Japan Trip : 3 Jam di Kinkakuji Temple, Kyoto

Hari Sabtu, 4 Maret 2017 adalah hari pertama kami di Kyoto. Pukul 09.00 pagi kami sudah siap sedia untuk melakukan perjalanan wisata. Sesuai rencana, ada beberapa tempat wisata di Kyoto. Yang utama adalah Kinkakuji Temple dan Kyoto Imperial Palace.

Kebetulan hotel kami terletak diseberang pool bus kota Kyoto sehingga memudahkan untuk mendapatkan informasi tentang bus umum yang dapat mengantar kami ke Kinkakuji. Perlu diketahui halte bus persis berada di depan dan di seberang hotel. Nama halte bus tersebut adalah Kujoshakomae Bus Stop.

Berdasarkan petugas informasi dari pool bus, kami disarankan membeli tiket bus terusan (one day pass) seharga Yen 500. Nomor bus jurusan ke Kinkakuji adalah 205. Untuk menuju Kinkakuji, kami melewati 25 halte (bus stop) dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.  Kalau tanpa tiket terusan, dikenakan ongkos bus Yen 230 per penumpang. Setibanya di halte Kinkakujimichi, kami segera turun dari bus. Pada saat itu bus penuh dengan penumpang dan sebagian besar adalah turis asing terutama turis dari Peru.

Sebelum memasuki komplek Kinkakuji Temple, kami sarapan terlebih dahulu di sebuah kafe yang letaknya persis di depan halte bus. Kafe yang dimiliki oleh pasangan suami istri lanjut usia tersebut menyediakan banyak menu makanan. Kami langsung memesan minuman kopi dan coklat. Sedangkan untuk makanan kami memesan roti bakar.

Ada beberapa hal yang menarik dari kafe tersebut, selain dikelola oleh pasangan lanjut usia, pasangan tersebut memiliki koleksi mata uang asing yang diberikan oleh turis asing yang mampir ke kafe mereka. Uniknya sudah ada uang rupiah emisi  tahun 2016 yang dimiliki mereka yaitu 2000 dan 5000. Mereka juga mengkoleksi origami buatan sendiri. Walaupun terbata-bata dalam berbahasa Inggris tetapi pasangan tersebut mengerti maksud ucapan kami dalam berbahasa Inggris.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah sarapan pagi, kami berjalan kaki sekitar 100 meter menuju Komplek Kinkakuji Temple. Sebelum memasuki komplek, tertulis larangan menggunakan drone, merokok dan buang sampah sembarangan. Komplek Kinkakuji Temple dibuka untuk umum pada jam 09.00-17.00 setiap hari dengan biaya masuk Yen 400 per orang.

Beberapa ratus meter dari pintu masuk sudah terlihat bangunan unik khas Jepang berwarna emas. Banyak pengunjung mulai mengabadikan bangunan tersebut dan berselfia ria termasuk kami. Bangunan tersebut adalah Kinkakuji atau Kuil Paviliun Emas ( Temple of Golden Pavillion).  Kinkakuji adalah nama umum untuk Rokuonji (鹿苑寺 Kuil Taman Rusa) merupakan sebuah kuil di Kyoto, Jepang.

DSC_0081
Pintu masuk ke Komplek Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0083
Prasasti Kinkakuji Temple
DSC_0085
Sejarah Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0090
Kinkakuji Temple (Temple of Golden Pavillion) (Dok. Cech)
DSC_0095
Hojo, tempat tinggal Kepala Bikhsu (Dok. Cech)

Menurut sejarah, Komplek Kinkakuji adalah sebuah vila dengan nama  Kitayama-dai yang dimiliki oleh seorang tuan tanah  Saionji Kintsune.  Pada tahun 1397, Shogun Ashikaga Yoshimitsu membeli komplek vila tersebut dan memberi nama Komplek Kinkakuji. Ketika Yoshimitsu wafat, oleh anaknya komplek vila tersebut diubah peruntukkannya menjadi bangunan kuil Zen Budha sesuai keinginan ayahnya.

Selama perang Onin (1467-1477, seluruh bangunan dalam komplek tersebut terbakar. Pada tanggal 2 Juli 1950, kuil Paviliun Emas dibakar oleh seorang bikhsu berusia 22 tahun, Hayashi Yoken yang saat itu melakukan percobaan bunuh diri di belakang bangunan tetapi berhasil diselamatkan. Bikhsu tersebut dihukum 7 tahun penjara dan dibebaskan karena menderita gangguan mental (persecution complex dan schizophrenia) pada tanggal 29 September 1955. Pada tahun 1992, Kinkakuji Temple dinyatakan sebagai World Heritage Site oleh Unesco.

Kuil Kinkakuji (Paviliun Emas) terdiri dari 3 lantai. Keseluruhan paviliun kecuali bagian lantai dasar ditutupi dengan lembaran tipis emas murni, menjadikan kuil itu sangat berharga. Pada atap kuil terdapat fenghuang emas atau “burung phoenix”. Di hari yang cerah lembaran emas tersebut akan  memantulkan sinar matahari secara sempurna dan bayangan Kinkakuji terpantul di permukaan air. Kinkakuji Temple hanya dapat dilihat dari pinggir danau dan tidak dapat mendekati area dan ke dalam paviliun tersebut.

