Jambore Forescom Rasa Bandung

Pembicaraan tentang Jambore Forescom 2 Yogyakarta-Magelang pada tanggal 21-23 April 2017 sudah dibicarakan jauh-jauh hari. Baru menjelang hari H tercatat ada 13 anggota Forescom chapter Bandung berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Malam hari sebelum hari H, tuntas sudah disepakati bahwa tim Bandung akan berangkat pada tanggal 21 April 2017 jam 04.30 dengan titik kumpul di sekitaran Kahatex. Saya dan om Banyu tidak dapat ikut dalam rombongan karena seperti om Banyu baru dapat berangkat setelah sholat Jumat. Sedangkan saya baru berangkat jam 7 pagi setelah mengantar istri ke kantor di bilangan Setiabudhi.

Tepat jam 7 pagi, mulai dari kantor istri, mobil Ford Ecosport bergerak secara meyakinkan. Dengan selisih waktu sekitar 3 jam, saya merasa yakin dapat menyusul rombongan Chapter Bandung. Pada saat mengisi BBM di Shell, saya mendapat kabar bahwa rombongan masih berada di Nagrek karena menunggu om Panggih.

Bensin terisi penuh, lagu ” Good Life” milik G-Eazy & Kehlani memberikan semangat berkendara  layaknya Dominic Toreto dalam film  The Fate of The Furious 8. Tanpa terasa pintu tol Cileunyi terlewati sejak keluar dari Pasteur. Sudah lama saya tidak melewati jalur selatan walaupun demikian masih hafal dengan seluk beluk atau titik-titik rawannya. Beberapa kali saya mendapat informasi dari WAG kalau rombongan akan berhenti di daerah Gentong tetapi dibatalkan. Selanjutnya saya kehilangan informasi tentang tempat istirahat rombongan. Saya memaklumi hal tersebut karena itulah Bandung Kahiji hehehe.

Terlintas dalam pikiran mungkin rombongan akan berhenti di Sidareja karena selain banyak warung makan, dekat pula dengan mesjid besar Sidareja. Ternyata apa yang terjadi ? Tidak ada sama sekali bau-baunya rombongan sehingga saya memutuskan untuk balik ke arah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah. Dilalah ketemu juga dengan rombongan yang katanya baru 5 menit tiba di Restoran Pringsewu yang jaraknya 2 kilometeran dari perbatasan propinsi. Artinya selama di perjalanan kecepatan mobil Ecos saya berapa km/jam ya? Hanya Allah SWT dan hamba Allah ini yang mengetahui.

DSC_0001
Rumah Makan Pringsewu (dok. Cech)
20170421_150336
Buka Tutup karena banyaknya perbaikan jalan (dok. Cech)

Karena hari jumat, beberapa anggota tim melaksanakan sholat Jumat terlebih dahulu. Setelah itu dilanjutkan makan siang. 2 jam sudah kami berada di restoran tersebut. Tepat pukul 14.15 keduabelas mobil Ecos bergerak beriringan menuju kota Yogyakarta. Kondisi jalan yang kurang baik membuat rombongan berjalan dengan kecepatan tidak lebih dari 60 km/jam. Lebih dari itu sudah merupakan mukjizat hahahaha.

Perbaikan jalan yang kelihatannya sedang dikebut untuk lebaran dilakukan mulai dari Majenang sampai Buntu. Buka-tutup pun dilakukan sehingga menghambat perjalanan kami. Tetapi kami menikmati itu semua.

Menjelang jam 6 sore, rombongan kami berhenti di sebuah SPBU di Kebasen. Setelah rehat sejenak dan ditentukan titik pemberhentian berikutnya, kami melanjutkan perjalanan. Memasuki kota Kebumen, hujan datang mengundang sehingga makin membuat perjalanan bergerak melambat. Selepas Purworejo, rombongan berhenti untuk makan malam di Rumah Makan Rejeki. 1,5 jam di rumah makan tersebut, selanjutnya rombongan dengan formasi seperti semula bergerak ke Yogyakarta. Hanya saja memasuki kota Yogya, rombongan terpisah menjadi 3 karena terhalang beberapa kendaraan. Tetapi akhirnya seluruh anggota rombongan tiba di Hotel Sahid Jaya dengan selamat pada pukul 00.00.

