Japanese Culture Exhibition 2015 Di Fiji Dalam Gambar

Memulai tahun 2015, diawali dengan tetirah  pada sebuah kegiatan menarik yang diselenggarakan oleh Kedubes Jepang di Suva, Fiji yaitu Japanese Culture Exhibition 2015. Kegiatan yang dipusatkan di Japan-Pacific Center ITC, University of South Pacific cukup diminati oleh masyarakat baik Fiji maupun non Fiji.

Tanpa membual kata maka cukup dengan beberapa foto dapat menggambarkan bagaimana kegiatan menarik ini berlangsung.

Japan-Pacific Center ITC di USP nan megah
Japan-Pacific Center ITC di USP nan megah

DSC_0069

Aksi 2 karateka asal Fiji
Aksi 2 karateka asal Fiji
Mengisi harapan tahun 2015
Mengisi harapan tahun 2015
Harapan yang tertulis dengan rapi
Harapan yang tertulis dengan rapi
Berfoto dengan kimono
Berfoto dengan kimono
Ruang Kaligrafi
Ruang Kaligrafi
Antrian cukup panjang
Antrian cukup panjang
Menyebutkan nama dan diperolehlah arti sebuah nama dalam bentuk kaligrafi
Menyebutkan nama dan diperolehlah arti sebuah nama dalam bentuk kaligrafi

DSC_0064

Inilah arti nama saya...
Inilah arti nama saya…
Tinggal pilih santapan pembuka yang berjalan mengelilingi kita
Tinggal pilih santapan pembuka yang berjalan mengelilingi kita

DSC_0086

DSC_0084

DSC_0078

DSC_0089

Bungkus ahhh
Bungkus ahhh

Kembali Ke Fitrah Manusia : Dosa Dan Keinginan

” Sebagai umat Islam, kita mengenal dua syahadat yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul tetapi sebagai manusia, kita harus mengerti dua syahadat manusia atau dua adat syah yang dimiliki manusia yaitu DOSA dan KEINGINAN. Bukan manusia kalau tidak mempunyai DOSA dan KEINGINAN “

Kalimat-kalimat di atas selalu terngiang di ingatan saya ketika Uyut memberikan nasehatnya. Apakah ada kaitannya dengan fitrah manusia dalam menyikapi Idul Fitri 1434 H ? Saya menjawabnya ada dan ini menjadi perenungan dalam menyikapi Idul Fitri tahun ini.

Image
Lokasi sembahyang di stasiun kereta api di Bangkok, Thailand (dok.cech)

Euforia kegembiraan jelas terlihat ketika datang hari yang dianggap nan suci tersebut.

” Kita kembali fitrah… “

” Kita kembali suci setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh “

” Kita maaf-maaf-an … “

Itulah beberapa ungkapan yang sering saya dengar pada saat menjelang atau hari-H, semua berlomba-lomba mohon maaf dan lahir batin pula. Apakah mereka meresapi makna lahir batih atau tidak ? Hanya diri dan Allah SWT yang mengetahui.

Kembali ke masalah syahadat manusia. Lihat apa yang terjadi ? Ya benar manusia kembali ke fitrahnya yaitu Dosa dan Keinginan. Umat Islam tanpa sadar sedang melakukan pemborosan dan lupa tentang 2 syahadat manusia walaupun dengan dalih yang masuk akal pula, khan ini terjadi setahun sekali dan saatnya kita menyambut datangnya Idul Fitri dengan berlebihan.

Hampir setiap rumah bertebaran berbagai jenis makanan baik kue maupun makanan utama pengisi perut sampai-sampai perut over kekenyangan dan sakitlah efeknya. Ya itulah khan tidak setiap hari lagi pula setahun sekali. Jadi apa yang didapat dari puasa kemarin ? Seharusnya bagi manusia yang mengerti apa itu fitrahnya maka akan menggali, memperlajari, dan mengamalkan apa itu Dosa dan Keinginan.

Manusia yang selalu Iqra akan paham kalau dirinya dilahirkan sudah berdosa dan tidak ada itu yang namanya pengurangan dosa tetapi bagaimana kita mengendalikan dan menghindari terjadinya dosa sebagai hasil puasa Ramadhan. Untuk dikatakan suci sungguh hal yang tidak mungkin meskipun seorang rasul/nabi. Begitu pula dengan Keinginan. Setiap manusia mempunyai keinginan tetapi yang terpenting adalah bagaimana mengendalikan keinginan dan mengetahu seberapa besar porsi keinginan yang memang haq pribadi sesuai dengan qudrat dan iradat Allah SWT.

