Japanese Culture Exhibition 2015 Di Fiji Dalam Gambar

Memulai tahun 2015, diawali dengan tetirah  pada sebuah kegiatan menarik yang diselenggarakan oleh Kedubes Jepang di Suva, Fiji yaitu Japanese Culture Exhibition 2015. Kegiatan yang dipusatkan di Japan-Pacific Center ITC, University of South Pacific cukup diminati oleh masyarakat baik Fiji maupun non Fiji.

Tanpa membual kata maka cukup dengan beberapa foto dapat menggambarkan bagaimana kegiatan menarik ini berlangsung.

Japan-Pacific Center ITC di USP nan megah
Japan-Pacific Center ITC di USP nan megah

DSC_0069

Aksi 2 karateka asal Fiji
Aksi 2 karateka asal Fiji
Mengisi harapan tahun 2015
Mengisi harapan tahun 2015
Harapan yang tertulis dengan rapi
Harapan yang tertulis dengan rapi
Berfoto dengan kimono
Berfoto dengan kimono
Ruang Kaligrafi
Ruang Kaligrafi
Antrian cukup panjang
Antrian cukup panjang
Menyebutkan nama dan diperolehlah arti sebuah nama dalam bentuk kaligrafi
Menyebutkan nama dan diperolehlah arti sebuah nama dalam bentuk kaligrafi

DSC_0064

Inilah arti nama saya...
Inilah arti nama saya…
Tinggal pilih santapan pembuka yang berjalan mengelilingi kita
Tinggal pilih santapan pembuka yang berjalan mengelilingi kita

DSC_0086

DSC_0084

DSC_0078

DSC_0089

Bungkus ahhh
Bungkus ahhh

Kembali Ke Fitrah Manusia : Dosa Dan Keinginan

” Sebagai umat Islam, kita mengenal dua syahadat yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul tetapi sebagai manusia, kita harus mengerti dua syahadat manusia atau dua adat syah yang dimiliki manusia yaitu DOSA dan KEINGINAN. Bukan manusia kalau tidak mempunyai DOSA dan KEINGINAN “

Kalimat-kalimat di atas selalu terngiang di ingatan saya ketika Uyut memberikan nasehatnya. Apakah ada kaitannya dengan fitrah manusia dalam menyikapi Idul Fitri 1434 H ? Saya menjawabnya ada dan ini menjadi perenungan dalam menyikapi Idul Fitri tahun ini.

Image
Lokasi sembahyang di stasiun kereta api di Bangkok, Thailand (dok.cech)

Euforia kegembiraan jelas terlihat ketika datang hari yang dianggap nan suci tersebut.

” Kita kembali fitrah… “

” Kita kembali suci setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh “

” Kita maaf-maaf-an … “

Itulah beberapa ungkapan yang sering saya dengar pada saat menjelang atau hari-H, semua berlomba-lomba mohon maaf dan lahir batin pula. Apakah mereka meresapi makna lahir batih atau tidak ? Hanya diri dan Allah SWT yang mengetahui.

Kembali ke masalah syahadat manusia. Lihat apa yang terjadi ? Ya benar manusia kembali ke fitrahnya yaitu Dosa dan Keinginan. Umat Islam tanpa sadar sedang melakukan pemborosan dan lupa tentang 2 syahadat manusia walaupun dengan dalih yang masuk akal pula, khan ini terjadi setahun sekali dan saatnya kita menyambut datangnya Idul Fitri dengan berlebihan.

Hampir setiap rumah bertebaran berbagai jenis makanan baik kue maupun makanan utama pengisi perut sampai-sampai perut over kekenyangan dan sakitlah efeknya. Ya itulah khan tidak setiap hari lagi pula setahun sekali. Jadi apa yang didapat dari puasa kemarin ? Seharusnya bagi manusia yang mengerti apa itu fitrahnya maka akan menggali, memperlajari, dan mengamalkan apa itu Dosa dan Keinginan.