Sesampainya di hotel, kami pikir dapat segera istirahat ternyata banyak masalah dengan pelayanan hotel terhadap rombongan kami. Seperti kamar yang ingin ditempati belum dibersihkan, kamar mandi yang bocor, kamar mandi yang bau busuk, telpon yang tidak berfungsi, akses internet yang tidak terkoneksi dan lain-lain. Tetapi semuanya dapat diselesaikan dengan hati lapang walaupun masih bersungut-sungut hahahaha…

Pukul 03.00 saya keluar hotel untuk menjemput istri di Stasiun Tugu. Istri berangkat dari Bandung pada pukul 19.30 dengan kereta api Argo Turangga jurusan Bandung-Surabaya. Pukul 03.45 istri keluar dari pintu keluar dan langsung kami menuju hotel untuk rehat sejenak. Ya sekitar 2-3 jam cukuplah untuk istirahat karena pukul 07.00 acara Amazing Race segera dimulai.

IMG-20170422-WA0011
Foto dulu sebelum Amazing Race (dok. Forescom Bandung)

Pukul 07.00 beberapa anggota rombongan Bandung sudah berkumpul di sebuah meja bundar sambil menikmati sarapan pagi. Saya sudah menduga jam keberangkatan akan mundur lagi karena masih menunggu anggota yang belum keluar dari kamarnya dan sarapan pagi dulu. Setelah semua anggota sarapan pagi  maka kami melakukan evaluasi ulang rencana perjalanan hari itu. Pertimbangannya adalah hari itu adalah hari Sabtu alias weekend dimana kondisi lalu lintas di Yogyakarta akan padat merayap bahkan mendekati macet cet tak bergerak. Untuk mengatasi kejadian tersebut, om Yusuf meminta temannya yang tinggal di Yogyakarta untuk menjadi Tour Guide rombongan kami. Pukul 09.30 sang teman datang dengan sepeda motornya. Setelah memarkirkan motornya, rombongan bergerak menuju objek wisata pertama yaitu Pantai Depok.

Untuk menuju Pantai Depok, rombongan sempat mengalami lalu lintas padat merayap sehingga baru tiba di Pantai Depok pada pukul 11.25. Sesampainya di Pantai Depok, kami segera melakukan pengambilan foto bersama dan foto masing-masing anggota di pantai Depok dengan terik matahari yang menyengat. Saya dan istri tidak ingin lama berada di pantai tersebut dan langsung keluar gerbang sambil menunggu anggota rombongan lain.

IMG-20170422-WA0033
Foto rombongan chapter Bandung di Pantai Depok (dok. Forescom Bandung)
IMG-20170422-WA0104
Foto rombongan chapter Bandung di Hutan Pinus Mangunan (dok. Forescom Bandung)
IMG-20170422-WA0150
Foto om Panggih yang menjadi Juara 1 Lomba Foto Jambore Forescom (Dok. Panggih Raharjo)
IMG-20170422-WA0067
Hutan Pinus Mangunan (Dok. Cech)
IMG-20170422-WA0055
Foto rombongan chapter Bandung di Jurang Tembelan (Dok. Cech)

Karena waktunya makan siang maka kami berhenti terlebih dahulu di restoran Pringsewu. Nah di restoran ini, kami mengubah rute perjalanan. Awalnya kami ingin ke Dinding Breksi. Setelah mendengar penjelasan teman om Yusuf maka setelah makan siang rombongan akan menuju ke Hutan Pinus Mangunan dan Jurang Tembelan yang jauhnya hanya 14 km atau 20 menit dari restoran Pringsewu.

Pukul 14.30 rombongan melanjutkan perjalanan ke Hutan Pinus Mangunan dari restoran Pringsewu. Alhamdulillah perjalanan kami lancar dan tidak lebih dari 1 jam sudah sampai di Hutan Pinus Mangunan nan rindang dan menyejukkan. Nah di hutan pinus inilah om Panggih berhasil mengabadikan foto yang akhirnya menjadi juara 1 perlombaan foto yang diselenggaran oleh panitia Jambore.

Karena waktu yang sudah mepet, tidak lama di hutan pinus Mangunan, rombongan meneruskan perjalanan ke jurang Tembelan (bukan tambal ban ya hehehe). Tempatnya menarik dan banyak anggota rombongan mengambil foto. Tetapi baru setengah jam di tempat tersebut tiba-tiba datang hujan deras. Segeralah kami meninggalkan tempat dan menyepakati untuk kembali ke hotel.