Ada cerita menarik yang secara tidak langsung berkaitan dengan dosa dan keinginan. Sebelum puasa, seorang teman bercerita bagaimana sakitnya dia diputuskan oleh kekasihnya yang sudah digadang-gadang sebagai calon istrinya. Sang mantan ternyata “selingkuh” dengan pria lain. Bukan masalah putus atau perselingkuhan yang menjadi masalah berat tetapi ungkapan dari sang mantan dengan pria selingkuhannya kepada dia.

Sang mantan mengatakan dengan tegas kepada teman saya sebagai berikut:

” Selama ini kita telah melakukan dosa besar yaitu berhubungan seksual layaknya pasangan suami istri alias tanpa ikatan resmi dan ini zina. Zina itu dosa besar maka saya akan bertobat, menjaga ucapan dan hanya akan melakukan hubungan seksual dengan suami saya yang sah secara agama dan negara “

 Wow pertobatan luar biasa yang saya dengar dari  seorang perempuan muslim berdasarkan cerita teman saya tersebut.

Selanjutnya ungkapan pria selingkuhan mantannya yang tak kalah menariknya kepada teman saya/

” Sebagai orang yang berumur lebih tua dan dewasa seharusnya mas dapat menghindari terjadinya hubungan seksual dengan dia (mantan) selama ini, Karena itu adalah dosa besar (zina). “

Betapa terkejut dan malunya teman setelah mendengar ucapan pria tersebut yang usianya lebih muda. Bijaksana dan sabar sekali pria tersebut dalam pikiran teman saya. Jadi pantaslah mantannya memilih dia.

Tetapi apa yang terjadi kemudian ? Kembali lagi itulah manusia yang selalu tidak sadar dengan fitrah atau syahadatnya yaitu dosa dan keinginan. Beberapa hari yang lalu sang teman bercerita kembali tentang mantan dan kekasih/calon suaminya.  Dari raut wajahnya terlihat perubahan yaitu dari wajah respek sebelum menjadi wajah kecewa.

” Munafik semuanya, Cech. Apakah ini yang disebut umat Islam? Umatnya Nabi Muhammad SAW? Mereka berdua bicara moral dan menasehati saya tentang apa itu zina ? Apa itu dosa besar ? Apa itu tobatan nasuha ? Tetapi mereka melakukan perbuatan zina tersebut ? Terlepas mereka akan menikah atau baru calon suami/istri tetap saja mereka melakukan hubungan seksual tanpa ikatan resmi secara agama dan negara. Zinalah namanya dan saya hanya bisa beristighfar memohon ampun atas segala perbuatan dosa besar yang dilakukan selama ini. Sepertinya mereka sudah tidak dapat menahan hawa nafsu mereka karena dilakukan menjelang puasa. Saya punya buktinya… Jadi puasa Ramadhan kemarin itu hanya sekedar ritual tahunan tanpa makna “

Kembali lagi itulah manusia dengan fitrahnya yaitu dosa dan keinginan. Pertanyaannya adalah apakah kita mau memahami dan menjalankan fitrah itu dengan baik dan benar ? Idul Fitri itu bukan berarti kita kembali suci tetapi kita tahu bahwa kita mempunyai dosa dan keinginan yang banyak kecuali orang-orang yang beriman dan mau berpikir dengan Iqranya apa itu DOSA DAN KEINGINAN.

Dalam menyambut Idul Fitri 1434 H , saya hanya dapat mengucapkan MOHON MAAF LAHIR SAJA karena BATIN ini belum benar adanya alias dalam status DECONSTRUCTION

Lebaran Dalam Titian Kesedihan Dan Persaudaraan

Kamis, 8 Agustus 2013 adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam seluruh dunia terutama Indonesia. Benar, hari itu adalah hari raya Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran oleh masyarakat Indonesia. Umat Islam merayakan Idul Fitri penuh dengan kegembiraan karena mereka meyakini Idul Fitri adalah simbol kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh  menahan lapar, haus dan hawa nafsu di bulan Ramadhan.

Tetapi tidak semuanya menyambut dengan kegembiraan. Lebaran tahun ini mungkin bagi keluarga besar Almarhum Asep Sudirman berbeda suasananya dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam rentang waktu 1 tahun keluarga besar Almarhum telah kehilangan dua anggota keluarganya. Yang pertama adalah almarhum Asep Sudirman dan yang kedua adalah ayah kandung almarhum. Suasana duka terasa sekali pada saat saya mengucapkan mohon maaf pada hari raya Lebaran.

