Japan Trip : 3 Jam di Kinkakuji Temple, Kyoto

Hari Sabtu, 4 Maret 2017 adalah hari pertama kami di Kyoto. Pukul 09.00 pagi kami sudah siap sedia untuk melakukan perjalanan wisata. Sesuai rencana, ada beberapa tempat wisata di Kyoto. Yang utama adalah Kinkakuji Temple dan Kyoto Imperial Palace.

Kebetulan hotel kami terletak diseberang pool bus kota Kyoto sehingga memudahkan untuk mendapatkan informasi tentang bus umum yang dapat mengantar kami ke Kinkakuji. Perlu diketahui halte bus persis berada di depan dan di seberang hotel. Nama halte bus tersebut adalah Kujoshakomae Bus Stop.

Berdasarkan petugas informasi dari pool bus, kami disarankan membeli tiket bus terusan (one day pass) seharga Yen 500. Nomor bus jurusan ke Kinkakuji adalah 205. Untuk menuju Kinkakuji, kami melewati 25 halte (bus stop) dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.  Kalau tanpa tiket terusan, dikenakan ongkos bus Yen 230 per penumpang. Setibanya di halte Kinkakujimichi, kami segera turun dari bus. Pada saat itu bus penuh dengan penumpang dan sebagian besar adalah turis asing terutama turis dari Peru.

Sebelum memasuki komplek Kinkakuji Temple, kami sarapan terlebih dahulu di sebuah kafe yang letaknya persis di depan halte bus. Kafe yang dimiliki oleh pasangan suami istri lanjut usia tersebut menyediakan banyak menu makanan. Kami langsung memesan minuman kopi dan coklat. Sedangkan untuk makanan kami memesan roti bakar.

Ada beberapa hal yang menarik dari kafe tersebut, selain dikelola oleh pasangan lanjut usia, pasangan tersebut memiliki koleksi mata uang asing yang diberikan oleh turis asing yang mampir ke kafe mereka. Uniknya sudah ada uang rupiah emisi  tahun 2016 yang dimiliki mereka yaitu 2000 dan 5000. Mereka juga mengkoleksi origami buatan sendiri. Walaupun terbata-bata dalam berbahasa Inggris tetapi pasangan tersebut mengerti maksud ucapan kami dalam berbahasa Inggris.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah sarapan pagi, kami berjalan kaki sekitar 100 meter menuju Komplek Kinkakuji Temple. Sebelum memasuki komplek, tertulis larangan menggunakan drone, merokok dan buang sampah sembarangan. Komplek Kinkakuji Temple dibuka untuk umum pada jam 09.00-17.00 setiap hari dengan biaya masuk Yen 400 per orang.

Beberapa ratus meter dari pintu masuk sudah terlihat bangunan unik khas Jepang berwarna emas. Banyak pengunjung mulai mengabadikan bangunan tersebut dan berselfia ria termasuk kami. Bangunan tersebut adalah Kinkakuji atau Kuil Paviliun Emas ( Temple of Golden Pavillion).  Kinkakuji adalah nama umum untuk Rokuonji (鹿苑寺 Kuil Taman Rusa) merupakan sebuah kuil di Kyoto, Jepang.

DSC_0081
Pintu masuk ke Komplek Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0083
Prasasti Kinkakuji Temple
DSC_0085
Sejarah Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0090
Kinkakuji Temple (Temple of Golden Pavillion) (Dok. Cech)
DSC_0095
Hojo, tempat tinggal Kepala Bikhsu (Dok. Cech)

Menurut sejarah, Komplek Kinkakuji adalah sebuah vila dengan nama  Kitayama-dai yang dimiliki oleh seorang tuan tanah  Saionji Kintsune.  Pada tahun 1397, Shogun Ashikaga Yoshimitsu membeli komplek vila tersebut dan memberi nama Komplek Kinkakuji. Ketika Yoshimitsu wafat, oleh anaknya komplek vila tersebut diubah peruntukkannya menjadi bangunan kuil Zen Budha sesuai keinginan ayahnya.