Kemudian di samping Kinkakuji Temple, terlihat satu bangunan besar yang dinamakan Hojo. Hojo adalah bangunan tempat tinggal mantan Kepala Bikhsu dimana seluruh pintu gesernya dicat. Sayangnya Hojo tertutup untuk umum.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selanjutnya kami berjalan sedikit menanjak dan terlihat taman nan indah. Di tengah taman terdapat sebuah kios yang menjual pernak-pernik tradisional khas Jepang (Kinkakuji Gift Shop) seperti gantungan kunci, patung kecil dari kayu, jimat keberuntungan dan lain-lain. Tidak jauh dari kios terdapat sebuah lokasi yang dinamakan Anmintaku Pond dimana ada beberapa patung tak berbentuk dari batu yang penuh dengan koin uang. Jadi siapapun yang berhasil melempar dan masuk ke dalam mangkok yang berada di beberapa patung tersebut maka akan mendapatkan keberuntungan.

Setelah melewati Anmintaku Pond dan taman, kami melihat sebuah tempat yang menyajikan minuman teh hijau yang disebut dengan Sekkatei Teahouse. Dengan membayar Yen 500, pengunjung dapat menikmati matcha tea dan manisan.

Beberapa puluh meter kemudian, kami melihat satu kuil kecil yang dinamakan Fudo Hall. Fudo Hall adalah sebuah kuil untuk menghormati salah satu 5 Raja Kebajikan yang melindungi umat Budha. Banyak pengunjung terutama warga Jepang melakukan ritual dan berharap mendapatkan keberuntungan di kuil tersebut.

Di dekat pintu keluar, ada beberapa kios yang menjual beberapa produk tradisional Jepang. Salah satunya adalah makanan tradisional khas Kinkakuji yaitu Meika Kinkaku (Classic Gold Leaf Cake). Harganya Yen 900 per kotak berisi 6 buah kue. Meika Kinkaku adalah kue khas Kinkaku yang dibuat oleh para pembuat kue di Senbon Tamajuken, distrik Nishijin, Kyoto.

Setelah keluar dari komplek Kinkakuji, awalnya kami akan mengunjungi Ryonji Temple dan Ninnaji Temple yang letaknya masih berdekatan dengan Komplek Kinkakuji. Karena hari sudah siang  maka kami memutuskan untuk melahjutkan perjalanan ke Kyoto Imperial Palace dengan menggunakan bus umum. 3 jam di Komplek Kinkakuji yang sungguh melelahkan.

 

 

Iklan

Touring Ranca Upas Yang Layak Dikupas

13932914_10209839314323256_3668599575397666325_n
Dok. Forescom 2016

” Cech, tanggal 20-21 Agustus 2016 Forescom akan mengadakan Touring ke Ranca Upas, Bandung. Ikut Cech ? ” Begitulah ajakan kawan Edi Sembiring, salah satu pengurus Forescom sehari setelah saya melakukan registrasi keanggotaan Forescom. Saat itu saya belum memberikan jawaban karena pada tanggal tersebut saya dan istri ada acara ke Kamojang, Garut.

Ada sih keinginan untuk ikut serta dalam acara touring tersebut karena acara tersebut saya dapat jadikan silaturahim awal sebagai anggota baru untuk berkenalan dengan kawan-kawan Forescom. Dua hari setelah pembicaraan dengan Kawan Edi Sembiring, saya mendapatkan info bahwa touring diundur minggu depannya yaitu tanggal 27-28 Agustus 2016. Dengan mundurnya acara tersebut memberikan kemungkinan besar bagi saya untuk ikut serta. Melalui WA Group Chapter Bandung, saya mendapatkan informasi bahwa saya dapat menghubungi Om Chandra untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap dan bagaimana cara melakukan pendaftaran. Tanpa pikir panjang segera saya menghubungi Om Chandra dan mentransfer uang pendaftaran.

Awalnya saya pikir dari chapter Bandung bukan hanya saja yang turut serta karena beberapa hari menjelang hari H, beberapa teman chapter Bandung terlihat antusias. Saya senang sekali dapat bertemu teman-teman dari chapter Bandung. Tetapi pas hari H, hanya saya saja dari chapter Bandung. Walaupun demikian saya tetap semangat untuk ikut karena tujuan utama saya adalah silaturahim awal dengan komunitas Forescom.

Sesuai pembicaraan saya dengan Om Chandra via WA, titik kumpul saya dengan rombongan touring adalah exit toll Moh. Toha Bandung. Sebelum jam 8 pagi, saya sudah tiba di lokasi tersebut. Menunggu kurang lebih 20 menit, beberapa mobil rombongan Forescom keluar tol Moh. Toha. Salah satu mobil mendekati saya, rupanya mobil Om Chandra dan meminta saya untuk bersiap diri.

Sebagai Newbie, saya tidak terlalu banyak bertanya, hanya mengamati dan mengikuti jalannya mobil rombongan di depan saya. Sesekali saya berbicara dengan beberapa anggota Forescom pada saat rombongan berhenti sejenak. Penilaian awal saya terhadap teman-teman Forescom adalah baik dan interaktif.

Setelah berjalan lebih dari satu jam, rombongan tiba di Situ Cileunca. Satu per satu mobil parkir teratur di lokasi parkir yang besar Situ Cileunca. Terus terang saya baru pertama kali ke tempat ini. Sebelum kami mulai mencari lokasi untuk pemotretan, Panitia meminta kami berkumpul dan melakukan foto bersama baik dengan kamera biasa maupun drone.

