Brunei Darussalam : Negeri Mungil Nan Indah dan Bersahaja

Rencana  dan persiapan perjalanan kami selama 3 bulan akhirnya dimulai. Tepatnya 12 Mei 2014 perjalanan kami diawali dan benar-benar bersejarah karena inilah pertama kalinya saya dan istri melakukan 10 hari perjalanan ke luar negeri (walaupun masih dalam lingkup ASEAN). Dari Bandung menggunakan kereta api Parahyangan pagi menuju Jakarta. Sekitar pukul 13.20 kami tiba di stasiun Gambir dan langsung bergerak menuju Hotel Orchardz yang letaknya dekat dengan Bandara Soekarno Hatta. Kami sengaja menginap di hotel tersebut karena  besok pagi sekali kami sudah harus berada di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.

2014-05-13 05.30.27

Tujuan pertama kami adalah Brunei Darussalam. Banyak teman yang merasa heran mengapa kami jalan-jalan ke Brunei Darussalam. Brunei khan bukan tempat pelancongan yang favorit. Apalagi sejak tanggal 1 Mei 2014 Sultan Hassanal Bolkiah menyatakan berlakunya Syariat Islam secara utuh di seluruh negeri. Inilah menariknya bagi kami. Ada sesuatu menarik yang membuat kami ingin pergi ke sana. Dan ternyata benar, banyak peristiwa dan hal-hal menarik yang kami dapat selama melakukan perjalanan ke Brunei Darussalam ini. Apa saja itu ?

Dimulai dari masalah kelebihan berat bagasi sekitar 3 kg dimana kami harus membayar Rp 600 ribu  untuk kelebihan tersebut oleh Air Asia. Tetapi kami berhasil mengurangi berat bagasi setelah memindahkan dan membuang beberapa barang bawaan kami. Semua terlihat lancar pada saat kami sudah memasuki pesawat menuju Kuala Lumpur. Kok Kuala Lumpur ? Untuk menuju Bandar Seri Begawan, ibukota Brunei Darussalam kami harus transit selama 2 jam di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA 2). Setelah menjalani penerbangan menuju Bandar Seri Begawan selama 2 jam 20 menit, kamipun tiba di Bandara Brunei International Airport (BIA).

BIA terlihat sekali bukanlah bandara yang sibuk. Sedikit sekali pesawat yang melakukan penerbangan dan tampak BIA seperti Bandara yang baru dibangun atau mengalami renovasi. Setelah melewati pemeriksaan Imigrasi, kami langsung menuju tempat pengambilan koper. Betapa kagetnya saya setibanya di tempat pengambilan koper ternyata hanya koper Rip Curl kesayangan saya yang tidak ada alias hilang tersangkut dimana. Akhirnya kami melaporkan ke bagian baggage claim BIA. Dengan pelayanan yang ramah dan bersahabat, petugas BIA membuat laporan tentang hilangnya koper saya dan berjanji akan segera mengabari keberadaan koper tersebut.

2014-05-16 11.06.41

2014-05-13 15.55.31

2014-05-16 11.20.32

Saat itu Brunei sudah sore hari, dengan nada kecewa dan kesal tetapi bahagia karena sampai juga di Brunei kami keluar bandara. Sungguh mengagetkan bagi kami karena BIA sepi sekali sore itu. Setelah bertanya bagian  informasi, kita menuju tempat taksi mangkal. Tampak sedikit sekali taksi yang mangkal di BIA. Begitu kami mendekat, tampak seorang pria mungkin berusia sekitar 50 an tahun menyapa kami. Ternyata pria tersebut adalah supir taksi.

” Taksi ? ” tanya pria tersebut.

” Ya, Pak Ci ” jawab saya.

” Kemane ?” logat melayu pria tersebut terucap.

” Brunei Hotel, Jalan Pemancha. ” ujar istri saya yang memang hafal dengan alamat hotel tersebut.

” Ohhh, pusat kota itu. 25 Brunei Dollar “

” Tidak argometer Pak Ci ? ” saya sedikit curiga.

” Di Brunei, Taksi tidak pakai argometer dan harga yang saya berikan sudah standar ” jelas supir taksi tersebut.

