Ketika Ecosport Bersua Dengan Everest Di Pangandaran

Pertemuan ini bermula pada saat seminggu Mini Touring Giri Tirta, Purwakarta. Om Budi, suami Sis Fitri (Member DForescom dari Purwakarta) menawarkan undangan kepada DForescom untuk mengikuti acara Touring Kemerdekaan dan Pengukuhan Kepengurusan Ford Everest Club Indonesia (FEvCI) Chapter Bandung  Raya di Pangandaran tanggal 18-20 Agustus 2017.

20729244_10211563804149391_9031954388099617747_n
Dok. FEvCI

Setelah melalui pembicaraan dengan seluruh anggota pengurus DForescom, kami memutuskan untuk mengirimkan 6 orang pengurus untuk menghadiri acara tersebut. Menurut kami, ini adalah kesempatan untuk melakukan silaturahim dan kerjasama dengan komunitas di luar Forescom. Kerjasama yang dapat dilakukan antara lain kerjasama info tentang teknisi kendaraan, suku cadang, perbengkelan dan lain-lain. Tetapi yang lebih jauh lagi adalah Turing Bersama dalam satu kesempatan.

Perlu diketahui Ford Everest Club Indonesia (FEvCI) Terbentuk pada 30 April 2015 oleh sekumpulan pengguna dan pencinta Ford Everest di JABOTABEK. FEvCI adalah club otomotif bersifat KOMUNITAS dan berazaskan KEKELUARGAAN. Sedangkan FEvCI chapter Bandung baru terbentuk pada tanggal 23 Juli 2017.

DSC_0054
Dok, Cech
IMG-20170820-WA0030
Dok. Cech
WhatsApp Image 2017-08-19 at 10.52.13
Maksi sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Pangandaran (Dok. Cech)

Beberapa hari menjelang hari H, DForescom memberitahukan kepada om Budi (Sekretaris FEvCI chapter Bandung Raya) secara final keikutsertaan kami tetapi hanya pada acara Gala Diner dengan alasan tertentu. Jadi kami tidak dapat ikut dalam turing bersama pada tanggal 18 Agustus 2017 sehingga kami akan berangkat dari Bandung pada tanggal 19 Agustus 2017 jam 05.30 ke Pangandaran. Selain itu jumlah DForescom yang hadir berjumlah 4 orang dengan menggunakan 2 buah mobil Ecosport.

Tanggal 19 Agustus 2017 pukul 06.00 dengan titik kumpul di Hotel Shakti Bandung, rombongan Dforescom bergerak menuju Pangandaran. Karena hanya 2 mobil saja maka kami mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Dengan melakukan pemberhentian 4 kali, tanpa terasa kami tiba di Hotel Horison pada pukul 14.30. Setelah check in, kami bersantai ria sejenak di Roof Top Hotel Horison. Di Roof Top ini kami mendapati satu Cafe cozy Mady’s Gelato lengkap dengan Sky Walk sehingga kita dapat melihat suasana pantai barat dan timur Pangandaran.

jxnd-xwqz480501
Dok. Cech
IMG-20170819-WA0042
Santai di Roof Top Hotel Horison (Dok. Cech)
DSC_0072
Pemandangan Pantai Pangandaran (dok. Cech)

Malam harinya, tepat pukul 19.00 kami berempat sudah sampai di Hotel Surya Pesona, lokasi acara Gala Diner FEvCI. Baru memasuki lobi hotel, kami sudah disambut oleh beberapa anggota FEvCI yang ternyata salah satunya adalah Ketua FEvCI chapter Bandung Raya yang baru, Om Sakti Nikitta Vionda.  Sebuah penyambutan yang ramah dan kehormatan bagi kami.

Kami dipersilakan untuk langsung menikmati makan malam yang telah disediakan oleh panitia. Setelah makan malam, dilakukanlah acara pengenalan dari FEvCI Pusat dan diceritakanlah sejarah berdirinya FEvCI dan beberapa nama pengurus FEvCI Pusat oleh Ketua Umum FEvCI, om Rully. Selanjutnya pengukuhan Kepengurusan FEvCI Chapter Bandung dengan Ketua Chapter Om Sakti dan Sekretarisnya om Budi dilengkapi dengan pemberian nasi kuning dari tumpeng kepada ketua umum om Rully. Selain dari Pusat dan Bandung Raya, acara FEvCI dihadiri oleh beberapa anggota chapter Bekasi, Banten, Jakarta, Cirebon Indramayu Kuningan Majalengka, Bogor, Kalimantan. Acara yang cukup meriah dengan diselingi dengan hiburan lagu dan pembagian door prize.

IMG-20170819-WA0060
Panggung Acara (Dok. Feby)
IMG-20170819-WA0058
Dok. Rangga
IMG-20170819-WA0064
Pengukuhan FEvCI Bandung Raya dari Ketum FEvCI, om Rully (dok. Feby)
IMG-20170819-WA0066
Pengenalan Pengurus FEvCI Bandung Raya dengan Ketua Om Sakti dan Sekretaris Om Budi (Dok. Feby)
IMG-20170819-WA0067
Lumayanlah DForescom diberikan bingkisan oleh Ketua FEvCI Chapter Bandung Raya Om Sakti (Dok. Feby)

Selain itu DForescom mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan diri bersama dengan Ford Club Bandung (FCB)  di panggung acara  sebagai pihak yang diundang dan mendapatkan sebuah bingkisan menarik dari FEvCI chapter Bandung Raya. Sekitar pukul 21.30 kami pamit diri dan kembali ke hotel.

Keesokan harinya, kami meninggalkan hotel pukul 09.45 dan kembali ke Bandung melalui jalur selatan untuk mengetahui kondisi jalan dan lebih mengenal daerah-daerah sepanjang pantai selatan. Kami berempat sepakat bahwa turing kali ini benar-benar mini turing sambil menikmati pemandangan alam sepanjang pantai selatan.