Manusia yang selalu Iqra akan paham kalau dirinya dilahirkan sudah berdosa dan tidak ada itu yang namanya pengurangan dosa tetapi bagaimana kita mengendalikan dan menghindari terjadinya dosa sebagai hasil puasa Ramadhan. Untuk dikatakan suci sungguh hal yang tidak mungkin meskipun seorang rasul/nabi. Begitu pula dengan Keinginan. Setiap manusia mempunyai keinginan tetapi yang terpenting adalah bagaimana mengendalikan keinginan dan mengetahu seberapa besar porsi keinginan yang memang haq pribadi sesuai dengan qudrat dan iradat Allah SWT.

Ada cerita menarik yang secara tidak langsung berkaitan dengan dosa dan keinginan. Sebelum puasa, seorang teman bercerita bagaimana sakitnya dia diputuskan oleh kekasihnya yang sudah digadang-gadang sebagai calon istrinya. Sang mantan ternyata “selingkuh” dengan pria lain. Bukan masalah putus atau perselingkuhan yang menjadi masalah berat tetapi ungkapan dari sang mantan dengan pria selingkuhannya kepada dia.

Sang mantan mengatakan dengan tegas kepada teman saya sebagai berikut:

” Selama ini kita telah melakukan dosa besar yaitu berhubungan seksual layaknya pasangan suami istri alias tanpa ikatan resmi dan ini zina. Zina itu dosa besar maka saya akan bertobat, menjaga ucapan dan hanya akan melakukan hubungan seksual dengan suami saya yang sah secara agama dan negara “

 Wow pertobatan luar biasa yang saya dengar dari  seorang perempuan muslim berdasarkan cerita teman saya tersebut.

Selanjutnya ungkapan pria selingkuhan mantannya yang tak kalah menariknya kepada teman saya/

” Sebagai orang yang berumur lebih tua dan dewasa seharusnya mas dapat menghindari terjadinya hubungan seksual dengan dia (mantan) selama ini, Karena itu adalah dosa besar (zina). “

Betapa terkejut dan malunya teman setelah mendengar ucapan pria tersebut yang usianya lebih muda. Bijaksana dan sabar sekali pria tersebut dalam pikiran teman saya. Jadi pantaslah mantannya memilih dia.

Tetapi apa yang terjadi kemudian ? Kembali lagi itulah manusia yang selalu tidak sadar dengan fitrah atau syahadatnya yaitu dosa dan keinginan. Beberapa hari yang lalu sang teman bercerita kembali tentang mantan dan kekasih/calon suaminya.  Dari raut wajahnya terlihat perubahan yaitu dari wajah respek sebelum menjadi wajah kecewa.

” Munafik semuanya, Cech. Apakah ini yang disebut umat Islam? Umatnya Nabi Muhammad SAW? Mereka berdua bicara moral dan menasehati saya tentang apa itu zina ? Apa itu dosa besar ? Apa itu tobatan nasuha ? Tetapi mereka melakukan perbuatan zina tersebut ? Terlepas mereka akan menikah atau baru calon suami/istri tetap saja mereka melakukan hubungan seksual tanpa ikatan resmi secara agama dan negara. Zinalah namanya dan saya hanya bisa beristighfar memohon ampun atas segala perbuatan dosa besar yang dilakukan selama ini. Sepertinya mereka sudah tidak dapat menahan hawa nafsu mereka karena dilakukan menjelang puasa. Saya punya buktinya… Jadi puasa Ramadhan kemarin itu hanya sekedar ritual tahunan tanpa makna “

Kembali lagi itulah manusia dengan fitrahnya yaitu dosa dan keinginan. Pertanyaannya adalah apakah kita mau memahami dan menjalankan fitrah itu dengan baik dan benar ? Idul Fitri itu bukan berarti kita kembali suci tetapi kita tahu bahwa kita mempunyai dosa dan keinginan yang banyak kecuali orang-orang yang beriman dan mau berpikir dengan Iqranya apa itu DOSA DAN KEINGINAN.

