” Tidak, Ronaldo. Pulanglah. Kamu lebih penting dan lebih dibutuhkan oleh ayahmu dari pada tim” jelas Bos Sir Alex Ferguson.

Di tahun kompetisi tersebut MU menjuarai Liga Champions. Dari kejadian tersebut itulah CR7 sangat respek dan menganggap SAF bukan hanya sebagai bos tapi sebagai Bapak baik di luar maupun dalam lapangan.

Mesjid Bayan Beleq Yang Membuat Mata Melek

Suhu Lombok yang mendekati 33 derajat Celcius berimbas kepada kepala saya sakit. Selesai makan pagi di hotel, saya segera konsumsi obat sakit kepala. Akibatnya selama perjalanan menuju Pusuk Sembalun saya lebih banyak tertidur sehingga kurang dapat menikmati indahnya alam yang menuju ke sana.

Tanpa terasa kurang lebih 2 jam perjalanan terlewati dan saya terbangun karena mobil berhenti di satu tempat. Terpampang tulisan ” Taman Nasional Pusuk Sembalun “, segera saya keluar dari mobil dan mengikuti istri ke satu tempat yang kelihatannya bagus untuk foto-foto. Untungnya cuaca di Sembalun cerah tapi tidak panas menyengat bahkan boleh dikatakan sejuk.

DSCN2879
Dok. Cech 2016
DSCN2880
Dok. Cech 2016

Setelah 2 jam kami menikmati udara sejuk di Sembalun, perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan dan penjualan mutiara khas Lombok. Kembali saya tertidur rupanya pengaruh obat belum hilang juga.

Tiba-tiba mobil berhenti di satu tempat dan tanpa terasa kurang dari satu jam saya tertidur.

“Ini tempatnya Mas Cech yang kemarin saya ceritakan”  ujar Pak Nasib, sang supir.

” Tempat apa ya Pak? ” tanya saya.

” Mesjid tertua di Lombok, Mesjid Bayan Beleq ” jelasnya.

Segera saya keluar dari mobil, panas mulai terasa di badan. Letak mesjid tersebut berada di pinggir jalan utama Lombok Utara. Sebelum masuk terpampang tulisan Mesjid Kuno Bayan Beleq Yang termasuk National Heritage atau dilindungi negara. Tepatnya mesjid ini ada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan Lombok Utara.

DSCN2904
Dok. Cech 2016

Di pintu masuk kami langsung dipandu oleh seorang anak muda yang sepertinya pemandu wisata mesjid tersebut. Kami diharuskan mengisi buku tamu dan dipersilakan untuk memberikan sumbangan sukarela karena tidak ada ketentuan membayar tiket masuk ke area mesjid tersebut.

Dari tempat pengisian buku tamu, bangunan tua seperti bangunan mesjid pada umumnya jelas terlihat. Posisinya berada di dataran tinggi, bentuk bangunan mesjid tersebut serupa dengan bentuk bangunan rumah-rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Bangunan mesjid berbentuk bujursangkar berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah-bilah bambu. Pondasi mesjid menggunakan batu kali tanpa semen.

DSCN2895
Tampak depan mesjid (Dok. Cech)
DSCN2891
Tampak belakang (Dok. Cech)
DSCN2893
Gentong penampung air wudhu (Dok. Cechgentong)

Di depan pintu mesjid terdapat gentong yang diikatkan pada sebuah pohon. Mungkin fungsinya untuk penyimpanan air wudhu. Seperti diketahui Lombok merupakan wilayah kering dan tadah hujan. Selanjutnya ketika saya ingin berjejak ke dalam mesjid. pintu mesjid tertutup dan istri ingin kembali ke mobil karena suhu udara saat itu panas sekali.

Menurut pemandu, Mesjid tidak lagi dipakai untuk umum dan hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti acara Maulid Nabi SAW Itupun dengan peraturan yang sangat ketat karena daya tampungnya hanya untuk 40 orang saja dan sebagian besar adalah kyai. Itulah mengapa pintu mesjid terkunci rapat. Tetapi wisatawan masih diperkenankan mengambil foto dari celah dinding bambu yang seperti sengaja diberi celah yang cukup untuk kamera.

Selain itu pemandu juga menjelaskan tentang adanya makam besar (Beleq) yang terdapat di dalam tersebut yaitu makam Syekh Gaus Abdul Rozak, salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan Bayan. Ada 4 tiang soko guru dari pohon nangka yang menyangga bangunan mesjid. Beduk kayu terlihat juga didalam mesjid dan tergantung di tiang atap mesjid. Di belakang kanan dan depan kiri mesjid terdapat 2 gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk tersebut terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus mesjid ini sedari awal. 

