I am Fijian Boy From Natewa

DSC_0010

Dok. Cech

Nama saya Saula Tuikoro. Sering dipanggil Saula tapi di Natewa saya dipanggil Tuikoro. Tuikoro adalah nama bapak saya  tapi saya adalah Tuikoro Jr.

Natewa adalah sebuah desa yang letaknya di Teluk Natewa, Vanualevu (pulau terbesar kedua di Fiji). Desa yang indah dan penuh kenangan maka itu saya mengajak teman-teman Indonesia untuk berkunjung. 

Selepas jam kantor, saya dan ketiga teman Indonesia berangkat ke pelabuhan Walu Bay. Rupanya masih ada waktu 30 menit sebelum kapal Lomaiviti Pricess berangkat ke Savusavu. Kami langsung tukar kuitansi pemesanan dengan tiket kapal pp. Sekali jalan harga tiketnya FJD 60 (FJD 1 = IDR 6200).

DSC_0020

Kapal bergerak saat senja menuju malam (Dok. Cech)

DSC_0027

Dari Savusavu berlayar kembali ke Taveuni (Dok. Cech)

DSC_0037

Kumpulan kapal layar di Teluk Savusavu (Dok. Cech)

Pukul 18.00 kapal mulai bergerak. Dibutuhkan waktu perjalanan 12 jam  menuju Savusavu. Sebuah perjalanan yang panjang. tidak terasa jam 6 pagi kapal sudah berada di perairan Teluk Savusavu dan siap-siap untuk sandar di dermaga. Kurang dari satu jam, kami berada di kapal. Selanjutnya kami berjalan keluar dermaga menuju kota Savusavu. Kami singgah sejenak di Copra Shed Marina untuk istirahat, mandi dan makan sebelum melanjutkan perjalanan ke Natewa dengan bus.

Pukul 12.10 bus rute Savusavu-Natewa memasuki terminal Savusavu.Dalam waktu setengah jam tempat duduk sudah penuh. Tiap penumpang dikenakan biaya FJD 15. Perjalanan ke Natewa membutuhkan waktu 3-4 jam karena trayek bus tidak langsung dan bus berhenti dan menarik penumpang dimana saja. Sepanjang jalan teman Indonesia lebih banyak tidur padahal pemandangan sepanjang jalan indah dan menarik.

Hampir pukul 4 sore, kami tiba di Natewa. Begitu turun dari bus kami disambut oleh keluarga paman. Peluk cium menghampiri saya. Canda dan tawa menyelimuti kedatangan kami.

Setelah rehat sejenak sambil menikmati air kelapa, sesuai adat kami maka kami, paman dan bibi membawa hadiah kava kering terbaik yang akan diberikan kepada saudara bapak tertua di Natewa. Kava pemberian tersebut nantinya akan diproses menjadi minuman tradisional Grog untuk acara penyambutan tamu pada malam hari ini.

DSC_0051

Rehat sejenak (Dok. Cech

DSC_0042

Melepas rindu (Dok. Cech)

DSC_0045

Berkunjung ke Saudara Bapak tertua (Dok. Cech)

Tidak butuh waktu rehat lama, kami berkeliling desa Natewa yang dekat sekali di Teluk Natewa. Beberapa anak desa mengikuti kami sehingga kami menjadi pusat perhatian penduduk Natewa.

DSCN1984

Dok. Cech

DSCN1997

DSCN1982

Sunset di Teluk Natewa (Dok. Cech)

Pada malam hari, setelah makan kami berkumpul dengan keluarga Natewa. Canda tawa dan cerita di malam itu sambil menikmati minuman Grog. Baru jam 2 malam teman Indonesia bergerak ke peraduannya karena rasa letih dalam perjalanan semalam.

Teman Indonesia tidur sekali, baru jam 10 pagi mereka terbangun. Segera saya ajak mereka mandi di pinggir sungai kecil sebelah rumah paman yang airnya jernih sekali. Rupanya tidak hanya kami, anak-anak pun riang gembira menikmati madi di kali. Setelah mandi bibi sudah menyiapkan makan pagi dan kami pun makan bersama.

DSCN1998

Mandi di kali (Dok. Cech)

DSCN2026

Kava kering milik paman (Dok. Cech

DSCN2022DSCN2031DSC_0070

Karena kami hanya menginap semalam dan harus kembali ke Suva hari itu juga maka waktu yang pendek saya manfaatkan untuk bersilaturahim ke keluarga besar bapak. Banyak foto yang diambil sebagai kenang-kenangan saya.