” Okelah kalau begitu “

Ternyata perjalanan dari BIA menuju Brunei Hotel membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sepanjang jalan supir taksi banyak tanya kepada kami sekaligus bercerita tentang situasi dan kondisi di Brunei Darussalam. Supir taksi sempat heran dan bertanya mengapa kami melakukan jalan-jalan ke negaranya. Diceritakannya bahwa jumlah penduduk Brunei berkisar 400 ribu orang, sepi suasananya, penduduk Brunei malah banyak yang pergi pesiar ke Indonesia, Kota Kinabalu, Kuching, Miri, Kuala Lumpur dan beberapa kota di Malaysia. Yang menariknya adalah jumlah taksi seluruh Brunei Darussalam yang tercatat hanya 35 unit tapi yang aktif beroperasi 22 unit saja. Katanya jangan harap setelah belanja di Mall akan mudah mendapatkan taksi kecuali memanggilnya via telpon kalau tidak ingin menunggu 2 jam. Sebagian besar penduduk Brunei memiliki mobil dan jarang yang berjalan kaki. Mereka lebih memilih untuk membeli mobil daripada motor karena harga keduanya tidak berbeda jauh. Malah sarannya lebih baik menggunakan bus kalau jalan-jalan mengelilingi Brunei karena lebih murah yaitu 1 Brunei Dollar (kemanapun rutenya tarifnya sama).

2014-05-14 15.22.40

2014-05-14 15.22.57

Tanpa terasa kami tiba di depan Brunei Hotel, salah satu hotel tertua di Brunei Darussalam. Sambil menurunkan barang kami dan membawanya ke dalam hotel, supir taksi nan ramah tersebut memberi sebuah kartu nama. Tertulis nama Azman dengan beberapa nomer telpon. Sebelum pergi, Pak Azman berpesan kalau mau pergi kemana-mana dapat menghubunginya.

2014-05-13 16.30.53

2014-05-13 16.30.31

Alhamdulillah kami mendapatkan kamar hotel yang mempunyai pemandangan strategis. Begitu membuka jendela terlihat sungai kecil dengan pemandangan pasar tradisional  Tamu Kianggeh Brunei Darussalam. Selain itu letak hotel kami sangat strategis karena dekat dengan obyek wisata mulai dari Kampung Ayer, Royal Regalia sampai Mesjid Omar ‘Ali Saifuddien.

2014-05-13 18.33.56

2014-05-13 18.34.14

2014-05-13 18.35.13

2014-05-13 18.39.34

2014-05-13 19.21.52

2014-05-13 19.24.19

2014-05-13 19.19.42

Hari pertama di Brunei walaupun sudah malam dan gerimis hujan datang tidaklah kami sia-siakan. Setelah berkeliling sejenak untuk mengamati suasana malam di kota Bandar Seri Begawan dengan menyusuri sungai Brunei dan berharap menemukan toko yang menjual kaos sebagai pakaian pengganti. Ternyata sebagian besar toko-toko sudah tutup. Akhirnya kami menemukan lokasi khusus berjualan berbagai jenis makanan. Sepertinya menarik juga untuk dicoba lokasi kuliner tersebut. Dari sekian banyak makanan yang disajikan dan dijual, ternyata saya dan istri terpincut dengan satu outlet yaitu outlet satay. Tampak ibu tua memperhatikan kami dan langsung menawarkan dan menjelaskan satay yang dijualnya. Tertulis jelas HMY Satay dengan berbagai jenis satay tetapi dengan harga yang sama setiap jenisnya. 1 Brunei Dollar untuk 4 tusuk satay plus 1 Brunei Dollar untuk 3 buah ketupat ukuran kecil. Satay yang dijual adalah satay ayam, satay daging (sapi), satay urat, satay hati kura (kerbau) dan satay kambing. Semua jenis satay tersebut kami dicicipi. Tidak ada yang berbeda dengan sate yang dijual di Indonesia, hanya yang membedakan bumbunya saja yaitu bumbu kacang dengan porsi yang banyak. Dan tak lupa minuman yang kami pesan adalah teh tarik dan teh o ping.

2014-05-13 18.45.40

2014-05-13 18.50.42

Malam semakin larut, satay sudah habis disantap maka saatnya kembali ke hotel untuk menyegarkan kembali tubuh kami yang lelah dan kesal karena lamanya perjalanan dan kuatir memikirkan nasib koper saya yang belum jelas keberadaannya. Sambil berharap keesokan harinya kami mendapatkan suasana dan pengalaman yang menarik selama 3 hari 2 malam di Brunei Darussalam.

(bersambung)

 

Iklan

Haru Biru Suva-Seoul-Jakarta-Bangkok (II)

Perjalanan 3 hariku ke Purwokerto sangatlah berkesan. Inilah pertama kalinya aku dapat mengunjungi makam ibuku yang meninggal dunia 2 tahun yang lalu. Pada saat beliau meninggal, aku tidak dapat menghadiri pemakamannya karena ketidak tersediaannya tiket pulang dari Suva ke Jakarta. Suatu hal yang sangat aku sesali tetapi takdir berkata demikian dan aku menerimanya dengan ikhlas kepergiannya. Bukan hanya ibuku saja yang kukunjungi makamnya, ada makam kakek, nenek dan bapakku. Menangis terseduk dan terus mengucapkan doa mohon ampun kepada almarhum-almarhumah atas kesalahanku selama mereka masih hidup. Selain itu aku ucapkan doa kepada Allah agar segala amal ibadah mereka di dunia mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.