Selama perang Onin (1467-1477, seluruh bangunan dalam komplek tersebut terbakar. Pada tanggal 2 Juli 1950, kuil Paviliun Emas dibakar oleh seorang bikhsu berusia 22 tahun, Hayashi Yoken yang saat itu melakukan percobaan bunuh diri di belakang bangunan tetapi berhasil diselamatkan. Bikhsu tersebut dihukum 7 tahun penjara dan dibebaskan karena menderita gangguan mental (persecution complex dan schizophrenia) pada tanggal 29 September 1955. Pada tahun 1992, Kinkakuji Temple dinyatakan sebagai World Heritage Site oleh Unesco.

Kuil Kinkakuji (Paviliun Emas) terdiri dari 3 lantai. Keseluruhan paviliun kecuali bagian lantai dasar ditutupi dengan lembaran tipis emas murni, menjadikan kuil itu sangat berharga. Pada atap kuil terdapat fenghuang emas atau “burung phoenix”. Di hari yang cerah lembaran emas tersebut akan  memantulkan sinar matahari secara sempurna dan bayangan Kinkakuji terpantul di permukaan air. Kinkakuji Temple hanya dapat dilihat dari pinggir danau dan tidak dapat mendekati area dan ke dalam paviliun tersebut.

Kemudian di samping Kinkakuji Temple, terlihat satu bangunan besar yang dinamakan Hojo. Hojo adalah bangunan tempat tinggal mantan Kepala Bikhsu dimana seluruh pintu gesernya dicat. Sayangnya Hojo tertutup untuk umum.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selanjutnya kami berjalan sedikit menanjak dan terlihat taman nan indah. Di tengah taman terdapat sebuah kios yang menjual pernak-pernik tradisional khas Jepang (Kinkakuji Gift Shop) seperti gantungan kunci, patung kecil dari kayu, jimat keberuntungan dan lain-lain. Tidak jauh dari kios terdapat sebuah lokasi yang dinamakan Anmintaku Pond dimana ada beberapa patung tak berbentuk dari batu yang penuh dengan koin uang. Jadi siapapun yang berhasil melempar dan masuk ke dalam mangkok yang berada di beberapa patung tersebut maka akan mendapatkan keberuntungan.

Setelah melewati Anmintaku Pond dan taman, kami melihat sebuah tempat yang menyajikan minuman teh hijau yang disebut dengan Sekkatei Teahouse. Dengan membayar Yen 500, pengunjung dapat menikmati matcha tea dan manisan.

Beberapa puluh meter kemudian, kami melihat satu kuil kecil yang dinamakan Fudo Hall. Fudo Hall adalah sebuah kuil untuk menghormati salah satu 5 Raja Kebajikan yang melindungi umat Budha. Banyak pengunjung terutama warga Jepang melakukan ritual dan berharap mendapatkan keberuntungan di kuil tersebut.

Di dekat pintu keluar, ada beberapa kios yang menjual beberapa produk tradisional Jepang. Salah satunya adalah makanan tradisional khas Kinkakuji yaitu Meika Kinkaku (Classic Gold Leaf Cake). Harganya Yen 900 per kotak berisi 6 buah kue. Meika Kinkaku adalah kue khas Kinkaku yang dibuat oleh para pembuat kue di Senbon Tamajuken, distrik Nishijin, Kyoto.

Setelah keluar dari komplek Kinkakuji, awalnya kami akan mengunjungi Ryonji Temple dan Ninnaji Temple yang letaknya masih berdekatan dengan Komplek Kinkakuji. Karena hari sudah siang  maka kami memutuskan untuk melahjutkan perjalanan ke Kyoto Imperial Palace dengan menggunakan bus umum. 3 jam di Komplek Kinkakuji yang sungguh melelahkan.

 

 

Iklan

Japan Trip : Ke Kyoto Dengan N700 Series

Setelah makan siang, kami segera menuju ke Asakusa Station yang letaknya tidak jauh dari tempat kami makan. Kami langsung membeli tiket via mesin penjualan tiket untuk jurusan Tokyo Station. Harga tiket yang harus dibayar sebesar Yen 200 per orang (Ginza Line). Dengan Ginza Line (G) membutuhkan waktu 15 menit dengan 9 stasiun perhentian ke Kyobashi Station. Setibanya di Kyobashi Station, kami berjalan kaki selama 6 menit ke Tokyo Station.