Jam setengah dua siang, bus menuju Savusavu berhenti di depan halaman rumah keluarga besar bapak. Segera kami pamitan dan peluk cium dengan para orang tua. Ada perasaan berat untuk meninggalkan desa Natewa. Waktu satu hari sungguhlah singkat tapi kami harus kembali kerja Keesokan harinya. Perlahan tapi pasti bus bergerak meninggalkan desa Natewa menyusuri Teluk Natewa nan indah.

Sesampainya di Savusavu kapal Lomaiviti Princess dari Taveuni sudah bersandar di dermaga Savusavu. Inilah saatnyw kami meninggalkan Vanualevu menuju Suva, ibukota Fiji Keesokan paginya.

DSC_0072

Menuju Savusavu kembali (Dok. Cech)

DSCN2033

Dermaga Savusavu (Dok. Cech)

DSC_0080

Kenangan Natewa yang tak terlupakan (Dok. Cech

DSCN2037

Berapa purnama lagi kami akan berkumpul bersama (Dok. Cech)

Desa Navala, 200 Tahun Tanpa Listrik

Jalan-jalan ke Desa Navala tidaklah direncanakan. Semuanya serba dadakan. Sebagai inisiator, saya mengajak beberapa teman kantor dan pekerja di rumah Dubes RI yang kebetulan belum pernah bepergian selama di Fiji. Ternyata yang ikut serta berjumlah total 7 orang. Bermodal patungan FJD 100 per orang atau FJD 700  cukup untuk membayar sewa mobil, tiket masuk dan pemandu di Navala. Untuk konsumsi masing-masing orang  menyumbangkan makanan dan minuman.

DSCN1310

Mobil sewa cukup 7 orang plus supir (Dok. Cech)

Tepat jam 7 pagi kami berangkat ke Desa Navala via Kings Road. Perjalanan membutuhkan waktu 4-5 jam sehingga kami memutuskan untuk santai dan berfoto ria bila mendapatkan tempat yang bagus untuk berhenti sejenak. Selepas kota Korovou, kami berhenti karena ada satu penumpang ingin buang air kecil. Kebetulan cuaca dingin tapi cerah sehingga menimbulkan rasa ingin buang air kecil.

Navala 8

Foto bersama Vicky, sang sopir (Dok. Cech)

Navala 3

Bergaya dulu di kampung orang (Dok. Cech)

Navala 9

Rambu lalu lintas jadilah (Dok. Cech)

Setelah istirahat kurang lebih 45 menit, perjalanan dilanjutkan. Suasana perjalanan penuh dengan canda dan tawa. Ada yang merasa bosan karena tujuan tidak sampai-sampai. Menjelang memasuki kota Tavua, kami meminta sopir untuk berhenti karena ada pemandangan laut uang indah di atas bukit. Selama berhenti ada yang mqkan kudapan karena merasa kelaparan.

DSCN1343

Dok. Cech

Navala 34

Bukit-bukit menuju desa Navala (Dok. Cech)

Tanpa terasa kota Ba dilewati. Perlu diketahui desa Navala termasuk dalam wilayah Provinsi Ba. Desa Navala sangat dikenal oleh masyarakat kota Ba karena banyak turis asing. Namun menuju desa Navala butuh perjuangan yang keras. Kontur wilayah berbukit-bukit dengan jalan sebagian kerikil  aspal dan sebagian lagi masih berupa tanah liat. Jadi kalau musim hujan, hanya kendaraan truk yang dapat menuju desa Navala.

Setelah perjalanan hampir 1,5 jam dari kota Ba, dari atas bukit terlihat susunan rumah tradisional Fiji atau Bure yang rapi tapi ada larangan tertulis dilarang mengambil foto desa Navala sebelum diadakan acara penyambutan tamu oleh kepala suku. Begitu jalan menurun, kami menemui sungai besar yaitu Sungai Navala. Ini menjadi tanda désa Navala sudah dekat. Benar saja, kami menemui pintu gerbang dengan papan pengumuman di sebelahnya tentang peraturan  memasuki dan selama berada di Desa Nava. Dalam pengumuman tersebut tertulis tiket masuk per orang FJD 25  dan membayar pemandu FJD 10-20 per pemandu.

DSCN1463

Dok. Cech

Begitu memasuki pintu gerbang, kami bertujuh langsung dibawa oleh 2 orang pemandu menuju satu bangunan tradisional Navala yang sepertinya tempat kempwla suku biasa menerima tamu.

