Hidup

DSC_0103

Jika kau membawa kegelisahan dalam hatimu, kau hidup


Jika kau membawa cahaya impian dimatamu, kau hidup


Seperti hembusan angin, belajar untuk hidup bebas


Belajar mengalir seperti ombak yang membuat laut


Biarkan tanganmu terbuka lebar pada setiap kenangan yang kau temui


Mungkin setiap kenangan memberimu pandangan baru


Jika kau membawa angan-angan dimatamu, kau hidup …

Apakah Hukuman Yang Berhubungan Dengan Kematian Cocok Untuk Koruptor ?

Corruption:Its In There (ronaldcarey.blogspot.com)
Corruption:Its In There (ronaldcarey.blogspot.com)

Tampak dua orang pria berpakaian jingga sedang menggali liang lahat. Segala aktifitas mereka selalu diperhatikan dengan seksama oleh seorang pria tinggi besar, rambut cepak ala militer  dengan berpakaian warna hijau. Pemandangan inilah yang menarik perhatian saya pada saat menghadiri acara penguburan seorang Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang meninggal dunia karena penyakit pneumonia akut di salah satu pemakaman umum yang ada di Fiji.

Siapakah mereka ? Selidik punya selidik ternyata mereka bertiga berasal dari Sebuah Penjara yang dekat dengan pemakaman umun tersebut. Dua orang yang berpakaian jingga adalah narapidana yang mendapatkan tugas untuk menggali liang lahat setiap ada peristiwa kematian. Sedangkan yang satunya adalah petugas sipir yang ditugaskan untuk mengawasi kedua narapidana tersebut.

Rupanya di Fiji berlaku hukuman wajib bagi narapidana yaitu kerja sosial seperti yang dilakukan oleh kedua narapidana tersebut di atas. Peristiwa di pemakaman tersebut menimbulkan pemikiran saya apakah sebaiknya para koruptor yang telah dijatuhi hukuman penjara dikenai hukuman sosial yang berhubungan dengan kematian ?

Terus terang saya kurang setuju dengan hukuman mati. Menurut saya, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang mempunyai hak atas hidup mati seorang manusia. Bukan kita sebagai manusia. Yang penting adalah bagaimana hukuman kepada para koruptor bisa memberikan efek jera. Efektifkah ? Perlu pembuktian.

Dalam pikiran saya, ada pengaruh yang luar biasa hukuman sosial yang berhubungan dengan kematian bagi para koruptor. Hal ini perlu dilakukan agar terpidana korupsi sadar sesadar-sadarnya akibat perbuatannya. Karena perbuatannya tidak hanya merugikan negara tetapi juga secara tidak langsung mengakibatkan banyak orang yang menderita atau sengsara seperti kemiskinan, pengangguran dan kelaparan.

Contoh hukuman sosial yang bisa dilaksanakan adalah memerintahkan terpidana korupsi yang beragama Islam untuk membantu pengurus pemakaman umum khusus Islam dengan menggali liang lahat (terutama yang masih muda dan mempunyai perawakan yang sehat), memandikan mayat di mesjid, rumah sakit atau di rumah duka. Pelaksanaanya bisa diatur oleh Kemenhukan  bekerja sama dengan pengurus mesjid, rumah sakit atau pengurus pemakaman umum dengan jadwal sedemikan rupa. Begitu pula bagi yang beragama lain dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti membuat dan mengangkat peti mati, merias mayat, atau membatu pembakaran mayat dan lain-lain. Kalau perlu digunakan pakaian khusus bagi terpidana korupsi pada saat menjalankan hukuman sosial tersebut.

Saya berharap dengan hukuman sosial yang berhubungan dengan kematian dapat menyadarkan terpidana korupsi tentang arti sebuah kehidupan. Hidup itu hanya sekali setelah itu mati, jadi berbuatlah kebaikan selama masih hidup di dunia sebelum dijemput oleh Malaikat Pencabut Nyawa.

