Tidak Mudah Menghilangkan Trauma Akibat Kecelakaan

trauma (trauma-and-alcoholism.com)
trauma (trauma-and-alcoholism.com)

” Kamu ini, cara menyetirnya seperti sopir metromini. Grasak grusuk tidak karuan. Bikin penumpangnya mual dan pusing saja ” Begitulah ujar Kakak kepada saya sekitar 16 tahun yang lalu setiap saya mengendarai mobil. Saya cuek saja bahkan tertawa terbahak-bahak.

Di lingkungan keluarga dan teman-teman sudah sangat paham bagaimana saya mengendarai mobil. Emosional dan sradak sruduk. Ada kesepakatan yang saya buat apabila teman-teman menjadi penumpang di mobil saya dalam perjalanan jauh. Diantaranya adalah tidak mengenal istilah menginjak rem pada jalan menurun, mati satu mati semua, tidak ada istilah mengalah apabila ada kendaraan di jalur berlawanan arah mengambil jalur kendaraan saya maka sudah pasti akan saya adu dan tinggal siapa yang berani mati (tidak ada pengecualian kendaraan) hehehehe…

Ada satu peristiwa di jalur paantura yang sampai sekarang saya masih mengingatnya. Tahu khan bagaimana supir-supir bis luar kota terutama jurusan Jakarta-Cirebon menjalankan kendaraannya sebelum ada jalur pemisah. Seenak udelnya supir bis tersebut mengambil jalur kendaraan kita dengan kecepatan tinggi. Suatu hari tepatnya siang hari, saya melakukan perjalanan ke luar kota via jalur pantura, tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada bis yang menyodok masuk jalur saya untuk mendahului beberapa kendaraan di depannya. Sepertinya sang supir memaksakan kehendaknya. Kalau dilihat jarak maka orang yang berpikiran waras tidak akan mengambil keputusan untuk mendahului karena jarak yang terbatas dengan mobil di arah yang berlawanan. Saya sudah menduga sebelumnya tetapi dasar jiwa muda dengan emosional yang tinggi, saya mengambil keputusan tidak mau mengalah alias mengurangi kecepatan dan menghindari bus tersebut. Tetap saja saya melajukan kendaraan dengan kecepatan yang tinggi. Dalam pikiran saya ingin tahu seberapa besar nyali supir bus tersebut.

Dalam beberapa detik, teman-teman yang ikut dengan saya tegang dan tiba berteriak keras. Saya pun ikut berteriak. Apa yang terjadi? Ternyata bus tersebut menghindar ke sisi kiri kendaraan saya menuju bahu jalan berbatuan. Semua teman mengumpat dan memaki-maki saya tetapi saya malah tertawa sepuas-puasnya. Ternyata benar perkiraan kalau sang supir bus tidak punya nyali.

Selain itu saya juga pernah memberhentikan bus luar kota yang jalannya ugal-ugalan. Segera saya susul bus tersebut dan saya pepet bus tersebut hingga berhenti. Langsung saya turun dan menghampir supirnya. Ketika kernetnya turun, saya hanya memberikan isyarat ancaman. Apa mau dipukul dengan kunci ban yang sudah saya bawa sebelumnya. Kemudian saya menyuruh supirnya turun dari bus dengan teriakan keras. Ketika supirnya turun dari bus, kontan amarah saya turun karena sungguh di luar dugaan dimana supirnya mempunyai tubuh lebih kecil dan kurus daripada saya. Walah-walah ini sih bukan lawan sebanding dalam hari saya. Benar saja supir tersebut mohon-mohon maaf dan saya hanya bisa menasehati kalau lain kali bawa bus jangan ugal-ugalan karena membahayakan orang banyak.

Ya itulah saya pada waktu itu. Tetapi semuanya berubah 360 derajat.Ternyata karma menyertai perbuatan manusia. Kesombongan dan keegoan jiwa muda saya luntur karena satu peristiwa penting dalam hidup saya. Pada tahun 1996 saya mempunyai bisnis bubuk cabe. Saat itu bisnis tersebut lagi kencang-kencangnya. Banyak permintaan dari beberapa pabrik makanan terhadap bubuk cabe. Bubuk cabe tersebut didapatkan dari rekanan bisnis di Cirebon. Hampir 3 kali seminggu saya melakukan perjalanan Jakarta-Cirebon pergi pulang dan tidak mengenal istilah capek. Pagi berangkat ambil barang ke Cirebon, sore hari sudah dapat uang kontan. Sungguh menggiurkan.