Kenangan saat Pak Alit menemani almarhum Asep di CWM Hospital, Suva, Fiji (dok. cech)
Kenangan saat Pak Alit menemani almarhum Asep di CWM Hospital, Suva, Fiji (dok. cech)

Perlu diketahui almarhum Asep Sudirman adalah Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang sempat dirawat di Colonial War Memorial Hospital, Suva, Republik Fiji hampir 5 bulan lamanya karena penyakit TBC dan Hepatitis B. Setelah sempat sadar diri dan bertemu dengan kakak iparnya, Pak Alit Supriyatna yang didatangkan langsung oleh Kemlu RI dan difasilitasi oleh KBRI Suva dengan tujuan untuk membangkitkan semangat hidup Asep Sudirman yang memang butuh dukungan psikologis pihak keluarga atas saran dokter. Tetapi takdir berkata lain, Asep Sudirman meninggal dunia dengan tenang pada tanggal 8 Juli 2013 pukul 17.45 waktu Fiji (pukul 12.45 WIB).  Dan lebih menyedihkan lagi, almarhum Asep sampai meninggalnya tidak mengetahui kalau sang Ayah telah meninggal dunia terlebih dahulu karena memang sengaja tidak diberitahu keluarga pada saat almarhum dirawat.

Alhamdulillah dengan kerjasama yang baik antara pihak keluarga, Kementerian Luar Negeri RI, KBRI Suva, Agen Pemilik Kapal dan Agen Tenaga Kerja di Indonesia maka jenazah Asep Sudirman dapat dipulangkan ke tanah air. Pemulangan jenazah ke tanah air bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu lama dalam pengurusan, negosiasi yang apik dari pihak keluarga dibantu oleh Kemlu RI/KBRI Suva dengan kedua agen agar dicapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak dan terpenting adalah Allah memberikan restu dan mengabulkan doa keluarga agar almarhum dapat dimakamkan di kampung halamannya Ciparay, Bandung. Selain itu dari kesepakatan tersebut, agen tenaga kerja yang menaungi almarhum dengan jiwa besar memenuhi hak-hak almarhum seperti gaji, biaya pemulangan dan terakhir sedang dalam pengurusan adalah asuransi bagi almarhum.

DSC_0015
Makam Asep bersebelahan dengan makam Sang Ayah (dok.cech)
DSC_0014
Nenek almarhum Asep (dok.cech)
Pak Alit Supriyatna dengan Sang Bunda (dok.cech)
Pak Alit Supriyatna dengan Sang Bunda (dok.cech)

Akhirnya pada tanggal 22 Juli jenasah almarhum diberangkatkan ke tanah air dari Fiji. Kemudian pada tanggal 26 Juli 2013 jenasah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di Ciparay, Bandung. Makam almarhum persis bersebelahan dengan makam ayahanda almarhum. Hal ini saya ketahui setelah minggu lalu saya berkunjung ke sana. Kunjungan saya ini merupakan pemenuhan janji saya kepada Pak Alit dan keluarga besar apabila saya pulang ke tanah air. Selain itu kunjungan itu bertujuan untuk mempererat silaturahim antara saya pribadi dengan keluarga besar almarhum. Benar sekali bahwa mencari saudara tidaklah mudah dibandingkan mencari beribu-ribu musuh. Ada ikatan kasih sayang yang terpancar diantara saya dan anggota keluarga besar almarhum walaupun kunjungan saya masih dalam suasana duka. Tetapi bagi saya inilah hikmah puasa Ramadhan dan Lebaran yang dapat dirasakan oleh kami. Lebaran dalam titian kesedihan dan persaudaraan. Ada kalimat yang diucapkan almarhum sebelum pergi berlayar yang selalu dikenang oleh sang bunda. “Mak, alasan Asep pergi kerja ke luar negeri karena Asep ingin menyenangkan Emak “

Selamat Jalan Saudaraku Asep Sudirman …. Salam Metal dari Saya di dunia untukmu yang Insya Allah saat ini Kamu telah mendapatkan tempat yang pantas dan layak yang diberikan oleh Allah SWT.

Terima kasih kepada Keluarga Besar Almarhum Asep Sudirman atas kesediaannya menerima kunjungan silaturahim saya secara dadakan. Semoga Kesedihan terbalaskan oleh Kebahagiaan

Take that look of worry
I’m an ordinary man
They don’t tell me nothing
So I find out what I can
There’s a fire that’s been burning
Right outside my door
I can’t see but I feel it
And it helps to keep me warm
So I, I don’t mind
No I, I don’t mind

Seems so long I’ve been waiting
Still don’t know what for
There’s no point escaping
I don’t worry anymore
I can’t come out to find you
I don’t like to go outside
They can’t turn off my feelings
Like they’re turning off a light
But I, I don’t mind
No I, I don’t mind
Oh I, I don’t mind
No I, I don’t mind

So take, take me home
Cos I don’t remember

Lelaki Tua Dengan Istri Cantik Nan Cerewet

Berulang kali banyak orang mengatakan bahwa dalam hidup ini kita harus bersabar dan bersyukur. Mudah diucapkan tetapi berat untuk menjalankannya. Sebuah kisah kesabaran pernah ditulis di blog ini yaitu kisah Pono. “Sabar itu sama dengan tidak terhingga, layaknya kekuasaan Allah SWT yang tidak terhingga “.Begitu kata Pono.