Sementara rombongan kembali ke hotel, saya mohon ijin untuk berpisah karena ingin menikmati Mi Jowo Mbah Gito, . Dengan bantuan Google Map, kami berhasil menemukan lokasinya. Parkiran penuh dengan kendaraan, sekilas saya melihat pengunjung mengantri pesan makanan. Saya sempat berpikir untuk membatalkan makan di tempat tersebut. Tetapi istri kenal dengan beberapa pelayan sehingga kami mendapatkan tempat. Saya langsung memesan 2 mie Jowo, minuman uwuh, teh poci untuk kami berdua. Mie Jowo Mbah Gito memang jos tenan. Apalagi wedang Uwuhnya mengembalikan stamina saya setelah lelah sekali melakukan perjalanan selama 2 hari ini.

WhatsApp Image 2017-02-18 at 17.34.34
Warung Bakmi Jowo Mbah Gito (Dok. Cech)
IMG-20170422-WA0090
Wedang Uwuh yang menyegarkan (Dok. Cech)

Setelah dari Mie Jowo Mbah Gito, kami menuju Bakpia Pathuk  Kurnia daerah Puwodiningratan. Bakpia Pathuk ini adalah langganan saya apabila ingin membeli bakpia khan Yogya sebagai oleh-oleh. Rasanya mengalahkan semua bakpia yang ada dan murah pula hahahaa… Setelah membeli beberapa dus bakpia, kami kembali ke hotel. Tanpa terasa jam menunjukkan pukul 23.10. Saatnya istirahat untuk kegiatan berikutnya keesokan harinya.

Tanggal 23 April 2017 pukul 04.30, saya sudah berada di lobi hotel. Beberapa anggota rombongan telah duduk di meja bundar dan langsung sarapan pagi seadanya. Sesuai kegiatan panitia hari itu adalah sesi foto bersama seluruh kendaraan Ford Ecosport peserta Jambore di Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta maka persiapan dilakukan pada pagi hari sekali. Hal ini disebabkan butuh waktu untuk membentuk formasi kendaraan Ford Ecos dengan 3 pesawat latih milik TNI AU. Sesi foto ini merupakan kerjasama antara Forescom dengan Pangkalan TNI AU Lanud Adi Sucipto sekaligus menyambut Jogja Air Show yang akan berlangsung pada tanggal 25-30 April 2017.

Sesampainya di lapangan Jupiter Lanud Adi Sucipto, dibentuklah formasi apik gabungan antara 105 kendaraan Ford Ecosport, 1 Ford Focus, 1 Ford Everest dengan 3 pesawat latih milik TNI AU. Pengambilan foto dan video dipimpin oleh om Eko Sumartopo dari Jawa Timur. Tidaklah mudah mengatur dan membentuk formasi karena butuh kesadaran dan kesabaran peserta untuk mengikuti aba-aba pengatur formasi. Satu jam lebih waktu dibutuhkan untuk membentuk formasi yang diinginkan dan sesi foto  serta pengambilan video berlangsung lancar.

20170423_075012
Formasi kendaraan Ecos (Dok. Cech)
20170423_075133
3 pesawat latih dikeluarkan dari hanggar (Dok. Cech)
IMG-20170426-WA0002
Formasi yang terbentuk (Dok. Forescom Indonesia)
IMG-20170423-WA0134
Forescom Bandung di Lanud Adi Sucipto Yogyakarta (Dok. Cech)

Setelah sesi foto di Lanud Adi Sucipto, rombongan peserta Jambore kembali ke Hotel Sahid Jaya. Selanjutnya kami check out dan melanjutkan perjalanan ke Hotel Grand Artos, Magelang. Tetapi sebagian besar peserta Jambore selepas check out melanjutkan acara Lava Tour di daerah Gunung Merapi.

Dalam perjalanan ke Magelang, saya hanya ditemani oleh om Jasman dan keluarga. Tetapi sebelumnya kami membeli oleh-oleh khas Yogyakarta dan melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur karena anak-anak om Jasman ingin sekali ke Candi Borobudur. Sedangkan saya dan istri berfungsi sebagai tour guide saja. Pukul 17.30, kami sudah keluar dari parkiran Candi Borobudur menuju hotel Grand Artos dengan diiringi oleh hujan yang sangat deras sekali.