Kunjunganku ke kota kelahiran Bapakku, aku manfaatkan juga untuk merencanakan pembuatan 2 unit rumah di atas tanah warisan bapakku. Setelah melakukan perhitungan yang mendetil bersama kakakku maka lebih menguntungkan membuat 2 unit rumah kontrakkan daripada membuat kamar kos. Kuputuskan bulan depan harus dimulai dengan kakakku sebagai pengawasnya. Tidak terasa perjalanan ke kota tersebut cepat berlalu dan segera aku memutuskan kembali ke Jakarta.

IMG_20130509_095322
dok.cech

Setibanya di Jakarta, aku memutuskan untuk memeriksa telepon selularku agar dapat digunakan di tanah air. Oh ya, telepon selularku dibeli di Suva dan hanya dapat dipakai di wilayah Fiji saja sehingga harus dilakukan unlock. Sebelum pergi ke Roxy, aku periksa semua data penting yang ada di telepon selularku karena kuatir semua data penting hilang dalam proses unlock. Tanpa sengaja aku menemukan email seseorang dalam kondisi terbuka alias belum sign out. Betapa terkejutnya aku setelah membaca sebuah folder pribadi email tersebut. Tersentak, terkejut, marah dan keluarlah seluruh emosiku. Ternyata email tersebut adalah milik orang yang sangat aku cintai. Di dalam email tersebut jelas nyata bahwa sejak enam bulan yang lalu, dia secara intensif berhubungan mesra dengan seorang lelaki. Dia telah berselingkuh, dalam pikiranku. Mesra sekali ditambah dengan kiriman foto-foto dari pria tersebut kepada dia. Langsung saja aku kirimkan pesan lewat sms dan fb betapa khianatnya dia terhadap diriku. Tidak ada artinya kata cinta yang terucap dari mulutnya kepadaku selama ini.

Masih dengan amarah yang tinggi dan kurang tidur, keesokan paginya aku telpon dia di Solo. Dalam kondisi baru bangun tidur, dia mohon kepadaku untuk menjelaskan semuanya. Aku mengabaikannya. Kenapa dia dapat berbuat seperti itu. Kenapa? Dalam beberapa penjelasannya, dia mengakui kalau lelaki yang ada di emailnya tersebut adalah lelaki pilihan orang tuanya karena dari awal hubungan kami tidak disetujui oleh orang tua. Aku menyadari itu tetapi aku butuh kejujuran. Mengapa hal ini tidak dikatakannya pada saat di Fiji? Mengapa baru sekarang ? Langsung saja terbayang rencana cutiku ke tanah air untuk bersenang-senang. Buyar dan terasa hampa semuanya. Kalau tahu begini lebih baik aku tidak pulang ke tanah air. Bahakan kalau dia dari awal cerita tentang lelaki tersebut maka aku akan menyuruhnya pulang ke tanah air terlebih dahulu dan aku pulang di lain waktu,

Aku marah, marah dan marah. Emosionalku memuncak dan tanpa pikir terucap bahwa aku meminta semua uang yang telah kukeluarkan kepada dirinya selama ini dan meminta semua barang-barang yang pernah kuberikan kepadanya. Rupanya pada saat aku marah-marah via telepon terdengar oleh adikku. Langsung saja aku diajak masuk ke dalam untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dengan lembutnya adikku berkata aku tahu mas. Mas selalu membantu orang lain tanpa pamrih dan lahir batin dengan tidak berharap balasan, Ikhlaskan semua yang telah mas berikan. Tuhan akan menggantinya kelak dengan jumlah yang lebih besar dari uang yang dikeluarkan selama ini. Akupun tersadar dan memang benar aku mengeluarkan segalanya termasuk uang karena ketulusan cintaku kepadanya. Memang berat tetapi aku harus bisa mengikhlaskannya.