Beberapa bulan ini, saya banyak mendapatkan pelajaran hidup dalam mengartikan apa itu sabar. Bukan Sabar Perangin-angin atau Sabar Mulyana, nama teman-teman saya tetapi sabar yang sebenar-benarnya sabar dalam arti spiritual. Dalam hal ini saya ingin bercerita tentang sebuah kisah yang berkaitan dengan sabar yaitu Lelaki tua dengan istrinya yang cantik tetapi cerewet. Begini kisahnya.

Ada sebuah desa antah berantah, tinggallah seorang lelaki tua dengan istrinya yang muda dan cantik tetapi cerewet. Lelaki tua tersebut sangatlah dikenal oleh penduduk desa tersebut tetapi terkenal keberuntungannya dan kebodohannya. Beruntung karena mendapatkan seorang istri muda cantik tetapi dianggap bodoh karena lelaki tua tersebut tetap bertahap dan diam menerima kecerewetan setiap hari. Hal sepele saja selalu dicereweti oleh istrinya. “Kamu harus begini… ” “Kamu harus begitu… ” Selalu saja begitu setiap harinya, Tetapi lelaki tua itu tetap sabar, mengalah  dan menerima kecerewetan istrinya.

” Kalau saya sih dapat istri seperti itu walaupun saya akan tinggalkan “

” kalau saya mempunyai istri seperti itu sudah saya usir dari rumah “

” Kehidupan macam apa kalau setiap hari dicereweti oleh istri seperti itu, apa tidak pusing dengar omongannya yang nyinyir dan nyelekit “

” Ada hal-hal yang harus dikomentari tetapi kalau sudah hal sepele  dan tidak prinsip saja di cereweti, saya sudah kabur jauh-jauh “

Itulah beberapa komentar tetangganya yang setiap hari mendengar ucapan istri lelaki tersebut. Tetapi Lelaki tua tersebut tetap bertahan dan sepertinya menikmati kecerewetan istrinya.

Apakah karena lelaki tersebut sayang dengan istrinya tersebut? Apakah lelaki tersebut merasa eman-eman meninggalkan istrinya yang cantik tersebut ? Apakah lelaki tersebut setia dan berkomitmen dengan ikatan suci pernikahannya ? Apakah Lelaki tersebut memang sudah kebal dengan kecerewetan istrinya ? Apakah Lelaki tersebut punya hutang budi dengan istrinya tersebut ? Dan lain-lain. Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang di desanya.

Akhirnya penduduk desa tersebut hanya bisa berkomentari tanpa pernah tahu apa yang membuat lelaki tua nan pendiam bertahan dengan kondisi tersebut. Sampai suatu hari ada seorang penduduk desa tetangga mendengar cerita tentang lelaki tua tersebut dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Lelaki desa tetangga pergi ke desa tempat lelaki tua tersbut tinggal. Hampi setiap hari lelaki desa tetangga datang dan mengamati polah tingkah lelaki tua tersebut dan mendengar langsung ucapan nyelekit (kecerewetan) istrinya. Segala gerak gerik lelaki tua tersebut diikuti tanpa mengenal lelah karena hanya ingin mengetahui bagaimana lelaki tua tersebut dapat sabar menerima kondisi istrinya.

Sampai pada suatu hari, lelaki desa tetangga desa mengikuti lelaki tua mencari kayu bakar di hutan. Dengan diam-diam dan menjaga jarak lelaki desa tetangga mengamati lelaki tua mengumpulkan kayu-kayu kering di hutan dan dikumpulkan menjadi satu ikatan hingga menjadi beberapa ikatan. Bagaimana bisa lelaki tua renta tersebut dapat mengangkut beberapa ikatan kayu bakar ke rumahnya. Setelah mengamati dan menunggu hingga menjelang maghrib, betapa kagetnya lelaki desa tetangga melihat apa yang terjadi di hadapannya.