Iklan

Giri Tirta : Mini Touring dan Halal Bihalal Forescom Bandung

Sejak pengukuhan pengurus Forescom Chapter Bandung masa 2017-2020 oleh Om Dudi, Ketua Umum Forescom Pusat, Giri Tirta Purwakarta merupakan  program mini turing pertama sekaligus halal bihalal DForescom (sebutan Forescom Chapter Bandung) pada tahun 2017. Pada awalnya terdaftar 18 member yang turut serta dalam kegiatan ini. Karena ada kegiatan lain maka 2 member dari Bandung, 1 member dari Cianjur dan 1 member dari Subang membatalkan keikutsertaannya.

IMG_20170719_110126
Pengurus DForescom 2017-2020 (dok. Cech)

Pada mini touring ini diadakan beberapa kegiatan antara lain wisata dan berenang di Giri Tirta Kahuripan, Presentasi tentang Asuransi Syariah Chubb, peluncuran dan pembagian baju resmi DForescom di Rumah Makan Kebon Tjengkeh.  Secara keseluruhan ada 14 mobil Ford Ecosport yang terlibat dengan total jumlah personil 36 orang.

Sesuai dengan kesepakatan, mini touring diadakan pada tanggal 16 Juli 2017 dengan titik kumpul Rest Area 125 tol Cileunyi bagi member yang berdomisili di Bandung dan pintu tol Jatiluhur bagi member berdomisili di Purwakarta.  Tepat jam 08.00 rombongan 12 mobil bergerak menuju pintu tol Jatiluhur dimana ada 2 mobil dari Purwakarta yang sudah menunggu. Dari titik kumpul Rest Area 125 menuju lokasi Giri Tirta Kahuripan membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan.

IMG-20170716-WA0025
Bentuk Silaturahim (dok. Panggih)
IMG_0112
Dok. Cech
IMG_0105
Dok. Feby
IMG_0109
Dok. Cech
DJI_0122
Kolam renang Giri Tirta kahuripan (Dok. Cech)

Setibanya di parkiran, mobil Ecos diparkir rapih dan berderet untuk persiapan pengambilan gambar baik dengan kamera maupun dengan drone. Sebagai seksi dokumentasi, fotografer andal om Panggih dan Om Feby bergerak cekatan dalam pengambilan foto sehingga diperoleh hasil foto yang memuaskan.

Setelah itu seluruh personil diberikan briefing oleh Om Budi atau Om Depz atau Om Zie Bunsu (banyak ya namanya). Diantaranya tiket masuk Giri Tirta seharga Rp. 25 ribu per orang dan tiket parkir Rp. 5 ribu per mobil sudah dibayarkan oleh kas pengurus DForescom. Sedangkan tiket masuk kolam renang bagi yang ingin berenang menjadi tanggung jawab sendiri. Bagi yang tidak berenang melakukan tour Giri Tirta yang dikelilingi oleh kebun buah manggis nan luas.

Pada pukul 13.00 seluruh personil harus sudah berada di Rumah Makan Kebon Tjengkeh untuk makan siang yang sudah disiapkan oleh pengurus DForescom. Setelah makan siang, khusus member DForescom mengikuti presentasi tentang Asuransi Syariah Chubb  yang disampaikan secara bergiliran oleh 4 orang dari pihak perusahaan asuransi.

IMG-20170716-WA0048
Suasana presentasi (dok. Panggih)
IMG_3282
Om Budi aka Om Depz aka Om Zie Bunsu memperkenalkan dan membagikan baju resmi DForescom (dok. Feby)
IMG_3285
Tampak Belakang Baju Resmi DForescom  (Dok. Feby)

Selama presentasi, banyak hal yang diperoleh oleh member DForescom terutama tentang Total Loss Only dan Comprehensive (dikenal dengan istilah All Risk). Banyak penawaran menarik dari pihak asuransi sehingga ada beberapa member yang berminat untuk mengikuti Asuransi Syariah Chubb pada saat asuransi mobil terdahulunya telah habis masa berlakunya. Satu jam lebih waktu presentasi yang tidak sia-sia.

Tepat pukul 15.00 Om Budi memperkenalkan  dan membagikan baju resmi DForescom. Segeralah member yang hadir saat itu antusias mencoba baju resmi tersebut. Walaupun ada sedikit masalah ukuran tetapi dapat diatasi dan member memberikan 2 jempol terhadap baju resmi tersebut sebagai tanda puas.

IMG_3294
Foto bersama member DForescom (dok. Feby)
IMG_3300
Foto bersama keluarga DForescom (dok. Feby)

Selanjutnya dengan mengenakan baju resmi DForescom, member mini touring melakukan pengambilan foto bersama dan diikuti pula oleh seluruh keluarga member DForescom. Wajah ceria, bahagia, puas dan sumringah terlihat jelas dalam foto yang menandakan tujuan mini touring tercapai yaitu meningkatkan tali silaturahim dan persaudaraan. Inilah yang dinamakan Bandung Kudu Kahiji, Lamun Teu Cabok Siah hahahaha…

Pukul 16.00 seluruh mobil ecos bergerak meninggalkan Rumah Makan Kebon Tjengkeh untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing dan makin berharap acara mini touring selanjutnya segera diadakan.

Jambore Forescom Rasa Bandung

Pembicaraan tentang Jambore Forescom 2 Yogyakarta-Magelang pada tanggal 21-23 April 2017 sudah dibicarakan jauh-jauh hari. Baru menjelang hari H tercatat ada 13 anggota Forescom chapter Bandung berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Malam hari sebelum hari H, tuntas sudah disepakati bahwa tim Bandung akan berangkat pada tanggal 21 April 2017 jam 04.30 dengan titik kumpul di sekitaran Kahatex. Saya dan om Banyu tidak dapat ikut dalam rombongan karena seperti om Banyu baru dapat berangkat setelah sholat Jumat. Sedangkan saya baru berangkat jam 7 pagi setelah mengantar istri ke kantor di bilangan Setiabudhi.

Tepat jam 7 pagi, mulai dari kantor istri, mobil Ford Ecosport bergerak secara meyakinkan. Dengan selisih waktu sekitar 3 jam, saya merasa yakin dapat menyusul rombongan Chapter Bandung. Pada saat mengisi BBM di Shell, saya mendapat kabar bahwa rombongan masih berada di Nagrek karena menunggu om Panggih.

