Nasionalisme Itu Dengan Laku Lampah Bukan Dengan Omongan

” Dengar kata Uyut, Cech. Jangan pernah berpikir ingin jadi orang Sakti. Karena apa? SAKTI itu sama dengan meruSAK haTI. Contohnya mudah. Lihat Superman. Saking SAKTInya pakai celana dalam di luar bukan di dalam. “

” Manusia itu yang dinilai bukan dari kaya dan kepintarannya. Tetapi yang dinilai adalah apa yang telah dilakukan dengan kekayaan dan ilmunya bagi banyak orang. “

Begitulah 2 nasehat yang diberikan oleh almarhum Kakek Buyut (Uyut) dan almarhum bapak saya.

Seiring waktu, saat ini saya tinggal dan bekerja di Fiji. Banyak orang yang mengenal saya terkejut dan kaget.

” Ngapain kamu di Fiji “

” Fiji itu dimana ? “

” Kalau hanya untuk cari uang sih oke oke saja ! “

” Negeri antah berantah, ndak jelas “

” Fiji, negara kecil dan apa yang bisa  kamu perbuat dari negara yang jumlah penduduknya hanya 800 ribuan. “

Tak disangka sudah hampir satu tahun saya di Fiji. Banyak peristiwa dengan segala duka dan citanya. Saya menikmati keberadaan di Fiji. Walaupun jauh dari tanah air tetapi tidak melunturkan semangat untuk berbuat sesuatu untuk diri, keluarga, bangsa dan negara. Wuidihhh hebat banget… bangsa dan negara coy (ikutan kang Mukti ah heheheh)

Ya benar 2 kata yang melekat yaitu bangsa dan negara menjadi penyemangat dan menambah keyakinan diri kalau saya bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat dan memberikan energi positif bagi tanah air walaupun masih terbilang redup-redup energi positifnya.

Terlepas dari hiruk pikuknya pemberitaan mengenai tanah air terutama masalah korupsi, kekuasaan dan sebagainya tetap tidak melunturkan semangat untuk memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk anak cucu saya nanti. Bagaimana ? Bagaimana ya !!! Hmm banyak yang bisa dilakukan.

Indonesia belum habis, Indonesia belum tamat, Indonesia tak akan bubar. Lihat saja boleh saja Indonesia berganti pemimpin mulai dari tingkat RT sampai Presiden tetapi tetap saja Indonesia kokoh berdiri. Tetapi Mas, korupsi yang merajalela dan lemahnya hukum di negeri ini bisa membuat kita putus asa lho. Begitulah kata seorang teman.

” Mas… mas … mas pernahkah mendengar orang kecil bicara seperti ini berkali-kali kita pemilu dan ganti pejabat tetap saja hidup saya masih seperti ini. Jaman pak Harto  tukang burjo ehhh reformasi tetap tukang burjo. Tidak ada perubahan “

Ya jelas tidak berubah karena emang belum mau berubah.Ingat Allah tidak akan mengubah suatu kaum apabila kaum itu tidak mau mengubahnya. Jadi kita harus berubah. Berubah menjadi lebih baik dan itu dimulai dari diri sendiri. Klise ya hehehehe

Apa hubunganya dengan Fiji ? Saya akan menceritakan pengalaman  saya selama di Fiji. Awal kedatangan, saya membayangkan Fiji sebagai negara yang maju karena Fiji terkenal dengan resort, pantai dan tujuan wisata yang eksotik bagi turis-turis seluruh dunia. Sesampainya di Fiji, lho kok seperti ini. Pernah ke Kupang ? Ya seperti itulah Suva, ibukota Fiji. Penduduknya hampir sama dengan saudara-saudara kita di Papua karena mereka memang satu ras yaitu ras Melanesia. Walaupun di Fiji hampir 36% penduduknya keturunan India yang dibawa oleh kolonial Inggris untuk menggarap tebu sekitar 100 tahun yang lalu. Seth.

Makanan pokok penduduk asli Fiji adalah singkong, talas, ubi, dan sukun. Sedangkan beras banyak dikonsumsi penduduk Fiji keturunan India. sebagian besar beras diimpor dari Vietnam, Thailand danIndia. Nah inilah menariknya dan ada kaitannya dengan demi bangsa dadn negara.

Sebuah pertemuan yang tidak disengaja pada saat KBRI mengadakan kegiatan Bula Indonesia. Pada saat itu saya memperkenalkan produk bumbu untuk makanan ringan. Saya pikir bumbu tersebut sudah sangat familier bagi masyarakat Fiji. Ternyata salah dugaan saya. Mereka terbengong-bengong ingin mengetahui dan mencicipi bumbu tersebut. Gara-gara bumbu itulah saya diperkenalkan oleh seorang Suster asal Indonesia kepada Kepala Agriculture Research Center Koronivia dan salah seorang staf peneliti yang biasa menangani masalah kimia pangan.