IMG-20170303-WA0012
Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0010
Suasana Peron 19 di Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0017
Tiket Kereta Super Cepat Shinkansen Tokyo-Shin Osaka (Dok.Cech)

Di Tokyo Station, kami membeli tiket kereta Super Cepat Shinkansen N700 series jenis Nozomi (seatable atau dapat nomor tempat duduk) dengan harga sebesar Yen 13.910. Kereta Super Cepat Shinkansen nomor 285 adalah kereta jurusan Tokyo-Shin Osaka yang hanya berhenti di Nagoya dan Kyoto Station.

Ada 2-3 jenis keberangkatan Shinkansen sesuai dengan waktu tempuh dan banyaknya perhentian. Namanya berbeda-beda tergantung operator dan kecepatannya ada yang dinamakan  Super Express, Express, dan All-Stop (setiap statiun berhenti). Di Jepang, Shinkansen dioperasikan oleh beberapa perusahaan yang berbeda tergantung jalurnya, lima yang paling utama.

Pertama,  Tokaido Shinkansen (Tokyo-Shin Osaka) yang dioperasikan oleh JR Central, untuk jenis Super Express dinamakan Nozomi (seatable) Di bawahnya adalah jenis Hikari (unseatable) dan yang terakhir berhenti di semua stasiun adalah jenis Kodama (unseatable). Ketiga jenis tersebut menggunakan seri kereta 700 series. Untuk jenis Nozomi, kita  mendapatkan tipe Shinkansen yang paling baru, yaitu N700 series.Shinkansen ini dapat mencapai top speed 270-300km/jam, sedangkan Kodama  hanya sekitar 200km/jam karena  berhenti di setiap stasiun.

Kedua, Hokuriku Shinkansen  (Tokyo-Nagano-Kanazawa) dibedakan Kagayaki (paling cepat) dan Hakutaka. Keduanya menggunakan seri kereta  E7 series. Jalur ini sejak 2015 baru menyambung ke Kanazawa dan sangat populer untuk turis yang ingin menjelajah Murodo Dam, Alpine Route, dan Shirakawa-Go village.

Ketiga, Sanyo Shinkansen, sambungan dari Osaka ke Fukuoka (meliputi Kobe dan Hiroshima), dioperasikan oleh JR West.

Keempat, Tohoku Shinkansen, jalur Tokyo ke Utara hingga paling ujung pulau, dioperasikan JR East.

Kelima, Hokkaido Shinkansen, ini sambungan dari Tohoku Shinkansen, dibuka Maret 2016 yang menghubungkan Shin-Aomori dan Hakodate Hokuto melewati Seikan Tunnel bawah laut dengan kereta Shinkansen Hayabusa yang membuat jalur kereta ke Pulau Hokkaido semakin ringkas. Rencananya jalur shinkansen ini akan disambung hingga kota Sapporo.

IMG-20170303-WA0011
Shinkansen N700 series (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0036
Shinkansen sedang dibersihkan (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0020
Sinkansen jurusan Shin Osaka sedang dibersihkan oleh petugas (Dok. Cech)
DSC_0050
Keterangan di meja lipat tentang beberapa gerbang misalnya gerbong untuk perokok (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0024
Gerbong Shinkansen Nozomi dengan tempat dudul 2-3 (Dok. Cech)
DSC_0077
Pemandangan di luar Shinkansen (Dok. Cech)

10 menit sebelum Shinkansen berangkat (13.23 waktu Tokyo), kami diperbolehkan masuk  ke dalam gerbong 11 dengan nomor tempat duduk 11D dan 11E. Tipe tempat duduknya adalah 2-3. Kondisi gerbong bersih sekali dan sebagian penumpang adalah profesional yang bekerja atau bertempat tinggal di Nagoya, Kyoto dan Osaka.

Selama perjalanan, kami menikmati pemandangan di luar kereta walaupun agak sulit untuk mengabadikannya dengan kamera karena cepatnya kereta bergerak.  Terasa seperti berada di dalam pesawat terbang. Gelas atau botol minuman yang kami letakkan di atas meja tidak tergoncang sama sekali. Dibutuhkan waktu perjalanan ke Kyoto selama 2 jam 15 menit dan tepat waktu sesuai tertera di tiket.

Selanjutnya dari Kyoto Station ke Green Rich Hotel , kami berjalan kaki selama 20 menit (jaraknya sekitar 750 meter). Sepanjang jalan kami mengamati suasana perumahan dan daerah Minami-ku. Sore itu jalanan sepi, bersih, tenang dan aman. Sesampainya di hotel, kami disambut dengan ramah oleh resepsionis hotel. Kami diberitahu bahwa kedua koper yang dikirim dari Tokyo via Ta-Q-Bin telah berada di kamar.