Keesokan padi harinya aku bertemu dia di Blok M. Tetapi suasananya sudah tidak menyenangkan. Sepanjang perjalanan menuju Kuningan, kami berdua hanya dia dan berkata seadanya,  Aku datang menemuinya karena aku ingin menepati janjiku untuk menuntaskan semua masalah beasiswanya termasuk pengurusan visa studi ke Thailand. Ternyata pengurusan visa berjalan cepat dan visa diambil 2 hari kemudian. Dia memutuskan untuk menginap semalam di Jakarta. Aku menemaninya sampai di tempat penginapan sekaligus meminta penjelasan dia tentang hubungan kami berdua, Dia tak kuasa menahan tangisnya. Diceritakan semua mengapa dia mengambil keputusan untuk berpisah denganku. Semuanya atas nama “restu”. Restu ? Ya restu orang tua. Berulangkali dia telah menjelaskan kepada orang tuanya bagaimana sosok diriku yang dianggap sebagai pria yang layak menjadi pasangan hidupnya tetapi orang tuanya terutama bapaknya  tak bergeming dan tetap pada keputusannya untuk melarang hubungan kami. Seharian kami saling mencurahkan perasaan masing-masing.  Sebenarnya kami saling mencintai dan menyayangi tetapi apa daya keputusannya telah ditetapkan olehnya walaupun aku masih tidak dapat menerimanya dan menganggap semuanya omong kosong dan tak berdasar alasannya.

Keesokan paginya aku antar dia kembali ke Blok M sesuai permintaannya. Terasa berat hati ini melepas kepergiannya saat Bus Damri yang membawanya ke Bandara Soetta pergi meninggalkanku dengan hati hancur berkeping-keping. Cuti yang harusnya menghibur malah menjadi cuti dengan hati hancur lebur. Walaupun demikian, aku masih merasa yakin akan kesempatan sebelum dia berangkat ke Bangkok minggu depannya.

Satu minggu kumanfaatkan untuk tetap berkomunikasi dengannya. Kadang menyenangkan kadang menyedihkan karena kami tak kuasa menahan emosi sehingga seringkali terjadi pertengkaran yang seharusnya tidak perlu terjadi, Aku yang ditinggalkan merasa ada suatu yang dihitung-hitung kembali sesuai dengan apa yang sudah aku keluarkan. Tetapi aku tersadar bahwa apa yang kulakukan untuknya adalah bukti keikhlasan cintaku kepadanya. Perang batin terjadi, apa yang aku dapat sementara dia seperti sosok tak bersalah dengan keputusannya. Dia mendapatkan apa yang diinginkan sementara aku yang turut berjuang demi cita-citanya ibarat habis manis sepah dibuang. Tragis… tragis sekali nasibku. Begitulah perang batin dan pikiran yang berkecamuk di dalam diriku. Woiii apakah yang sudah kulakukan kepada dirinya selama ini tidak pantas diperjuangkannya di hadapan orang tuanya cuma gara-gara restu. Hidupnya yang menentukan adalah dirinya bukan orang tuanya dan ini bukan jamannya Siti Nurbaya dengan perjodohan yang dicari orang tua untuk anaknya sebagai model. Tetapi …

Tibalah pada hari H dimana dia akan berangkat ke Bangkok. Karena ada titipan barang untuk  beberapa orang teman Fiji yang diamanahkan kepadanya untuk dibeli dan dititipkan kepadaku  maka dia memintaku untuk bertemu di Bandara Soetta jam 12 siang. Jam 11 pagi telpon berbunyi ternya dia menanyakan posisiku. Dan aku katakan sedang dalam perjalanan menuju bandara. Ternyata aku tiba terlebih dahulu dan belum terlihat wajah manisnya di sekeliling terminal 3. Setekah kutunggu sekian menit, kembali terdengar suara dering telponku. Pasti dia pikirku dan baru saja aku angkat ternyata dia sudah ada di balik bus yang baru tiba dengan membawa satu koper, satu tas kecil dan ransel birunya.

Tanpa banyak buang waktu, dia menyerahkan titipannya dan ketika aku mengatakan untuk segera pergi. Tersirat wajah kecewanya, akhirnya aku putuskan untuk menemaninya sampai dia masuk ke pintu keberangkatan. Selama 2 jam kami masih bisa bersama dengan suasana yang berbeda tetapi aku tahu kalau diapun berat meninggalkan dan berpisah denganku. Setengah jam sebelum keberangkatan, dia menyuruhku untuk segera pulang dan dengan canda penuh kesedihan dia berkata ” Mas sekarang pergi dulu karena aku ingin melihat mas berjalan menjauh dariku sehingga aku dapat menangis “. Terhenyak aku mendengarnya dan aku ambil keputusan untuk menunggunya hingga masuk ke dalam loket imigrasi. Diapun berjalan meninggalkan dan aku hanya terdiam sedih. Dan pada saat aku memanggil namanya ” Yang… Sayang !!!! “. Tiba-tiba aku tersadar karena ada setuhan tangan nan lembut yang berusaha membangunkan aku dari mimpiku. Ternyata dia yang membangunkanku dan memberitahu kalau pesawat kami akan segera  mendarat di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand dan mengantar kami untuk berlibur sekaligus berbulan madu.