Perkenalan tersebut berlanjut hingga sekarang ini. Kita saling berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang produk-produk olahan pertanian. Ketika saya bercerita tentang teknologi pengolahan hasil pertanian di Indonesia, mereka semakin merasa heran dan terkagum-kagum. How come ? kata mereka. Padahal apa yang saya ceritakan baru teknologi sederhana yang sudah banyak dikerjakan oleh industri kecil dan menengah di Indonesia.

Contohnya adalah singkong. Singkong bisa diolah menjadi gaplek, tepung gaplek, tapioka, tepung Mocal, keripik singkong berbagai rasa, tape sampai bio fuel. Makin terbengong-bengong saja mereka. lah kok pada bengong pikir saya pada saat itu. Artinya…. Ya mereka jauh tertinggal dari Indonesia dalam teknologi pertanian.

Sebagai orang yang mempunyai basic ilmu teknologi pertanian bolehlah berbangga sedikit walaupun ilmu yang saya miliki masih belum apa-apanya dibandingkan dengan ahli-ahli teknologi pertanian di Indonesia.

” Cech, memang di Fiji sudah ada fakultas teknologi pertanian terutama teknologi hasil pertanian. Tetapi lulusannya hanya diajarkan teori saja karena keterbatasan tenaga pengajar yang mampu mempraktekkan ilmunya untuk mengolah dan mengembangkan potensi pertanian dan perikanan yang ada di Fiji. Cech tahu sendiri khan bagaimana saya sempat kagum ketika Cech cerita tentang singkong, talas, ubi dan sukun bisa diolah menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomis. Serius Cech saya kagum dan bersyukur bertemu dengan Cech ” Itulah yang dikatakan oleh  salah satu staf peneliti Agriculture Research Center.

Wao kata saya dalam hati. Dan benar saja sewaktu saya diajak oleh seorang pengusaha Fiji bertemu dengan seorang kepala suku dan tuan tanah (Magali) dimana saya disuruh untuk mempresentasikan teknologi pengolahan hasil pertanian yang ada di Indonesia. langsung beliau memeluk saya dan mengatakan bahwa saya lah orang yang dicari-cari selama ini. Waduh makin besar saja hidung saya ini hehehehe.  Beliau mengatakan banyak lahan di Fiji yang belum dimanfaatkan. Penduduk hanya mengandalkan tanaman singkong dan talas sebagai sumber pendapatan. Itupun dijual dalam bentuk mentahnya saja dan belum diolah menjadi berbagai macam produk olahan.

Ini baru singkong dan talas bagaimana dengan sukun, pisang, pepaya, nangka, ubi, coklat, kelapa dan lain-lain. Sari buah mengkudu saja  baru sekarang diperkenalkan dan itupun yang mengerjakan orang asing. Terus jahe yang diolah menjadi dried ginger, slice ginger dan asinan jahe tetapi yang mengerjakannya justru pengusaha dari Cina. Jadi bagaimana dong Cech ? Bisa bantu kami ?

Langsung saja otak saya bekerja. Bagaimana caranya agar bisa membantu mereka tetapi konsep demi bangsa dan negara dijalankan ? Ahah akhirnya saya mendapatkan caranya. Indonesia adalah negara pertanian tetapi pada saat ini belum memungkinkan Indonesia melakukan investasi besar-besaran di Fiji seperti yang dilakukan Cina. Sebagai negara bekas jajahan Inggris (Commowealth), Fiji banyak mendapatkan bantuan ekonomi dari Australia, Selandia Baru, Inggris dan Uni Eropa walaupun pada saat ini keanggotaan Fiji dibekukan karena aksi kudeta tahun 2006 dan pemerintah sekarang menolak permintaan negara-negara Barat untuk segera melaksanakan pemilu.

Banyak alat pertanian seperti traktor didatangkan dari Australia dan Selandia Baru tetapi banyak pula yang jadi besi tua karena keterbatasan pengetahuan dan suku cadang. Ini semua berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan di Fiji. Ini menjadi peluang yang baik untuk Indonesia. Mengapa tidak menerapkan teknologi tepat guna ala pertanian Indonesia yang mudah, praktis dan relatif terjangkau bagi masyarakat Fiji seperti teknologi pengolahan singkong, talas, ubi dan sebagainya. Mulai dari alat dan mesin pencuci singkong, pengupas kulit singkong, pengiris singkong, pengering singkong, penggilingan chip singkong, sampai pengemasan tepung dan keripik singkong. Itu baru singkong dan belum yang lainnya.

Selain itu Fiji membutuhkan tenaga ahli pertanian mulai dari ahli tanaman sampai ahli pengolahan pertanian. Indonesia boleh berbangga karena bisa mengirimkan TKI yang mempunyai kemampuan dan berkualitas.

Langsung pikiran saya tertuju kepada sosok Bung Karno. Apa maksud beliau mempelopori Gerakan Non Blok dan Konferensi Asia Afrika. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan konstelasi polkam pada saat itu dimana terjadi perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Ada tujuan dibalik itu yaitu dengan kekuatan 2/3 penduduk dunia (penduduk Asia Afrika) merupakan potensi pasar bagi produk-produk Indonesia. Sayangnya semua itu hanya cerita sejarah. Ibarat orang yang selalu melihat ke atas tetapi tidak memperhatikan apa yang ada di depan, di belakang bahkan di bawah. Ingin seperti lompatan katak dan serba instan yang mengabaikan proses.