Uang dapat menghapus segala keletihan tubuh padahal setiap manusia mempunyai keterbatasan fisik baik muda maupun tua. Pada suatu hari, saya mendapatkan pesanan bubuk cabe ddari sebuah pabrik makanan di Cikarang. Hari itu juga barang harus dikirim karena barang sangat dibutuhkan untuk produksinya pada hari itu. kebetulan saya tidak punya stok sehingga saya putuskan hari itu juga berangkat ke Cirebon dengan ditemani 2 orang anak buah. Padahal baru kemarin malam saya ke Cirebon dan sampai pagi saya tidak tidur karena ada sedikit kerjaan mengotak atik laporan keuangan.

Saya sadar kalau kondisi saat itu tidak fit tetapi saya paksakan untuk membawa sendiri mobil. Di jalan tol Jakarta-Cikampek saya sempat menghentikan kendaraan di tempat pemberhentian karena mengantuk. Karena saya merasa dikejar waktu maka istirahat hanya sebentar dan mengandalkan satu gelas kopi pahit. Salah satu anak buah telah mengingatkan dan menawarkan diri untuk membawa mobil tetapi saya tolak karena saya tahu bagaimana dia membawa mobil. Terlalu santai dan lamban pikir saya.

Dengan terkantuk-kantuk, saya tetap paksakan untuk membawa mobil. Anehnya, tidak seperti biasa saya mengambil jalur masuk Indramayu. Bukannya belok ke kanan pada pertigaan Celeng. Sepertinya akan lebih cepat lewat Indramayu. Jalannya sepi dan cepat sampai ke Cirebon. Justru jalan sepi itulah makin membuat mata saya kriyip-kriyip tetapi tetap tidak menghentikan kendaraan.

Alasan saya tidak berhenti adalah kota Cirebon tinggal 8 km lagi. Nanti saja di tempat teman yang menyuplai bubuk cabe, saya akan istirahat. Apa yang terjadi kemudian? Dalam hitungan sepersekian detik, tiba-tiba saya mendengar suara keras di sebelah kanan mobil. Segera saya banting setir ke kiri, sekali lagi saya mendengar suara keras di kanan belakang mobil dan terasa sekali jalan mobil limbung. Saya mengalami suasana seperti orang yang kehilangan nyawanya. Blank dan tersadar setelah mendengar suara anak buah  memanggil-manggil nama dan menguncang-guncangkan tubuh saya.

Barulah saya tersadar bahwa saya mengalami kecelakaan. Mobil saya bertabrakan dengan bus. Rupanya saya tertidur dan mobil masuk jalur berlawanan arah dimana supir bus tahu kalau saya mengantuk dan sempat menghindar dengan cara membanting setir. Jadi mobil saya dan bus tersebut mengalami kerusakan bodi mobil sebelah kanan. Pada saat sadar, posisi kaki saya melipat ke arah perseneling karena terdorong oleh pintu kanan mobil saya yang pengok parah ke dalam akibat tabrakan tersebut tetapi saya tidak mengalami luka-luka apapun.

Untuk mengeluarkan saya, penduduk sekitar membuka pintu kiri karena pintu kanan tidak bisa dibuka. Herannya tidak ada kaca mobil baik kaca depan maupun kaca samping sebelah supir yang pecah. Setelah 30 menit barulah saya siuman dan mengerti apa yang terjadi setelah anak buah dan supir bus menceritakan semuanya. Sungguh mengerikan.

Akhirnya mobil saya diderek ke kantor polisi. Di kantor polisi, saya berterus terang kalau saya mengantuk dan menyatakan diri salah. Setelah itu saya menelpon kakak untuk mengabarkan peristiwa kecelakaan tersebut. Saya memanggil kakak untuk datang ke kantor polisi karena kondisi saya belum normal sedia kala dan masih taruma. Atas bantuan kakak, masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan dimana saya harus membayar kerugian yang dialami supir dan perusahaan bus. Semua urusan tersebut ditangani oleh kakak. Mobil saya dan bus tersebut diperbaiki di Cirebon atas biaya yang ditanggung oleh saya. Bukannya untung malah buntung. Uang dapat memberikan berkah di satu sisi, sisi lain uang dapat membawa kesengsaraan.

Ternyata nyawa lebih penting daripada uang. Uang dapat dicari tetapi nyawa tidak. Kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga agar saya bisa menghargai hidup. Sejak itu saya berubah total baik mengendarai mobil dan menyikapi masalah kehidupan. Saya hanya dapat tersenyum apabila melihat orang lain membawa kendaraannya ugal-ugalan. Mungkin saja orang tersebut belum pernah mengalami kecelakaan hebat dan mengetahui kalau trauma akibat kecelakaan susah untuk dihilangkan. Peristiwa kecelakaan tersebut masih menghantui saya sampai saat ini walaupun rasa ketakutan tersebut telah jauh berkurang.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.