Setelah rehat sejenak, malam hari dengan suhu 5 derajat Celcius kami memaksakan diri keluar untuk mencari restoran dekat hotel. Ternyata restoran Yoshinoya dekat dengan hotel dan malam itu kami makan menu khas Jepang dengan nikmatnya.

IMG-20170303-WA0031
Kyoto Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0013
Jalan menuju hotel nan sepi, bersih tapi aman (Dok. Cech)
Y346842131
Depan Green Rich Hotel
IMG-20170303-WA0039
Menu makan malam pertama di Kyoto (Dok. Cech)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Japan Trip : 2 Jam Terakhir di Tokyo

IMG-20170326-WA0082
Pemandangan Tokyo Tower dari lantai 4 Richmond Hotel Asakusa Premier International (Dok. Cech)

Pagi-pagi sekali, kami sudah bangun. Tanggal 3 Maret 2017 pukul 09.00 kami meninggalkan hotel. Tetapi sebelum keluar hotel, dari lantai 4 hotel kami sempat mengabadikan pemandangan Tokyo Tower. Rencana awal hari itu adalah berkunjung ke Senso-ji Temple dan Tokyo Imperial Palace. Karena hari Jumat, Tokyo Imperial Palace tutup untuk umum sehingga dari Senso-ji Temple kami menggunakan kereta bawah tanah dari Asakusa Station ke Tokyo Station.

Keluar dari hotel, kami berjalan kaki menuju Senso-ji Temple via 2 Chome 7 Asakusa. Dalam 10 menit kami sudah berada di komplek Senso-ji Temple. Suasana ramai orang terasa sekali di Komplek Senso-ji Temple terutama Main Hall yang sering disebut Hondo. Pengunjung yang berdatangan adalah wisatawan asing dan wisatawan lokal yang melakukan ibadah ritual di Senso-ji Temple.

DSCN3660
2 Chome 7 menuju Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3661
WC Umum nan bersih di 2 Chome 7 (Dok. Cech)

Kuil Senso-ji adalah  kuil Budha tertua di  Tokyo yang dibangun  pada tahun 645. Berdasarkan keterangan yang tertulis di salah satu tiang kuil diceritakan pada tahun 628  saat sedang memancing di sungai Sumida, dua orang kakak beradik yang bernama Hinokuma Hanamari dan Hinokuma Takenari menemukan sebuah patung Dewi Kannon (Bodhisattva Kanon) atau yang lebih di kenal sebagai Dewi Welas Asih. Ketika mereka mengembalikannya ke dalam sungai, patung tersebut kembali lagi kepada mereka. Mendengar cerita Hinokuma bersaudara tersebut,  sebagai bentuk penghormatan maka kepala desa Haji Nakatomo memutuskan untuk membangun sebuah kuil yang awal nya bernama Asakusa Kannon Temple yang sekarang kita kenal dengan Kuil Sensoji ini.

Pada tahun 645, seorang pendeta Budha terkenal Shokai mengunjungi Asakusa dan melihat kuil tersebut. Kemudian oleh Pendeta Shokai, kuil tersebut diperluas bangunannya dengan menambah tempat untuk sembahyang sehingga bangunan kuil terlihat seperti saat ini yang sering disebut Main Hall atau Hondo. Senso-ji dan Asakusa mempunyai kaitan yang kuat. Apabila ditulis dalam aksara Cina maka pengucapannya akan berbeda. Pengucapannya menjadi “Senso” bagi orang Cina. Sedangkan bagi orang Jepang, pengucapannya “Asakusa”.

DSCN3679
Patung Budha (Dok. Cech)
DSCN3662
Bronze Statue of Uryu Iwako (Dok. Cech)
DSCN3668
Salah satu Kuil Budha di Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3670
Kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine (Dok. Cech)
DSCN3675
Kolam Ikan Koi (Dok. Cech)

Sebelah barat  terdapat beberapa bangunan kuil, patung dan kolam ikan koi. Diantaranya ada kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine yang berdiri berdampingan dengan beberapa  kuil budha dalam komplek Senso-ji. Selain patung Budha, ada satu patung sosok perempuan yaitu Patung Perunggu Uryu Iwako.