Haru Biru Suva-Seoul-Jakarta-Bangkok (I)

Aku perhatikan wajahnya penuh kerinduan yang mendalam dalam tidurnya yang pulas menjelang kepulangan ke tanah air. Aku pikir dia sedang bermimpi bertemu dengan orang-orang yang dicintai terutama orang tuanya. Selain itu mimpinya telah melayang jauh ke negeri ginseng dan melanjutkan kuliah Masternya di negeri gajah putih Thailand walaupun tubuhnya masih bersandar di kasur kesukaannya.

Pada saat itu aku masih membuka mata karena masih banyak barang yang akan kukemas. Tampak terlihat brosur dan peta negeri Gangnam Style yang berserakan dimana-mana. Memang perjalanan pulang melalui negeri ginseng bukanlah rencana yang disiapkan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh pembatalan penerbangan oleh maskapai penerbangan Fiji melalui Hong Kong 2 minggu sebelumnya . Sebagai kompensasinya, kami mendapatkan perubahan rute di luar perkiraan kami sebelumya yaitu transit di Seoul.

Tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon selulerku. Ternyata supir travel yang menelpon aku dan mengabarkan kalau dia sudah hampir dekat dengan rumah kontrakan kami. Maka kubangunkan dia agar bersiap-siap karena supir yang akan menjemput kami akan segera tiba. Tepat pukul 3 pagi, mobil jemputan telah tiba di depan rumah kontrakan kami, Kepulangan yang sangat mengharukan khususnya bagi dia karena diiringi pelukan hangat dari pemilik rumah kontrakan kami.

Hello Indonesia, I am going home. Mungkin itulah teriakan dalam hati kami, Sepanjang jalan menuju Bandara Internasional, tangan kami selalu berpegangan dan sesekali bercerita tentang rencana perjalanan yang akan dilakukan selama transit di Seoul. Sungguh bahagianya dia karena berulang kali dia mengucapkan terima kasih kepadaku walaupun perjalanan ke Seoul di luar perkiraan kami.

Tibalah kami di Bandara Nadi, semuanya berjalan lancar dan tepat jam 9.45 pagi kami masuk pesawat Korean Air. Pikir kami 10 jam perjalanan ke Korea Selatan yang melelahkan akan segera terbalaskan apabila wisata sesaat di Gyeong Bok Gung Palace terpenuhi. Pukul 17. 40 waktu Seoul, pesawat mendarat di Incheon International Airport dengan selamat. Kamipun disambut petugas Korean Air yang mengurusi masalah akomodasi yaitu penginapan di Incheon Hotel.

Semalam kami menginap di hotel dan setelah sarapan pagi kami memutuskan untuk segera melakukan perjalanan ke Gyeong Bok Gung Palace yang sangat fenomenal dan bersejarah. Udara dingin sekitar 18 derajat Celcius terkalahkan dengan kegembiraan kami menuju tempat sejarah tersebut. Kapan lagi kalau bukan sekarang.

Tarraaaaa Gyeong Bok Gung Palace telah dihadapan kami setelah melakukan perjalanan kurang lebih 45 menit dari hotel Inilah saat-saat yang ditunggu yaitu bernarsis ria dengan berfoto-foto dihampir sudut tempat tersebut. Setidaknya kami dapat menunjukkan kepada orang-orang terdekat kami bahwa kami telah tiba di Seoul dengan bukti foto-foto yang kami unggah di FB.

???????????????????????????????
Gyeong Bok Gung Palace (dok. cech)

Apakah kamu bahagia ? Dia menjawab aku bahagia sekali, Terima kasih, Hun. Itulah jawabannya dan aku senang mendengarnya. Tanpa terasa hampir 2 jam lebih kami mengelilingi Gyeong Bok Gung Palace. Saatnya kami harus segera meninggalkan tempat tersebut menuju Incheon International Airport.Kami tidak ingin beresiko dan ketinggalan pesawat.

Pukul 12.30 kami tiba di Incheon International dan masih ada waktu 3 jam bagi untuk mengelilingi bandara tersebut. Selain itu kami masih mempunyai kesempatan untuk berbelanja barang-barang khas Korea sebagai oleh-oleh  dan pesanan teman-teman di tanah air.

Jam 15.20 kami memasuki pesawat Korean Air untuk melanjutkan perjalanan pulang ke tanah air Indonesia. Teriakan Hello Indonesia I am coming makin terdengar kuat. Kurang lebih 6 jam perjalanan terbayarkan setibanya kami tiba di Bandara Soekarno Hatta.

