Selamat Jalan dan Jangan Tangisi Kepergianku

To transform the emptiness of loneliness to the fullness of aloneness... Photo By Michel González Brun (JPG Magazines)

 

” Jangan… jangan kau pergi. Kami  masih membutuhkanmu. “

” Tidak, Kawan. Aku harus pergi. Teruskan hidup kalian seperti biasanya “

” Tapi ??? “

” Sudahlah. Jangan banyak tanya. Aku tetap akan pergi karena inilah saatnya aku pergi. Sudah banyak hal yang kulakukan di sini dan tampaknya aku kurang memberikan manfaat apapun bagi kalian. “

” Dasar Pecundang !!! Kau takut dengan kegagalan. Kau sia-siakan semua yang telah kau lakukan di sini tapi kau tetap pergi. Dasar Pecundang !!! “

” Terserahlah kalian mau bicara apapun. Biarlah aku dikatakan pecundang tapi bisa membuat keadaan menjadi lebih baik dan kalian akan bahagia nantinya. Mungkin aku kurang cocok di sini. “

” Kurang cocok ??? Kau terlalu perasa dan tidak memikirkan perasaan kami yang masih membutuhkanmu. “

” Ya, kalian tapi tidak bagi yang lain. Aku harus meneruskan perjalanan karena sudah terlalu lama aku tinggal di sini. Banyak keburukkan yang telah aku lakukan dan tidak pantas aku bertemu muka dengan kalian lagi. Selamat tinggal. Semoga Tuhan memberkati kalian. “

” Kauuuuuuuuuuuu !!!!!!!!!!!!!! “

————————————————————————————————

Beberapa tahun kemudian…

Terasa hambar yang dirasakan oleh setiap orang yang berada di kampung bahagia. Tak ada lagi canda tawa, gairah dan ideide cemerlang yang membangkitkan kreatifitas berpikir warga kampung tersebut. Memang semuanya berjalan seperti biasanya tetapi tetap tak ada cahaya kehidupan yang terpancar pada tiap individu di kampung tersebut.

” Ahhhh membosankan. Semuanya berjalan begitu-begitu saja. Tanpa gairah. Hidup hanya sekedar hidup tapi tak ada warna yang memberikan keceriaan. Hidup segan matipun enggan. Jalan di tempat. “

” Iya kemanakan pelangi yang selalu menyelimuti kampung kita ini sejak ditinggalkan oleh sang pengalana sejati. “

” Betul… betul sekali. Kita seperti berjalan tanpa arah dan hanya sekedar mengikuti waktu berjalan tanpa ada hasil yang digapai. “

” Kemanakah Sang Pengelana ? Mengapa dia harus pergi. Semuanya gara-gara kita tidak mampu memaknai apa yang dilakukan olehnya. “

” Ya, kami merindukanmu. Hai Sang Pengelana “

” Datanglah kembali kepada kami. Kami membutuhkan warna kehidupan yang kau bawa “

———————————————————————————————–

Di lain tempat dalam waktu yang bersamaan.

” Aku terus berjalan dan berjalan mengikuti hati. Langkah telah digerakkan dan tekad telah diikrarkan. Tidak ada kata untuk berhenti. Terus dan terus melangkah dengan panjang kaki yang tidak pernah terputus oleh apapun. Tak ada lagi halangan, hambatan dan gangguan yang mampu menghentikan. Aku merasakan kebahagiaan yang hakiki karena aku semakin dekat  dengan Sang Pemilik Diri sehingga tidak ada lagi yang perlu menangisi kepergiaanku bila saatnya nanti. Biarkan aku menanggung semuanya asal semua orang yang pernah kukenal bahagia dengan keberadaanku sebelumnya. Tuhan ijinkan aku berdoa dan memohon kepadamu, Berikanlah kebahagiaan dan kesejahteraan kepada seluruh makhluk ciptaanMU di muka bumi ini. Kalaupun aku jadi tumbal agar bisa membuat mereka bahagia maka akupun bersedia dengan tulus dan ikhlas. “