DSCN3199
Dok. Cech
DSCN3204
Suasana Situ Cileunca nan terik (dok. Cech)
DSCN3202
Salah satu aktifitas di Situ Cileunca (dok. Cech)
DSCN3206
Aktifitas pemotretan di Situ Cileunca (dok. Cech)

Selanjutnya kami bergerak mendekati situ Cileunca. Hari itu terik sekali matahari, tapi tidak menyurutkan kami untuk melakukan pemotretan. Ada yang memotret pemandangan sekitar situ, ada yang Wefie/Selfie, ngobrol dengan sesama anggota termasuk saya dan lain-lain. Terlihat raut wajah kegembiraan dan lepas dari suasana kepenatan saat aktifitas kerja sehari-hari. Tanpa terasa satu jam terlewati di lokasi tersebut. Kemudian panitia memanggil kami untuk berkumpul dan segera bersiap diri untuk meneruskan perjalanan ke Rumah Bosscha (Malabar Tea House).

Perjalanan menuju Rumah Bosscha terbilang lancar walaupun jalanan hanya cukup untuk dua mobil, berliku, melewati pedesaan dengan kebun teh khasnya dan beberapa area jalan yang tampak rusak tapi tidak menghalangi rombongan Forescom. Kurang lebih satu jam perjalanan menuju Rumah Bosscha. Awalnya saya pikir rumah Bosscha terletak di Lembang (Utara Bandung, teringat teropong Bosscha) ternyata rumah Bosscha adalah tempat tinggal Bosscha dikelilingi oleh perkebunan teh yang sejuk dan indah serta termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung (selatan Bandung) dekat sekali dengan daerah Pengalengan.

DSC_0001
Kebun Teh dekat Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0002
Berhenti sejenak sebelum masuk ke Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSCN3207
Lokasi parkir Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0005
Kumpul lagi setelah makan siang untuk sesi pemotretan (dok. Cech)

Sekarang Rumah Bosscha merupakan bagian dari  Wisma Malabar, lokasinya di atas bukit dan dikeliling oleh perkebunan teh Malabar milik PT. Perkebunan Nusantara VIII – Malabar. Wisma Malabar menjadi sebuah penginapan nan asri dan sejuk. Dengan harga yang cukup di atas rata-rata dibanding penginapan lain di Pangalengan, Wisma Malabar ini memang menawarkan lokasi dan pemandangan yang indah. Harga per kamar untuk tipe twin bed room : 450 ribu IDR / malam, termasuk sarapan nasi goreng untuk 2 orang. tidak ada fasilitas berlebihan di dalam kamarnya, ada tv kecil, bathtub/shower dengan air panas, handuk, toiletries. Rumah Boscha merupakan rumah tua peninggalan K.A.R. Bosscha, seorang Belanda yang mendirikan pertama kali kebun teh di wilayah Malabar.

Dua jam kami berada di Wisma Malabar. Aktifitas yang dilakukan adalah makan siang, shalat dhuhur dan menunggu satu mobil dari Bekasi yang datang terlambat sehingga jumlah mobil yang ikut serta lengkap 25 mobil dengan total peserta 45 orang. Selain itu ada pemotretan bersama untuk dokumentasi.

Dari Rumah Bosscha, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi utama touring camp yaitu Ranca Upas. Rombongan membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Setibanya di Ranca Upas hari sudah mendekati senja. Segeralah kami parkir mobil mendekati tenda tempat kami menginap. Ada 2 tenda yang sudah berdiri  yaitu tenda untuk pria dan wanita. Pada saat itu lokasi camp dikelilingi oleh beberapa tenda kecil yang sudah berdiri sebelum kedatangan kami. Suasana lokasi sangat ramai.Tapi yang terpenting bagi saya adalah kamar mandi. Ternyata kamar mandi banyak sekali didirikan sehingga tidak menyusahkan pengunjung saat ingin buang hajat atau mandi.

Baru saja memasuki tenda, cuaca mulai mendung dan hujan rintik-rintik. Karena perut terasa lapar, saya pergi ke warung depan. Sesampainya di warung saya memesan Indo Mie Telur dan memakan beberapa gorengan sambil menikmati kopi susu. Beberapa menit kemudian, satu anggota Forescom yaitu Om Ikhtiar tiba di warung dan memesan menu yang sama dengan saya. Rupanya Om Ikhtiar kelaparan juga. Setelah itu hujan turun dengan lebatnya. Wahh… langsung kami berpikir rencana latihan pemotretan malam hari bakal dibatalkan karena hujan.

2 jam kami di warung dan hujan mulai berhenti, tiba-tiba panitia Forescom termasuk Ketum Om Dudi datang ke warung. Rupanya mereka kelaparan juga. Sambil menikmati wedang jahe dan gorengan, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan diselingi tawa dan canda. Setelah itu kami memutuskan untuk menyalakan api unggun dan melakukan sesi pelatihan memotret malam hari (yang utama adalah pelatihan foto Steel Wool)

FB_IMG_1472442447697
Suasana pelatihan pemotretan di malam hari (dok. Forescom)
FB_IMG_1472442458889
Teknik pemotretan dengan kombinasi tulisan dan gambar (dok. Forescom)
14080028_10209976509873059_5333958485918599863_n
Steel Wool (dok. Forescom)

Malam makin larut dan penat tak tertahankan sehingga tubuh ini butuh istirahat. Saya segera menuju tenda penginapan dan tertidurlah. Tepat jam 4 pagi saya terbangun. Setelah beberes kasur, selimut dan tas bawaan, segera saya bawa ke mobil. Kemudian saya pergi ke warung semalam untuk menikmati kopi di pagi hari. Jam 7 pagi semua peserta sudah terbangun. Ada yang langsung makan pagi, mandi dan hunting foto di sekitaran Ranca Upas. Rupanya semangat melakukan pemotretan masih tinggi. Walaupun tanah becek tetap tidak menghalangi aktifitas pemotretan.