Dalam satu panggilan khas lelaki tua, datanglah menghampiri seekor singa besar dengan auman yang menakutkan. Sambil menjilat-jilati tangan lelaki tua tersebut, singa besar terlihat jinak dan menuruti perintah lelaki tua tersebut. Singa pun duduk dan menunggu lelaki tua menempatkan beberapa ikatan kayu bakar di atas punggung singa besar tersebut. Setelah itu singa mengikuti jalan lelaki tua menuju rumahnya tanpa diketahui oleh orang lain. Betapi kaget, terkejut, terkesima, sekaligus terkagum-kagum dengan kemampuan lelaki tua tersebut menaklukkan singa besar sang raja hutan nan buas. Dan ini berlangsung setiap hari. Jadi inilah kunci kesabaran lelaki tua tersebut dalam menghadapi kecerewetan istrinya. Tingkat spiritualitas tinggi yang dimiliki oleh lelaki tua mampu mengatasi kecerewetan istrinya dan kecerewetan itu bukanlah hal luar biasa yang mengganggu kehidupan rumah tangganya. Singa sang raja hutan nan buas saja dapat ditaklukkan dengan kesabaran spiritualnya apalagi hanya kecerewetan istrinya yang memang sudah menjadi konsekuensi dalam berumah tangga untuk menerima pasangan hidupnya apa adanya.

pastorhobbins.wordpress.com
pastorhobbins.wordpress.com

Negeri Yang Sukanya Terkejut-kejut

Ingat dengan ungkapan ” Tenang aja… Belanda‬  (baca: kekuatan asing) masih jauh

Dari dulu hingga sekarang lontaran tersebut masih sering didengar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Seolah-olah situasinya baik-baik saja (under control) dan tidak akan terjadi apa-apa. Apa yang terjadi kemudian ? Keterkejutan yang dialami oleh orang dan bangsa  Indonesia. Terkejut-kejut dan kekagetan tanpa antisipasi kalau musuh telah datang diam-diam tanpa kita ketahui sama sekali.

Saya jadi teringat dengan ucapan almarhum Bapak kalau terkejut-kejut seperti menjadi ciri bangsa Indonesia. Contoh sederhana adalah ketika retail alfamart dan indomart merambah bisnis retail di tanah air dan mematikan warung-warung/kecil dan koperasi barang-barang kebutuhan sehari-hari. Kita hanya bisa diam dan terkejut saja. Kok bisa ? Apa saja yang dilakukan kita khususnya pemerintah untuk mengantisipasi kejadian ini ? Tidak ada jawaban yang memuaskan dan mulailah kebakaran jenggot setelah semuanya terlambat.

Kemudian retail asing seperti Carefour menggurita dengan teknik dan strategi pemasaran yang canggih dan global dimana konsumen mendapatkan kenyamanan, aman dan kemudahan dalam mencari kebutuhannya mulai dari primer hingga tertier. Semuanya ada dan terpenuhi. Kembali lagi  warung kelontong dan pasar tradisional terkena imbasnya  barulah orang terkaget dan setengah sadar kalau Belanda sudah datang diam-diam dan menguasai kita tanpa antisipasi.

Bukan hanya itu saja keterkejutan yang dialami, banyak sektor perekonomian mulai dari energi, pertambangan. perbankan, telekomunikasi, asuransi dan lain-lain. Sampai yang terakhir adalah “Belanda (baca:kekuatan asing)” yang lain ingin berinvestasi dan menguasai persawahan kita. Dan kita kembali hanya bisa terkejut dan terkaget-kaget. Ternyata kita tidak pernah punya konsep dan strategi atau punya konsep/startegi tapi tidak mau menjalankan dan menerapkannya secara sungguh-sungguh untuk mengatasi datangnya “Belanda (baca:kekuatan asing)” secara diam-diam dan mulai menguasai “wilayah strategis” bangsa Indonesia.

Tolong resapi dan pikirkan pernyataan “Belanda” di bawah ini, apakah kita sebagai bangsa Indonesia tidak merasa dihina dan dipermalukan :

” Sementara Wufeng berencana mengimpor sebagian besar mesin pengolahannya dari China dan menggeser semua mesin lokal yang ada. Ma memastikan kualitas mesinnya lebih baik daripada yang ada di Indonesia. “

Harusnya mulai saat ini ungkapannya diubah menjadi ” Tenang aja “Belanda(baca:kekuatan asing) datang, kita sikat… dia jual kita beli “

Tetapi keterkejutan itu juga menghampiri saya ketika tanpa antisipasi “Belanda (baca:kekuatan asing)” mulai merasuki tubuh saya hehehe Oh Stone Kidney…

Stone On The Right My Kidney (dok. Cech)
Stone On The Right My Kidney (dok. Cech)

Atau sama terkejutnya mendapatkan 2 barang berikut ini dari “Belanda” karena hobi menulis saya.