” Selamat Jalan dan Jangan Tangisi Kepergianku. Tersenyumlah Kawan “

 

B U T A

 

socialpsychologyeye.wordpress.com

 

Perkataan-perkataan yang keluar dari mulut-mulut binal merangsang diri untuk saling mendekat…

Nafsu bergentayangan di kepala manusia yang sedang berkecamuk dengan khayalan yang menggoda…

Tak tahan untuk menolak dan membiarkannya menjadi liar sehingga menggairahkan untuk saling bercengkerama…

Arghhhh kekuatan godaan makin menjadi-jadi, tak mampu untuk menahan diri…

Membiarkannya dalam imajinasi, fantasi dan sensasi kepolosan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa…

==========

 

” Tataplah masa depan dan lupakanlah masa lalu. Aku ikhlas menerimamu apa adanya. Itulah wujud rasa kasih sayangku ” ujar Rasta.

” Tapi… tapi bagaimana dengan yang ada di perutku ini ? ” tanya Mega dengan mimik ragu.

” Sst… dia tetap kuanggap sebagai jagoanku kelak ” jawab Rasta penuh dengan keyakinan.

” Kau memang pria yang baik, Rasta ” bisik Mega dengan lembutnya.

Keduanya saling berpandangan. Selanjutnya dengan rasa haru yang mendalam Rasta memeluk Mega, seorang wanita merasa dirinya hina karena telah berbuat khilaf dengan pacarnya dulu sehingga terbentuklah calon bayi yang tidak akan pernah dianggap sebagai anak oleh ayah kandungnya sendiri.

Gadis Cantik Nan Seksi Dengan Facebook-nya

Gadis cantik nan seksi itu duduk persis di sebelahku di  sebuah warnet. Dengan gaya anak muda jaman sekarang, dia duduk dengan santainya dan mengabaikan keadaan yang ada di sekelilingnya.

Para pengunjung warnet yang kebanyakan pria acap kali memperhatikannya. Bagaimana bisa seperti itu ? Terang saja pria mana yang tidak akan tergiur melihat tingkah laku gadis cantik tersebut yang hanya memakai kaos putih dan celana pendek ketat. Dengan gaya duduk yang menggiurkan dimana kaki kirinya ditekuk ke atas dan kaki kanannya duduk melipat, paha  putih mulusnya jelas terlihat.

Tetapi gadis itu tetap saja bersikap cuek dan sibuk dengan keyboard komputernya sambil sesekali mengunyah cemilan di sebelahnya. Sementara aku hanya bisa bergumam dalam hati, ” Hmmm apakah ini yang dinamakan jaman modern ? Arggghhh aku malas memikirkannya dan tetap sibuk dengan tulisanku. “

Beberpa menit kemudian tampak kegelisahan di wajah gadis itu. Apakah gadis itu mulai jengah dengan banyaknya tatapan para pria di dalam warnet ? Tiba-tiba gadis itu mendekati dan dan menegurku. Tegurannya membuat pria lainnya melirik ke arah kami.

” Mas, bisa minta tolong ? ” sapa gadis itu.

” Minta tolong apa ya dik ? ” tanyaku kembali.

” Sebetulnya dari tadi saya memperhatikan Mas. Sepertinya Mas asyik menulis dan menikmati sekali “

” Ohhh gitu ya, saya lagi konsentrasi menyelesaikan sebuah tulisan. Memangnya ada apa, dik ?! “

” Begini Mas, saya ingin buka Facebook tapi tidak bisa dibuka “

” Tidak bisa dibuka ya ? Hmm mungkin adik lupa email atau password akun Facebook milik adik sendiri “

” Email ? Password ? Apa itu Mas ? “

” Lho memangnya adik belum tahu atau belum punya ?! “

” Saya baru tahu dari Mas kalau untuk buka Facebook harus pakai email dan password. “

” Jadi yang dilakukan adik dengan mengotak-atik keyboard komputer apaan ??? “

” Itulah mengapa saya sebentar-bentar makan cemilan. Dari tadi saya bingung dan stress karena tidak bisa buka Facebook. “

” Jiahhhhh….   “

Seandainya Aku Menjadi Bhisma…

” …ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung... “

Itulah kalimat yang diucapkan oleh  Bhisma dihadapan Pandawa menjelang ajalnya.