Ternyata kepala suku tidak berada di tempat sehingga diwakili oleh wakil kepala suku. Wakil kepala suku dan beberapa tetua menyambut kami dengan hangat. Dijelaskan bahwa desa Navala sudah ada sekitar 200 tahun yang lalu. Desa Navala merupakan bentukan dari 3 suku di pegunungan Navala. Jumlah bure di Desa Navala sekitar 100 buah dan penduduk yang tinggal di Navala berjumlah kurang lebih 1000 orang.  Untuk menjaga amanah lelehur mereka, dari sejak berdiri Desa Navala tidak diperkenankan menggunakan listrik dalam kehidupan sehari-hari. Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, kami diperbolehkan untuk jalan-jalan dan berfoto ria di desa Navala.

DSCN1349

Foto bersama dengan wakil kepala suku (Dok. Cech)

DSCN1348

Bersama 2orang pemandu muda (Dok. Cech)

Oleh pemandu, kami dibawa ke beberapa tempat di Desa Navala. Berikut foto-fotonya:

Navala 23

Dok. Cech

Navala 32

Dok. Cech

DSCN1443

Dok. Cech

Navala 18

Dok. Cech

DSCN1383

Dok. Cech

Hampir 2 jam kami berkeliling desa Navala, tubuh  mulai terasa lelah dan perut keroncongan. Akhirnya kami pamit diri kepada wakil kepala euku dan beberapa penduduk. Kemudian kami keluar pintu gerbang desa dan berhenti di pinggir sungai Navala  dengan air sungai yang bening. Kami memutuskan untuk makan siang. Semua makanan dan inuman dikeluarkan dari mobil. Energi kami  terkuras dengan eksotiknya desa Navala dan imbasnya kami makan siang dengan lahapnya.

Menyusuri Jejak Tom Hanks di Modriki, Fiji

” Apaaaaa ?  ” Itulah kalimat yang terucap teman saya, Fajar penuh dengah keterkejutan.

” Bagaimana caranya?  ” tanya Fajar lagi.

Segera saya menjelaskan secara singkat bagaimana cara menyusuri Jejak Tom Hanks sembari menunjukkan peta.

map-seaspray

Dok. South Sea Cruise

” Ok kita berangkat Jumat malam dari Suva ke Nadi dengan menggunakan mobil sewa ” ujar Fajar sebagai tanda setuju atas usul saya.

Sepulang dari kantor, kami berangkat pukul 7 malam dari Suva. Tiba di Nadi pukul 10 malam lebih dan menginap di Camp pekerja Indonesia di Nadi.

Keesokan harinya jam 6 pagi kami pergi ke Denarau Marina, suatu tempat menjadi titik pemberangkatan kapal menuju Pulau Modriki. Sesampainya di Denarau, kami langsung menuju counter South Sea Cruise untuk mengikuti paket Seaspray Day Sailing Adventure Full Day Cruise dengan membayar 210 FJD per orang (sekitar 1,2 juta IDR). Setelah membayar, pergelangan tangan kami diikatkan pita biru dengan tulisan Seaspray sehingga membedakan dengan penumpang lain yang akan turun dan menginap di 4 pulau yang akan dilalui sebelum Pulau Mana (dari pulau Mana kami berpindah kapal layar Seaspray menuju pulau Modriki). Keempat pulau yang akan dilewati adalah Beachcomber, Bounty, South Sea Island dan Tresure Island. Perlu diketahui sebagian besar wisatawan yang mengunjungi keempat pulau dan mengikuti paket Seaspray berasal dari Australia, New Zealand, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

20150620_083018

Dok. Cech

DSCN1496

Daftar menu (Dok. Cech)

DSCN1500

Toko kelontong (Dok. Cech)

DSCN0878

foto sejenak di depan South Sea Cruise (Dok. Cech

Kapal South Sea Cruise berangkat dari Denarau Marina pada pukul 9 pagi. Karena masih ada waktu 1 jam maka kami ngopi-ngopi dulu di sebuah Cafe dekat dengan dermaga pemberangkatan.

15 menit sebelum jam 9 pagi, kami mendengar panggilan lewat speaker bahwa penumpang dipersilahkan untuk menaiki kapal. Saat itu penumpang cukup banyak, kami hanya mendapatkan tempat duduk di luar tepatnya bagian atas di buritan kapal. Begitu banyak pemandangan menarik untuk diambil fotonya sepanjang perjalanan ke pulau Mana yang membutuhkan waktu 1,5 jam. Dalam waktu 30 menit, kapal berhenti menunggu speedboat yang akan menjemput penumpang yang akan turun di South Sea Island dan Bounty. 15 menit kemudian berhenti kembali untuk menurunkan penumpang ke Beachcomber dan Treasure.