Bensin terisi penuh, lagu ” Good Life” milik G-Eazy & Kehlani memberikan semangat berkendara  layaknya Dominic Toreto dalam film  The Fate of The Furious 8. Tanpa terasa pintu tol Cileunyi terlewati sejak keluar dari Pasteur. Sudah lama saya tidak melewati jalur selatan walaupun demikian masih hafal dengan seluk beluk atau titik-titik rawannya. Beberapa kali saya mendapat informasi dari WAG kalau rombongan akan berhenti di daerah Gentong tetapi dibatalkan. Selanjutnya saya kehilangan informasi tentang tempat istirahat rombongan. Saya memaklumi hal tersebut karena itulah Bandung Kahiji hehehe.

Terlintas dalam pikiran mungkin rombongan akan berhenti di Sidareja karena selain banyak warung makan, dekat pula dengan mesjid besar Sidareja. Ternyata apa yang terjadi ? Tidak ada sama sekali bau-baunya rombongan sehingga saya memutuskan untuk balik ke arah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah. Dilalah ketemu juga dengan rombongan yang katanya baru 5 menit tiba di Restoran Pringsewu yang jaraknya 2 kilometeran dari perbatasan propinsi. Artinya selama di perjalanan kecepatan mobil Ecos saya berapa km/jam ya? Hanya Allah SWT dan hamba Allah ini yang mengetahui.

DSC_0001
Rumah Makan Pringsewu (dok. Cech)
20170421_150336
Buka Tutup karena banyaknya perbaikan jalan (dok. Cech)

Karena hari jumat, beberapa anggota tim melaksanakan sholat Jumat terlebih dahulu. Setelah itu dilanjutkan makan siang. 2 jam sudah kami berada di restoran tersebut. Tepat pukul 14.15 keduabelas mobil Ecos bergerak beriringan menuju kota Yogyakarta. Kondisi jalan yang kurang baik membuat rombongan berjalan dengan kecepatan tidak lebih dari 60 km/jam. Lebih dari itu sudah merupakan mukjizat hahahaha.

Perbaikan jalan yang kelihatannya sedang dikebut untuk lebaran dilakukan mulai dari Majenang sampai Buntu. Buka-tutup pun dilakukan sehingga menghambat perjalanan kami. Tetapi kami menikmati itu semua.

Menjelang jam 6 sore, rombongan kami berhenti di sebuah SPBU di Kebasen. Setelah rehat sejenak dan ditentukan titik pemberhentian berikutnya, kami melanjutkan perjalanan. Memasuki kota Kebumen, hujan datang mengundang sehingga makin membuat perjalanan bergerak melambat. Selepas Purworejo, rombongan berhenti untuk makan malam di Rumah Makan Rejeki. 1,5 jam di rumah makan tersebut, selanjutnya rombongan dengan formasi seperti semula bergerak ke Yogyakarta. Hanya saja memasuki kota Yogya, rombongan terpisah menjadi 3 karena terhalang beberapa kendaraan. Tetapi akhirnya seluruh anggota rombongan tiba di Hotel Sahid Jaya dengan selamat pada pukul 00.00.

Sesampainya di hotel, kami pikir dapat segera istirahat ternyata banyak masalah dengan pelayanan hotel terhadap rombongan kami. Seperti kamar yang ingin ditempati belum dibersihkan, kamar mandi yang bocor, kamar mandi yang bau busuk, telpon yang tidak berfungsi, akses internet yang tidak terkoneksi dan lain-lain. Tetapi semuanya dapat diselesaikan dengan hati lapang walaupun masih bersungut-sungut hahahaha…

Pukul 03.00 saya keluar hotel untuk menjemput istri di Stasiun Tugu. Istri berangkat dari Bandung pada pukul 19.30 dengan kereta api Argo Turangga jurusan Bandung-Surabaya. Pukul 03.45 istri keluar dari pintu keluar dan langsung kami menuju hotel untuk rehat sejenak. Ya sekitar 2-3 jam cukuplah untuk istirahat karena pukul 07.00 acara Amazing Race segera dimulai.

IMG-20170422-WA0011
Foto dulu sebelum Amazing Race (dok. Forescom Bandung)

Pukul 07.00 beberapa anggota rombongan Bandung sudah berkumpul di sebuah meja bundar sambil menikmati sarapan pagi. Saya sudah menduga jam keberangkatan akan mundur lagi karena masih menunggu anggota yang belum keluar dari kamarnya dan sarapan pagi dulu. Setelah semua anggota sarapan pagi  maka kami melakukan evaluasi ulang rencana perjalanan hari itu. Pertimbangannya adalah hari itu adalah hari Sabtu alias weekend dimana kondisi lalu lintas di Yogyakarta akan padat merayap bahkan mendekati macet cet tak bergerak. Untuk mengatasi kejadian tersebut, om Yusuf meminta temannya yang tinggal di Yogyakarta untuk menjadi Tour Guide rombongan kami. Pukul 09.30 sang teman datang dengan sepeda motornya. Setelah memarkirkan motornya, rombongan bergerak menuju objek wisata pertama yaitu Pantai Depok.

Untuk menuju Pantai Depok, rombongan sempat mengalami lalu lintas padat merayap sehingga baru tiba di Pantai Depok pada pukul 11.25. Sesampainya di Pantai Depok, kami segera melakukan pengambilan foto bersama dan foto masing-masing anggota di pantai Depok dengan terik matahari yang menyengat. Saya dan istri tidak ingin lama berada di pantai tersebut dan langsung keluar gerbang sambil menunggu anggota rombongan lain.

IMG-20170422-WA0033
Foto rombongan chapter Bandung di Pantai Depok (dok. Forescom Bandung)
IMG-20170422-WA0104
Foto rombongan chapter Bandung di Hutan Pinus Mangunan (dok. Forescom Bandung)
IMG-20170422-WA0150
Foto om Panggih yang menjadi Juara 1 Lomba Foto Jambore Forescom (Dok. Panggih Raharjo)
IMG-20170422-WA0067
Hutan Pinus Mangunan (Dok. Cech)
IMG-20170422-WA0055
Foto rombongan chapter Bandung di Jurang Tembelan (Dok. Cech)

Karena waktunya makan siang maka kami berhenti terlebih dahulu di restoran Pringsewu. Nah di restoran ini, kami mengubah rute perjalanan. Awalnya kami ingin ke Dinding Breksi. Setelah mendengar penjelasan teman om Yusuf maka setelah makan siang rombongan akan menuju ke Hutan Pinus Mangunan dan Jurang Tembelan yang jauhnya hanya 14 km atau 20 menit dari restoran Pringsewu.