———————————————————————————————–

” Mengapa Kakek Bhisma diam saja pada saat aku melepaskan panah milih Srikandi ini ? ” tanya Arjuna dengan disaksikan Kresna dan keluarga Pandawa lainnya.

” Cucuku Arjuna, Aku rela mati di tangan senjata kekasihku ” ujar Bhisma dalam kondisi sekarat.

” Senjata kekasih Kakek ? ” tanya Arjuna kembali.

” Iya, Sanghyang Wenang telah memberitahuku kalau Srikandi adalah reinkarnasi Dewi Amba wanita yang sangat kucintai. Tetapi aku telah menyia-nyiakannya. Bahkan aku telah membunuhnya dengan panah ini pada waktu aku muda dulu “

” Tetapi Kakek Bhisama … “

” Sudahlah cucuku Arjuna, ini sudah menjadi kehendak Sanghyang Wenang. Setidaknya aku telah melaksanakan sumpahku. Maafkan aku, Arjuna dan para keluarga Pandawa karena telah menjadi musuh kalian dalam peperangan ini. Itu semua kulakukan sebagai balas budi kepada Kurawa “

” Bolehkah aku membawa kakek ke istana kami ? ” mohon Arjuna.

” Jangan cucuku. Biarkan anak-anak panah ini menjadi tempat tidurku yang terakhir sampai aku melihat kekalahan Kurawa. Sudahlah tinggalkan aku sendirian. “

” Baiklah kalau memang ini keinginan Kakek. Kami pamit dulu dan melanjutkan peperangan dengan Kurawa “

10 hari kemudian Bhisma meninggal dunia setelah menyaksikan sendiri kekalahan Kurawa dan Sanghyang Weang telah memenuhi keinginan Bhisma.

Bisma dalam versi pewayangan Jawa (http://id.wikipedia.org/wiki/Bisma)

NB: Bhisma adalah tokoh pewayangan  kesukaan saya setelah Antasena. Bhisma dalam bahasa Sanksekerta berarti ” Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat) ” Bhisma mau berkorban demi kebahagiaan orang lain walaupun  rela  memendam perasaan  cintanya kepada Dewi Amba (kekasih sejatinya) dan orang tua kandungnya sendiri demi menjalankan sumpah kepada Sanghyang Wenang.

Penjual Kopi Keliling

muhammad.zamroni.net/

Pukul 5 pagi, Rahman sudah berada di stasiun kereta api Bogor. Sehari-hari Rahman berjualan kopi di dalam gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) Bogor-Jakarta Kota. Udara pagi itu terasa dingin sekali setelah tadi malam kota Bogor diguyur hujan lebat.

Terdengar suara pengumuman petugas stasiun Bogor kalau KRL jurusan Jakarta segera diberangkatkan. Rahman sudah berada di dalam dan berjalan di setiap gerbong untuk menjajakan kopi panas.

—————

KRl hanya berhenti sebentar di stasiun Depok. Tanpa terasa dagangan Rahman mulai banyak yang membeli. Disamping itu setiap gerbong KRL mulai penuh sesak sehingga Rahman kesulitan untuk berjalan. Stasiun pemberhentian Universitas Pancasila dilewati. Tiba-tiba ada penumpang pria memanggil Rahman. Rupanya ada yang mau membeli kopi panas. Sederalah Rahman mengambil satu sachet kopi hitam+gula dan dituangkannya ke gelas plastik. Baru saja Rahman ingin menuangkan air panas dari termosnya, tiba-tiba terdengar suara gaduh beberapa meter dari tempatnya berada.

