Air Sebagai Sumber Biaya Pernikahan

Seorang office boy mempunyai rencana untuk menikahi perempuan pujaan hatinya. Sebulan menjelang hari H, uang yang terkumpul baru Rp. 1 juta. Dia sudah kuatir apakah pernikahannya akan terwujud.

Suatu hari pada saat pulang kerja, dia mendapati ayahnya sakit. Batuk-batuk diikuti dengan keluar darah kental. Dalam keadaan bingung, dia putuskan membawa ayahnya ke rumah sakit dan dengan terpaksa uang pernikahannya 1 juta dipakai untuk pengobatan ayahnya. Dia sudah pasrah dengan rencana pernikahannya. Yang penting ayahnya sembuh dan sehat kembali.

3 minggu menjelang hari H, kampung tempat dia tinggal mengalami kesulitan air. Rumah-rumah besar yang mengeliling rumahnya juga mengalami kesulitan air padahal mereka menggunakan jet pump. Anehnya hanya rumah dia saja, air tetap mengalir walaupun dia hanya menggunakan pompa biasa.

Masyarakat sekitar merasa heran kenapa air tetap mengalir di rumah office boy. Karena sangat dibutuhkan, akhirnya masyarakat sekitar membeli air ke dia walaupun awalnya dia ikhlas memberikan air secara gratis tetapi masyarakat sekitar tetap membelinys.

Hampir 3 minggu, masyarakat mengambil dan membeli air dari rumahnya. Dalam satu hari diperoleh uang pembelian air sebesar 500 ribu sampai 800 ribu. Tanpa terasa uang dari penjualan air terkumpul hampir 15 juta. Dengan uang tersebut maka jadilah office boy menikah dengan perempuan pilihannya.

Yang menarik 2 hari setelah acara pernikahan, air kembali keluar dari pompa-pompa air di lingkungannya. Masyarakatpun dapat menikmati dan memanfaatkan air kembali untuk kebutuhan sehari-hari. Subhanallah.

22 Maret adalah HARI AIR SEDUNIA. Gunakan dan manfaatkan air sebijaksana mungkin. #worldwaterday

World-Water-Day

1 Dari 5 Jenis Tanaman Di Dunia Terancam Kepunahan

Sebuah analisis global tentang  resiko kepunahan tanaman di dunia yang dilakukan oleh Royal Botanic Gardens Kew , Natural History Museum, London dan International Union for the Conservation of Nature (IUCN) mengungkapkan bahwa tanaman di dunia sedang  terancam kepunahan seperti yang terjadi pada mamalia. Satu dari lima spesies tumbuhan dunia terancam punah.

A snapshot of Earth's plant productivity in 2003 shows regions of increased productivity (green) and decreased productivity (red). Tracking productivity between 2000 and 2009, researchers found a global net decrease due to regional drought. Credit: NASA Goddard Space Flight Center Scientific Visualization Studio
Plant At Risk (kew.org)

Penelitian ini merupakan dasar utama bagi konservasi tanaman dan pertama kalinya. Diketahui sekitar 380.000 jenis tumbuhan di dunia terancam kepunahannya. Beberapa negara akan menlakukan pertemuan di Nagoya, Jepang pada pertengahan Oktober 2010 untuk menetapkan target baru pada KTT  Keanekaragaman Hayati PBB.

Para ilmuwan dari Royal Botanic Gardens Kew, National History Museum dan IUCN Specialist Groups melakukan penilaian Sampled Red List Index pada sampel yang representatif tanaman di dunia dalam rangka menyambut  Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional PBB  (United Nations International Year of Biodiversity) dan Target Keanekaragaman Hayati 2010 (2010 Biodiversity Target).

Pekerjaan ini sangat bergantung pada repositori informasi botani yang diadakan di Herbarium,   Perpustakaan, Seni dan Arsip milik Kew yang meliputi delapan juta tanaman  yang diawetkan dan spesimen jamur. Pada spesimen yang diadakan di herbarium Natural History Museum terdapat enam juta spesimen. Semua data spesimen tersebut disimpan dalam bentuk digital data dan melakukan kolaborasi dengan jaringan Kew di seluruh dunia. Hasil Sampled Red List Index untuk Tanaman diluncurkan di Royal Botanic Gardens, Kew pada tanggal  28 September 2010.