Di tulisan ini saya mengajak seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada  untuk menjadi agen pemasaran produk-produk Indonesia. Sekecil apapun nilainya, setidaknya kita telah melakukan karena nasionalisme bukan dengan omongan tetapi dengan laku lampah dalam konsep “demi bangsa dan negara”.

13222163621276022056
Bus buatan Indonesia di Fiji (flickr.com)

NB: sekedar info beberapa pengusaha bus di Fiji sampai tahun 2012 telah memesan 40 bus buatan Indonesia dan baru terpenuhi 14 bus pada tahun 2011. Ini sebuah kebanggaan bagi Indonesia walaupun banyak yang mengatakan Indonesia hanya merakit saja tetapi jangan salah kalau bus yang dikirim tersebut 80% komponennya asli buatan Indonesia.

Studi Global : Uang Dapat Membeli Kebahagiaan ?

Apakah sebuah negara yang telah berhasil merubah dirinya  dari negara miskin menjadi  negara makmur dapat membuat penduduknya bahagia ? Jawabannya adalah salah,  menurut sebuah studi baru dari 54 negara di seluruh dunia yang dipublikasikan di Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 13 Desember 2010.

 

Money Doesn't Buy Happiness (thoughtitthrough.com)

Uang tidak dapat  membeli kebahagiaan dalam jangka waktu yang lama. Peneliti Richard Easterlin, seorang profesor ekonomi di University of Southern California mengatakan hasil studi tersebut berlaku untuk  negara-negara maju dan berkembang di seluruh dunia.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang atau transisi  tidak secara signifikan memberikan peningkatan kebahagiaan penduduknya. Kita sudah tahu bahwa benar adanya bagi negara-negara maju tetapi sekarang studi  sudah diperluas terhadap   negara-negara dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah.

Hampir 40 tahun yang lalu, Easterlin telah menemukan pola ekonomi aneh di Amerika Serikat.  Jika kita melihat data yang ada maka  orang kaya lebih bahagia daripada orang miskin dan negara-negara kaya memiliki tingkat kepuasaan populasi lebih tinggi  dibandingkan dengan negara-negara miskin. Tetapi bila kita melihat data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu maka lebih banyak pendapatan tidak menjadi jaminan kebahagiaan. Hal ini menhadi sebuah paradoks kebahagiaan atau dikenal dengan “ Easterlin Paradox “.

Easterlin paradox menjadi subyek perdebatan banyak akademisi.  Studi baru yang dilakukan oleh Easterlin  menguatkan temuan yang lebih luas tentang paradoks  ini. Para peneliti mengumpulkan data kebahagiaan  selama  10-34 tahun dari 17 negara Amerika Latin, 17 negara maju, 11 negara Eropa Timur (transisi dari sosialisme ke kapitalisme) dan 9 negara kurang berkembang. Mereka tidak menemukan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kebahagiaan dalam hal apapun.

Bahkan di negara seperti Cina, para peneliti menemukan bahwa peningkatan  pendapatan per kapita  dua kali lipat dalam 10 tahun ternyata tidak ada peningkatan kebahagiaan secara signifikan. Korea Selatan dan Chile telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang sama tanpa  ada peningkatan kepuasan.

Menurut Easterlin, paradoksnya tidak akan  tampak di permukaan dengan alasan  baik kebahagiaan  dan pendapatan hanya dapat dikaitkan dalam jangka pendek tetapi  tidak selama bertahun-tahun. Ketika pendapatan masyarakat naik, maka naik pula  aspirasi masyarakatnya.  Ketika pendapatan turun maka  aspirasi masyarakatnya  tidak turun. Tidak ada yang ingin menyerah terhadap  standar hidupnya karena mereka telah terbiasa. Jadi dalam jangka pendek, sebuah keruntuhan ekonomi memang menyakitkan. Sementara itu  pertumbuhan ekonomi dirasakan membaik.

Pendapatan penduduk yang makin meningkat   berakibat semakin meningkatnya aspirasi mereka. Seiring waktu, perubahan aspirasi meniadakan pengaruh perubahan pendapatannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dan pembuat kebijakan harus berfokus pada faktor-faktor non-moneter, seperti masalah kesehatan dan keluarga dimana sangat  mempengaruhi tingkat kebahagiaan. Pertumbuhan ekonomi mungkin bukan cara untuk  mendapatkan kebahagiaan. Ada jalan lain yang dapat menghasilkan lebih banyak kebahagiaan.