Pukul 14.30 rombongan melanjutkan perjalanan ke Hutan Pinus Mangunan dari restoran Pringsewu. Alhamdulillah perjalanan kami lancar dan tidak lebih dari 1 jam sudah sampai di Hutan Pinus Mangunan nan rindang dan menyejukkan. Nah di hutan pinus inilah om Panggih berhasil mengabadikan foto yang akhirnya menjadi juara 1 perlombaan foto yang diselenggaran oleh panitia Jambore.

Karena waktu yang sudah mepet, tidak lama di hutan pinus Mangunan, rombongan meneruskan perjalanan ke jurang Tembelan (bukan tambal ban ya hehehe). Tempatnya menarik dan banyak anggota rombongan mengambil foto. Tetapi baru setengah jam di tempat tersebut tiba-tiba datang hujan deras. Segeralah kami meninggalkan tempat dan menyepakati untuk kembali ke hotel.

Sementara rombongan kembali ke hotel, saya mohon ijin untuk berpisah karena ingin menikmati Mi Jowo Mbah Gito, . Dengan bantuan Google Map, kami berhasil menemukan lokasinya. Parkiran penuh dengan kendaraan, sekilas saya melihat pengunjung mengantri pesan makanan. Saya sempat berpikir untuk membatalkan makan di tempat tersebut. Tetapi istri kenal dengan beberapa pelayan sehingga kami mendapatkan tempat. Saya langsung memesan 2 mie Jowo, minuman uwuh, teh poci untuk kami berdua. Mie Jowo Mbah Gito memang jos tenan. Apalagi wedang Uwuhnya mengembalikan stamina saya setelah lelah sekali melakukan perjalanan selama 2 hari ini.

WhatsApp Image 2017-02-18 at 17.34.34
Warung Bakmi Jowo Mbah Gito (Dok. Cech)
IMG-20170422-WA0090
Wedang Uwuh yang menyegarkan (Dok. Cech)

Setelah dari Mie Jowo Mbah Gito, kami menuju Bakpia Pathuk  Kurnia daerah Puwodiningratan. Bakpia Pathuk ini adalah langganan saya apabila ingin membeli bakpia khan Yogya sebagai oleh-oleh. Rasanya mengalahkan semua bakpia yang ada dan murah pula hahahaa… Setelah membeli beberapa dus bakpia, kami kembali ke hotel. Tanpa terasa jam menunjukkan pukul 23.10. Saatnya istirahat untuk kegiatan berikutnya keesokan harinya.

Tanggal 23 April 2017 pukul 04.30, saya sudah berada di lobi hotel. Beberapa anggota rombongan telah duduk di meja bundar dan langsung sarapan pagi seadanya. Sesuai kegiatan panitia hari itu adalah sesi foto bersama seluruh kendaraan Ford Ecosport peserta Jambore di Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta maka persiapan dilakukan pada pagi hari sekali. Hal ini disebabkan butuh waktu untuk membentuk formasi kendaraan Ford Ecos dengan 3 pesawat latih milik TNI AU. Sesi foto ini merupakan kerjasama antara Forescom dengan Pangkalan TNI AU Lanud Adi Sucipto sekaligus menyambut Jogja Air Show yang akan berlangsung pada tanggal 25-30 April 2017.

Sesampainya di lapangan Jupiter Lanud Adi Sucipto, dibentuklah formasi apik gabungan antara 105 kendaraan Ford Ecosport, 1 Ford Focus, 1 Ford Everest dengan 3 pesawat latih milik TNI AU. Pengambilan foto dan video dipimpin oleh om Eko Sumartopo dari Jawa Timur. Tidaklah mudah mengatur dan membentuk formasi karena butuh kesadaran dan kesabaran peserta untuk mengikuti aba-aba pengatur formasi. Satu jam lebih waktu dibutuhkan untuk membentuk formasi yang diinginkan dan sesi foto  serta pengambilan video berlangsung lancar.

20170423_075012
Formasi kendaraan Ecos (Dok. Cech)
20170423_075133
3 pesawat latih dikeluarkan dari hanggar (Dok. Cech)
IMG-20170426-WA0002
Formasi yang terbentuk (Dok. Forescom Indonesia)
IMG-20170423-WA0134
Forescom Bandung di Lanud Adi Sucipto Yogyakarta (Dok. Cech)

Setelah sesi foto di Lanud Adi Sucipto, rombongan peserta Jambore kembali ke Hotel Sahid Jaya. Selanjutnya kami check out dan melanjutkan perjalanan ke Hotel Grand Artos, Magelang. Tetapi sebagian besar peserta Jambore selepas check out melanjutkan acara Lava Tour di daerah Gunung Merapi.

Dalam perjalanan ke Magelang, saya hanya ditemani oleh om Jasman dan keluarga. Tetapi sebelumnya kami membeli oleh-oleh khas Yogyakarta dan melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur karena anak-anak om Jasman ingin sekali ke Candi Borobudur. Sedangkan saya dan istri berfungsi sebagai tour guide saja. Pukul 17.30, kami sudah keluar dari parkiran Candi Borobudur menuju hotel Grand Artos dengan diiringi oleh hujan yang sangat deras sekali.