Peran Orang Tua Mempengaruhi Anak Menjadi Seorang Pengusaha

Coba pikirkan kembali apakah  keputusan kita untuk memiliki bisnis  sendiri adalah benar-benar memang keputusan sendiri ? Mungkin tidak. Penelitian baru menemukan bahwa orangtua  memiliki lebih banyak kaitannya dengan pilihan karir kita  daripada yang kita pikirkan. Penelitian   yang  dipublikasikan oleh  Child Development Perspectives edisi Desember 2010 ini    menunjukkan bahwa keputusan  seorang anak ternyata ditentukan  oleh sebagian besar keputusan sehari-hari  yang dibuat oleh orang tua yang telah membimbing pertumbuhannya.

 

Success as an entrepreneur (kingdomstrategist.com)

Sementara itu  peneliti sebelumnya telah menentukan bahwa kecenderungan karir kita  merupakan  warisan genetik dan  yang lainnya mengatakan bahwa kekuatan pendorong adalah pendidikan  dan ajaran  yang  didapatkan dari orang tua. Atau berdasarkan sebuah teori baru perkembangan anak yang merupakan penggabungan kedua model di atas dalam model lintasan  (Trajectory) perjalanan hidup atau karir. Psikolog George Holden dari Southern Methodist University di Dallas yang melakukan penelitian mengatakan model ini  membantu untuk menyelesaikan perdebatan pengasuhan anak.

Holden melakukan hipotesa bahwa  orang tua yang membimbing perkembangan anak mereka dibagi dalam  empat cara yang kompleks dan dinamis :

1. Orang tua mulai   mengarahkan anak  dalam jalur perkembangan pilihan berdasarkan    preferensi orang tua atau observasi karakteristik  dan kemampuan anak, seperti mendaftarkan anak  di kelas khusus,  mengekspos anak  kepada orang lain  dan lingkungannya, atau membawa  anak untuk praktek atau belajar.

2. Orang tua  mendukung kemajuan anak  dengan dorongan dan pujian, dengan memberikan bantuan materi seperti buku, peralatan atau les, dan dengan mengalokasikan waktu untuk berlatih atau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan tertentu.

3. Orangtua menjadi penengah dimana  mempengaruhi  anak  untuk  melihat dan mengerti perjalanan hidupnya, membantu anak untuk  menghindari lintasan negatif dalam perjalanan hidupnya dengan mempersiapkan anak untuk   menangani masalah-masalah potensial.

4. Sejak awal  orang tua selalu  bereaksi terhadap lintasan perjalanan hidup anak.

Lintasan (Trajectory) perjalanan hidup  adalah sebuah penggambaran yang berguna untuk memikirkan perkembangan karir sehingga  kita dengan mudah dapat memvisualisasikan konsep-konsep seperti “jalan memutar (detour)” “hambatan (roadblock)” dan “jalan menurun (off-ramp)”.

Holden menjelaskan bahwa jalan memutar adalah peristiwa transisi yang dapat mengarahkan jalur seperti perceraian. Hambatan adalah  kejadian atau perilaku yang menutup lintasan potensial seperti kehamilan remaja, yang dapat memblokir jalur pendidikan. Jalan menurun adalah lintasan yang keluar dari lintasan  positif seperti penyalahgunaan obat, kekerasan terhadap anak atau bergabung dengan  geng.

Holden juga mengatakan ada cara lain bagi orang tua  mempengaruhi perkembangan anak di lintasan seperti melalui pemodelan perilaku yang diinginkan, atau memodifikasi kecepatan perkembangan dengan mengontrol jenis dan jumlah pengalaman.

 

aifs.gov.au

Beberapa faktor yang juga dapat mempengaruhi lintasan  diantaranya  budaya keluarga, pendapatan dan sumber daya keluarga, dan kualitas hubungan orangtua-anak. Model lintasan pengasuhan ini membantu untuk menunjukkan bahwa  efektifnya peran orangtua  dalam membimbing anak sedemikian rupa sehingga dapat  memastikan anak mereka  berkembang dalam lintasan yang positif.