Dalam menyambut Idul Fitri 1434 H , saya hanya dapat mengucapkan MOHON MAAF LAHIR SAJA karena BATIN ini belum benar adanya alias dalam status DECONSTRUCTION

Lebaran Dalam Titian Kesedihan Dan Persaudaraan

Kamis, 8 Agustus 2013 adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam seluruh dunia terutama Indonesia. Benar, hari itu adalah hari raya Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran oleh masyarakat Indonesia. Umat Islam merayakan Idul Fitri penuh dengan kegembiraan karena mereka meyakini Idul Fitri adalah simbol kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh  menahan lapar, haus dan hawa nafsu di bulan Ramadhan.

Tetapi tidak semuanya menyambut dengan kegembiraan. Lebaran tahun ini mungkin bagi keluarga besar Almarhum Asep Sudirman berbeda suasananya dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam rentang waktu 1 tahun keluarga besar Almarhum telah kehilangan dua anggota keluarganya. Yang pertama adalah almarhum Asep Sudirman dan yang kedua adalah ayah kandung almarhum. Suasana duka terasa sekali pada saat saya mengucapkan mohon maaf pada hari raya Lebaran.

Kenangan saat Pak Alit menemani almarhum Asep di CWM Hospital, Suva, Fiji (dok. cech)
Kenangan saat Pak Alit menemani almarhum Asep di CWM Hospital, Suva, Fiji (dok. cech)

Perlu diketahui almarhum Asep Sudirman adalah Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang sempat dirawat di Colonial War Memorial Hospital, Suva, Republik Fiji hampir 5 bulan lamanya karena penyakit TBC dan Hepatitis B. Setelah sempat sadar diri dan bertemu dengan kakak iparnya, Pak Alit Supriyatna yang didatangkan langsung oleh Kemlu RI dan difasilitasi oleh KBRI Suva dengan tujuan untuk membangkitkan semangat hidup Asep Sudirman yang memang butuh dukungan psikologis pihak keluarga atas saran dokter. Tetapi takdir berkata lain, Asep Sudirman meninggal dunia dengan tenang pada tanggal 8 Juli 2013 pukul 17.45 waktu Fiji (pukul 12.45 WIB).  Dan lebih menyedihkan lagi, almarhum Asep sampai meninggalnya tidak mengetahui kalau sang Ayah telah meninggal dunia terlebih dahulu karena memang sengaja tidak diberitahu keluarga pada saat almarhum dirawat.

Alhamdulillah dengan kerjasama yang baik antara pihak keluarga, Kementerian Luar Negeri RI, KBRI Suva, Agen Pemilik Kapal dan Agen Tenaga Kerja di Indonesia maka jenazah Asep Sudirman dapat dipulangkan ke tanah air. Pemulangan jenazah ke tanah air bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu lama dalam pengurusan, negosiasi yang apik dari pihak keluarga dibantu oleh Kemlu RI/KBRI Suva dengan kedua agen agar dicapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak dan terpenting adalah Allah memberikan restu dan mengabulkan doa keluarga agar almarhum dapat dimakamkan di kampung halamannya Ciparay, Bandung. Selain itu dari kesepakatan tersebut, agen tenaga kerja yang menaungi almarhum dengan jiwa besar memenuhi hak-hak almarhum seperti gaji, biaya pemulangan dan terakhir sedang dalam pengurusan adalah asuransi bagi almarhum.