Sesampainya di hotel kami segera persiapan untuk menghadiri acara Gala Dinner. Ternyata Gala Dinner diundur satu jam karena masih banyak peserta Jambore yang belum tiba di hotel sepulang dari Lava Tour. Tepat pukul 20.00 acara dimulai. Suasana gala dinner terasa sekali karena makanan yang disediakan dapat dinikmati oleh seluruh peserta. Dalam acara Gala Dinner tersebut diselingi oleh pemberian beberapa Door Prize kepada pesera Jambore yang beruntung. Selain itu diumumkan pemenang lomba foto yang ternyata juara 1 berasal dari kota Bandung. Selamat untuk Om Panggih. Sedangkan video Amazing Race ditunda pengumuman pemenangnya karena baru 3 chapter yang mengirimkan videonya. Secara keseluruhan baik acara Gala Dinner dan kegiatan yang diselenggarakan oleh panitia berjalan dengan baik dan sukses. Bagi chapter Bandung, Jambore Forescom ini makin mengukuhkan kekompakan anggota sehingga ke depannya chapter Bandung dapat menjadi contoh bahkan leader bagi Forescom Indonesia. Forescom Bandung Memang Juara… Hidup Forescom Bandung Kahiji…

Pahawang, Secuil Penerawangan Tentang Lampung Akhir Tahun 2016

Tanggal 23 Desember 2016 pukul 11.00 dengan diiringi lagu  Coldplay ” A Sky Full of Stars “, saya, istri, teman istri dan anaknya mulai bergerak meninggalkan kota Bandung menuju Rest Area KM 42 Tol Tangerang – Merak sebagai titik kumpul rombongan Mini Touring Pahawang Forescom 23-26 Desember 2016.

Pembicaraan tentang Mini Touring ini sudah berlangsung sebulan, berbagai rencana telah dibicarakan dengan detil. Dikatakan Mini Touring karena peserta yang turut serta berjumlah 8 mobil yang terdiri dari 6 mobil Ford Ecosport, 1 mobil Ford Everest anyar dan 1 mobil Mitsubishi Pajero.Sport dengan total jumlah 28 orang. Delapan mobil akan berkumpul di Rest Area KM 42 dan bergerak menuju pelabuhan Merak pada pukul 21.00. Selain itu ada 1 mobil Ford Ecosport menunggu di Bandar Lampung.

Rencana awal kami meninggalkan Bandung pada pukul 17.00 tetapi kami mendapatkan kabar bahwa ada satu jembatan di Tol Cipularang yaitu Jembatan Cisomang KM 100 dengan panjang 250 meter mengalami pergeseran jembatan dan ada beberapa tiang yang retak. Oleh karena itu pertimbangan waktu dan keselamatan, kami memutuskan berangkat jam 11.00. Karena pada siang hari kami dapat mendapatkan informasi dan melihat dengan jelas apa yang terjadi dengan jembatan tersebut. Selain itu saya memperkirakan akan terjadi kemacetan parah apabila berangkat diatas jam 14.00 karena waktu keberangkatan bersamaan dengan liburan panjang Hari Natal 2016 yaitu 24-26 Desember 2016 libur nasional.

Setelah mampir beberapa tempat di Jakarta, pukul 16.25 kami tiba di Rest Area KM 42. Kemudian saya mulai memantau pergerakan beberapa teman yang akan menuju ke Rest Area KM 42 melalui WA Group Mini Touring. Apa yang saya perkirakan ternyata terjadi yaitu kemacetan di beberapa lokasi. Yang berangkat dari Cikarang mulai mengalami kemacetan walaupun masih berjalan lambat. Yang dari Kelapa Gading, berangkat sebelum Maghrib mengalami kemacetan di daerah Pasar Senen. Secara keseluruhan lokasi Karang Tengah merupakan lokasi dimana kendaraan yang menuju ke Merak bergerak lambat.

Menjelang pukul 21.00 beberapa peserta Mini Touring mulai berdatangan dan mulai lengkap kehadirannya 21.30. Segera saya memberitahu mereka bahwa pembelian tiket kapal dapat dilakukan di Rest Area KM 42. Ternyata di Rest Area KM 42 terdapat loket resmi ASDP yang menjual tiket kapal dengan harga Rp. 320.000. Setelah seluruh peserta memperoleh tiket maka kami segera berangkat menuju pelabuhan Merak. Pukul 23.35 kami tiba di pelabuhan Merak dengan antrian panjang kendaraan baik motor, mobil pribadi, angkutan barang dan bus. Tetapi tidak seramai pada saat liburan Lebaran/Idul Fitri. Setelah menunggu antrian selama 40 menit akhirnya seluruh kendaraan Touring sudah menaiki kapal. Jumlah penumpang yang membludak sehingga ruang ekonomi dan bisnis sudah penuh dengan penumpang sehingga kami memutuskan untuk istirahat di dalam mobil walaupun resikonya terkena kencangnya angin laut di malam hari.

Setelah 3 jam lebih perjalanan via laut, pukul 03.50 kami sudah mendarat di pelabuhan Bakauheni Lampung. Selanjutnya kami bergerak menuju kota Bandar Lampung tetapi memasuki waktu subuh kami istirahat sejenak di sebuah mesjid di daerah Kalianda. Ada beberapa peserta yang melakukan sholat Subuh. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan kembali.

dscn3608
Sarapan pagi di Nasi Uduk Aris (dok. Cech)

Sesuai rencana semula, rombongan bertemu dengan peserta dari Lampung yaitu Om Denny di Teluk Betung.  Kemudian Om Denny membawa kami ke sebuah warung makan dengan menu Nasi Uduk Aris khas Lampung untuk sarapan dulu sebelum menuju Dermaga 4 Ketapang (dermaga dimana berlabuhnya beberapa kapal yang mengangkut penumpang ke Pulau Pahawang).

Satu jam kemudian rombongan berangkat menuju Dermaga 4 Ketapang dengan perut yang sudah kenyang. Butuh waktu kurang lebih 1 jam perjalanan menuju Dermaga 4 Ketapang. Ternyata Dermaga telah dipenuhi oleh mobil pribadi, bus wisata dan para wisatawan baik domestik maupun asing. Segera kami mengganti pakaian dan mempersiapkan apa saja yang dibawa selama Tour Pulau Pahawang. Kemudian satu per satu kami diberikan pelampung keselamatan sebelum menaiki kapal. Kami membutuhkan 2 kapal untuk Tour Pulau Pahawang ini.

dscn3566
Dermaga 4 Ketapang (dok. Cech)
dscn3563
Dok. Cech
dscn3565
Kapal sewa menuju Pulau Pahawang (dok. Cech)

Tidak sampai satu jam, rombongan tiba di Pulau Pahawang Kecil. Segeralah beberapa peserta menceburkan diri ke laut. Ada yang berenang, snorkeling atau menyelam sambil menikmati indahnya pemandangan bawah laut. Suasana pulau Pahawang Kecil ramai sekali. Tiap 30 menit silih berganti kapal datang dan pergi. Dengan air laut yang jernih dan transparan maka terlihat kasat mata dasar laut sehingga menarik untuk menyelam.