Easterlin mengatakan dia mengharapkan kontroversi lebih lanjut mengenai paradoks nya. Pembuat kebijakan umumnya sangat enggan untuk menerima kesimpulan tentang pertumbuhan ekonomi. Tetapi beberapa waktu lalu ekonom Justin Wolfers dari  University of Pennsylvania menuliskan  argumentasi tandingan di blog Freakonomics,  New York Times dan  berpendapat bahwa studi baru tidak membuktikan adanya paradoks Easterlin.

Wolfers mengatakan bahwa dalam menyusun dataset, Easterlin mengambil satu jenis data  dan memilih apa yang diinginkannya. Survey  Easterlin dan rekan-rekannya menganalisa beberapa kuosioner yang  diajukan tentang kepuasan hidup dengan cara yang berbeda dan tidak dapat disatukan.  Apa yang dipunyai oleh Easterlin  adalah data yang tidak akurat (noisy data) dan  akan sulit untuk menemukan hubungan yang signifikan, tetapi itu tidak berarti hasilnya adalah nol.

Empati Si Kaya Dan Si Miskin

Apakah sebuah kebetulan atau bukan ? Dalam kondisi negara Indonesia yang sedang dirundung kemalangan dengan adanya bencana di beberapa daerah maka tanpa sengaja saya menemukan sebuah penelitian terbaru yang mungkin berkaitan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Apalagi bulan ini tepat seluruh umat Islam di dunia termasuk di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan akan merayakan Hari Raya Idul Fitri maka sudah sepantasnya  ditonjolkan simbol kesederhanaan, kasih sayang, pengorbanan dan lebih utama adalah mengasah rasa empati kita sebagai umat manusia.

Dalam sebuah studi baru yang dipublikasikan secara online pada Jurnal  Psychological Science edisi 25 Oktober 2010  ditemukan bahwa orang miskin yang mempunyai rasa empati  lebih baik  daripada orang  kaya yang tidak mempunyai rasa empati. Uang tidak akan  bisa membeli kebahagiaan dan status  sosial seseorang.

empathy (americajr.com)

Dalam beberapa percobaan, orang-orang dengan status sosial ekonomi tinggi (atau orang yang menganggap dirinya lebih baik)  cenderung mempunyai emosi yang buruk dan mudah  menghakimi orang lain  baik pada saat  melihat foto-foto dan berinteraksi dengan orang. Michael Kraus, seorang peneliti postdoctoral dalam bidang psikologi di University of California, San Francisco mengatakan bahwa mungkin alasannya adalah  masyarakat berpenghasilan rendah atau berpendidikan rendah harus lebih responsif terhadap orang lain untuk mendapatkan sesuatu. Ternyata menjadi  empati menyediakan kemampuan yang lebih baik untuk merespon ancaman sosial. Hal ini juga memberi kesempatan untuk merespon peluang sosial.

Penelitian Kraus  sebelumnya telah menemukan bahwa orang kaya lebih kasar   dalam melakukan percakapan dengan orang asing daripada orang miskin. Kraus juga menemukan bahwa orang miskin lebih murah hati dengan hartanya dibandingkan dengan orang kaya. Empati orang miskin  yang lebih besar itulah yang  bisa menjadi akar dalam berbuat amal.

Para peneliti melakukan tiga percobaan untuk menggali lebih  dalam tentang  kesenjangan empati  antara kaya dan miskin. Pada percobaan pertama, para penelitis  fokus pada aspek pendidikan dari  status sosial ekonomi (socioeconomic status (SES)). Para peneliti merekrut 200 pegawai universitas, mulai dari personel pendukung kantor, pendidik sampai manajer. Kemudian para peneliti  mengumpulkan data pencapaian pendidikan para relawan dan meminta mereka untuk mengidentifikasi ekspresi wajah dalam serangkaian foto.

Ini seperti salah satu tes sekolah yang belum tentu menjamin sebuah kelulusan. Beberapa relawan  yang hanya menyelesaikan pendidikan SMA mencetak skor  rata-rata 7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pendidikan perguruan tinggi. (Skor mentah dikonversi ke sebuah  skala di mana rata-rata  peserta dalam penelitian ini mencetak  100,89. Ketika jumlahnya dipecah berdasarkan  pendidikan maka  peserta yang hanya menyelesaikan pendidikan SMA mencetak skor rata-rata 106 dibandingkan dengan peserta berpendidikan tinggi yang mencetak skor  rata-rata 99)

Pada percobaan kedua para peneliti merekrut  106 orang mahasiswa  yang melakukan interaksi  satu sama lain dalam sebuah wawancara kerja palsu. Para relawan diminta untuk menilai emosi mereka sendiri dan emosi pasangan mereka selama wawancara. Mereka yang status sosial ekonominya lebih tinggi  ternyata memperoleh hasil yang buruk dalam hal keakuratan menebak emosi pasangan mereka. Kraus menyatakan kalau penelitian ini dilakukan secara umum tanpa berdasarkan jenis  kelamin dan  latar belakang etnis.  Dan  benar-benar terlihat bahwa orang kelas bawah menunjukkan akurasi empati yang lebih besar dalam studi.