Sesampainya di hotel kami segera persiapan untuk menghadiri acara Gala Dinner. Ternyata Gala Dinner diundur satu jam karena masih banyak peserta Jambore yang belum tiba di hotel sepulang dari Lava Tour. Tepat pukul 20.00 acara dimulai. Suasana gala dinner terasa sekali karena makanan yang disediakan dapat dinikmati oleh seluruh peserta. Dalam acara Gala Dinner tersebut diselingi oleh pemberian beberapa Door Prize kepada pesera Jambore yang beruntung. Selain itu diumumkan pemenang lomba foto yang ternyata juara 1 berasal dari kota Bandung. Selamat untuk Om Panggih. Sedangkan video Amazing Race ditunda pengumuman pemenangnya karena baru 3 chapter yang mengirimkan videonya. Secara keseluruhan baik acara Gala Dinner dan kegiatan yang diselenggarakan oleh panitia berjalan dengan baik dan sukses. Bagi chapter Bandung, Jambore Forescom ini makin mengukuhkan kekompakan anggota sehingga ke depannya chapter Bandung dapat menjadi contoh bahkan leader bagi Forescom Indonesia. Forescom Bandung Memang Juara… Hidup Forescom Bandung Kahiji…

Iklan

Touring Ranca Upas Yang Layak Dikupas

13932914_10209839314323256_3668599575397666325_n
Dok. Forescom 2016

” Cech, tanggal 20-21 Agustus 2016 Forescom akan mengadakan Touring ke Ranca Upas, Bandung. Ikut Cech ? ” Begitulah ajakan kawan Edi Sembiring, salah satu pengurus Forescom sehari setelah saya melakukan registrasi keanggotaan Forescom. Saat itu saya belum memberikan jawaban karena pada tanggal tersebut saya dan istri ada acara ke Kamojang, Garut.

Ada sih keinginan untuk ikut serta dalam acara touring tersebut karena acara tersebut saya dapat jadikan silaturahim awal sebagai anggota baru untuk berkenalan dengan kawan-kawan Forescom. Dua hari setelah pembicaraan dengan Kawan Edi Sembiring, saya mendapatkan info bahwa touring diundur minggu depannya yaitu tanggal 27-28 Agustus 2016. Dengan mundurnya acara tersebut memberikan kemungkinan besar bagi saya untuk ikut serta. Melalui WA Group Chapter Bandung, saya mendapatkan informasi bahwa saya dapat menghubungi Om Chandra untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap dan bagaimana cara melakukan pendaftaran. Tanpa pikir panjang segera saya menghubungi Om Chandra dan mentransfer uang pendaftaran.

Awalnya saya pikir dari chapter Bandung bukan hanya saja yang turut serta karena beberapa hari menjelang hari H, beberapa teman chapter Bandung terlihat antusias. Saya senang sekali dapat bertemu teman-teman dari chapter Bandung. Tetapi pas hari H, hanya saya saja dari chapter Bandung. Walaupun demikian saya tetap semangat untuk ikut karena tujuan utama saya adalah silaturahim awal dengan komunitas Forescom.

Sesuai pembicaraan saya dengan Om Chandra via WA, titik kumpul saya dengan rombongan touring adalah exit toll Moh. Toha Bandung. Sebelum jam 8 pagi, saya sudah tiba di lokasi tersebut. Menunggu kurang lebih 20 menit, beberapa mobil rombongan Forescom keluar tol Moh. Toha. Salah satu mobil mendekati saya, rupanya mobil Om Chandra dan meminta saya untuk bersiap diri.

Sebagai Newbie, saya tidak terlalu banyak bertanya, hanya mengamati dan mengikuti jalannya mobil rombongan di depan saya. Sesekali saya berbicara dengan beberapa anggota Forescom pada saat rombongan berhenti sejenak. Penilaian awal saya terhadap teman-teman Forescom adalah baik dan interaktif.

Setelah berjalan lebih dari satu jam, rombongan tiba di Situ Cileunca. Satu per satu mobil parkir teratur di lokasi parkir yang besar Situ Cileunca. Terus terang saya baru pertama kali ke tempat ini. Sebelum kami mulai mencari lokasi untuk pemotretan, Panitia meminta kami berkumpul dan melakukan foto bersama baik dengan kamera biasa maupun drone.