Pilot mengumumkan kepada para penumpang bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Jantung kami makin berdegup kegirangan, akhirnya kami pulang juga.

Ucapan terima kasih kembali terucap dari bibirnya yang mungil dengan diikuti kalimat I Love You kepadaku. Senang dan bahagianya hatiku karena telah membahagiakannya selama ini.

Alhamdulillah dan terima kasih Ya Allah Engkau telah mengabulkan doaku untuk membawanya kembali ke tanah air dengan selamat dengan sebuah prestasi yang membanggakan yaitu keberhasilan dia menerima Beasiswa ke Thailand setelah berjuang dan berkorban bersama-sama di Fiji setahun lebih.. Terus kuucapkan puji syukur kepada ilahi dalam hati sepanjang jalan menuju tempat tinggal adikku.

Dua malam satu hari sengaja dia menginap sementara di rumah adikku untuk mengurus berkas-berkas keperluan beasiswa terutama visa studi Kedutaan Besar Thailand. Ternyata Kedubes Thailand di bilangan Kuningan libur karena memperingati HUT Raja Thailand. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Solo pada sore harinya dan akan datang kembali minggu depannya.

Sore itu, pada saat mengantarnya pulang di Bandara Soekarno-Hatta, aku mengatakan sesuatu yang prinsip bagi seorang pria kepada dia yaitu jangan melihat pria dari tampang, kekayaan, kepintarannya saja tetapi lihatlah pria dari tanggung jawabnya kepada seorang wanita. Diapun hanya terdiam dan sedikit mengiyakan. Makin tuntaslah tanggung jawabku apabila dia telah terbang ke Thailand untuk mengejar mimpinya. Dan dia hanya tersenyum penuh makna. Ku antar dia sampai pintu gerbang keberangkatan ke Solo.

Kotak-Kotak Di Negeri Yang Terkotak

Baju Kotak-kotak (Tribun News)

Kotak-kotak tengah menjadi tren di kalangan masyarakat Indonesia terutama Jakarta. Hal ini menjadi menarik ketika salah satu pasangan cagub pada Pilkada DKI memperkenalkan baju kotak-kotak sebagai ikonnya. Menariknya adalah simbol baju kotak-kotak ditemukan secara tidak sengaja karena cagub tersebut sudah kehabisan baju yang akan dikenakan pada saat pendaftaran sehingga dipilihlah baju kotak-kotak tersebut di pasar Tanah Abang karena dianggap pas, murah dan memang disukai motifnya. Sebuah kebetulan yang membawa berkah tetapi semuanya tidak terjadi ujug-ujug.

“Ceritanya begini, dua hari sebelum pendaftaran berakhir saya di suruh datang ke Jakarta. Saya berangkat tidak bawa baju, karena saya anggap pulangnya sore. Tapi, ternyata tidak pulang lagi ke Solo. Pas mau daftar, tidak punya baju, lalu saya beli baju kotak-kotak di Pasar Tanah Abang. Kenapa sekarang jadi tren, saya juga heran,” (rcmol.co)

Agama saya mengajarkan apa yang dinamakan dengan Iqro (Membaca) ? Ajaran Iqro terus menerus diajarkan dan diasah oleh kakek buyut dalam mempelajari kehidupandi dunia. Jadi sebetulnya di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan maka itu IQRO-lah atau bacalah setiap kejadian yang ada di dunia karena disitulah Kuasa Allah dipertunjukkan dan hanya manusia beriman yang mau berpikir.

Nah kembali ke kotak-kotak, saya teringat dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Bhinneka Tunggal Ika itulah yang menjadi perekat bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, etnis dan lain-lain. Jangankan negara, dalam satu agama saja terjadi pengkotak-kotakan atau dikenal dengan banyaknya aliran atau sekte keagamaan.

Rasulullah pernah mengatakan suatu saat nanti Islam akan terbagi menjadi 73 aliran. Kalau kita merenungkan sejenak maka umat Islam diibaratkan “Sebuah Gelas yang tadinya utuh tetapi pecah berkeping-keping”. Tinggal kita memaknai bahwa kita merupakan bagian keping yang mana dan tidak menganggap diri yang paling benar. Seharusnya kita yang sudah tahu bagian dari keping-keping gelas maka saatnya kita juga berpikir bagaimana menyatukan kembali keping-keping gelas tersebut menjadi gelas yang utuh sehingga kalau gelasnya sudah utuh maka akan mudah Sang Pemilik menuangkan air jernih ke dalam gelas tersebut.