Tetapi apakah  orang yang secara finansial kaya mendapatkan semua yang dimilikinya sekarang karena mereka lebih berfokus pada diri? Apakah  kekayaan tidak mempengaruhi empati, tetapi justru empatilah yang mempengaruhi kekayaan? Untuk mengetahuinya, para peneliti merekrut 81  orang mahasiswa yang berbeda. Kali ini, para peneliti meminta beberapa mahasiswa untuk memvisualisasikan individu yang luar biasa kaya seperti Bill Gates.

Selanjutnya, beberapa mahasiswa diberi tahu untuk menempatkan diri pada status sosial ekonomi dan membayangkan  seseorang yang benar-benar kaya. Membayangkan Bill Gates berarti memicu para mahasiswa untuk menempatkan dirinya   pada status  lebih rendah daripada seharusnya mereka miliki. Sementara itu mahasiswa lain yang diminta untuk membayangkan seseorang yang benar-benar miskin maka mereka  menempatkan dirinya  relatif lebih tinggi dalam statusnya.

Akhirnya, 81 orang mahasiswa melihat 36 foto close-up mata dan menilai emosi yang terdapat pada foto-foto tersebut. Ternyata  foto-foto tersebut  berhasil memanipulasi penglihatan beberapa mahasisiwa yang merasa sebagai  kelas bawah dengan skor  6 persen lebih baik daripada mereka  mempersepsikan dirinya sebagai kaya.

Vladas Griskevicius, seorang psikolog University of Minnesota yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan hasol penelitian ini sangatlah menarik untuk disimak. Kebanyakan peneliti akan berharap bahwa orang-orang dari latar belakang SES tinggi  akan lebih baik membaca orang lain. Tetapi penelitian ini justru menemukan bahwa orang-orang dari latar belakang SES yang lebih rendah memiliki keselarasan dengan apa yang orang lain pikir dan rasakan.

Pada saat ini Kraus dan rekan-rekannya tertarik untuk menemukan cara mempengaruhi tingkat empati rakyat. Kraus  mengatakan bahwa menjadi empati merupakan salah satu langkah pertama untuk membantu orang lain. Hal pertama yang benar-benar menarik  perhatian adalah apakah   kita bisa membuat orang menjadi kaya. Orang kaya dengan kemampuan besar untuk memberi dan  memiliki rasa  empati.

Resesi Menyebabkan Perubahan Mendalam Dan Aneh Bagi Masyarakat Amerika

recession fading (timdyson.wordpress.com)

Pada hari Senin, 20 September 2010 National Bureau of Economic Research secara resmi mengumumkan bahwa resesi  telah  berakhir sejak  Juni 2009.  Namun dampak resesi keuangan masih terasa  bagi banyak orang dan ada kecenderungan terjadinya perubahan besar dalam kehidupan masyarakat mulai  dari kebiasaan konsumen sampai tingkat kelahiran. Bukan itu saja ada hal-hal yang lebih aneh akibat dari dampak resesi finansial di Amerika Serikat, diantaranya :

Menurunnya Kasus  Serangan Ikan Hiu

Pada tahun 2008, serangan ikan hiu terhadap manusia  di seluruh dunia  mengalami penurunan yang tajam  ke level terendah dalam lima tahun terakhir. Menurut ahli ikan George Burgess dari University of Florida, hal ini menandakan bahwa rakyat Amerika Serikat mulai mengurangi  perjalanan liburan ke pantai. Jumlah serangan hiu menurun dari 71 kasus  (2007) menjadi 59 kasus (2008, terendah  sejak tahun 2003 dimana terdapat 57 kasus.

Penurunan Konsumsi Energi

Masyarakat Amerika Serikat secara signifikat mengurangi pemakaian batu bara dan  minyak bumi pada tahun 2009 bila dibandingkan dengan tahun 2008, dan penurunan yang lebih signifikan terjadi pada pemakaian energi angin, berdasarkan Diagram Aliran Energi yang dikeluarkan  oleh Lawrence Livermore National Laboratory (LLNL) di Livermore, California.  Para peneliti juga mengatakan adanya penurunan pemakaian  gas alam dan peningkatan penggunaan sumber-sumber energi alternatif, termasuk surya, dan tenaga panas bumi hidrotermal.

Penurunan Tingkat Kelahiran

Pew Research Center (analysis of state fertility and economic data) menyatakan bahwa Tingkat Kelahiran di Amerika Serikat  mulai menurun di tahun 2008, setelah naik ke tingkat tertinggi dalam dua dekade. Tampakanya penurunan ini terkait dengan krisis ekonomi. Analisis ini menemukan adanya hubungan yang kuat antara besarnya perubahan rate kelahiran tahun 2007-2008 dan tingkat penyitaan perumahan di tahun 2007. Selama dekade terakhir, tingkat kelahiran kasar mencerminkan tren naik dan menurunnya  ekonomi nasional.