20150815_084622

Kapal mulai bergerak melewati sekumpulan kapal layar (Dok. Cech)

DSCN0897

Foto bersama 2 turis asal Texas, Amerika Serikat (Dok. Cech)

DSCN0890

Speedboat penjemput turis yang turun di South Sea Island

DSCN0893

Penumpang turun di Bounty Ieland (Dok. Cech)

DSCN1504

Beachcomber (Dok. Cech)

45 menit kemudian, kapal tiba di pulau Mana. Tak jauh dari dermaga Mana, kapal Seaspray yang akan mengantar kami ke Modriki  sedang melakukan persiapan keberangkatan. Kami turun di dermaga Mana dan dijemput speedboat menuju Seaspray.

Ternyata bukan hanya kami saja yang akan berangkat. Dari kapal South Sea Cruise sudah ada 20-an orang yang ikut paket Seaspray. Kemudian ada belasan penumpang dari pulau Mana turut juga. Setibanya di Seaspray, kami disambut oleh para kru dan kapten Joe  dengan sambutan khas Fiji ” BULA “. Kami semua menjawab ” BULA ” juga.

Sebelum berangkat, kapten Joe memberikan pengumuman penting antara lain sejarah kapal Seaspray yang berasal dari Inggris, kapal menyediakan banyak makanan dan minuman tetapi saat turun ke Modriki dilarang membawa minuman kalèng kecuali minuman mineral Fiji Water, bagi perokok disediakan tempat di belakang kapal, kapal menyediakan peralatan untuk snorkelling tetapi sudah harus dipakai sebelum terjun ke laut menuju Pantai Modriki, bagi yang tidak dapat berenang harap lapor ke kru atau kapten sehingga mendapatkan perhatian khusus, dipersilahkan minum wine atau champagne asal tidak mabuk di kapal, diberikan waktu 1 jam bermain-main di Modriki setelah itu dijemput ke kapal kembali untuk makan siang atau Barbeque Lunch, dan yang terpenting adalah jangan mengacuhkan pengumuman kapten setiap waktu apabila ada hal yang urgen dan kapal akan kembali Ke Mana apabila tiba-tiba datang badai saat menuju Modriki.

DSCN0907

Kapal layar Seaspray sedang melakukan persiapan (Dok. Cech)

DSCN0908

Batu es untuk mendinginkan minuman selama perjalanan (Dok. Cech)

DSCN0913

Beberapa papwn petunjuk di kapal (Dok. Cech)

DSCN0914

Dok. Cech

Sepanjang jalan menuju pulau Modriki kami menikmati indahnya laut dan pemandangan pulau-pulau kecil yang dilewati. Kami beruntung karena hari itu cerah sekali dan sesekali kami melihat kumpulan lumba-lumba yang mengikuti jalannya kapal. Sayangnya kami tidak sempat mengabadikannya karena pemunculan lumba-lumba tidak terduga dan menghilang cepat sekali.

Setelah 40 menit perjalanan, pulau Modriki mulai tampak terlihat. Ternyata Modriki berdekatan dengan pulau Matamanoa. Beberapa ratus meter dari pinggir pantai Modriki, Seaspray lepas jangkar dan menurunkan speedboat yang akan membawa penumpang ke pantai Modriki yang fenomenal tersebut. Bagi yang ingin snorkelling untuk menikmati indahnya pemandangan bawah laut dipersilahkan memakai alat yang telah disediakan. Kebanyakan anak muda yang melakukan snorkelling. Saya ikut speedboat karena membawa kamera sedangkan Fajar melakukan snorkelling.

DSCN0920

Penampakan Pulau Modriki dari kejauhan (Dok. Cech)

DSCN0922

Speedboat menurunkan penumpang di Pantai Modriki (Dok. Cech)

DSCN1556

Beberapa penumpang yang terjun dari atas kapal untuk snorkelling (Dok. Cech)

20150620_125738

Indahnya pantai Modriki (Dok. Cech)

Setibanya di Modriki, segera saya menyusuri Jejak Tom Hanks yang terdampar di pulau tersebut dalam film CAST AWAY.  Ada satu tempat dimana Chuck Noland yang diperankan oleh Tom Hanks menyusun sebuah kalimat dari batu karang yang disusun sedemikian rupa untuk memohon pertolongan. Tom Hanks berharap apabila ada pesawat terbang atau kapal laut  yang melihat tulisan tersebut.Tulisan tersebut adalah “HELP ME”. Tempat ini sangat favorit bagi wisatawan untuk berfoto ria. Uniknya susunan batu bertuliskan  HELP ME tidak berubah dan digeser sama sekali. Jadi umur susunan batu tersebut hampir 15 tahun.

Lokasi selanjutnya adalah gua di atas bukit. Gua tersebut dipakai lokasi shooting dimana Chuck Noland tinggal dan berlindung selama tersesat di kepulauan Pasifik Selatan. Hanya saja gua tersebut tertutup dan dianggap tidak aman bagi pengunjung karena bebatuannya sering longsor.