XENIA : KEREN… NYAMAN…IRIT… BANGGA…

Xenia (Greek: ξενία, xenía) is the Greekword for “foreign” or “strange”/”stranger”, or of foreign origin. The concept of hospitality, or generosity and courtesy shown to those who are far from home is “philoxenia”. The word “philos” meaning “friend” and the word “xenia” meaning “stranger”, thus “friend of the stranger”. It is often translated as “guest-friendship” (or “ritualized friendship”) because the rituals of hospitality created and expressed a reciprocal relationship between guest and host. (Wikipedia)

Dari penjelasan di atas maka Xenia berarti asing atau orang asing. Tetapi lain Yunani, lain Indonesia. Xenia terkenal sebagai merek mobil Daihatsu dan bersama kembarannya Avanza dari Toyota identik dengan kendaraan keluarga. Kedua merek kendaraan tersebut adalah hasil inovasi PT Astra International Tbk yang merupakan pemegang ATPM Daihatsu dan Toyota.

Kedua jenis kendaraan keluarga ini sangatlah fenomenal. Sejak dilansir bulan Januari 2004 sampai Oktober 2011 tercatat penjualannya menyentuh angka 981.230 unit sehingga memberikan kontribusi sebesar 22 % terhadap pasar otomotif Indonesia.

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin membicarakan tentang Xenia. Dalam beberapa hari ini, nama Xenia menjadi akrab di telinga masyarakat Indonesia. Penyebabnya adalah peristiwa kecelakaan di depan Gedung Kementerian Perdagangan jalan Ridwan Rais yang telah menewaskan 9 orang. Xenia yang tadinya dikenal sebagai kendaraan keluarga, tiba-tiba namanya mencuat bak meteor di langit sehingga kata Xenia berubah artinya dari asing menjadi tidak asing/makin terkenal.

Lihat saja bagaimana media massa selalu menyertakan nama Xenia pada musibah tersebut seperti Xenia Maut, Kecelakaan Xenia Maut dan sebagainya. Saya memprediksikan kalau nantinya ada yang ingin membuat tugu/monumen di lokasi kejadian maka akan dinamai Tugu/Monumen Xenia karena kedengarannya lebih pas. Dan tidak mungkin menamakan Tugu/Monumen Afriyani Susanti.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah persepsi konsumen terhadap sebuah merek akan berubah dratis akibat suatu peristiwa besar yang mengoyak emosi masyarakat? Apakah akan ada peningkatan penjualan dari sebuah produk karena peristiwa tersebut (iklan gratis akibat sering disebut-sebut namanya)? Atau malah sebaliknya?

Menarik untuk disimak. Lihat saja bagaimana reaksi PT Astra Daihatsu Motor dalam menyikapi  peristiwa ini.

“Dengan tidak mengenyampingkan para korban kecelakaan tersebut. Kondisi para penumpang di dalam kendaraan Daihatsu Xenia yang baik-baik saja adalah salah satu bukti bahwa Daihatsu Xenia diproduksi dengan baik dan telah melewati proses pengecekan kualitas yang ketat dari PT ADM,” demikian bunyi pernyataan pers PT ADM yang diterima VIVAnews.com, Selasa 24 Januari 2012.

Tim dari Technical Service PT ADM bersama Polda Metro Jaya juga telah melakukan penyelidikan awal terhadap aspek teknik kendaraan Daihatsu Xenia B 2479 XI. Dari hasil penyelidikan awal, menemukan beberapa komponen yaitu tabung minyak rem, master dan booster rem, kanvas rem, pedal rem, serta cakram rem dalam kondisi yang baik atau tidak masalah.

Sebelumnya, berbagai pihak memang sempat mempertanyakan sistem dan fitur keselamatan dari mobil terpopuler (Avanza-Xenia) di pasar otomotif Indonesia ini. Terutama dalam hal uji tabrak berskala internasional.