DSCN3214
Suasana parkiran mobil di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3221
Tenda-tenda yang berdiri dekat tenda Forescom di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3217
Candid Camera pasangan yang sedang melakukan foto Pre-wedding (dok. Cech)
DSCN3218
Om Chandra tampak serius dengan hapenya (dok. Cech)
DSCN3220
Om Ikhtiar asyik dengan kameranya (dok. Cech)
FB_IMG_1472442428415
Foto bersama sebelum meninggalkan Ranca Upas (dok. Forescom)

Setelah perut kenyang, pemotretan, pemberian hadiah kepada pemenang foto  sepanjang perjalanan dan mobil satu per satu dapat melewati jalan yang becek maka selanjutnya perjalanan menuju Situ Patenggang sebagai destinasi terakhir.

Kembali rombongan bergerak teratur menuju Situ Patenggang yang melewati jalan berkelok dengan sisi kebun teh yang asri. Kurang lebih satu jam kami tiba di Situ Patenggang. Terlihat dengan jelas hamparan situ nan indah dari atas bukit, tempat parkir berada. Segeralah kami menyebar dan melakukan aksi pemotretan di areal Situ Patenggang.

DSCN3222
Rumah makan berbentuk kapal tradisional di atas bukit (dok. Cech)
DSCN3229
Pemandangan Situ Patenggang dari atas rumah makan (dok. Cech)
DSCN3228
Model kamar penginapan dekat Situ Patenggang (dok. Cech)
DSCN3223
Toilet nan bersih di Situ Patenggang (dok. Cech)

Hari mulai siang, perjalanan dilanjutkan menuju rumah makan Sindang Barang sebelum pembubaran acara touring camp dan kembali ke rumah masing-masing. Setelah makan siang dan rehat yang cukup maka Om Ketum membubarkan acara touring camp yang dianggap sukses sekaligus memberi informasi kegiatan selanjutnya di Jawa Timur. Bagi saya, touring camp merupakan wahana yang baik untuk menambah persaudaraan dan meningkat silaturahim bagi para pemilik mobiil Ford Ecosport. Walaupun awalnya saya agak heran mengapa panggilan kepada anggota pria adalah om dan wanita adalah tante. Tetapi bagi saya tidak masalah karena mungkin panggilan tersebut untuk mempererat persaudaran komunitas. Berharap agar kegiatan Forescom berikutnya dapat diikuti oleh seluruh anggota komunitas ini.

Ranca Upas layak dikupas
Bagai kipas
Angin terhempas
Letih lelah menjadi impas
Tawa bahagia tampak puspas
Tak ada ampas
Semuanya terasa pas

Mesjid Bayan Beleq Yang Membuat Mata Melek

Suhu Lombok yang mendekati 33 derajat Celcius berimbas kepada kepala saya sakit. Selesai makan pagi di hotel, saya segera konsumsi obat sakit kepala. Akibatnya selama perjalanan menuju Pusuk Sembalun saya lebih banyak tertidur sehingga kurang dapat menikmati indahnya alam yang menuju ke sana.

Tanpa terasa kurang lebih 2 jam perjalanan terlewati dan saya terbangun karena mobil berhenti di satu tempat. Terpampang tulisan ” Taman Nasional Pusuk Sembalun “, segera saya keluar dari mobil dan mengikuti istri ke satu tempat yang kelihatannya bagus untuk foto-foto. Untungnya cuaca di Sembalun cerah tapi tidak panas menyengat bahkan boleh dikatakan sejuk.

DSCN2879
Dok. Cech 2016
DSCN2880
Dok. Cech 2016

Setelah 2 jam kami menikmati udara sejuk di Sembalun, perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan dan penjualan mutiara khas Lombok. Kembali saya tertidur rupanya pengaruh obat belum hilang juga.

Tiba-tiba mobil berhenti di satu tempat dan tanpa terasa kurang dari satu jam saya tertidur.

“Ini tempatnya Mas Cech yang kemarin saya ceritakan”  ujar Pak Nasib, sang supir.

” Tempat apa ya Pak? ” tanya saya.

” Mesjid tertua di Lombok, Mesjid Bayan Beleq ” jelasnya.

Segera saya keluar dari mobil, panas mulai terasa di badan. Letak mesjid tersebut berada di pinggir jalan utama Lombok Utara. Sebelum masuk terpampang tulisan Mesjid Kuno Bayan Beleq Yang termasuk National Heritage atau dilindungi negara. Tepatnya mesjid ini ada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan Lombok Utara.

DSCN2904
Dok. Cech 2016

Di pintu masuk kami langsung dipandu oleh seorang anak muda yang sepertinya pemandu wisata mesjid tersebut. Kami diharuskan mengisi buku tamu dan dipersilakan untuk memberikan sumbangan sukarela karena tidak ada ketentuan membayar tiket masuk ke area mesjid tersebut.

Dari tempat pengisian buku tamu, bangunan tua seperti bangunan mesjid pada umumnya jelas terlihat. Posisinya berada di dataran tinggi, bentuk bangunan mesjid tersebut serupa dengan bentuk bangunan rumah-rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Bangunan mesjid berbentuk bujursangkar berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah-bilah bambu. Pondasi mesjid menggunakan batu kali tanpa semen.

DSCN2895
Tampak depan mesjid (Dok. Cech)
DSCN2891
Tampak belakang (Dok. Cech)
DSCN2893
Gentong penampung air wudhu (Dok. Cechgentong)

Di depan pintu mesjid terdapat gentong yang diikatkan pada sebuah pohon. Mungkin fungsinya untuk penyimpanan air wudhu. Seperti diketahui Lombok merupakan wilayah kering dan tadah hujan. Selanjutnya ketika saya ingin berjejak ke dalam mesjid. pintu mesjid tertutup dan istri ingin kembali ke mobil karena suhu udara saat itu panas sekali.