DSCN2897
Beduk kayu (Dok. Cech)
DSCN2899
Atap mesjid (Dok. Cech)
DSCN2902
Bangunan belakang kanan (Dok. Cech
DSCN2896
Bangunan depan kiri (Dok. Cech)

Berdasarkan informasi dari pemandu, Mesjid Bayan Beleq didirikan pada abad ke-17 oleh Sunan Ampel. Dalam penyebaran agama Islam di Lombok Sunan Ampel dibantu oleh salah satu muridnya Syekh Gaus Abdul Rozak yang berasal dari Irak. Tetapi berdasarkan beberapa literatur belum jelas diketahui siapa yang pertama kali membangun Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Tidak terasa 1 jam saya berada di lingkungan mesjid tersebut. Setelah itu saya memberikan salam perpisahan kepada pemandu dan segera menuju ke mobil. Baru saja saya membuka pintu,  tiba-tiba istri mengatakan, “Serem Mas tempatnya maka itu tadi saya kabur duluan ke mobil. Kalau menurut mas bagaimana?” Saya pun menjawab ” Hmmm, justru Mesjid Kuno Bayan Beleq ini membuat mata saya melek. Melek adanya bukti penyebaran Islam di Lombok dan melek terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kasat mata seperti…. Iiiihhh serem!!!  “

Mobil langsung digas oleh Pak Nasib menjauhi lokasi mesjid kuno tersebut menuju Pantai Nipah untuk kembali melek menikmati Sunset.

DSC_0057
Sunset di Pantai Nipah (Dok. Cech)

PERISIEAN Beradu Maka Hujanpun Datang

DSCN3050

” Pak, acara gebuk-gebukan khas Lombok apa namanya ya?  Tanya saya kepada Pak Nasib, Supir mobil sewa yang mengantar kami keliling pulau Lombok.

” Oh PERISIEAN namanya. Mau melihat? Saya akan antar ke lokasinya. Seminggu diadakan 4 kali dan Dinas Pariwisata Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat yang menyelenggarakannya. Biasanya dimulai pada pukul 16.00. ” jelas Pak Nasib.

” Menarik, kami ingin melihatnya, Pak ” pinta kami.

” Oke, Mas Cech ”

Ternyata lokasinya berada di daerah Cakranegara Utara, Mataram. Lokasinya cukup strategis di tengah kota Mataram dan berada di dalam area kuil Hindu yang berdekatan dengan mesjid. Walaupun hujan, tak menyurutkan kami untuk menyaksikan PERISIEAN. Dengan membeli tiket VIP Rp. 20.000 per orang segera kami diantar menuju panggung sehingga kami dapat melihat dengan jelas pertarungan para pepadu. Sementara Pak Nasib dipersilakan masuk secara gratis karena berhasil membawa wisatawan luar Lombok untuk menyaksikan PERISIEAN.

DSC_0059

image

image

Arena pepadu masih lengang walaupun para penonton memasuki area kuil. Penonton masih masih mencari tempat berteduh karena hujan masih deras. Walaupun hujan, panitia telah menyiapkan segalanya mul dari alat musik tradisional, tongkat pepqdu, tamèng,  kursi pengamat, karpet untuk masing-masing kubu pepadu dan lain-lain.

Saat kami menunggu hujan reda, seorang tetua menghampiri kami dan menjelaskan bahwa PERISIEAN adalah acara adat suku Sasak. Nenek moyang suku Sasak melakukan PERISIEAN dengan tujuan mendatangkan hujan karena sebagian besar wilayah suku Sasak daerah jarang hujan atau daerah kering. Hujan dipercayai akan datang apabila kepala salah satu pepadu bocor berdarah akibat kena pukulan tongkat rotan yang keras sekali. Tetapi saat ini PERISIEAN diselenggarakan sebagai acara budaya saja supaya abadi dan lestari.

image

image

Tepat pukul 16.00 acar dimulai. Pembawa acara meminta penonton untuk mendekati arena. Kebetulan hujan telah berhenti. Musik tradisional dimainkan, wasit utama berkaos kuning, 2 pengumpul sawer dan manajer kedua kubu memasuki arena sambil menari dengan girangnya.

Ada 3 sesi acara PERISIEAN hari itu yaitu sesi pertama untuk pepadu pemula, kedua untuk 2 pasang pepadu remwjw dan terakhir sesi utama 5 pepadu dari Narmada melawan 5 pepadu dari Semoyang. Menariknya sebelum dimulai, pembawa acara mengingatkan para hadirin tentan 4 pilar kebangsaan Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Dan suku Sasak adalah salah satu suku di Indonesia yang akan mempertahankan 4 pilar kebangsaan Indonesia tersebut.  Para hadirin menyambut dengan semangat, bersorak sorai dan bertepuk tangan sebagai tanda kesetiaannya. Luar biasa.

image

image

Panitia mengumumkan aturan main dalam PERISIEAN diantaranya pepadu dilarang menusut tongkat ke tubuh lawan, pepadu dilarang memukul apabila lawan terjatuh, dan pepadu dinyatakan menang apabila kepala lawan bocor berdarah terkena pukulan tongkat rotan. Pertarungan dinyatakan seri apabila tidak ada pepadu yang bocor berdarah kepalanya. Ada 4 ronde dalam satu pertarungan. Waktu setiap ronde 60 detik.