DSC_0015
Makam Asep bersebelahan dengan makam Sang Ayah (dok.cech)
DSC_0014
Nenek almarhum Asep (dok.cech)
Pak Alit Supriyatna dengan Sang Bunda (dok.cech)
Pak Alit Supriyatna dengan Sang Bunda (dok.cech)

Akhirnya pada tanggal 22 Juli jenasah almarhum diberangkatkan ke tanah air dari Fiji. Kemudian pada tanggal 26 Juli 2013 jenasah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di Ciparay, Bandung. Makam almarhum persis bersebelahan dengan makam ayahanda almarhum. Hal ini saya ketahui setelah minggu lalu saya berkunjung ke sana. Kunjungan saya ini merupakan pemenuhan janji saya kepada Pak Alit dan keluarga besar apabila saya pulang ke tanah air. Selain itu kunjungan itu bertujuan untuk mempererat silaturahim antara saya pribadi dengan keluarga besar almarhum. Benar sekali bahwa mencari saudara tidaklah mudah dibandingkan mencari beribu-ribu musuh. Ada ikatan kasih sayang yang terpancar diantara saya dan anggota keluarga besar almarhum walaupun kunjungan saya masih dalam suasana duka. Tetapi bagi saya inilah hikmah puasa Ramadhan dan Lebaran yang dapat dirasakan oleh kami. Lebaran dalam titian kesedihan dan persaudaraan. Ada kalimat yang diucapkan almarhum sebelum pergi berlayar yang selalu dikenang oleh sang bunda. “Mak, alasan Asep pergi kerja ke luar negeri karena Asep ingin menyenangkan Emak “

Selamat Jalan Saudaraku Asep Sudirman …. Salam Metal dari Saya di dunia untukmu yang Insya Allah saat ini Kamu telah mendapatkan tempat yang pantas dan layak yang diberikan oleh Allah SWT.

Terima kasih kepada Keluarga Besar Almarhum Asep Sudirman atas kesediaannya menerima kunjungan silaturahim saya secara dadakan. Semoga Kesedihan terbalaskan oleh Kebahagiaan

Take that look of worry
I’m an ordinary man
They don’t tell me nothing
So I find out what I can
There’s a fire that’s been burning
Right outside my door
I can’t see but I feel it
And it helps to keep me warm
So I, I don’t mind
No I, I don’t mind

Seems so long I’ve been waiting
Still don’t know what for
There’s no point escaping
I don’t worry anymore
I can’t come out to find you
I don’t like to go outside
They can’t turn off my feelings
Like they’re turning off a light
But I, I don’t mind
No I, I don’t mind
Oh I, I don’t mind
No I, I don’t mind

So take, take me home
Cos I don’t remember

Lelaki Tua Dengan Istri Cantik Nan Cerewet

Berulang kali banyak orang mengatakan bahwa dalam hidup ini kita harus bersabar dan bersyukur. Mudah diucapkan tetapi berat untuk menjalankannya. Sebuah kisah kesabaran pernah ditulis di blog ini yaitu kisah Pono. “Sabar itu sama dengan tidak terhingga, layaknya kekuasaan Allah SWT yang tidak terhingga “.Begitu kata Pono.

Beberapa bulan ini, saya banyak mendapatkan pelajaran hidup dalam mengartikan apa itu sabar. Bukan Sabar Perangin-angin atau Sabar Mulyana, nama teman-teman saya tetapi sabar yang sebenar-benarnya sabar dalam arti spiritual. Dalam hal ini saya ingin bercerita tentang sebuah kisah yang berkaitan dengan sabar yaitu Lelaki tua dengan istrinya yang cantik tetapi cerewet. Begini kisahnya.

Ada sebuah desa antah berantah, tinggallah seorang lelaki tua dengan istrinya yang muda dan cantik tetapi cerewet. Lelaki tua tersebut sangatlah dikenal oleh penduduk desa tersebut tetapi terkenal keberuntungannya dan kebodohannya. Beruntung karena mendapatkan seorang istri muda cantik tetapi dianggap bodoh karena lelaki tua tersebut tetap bertahap dan diam menerima kecerewetan setiap hari. Hal sepele saja selalu dicereweti oleh istrinya. “Kamu harus begini… ” “Kamu harus begitu… ” Selalu saja begitu setiap harinya, Tetapi lelaki tua itu tetap sabar, mengalah  dan menerima kecerewetan istrinya.