Menurut pemandu, Mesjid tidak lagi dipakai untuk umum dan hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti acara Maulid Nabi SAW Itupun dengan peraturan yang sangat ketat karena daya tampungnya hanya untuk 40 orang saja dan sebagian besar adalah kyai. Itulah mengapa pintu mesjid terkunci rapat. Tetapi wisatawan masih diperkenankan mengambil foto dari celah dinding bambu yang seperti sengaja diberi celah yang cukup untuk kamera.

Selain itu pemandu juga menjelaskan tentang adanya makam besar (Beleq) yang terdapat di dalam tersebut yaitu makam Syekh Gaus Abdul Rozak, salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan Bayan. Ada 4 tiang soko guru dari pohon nangka yang menyangga bangunan mesjid. Beduk kayu terlihat juga didalam mesjid dan tergantung di tiang atap mesjid. Di belakang kanan dan depan kiri mesjid terdapat 2 gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk tersebut terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus mesjid ini sedari awal. 

DSCN2897
Beduk kayu (Dok. Cech)
DSCN2899
Atap mesjid (Dok. Cech)
DSCN2902
Bangunan belakang kanan (Dok. Cech
DSCN2896
Bangunan depan kiri (Dok. Cech)

Berdasarkan informasi dari pemandu, Mesjid Bayan Beleq didirikan pada abad ke-17 oleh Sunan Ampel. Dalam penyebaran agama Islam di Lombok Sunan Ampel dibantu oleh salah satu muridnya Syekh Gaus Abdul Rozak yang berasal dari Irak. Tetapi berdasarkan beberapa literatur belum jelas diketahui siapa yang pertama kali membangun Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Tidak terasa 1 jam saya berada di lingkungan mesjid tersebut. Setelah itu saya memberikan salam perpisahan kepada pemandu dan segera menuju ke mobil. Baru saja saya membuka pintu,  tiba-tiba istri mengatakan, “Serem Mas tempatnya maka itu tadi saya kabur duluan ke mobil. Kalau menurut mas bagaimana?” Saya pun menjawab ” Hmmm, justru Mesjid Kuno Bayan Beleq ini membuat mata saya melek. Melek adanya bukti penyebaran Islam di Lombok dan melek terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kasat mata seperti…. Iiiihhh serem!!!  “

Mobil langsung digas oleh Pak Nasib menjauhi lokasi mesjid kuno tersebut menuju Pantai Nipah untuk kembali melek menikmati Sunset.

DSC_0057
Sunset di Pantai Nipah (Dok. Cech)

Brunei Darussalam : Lapangan Terbang Antarbangsa Brunei

Tanggal 16 Mei 2014 adalah hari keempat atau hari terakhir kami berada di Brunei Darussalam. Sementara urusan koper yang hilang belum ada kejelasan maka itu hari terakhir yang bertepatan dengan hari Jumat  kami berangkat pagi hari sekitar jam 11 pagi karena kami ingin segera mendaparkan kejelasan tentang koper dari Air Asia.

2014-05-16 11.20.02

Dengan diantar Pak Azman, supir taksi langganan kami check out dari hotel dan menuju ke Bandara International Brunei (BIA). Dalam waktu 15 menit tibalah kami di BIA. Tetapi sebelum kami masuk ke tempat keberangkatan, Pak Azman mengingatkan bahwa hari Jumat adalah hari libur nasional Brunei Darussalam. Pak Azman menyarankan kami untuk membeli makanan di toko-toko yang ada di BIA karena jam 12.00-14.00 waktu Brunei toko-toko akan tutup karena semua karyawannya istirahat sekaligus melaksanakan sholat Jumat khususnya kaum pria. Padahal waktu keberangkatan kami selanjutnya yaitu Kota Kinabalu pada pukul 16.45 sehingga kami pasti akan menunggu lama.

Segeralah saya pergi ke kantor Air Asia. Ternyata hasilnya kurang menyenangkan karena koper kami belum juga ada kejelasan keberadaannya. Demikian dituturkan oleh Azmi, supervisor Air Asia Brunei Darussalam. Mengecewakan sekali karena kami berharap koper ditemukan dan dapat kami bawa langsung ke Kota Kinabalu tetapi itulah yang terjadi dan kami dituntut untuk lebih bersabar lagi.

2014-05-16 11.06.54

2014-05-16 11.07.40

2014-05-16 11.24.16

2014-05-16 11.25.15

Setelah mendapatkan informasi yang kurang menyenangkan dari Air Asia, segeralah kami mencari makanan yang dijual di BIA sebagai teman menunggu di BIA selama 4 jam lebih. Ternyata kami menemukan semua toko sudah tutup bersamaan terdengar suara azan di mesjid yang letaknya tidak jauh dari BIA. Apa yang dikatakan Pak Azman benar adanya. BIA langsung sepi tanpa aktifitas sama sekali.

Walaupun tidak ada yang menjual makanan, kami beruntung karena salah satu tas kecil masih tersedia beberapa kudapan yang cukup mengganjal perut selama 2 jam. Selain itu lamanya waktu menunggu kami manfaatkan untuk mengambil foto sekilas tentang BIA pada saat semua aktifitas terhenti pada hari Jumat tersebut.