All Plants (kew.org)
Endangered Plant (kew.org)
biggest threat to plant life (kew.org)

Stephen Hopper, direktur Royal Botanical Gardens Kew di Inggris menyatakan bahwa penelitian ini memberikan konfirmasi tentang beberapa  jenis  tanaman yang  berada di bawah ancaman kepunahan dengan rusaknya habitat mereka dan penyebab utamanya adalah manusia. Untuk pertama kalinya, para peneliti memiliki gambaran yang jelas tentang resiko  global kepunahan tumbuhan yang dikenal di dunia. Laporan ini menunjukkan ancaman yang paling mendesak dan daerah yang paling terancam.

Namun, sekitar sepertiga dari spesies yang diteliti itu kurang dikenal untuk dilaksanakan penilaian konservasi. Hal ini menunjukkan skala tugas masih  harus dihadapi oleh para  ilmuwan.

Gymnosperma, kelompok tanaman yang meliputi tumbuhan runjung dan sikas adalah tanaman yang paling terancam di Bumi. Secara keseluruhan, laporan ini mengungkapkan bahwa tanaman lebih terancam dibandingkan dengan burung dan beberapa mamalia di planet bumi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hilangnya habitat akibat konversi lahan pertanian  atau peternakan dapat  menimbulkan ancaman terbesar bagi kehidupan tumbuhan dan hutan hujan tropis (ekosistem tanaman yang paling terancam).

Sapi Terkecil Di Dunia

Menurut Guinness World Records, bertubuh kecil bukanlah kelemahan tapi sebuah keberuntungan. Hal inilah yang dialami oleh sapi terkecil di dunia dengan tinggi hanya 33,5 inci (0,8 meter). Sapi mungil  sangat cocok untuk  dijadikan dan bukan sapi pedaging. Sapi ini berhasil diselamatkan dalam  perjalanan menuju  ke rumah jagal.

Swallow (right) is smaller than the average sheep (/www.bbc.co.uk/news)

BBC melaporkan seekor  sapi betina tersebut bernama Swallow. Swallow  adalah sapi Dexter yang  lahir di Newbury, Berkshire pada tahun 1999 dan dibeli oleh Martyn dan Caroline Ryder pada lelang Bibit Hewan Langka tahun  2006. Saat ini Swallow  berusia 11 tahun dan dalam kondisi sedang  hamil.

Pada tanggal 16 September 2010, nama Swallow secara resmi   dimasukkan   dalam buku Guinness World Records edisi terbaru, bersama dengan anjing dengan lidah terpanjang dengan ukuran  4,5 inci (11,4 cm).

Berikut adalah beberapa hewan relatif kecil lainnya :

* Kuda Nil Kerdil (Pygmi Hippo)

The female infant named Kambiri, a pygmy hippo, was born at the Taronga Zoo in Australia on June 26. Credit: Rick Stevens.

* Pygmy tarsier

Tarsiers like this pygmy tarsier can't move their super-sized eyes. Instead they can rotate their heads 180 degrees. Credit: Sharon Gursky-Doyen/Texas A&M University.

* Tiny pterodactyl

This artist's interpretation shows Nemicolopterus crypticus, a small derived flying reptile that lived in the gingko forests that existed some 120 million years ago in present-day China. Credit: Michael Skrepnick.

* Bunglon Wee (Wee Chameleon)

This is the only photograph on record to date of the newly identified chameleon called Kinyongia magomberae. Credit: Andrew Marshall/African Journal of Herpetology.

* Dinosaurus Kecil (Diminutive Dinosaur)

The dwarf dinosaur, Magyarosaurus dacus, which lived in what is now Transylvania, was about the size of a horse and weighed some 230 pounds (103 kg). Its giant relatives could weigh up to 220,000 pounds (100,000 kg). Credit: Mihai Dumbrava, liliensternus.deviantart.com.

Peringkat Environmental Performance Index (EPI) Indonesia di Dunia

Pada tanggal 28 Januari 2010, Universitas Yale dan Universitas Columbia mengeluarkan pemeringkatan terhadap 163 negara di dunia yang memperhatikan lingkungan hidupnya. Peringkat ini didasarkan pada sebuah indeks yang bernama Environmental Performance Index (EPI). EPI adalah sebuah metode untuk mengukur dan melakukan perbandingan kinerja lingkungan atas kebijakan suatu negara.

Global Environmental Performance Index 2010 (www.gisintersect.com)

Sejak tahun 2002, peringkat EPI pada 163 negara di dunia dikeluarkan dalam rangka mendukung program Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang pembangunan berwawasan lingkungan yang dikenal dengan nama Millennium Development Goals. EPI ini dikeluarkan secara rutin tiap 2 tahun sekali.