Setelah berpuas diri menikmati alam bawah laut pulau Pahawang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pulau Pahawang Besar. Di Pulau Pahawang Besar ini kami makan siang bersama. Oh ya biaya per orang untuk sewa kapal mengelilingi pulau Pahawang Kecil, Pahawang Besar, Taman Nemo dan makan siang adalah Rp. 175.000.

15672757_1478080932220287_641018424522469071_n
Pulau Pahawang Besar (dok. Yulia Setiati)

Menu makan siang berupa sayur asem, gulai ikan, kerupuk, nasi dan buah-buahan menimbulkan selera makan setiap anggota rombongan.Mungkin mereka merasa lelah dan lapar setelah menempuh perjalanan jauh dan menikmati alam bawah laut Pahawang Kecil tadi. Selain itu kami disuguhi air kelapa yang langsung diambil dari pohon.

Hampir dua jam rombongan berada di Pulau Pahawang Besar. Udara panas sekali dan repotnya hanya ada satu warung kopi tetapi tidak menyediakan es batu. Hal ini sangat wajar karena di pulau tersebut belum ada aliran listrik. Listrik diperoleh dari generator yang menyala hanya pada malam hari dan itupun hanya 2 jam lamanya. Kecuali liburan panjang dimana banyak wisatawan yang menginap di vila sekitaran pulau maka generator dinyalakan 24 jam penuh.

Taman Nemo (dok. Forescom)

Pasir Putih (dok. Forescom)

Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Taman Nemo dan Pasir Putih. Di Taman Nemo kita dapat melihat pergerakan ikan Nemo dan sekumpulan ikan lainnya dengan cara menyelam atau snorkeling. Karena ramainya  wisatawan maka memberikan kesan riuh dan ramai sehingga mengurangi kenikmatan indahnya Taman Nemo. Setelah itu rombongan ke Pasir Putih. Pasir Putih adalah sebuah daratan yang timbul di tengah laut dimana daratan tersebut mempunyai pasir putih dan dikelilingi oleh tanaman bakau. Ada beberapa wahana bermain yang menarik seperti boat menarik perahu karet dengan kecepatan tinggi sehingga membuat penumpang di perahu karet terpelanting ke sana kemari.

Tanpa terasa hari mendekati senja sehingga rombongan memutuskan untuk mengakhiri wisata pulau Pahawang dan kembali menuju Dermaga 4 Ketapang. Sesampainya di Dermaga setiap anggota rombongan membersihkan diri dan mencari makanan kecil untuk mengisi perut yang sudah terasa kosong.  Tepat pukul 16.45, rombongan meninggalkan dermaga menuju tempat penginapan di Bandar Lampung yaitu Hotel Grand Anugrah. Ada 2 mobil yang memisahkan diri sesampainya di hotel yaitu mobil Om Denny karena ada urusan keluarga dan Om Yulianto karena menuju Bandar Jaya menjenguk orang tuanya.

Setelah mendapatkan kepastian kamar hotel saya dan istri langsung istirahat karena keletihan sangat. Ada beberapa panggilan telpon yang diabaikan karena kami ketiduran. Saya menduga anggota rombongan lain pasti langsung tertidur setibanya tubuh menyentuh kasur kamar hotel.

Esok hari adalah hari Natal sehingga ada beberapa anggota rombongan merayakan natal di gereja. Tetapi pukul 10.00 kumpul kembali karena rombongan berencana wisata ke Muncak Teropong Laut dan makan Pempek serta mencari durian karena Lampung sudah diserbu oleh para pedagang durian alias sudah masuk musim durian.

img-20161225-wa0008
Foto bersama di Muncak (dok. Forescom)

Pukul 10.00 rombongan berangkat ke Muncak. Muncak adalah lokasi wisata di atas bukit dimana kita dapat melihat pemandangan laut dan sekeliling kota Bandar Lampung. Pemandangannya indah sekali dan layak untuk diabadikan dalam bentuk foto.Setelah ambil beberapa foto dan menikmati gorengan di sebuah warung, rombongan memutuskan untuk makan Pempek di Pempek 123 yang konon terkenal enaknya. Di Pempek 123 beberapa anggota rombongan membeli oleh-oleh untuk dibawa ke tempat asalnya.

Setelah itu rombongan bergerak menuju daerah Way Halim. Sepanjang jalan Way Halim, pedagang menjajakan buah durian sehingga pengunjung mempunyai banyak pilihan durian yang disukai. Harga durian ada disekitaran Rp 100.000 untuk 4 buah durian berukuran normal. Sedangkan yang besar dihargai di atas Rp. 40.000 per buah. Beberapa biji saya mencoba enaknya durian yang infonya berasal dari daerah Bengkulu.

Tak salahlah ikut Mini Touring ini karena banyak kenikmatan yang kami peroleh terutama pempek dan duriannya. Di Way Halim, om Chandra memisahkan diri karena ingin merayakan natal dengan keluarga besar di Bandar Jaya. Tanpa terasa jumlah mobil berkurang menjadi 5 mobil saja. Segeralah rombongan yang tersisa kembali ke hotel dan acaranya bebas.

Saatnya tiba, hari terakhir rombongan berada di Bandar Lampung dan mempersiapkan diri untuk pulang ke pulau Jawa. Di hari terakhir, Om Ketum dan keluarga memisahkan diri karena ada urusan keluarga di Bandar Lampung. Tersisa 4 mobil, rombongan berangkat pukul 11.00 menuju pelabuhan Bakauheni. Butuh waktu 3 jam untuk sampai di Bakauheni. Tetapi sebelum masuk ke pelabuhan, kami singgah sejenak di Menara Siger yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan. Di Menara Siger, kita dapat menikmati keindahan pemandangan laut dan aktifitas kapal di pelabuhan Bakauheni.