2014-05-16 11.22.39

2014-05-16 11.16.38

2014-05-16 11.17.48

2014-05-16 12.24.13

Perlu diketahui BIA masih dalam proses pembangunan. Sejak 2008 telah dibuat Master Plan BIA sehingga menjadikan BIA sebagai lapangan terbang berkelas Internasional dan dimulailah pembangunan besar-besaran. Pada tahun 2005 kapasitas BIA baru dapat menampung 1,3 juta orang. Tetapi pada saat ini fase 1 telah mengalami peningkatan kapasitas penumpang dan terminal kargo (direncanakan rampung akhir 2014). Pada tanggal 1 Oktober 2013, fase 1A telah selesai yaitu dibukanya hall kedatangan yang baru dan diharapkan terjadinya peningkatan jumlah penumpang mencapai 2 juta orang pada akhir tahun 2014. Sedangkan fase 2 baru akan terwujud pada tahun 2020 yaitu pembangunan terminal baru yang direncanakan dapat menampung 8 juta orang. Semoga kelak suatu hari kami dapat berkunjung lagi ke Brunei Darussalam dengan kondisi BIA yang lain dan lebih baik dari sekarang. Selamat Tinggal Brunei, Selamat Datang Kota Kinabalu.

2014-05-16 15.08.41

2014-05-16 15.35.58

(bersambung)

Brunei Darussalam : Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah Sebagai Simbol Indahnya Islam

Selepas mengelilingi Kampong Ayer selama 1,5 jam, kami memutuskan kembali ke hotel. Di hotel kami mencari informasi bagaimana caranya kami dapat pergi ke Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah, salah satu masjid termegah di Brunei Darussalam. Oleh resepsionis hotel, kami disarankan untuk menggunakan bas nombor 01 di terminal bus utama Bandar Seri Begawan yang letaknya berada di Jalan Cator. Ternyata letaknya terminal bus tepat berada di belakang hotel kami. Tanpa banyak tanya lagi, kami berjalan kaki ke belakang hotel.

2014-05-15 09.09.03

2014-05-14 12.06.10

2014-05-15 10.23.31
Tulisan di jok bas

Kami sempat kaget pada saat melihat terminal bus tersebut. Sangat berbeda sekali dengan terminal bus di Indonesia. Terminal busnya kecil dan terletak di bawah gedung perkantoran tetapi bersih lingkungannya. Mudah sekali menemukan bas nombor 01. Di kaca depan bas tertulis Kiulap. Kiulap  adalah nama jalan sekitar Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah. Walaupun berukuran sedang, bas di Brunei dilengkapi dengan AC dan dikenai ongkos 1 Brunei Dollar.  Segeralah kami masuk ke dalam bas dan terlihat seorang supir pria serta satu orang kondektur wanita. Hanya dalam hitungan menit, bas segera jalan.

Waktu tempuh yang dibutuhkan dari terminal bus ke lokasi Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah sekitar 15 menit. Memasuki jalan Kiulap sudah terlihat dengan jelas bangunan masjid nan megah dengan kubah emasnya. Ternyata kami masuk dari pintu timur. Dari jalan raya ke masjid berjarak sekitar 200 meter.

2014-05-15 09.54.01
Lambang Kerajaan Brunei Darussalam di pintu gerbang

2014-05-15 09.53.37

2014-05-15 09.53.06

Sisi timur
Sisi timur

Lingkungan sekitar masjid terasa teduh karena dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang rindang. Walaupun mendekati pertengahan hari yang terik, Suasana nyaman terasa di hati. Makin mendekati masjid, kami makin dibuat kagum dengan bangunan masjid yang megah, didesain secara detil lengkap dengan tempat penitipan alas kaki, taman, air mancur dan tempat duduk yang membuat hati terasa sejuk dan damai. Beberapa kali kami melihat bas pesiaran yang keluar masuk membawa turis yang datang (terutama turis dari Tiongkok) ke masjid ini. Jepretan foto mengabadikan setiap detil dan sudut yang ada di masjid ini. Sekali lagi tak ada kata terucap kecuali kekaguman.

Perlu diketahui Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah dibangun untuk memperingati 25 tahun bertahtanya Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah dan Yang Dipertuan Negara Brunei Darussalam. Masjid secara resmi pada hari Kamis tanggal 14 Juli 1994. Penduduk lokal menyebut masjid ini dengan nama Masjid Kiarong karena terletak di Kampong Kiarong.

2014-05-15 09.40.00

2014-05-15 09.34.35

2014-05-15 09.35.01

2014-05-15 10.06.56

2014-05-15 09.42.07

2014-05-15 09.51.16

2014-05-15 09.49.10

2014-05-15 10.06.04

Masjid ini juga terbuka untuk umum baik lokal maupun manca negara. Seperti biasanya, tiap pengunjung yang ingin masuk ke dalam masjid dipersilakan untuk melepas kakinya. Untuk pengunjung wanita diwajibkan memakai pakaian tertutup seperti jilbab yang telah disediakan di depan pintu masuk masjid apabila ingin masuk ke masjid.Telepon seluler dan kamera tidak diperkenankan dibawa masuk ke dalam. Setiap pengunjung yang datang akan dipandu oleh seorang pengurus masjid. Waktu berkunjung turis telah diatur sedemikian rupa. Kamis dan Jumat, masjid ini ditutup untuk umum. Dari Minggu sampai Rabu, masjid dibuka pada pukul 08.00-12.00, 14.00-15.00 dan 17.00-18.00. Khusus Sabtu, masjid dibuka kecuali dipakai untuk persiapan dan perayaan acara keagamaan Islam.

2014-05-15 09.51.28

2014-05-15 09.51.36

2014-05-15 09.48.50

Walaupun kami tidak masuk ke dalam tapi sudah dapat merasakan  betapa artistiknya bangunan masjid ini. Sebuah arsitektur yang dibangun dengan cipta rasa karsa tinggi yang melambangkan indahnya Islam. Subhanallah.