Setelah berkeliling selama 30 menit, Kapten Joe meminta para wisatawan untuk berkumpul. Rupanya Kapten Joe ingin memberikan contoh mencari kelapa yang dapat diminum dan carw mengelupas kelapa tersebut apabila kita terdampar di suatu pulau seperti yang dialami Chuck Noland (Tom Hanks).

Selanjutnya kami diantar kembali ke kapal Seaspray untuk makan siang atau Barbeque Lunch. Kami sangat menikmati makan siang di kapal. Sungguh layak uang yang dibayar untuk mengikuti paket ini. Kudapan yang enak dan berlebih, makan siang dengan Barbeque daging sapi dan ayam yang halal disertai nasi putih dan minuman lengkap mulai dari Fiji Water, bir kalèng Fiji Bitter dan Fiji Gold, Coca Cola, Sprite, Fanta, Wine, Champagne, teh dan kopi self service.

DSCN0966

Keliling Modriki (Dok. Cech)

DSCN0951

Mengikuti gaya Tom Hanks dalam film CAST AWAY (Dok. Cech)

DSCN0954

Pemandangan dari goa (Dok. Cech)

DSCN0980

Merokok dulu setelah snorkelling (Dok. Cech)

DSCN0994

Berkumpul sejenak (Dok. Cech)

DSCN0995

Kapten Joe sedang memberi contoh tentang kelapa yang dapat dikonsumsi (Dok. Cech)

Setelah makan siang sampai puas dan kenyang, perjalanan dilanjutkan ke pulau Yanuya sebagai destinasi terakhir dari paket perjalanan ini. Dalam waktu 10 menit, kapal sudah sampai di pinggir pantai. Tapi sebelum turun ke Yanuya, Kapten Joe kembali memberikan arahan yaitu dilarang membawa minuman keras, dilarang menggunakan topi pada saat berada di Desa Yanuya, bagi wanita dilarang memakai bikini jadi harus ditutupi dengan sarung atau kain bagian bawahnya, bagi pria dilarang memakai Mankini atau sempak hahaha.

Perlu diketahui, Yanuya adalah désa tradisional Fiji dengan jumlah penduduk hampir 200 orang dipimpin oleh seorang kepala suku (Chief). Desa Yanuya masing memegang budaya dan adat istiadat mereka sehingga harus dihormati. Kepala suku akan menyambut para wisatawan dengan upacara minum Grog atau kava lengkap dengan taki Mada. 2 Wakil wisatawan berusia lebih tua akan menerima minuman kava dari kepala suku. Setelah meminumnya kami bertepuk tangan 3 kali.

Benar saja, sesampainya di sebuah balai pertemuan désa Yanuya kami sudah disambut oleh kepala suku dan masyarakat desa Yanuya. Langsung kami duduk Lesehan dan upacara penyambutan dilaksanakan. Selanjutnya para wisatawan diperkenalkan kerajinan tangan desa Yanuya dan bagi yang tertarik dapat membelinya.

DSCN1002

Balai pertemuan désa Yanuya (Dok. Cech)

DSCN1004

Upacara penyambutan tamu (Dok. Cech)

DSCN1006

Kerajinan tangan desa Yanuya yang dijual (Dok. Cech)

Kurang lebih satu jam di Yanuya, kami kembali ke Seaspray dan tepat jam 4 sore kapal berlayar pulang menuju pulau Mana. Selama perjalanan para kru dan kapten Joe memainkan gitar dan bernyanyi beberapa lagu Fiji serta diakhiri lagu Isa Lei sebagai lagu perpisahan. Sesampainya di Mana, para wisatawan diturunkan di dermaga sambil menunggu kapal South Sea Cruise yang akan menjemput dan mengantar kami ke Denarau Marina dengan rute yang sama pada pemberangkatan. jam 6 sore kami tiba di Denarau Marina. Sungguh perjalanan yang menarik dan melelahkan dalam menyusuri Jejak Tom Hanks di Modriki. BULA BULA VINAKA…

DSCN1517

Dok. Cech

DSCN1647

Dok. Cech

DSCN1616

Foto bersama di dermaga pulau Mana (Dok. Cech)

DSCN1011

Menjelang eenja di Denarau Marina (Dok. Cech)

 

 

 

 

 

Mesjid Bayan Beleq Yang Membuat Mata Melek

Suhu Lombok yang mendekati 33 derajat Celcius berimbas kepada kepala saya sakit. Selesai makan pagi di hotel, saya segera konsumsi obat sakit kepala. Akibatnya selama perjalanan menuju Pusuk Sembalun saya lebih banyak tertidur sehingga kurang dapat menikmati indahnya alam yang menuju ke sana.