Sony Xperia Tablet Z (dok. Cech)
Sony Xperia Tablet Z (dok. Cech)
Nikon D3200 (dok. Cech)
Nikon D3200 (dok. Cech)

 

Halaaahhhh…..

10 Alasan Teraneh Orang Mengajukan Permohonan Visa Kerja

” Enak ya kerja di luar negeri “

” Banyak duitnya euy,  US Dollar pula !!! “

” Sambil kerja, dapat duit banyak … nambah wawasan dan pengalaman juga “

Itulah beberapa komentar orang setelah mengetahui saya bekerja di luar negeri. Banyak uang dan dalam bayangannya adalah menambah pundi-pundi US Dollar. Ada benar dan ada salahnya juga kalau orang berpandangan seperti itu. Memang setiap orang akan selalu berpikir bagaimana caranya dapat mengubah nasib. Salah satunya adalah dengan bekerja di luar negeri dan memperoleh materi yang lebih baik daripada bekerja di negeri sendiri. Tidak hanya di Indonesia tetapi hampir seluruh manusia di dunia berpandangan demikian.  Betapa enak dan nikmatnya bekerja di luar negeri. Menurut saya, suatu alasan yang manusiawi yaitu mengubah nasib diri dan keluarganya untuk masa depan.

Nah, alasan mengubah nasib menjadi lebih baik adalah alasan yang normal dan dapat dimaklumi walaupun belum tentu dengan bekerja di luar negeri maka hidupnya akan lebih baik. Semua tergantung kepada niat dan tujuan kita bekerja. Tetapi ada 10 temuan menarik tentang alasan orang ingin bekerja di luar negeri yang diungkap oleh Visa Global, sebuah konsultan imigrasi Inggris sebagai berikut:

1. Seorang pria Afrika Selatan menyatakan pada aplikasi visanya bahwa ia ingin pergi ke Rumania untuk bekerja sebagai pemburu vampir.

2. Ketika mengajukan permohonan visa kerja Inggris, seorang pria Brasil  berharap dapat  membawakan flamenco ke jalan-jalan Norwich di mana daya tarik   flamenco tampaknya menjadi suatu barang langka.

3. Seorang wanita Rusia mengajukan permohonan visa Eropa agar dapat bekerja  sebagai pelacur di Belanda, sebuah  profesi legal tertua di dunia sejak tahun 1830.

4. Seorang pembalsem mayat dari Meksiko mengajukan permohonan visa agar dapat melakukan perdagangan mayat ke Spanyol, tapi setelah diselidiki ternyata dia mempunyai catatan kriminal yang panjang sehingga visanya ditolak.

5. Pada aplikasi visa di Eropa, seorang pria asal Mali menyatakan bahwa dia mempunyai keterampilan menjalankan pirogue (sejenis kapal nelayan) dengan harapan dapat menjadi pendayung gondola di Venesia.

6. Pada aplikasi visa Amerika Serikat, seorang pria Inggris mencantumkan profesinya sebagai “taster makanan anjing”

7. Seorang pria Filipina mengajukan permohonan visa  ke Australia dengan alasan bahwa  ia mempunyai kemampuan dapat “menghindari pihak berwenang setempat.”

8. Seorang wanita Perancis mengajukan visa kerja ke Amerika Serikat karena merasa yakin mempunyai peluang yang lebih besar untuk terpilih sebagai “model kaki (foot model).”

9. Seorang wanita mengajukan visa kerja di Inggris, karena telah “bekerja musiman sebagai zombie.” (Rupanya, zombie tidak diperlukan di Inggris sepanjang tahun).

10. Seorang pria Peru mengajukan permohonan visa Eropa untuk dapat  bekerja sebagai pencukur bulu alpaka (alpaca shearer)  selama “musim cukur.”

Walaupun 10 alasan tersebut dianggap aneh tetapi harus diapresiasi sebagai pilihan karir yang cerdik. Global Visa menyarankan agar semua pemohon visa untuk melihat terlebih dahulu aturan hukum di negara dimana mereka akan bekerja  sebelum mengajukan permohonan visa kerja.

Haru Biru Suva-Seoul-Jakarta-Bangkok (II)

Perjalanan 3 hariku ke Purwokerto sangatlah berkesan. Inilah pertama kalinya aku dapat mengunjungi makam ibuku yang meninggal dunia 2 tahun yang lalu. Pada saat beliau meninggal, aku tidak dapat menghadiri pemakamannya karena ketidak tersediaannya tiket pulang dari Suva ke Jakarta. Suatu hal yang sangat aku sesali tetapi takdir berkata demikian dan aku menerimanya dengan ikhlas kepergiannya. Bukan hanya ibuku saja yang kukunjungi makamnya, ada makam kakek, nenek dan bapakku. Menangis terseduk dan terus mengucapkan doa mohon ampun kepada almarhum-almarhumah atas kesalahanku selama mereka masih hidup. Selain itu aku ucapkan doa kepada Allah agar segala amal ibadah mereka di dunia mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.