Konsekuensi Dan Tujuan

examiner.com

Sebelum saya mengulas lebih lengkap maka saya meminta pembaca untuk memperhatikan pola berikut : 1 = 5, 2 = 10, 3 = 15, 4 = 20, 5 = ???. Banyak orang akan menjawab 5 = 25. Alasannya adalah berdasarkan deret ukur. Memang betul kalau berdasarkan deret ukur tetapi perhatikan kembali polanya maka akan diperoleh jawaban 5 = 1 karena 1 = 5.

Mengapa bisa begitu jawabannya ? Kebanyakan orang selalu memandang kehidupan di dunia dalam hitungan matematis tetapi tidak bagi Allah SWT. Semuanya akan kembali kepada Yang Satu yaitu Dia Sang Maha Pencipta.

Logikanya sebagai berikut konsekuensi orang makan adalah kenyang, orang berbuat baik adalah pahala, orang bekerja adalah memperoleh penghasilan atau pendapatan berupa gaji. Hal itu secara terus menerus menjadi patokan pola pikir manusia. Akibatnya adalah akal pikir selalu dihubung-hubungkan dengan berbagai perhitungan yang rumit sehingga pada akhirnya akan membuat syaraf di otak mnjadi cepat aus alias tua sehingga terjadilah penurunan daya tangkap.

Padahal bukan konsekuensi yang dicari. Yang dicari adalah tujuan. Ya tujuan. Tujuan itulah lebih utama. Orang makan jelas akan kenyang. Orang minum jelas akan melepas dahaga. Tetapi  apakah hanya itu saja ? Jawabannya adalah tidak. Harus ada peningkatan kualitas dan pembaharuan diri. Secara fisik, terjadi peremajaan sel-sel syaraf sehingga selalu ada penyegaran dalam berpikir.

Peningkatan kualitas seperti apa ? Contiohnya kembali lagi adalah makan. Kita makan bukan hanya sekedar mengenyangkan perut tetapi harus jelas pola makan dan baik bagi kesehatan seperti jumlah asupan kalori harus seimbang dengan pengeluaran energi. Pola makan yang sehat dengan menyeimbangkan antara makanan asal nabati dan hewani. Lihat saja akibat dari ketidak seimbangan maka terjadilah penyakit dalam diri manusia seperti diabetes, jantung, kolesterol, kanker dan sebagainya.

Demikian pula dengan bekerja. Kita bekerja bukan hanya untuk memperoleh gaji saja tetapi harus ada tujuan yang jelas. Kita bekerja untuk ibadah yaitu ibadah untuk diri sendiri dan kemaslahatan banyak orang. Dan ujung-ujungnya adalah kembali kepada yang satu yaitu Sang Maha Pencipta. Hal ini berlaku bagi semua aktifitas hidup sehari-hari.

Untuk itu diperlukan adanya evolusi berpikir yaitu pusatkan energi diri dan salurkan kepada tujuan yang ingin dicapai. Konsekuensi hanyalah akibat dan bukan sebab. Karena sebab itu hanyalah milik Allah SWT.  Begitulah yang terjadi bila kita mau beramal maka jangan pikirkan masalah jumlah hitungan pahala tetapi semuanya dilakukan karena Allah SWT.

Apabila kita sudah mengerti tentang hakikat konsekuensi dan tujuan maka tidaklah heran banyak orang sudah dapat menemukan format atau bentuk bagi dirinya. Apakah mau lingkaran ? Segi empat ? Segitiga ? Atau lainnya.

Sekali lagi perhatikan pola kehidupan di dunia yang tidak absolut dan eksaktatetapi semuanya berjalan karena adanya keimanan kepada Sang Maha Pencipta agar kita bisa mengerti kelemahan yang ada dalam diri manusia yaitu ketakutan dan keserakahan.