Tanpa terasa kurang lebih 2 jam perjalanan terlewati dan saya terbangun karena mobil berhenti di satu tempat. Terpampang tulisan ” Taman Nasional Pusuk Sembalun “, segera saya keluar dari mobil dan mengikuti istri ke satu tempat yang kelihatannya bagus untuk foto-foto. Untungnya cuaca di Sembalun cerah tapi tidak panas menyengat bahkan boleh dikatakan sejuk.

DSCN2879

Dok. Cech 2016

DSCN2880

Dok. Cech 2016

Setelah 2 jam kami menikmati udara sejuk di Sembalun, perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan dan penjualan mutiara khas Lombok. Kembali saya tertidur rupanya pengaruh obat belum hilang juga.

Tiba-tiba mobil berhenti di satu tempat dan tanpa terasa kurang dari satu jam saya tertidur.

“Ini tempatnya Mas Cech yang kemarin saya ceritakan”  ujar Pak Nasib, sang supir.

” Tempat apa ya Pak? ” tanya saya.

” Mesjid tertua di Lombok, Mesjid Bayan Beleq ” jelasnya.

Segera saya keluar dari mobil, panas mulai terasa di badan. Letak mesjid tersebut berada di pinggir jalan utama Lombok Utara. Sebelum masuk terpampang tulisan Mesjid Kuno Bayan Beleq Yang termasuk National Heritage atau dilindungi negara. Tepatnya mesjid ini ada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan Lombok Utara.

DSCN2904

Dok. Cech 2016

Di pintu masuk kami langsung dipandu oleh seorang anak muda yang sepertinya pemandu wisata mesjid tersebut. Kami diharuskan mengisi buku tamu dan dipersilakan untuk memberikan sumbangan sukarela karena tidak ada ketentuan membayar tiket masuk ke area mesjid tersebut.

Dari tempat pengisian buku tamu, bangunan tua seperti bangunan mesjid pada umumnya jelas terlihat. Posisinya berada di dataran tinggi, bentuk bangunan mesjid tersebut serupa dengan bentuk bangunan rumah-rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Bangunan mesjid berbentuk bujursangkar berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah-bilah bambu. Pondasi mesjid menggunakan batu kali tanpa semen.

DSCN2895

Tampak depan mesjid (Dok. Cech)

DSCN2891

Tampak belakang (Dok. Cech)

DSCN2893

Gentong penampung air wudhu (Dok. Cechgentong)

Di depan pintu mesjid terdapat gentong yang diikatkan pada sebuah pohon. Mungkin fungsinya untuk penyimpanan air wudhu. Seperti diketahui Lombok merupakan wilayah kering dan tadah hujan. Selanjutnya ketika saya ingin berjejak ke dalam mesjid. pintu mesjid tertutup dan istri ingin kembali ke mobil karena suhu udara saat itu panas sekali.

Menurut pemandu, Mesjid tidak lagi dipakai untuk umum dan hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti acara Maulid Nabi SAW Itupun dengan peraturan yang sangat ketat karena daya tampungnya hanya untuk 40 orang saja dan sebagian besar adalah kyai. Itulah mengapa pintu mesjid terkunci rapat. Tetapi wisatawan masih diperkenankan mengambil foto dari celah dinding bambu yang seperti sengaja diberi celah yang cukup untuk kamera.

Selain itu pemandu juga menjelaskan tentang adanya makam besar (Beleq) yang terdapat di dalam tersebut yaitu makam Syekh Gaus Abdul Rozak, salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan Bayan. Ada 4 tiang soko guru dari pohon nangka yang menyangga bangunan mesjid. Beduk kayu terlihat juga didalam mesjid dan tergantung di tiang atap mesjid. Di belakang kanan dan depan kiri mesjid terdapat 2 gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk tersebut terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus mesjid ini sedari awal. 

DSCN2897

Beduk kayu (Dok. Cech)

DSCN2899

Atap mesjid (Dok. Cech)

DSCN2902

Bangunan belakang kanan (Dok. Cech

DSCN2896

Bangunan depan kiri (Dok. Cech)