Penurunan Tingkat Kejahatan Dengan Kekerasan

Menurut laporan awal FBI yang di dirilis pada bulan Mei 2010, telah terjadi penurunan kejahatan dengan kekerasan sebesar 4,4 persen di tahun 2009 dibandingkan dengan 2008. The Uniform Crime Reporting Program, yang mengumpulkan data dan laporan kejahatan untuk FBI, mendefinisikan kejahatan kekerasan sebagai kejahatan yang melibatkan kekerasan atau ancaman kekerasan.

Perempuan Dengan Bobot Lebih Berat Lebih Disukai (Lebih Indah)

Dua studi yaitu  pertama  menggunakan aktris film Amerika dan kedua  Playboy Playmates of The Year, menemukan bahwa di masa ekonomi yang tidak pasti, ikon keindahan  cenderung mencari perempuan sedikit lebih “dewasa”,  lebih tinggi, lebih berat dan ukuran  pinggang yang lebih besar serta raut wajah kurang kekanak-kanakan. Kondisi sosial dan  ekonomi, seperti pengangguran dan tingkat pembunuhan, berpengaruh terhadap  apa yang dilihat sebagai sifat-sifat yang menarik, menurut para peneliti Coastal Carolina University.

Mayat Menumpuk

Kesulitan ekonomi menyebabkan banyak anggota keluarga tidak mampu untuk melakukan penguburan yang tepat bagi saudaranya yang meninggal dunia. Sebagai contoh, kamar mayat Wayne County di tengah kota Detroit telah melaporkan adanya  67 mayat yang tidak diklaim oleh keluarganya  pada bulan Oktober 2009. Sepertinya  baik keluarga  almarhum maupun pemerintah daerah tidak  mampu menguburkan orang mati, dimana mayat masih ditumpuk di lemari es kamar mayat. Pada bulan Juli 2009, kremasi meningkat menjadi 36 persen di Los Angeles, California karena banyaknya  mayat yang tubuh tidak diklaim oleh siapapun.

Penundaan Usia Dewasa

Menurut Richard Settersten, seorang profesor ilmu pembangunan manusia dan keluarga di Oregon State University dan Barbara Ray, presiden Hired Pen, Inc., banyak anak muda di Amerika Serikat menunda usia dewasanya yang ditandai dengan meninggalkan rumah dan menjadi dewasa penuh. Banyak anak muda mulai merasakan kondisi tidak aman secara finansial dan hanya membawa pulang upah rendah sehingga  mereka  lebih berat mengandalkan kepada orang tua mereka untuk bantuan keuangan.

Peningkatan Kebutuhan Lahan Pertanian Secara Global, Siapa Yang Diuntungkan ?

Krisis harga pangan baru-baru ini memungkinkan  suatu kepentingan untuk memperoleh tanah pertanian di luar negeri untuk mengamankan pasokan pangan. Bersama dengan boomingnya  biofuel dan krisis keuangan, hal itu mengarah pada suatu penemuan kembali sektor pertanian sebagai sektor yang menggiurkan  dengan berbagai jenis investor. Namun, ada kekhawatiran bahwa gelombang investasiini  bisa menghilangkan hak-hak masyarakat lokal dan mata pencaharian mereka. Data yang terpercaya  pada akuisisi tanah sangatlah langka sehingga  menyebabkan spekulasi dan membuat sulit bagi para stakeholder untuk membuat keputusan berdasarkan  informasi yang baik.

Clear cutting for agriculture in Brazilian Pantanal (physorg.com)

Untuk mengisi gap ini, Bank Dunia melakukan kajian komprehensif, melakukan dokmentasi  pengalihan tanah secara aktual  di 14 negara, memeriksa  19 proyek, me-review kembali laporan media  dan mengeksplorasi potensi yang ada  untuk meningkatkan hasil pertanian.

Permintaan akan lahan sangat  besar. Dilaporkan bahwa jumlah transaksi tanah pertanian skala besar pada tahun 2009 saja sebesar 45 juta hektar. Itu sebanding  dengan tingkat ekspansi rata-rata 4 juta hektar per tahun dalam satu dekade menjelang tahun 2008. Ada indikasi yang kuat, para investor mengarahkan fokusnya  pada negara-negara Afrika dengan alasan lemahnya aturan pemerintah dalam mengolah lahan. Selain itu tanah sering ditransfer dengan cara  mengabaikan hak atas tanah yang ada dan tidak berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Berikut ini adalah rekomendasi dari laporan Bank Dunia yang  meliputi :

1.  Melindungi dan mengakui hak atas tanah yang ada, termasuk  hak sekunder seperti penggembalaan.

2.  Buatlah upaya yang lebih besar untuk mengintegrasikan strategi investasi ke dalam strategi nasional pembangunan pertanian dan pedesaan, memastikan bahwa standar sosial dan lingkungan telah  diikuti.