Dalam hubungannya dengan Pilkada, jelas dan banyak dinyatakan kalau Jakarta adalah Indonesia mini dimana Jakarta menjadi tempat tinggal orang-orang yang berasal dari berbagai macam suku dan bangsa. Ada Jawa, Sunda, Batak, Makasar, Bugis, Palembang, Dayak, Papua, Ambon dan lain-lain. Banyak sekali “kotak-kotak” yang berserakan di Ibukota Negara Indonesia tersebut. Sebenarnya Allah telah mengingatkan dan memberikan petunjuk kepada kita bahwa “kotak-kotak” akan menjadi “pakaian” yang enak dilihat dan pas dipakai apabila bersatu utuh membalut atau menutupi tubuh bangsa dan negara Indonesia agar tidak terkena penyakit.

1344330102158334168
Nisan Galeuh Pakuan Pajajaran (dok.cech)

Suasana Kebatinan Anak Cagub/Cawagub

Pemimpin sekaligus orang tua (lucmissinne.be)
Pemimpin sekaligus orang tua (lucmissinne.be)

Gatal rasanya tangan ini ingin menulis. Hampir sebulan mata mengamati hiruk pikuknya pemberitaan tentang Pilkada DKI Jakarta, rasanya menarik juga untuk mengupas bagaimana suasana kebatinan anak-anak para Cagub/Cawagub yang bertanding dalam pilkada tersebut.

Belum pernah saya membaca sebuah tulisan yang ditulis media tentang perasaan anak-anak cagub/cawagub tentang pemberitaan seputar aktifitas orang tua mereka terutama komentar-komentar yang terdapat di sejumlah media online seperti kompas, detik, merdeka dan lain-lain bahkan di kompasiana. Saya berharap ada jurnalis yang mau mengulas atau mewawancarai anak-anak cagub/cawagub.

Dari beberapa komentar yang ada di media online, saya langsung membayangkan kalau seandainya saya adalah salah satu anak dari cagub/cawagub yang bertarung di pilkada tersebut. Lain persoalan kalau komentar positif terhadap kiprah orang tua saya, bagaimana kalau komentar negatif dan mengarah kasar bin sarkastik sampai mengeluarkan kata-kata kotor. Waduh tidak terbayangkan suasana emosi ini. Memang bisa saja, saya menghindarinya dengan bersikap masa bodo atau enggan membuka media-media yang cenderung memberikan kebebasan khalayak umum berkomentar apa adanya. Tetap saja, komentar-komentar sarkastik akan sampai di telinga melalui teman atau keluarga.

Dunia semakin terbuka alias borderless bahkan kebablasan walaupun ada yang mengatakan kebebasan/keterbukaan yang bertanggung jawab. Tetapi lihat saja komentar-komentar yang bertebaran di seputaran pemberitaan pilkada DKI. Walaupun ada juga yang bersikap arif dalam berkomentar tapi membaca komentar kasar bin sarkatik bahkan mengarah SARA (Suku, Agama, Ras dan Anatomi), sungguh miris hati ini. Apakah hal tersebut sebagai ungkapan kekesalan rakyat terhadap pemimpin/pejabat negara? Dimanakah bangsa Indonesia yang dikatakan sebagai bangsa ramah tamah dan sopan santun? Memang tidak mudah menjadi orang tua. Begitu pula menjadi pemimpin karena kalau sudah berani mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin maka dia harus mampu menjadi ORANG TUA yang dapat dijadikan teladan bagi anak-anaknya (baca: RAKYAT).

ORA ELOK OMONGKE WONG TUWO ASALKE WONG TUWO NGEMONGI ANAK-ANAKE… IKU BARU ELOK


Jakarta dan Kemacetan

Dua kata di atas sepertinya selalu melekat bila kita membicarakan tentang ibukota negara Indonesia ini. Ya, Jakarta identik dengan kemacetan. Tidak hujan saja sudah macet apalagi kalau ada hujan yang mengguyur kota Jakarta.

Banyak studi yang sudah dilakukan untuk mengetahui penyebab kemacetan di Jakarta termasuk solusi untuk mengatasinya tetapi tetap saja keadaan ibukota negara kita ini tidak berubah. Macet…macet dan selalu macet.

Bagaimana dengan bus way ? Program yang diluncurkan oleh Pemda DKI Jakarta jaman Gubernur Sutiyoso ini ternyata belum berpengaruh secara signifikan terhadap kemacetan di Jakarta. Bahkan Jakarta semakin bertambah luas titik kemacetan di Jakarta. Sementara ituFly over, JORR dan Under Pass belum juga mampu mengurangi kemacetan di Jakarta. Sepertinya masalah kemacetan di Jakarta seperti benang kusut yang tidak jelas dimana pangkalnya.

Berikut ini saya lampirkan sebuah data yang mungkin bisa menjadi pemikiran buat kita sebagai penduduk Jakarta dalam rangka mengatasi kemacetan.