Brunei Darussalam : Menyisir Kampong Ayer “Venice of the East”

Masih hari ketiga kunjungan kami di Brunei Darussalam. Setelah melongok sejenak Tamu Kianggeh selama 1 jam, kami memutuskan untuk pergi plesiran ke Kampong Ayer yang konon mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi bangsa Brunei.

” Perahu, Pak ?! ” teriak seorang pengemudi taksi air.

2014-05-15 07.58.59

Langsung saja perhatian kami tertuju kepadanya. Memang posisi taksi air tersebut dekat sekali dengan Tamu Kianggeh, Setelah tawar menawar sejenak kami memutuskan untuk menggunakan taksi air tersebut berplesiran ke Kampong Ayer. Harga yang disepakati adalah 15 Brunei Dollar. Hal ini sesuai sekali dengan informasi yang kami dapat di Google tentang tarif taksi air untuk  mengelilingi Kampong Ayer.

Sedikit informasi tentang Kampong Ayer. Kampong Ayer menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Kerajaan Brunei Darussalam. Hampir seribu tahun Kampong Ayer berdiri dan menghiasi kehidupan masyarakat Bandar Seri Begawan. Tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Shah tahun 1363-1402. Dahulu kala Kampong Ayer merupakan pelabuhan utama untuk para saudagar yang memperdagangkan barangnya ke Brunei. Dan Kampong Ayer masih tetap berdiri kokoh dan berkembang pesat sampai saat ini. Ada 42 kampung yang terletak di Kampong Ayer dengan jumlah populasi penduduk sekitar 39.000 jiwa (10 persen dari total populasi penduduk Brunei Darussalam). Jadi tidaklah mengherankan kalau Kampong Ayer adalah Kampong terbesar di Brunei Darussalam.

Antonio Pigafetta (from the Marasca Collection, Biblioteca Bertoliana of Vicenza)
Antonio Pigfetta (from the Marasca Collection, Biblioteca Bertoliana of Vicenza)

Oleh  Antonio Pigafetta yang pernah singgah bersama  Ferdinand Magellan pada tahun 1521 menjuluki Kampong Ayer dengan nama “Venice of the East” Menurut Antoni0, kehidupan Kampong Ayer mirip dengan Venice, tempat Antonia berasal.

Bagaimana dengan Kampung Ayer saat ini ? Setelah kami menelusuri Kampong Ayer, bangunan rumah panggung kayu yang berdiri di atas air menjadi ciri khasnya. Walaupun bentuknya sederhana tetapi kehidupan modern masa kini tampak jelas terlihat di Kampong Ayer. listrik, ac, sampai parabola dimiliki oleh sebagian besar penghuni Kampong Ayer. Selain itu Pemerintah Kerajaan Brunei juga melengkapi fasilitas sosial seperti sekolah, rumah sakit, pemadam kebakaran, masjid, pipa air, tempat bermain sehingga Kampong Ayer terlihat dinamis kehidupannya. Selain itu dengan perahu kayu sebagai transportasi utama dan jembatan kayu yang menghubungkan tiap kampong dan blok sangatlah memudahkan aktifitas penduduknya.

Taksi air bersandar di Tamu Kianggeh dan siap mengantarkan turis mengeliling Kampong Ayer
Taksi air bersandar di Tamu Kianggeh dan siap mengantarkan turis mengeliling Kampong Ayer

2014-05-15 07.38.45

Bandar Seri Begawan dari kejauhan
Bandar Seri Begawan dari kejauhan
Jembatan penghubung antar kampong
Jembatan penghubung antar kampong
Pembangunan jembatan terpanjang di Brunei Darussalam yang menghubungkan Bandar Seri Begawan dengan wilayah Limbang
Pembangunan jembatan terpanjang di Brunei Darussalam yang menghubungkan Bandar Seri Begawan dengan wilayah Limbang

Bahkan saat ini sedang dibangun jembatan penghubung antara Bandar Seri Begawan dengan wilayah Limbang sehingga memudahkan akses jalan, dan perdagangan yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi bagi penduduk di 2 wilayah tersebut. Bahkan pengemudi taksi air mengatakan kalau ada kesempatan untuk datang ke Brunei sekitar 3 tahun ke depan maka kami akan melihat jembatan terpanjang di Brunei Darussalam sehingga dapat mengunjungi wilayah Limbang yang terkenal dengan pertanian dan hutan yang masih asri terjaga.

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien terlihat jelas
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien terlihat jelas
Gedung Pengadilan (Mahkamah) Kerajaan Brunei Darussalam
Gedung Pengadilan (Mahkamah) Kerajaan Brunei Darussalam
Beberapa bangunan yang dirobohkan karena akan dibangun fasilitas publik lainnya
Beberapa bangunan yang dirobohkan karena akan dibangun fasilitas publik lainnya
Kompleks bangunan baru untuk relokasi
Kompleks bangunan baru untuk relokasi
Salah satu bangunan madrasah
Salah satu bangunan madrasah
Salah satu bangunan sekolah
Salah satu bangunan sekolah
Balai Bomba dan Penyelamat (Gedung Pemadam Kebakaran)
Balai Bomba dan Penyelamat (Gedung Pemadam Kebakaran)
Salah satu bangunan masjid yang terdapat di Kampong Ayer
Salah satu bangunan masjid yang terdapat di Kampong Ayer
Rumah Sakit di Kampong Ayer
Rumah Sakit di Kampong Ayer

Ada hal menarik selama perjalanan ke Kampong Ayer, ternyata banyak pengemudi taksi air bukanlah penduduk asli Brunei tetapi berasal dari Malaysia yang sudah bertahun-tahun  mengais rejeki di Brunei Darussalam terutama fenomena Kampung Ayer. Dalam perjalanan kami juga melihat beberapa bangunan yang dirobohkan karena akan digunakan oleh Kerajaan untuk fasilitas publik dan penduduknya sudah direlokasi ke tempat lain yang katanya walaupun jauh tetapi mendapatkan bangunan baru dan beberapa fasilitas publik yang lebih baik.