” Kalau saya sih dapat istri seperti itu walaupun saya akan tinggalkan “

” kalau saya mempunyai istri seperti itu sudah saya usir dari rumah “

” Kehidupan macam apa kalau setiap hari dicereweti oleh istri seperti itu, apa tidak pusing dengar omongannya yang nyinyir dan nyelekit “

” Ada hal-hal yang harus dikomentari tetapi kalau sudah hal sepele  dan tidak prinsip saja di cereweti, saya sudah kabur jauh-jauh “

Itulah beberapa komentar tetangganya yang setiap hari mendengar ucapan istri lelaki tersebut. Tetapi Lelaki tua tersebut tetap bertahan dan sepertinya menikmati kecerewetan istrinya.

Apakah karena lelaki tersebut sayang dengan istrinya tersebut? Apakah lelaki tersebut merasa eman-eman meninggalkan istrinya yang cantik tersebut ? Apakah lelaki tersebut setia dan berkomitmen dengan ikatan suci pernikahannya ? Apakah Lelaki tersebut memang sudah kebal dengan kecerewetan istrinya ? Apakah Lelaki tersebut punya hutang budi dengan istrinya tersebut ? Dan lain-lain. Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang di desanya.

Akhirnya penduduk desa tersebut hanya bisa berkomentari tanpa pernah tahu apa yang membuat lelaki tua nan pendiam bertahan dengan kondisi tersebut. Sampai suatu hari ada seorang penduduk desa tetangga mendengar cerita tentang lelaki tua tersebut dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Lelaki desa tetangga pergi ke desa tempat lelaki tua tersbut tinggal. Hampi setiap hari lelaki desa tetangga datang dan mengamati polah tingkah lelaki tua tersebut dan mendengar langsung ucapan nyelekit (kecerewetan) istrinya. Segala gerak gerik lelaki tua tersebut diikuti tanpa mengenal lelah karena hanya ingin mengetahui bagaimana lelaki tua tersebut dapat sabar menerima kondisi istrinya.

Sampai pada suatu hari, lelaki desa tetangga desa mengikuti lelaki tua mencari kayu bakar di hutan. Dengan diam-diam dan menjaga jarak lelaki desa tetangga mengamati lelaki tua mengumpulkan kayu-kayu kering di hutan dan dikumpulkan menjadi satu ikatan hingga menjadi beberapa ikatan. Bagaimana bisa lelaki tua renta tersebut dapat mengangkut beberapa ikatan kayu bakar ke rumahnya. Setelah mengamati dan menunggu hingga menjelang maghrib, betapa kagetnya lelaki desa tetangga melihat apa yang terjadi di hadapannya.

Dalam satu panggilan khas lelaki tua, datanglah menghampiri seekor singa besar dengan auman yang menakutkan. Sambil menjilat-jilati tangan lelaki tua tersebut, singa besar terlihat jinak dan menuruti perintah lelaki tua tersebut. Singa pun duduk dan menunggu lelaki tua menempatkan beberapa ikatan kayu bakar di atas punggung singa besar tersebut. Setelah itu singa mengikuti jalan lelaki tua menuju rumahnya tanpa diketahui oleh orang lain. Betapi kaget, terkejut, terkesima, sekaligus terkagum-kagum dengan kemampuan lelaki tua tersebut menaklukkan singa besar sang raja hutan nan buas. Dan ini berlangsung setiap hari. Jadi inilah kunci kesabaran lelaki tua tersebut dalam menghadapi kecerewetan istrinya. Tingkat spiritualitas tinggi yang dimiliki oleh lelaki tua mampu mengatasi kecerewetan istrinya dan kecerewetan itu bukanlah hal luar biasa yang mengganggu kehidupan rumah tangganya. Singa sang raja hutan nan buas saja dapat ditaklukkan dengan kesabaran spiritualnya apalagi hanya kecerewetan istrinya yang memang sudah menjadi konsekuensi dalam berumah tangga untuk menerima pasangan hidupnya apa adanya.