3. Meningkatkan kerangka hukum dan kelembagaan untuk menangani meningkatnya sengketa lahan.

4. Meningkatkan penilaian atas kelayakan ekonomi dan teknis proyek-proyek investasi.

5. Terlibat dalam proses yang lebih konsultatif dan partisipatif untuk membangun inisiatif sektor swasta yang ada dan standar hibah seperti Equator Principles and the Forest Stewardship Council (penerapan standard lingkungan oleh bank dan lembaga keuangan internasional)

6. Meningkatkan transparansi akuisisi tanah, termasuk mekanisme keterbukaan sektor swasta secara efektif.

Pada tanggal  13 September – 8 Oktober 2010 secara bersama-sama  akan diadakan diskusi secara online (eDiscussion) untuk membahas laporan BankDunia tersebut. eDiscussion yang terbuka untuk umum  ini diselenggarakan oleh Global Donor Platform untuk Pembangunan Pedesaan  (Global Donor Platform for Rural Development) dan Institut Internasional untuk Pembangunan Berkelanjutan (International Institute for Sustainable Development)

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan masukan dan rekomendasi untuk langkah selanjutnya dari perspektif tiga kelompok kunci stakeholder  yaitu masyarakat madani, sektor publik dan sektor swasta. Hasil eDiscussion akan dibahas pada Pertemuan Tahunan Bank Dunia pada bulan Oktober 2010 dan sejumlah acara berikutnya.

Laporan Bank Dunia tersebut secara lengkap dapat dibaca di Rising Global Interest in Farmland bulan September 2010.

“Orang Tua Asuh”

ragilex.wordpress.com/2008/10/17/

” Kalau ada anak asuh. Mengapa tidak ada orang tua asuh ? “

” Lah yang mengangkat anak asuh khan namanya orang tua asuh “

” Bukan…bukan itu maksudnya. Maksudnya adalah orang tua anak yang diasuh bagaimana ? Khan perlu “diasuh” juga. “

Itulah beberapa penggal kalimat yang keluar dari pembicaraan Abby dengan seorang temannya yang mempunyai banyak anak asuh dan aktif dalam kegiatan anak-anak jalanan. Menurut teman Abby, begitu kita terjun ke dalam kegiatan anak asuh maka kita juga harus memikirkan nasib orang tua dari anak yang diasuh. Perlu ada pemikiran yang komprehensif (utuh) dalam program anak asuh.

Kebanyakan anak asuh berasal dari keluarga miskin sehingga kesulitan untuk melanjutkan pendidikannya walaupun prestasi sekolahnya baik. Nah kemiskinan itulah yang harus dikurangi. Bagaimana caranya ? Pada dasarnya mirip dengan konsep zakat dalam Islam dimana orang-orang yang berhak mendapatkan zakat diharapkan pada tahun berikutnya mereka menjadi orang yang mampu membayar zakat. Bukan tahun ini mendapat zakat, tahun kemarin-kemarin dapat zakat, eeeh tahun berikutnya dapat zakat juga.

Memanusiakan manusia, itulah kata kuncinya. Bagaimanapun pada dasarnya manusia punya keinginan untuk memberi bukan menerima. Jadi orang tua dari anak yang diasuh harus dihormati dan dijaga harga dirinya. Caranya adalah memberikan pekerjaan atau memberikan modal kepada orang tua dari anak asuh tersebut agar bisa mempunyai usaha sendiri sehingga seumur hidupnya tidak selalu menjadi peminta-minta atau orang yang selalu dikasihani.

Selama orang tua dari anak asuh tersebut belum menghasilkan maka kewajiban kita yang mengasuh anak-anak mereka tapi juga ikut mengontrol dan memantau perkembangan usaha orang tua anak asuh tersebut. Kemudian diberi target selama 1-3 tahun agar mereka bisa memperoleh pendapatan yang cukup. Kembali lagi kuncinya bagi kita yang mengasuh adalah keikhlasan dan kepercayaan dalam memberika tanggung jawab kepada orang tua anak asuh tersebut.

Memang tidak mudah dan kompleks karena membutuhkan waktu, tenaga dan dana yang tidak sedikit. Belum lagi tanggung jawab moralnya agar program anak dan orang tua asuh tidak sekedar dijadikan proyek mercusuar yang ujung-ujungnya hanya menjadi riya. Dengan konsep dan program kerja yang berkesinambungan maka semuanya merasakan dampaknya. Selain itu ada tanggung jawab dari para orang tua anak asuh untuk bekerja lebih tekun dan tidak berpangku tangan saja karena masa depan anak mereka tidak bergantung kepada orang yang mengasuh anak mereka tetapi orang tua anak asuhlah yang mempunyai peranan penting.

Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya mempunyai nasib buruk seperti orang tuanya. Orang tua selalu menginginkan anaknya menjadi orang sukses di segala bidang termasuk kesuksesan pendidikan anak. Ini yang harus diingatkan secara terus menerus kepada orang tua anak asuh sebelum kita menerima anaknya menjadi anak asuh. Begitulah penjelasan teman Abby.

seguinrapps.org/child_abuse

Protected by Copyscape Online Copyright Protection

” SUSAH DINAIKIN, NAIK DISUSAHIN “

Ilustrasi (widjojodipo.wordpress.com)

Ini bukan tebak-tebakan tetapi omongan seorang anak berumur 10 tahun putera dari teman lama yang sudah lama tidak dikunjungi.