Uryu Iwako lahir pada 15 Februari 1829 di Kitakata, Perfektur Fukushima. Nama sebenarnya adalah Iwa, sedangkan Iwako adalah nama populernya. Setelah Restorasi Meiji, Iwako mendorong anak-anak perempuan klan Aizu untuk sekolah. Selain itu Iwako mendirikan Fukushima Relief  Facility yang membantu kaum miskin dan anak yatim piatu. Iwako juga mendirikan Institut Riset Kebidanan (Midwifery Research Institute) dan Rumah Sakit Saisei di Kitakata. Iwako meninggal dunia pada 19 April 1897. Atas jasa dan pengabdiannya maka dibangunlah Patung Perunggu Uryu Iwako (Bronze Statue of Uryu Iwako) pada April 1901

Gerbang utama dari kompleks Kuil Sensoji ini disebut Kaminarimon Gate yang artinya Gerbang Halilintar. Gerbang ini pada awalnya terdiri atas dua panji raksasa dengan simbol trisula. Setelah melewati Kaminarimon Gate, pengunjung disuguhi dengan deretan toko   yang menjual bermacam-macam suvenir khas Asakusa.

Mereka menjual barang tradisional Jepang seperti yukata, gantungan kunci, kipas lipat, jimat keberuntungan, kaos, dan camilan lokal seperti  “Kibidango” yaitu snack yang dibuat berdasarkan cerita anak-anak terkenal di Jepang (Momotaro si Buah Persik) Kibidango sangat spesial karena hanya dijual di tempat ini, tidak dijual di toko kelontong atau supermarket.

Camilan lain yang dijual adalah penganan berbahan dasar kacang merah yang disebut Agemanju (kue bertabur roti yang digoreng) dan Ningyoyaki (camilan berbahan dasar kue). area deretan toko sepanjang 20 meter tersebut dikenal dengan nama  Nakamise DoriDari Nakamise Dori pengunjung dapat melihat  Hozomon Gate. Disebelah timur terdapat Bentendo Hall dan di sebelah barat terdapat  sebuah pagoda 5 tingkat yang di namakan Five Storied Pagoda

DSCN3716
Hozomon Gate (Dok. Cech)
DSCN3718
Foto sejenak di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3720
Seorang pedagang es krim di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3721
Suasana ramai di Nakamise Dori (Dok. Cech)

Setelah melewati Hozomon Gate pengunjung  akan melihat bangunan utama dari kuil ini yaitu Main Hall (Hondo). Di tempat utama ini, warga Jepang beragama Budha  melakukan ritual dan berdoa meminta segala sesuatu yang diinginkanya. Pengunjung non agama Budha  diperbolehkan untuk masuk ke dalam area Hondo.

Sebelum masuk, biasanya pengunjung melakukan ritual mengusapkan asap dari hio yang menyala ke wajah. Selanjutnya membersihkan tangan atau meminum air suci yang letaknya dekat dengan pintu masuk Hondo.

DSCN3683
Ritual mengusapkan asap hio ke wajah (Dok. Cech)
DSCN3685
Air Suci (Dok. Cech)

Di dalam Hondo pengunjung dapat melihat betapa megahnya bangunan tersebut dan indahnya mural (lukisan) di atap Hondo. Selain itu pengunjung dapat pula melakukan doa permohonan ala agama Budha atau disebut Omikuji. Omikuji dilakukan untuk mengetahui keberuntungan hidup kita.

Jadi pengunjung melakukan doa diikuti dengan menggoyang-goyangkan boks besi yang di dalamnya terdapat banyak batang kayu/bambu yang bertuliskan keberuntungan atau kesialan kita. Di boks besi tersebut terdapat lubang kecil yang cukup untuk mengeluarkan sebatang kayu/bambu. Pada batang kayu/bambu tersebut ada nomor bertuliskan kanji. Setelah sebatang kayu/bambu keluar dari boks, maka kita dapat melihat nomor berapa yang keluar.

Selanjutnya kita membuka salah satu loker kayu yang telah dinomori sesuai dengan nomor di batang kayu/bambu. Pengunjung tinggal mengambil selembar kertas yang menuliskan tentang keberuntungan atau kesialan. Selanjutnya kertas tersebut dilipat dan diikat ke sebuah kawat besi bersusun yang terletak dekat dengan pintu keluar.