pastorhobbins.wordpress.com
pastorhobbins.wordpress.com

Negeri Yang Sukanya Terkejut-kejut

Ingat dengan ungkapan ” Tenang aja… Belanda‬  (baca: kekuatan asing) masih jauh

Dari dulu hingga sekarang lontaran tersebut masih sering didengar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Seolah-olah situasinya baik-baik saja (under control) dan tidak akan terjadi apa-apa. Apa yang terjadi kemudian ? Keterkejutan yang dialami oleh orang dan bangsa  Indonesia. Terkejut-kejut dan kekagetan tanpa antisipasi kalau musuh telah datang diam-diam tanpa kita ketahui sama sekali.

Saya jadi teringat dengan ucapan almarhum Bapak kalau terkejut-kejut seperti menjadi ciri bangsa Indonesia. Contoh sederhana adalah ketika retail alfamart dan indomart merambah bisnis retail di tanah air dan mematikan warung-warung/kecil dan koperasi barang-barang kebutuhan sehari-hari. Kita hanya bisa diam dan terkejut saja. Kok bisa ? Apa saja yang dilakukan kita khususnya pemerintah untuk mengantisipasi kejadian ini ? Tidak ada jawaban yang memuaskan dan mulailah kebakaran jenggot setelah semuanya terlambat.

Kemudian retail asing seperti Carefour menggurita dengan teknik dan strategi pemasaran yang canggih dan global dimana konsumen mendapatkan kenyamanan, aman dan kemudahan dalam mencari kebutuhannya mulai dari primer hingga tertier. Semuanya ada dan terpenuhi. Kembali lagi  warung kelontong dan pasar tradisional terkena imbasnya  barulah orang terkaget dan setengah sadar kalau Belanda sudah datang diam-diam dan menguasai kita tanpa antisipasi.

Bukan hanya itu saja keterkejutan yang dialami, banyak sektor perekonomian mulai dari energi, pertambangan. perbankan, telekomunikasi, asuransi dan lain-lain. Sampai yang terakhir adalah “Belanda (baca:kekuatan asing)” yang lain ingin berinvestasi dan menguasai persawahan kita. Dan kita kembali hanya bisa terkejut dan terkaget-kaget. Ternyata kita tidak pernah punya konsep dan strategi atau punya konsep/startegi tapi tidak mau menjalankan dan menerapkannya secara sungguh-sungguh untuk mengatasi datangnya “Belanda (baca:kekuatan asing)” secara diam-diam dan mulai menguasai “wilayah strategis” bangsa Indonesia.

Tolong resapi dan pikirkan pernyataan “Belanda” di bawah ini, apakah kita sebagai bangsa Indonesia tidak merasa dihina dan dipermalukan :

” Sementara Wufeng berencana mengimpor sebagian besar mesin pengolahannya dari China dan menggeser semua mesin lokal yang ada. Ma memastikan kualitas mesinnya lebih baik daripada yang ada di Indonesia. “

Harusnya mulai saat ini ungkapannya diubah menjadi ” Tenang aja “Belanda(baca:kekuatan asing) datang, kita sikat… dia jual kita beli “

Tetapi keterkejutan itu juga menghampiri saya ketika tanpa antisipasi “Belanda (baca:kekuatan asing)” mulai merasuki tubuh saya hehehe Oh Stone Kidney…

Stone On The Right My Kidney (dok. Cech)
Stone On The Right My Kidney (dok. Cech)

Atau sama terkejutnya mendapatkan 2 barang berikut ini dari “Belanda” karena hobi menulis saya.

Sony Xperia Tablet Z (dok. Cech)
Sony Xperia Tablet Z (dok. Cech)
Nikon D3200 (dok. Cech)
Nikon D3200 (dok. Cech)

 

Halaaahhhh…..