Berdasarkan informasi dari pemandu, Mesjid Bayan Beleq didirikan pada abad ke-17 oleh Sunan Ampel. Dalam penyebaran agama Islam di Lombok Sunan Ampel dibantu oleh salah satu muridnya Syekh Gaus Abdul Rozak yang berasal dari Irak. Tetapi berdasarkan beberapa literatur belum jelas diketahui siapa yang pertama kali membangun Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Tidak terasa 1 jam saya berada di lingkungan mesjid tersebut. Setelah itu saya memberikan salam perpisahan kepada pemandu dan segera menuju ke mobil. Baru saja saya membuka pintu,  tiba-tiba istri mengatakan, “Serem Mas tempatnya maka itu tadi saya kabur duluan ke mobil. Kalau menurut mas bagaimana?” Saya pun menjawab ” Hmmm, justru Mesjid Kuno Bayan Beleq ini membuat mata saya melek. Melek adanya bukti penyebaran Islam di Lombok dan melek terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kasat mata seperti…. Iiiihhh serem!!!  “

Mobil langsung digas oleh Pak Nasib menjauhi lokasi mesjid kuno tersebut menuju Pantai Nipah untuk kembali melek menikmati Sunset.

DSC_0057

Sunset di Pantai Nipah (Dok. Cech)

PERISIEAN Beradu Maka Hujanpun Datang

DSCN3050

” Pak, acara gebuk-gebukan khas Lombok apa namanya ya?  Tanya saya kepada Pak Nasib, Supir mobil sewa yang mengantar kami keliling pulau Lombok.

” Oh PERISIEAN namanya. Mau melihat? Saya akan antar ke lokasinya. Seminggu diadakan 4 kali dan Dinas Pariwisata Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat yang menyelenggarakannya. Biasanya dimulai pada pukul 16.00. ” jelas Pak Nasib.

” Menarik, kami ingin melihatnya, Pak ” pinta kami.

” Oke, Mas Cech ”

Ternyata lokasinya berada di daerah Cakranegara Utara, Mataram. Lokasinya cukup strategis di tengah kota Mataram dan berada di dalam area kuil Hindu yang berdekatan dengan mesjid. Walaupun hujan, tak menyurutkan kami untuk menyaksikan PERISIEAN. Dengan membeli tiket VIP Rp. 20.000 per orang segera kami diantar menuju panggung sehingga kami dapat melihat dengan jelas pertarungan para pepadu. Sementara Pak Nasib dipersilakan masuk secara gratis karena berhasil membawa wisatawan luar Lombok untuk menyaksikan PERISIEAN.

DSC_0059

image

image

Arena pepadu masih lengang walaupun para penonton memasuki area kuil. Penonton masih masih mencari tempat berteduh karena hujan masih deras. Walaupun hujan, panitia telah menyiapkan segalanya mul dari alat musik tradisional, tongkat pepqdu, tamèng,  kursi pengamat, karpet untuk masing-masing kubu pepadu dan lain-lain.

Saat kami menunggu hujan reda, seorang tetua menghampiri kami dan menjelaskan bahwa PERISIEAN adalah acara adat suku Sasak. Nenek moyang suku Sasak melakukan PERISIEAN dengan tujuan mendatangkan hujan karena sebagian besar wilayah suku Sasak daerah jarang hujan atau daerah kering. Hujan dipercayai akan datang apabila kepala salah satu pepadu bocor berdarah akibat kena pukulan tongkat rotan yang keras sekali. Tetapi saat ini PERISIEAN diselenggarakan sebagai acara budaya saja supaya abadi dan lestari.

image

image

Tepat pukul 16.00 acar dimulai. Pembawa acara meminta penonton untuk mendekati arena. Kebetulan hujan telah berhenti. Musik tradisional dimainkan, wasit utama berkaos kuning, 2 pengumpul sawer dan manajer kedua kubu memasuki arena sambil menari dengan girangnya.

Ada 3 sesi acara PERISIEAN hari itu yaitu sesi pertama untuk pepadu pemula, kedua untuk 2 pasang pepadu remwjw dan terakhir sesi utama 5 pepadu dari Narmada melawan 5 pepadu dari Semoyang. Menariknya sebelum dimulai, pembawa acara mengingatkan para hadirin tentan 4 pilar kebangsaan Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Dan suku Sasak adalah salah satu suku di Indonesia yang akan mempertahankan 4 pilar kebangsaan Indonesia tersebut.  Para hadirin menyambut dengan semangat, bersorak sorai dan bertepuk tangan sebagai tanda kesetiaannya. Luar biasa.

image

image

Panitia mengumumkan aturan main dalam PERISIEAN diantaranya pepadu dilarang menusut tongkat ke tubuh lawan, pepadu dilarang memukul apabila lawan terjatuh, dan pepadu dinyatakan menang apabila kepala lawan bocor berdarah terkena pukulan tongkat rotan. Pertarungan dinyatakan seri apabila tidak ada pepadu yang bocor berdarah kepalanya. Ada 4 ronde dalam satu pertarungan. Waktu setiap ronde 60 detik.