DSCN3199
Dok. Cech
DSCN3204
Suasana Situ Cileunca nan terik (dok. Cech)
DSCN3202
Salah satu aktifitas di Situ Cileunca (dok. Cech)
DSCN3206
Aktifitas pemotretan di Situ Cileunca (dok. Cech)

Selanjutnya kami bergerak mendekati situ Cileunca. Hari itu terik sekali matahari, tapi tidak menyurutkan kami untuk melakukan pemotretan. Ada yang memotret pemandangan sekitar situ, ada yang Wefie/Selfie, ngobrol dengan sesama anggota termasuk saya dan lain-lain. Terlihat raut wajah kegembiraan dan lepas dari suasana kepenatan saat aktifitas kerja sehari-hari. Tanpa terasa satu jam terlewati di lokasi tersebut. Kemudian panitia memanggil kami untuk berkumpul dan segera bersiap diri untuk meneruskan perjalanan ke Rumah Bosscha (Malabar Tea House).

Perjalanan menuju Rumah Bosscha terbilang lancar walaupun jalanan hanya cukup untuk dua mobil, berliku, melewati pedesaan dengan kebun teh khasnya dan beberapa area jalan yang tampak rusak tapi tidak menghalangi rombongan Forescom. Kurang lebih satu jam perjalanan menuju Rumah Bosscha. Awalnya saya pikir rumah Bosscha terletak di Lembang (Utara Bandung, teringat teropong Bosscha) ternyata rumah Bosscha adalah tempat tinggal Bosscha dikelilingi oleh perkebunan teh yang sejuk dan indah serta termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung (selatan Bandung) dekat sekali dengan daerah Pengalengan.

DSC_0001
Kebun Teh dekat Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0002
Berhenti sejenak sebelum masuk ke Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSCN3207
Lokasi parkir Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0005
Kumpul lagi setelah makan siang untuk sesi pemotretan (dok. Cech)

Sekarang Rumah Bosscha merupakan bagian dari  Wisma Malabar, lokasinya di atas bukit dan dikeliling oleh perkebunan teh Malabar milik PT. Perkebunan Nusantara VIII – Malabar. Wisma Malabar menjadi sebuah penginapan nan asri dan sejuk. Dengan harga yang cukup di atas rata-rata dibanding penginapan lain di Pangalengan, Wisma Malabar ini memang menawarkan lokasi dan pemandangan yang indah. Harga per kamar untuk tipe twin bed room : 450 ribu IDR / malam, termasuk sarapan nasi goreng untuk 2 orang. tidak ada fasilitas berlebihan di dalam kamarnya, ada tv kecil, bathtub/shower dengan air panas, handuk, toiletries. Rumah Boscha merupakan rumah tua peninggalan K.A.R. Bosscha, seorang Belanda yang mendirikan pertama kali kebun teh di wilayah Malabar.

Dua jam kami berada di Wisma Malabar. Aktifitas yang dilakukan adalah makan siang, shalat dhuhur dan menunggu satu mobil dari Bekasi yang datang terlambat sehingga jumlah mobil yang ikut serta lengkap 25 mobil dengan total peserta 45 orang. Selain itu ada pemotretan bersama untuk dokumentasi.

Dari Rumah Bosscha, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi utama touring camp yaitu Ranca Upas. Rombongan membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Setibanya di Ranca Upas hari sudah mendekati senja. Segeralah kami parkir mobil mendekati tenda tempat kami menginap. Ada 2 tenda yang sudah berdiri  yaitu tenda untuk pria dan wanita. Pada saat itu lokasi camp dikelilingi oleh beberapa tenda kecil yang sudah berdiri sebelum kedatangan kami. Suasana lokasi sangat ramai.Tapi yang terpenting bagi saya adalah kamar mandi. Ternyata kamar mandi banyak sekali didirikan sehingga tidak menyusahkan pengunjung saat ingin buang hajat atau mandi.

Baru saja memasuki tenda, cuaca mulai mendung dan hujan rintik-rintik. Karena perut terasa lapar, saya pergi ke warung depan. Sesampainya di warung saya memesan Indo Mie Telur dan memakan beberapa gorengan sambil menikmati kopi susu. Beberapa menit kemudian, satu anggota Forescom yaitu Om Ikhtiar tiba di warung dan memesan menu yang sama dengan saya. Rupanya Om Ikhtiar kelaparan juga. Setelah itu hujan turun dengan lebatnya. Wahh… langsung kami berpikir rencana latihan pemotretan malam hari bakal dibatalkan karena hujan.