Seperti layaknya di darat, di Kampong Ayer juga dibangun beberapa cluster dengan bangunan rumah panggung modern bertingkat untuk kalangan menengah ke atas. Harga bangunan tersebut berkisar antara 60 ribu sampai dengan 90 ribu Brunei Dollar.

2014-05-15 07.39.50

2014-05-15 07.39.15

2014-05-15 07.40.30

2014-05-15 07.55.55

Kompleks Cluster di Kampong Ayer
Kompleks Cluster di Kampong Ayer
Model rumah pada kompleks cluster
Model rumah pada kompleks cluster

2014-05-15 08.18.38

2014-05-15 08.17.27

Selain itu pihak Kerajaan sangat memperhatikan pendidikan masyarakat Kampong Ayer. Hampir setiap sudut kampong yang berada di Kampong Ayer dibangun sekolah mulai dari tingkat TK sampai SMA serta Madrasah. Maka itu profesi guru menjadi profesi yang sangat dihormati. Pemerintah Kerajaan menempatkan profesi guru sebagai profesi yang mulia sehingga banyak sekali yang fasilitas khusus selain gaji besar yang diberikan oleh Pemerintah Kerajaan kepada guru. Luar biasa dan perhatian sekali Sultan Hassanal Bolkiah terhadap pendidikan rakyatnya.

(bersambung)

Brunei Darussalam : Tengok Sejenak Tamu Kianggeh

Waktu cepat berlalu, tanpa terasa sudah tiga hari kami berada di Brunei. Banyak orang mengatakan jalan-jalanlah ke Kampong Ayer. Kamipun mengamini hanya saja sebelum ke sana ada keramaian yang selalu menemani kami di hotel pada pagi hari karena kamar hotel persis berhadapan dengannya. Ya, itulah salah satu pasar tradisional kota Bandar Sei Begawan yaitu Tamu Kianggeh. Tamu berarti pasar. Jadi Tamu Kianggeh artinya  Pasar Kianggeh yang terletak di sepanjang Sungai Kianggeh.

2014-05-15 07.16.32

2014-05-16 08.12.08

Suasana Tamu Kianggeh di pinggir sungai Kianggeh
Suasana Tamu Kianggeh di pinggir sungai Kianggeh
Lalu lalang taksi air di sekitar Tamu Kianggeh
Lalu lalang taksi air di sekitar Tamu Kianggeh

Tidak ada perbedaan menyolok antara pasar di Brunei dengan Indonesia. Yang membedakan adalah luas pasar di Brunei lebih kecil dari Indonesia. Kebersihan pasar di Brunei terlihat bersih dan terawat. Walaupun tradisional tapi tidak jorok dan becek. Sebagian besar pedagang menjual barang-barang jualannya berdasarkan piring. Satu piring dihargai sekian Brunei Dollar. Lapak jualannya memang teratur tetapi sebagian besar lebih mirip dengan lapak kaki lima di Indonesia yang menggunakan kanvas plastik sehingga melindungi penjualnya dari panas terik matahari.

Kerang
Kerang

2014-05-15 08.38.48

2014-05-15 08.30.32

2014-05-16 08.19.39

2014-05-16 08.19.22

2014-05-15 08.30.53

Ketupat
Ketupat

2014-05-15 08.31.53

2014-05-15 08.32.49

Panganan khas Brunei
Panganan khas Brunei

2014-05-15 08.37.56

Asam Kandis
Asam Kandis

2014-05-15 08.36.23

2014-05-15 08.40.36

2014-05-15 08.42.17

Kami perhatikan aktifitas pasar berlangsung ramai pada jam 06.00-11.00. Ada yang menarik dari pasar Kianggeh terutama warung makannya yang sebagian besar berasal dari Indonesia. Maka tidaklah heran tempe menjadi panganan yang dijual sehari-hari. Selain itu kami juga sempat mengunjungi salah satu lapak yang menjual obat-obat tradisional yang menggunakan tanaman herbal khas Brunei Darussalam. Menariknya adalah saat kami mendatangi lapak tersebut, sang penjual langsung menawarkan obat kuat untuk pasangan suami istri hehehehe. Ternyata sang penjual ini sangat terkenal di Brunei sebagai “Dr. Angin”. Nama sebenarnya sang penjual adalah Bapak Awang Damit Bin Jahar. Profil beliau kebetulan hari itu diberitakan oleh salah satu  media cetak Brunei, Media Permata. Benar saja pada saat kami bertemu, beliau lebih banyak menerangkan tentang bagaiamana caranya membuang angin dari badan dengan ramuan tradisionalnya.  Ramuan Bapak Awang Damit ini tidak hanya dikhususkan untuk membuang angin. Ada beberapa  ramuan beliau yang diyakininya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.

2014-05-16 08.14.59

2014-05-16 08.17.48

2014-05-16 08.16.02

2014-05-16 08.13.53

2014-05-16 08.14.07

Pemberitaan tentang Dr. Angin, Awang Damit bin Jahar
Pemberitaan tentang Dr. Angin, Awang Damit bin Jahar

Sungguh perjalanan singkat nan menarik di pagi hari untuk lebih  mengenal pasar tradisional di Kota Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.

(bersambung)