—————

” Kesurupan… kesurupan “

” Tolong jada pintu. jangan sampai dia melompat “

” Dia mengamuk… lho-lho malah ngabur “

Begitulah orang-orang di dalam gerbongnya berteriak. Baru saja mau menyerahkan kopinya kepada pembeli, badan Rahman ditabrak oleh seorang pria kesurupan tadi. Rahman pun terjatuh dan kopi panas tumpah dan mengenai pakaian pembelinya. Semua orang lari ketakutan, seorang ibu berteriak ketakutan dan tak ada yang berani mendekat.

—————

” Jangan takut…jangan takut…. pintu dihadang… tenang… tenang semuanya ” teriak Rahman memberikan perintah.

Rahman menerjangnya dan bergulinganlah mereka berdua di lantai. Pakaian pria dan Rahman kotor. Dibekuknya pria tersebut dan tersadarlah pria tersebut. Kasihan sekali nasib pria kesurupan tersebut karena tidak bisa kerja dan duduk termenung di stasiun Tebet. Begitupun dengan Rahman yang tidak bisa berjualan karena semua barang dagangannya berantakan dimana-mana.

Apa yang telah dilakukan Rahman untuk mengatasi kesurupan pria tersebut ?

Perjuangan Merah-Putih

indonesia-eats.blogspot.com

Bogel, itulah nama panggilan Wanadi yang diberikan oleh teman-teman seangkatannya. Tubuh kecil, kulit hitam, jawa tulen,  humoris dan anak seorang petani miskin. Pakaian yang dimiliki hanya dua potong baju dan celana dengan warna sepasang merah dan putih. Hari ini baju merah-celana putih, esok baju putih-celana jins  merah. Begitu seterusnya saling berganti-gantian. Tetapi wanadi sangat disukai teman-temannya. Walaupun dari keluarga petani miskin, Wanadi tetap mempunyai cita-cita dan semangat yang tinggi untuk menjadi orang sukses.

Ya, orang sukses. Itulah cita-citaku. Pokoknya sukses hehehe. Begitulah ujar Wanadi kepada teman-temannya. Dengan kesederhanaan dan kebersahajaan itulah, Wanadi masih dapat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di kota gudeg. Sehari-harinya selesai kuliah, Wanadi bekerja sebagai tukang ketik di kantor dosen. Inilah yang membuat Wanadi tetap bertahan untuk meneruskan kuliahnya.

Siang itu, dari tingkat dua terdengar suara teriakan dari lantai dua gedung perkuliahan pada saat Wanadi berjalan di tengah lapangan.

” Suit suit suit ada artis lewat ” teriakan orang-orang di lantai dua tersebut.

Wanadi meneruskan jalannya dan mengabaikan teriakan penghinaan tersebut. Wanadi hanya tersenyum kecut karena mengerti kalau orang-orang yang meneriakinya itu merasa kagum atas keberaniaannya memakai baju dan celana yang unik. Saat itu Wanadi memakai baju putih dan celana jins merah. Kejadian tersebut terus terjadi setiap hari pada saat Wanadi melewati lapangan.

” Uedan tenan, tuh wong.  Ora isin hihihihihi baju putih dengan celana jins merah ” cibir mahasiswa-mahasiwi yang melihatnya.

Demi cita-citanya untuk menjadi orang sukses yang sebetulnya Wanadi tidak tahu sukses yang seperti apa tapi Wanadi tidak pernah memikirkan ejek-ejekan tersebut.  Inilah diriku yang sebenarnya dalam hati Wanadi.

Awal bulan tiba, Wanadi tetap beraktifitas seperti biasa, yaitu kuliah, kuliah dan kuliah walaupun dia mengerti kalau dirinya sudah tidak punya uang lagi di sakunya. Sementara ibu kos sudah mulai ingin “bercinta” dengannya. Wanadi sangat mengharapkan adanya kiriman uang  dari kampung.

” Wanadi, namamu ada di pengumuman bagian administrasi ” ujar temannya.