DSCN3712
Kuil Senso-ji (Dok. Cech)
DSCN3700
Indahnya lukisan (mural) di atap Hondo (Dok. Cech)
DSCN3699
Tentang Senso-ji Temple (Dok. Cech)

Tak terasa selama  2 jam, kami mengelilingi komplek Senso-ji Temple. Selanjutnya kami makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Tokyo Station untuk membeli tiket Kereta Cepat Shinkansen ke Kyoto. 2 jam terakhir di Tokyo yang  berkesan dan mungkin kelak kami dapat kembali ke Tokyo untuk mengunjungi beberapa tempat wisata menarik lainnya di Tokyo.

Japan Trip : Terima Kasih Ta-Q-Bin

Sengaja saya memulai tulisan tentang perjalanan ke Jepang pada awal Maret 2017 lalu tentang Ta-Q-Bin. Nama Ta-Q-Bin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah nama yang terdengar asing. Apakah Ta-Q-Bin ?

Ta-Q-Bin adalah merek dagang sebuah perusahaan Jepang, Yamato Transport C0., Ltd. Dari nama perusahaannya sangat jelas perusahaan tersebut bergerak di bidang jasa pengiriman barang. Bagi traveller atau turis asing yang datang ke Jepang terutama dari Eropa dan Amerika sudah mengenal Ta-Q-Bin  dan sering menggunakan jasa pengiriman barang mereka selama di Jepang.

Saya mengetahui Ta-Q-Bin dari seorang teman yang baru saja jalan-jalan ke Jepang pada bulan Desember 2016. Menurut Teman, Ta-Q-Bin sangat membantu mereka terutama koper-koper besar dan kardus-kardus yang berisi barang oleh-oleh dari Jepang sehingga selama menikmati perjalanan di Jepang mereka hanya membawa ransel saja. Mendengar cerita teman tersebut maka kami pikir bagus untuk memakai jasa Ta-Q-Bin.

Dari awal, kami sudah merencanakan membawa 2 koper besar dan kecil untuk oleh-oleh dan pakaian. Kemudian selama perjalanan di Jepang dimana kami akan berpindah-pindah dari Tokyo ke Kyoto, Kyoto ke Kansai International Airport, Osaka cukup membawa dua buah ransel layaknya backpacker.

black-cat-kuroneko-yamato

index_img_01
Dok. Ta-Q-Bin

Tanggal 1 Maret 2017 pukul 23.30 WIB kami berangkat dari Soekarno-Hatta International Airport, Tangerang dan tiba di Haneda International Airport Tokyo, Jepang pada pukul 08.50 waktu Jepang tanggal 2 Maret 2017. Setelah melewati pemeriksaan Imigrasi Jepang, kami segera mencari lokasi Ta-Q-Bin di Bandara Haneda. Dengan lambang Kucing Hitam membawa Anak Kucing Hitam khas Ta-Q-Bin, kami pikir akan mudah menemukan lokasinya. Setelah bertanya ke bagian informasi ternyata Ta-Q-Bin berada dalam satu tempat dengan bagian barang maskapai penerbangan Jepang ANA.

Karena di Tokyo, kami hanya satu malam maka kami mempersiapkan beberapa pakaian yang akan dibawa ransel  dan beberapa barang yang diperkirakan memberatkan selama jalan-jalan kami simpan di koper besar. Setelah itu kami membawa 2 koper besar kami  ke Ta-Q-Bin. Dengan pelayanan petugas yang ramah dan membantu pengisian form pengiriman barang yang berbahasa Jepang sehingga kami merasa nyaman dan yakin 2 buah koper kami akan aman dan sampai ke tujuan.

20170322_133339
Dok. Cech

Kedua koper  kami ditimbang dan dihitung volumenya. Ta-Q-Bin hanya menerima koper dengan berat maksimal 25 kg. Selain itu volume koper dan tempat tujuan menentukan besaran biaya pengirimannya.Kedua koper tersebut, kami meminta untuk dikirim ke Hotel Green Rich Hotel di Kyoto dan tiba pada pukul 14.00 keesokkan harinya. Perhitungan biaya pengiriman sangat jelas. Kami dikenakan biaya pengiriman untuk 2 koper sebesar 3.700 Yen (sekitar IDR 436.600). Kami pikir biaya tersebut wajar sehingga kami tidak harus membawa-bawa kedua koper tersebut selama jalan-jalan di Tokyo atau melakukan perjalanan dari Tokyo ke Kyoto keesokan harinya.