image

image

Tanpa terasa sesi pertarungan pertama dan kedua berakhir seri. Selanjutnya acara utama yang mempertemukan 5 pepadu dari wilayah Narmada dan Semoyang dimulai. kelima pepadu dari kedua kubu diperkenalkan di sudutnya masing-masing. Kemudia Manajer dan dukun kedua kubu dikumpulkan oleh wasit utama di tengah arena. Wasit utama mempersilakan kedua kubu bersalaman. Kemudian wasit utama menjelaskan aturan main secara detil kepada kedua kubu.

image

image

image

Kelima pepadu bertarung dengan semangatnya. Kedua pendukung bersorak sorai memberi semangat pepadu jagoannya. Ngeri juga melihatnya tetapi para pepadu tidak terlihat kesakitan walaupun jelas terlihat badannya lembam terkena sabetan tongkat rotan nan keras. Senyum seringai dan kepuasan dari wajah penonton tampak sekali walaupun pertarungan berakhir dengan seri.

” Ini bukan masalah menang atau kalah tapi peninggalan leluhur tetap lestari dan terjaga. Persaudaraan suku Sasak tetap kuat ” terang tetua pertarungan.

Bertumbuh Dalam Lantunan Ilahi

DSCN2345

Saat kau dibenamkan ke dalam tanah, suara azan dilatunkan.

Seiring lantunan kalam ilahi terbaca dalam hati doa-doa agar kau dapat tumbuh besar dan bermanfaat bagi alam semesta.

Saat ini kau telah tumbuh besar dan berbuah lebat. terdengarlah rasa syukur.

Ternyata keistiqomahan dalam merawat, membesarkan, memanjakan, dan mendoakanmu terbukti dan menjadi kenyataan.

Buahmu mulai banyak tumbuh dan sedang menuju kematangan.

Namun demikian kau terus dilatunkan kalam-kalam KemenanganNya.

Bejo

Orang tua Jawa dulu mengatakan lebih baik jadi orang bejo (beruntung) daripada orang pintar.

Pria Jawa berumur 40-an tahun ini bertemu dengan saya karena berprofesi sebagai sopir yang mengantar sofa saya dari Jakarta ke Bandung. Saya memakai jasanya melalui informasi internet.

Penampilannya sederhana dan ramah. Saya berpikir dia hanyalah sopir perusahaan jasa pengangkutan/pengiriman barang. Ternyata selain sopir, dia juga pemilik kendaraan angkutan tersebut (mobil boks).

Sepanjang perjalanan dia banyak bercerita tentang kisah hidupnya. Sudah hampir 14 tahun berprofesi sebagai sopir angkutan barang. Dan baru 2 tahun ini, dia bukan hanya sebagai sopir tapi juga pemilik perusahaan angkutan dengan jumlah armada 10 unit kendaraan yaitu 4 mobil boks, 4 mobil bak terbuka dan 2 truk fuso. Katanya ini semua karena Gusti Allah, kerja keras, dan keberuntungan.

Keberuntungan? 3 tahun lalu teman sekolahnya datang ke kontrakannya. Pada saat itu pria jawa ini masih sebagai sopir freelance. Sudah 2 tahun temannya menjalankan bisnis angkutan dengan modal 2 unit mobil boks tapi tidak ada kemajuan karena sering ditipu oleh sopir-sopirnya.

Temannya meminta dia untuk menjalankan dan melanjutkan bisnisnya karena sudah putus asa dengan bisnisnya tersebut. Kedua mobil boks temannya dipercayakan kepada dia untuk menghasilkan uang. Temannya tidak minta apa-apa dan menyerahkan kepada dia tentang berapa yang harus diberikan tiap bulannya tapi dia selalu memberikan 50 % pendapatannya kepada temannya.

Tanpa dinyana setelah 1 tahun, dia berhasil membeli 2 mobil boks milik temannya tersebut. Dengan kerja kerasnya sampai sekarang jumlah armada angkutannya bertambah menjadi total 10 unit.

“Luar biasa” saya terkagum-kagum.

“Saya suka di jalan, Pak. Kalau tidak membawa kendaraan satu hari saja, badan saya sakit-sakit. Itulah mengapa sampai saat ini saya masih membawa mobil walaupun saya punya anak buah.” cerita pria jawa tersebut.

” Omong-omong nama bapak siapa? ” tanya saya.

” Bejo, Pak ” tegasnya.

” Lengkapnya? “

” Satu kata, Pak. BEJO ” sambil menyerahkan kartu namanya.

Wow, perjalanan Jakarta – Bandung semakin menarik karena banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari Bejo. Saya semakin kagum setelah mendengar rencana  Pak Bejo untuk membeli truk Fuso terbaru pada awal tahun 2016 ini.