Tidak tahu mengapa, tiba-tiba kemarin siang saya ingin sekali  bertemu dengan teman-teman lama. Walaupun  malamnya begadang alias melototin tv  tapi saya usahakan untuk pergi  dengan menggunakan kendaraan umum.

Perjalanan pertama saya menuju daerah jembatan merah, menteng dalam dekat manggarai dimana teman saya tinggal. Ternyata kondisi lingkungannya tidak berubah sama seperti 4 tahun yang lalu yaitu rumah kecil ukuran 4 x 6 meter persegi yang ditempati lima orang. Dengan mengucapkan salam khas saya, mereka terkejut dan tidak menduga saya datang. Mereka pikir saya tidak akan pernah lagi datang berkunjung.

Tiba-tiba datang seorang  anak berusia 10 tahun menghampiri saya dan dengan malu-malu bertanya siapa saya ini. Dijelaskan oleh bapaknya tentang siapa diri saya. Kemudian anak itu mengeluarkan pernyataan yang sangat aneh yaitu

“ Om,  susah dinaikin, naik disusahin. Apaan itu?”

” Adik mau main tebak-tabakan ” tanya saya.

” Bukan tebak-tebakan, om ”  jawabnya

Tiba-tiba ibunya datang dengan mimik kecewa, marah  bercampur aduk perasaannya.

“ Cech itu maksudnya sekarang sudah hidup susah,  barang-barang dinaikkin harganya. Setelah dinaikkan harganya eh..barangnya bermasalah ”

Rupanya istri teman sudah seharian mencari gas tabung ukuran 3 kg tapi  tabungnya mengkhawatirkan kondisinya. Sudah begitu bayaran listrik naik lagi. Ini akan berakibat naiknya barang-barang yang lain.

Kemudian teman bercerita walapun kehidupan mereka selama ini serba minim tapi tetap  tidak putus asa dan selalu optimis. Sebagai informasi, teman saya ini adalah mantan napi yang telah masuk penjara 3 kali dengan kasus ke-1 membunuh marinir di Surabaya gara-gara memperebutkan lahan parkir, kasus ke-2 membunuh pamannya sendiri tapi tidak sampai mati karena pamannya menghabiskan uang warisan ibunya yang merupakan warisan keluarga mereka, kasus ke-3 adalah kasus 27 Juli 1996 (Kasus PDI Pro Mega) dengan hukuman 3 tahun tetapi dijalaninya hanya 1,5 tahun dengan kondisi siksaan seperti tangan dan kaki diinjak meja sewaktu interogasi sehingga sampai sekarang jari tangannya tidak bisa digerakkan dengan normal.

Enam tahun lalu saya bertemu di padepokan Uyut saya setelah itu kami dekat tetapi kami berbeda tujuan yaitu dia pro Ibu Mega (PDIP) dan saya tetap netral sampai sekarang walaupun saya mengagumi Bung Karno. Saya selalu mengingatkan kehidupun berpartai penuh dengan intrik kekuasaan. Kita harus tahu apakah tempat kita bergantung akan memperhatikan kehidupan kita atau tidak. Bukan hanya membutuhkan pada saat ada  kepentingan saja. Ternyata dia mendengarkan omongan saya dan sejak pembicaraan itu dia tidak terlalu intens lagi terhadap partai.

Kemudian saya belikan alat untuk menggergaji  kayu yang digunakan untuk membuat bingkai foto dan menjual foto-foto Bung Karno . Alhamdulillah jalan sampai sekarang. Selain itu dia mempunyai  bisnis kecil-kecilan seperti calo karcis kereta api, tanah, dan instalatir listrik.

” Cech, ketika kami sekeluarga mulai bangkit dari kemiskinan tanpa bantuan pemerintah. Kok bisa-bisanya pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membuat rakyat makin susah sehingga timbul keinginan saya untuk kembali lagi ke partai, bagaimana ini Cech”

” Apakah selama ini partai membantu kehidupan kalian sekeluarga? Khan tidak, sama saja dengan pemerintah. Itu hanya elit-elitnya saja yang ribut akan kekuasaan dan membutuhkan orang-orang dibawah pada saat ada kepentingan pribadi/golongan, Kita harus optimis selama kita bisa memperbaiki diri sendiri tanpa mencampuri urusan orang lain. Hidup kita akan bahagia lahir batin kok. Kalau hidup kita bahagia setidaknya memberi kebahagiaan kepada lingkungan disekitar kita berupa energi kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang atau materi.”

Omongannya kayak motivator saja  walaupun saya sendiri mempunyai beban dan masalah juga.  Maka itu hidup itu adalah kelakuan bukan perbuatan.

Setelah 2 jam penuh kami berbincang-bincang, saya pamit diri  untuk mengunjungi teman lama lainnya yang sudah direncanakan sebelumnya.

” Susah dinaikkin, naik disusahin ” Kalimat tersebut selalu terngiang di telinga selama  perjalanan.