Satu jam berada di Menara Siger, rombongan segera menuju pelabuhan Bakauheni untuk menuju pelabuhan Merak. Tepat pukul 18.20 rombongan meninggalkan pelabuhan Merak dan bergerak menuju Rest Area KM 68 tol Merak – Jakarta.Selain istirahat dan makan malam, kesempatan tersebut juga dipakai untuk membubarkan rombongan Mini Touring Pahawang dan kembali ke daerah asalnya masing-masing.

Begitu menyenangkan dan penuh suasana kekeluargaan dalam Mini Touring Pahawang ini. Walaupun hanya secuil penerawangan tentang Lampung tetapi cukup bagi kami, Komunitas Forescom untuk menerawang lebih luas lagi yaitu pulau Sumatera. Mungkin saja dari penerawangan tersebut Komunitas Forescom dapat melakukan Touring ke Bukittinggi atau Danau Toba di kemudian hari. Insya Allah.

Touring Ranca Upas Yang Layak Dikupas

13932914_10209839314323256_3668599575397666325_n
Dok. Forescom 2016

” Cech, tanggal 20-21 Agustus 2016 Forescom akan mengadakan Touring ke Ranca Upas, Bandung. Ikut Cech ? ” Begitulah ajakan kawan Edi Sembiring, salah satu pengurus Forescom sehari setelah saya melakukan registrasi keanggotaan Forescom. Saat itu saya belum memberikan jawaban karena pada tanggal tersebut saya dan istri ada acara ke Kamojang, Garut.

Ada sih keinginan untuk ikut serta dalam acara touring tersebut karena acara tersebut saya dapat jadikan silaturahim awal sebagai anggota baru untuk berkenalan dengan kawan-kawan Forescom. Dua hari setelah pembicaraan dengan Kawan Edi Sembiring, saya mendapatkan info bahwa touring diundur minggu depannya yaitu tanggal 27-28 Agustus 2016. Dengan mundurnya acara tersebut memberikan kemungkinan besar bagi saya untuk ikut serta. Melalui WA Group Chapter Bandung, saya mendapatkan informasi bahwa saya dapat menghubungi Om Chandra untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap dan bagaimana cara melakukan pendaftaran. Tanpa pikir panjang segera saya menghubungi Om Chandra dan mentransfer uang pendaftaran.

Awalnya saya pikir dari chapter Bandung bukan hanya saja yang turut serta karena beberapa hari menjelang hari H, beberapa teman chapter Bandung terlihat antusias. Saya senang sekali dapat bertemu teman-teman dari chapter Bandung. Tetapi pas hari H, hanya saya saja dari chapter Bandung. Walaupun demikian saya tetap semangat untuk ikut karena tujuan utama saya adalah silaturahim awal dengan komunitas Forescom.

Sesuai pembicaraan saya dengan Om Chandra via WA, titik kumpul saya dengan rombongan touring adalah exit toll Moh. Toha Bandung. Sebelum jam 8 pagi, saya sudah tiba di lokasi tersebut. Menunggu kurang lebih 20 menit, beberapa mobil rombongan Forescom keluar tol Moh. Toha. Salah satu mobil mendekati saya, rupanya mobil Om Chandra dan meminta saya untuk bersiap diri.

Sebagai Newbie, saya tidak terlalu banyak bertanya, hanya mengamati dan mengikuti jalannya mobil rombongan di depan saya. Sesekali saya berbicara dengan beberapa anggota Forescom pada saat rombongan berhenti sejenak. Penilaian awal saya terhadap teman-teman Forescom adalah baik dan interaktif.

Setelah berjalan lebih dari satu jam, rombongan tiba di Situ Cileunca. Satu per satu mobil parkir teratur di lokasi parkir yang besar Situ Cileunca. Terus terang saya baru pertama kali ke tempat ini. Sebelum kami mulai mencari lokasi untuk pemotretan, Panitia meminta kami berkumpul dan melakukan foto bersama baik dengan kamera biasa maupun drone.

DSCN3199
Dok. Cech
DSCN3204
Suasana Situ Cileunca nan terik (dok. Cech)
DSCN3202
Salah satu aktifitas di Situ Cileunca (dok. Cech)
DSCN3206
Aktifitas pemotretan di Situ Cileunca (dok. Cech)

Selanjutnya kami bergerak mendekati situ Cileunca. Hari itu terik sekali matahari, tapi tidak menyurutkan kami untuk melakukan pemotretan. Ada yang memotret pemandangan sekitar situ, ada yang Wefie/Selfie, ngobrol dengan sesama anggota termasuk saya dan lain-lain. Terlihat raut wajah kegembiraan dan lepas dari suasana kepenatan saat aktifitas kerja sehari-hari. Tanpa terasa satu jam terlewati di lokasi tersebut. Kemudian panitia memanggil kami untuk berkumpul dan segera bersiap diri untuk meneruskan perjalanan ke Rumah Bosscha (Malabar Tea House).

Perjalanan menuju Rumah Bosscha terbilang lancar walaupun jalanan hanya cukup untuk dua mobil, berliku, melewati pedesaan dengan kebun teh khasnya dan beberapa area jalan yang tampak rusak tapi tidak menghalangi rombongan Forescom. Kurang lebih satu jam perjalanan menuju Rumah Bosscha. Awalnya saya pikir rumah Bosscha terletak di Lembang (Utara Bandung, teringat teropong Bosscha) ternyata rumah Bosscha adalah tempat tinggal Bosscha dikelilingi oleh perkebunan teh yang sejuk dan indah serta termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung (selatan Bandung) dekat sekali dengan daerah Pengalengan.

DSC_0001
Kebun Teh dekat Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0002
Berhenti sejenak sebelum masuk ke Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSCN3207
Lokasi parkir Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0005
Kumpul lagi setelah makan siang untuk sesi pemotretan (dok. Cech)

Sekarang Rumah Bosscha merupakan bagian dari  Wisma Malabar, lokasinya di atas bukit dan dikeliling oleh perkebunan teh Malabar milik PT. Perkebunan Nusantara VIII – Malabar. Wisma Malabar menjadi sebuah penginapan nan asri dan sejuk. Dengan harga yang cukup di atas rata-rata dibanding penginapan lain di Pangalengan, Wisma Malabar ini memang menawarkan lokasi dan pemandangan yang indah. Harga per kamar untuk tipe twin bed room : 450 ribu IDR / malam, termasuk sarapan nasi goreng untuk 2 orang. tidak ada fasilitas berlebihan di dalam kamarnya, ada tv kecil, bathtub/shower dengan air panas, handuk, toiletries. Rumah Boscha merupakan rumah tua peninggalan K.A.R. Bosscha, seorang Belanda yang mendirikan pertama kali kebun teh di wilayah Malabar.