Setelah urusan pengiriman kedua koper, kami dengan 2 buah ransel langsung melanjutkan perjalanan ke Gotemba dan Hakone. Pergerakan kami leluasa selama di sana dan dapat menikmati suasana perjalanannya terutama saat berada Gotemba Premium Outlet dan di dalam bus.

Keesokan harinya menjelang siang, kami menggunakan Shinkansen N 700 ke Kyoto. Sesampainya di Kyoto Station dengan berjalan kaki. kami dapat melenggang santai tanpa harus membawa-bawa koper besar menuju Green Rich Hotel yang letaknya tidak jauh dari Kyoto Station. Di Green Rich Hotel, resepsionis memberitahu kami bahwa kedua koper sudah berada di dalam kamar. Benar saja, kedua koper sudah berada di kamar dan setelah diperiksa kedua koper dalam kondisi baik dan tidak rusak sama sekali.

IMG-20170303-WA0028
Dok. Cech

Karena kami tinggal di Kyoto selama 4 malam maka kami memutuskan untuk mengirimkan beberapa koper yang berisi pakaian dan oleh-oleh pada tanggal 6 Maret 2017. Setelah melakukan wisata ke beberapa lokasi di Kyoto dan membeli barang keperluan barang pribadi dan oleh-oleh maka pada tanggal 6 Maret 2017, kami meminta hotel untuk menghubungi Ta-Q-Bin untuk mengirimkan dua koper besar dan satu koper kecil berisi oleh-oleh ke Kansai International Airport, Osaka, Jepang. Memang kami akan pulang ke Indonesia via Osaka.

Perlu diketahui, Ta-Q-Bin telah melakukan kerjasama dengan hotel, mini market, stasiun kereta api, terminal bus, bandar udara, mal besar dan lain-lain sehingga kami tidak perlu datang ke kantor Ta-Q-Bin. Di beberapa lokasi tersebut tersedia form pengiriman barang dengan mudah dan perhitungan biaya yang sudah standar dan mudah menghitungnya. Pengiriman dua koper besar dan satu koper dikenakan biaya 7.000 Yen (sekitar IDR 826.000)

ClXBX0iVAAEy3PQ
Beberapa sign Ta-Q-Bin yang mudah dilihat di beberapa lokasi di Jepang
200806261357001
Contoh sign Ta-Q-Bin yang sering terlihat di depan mini market

Sama dengan saat di Tokyo,  Kami hanya membawa dua ransel dalam perjalanan dengan kereta api dari Kyoto ke Osaka. Sesampainya di Osaka Station, kami jalan-jalan dahulu ke beberapa tempat wisata di Osaka sebelum ke Daiwa Roynet Hotel, Osaka tempat kami menginap selama 1 malam. Kami tiba di Osaka pada tanggal 7 Maret 2017.

Pada tanggal 8 Maret 2017 pukul 07.00 kami sudah meninggalkan hotel dan menuju Kansai International Airport Osaka dengan menggunakan kereta api. Sesampainya di Kansai International Airport, kami tidak mengalami kesulitan untuk mencari lokasi Ta-Q-Bin karena berada satu lokasi dengan bagian pengiriman barang maskapai JAL dan dekat dengan booth check in Garuda Indonesia.Dengan menunjukkan copy form pengiriman, tanpa membutuhkan waktu lama 2 koper besar dan satu koper kecil milik kami diserahkan dalam kondisi baik. Setelah itu kami langsung menuju boot check in Garuda Indonesia. Begitulah cerita tentang Ta-Q-Bin, merek dagang jasa pengiriman barang yang sangat membantu kami dan para turis asing terutama yang membawa keluarga sehingga tidak perlu direpotkan oleh bawaan koper-koper yang  berat bebannya. Sekadar informasi Ta-Q-Bin juga terdapat di Malaysia dan Hongkong. Terima kasih Ta-Q-Bin sehingga perjalanan kami di Jepang menjadi sangat menyenangkan. ありがとうございます Arigatou gozaimasu

IMG-20170308-WA0034
Booth Ta-Q-Bin di Kansai Internasional Airport, Osaka (Dok. Cech)
index_img_02
Dok. Ta-Q-Bin