Dari cuplikan berita di atas terlihat produsen Xenia segera melakukan antisipasi agar persepsi yang ingin diciptakan kepada masyarakat pada iklannya baru-baru ini bahwa Xenia adalah kendaraan keluarga KEREN… NYAMAN… IRIT… BANGGA. Apakah itu benar adanya dan persepsi yang terbentuk tetap terjaga ? Atau malah Xenia identik dengan pengendara mautnya dimana KEREN karena kehidupan sosialitanya. NYAMAN karena aman-aman saja (tidak ada yang menghakimi langsung setelah kejadian atau tidak mengalami cidera fatal walau telah terjadi tabrakan hebat dengan bukti mobilnya tidak hancur total). IRIT karena cukup dengan satu Xenia yang mungil bisa membunuh 9 orang. BANGGA karena dengan peristiwa tersebut dirinya menjadi terkenal di seluruh Indonesia.

Lihat iklannya D I S I N I

Obesitas Meningkatkan Resiko Kematian Dalam Kecelakaan Mobil

Menurut sebuah studi baru yang dipublikasikan oleh American Journal of Emergency Medicine, obesitas bukan hanya menempatkan orang pada risiko   beberapa kondisi kronis, tetapi juga kemungkinan dapat meningkatkan  kematian karena  kecelakaan mobil.

 

obesedwi (impactlab.net)

Hasil penelitian  menunjukkan bahwa individu dengan obesitas  cukup memiliki  indeks massa tubuh (BMI) antara 35 dan 39 memiliki  peningkatan risiko kematian  dalam kecelakaan mobil sekitar 21 persen  dibandingkan dengan orang  yang memiliki berat normal. Penderita obesitas tidak sehat , orang dengan BMI  40 atau lebih  memiliki  peningkatan risiko kematian  dalam kecelakaan mobil sekitar 56 persen. BMI merupakan rasio berat terhadap tinggi dan dianggap indikator kegemukan tubuh. Kegemukan orang dengan BMI antara 25 dan 29 memiliki penurunan risiko kematian dibandingkan dengan orang yang memiliki berat normal.

Dr Dietrich Jehle, seorang Profesor Pengobatan Darurat di University at Buffalo School of Medicine di Buffalo, NY mengatakan  orang dengan perut  tidak buncit memberikan efek bantalan selama tabrakan. Tapi orang dengan perut buncit menempatkan dirinya  terlalu dekatdengan kemudi dan karena itu dapat meningkatkan risiko kematian. Menariknya,  orang yang memiliki tubuh kurus dengan  BMI di bawah 18,5  juga mengalami peningkatan risiko kematian. Ini mungkin karena kekurangan tambahan untuk bantalan pada saat tabrakan dan  juga dapat menderita penyakit lain.

Individu dengan obesitas yang berlebih  cenderung memiliki penyakit serius seperti penyakit jantung, diabetes dan lebih cenderung memiliki komplikasi selama operasi yang mungkin akan menyebabkan risiko kematian yang lebih tinggi setelah kecelakaan.

Produsen mobil harus mempertimbangkan ulang kendaraan produksinya  untuk melindungi sepertiga penduduk  Amerika yang memiliki obesitas dari cedera saat kecelakaan mobil. Sebagai contoh,  membantu  orang-orang  yang memiliki tubuh lebih besar untuk dapat mendorong kursi mereka  dengan jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan kondisi  kendaraan saat ini. Dan kendaraan dengan ukuran  lebih kecil mungkin tidak aman bagi mereka yang memiliki obesitas tidak sehat.

 

crash-test dummies (alltop.com)

Selain itu, para peneliti mendesak produsen  memiliki   obese crash-test dummies ketika melakukan tes mobil untuk keselamatan. Sekarang ini  hanya crash-test dummies yang tersedia bagi  individu yang memiliki berat tubuh normal. Obese crash-test dummies akan memberikan ide untuk mendesain  mobil yang lebih baik tentang bagaimana tubuh yang lebih besar bereaksi pada saat kecelakaan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan perbaikan dalam struktur mobil dan kemungkinan pengurangan kematian karena kecelakaan mobil.

Kecelakaan mobil  merupakan penyebab  kematian paling umum yang berkaitan dengan  cedera bagi mereka yang berumur 3 -33 tahun. Pada tahun 2007, ada lebih dari 41.000 kematian akibat kecelakaan mobil di Amerika Serikat.

Tujuan penelitian ini adalah  menguji dampak ukuran tubuh pada kematian-kecelakaan mobil. Jehle dan rekan-rekannya menganalisa informasi tentang kematian yang terkait dengan kecelakaan mobil dari Fatality Analysis Reporting System.

Antara tahun 2000-2005 setidaknya tercatat satu kematian dalam setiap kecelakaan mobil  dan melibatkan satu atau dua kendaraan termasuk  di dalamnya 155.584 pembalap.