” Oh ya terima kasih ” jawab Wanadi dengan wajah ceria.

Beberapa saat kemuadian,

” Kamu, wanadi ? ” tanya bagian administrasi.

” Ya, saya Wanadi, Pak ” jawab Wanadi

” Ini ada wesel dari Boyolali “

” Alhamdulillah. Terima kasih Pak “

Wanadi segera keluar ruangan dan berjalan menuju taman di kampusnya. Setelah memperhatikan wesel tersebut, Wanadi langsung terdiam membisu. Ternyata wesel tersebut tidak bertuliskan angka rupiah kiriman Bapaknya di Boyolali tapi sekumpulan kata dalam bentuk kalimat di kolom pesan yang berbunyi :

” Wanadi, anakku. Bulan ini Bapak tidak bisa mengirimkan uang karena panen kali ini gagal total akibat terserang hama wereng. Bapak minta maaf dan mengerti kalau  kamu adalah anak yang baik.  “

***************************

Flash Fiction ini dipersembahkan untuk seorang teman yang telah berhasil menyelesaikan  program  studi pasca sarjana  (S-3) di sebuah perguruan tinggi negeri di kota “Indonesia Mini”

Dunia Maya

dunia maya (kusprianto.blogspot.com/2010)

Komputer sudah dinyalakan, kopi sudah disiapkan, camilan sudah dibelikan dan Kumbakarna sudah siapa untuk menulis sebuah cerita. Tetapi sebelum menulis, Kumbakarna melihat-lihat dulu bebrapa tulisan yang sudah di tulisnya. Pada awal komentar di setiap tulisannya masih berupa sapaan, ucapan terima kasih, dan humor tapi mendekati bagian bawah betapa kaget Kumbakarna membacanya. Setelah dilakukan pengacakan beberapa komentar tertulis demikian.

” Tulisan anda tidak ada isinya ” komentar Degil

” Tolong dong, tulisannya menggunakan bahasa yang gaul dikit ” komentar Dogol

” TAHUKAH LOE ? GW ANGGAP TULISANNYA BIASA-BIASA SAJA ” komentar Dugul

” Anda ini sudah pikun dan tidak mengerti apa-apa tentang yang anda tulis ” komentar Dodol

” Anda lebih baik buat tulisan yang memperkaya iman buat ngajak klenik dong. Musyrik tau ” komentar Modol.

Kumbakarna tetap berusaha untuk tidak emosi dan menjawab dengan nada santun dan bersahaja.

Beberapa saat kemudian, telepon seluler Kumbakarna berbunyi. Kumbakarna langsung mengangkatnya.

” Ya, saya selalu ingat. Besok saya akan datang pas kopi darat. Pokoknya siplah ” ujar Kumbakarna kepada seorang teman dunia mayanya.

Keesokkan harinya, sepulang dari kantor Kumbakarna mampir ke sebuah tempat dimana teman-teman dunia mayanya berkumpul dalam rangka kopi darat. Memang Kumbakarna datang agak terlambat karena saat itu bertepatan dengan jam-jam kemacetan lalu lintas.

” Oh ya perkenalkan. Ini Kumbakarna ” ujar Bidul memperkenalkan Kumbarna kepada teman-teman baru di dunia maya.

Kumbakarna memberikan pnghormatan dengan menyalami satu per satu teman-teman barunya.

” Kumbakarna … Kumbakarna…Kumba Karna ” begitulah Kumbakarna memperkenalkan diri.

Tetapi ada sesuatu yang unik terjadi yaitu ada beberapa orang yang merasa sungkan dan malu dengan sikap Kumbakarna.

” Perkenalkan saya Degil… saya Dogol… saya Dugul… saya Dodol… saya Modol… jadi malu nich sama Om Kumbakarna yang ternyata usianya lebih tua dari saya. Terus mau menghormati saya ” kata kelima teman baru Kumbakarna satu per satu.

Kumbakarna hanya tersenyum.