image

image

Tanpa terasa sesi pertarungan pertama dan kedua berakhir seri. Selanjutnya acara utama yang mempertemukan 5 pepadu dari wilayah Narmada dan Semoyang dimulai. kelima pepadu dari kedua kubu diperkenalkan di sudutnya masing-masing. Kemudia Manajer dan dukun kedua kubu dikumpulkan oleh wasit utama di tengah arena. Wasit utama mempersilakan kedua kubu bersalaman. Kemudian wasit utama menjelaskan aturan main secara detil kepada kedua kubu.

image

image

image

Kelima pepadu bertarung dengan semangatnya. Kedua pendukung bersorak sorai memberi semangat pepadu jagoannya. Ngeri juga melihatnya tetapi para pepadu tidak terlihat kesakitan walaupun jelas terlihat badannya lembam terkena sabetan tongkat rotan nan keras. Senyum seringai dan kepuasan dari wajah penonton tampak sekali walaupun pertarungan berakhir dengan seri.

” Ini bukan masalah menang atau kalah tapi peninggalan leluhur tetap lestari dan terjaga. Persaudaraan suku Sasak tetap kuat ” terang tetua pertarungan.

Bertumbuh Dalam Lantunan Ilahi

DSCN2345

Saat kau dibenamkan ke dalam tanah, suara azan dilatunkan.

Seiring lantunan kalam ilahi terbaca dalam hati doa-doa agar kau dapat tumbuh besar dan bermanfaat bagi alam semesta.

Saat ini kau telah tumbuh besar dan berbuah lebat. terdengarlah rasa syukur.

Ternyata keistiqomahan dalam merawat, membesarkan, memanjakan, dan mendoakanmu terbukti dan menjadi kenyataan.

Buahmu mulai banyak tumbuh dan sedang menuju kematangan.

Namun demikian kau terus dilatunkan kalam-kalam KemenanganNya.

Bejo

Orang tua Jawa dulu mengatakan lebih baik jadi orang bejo (beruntung) daripada orang pintar.

Pria Jawa berumur 40-an tahun ini bertemu dengan saya karena berprofesi sebagai sopir yang mengantar sofa saya dari Jakarta ke Bandung. Saya memakai jasanya melalui informasi internet.

Penampilannya sederhana dan ramah. Saya berpikir dia hanyalah sopir perusahaan jasa pengangkutan/pengiriman barang. Ternyata selain sopir, dia juga pemilik kendaraan angkutan tersebut (mobil boks).

Sepanjang perjalanan dia banyak bercerita tentang kisah hidupnya. Sudah hampir 14 tahun berprofesi sebagai sopir angkutan barang. Dan baru 2 tahun ini, dia bukan hanya sebagai sopir tapi juga pemilik perusahaan angkutan dengan jumlah armada 10 unit kendaraan yaitu 4 mobil boks, 4 mobil bak terbuka dan 2 truk fuso. Katanya ini semua karena Gusti Allah, kerja keras, dan keberuntungan.

Keberuntungan? 3 tahun lalu teman sekolahnya datang ke kontrakannya. Pada saat itu pria jawa ini masih sebagai sopir freelance. Sudah 2 tahun temannya menjalankan bisnis angkutan dengan modal 2 unit mobil boks tapi tidak ada kemajuan karena sering ditipu oleh sopir-sopirnya.

Temannya meminta dia untuk menjalankan dan melanjutkan bisnisnya karena sudah putus asa dengan bisnisnya tersebut. Kedua mobil boks temannya dipercayakan kepada dia untuk menghasilkan uang. Temannya tidak minta apa-apa dan menyerahkan kepada dia tentang berapa yang harus diberikan tiap bulannya tapi dia selalu memberikan 50 % pendapatannya kepada temannya.

Tanpa dinyana setelah 1 tahun, dia berhasil membeli 2 mobil boks milik temannya tersebut. Dengan kerja kerasnya sampai sekarang jumlah armada angkutannya bertambah menjadi total 10 unit.

“Luar biasa” saya terkagum-kagum.

“Saya suka di jalan, Pak. Kalau tidak membawa kendaraan satu hari saja, badan saya sakit-sakit. Itulah mengapa sampai saat ini saya masih membawa mobil walaupun saya punya anak buah.” cerita pria jawa tersebut.

” Omong-omong nama bapak siapa? ” tanya saya.

” Bejo, Pak ” tegasnya.

” Lengkapnya? “

” Satu kata, Pak. BEJO ” sambil menyerahkan kartu namanya.

Wow, perjalanan Jakarta – Bandung semakin menarik karena banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari Bejo. Saya semakin kagum setelah mendengar rencana  Pak Bejo untuk membeli truk Fuso terbaru pada awal tahun 2016 ini.