Pada tahun 2010 ini pemeringkatan EPI berdasarkan pada 25 indikator kinerja terhadap 10 kebijakan pembangunan sebuah negara dalam kaitannya dengan perlindungan lingkungan seperti tingkat polusi udara, undang-undang perlindungan laut, kualitas air dan tingkat penanaman pohon baru (reboisasi). Apa saja indikator-indikator tersebut ?. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat EPI INDICATORS.

Berikut adalah 30 negara-negara di dunia yang mempunyai nilai EPI terbaik tahun 2010 :

1. Islandia 93,5

2. Swiss 89,1

3. Kosta Rica 86,4

4. Swedia 86,0

5. Norwegia 81,1

6. Mauritius 80,6

7. Perancis 78,2

8. Austria 78,1

9. Kuba 78,1

10. Kolombia 76,8

11. Malta 76,3

12. Finlandia 74,7

13. Slovakia 74,5

14. Inggris 74,2

15. Selandia Baru 73,4

16. Chile 73,3

17. Jerman 73,2

18. Italia 73,1

19. Portugal 73,0

20. Jepang 72,5

21. Latvia 72,5

22. Republik Ceko 71,6

23. Albania 71,4

24. Panama 71,4

25. Spanyol 70,6

26. Belize 69,9

27. Antigua and Barbuda 69,8

28. Singapore 69,6

29. Serbia 69,4

30. Ekuador 69,3

Sebagai perbandingan dengan peringkat EPI tahun 2008 dapat dilihat disini.

http://www.labs.timesonline.co.uk

Bagaimana dengan Indonesia ? Pada tahun 2010 Indonesia berada pada peringkat ke-134 dengan nilai EPI 44,6 (GDP per capita: $3,335 dan Population: 225,630,000). Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada Indonesian’s EPI Scores.

Bila dibandingkan dengan EPI tahun 2008 , Indonesia mengalami penurunan nilai EPI dan peringkat EPI. Artinya pemerintah Indonesia harus lebih konsisten dan serius dalam memperhatikan, mendukung, dan melaksanakan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan. Penurunan EPI selama 2 tahun ini sangat signifikan bila melihat makin meluasnya bencana yang disebabkan oleh perusakan lingkungan seperti banjir, kebakaran hutan, tanah longsor, kelaparan, penyakit menular dan sebagainya.

http://geospasial.bnpb.go.id

Penurunan peringkat EPI tidak hanya dialami oleh Indonesia, ada beberapa negara yang secara signifikan mengalami penurunan. Salah satunya adalah negara adidaya Amerika Serikat. Memang sangat mengejutkan.

Pada tahun 2008 Amerika Serikat menduduki peringkat ke-39 dengan skor EPI 81,0 tetapi pada tahun 2010 hanya menduduki peringkat ke-61 dengan skor EPI 63,5. Menurut Marc Levy, wakil direktur Columbia University Center for International, penurunan peringkat EPI disebabkan oleh ketidakpercayaan sebagian besar masyarakat Amerika Serikat terhadap isu perubahan iklim sehingga diperlukan kampanye besar-besaran tentang isu perubahan iklim agar masyakat Amerika Serikat dapat lebih mudah memahami apa itu perubahan iklim terutama yang terjadi di sekitar lingkungan mereka. Selain itu kampanye tersebut dapat menyadarkan masyarakat Amerika Serikat tentang jauh tertinggalnya Amerika Serikat di belakang negara-negara Eropa dalam pengendalian emisi gas rumah kaca, polusi udara dan perubahan iklim selama 20 tahun terakhir.

US Enviromental Protection Agency sedang melakukan penurunan pelepasan limbah berbahaya selama produksi industri dengan menetapkan National Waste Minimization Goal. Langkah ini bertujuan agar masyarakat dan industri melakukan kerjasama dalam mengurangi penggunaan dan pelepasan 4 juta pon bahan kimia berbahaya yang ditemukan pada proses manufaktur di Amerika Serikat pada tahun 2011.

Pelajaran yang didapat dari pemeringkatan EPI ini adalah sudah saatnya masyarakat Indonesia menggunakan bahan-bahan produksi yang mudah didaur ulang dan mengubah perilaku masyarakat untuk memanfaatkan sampah organik dan mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi kesuburan tanaman. Selain itu dituntut partisipasi masyarakat Indonesia yang tinggi dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.