JUMLAH KENDARAAN BERMOTOR DI DKI JAKARTA ( KECUALI MILIK TNI / POLRI ) YANG TERDAFTAR BULAN : JUNI 2009 (www.komisikepolisianindonesia.com)

Jumlah Penduduk DKI Jakarta Maret 2009 : 8.513.385 Jiwa.

Jumlah Kendaraan Bermotor Yang Terdaftara ( kecuali Milik TNI / Polri ) Juni 2009 : 9.993.867 kendaraan.

Dengan perbandingan data diatas dapat di simpulkan bahwa, dalam satu keluarga yang ada di DKI Jakarta memiliki 3 kendaraan bermotor .

Dari data diatas dapat disimpulkan begitu pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta tanpa diimbangi dengan peningkatan ruas secara komprehensif. Dengan situasi dan kondisi tersebut perlu dilakukan program pengurangan jumlah kendaraan yang beredar di jalanan di seluruh Jakarta. Memang Dinas Perhubungan DKI bekerjasama dengan Polda Metro sedang menyiapkan satu program pengganti Three In One tetapi ini masih menjadi perdebatan dan perlu dibuktikan. Tetapi kembali lagi masyarakat yang disuruh untuk menerima program tersebut dengan segala dampak yang terjadi.

Pertanyaannya adalah mengapa selalu masyarakat yang harus mengalah dan menerima program-program PEMDA DKI. Apakah tidak sebaiknya Gubernur beserta jajarannya di seluruh DKI Jakarta yang memulai dalam rangka mengurangi kemacetan dan penghematan energi ? Bagaimana caranya ?

Kalau kita sering berkunjung ke kantor-kantor pemerintah daerah DKI Jakarta terutama Kantor Walikota seluruh Jakarta maka sering terlihat betapa begitu penuhnya tempat parkir dengan kendaraan yang kebanyakan berplat hitam. Bahkan ada yang parkir kendaraan di luar areal kantor pemerintahan. Ada apa ini ? Ini menandakan belum adanya kesadaran untuk memiliki dan merasakan untuk mengurangi kemacetan dan penghematan energi.

Saya mengusulkan agar Gubernur DKI Jakarta berani mengeluarkan aturan internal atau Perda yang melarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan PEMDA DKI untuk membawa kendaraan pribadinya ke kantor. Semua PNS harus menggunakan kendaraan (bis) antar jemput yang sudah disediakan oleh Pemda DKI. Kendaraan antar jemput tersebut disediakan dan ditempatkan pada titik-titik tertentu di seleruh wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Jadi PNS yang tinggal di Bekasi bisa menitipkan kendaraan pribadinya atau naik bus antar jemput di sebuah tempat penjemputan di wilayah Bekasi. Begitu juga dengan yang tinggal di luar Jakarta. lainnya Kebijakan ini diharapkan untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang masuk Jakarta. Selain itu bertujuan untuk meningkatkan produktifitas PNS yaitu mencegah PNS yang bolos atau curi-curi waktu pada jam kerja untuk melakukan aktifitas di luar dinas. Yang lainnya adalah pengurangan gas emisi kendaraan dan penghematan energi. Perlu juga dipikirkan untuk membatasi areal parkir atau jumlah kendaraan yang parkir di areal kantor pemerintahan DKI Jakarta.

Khusus PNS yang mendapatkan fasilitas kendaraan kantor (plat merah) dilarang membawa pulang kendaraan tersebut dan memakainya di luar jam dinas. Semua kendaraan plat merah diparkir di kantor. Apabila ketahuan memakainya di luar jam dinas maka dikenakan sanksi misalnya penundaan kenaikan jabatan, denda uang dengan memotong gaji bulanan atau dipecat apabila sudah melakukan tindakan di luar batas. Kebijakan ini bisa bekerjasama dengan POLDA Metro Jaya dalam melakukan tindakan hukum.

Kebijakan diatas harus dilakukan agar menjadi contoh bagi masyarakat bukan malah kerjanya hanya memerintah, menyuruh dan menekan masyarakat dengan kebijakan-kebijakan aneh. Jadi nyata sekali Gubernur DKI dan jajarannya sebagai pamong praja mau memberikan contoh dan tauladan yang baik. Kalau sudah bisa dilaksanakan maka saya mempunyai keyakinan masyarakat akan mau membantu pemerintah DKI mengurangi kendaraan pribadinya dan mulai menggunakan kendaraan umum yang memang sudah diperbanyak, diperbaharui dan ditingkatkan pelayanannya.

Mudaha-mudahan Jakarta bisa menjadi ibukota negara yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan masyarakat Indonesia.