2 jam kami di warung dan hujan mulai berhenti, tiba-tiba panitia Forescom termasuk Ketum Om Dudi datang ke warung. Rupanya mereka kelaparan juga. Sambil menikmati wedang jahe dan gorengan, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan diselingi tawa dan canda. Setelah itu kami memutuskan untuk menyalakan api unggun dan melakukan sesi pelatihan memotret malam hari (yang utama adalah pelatihan foto Steel Wool)

FB_IMG_1472442447697
Suasana pelatihan pemotretan di malam hari (dok. Forescom)
FB_IMG_1472442458889
Teknik pemotretan dengan kombinasi tulisan dan gambar (dok. Forescom)
14080028_10209976509873059_5333958485918599863_n
Steel Wool (dok. Forescom)

Malam makin larut dan penat tak tertahankan sehingga tubuh ini butuh istirahat. Saya segera menuju tenda penginapan dan tertidurlah. Tepat jam 4 pagi saya terbangun. Setelah beberes kasur, selimut dan tas bawaan, segera saya bawa ke mobil. Kemudian saya pergi ke warung semalam untuk menikmati kopi di pagi hari. Jam 7 pagi semua peserta sudah terbangun. Ada yang langsung makan pagi, mandi dan hunting foto di sekitaran Ranca Upas. Rupanya semangat melakukan pemotretan masih tinggi. Walaupun tanah becek tetap tidak menghalangi aktifitas pemotretan.

DSCN3214
Suasana parkiran mobil di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3221
Tenda-tenda yang berdiri dekat tenda Forescom di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3217
Candid Camera pasangan yang sedang melakukan foto Pre-wedding (dok. Cech)
DSCN3218
Om Chandra tampak serius dengan hapenya (dok. Cech)
DSCN3220
Om Ikhtiar asyik dengan kameranya (dok. Cech)
FB_IMG_1472442428415
Foto bersama sebelum meninggalkan Ranca Upas (dok. Forescom)

Setelah perut kenyang, pemotretan, pemberian hadiah kepada pemenang foto  sepanjang perjalanan dan mobil satu per satu dapat melewati jalan yang becek maka selanjutnya perjalanan menuju Situ Patenggang sebagai destinasi terakhir.

Kembali rombongan bergerak teratur menuju Situ Patenggang yang melewati jalan berkelok dengan sisi kebun teh yang asri. Kurang lebih satu jam kami tiba di Situ Patenggang. Terlihat dengan jelas hamparan situ nan indah dari atas bukit, tempat parkir berada. Segeralah kami menyebar dan melakukan aksi pemotretan di areal Situ Patenggang.

DSCN3222
Rumah makan berbentuk kapal tradisional di atas bukit (dok. Cech)
DSCN3229
Pemandangan Situ Patenggang dari atas rumah makan (dok. Cech)
DSCN3228
Model kamar penginapan dekat Situ Patenggang (dok. Cech)
DSCN3223
Toilet nan bersih di Situ Patenggang (dok. Cech)

Hari mulai siang, perjalanan dilanjutkan menuju rumah makan Sindang Barang sebelum pembubaran acara touring camp dan kembali ke rumah masing-masing. Setelah makan siang dan rehat yang cukup maka Om Ketum membubarkan acara touring camp yang dianggap sukses sekaligus memberi informasi kegiatan selanjutnya di Jawa Timur. Bagi saya, touring camp merupakan wahana yang baik untuk menambah persaudaraan dan meningkat silaturahim bagi para pemilik mobiil Ford Ecosport. Walaupun awalnya saya agak heran mengapa panggilan kepada anggota pria adalah om dan wanita adalah tante. Tetapi bagi saya tidak masalah karena mungkin panggilan tersebut untuk mempererat persaudaran komunitas. Berharap agar kegiatan Forescom berikutnya dapat diikuti oleh seluruh anggota komunitas ini.

Ranca Upas layak dikupas
Bagai kipas
Angin terhempas
Letih lelah menjadi impas
Tawa bahagia tampak puspas
Tak ada ampas
Semuanya terasa pas