Kunjunganku ke kota kelahiran Bapakku, aku manfaatkan juga untuk merencanakan pembuatan 2 unit rumah di atas tanah warisan bapakku. Setelah melakukan perhitungan yang mendetil bersama kakakku maka lebih menguntungkan membuat 2 unit rumah kontrakkan daripada membuat kamar kos. Kuputuskan bulan depan harus dimulai dengan kakakku sebagai pengawasnya. Tidak terasa perjalanan ke kota tersebut cepat berlalu dan segera aku memutuskan kembali ke Jakarta.

IMG_20130509_095322
dok.cech

Setibanya di Jakarta, aku memutuskan untuk memeriksa telepon selularku agar dapat digunakan di tanah air. Oh ya, telepon selularku dibeli di Suva dan hanya dapat dipakai di wilayah Fiji saja sehingga harus dilakukan unlock. Sebelum pergi ke Roxy, aku periksa semua data penting yang ada di telepon selularku karena kuatir semua data penting hilang dalam proses unlock. Tanpa sengaja aku menemukan email seseorang dalam kondisi terbuka alias belum sign out. Betapa terkejutnya aku setelah membaca sebuah folder pribadi email tersebut. Tersentak, terkejut, marah dan keluarlah seluruh emosiku. Ternyata email tersebut adalah milik orang yang sangat aku cintai. Di dalam email tersebut jelas nyata bahwa sejak enam bulan yang lalu, dia secara intensif berhubungan mesra dengan seorang lelaki. Dia telah berselingkuh, dalam pikiranku. Mesra sekali ditambah dengan kiriman foto-foto dari pria tersebut kepada dia. Langsung saja aku kirimkan pesan lewat sms dan fb betapa khianatnya dia terhadap diriku. Tidak ada artinya kata cinta yang terucap dari mulutnya kepadaku selama ini.

Masih dengan amarah yang tinggi dan kurang tidur, keesokan paginya aku telpon dia di Solo. Dalam kondisi baru bangun tidur, dia mohon kepadaku untuk menjelaskan semuanya. Aku mengabaikannya. Kenapa dia dapat berbuat seperti itu. Kenapa? Dalam beberapa penjelasannya, dia mengakui kalau lelaki yang ada di emailnya tersebut adalah lelaki pilihan orang tuanya karena dari awal hubungan kami tidak disetujui oleh orang tua. Aku menyadari itu tetapi aku butuh kejujuran. Mengapa hal ini tidak dikatakannya pada saat di Fiji? Mengapa baru sekarang ? Langsung saja terbayang rencana cutiku ke tanah air untuk bersenang-senang. Buyar dan terasa hampa semuanya. Kalau tahu begini lebih baik aku tidak pulang ke tanah air. Bahakan kalau dia dari awal cerita tentang lelaki tersebut maka aku akan menyuruhnya pulang ke tanah air terlebih dahulu dan aku pulang di lain waktu,

Aku marah, marah dan marah. Emosionalku memuncak dan tanpa pikir terucap bahwa aku meminta semua uang yang telah kukeluarkan kepada dirinya selama ini dan meminta semua barang-barang yang pernah kuberikan kepadanya. Rupanya pada saat aku marah-marah via telepon terdengar oleh adikku. Langsung saja aku diajak masuk ke dalam untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dengan lembutnya adikku berkata aku tahu mas. Mas selalu membantu orang lain tanpa pamrih dan lahir batin dengan tidak berharap balasan, Ikhlaskan semua yang telah mas berikan. Tuhan akan menggantinya kelak dengan jumlah yang lebih besar dari uang yang dikeluarkan selama ini. Akupun tersadar dan memang benar aku mengeluarkan segalanya termasuk uang karena ketulusan cintaku kepadanya. Memang berat tetapi aku harus bisa mengikhlaskannya.