Dua jam kami berada di Wisma Malabar. Aktifitas yang dilakukan adalah makan siang, shalat dhuhur dan menunggu satu mobil dari Bekasi yang datang terlambat sehingga jumlah mobil yang ikut serta lengkap 25 mobil dengan total peserta 45 orang. Selain itu ada pemotretan bersama untuk dokumentasi.

Dari Rumah Bosscha, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi utama touring camp yaitu Ranca Upas. Rombongan membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Setibanya di Ranca Upas hari sudah mendekati senja. Segeralah kami parkir mobil mendekati tenda tempat kami menginap. Ada 2 tenda yang sudah berdiri  yaitu tenda untuk pria dan wanita. Pada saat itu lokasi camp dikelilingi oleh beberapa tenda kecil yang sudah berdiri sebelum kedatangan kami. Suasana lokasi sangat ramai.Tapi yang terpenting bagi saya adalah kamar mandi. Ternyata kamar mandi banyak sekali didirikan sehingga tidak menyusahkan pengunjung saat ingin buang hajat atau mandi.

Baru saja memasuki tenda, cuaca mulai mendung dan hujan rintik-rintik. Karena perut terasa lapar, saya pergi ke warung depan. Sesampainya di warung saya memesan Indo Mie Telur dan memakan beberapa gorengan sambil menikmati kopi susu. Beberapa menit kemudian, satu anggota Forescom yaitu Om Ikhtiar tiba di warung dan memesan menu yang sama dengan saya. Rupanya Om Ikhtiar kelaparan juga. Setelah itu hujan turun dengan lebatnya. Wahh… langsung kami berpikir rencana latihan pemotretan malam hari bakal dibatalkan karena hujan.

2 jam kami di warung dan hujan mulai berhenti, tiba-tiba panitia Forescom termasuk Ketum Om Dudi datang ke warung. Rupanya mereka kelaparan juga. Sambil menikmati wedang jahe dan gorengan, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan diselingi tawa dan canda. Setelah itu kami memutuskan untuk menyalakan api unggun dan melakukan sesi pelatihan memotret malam hari (yang utama adalah pelatihan foto Steel Wool)

FB_IMG_1472442447697
Suasana pelatihan pemotretan di malam hari (dok. Forescom)
FB_IMG_1472442458889
Teknik pemotretan dengan kombinasi tulisan dan gambar (dok. Forescom)
14080028_10209976509873059_5333958485918599863_n
Steel Wool (dok. Forescom)

Malam makin larut dan penat tak tertahankan sehingga tubuh ini butuh istirahat. Saya segera menuju tenda penginapan dan tertidurlah. Tepat jam 4 pagi saya terbangun. Setelah beberes kasur, selimut dan tas bawaan, segera saya bawa ke mobil. Kemudian saya pergi ke warung semalam untuk menikmati kopi di pagi hari. Jam 7 pagi semua peserta sudah terbangun. Ada yang langsung makan pagi, mandi dan hunting foto di sekitaran Ranca Upas. Rupanya semangat melakukan pemotretan masih tinggi. Walaupun tanah becek tetap tidak menghalangi aktifitas pemotretan.

DSCN3214
Suasana parkiran mobil di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3221
Tenda-tenda yang berdiri dekat tenda Forescom di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3217
Candid Camera pasangan yang sedang melakukan foto Pre-wedding (dok. Cech)
DSCN3218
Om Chandra tampak serius dengan hapenya (dok. Cech)
DSCN3220
Om Ikhtiar asyik dengan kameranya (dok. Cech)
FB_IMG_1472442428415
Foto bersama sebelum meninggalkan Ranca Upas (dok. Forescom)

Setelah perut kenyang, pemotretan, pemberian hadiah kepada pemenang foto  sepanjang perjalanan dan mobil satu per satu dapat melewati jalan yang becek maka selanjutnya perjalanan menuju Situ Patenggang sebagai destinasi terakhir.

Kembali rombongan bergerak teratur menuju Situ Patenggang yang melewati jalan berkelok dengan sisi kebun teh yang asri. Kurang lebih satu jam kami tiba di Situ Patenggang. Terlihat dengan jelas hamparan situ nan indah dari atas bukit, tempat parkir berada. Segeralah kami menyebar dan melakukan aksi pemotretan di areal Situ Patenggang.

DSCN3222
Rumah makan berbentuk kapal tradisional di atas bukit (dok. Cech)
DSCN3229
Pemandangan Situ Patenggang dari atas rumah makan (dok. Cech)
DSCN3228
Model kamar penginapan dekat Situ Patenggang (dok. Cech)
DSCN3223
Toilet nan bersih di Situ Patenggang (dok. Cech)

Hari mulai siang, perjalanan dilanjutkan menuju rumah makan Sindang Barang sebelum pembubaran acara touring camp dan kembali ke rumah masing-masing. Setelah makan siang dan rehat yang cukup maka Om Ketum membubarkan acara touring camp yang dianggap sukses sekaligus memberi informasi kegiatan selanjutnya di Jawa Timur. Bagi saya, touring camp merupakan wahana yang baik untuk menambah persaudaraan dan meningkat silaturahim bagi para pemilik mobiil Ford Ecosport. Walaupun awalnya saya agak heran mengapa panggilan kepada anggota pria adalah om dan wanita adalah tante. Tetapi bagi saya tidak masalah karena mungkin panggilan tersebut untuk mempererat persaudaran komunitas. Berharap agar kegiatan Forescom berikutnya dapat diikuti oleh seluruh anggota komunitas ini.

Ranca Upas layak dikupas
Bagai kipas
Angin terhempas
Letih lelah menjadi impas
Tawa bahagia tampak puspas
Tak ada ampas
Semuanya terasa pas