Keesokan padi harinya aku bertemu dia di Blok M. Tetapi suasananya sudah tidak menyenangkan. Sepanjang perjalanan menuju Kuningan, kami berdua hanya dia dan berkata seadanya,  Aku datang menemuinya karena aku ingin menepati janjiku untuk menuntaskan semua masalah beasiswanya termasuk pengurusan visa studi ke Thailand. Ternyata pengurusan visa berjalan cepat dan visa diambil 2 hari kemudian. Dia memutuskan untuk menginap semalam di Jakarta. Aku menemaninya sampai di tempat penginapan sekaligus meminta penjelasan dia tentang hubungan kami berdua, Dia tak kuasa menahan tangisnya. Diceritakan semua mengapa dia mengambil keputusan untuk berpisah denganku. Semuanya atas nama “restu”. Restu ? Ya restu orang tua. Berulangkali dia telah menjelaskan kepada orang tuanya bagaimana sosok diriku yang dianggap sebagai pria yang layak menjadi pasangan hidupnya tetapi orang tuanya terutama bapaknya  tak bergeming dan tetap pada keputusannya untuk melarang hubungan kami. Seharian kami saling mencurahkan perasaan masing-masing.  Sebenarnya kami saling mencintai dan menyayangi tetapi apa daya keputusannya telah ditetapkan olehnya walaupun aku masih tidak dapat menerimanya dan menganggap semuanya omong kosong dan tak berdasar alasannya.

Keesokan paginya aku antar dia kembali ke Blok M sesuai permintaannya. Terasa berat hati ini melepas kepergiannya saat Bus Damri yang membawanya ke Bandara Soetta pergi meninggalkanku dengan hati hancur berkeping-keping. Cuti yang harusnya menghibur malah menjadi cuti dengan hati hancur lebur. Walaupun demikian, aku masih merasa yakin akan kesempatan sebelum dia berangkat ke Bangkok minggu depannya.

Satu minggu kumanfaatkan untuk tetap berkomunikasi dengannya. Kadang menyenangkan kadang menyedihkan karena kami tak kuasa menahan emosi sehingga seringkali terjadi pertengkaran yang seharusnya tidak perlu terjadi, Aku yang ditinggalkan merasa ada suatu yang dihitung-hitung kembali sesuai dengan apa yang sudah aku keluarkan. Tetapi aku tersadar bahwa apa yang kulakukan untuknya adalah bukti keikhlasan cintaku kepadanya. Perang batin terjadi, apa yang aku dapat sementara dia seperti sosok tak bersalah dengan keputusannya. Dia mendapatkan apa yang diinginkan sementara aku yang turut berjuang demi cita-citanya ibarat habis manis sepah dibuang. Tragis… tragis sekali nasibku. Begitulah perang batin dan pikiran yang berkecamuk di dalam diriku. Woiii apakah yang sudah kulakukan kepada dirinya selama ini tidak pantas diperjuangkannya di hadapan orang tuanya cuma gara-gara restu. Hidupnya yang menentukan adalah dirinya bukan orang tuanya dan ini bukan jamannya Siti Nurbaya dengan perjodohan yang dicari orang tua untuk anaknya sebagai model. Tetapi …

Tibalah pada hari H dimana dia akan berangkat ke Bangkok. Karena ada titipan barang untuk  beberapa orang teman Fiji yang diamanahkan kepadanya untuk dibeli dan dititipkan kepadaku  maka dia memintaku untuk bertemu di Bandara Soetta jam 12 siang. Jam 11 pagi telpon berbunyi ternya dia menanyakan posisiku. Dan aku katakan sedang dalam perjalanan menuju bandara. Ternyata aku tiba terlebih dahulu dan belum terlihat wajah manisnya di sekeliling terminal 3. Setekah kutunggu sekian menit, kembali terdengar suara dering telponku. Pasti dia pikirku dan baru saja aku angkat ternyata dia sudah ada di balik bus yang baru tiba dengan membawa satu koper, satu tas kecil dan ransel birunya.

Tanpa banyak buang waktu, dia menyerahkan titipannya dan ketika aku mengatakan untuk segera pergi. Tersirat wajah kecewanya, akhirnya aku putuskan untuk menemaninya sampai dia masuk ke pintu keberangkatan. Selama 2 jam kami masih bisa bersama dengan suasana yang berbeda tetapi aku tahu kalau diapun berat meninggalkan dan berpisah denganku. Setengah jam sebelum keberangkatan, dia menyuruhku untuk segera pulang dan dengan canda penuh kesedihan dia berkata ” Mas sekarang pergi dulu karena aku ingin melihat mas berjalan menjauh dariku sehingga aku dapat menangis “. Terhenyak aku mendengarnya dan aku ambil keputusan untuk menunggunya hingga masuk ke dalam loket imigrasi. Diapun berjalan meninggalkan dan aku hanya terdiam sedih. Dan pada saat aku memanggil namanya ” Yang… Sayang !!!! “. Tiba-tiba aku tersadar karena ada setuhan tangan nan lembut yang berusaha membangunkan aku dari mimpiku. Ternyata dia yang membangunkanku dan memberitahu kalau pesawat kami akan segera  mendarat di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand dan mengantar kami untuk berlibur sekaligus berbulan madu.